Finally a Girl Is No One

P1120734

Sidang skripsi baru saja selesai saat seorang teman baik saya di kampus menyampirkan selendang kenang-kenangan kelulusan. Menariknya, selendang itu berbeda dari yang biasa diberikan orang lain untuk temannya yang baru saja jadi sarjana. Alih-alih bertuliskan nama si Sarjana Baru dengan embel-embel gelar yang diperoleh semisal S.Sos, S.T, S.Hum, S.H, dan sebagainya, teman saya ini memilih sebuah kalimat yang menurutnya akan saya suka, “Finally a Girl Is No One”. Dahi saya berkerut saat pertama kali melihat tulisan itu. Separuh dari diri saya merasa tergelitik saat membaca kalimat “Finally a Girl Is No One” karena yang terbayang di kepala adalah Arya Stark di serial Game of Thrones dengan wajah sengitnya. Namun, sebagian diri saya yang lain bertanya-tanya, kenapa kata-kata itu yang dipilih untuk saya?

Melihat ekspresi wajah saya yang mungkin tidak karuan, teman saya itu menjelaskan, “Karena lo sarjana Antropologi, jadi sebenernya lo udah akan selalu siap jadi ‘no one’. Nanti setiap kali penelitian lo bakal ‘live in’, ‘emerge’, sama kelompok masyarakat tempat lo neliti, and you’ll be ‘no one’ there, Nin. And I know, you ready for that”. Dan saya tertawa mendengar penjelasannya.

Jadi, “Finally a Girl Is No One?”

Setelah Lima Tahun Berlalu

IMG-20160104-WA0002

Lima tahun lalu di pertengahan tahun seperti sekarang saya pertama kali bertemu dengannya. Saat itu saya masih berusia enambelas tahun, dan dia juga. Malam itu saya menemuinya di belakang panggung usai sebuah acara. Ia mengenakan gaun terusan berwarna merah muda dengan rambut terkepang rapi. Perkenalan kami singkat, hanya bertukar nama, berbincang sebentar, lalu berpisah begitu saya meminta nomor telepon genggamnya yang sampai hari ini tidak pernah berubah. Hari-hari berlalu, waktu berganti, tidak ada yang berbeda, saya tidak pernah lagi mendengar kabarnya, tidak juga mencoba menghubunginya setelah perkenalan pertama kami, tapi hidup siapa yang tahu? Singkat cerita, kami kembali bertemu, lalu saling bertukar cerita, menghadiri beberapa acara peragaan busana saat saya masih begitu aktif wara-wiri di “balik runway” dan acara yang diselenggarakan salah satu majalah remaja terkemuka saat saya ‘kebetulan’ mengisi acara disana.

Lima tahun berlalu dan hingga saat ini gadis remaja bergaun merah muda dengan rambut terkepang rapi yang saya temui lima tahun lalu itu menjadi teman baik saya, atau lebih tepatnya teman gila saya, istilah yang kami ciptakan berdua. Ada banyak kenangan terhadap waktu-waktu yang telah lalu. Ada banyak kenangan akan pertemanan gila saya dan dia yang selalu absurd. Kami sering tertawa terbahak-bahak berdua tanpa sebab yang jelas. Kami kadang membicarakan hal-hal paling filosofis, tapi lebih sering berseloroh akan hal-hal yang konyol dan tidak ada artinya sama sekali. Pada waktu-waktu tertentu kami membicarakan mimpi, berbagi rencana yang begitu ingin dijadikan nyata, dan pada saat lainnya kami pusing sendiri dengan urusan hati yang kadang lebih rumit daripada teka-teki silang diseluruh dunia.

Kamu tahu? Ada begitu banyak hal yang terjadi setelah lima tahun berlalu. Ada banyak hal dari saya yang berubah, dan dia pun juga. Saya yakin sedikit banyak dia menyadari perubahan itu, karena saya pun begitu. Dia berbeda, mulai dari hal-hal sederhana seperti semua mata yang memandang ke arahnya saat kami berdua di keramaian atau orang-orang yang menghampirinya untuk menyapa seakan bertemu kenalan lama, atau mereka yang sering mencuri waktu untuk berfoto bersama. Semua hal sederhana itu kadang terasa lucu bagi saya, rasanya seperti semua orang mengenalinya saat ini, atau memang begitu ya?

Siang ini saya membawakan sebuah kue tart rasa moka dengan lilin berbentuk angka 2 dan 1. Berdua dengan salah seorang “teman baiknya” saya mengendap-endap, menyalakan lilin dan berjalan perlahan. Dalam setiap langkah menuju ruangan tempat dia berada ingatan saya berputar tentang dirinya. Seperti roll film rusak yang secara acak memutar semua hal yang bisa saya ingat tentang dia.

IMG-20160104-WA0001Dia adalah salah satu orang paling menyebalkan dan absurd yang pernah saya kenal. Dia bisa menjadi orang paling bawel dan rewel dalam satu waktu. Dia bisa merajuk seperti anak kecil hanya untuk meminta saya menemaninya. Dia bisa berbicara dan bermain peran yang tidak jelas juntrungannya sampai saya bosan melihat dan mendengarkan. Dia bisa dengan konyolnya menirukan suara kuda di kamar mandi dan menimbulkan kegaduhan. Dia bisa dengan bodohnya memberikan kado sesuatu yang dapat dikenakan tanpa menanyakan ukurannya sampai-sampai saya harus memintanya membawa pulang kado itu lagi. Dia bisa menelepon saya dari tengah malam sampai pagi dan tidak ingin ditinggal tidur sendirian. Dia bisa berulang-ulang kali meminta maaf seperti anak kecil saat saya marah padanya. Dia bisa membuat saya kesal setengah mati, tertawa terpingkal-pingkal dan luluh seketika.

Kamu tahu? Dia salah satu orang paling menyebalkan, absurd dan tambah satu lagi, keras kepala yang saya pernah saya kenal. Tapi, kamu tahu? Sebenarnya saya pun begitu, mungkin baginya saya juga salah satu orang paling menyebalkan, absurd dan keras kepala yang pernah dia kenal, oh ya, tambah satu lagi juga, saya galak, mungkin sering kelewat galak dan sinis kepadanya, untuk hal-hal tertentu, tentu saja. Tapi tetap saja dia mungkin salah satu orang paling menyebalkan, absurd dan keras kepala yang pernah saya kenal, namun diam-diam saya mengaguminya. Dia punya hati yang begitu lembut. Dia punya kemauan yang sangat kuat. Dia punya prinsip hidup dan terus mempertahankannya sepenuh hati. Dia cerdas. Dia sangat menghargai orang-orang disekitarnya. Dia sangat menyayangi teman-temannya. Ya saya tahu itu.

Saya mungkin bukan teman yang baik untuk dia. Pertemanan kita tidak pernah selalu baik-baik saja. Pertemanan kita tidak pernah sempurna, tidak akan pernah. Tapi bukan itu intinya, karena yang terpenting bagi saya, dan semoga saja juga bagi dia, kami selalu mencoba saling berkompromi, memahami segala kekurangan. Saling jujur dan mengingatkan, bila salah katakan salah dengan berbesar hati, dan menerimanya dengan berbesar hati pula. Itu yang selalu kami coba untuk lakukan. Berteman dengan jujur tanpa memandang siapa saya dan siapa dia. Berteman dengan apa adanya, dan dengan gila, karena kami Teman Gila, tentu saja!

Selamat mengulang hari pertama di Bumi, Teman Gila!

 

 

 

Cirebon, Benda Kerep, dan Perjalanan Tanpa Persiapan

P1060557

Terik sekali. Pikiran itu yang pertama kali mampir di kepala saya begitu menginjakan kaki di Kota Cirebon. Sebelumnya saya memang pernah singgah di Cirebon, kurang lebih dua tahun lalu, tapi hanya sebentar saja, kurang dari tiga jam hingga saya lupa bagaimana teriknya sinar matahari di kota ini. Rasanya matahari di Cirebon lebih bersemangat memancarkan sinarnya dibanding Jakarta. Mungkin karena letak Cirebon yang termasuk di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Pikiran tentang teriknya Cirebon diamini pula oleh teman-teman saya. Ya, saya tidak sendirian tiba di kota ini, ada sekitar 26 orang lainnya selain saya. Mereka semua adalah teman satu angkatan saya di program studi Antropologi Sosial Universitas Indonesia.

Diantara teman-teman yang lain, motif bertandang ke Cirebon saya adalah yang paling berbeda. Mereka memiliki tujuan yang jelas, melakukan persiapan penelitian, atau istilahnya preliminary research untuk salah satu mata kuliah yang mengharuskan penelitian lapangan. Sementara saya? Saya hanya ikut-ikutan karena hanya sekadar ingin jalan-jalan. Mengesalkan ya? Setidaknya bagi teman-teman saya, yang lainnya serius memutar otak melakukan pengamatan, dan saya jadi serasa turis. Jangan tanyakan dulu kenapa saya tidak menjadi bagian dari ekspedisi Cirebon ini meskipun saya satu angkata dengan mereka. Dilain waktu mungkin saya akan menceritakannya, tetapi tidak sekarang. Walhasil, karena yang ada di alam pikiran saya bukan untuk persiapan penelitian, saya datang ke Cirebon dengan “otak kosong”. Jangankan studi pustaka terlebih dahulu, membaca berita ringan yang bertebaran di dunia maya saja tidak, tapi mungkin disitu menariknya. Dengan kepala yang “kosong” ini saya melihat dan mengamati berbagai hal di Cirebon dengan penuh ketakjuban. Ada hal-hal yang jadi begitu menarik karena efek keterkejutan akibat ketidaktahuan saya terhadap ini itu di Cirebon. Salah satunya adalah tentang Kampung Benda Kerep.

Kampung Benda Kerep terletak dipinggiran Kota Cirebon. Dari perkiraan jarak yang saya kira-kira sendiri dengan penuh ke-sok-tahuan, sebenarnya letaknya tidak terlampau jauh, perbandingannya tidak sampai Jakarta-Bogor. Dua minggu sebelum keberangkatan ke Cirebon, sebenarnya salah satu dosen saya telah memberikan gambaran umum tentang Benda Kerep. Katanya, kampung ini menolak segala bentuk modernisasi, bahkan untuk listrik apalagi laptop. Namun, fakta lapangan ternyata tidak sampai sebegitunya. Benda Kerep telah dialiri listrik sejak tahun 1987 meskipun awalnya sempat mendapatkan gelombang kontra dari para ToMas alias Tokoh Masyarakat. Menurut informan rombongan kami, keberadaan laptop pun sebenarnya tidak dipermasalahkan, hanya saja, masyarakat disana memang hanya satu orang yang sudah mampu memilikinya. Saya maklum kenapa dosen saya keliru memberikan informasi. Namanya juga manusia yang mungkin saja bisa salah dan lupa. Atau bisa saja memang informan dosen saya yang keliru memberikan informasi. Tidak apa, yang penting faktanya sudah terungkap, kan?

Konon, berdasarkan hasil tabulasi membaca kilat di laman-laman berita dunia maya, Benda Kerep ini didirikan oleh seseorang bernama Kyai Sholeh sekitar 300 tahun lalu. Untuk mencapai Benda Kerep, saya dan teman-teman saya harus menerapkan prinsip “going native”, alias “menjadi seperti penduduk asli” alias menerapkan cara-cara keseharian penduduk Benda Kerep, salah satunya adalah menutup aurat yang berlaku menurut hukum syariat Islam. Rombongan kami yang perempuan, termasuk saya mendadak berhijab semua, sementara salah satu teman laki-laki saya yang mengenakan celana pendek langsung melilitkan kain sarung yang ia bawa dari rumah. Kurangnya hanya satu, sebagian besar rombongan perempuan tidak mengenakan kain atau rok panjang sebagai bawahan karena tidak tahu bahwa ternyata penggunaan celana bagi perempuan ternyata sangat dilarang. Untungnya masyarakat Benda Kerep, termasuk informan rombongan, ternyata sudah sangat memaklumi kelakuan tetamu yang datang.

P1060559

P1060560

P1060567

Selain penerapan “going native” perjalanan mencapai Benda Kerep juga sangat mengesankan. Rombongan kami sempat nyasar beberapa kali hingga aksi putar memutar arah mobil merupakan hal yang lumrah. Benda Kerep yang terletak di seberang aliran sungai yang cukup deras juga menjadi tantangan tersendiri karena tidak ada jembatan! Ya, benar sekali, kamu tidak salah baca. Tidak ada jembatan menuju Benda Kerep. Tidak perlu memekik kata “WOW!” karena ketiadaan jembatan bukan berarti kami harus berenang atau main basah-basahan menerabas sungai, yang kami harus lakukan lebih mudah daripada itu, kami hanya perlu melangkahkan kaki dengan lincah diatas batu-batu pijakan yang tersusun rapi membelah arus. Beruntunglah rombongan kami karena meski rintik hujan sudah membasahi tanah, tapi air sungai belum menampakan tanda-tanda akan meluap.

Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya begitu melangkahkan kaki di Kampung Benda Kerep. Laki-laki disana hampir semuanya mengenakan kain seperti sarung, gamis, dan peci tinggi yang kemudian saya ketahui dinamakan “Peci Sufi” atau “Peci Sombong” oleh masyarakat sekitar. Kenapa “Peci Sufi”? Saya menduga karena bentuknya mirip peci-peci yang dikenakan penari-penari sufi, tapi kenapa dinamakan “Peci Sombong”? Nah untuk yang ini informan saya mengatakan dengan bangga “Karena kalau sudah pakai peci ini jadi terlihat gagah, jadi seperti sombong”. Sedangkan para perempuan Benda Kerep dalam kesehariannya mengenakan kain batik untuk bawaha, atasan seperti blus lengan panjang, dan tentunya hijab, walau ternyata bukan hijab “syar’i” seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Benda Kerep juga dikenal sebagai “Kampung Santri” karena keberadaan pesantren-pesantren disana, jumlah Kyai-nya pun ternyata cukup banyak hingga informan rombongan beberapa kali menanyakan “Dulu dosen kalian kontak-kontakan dengan Kyai yang mana (siapa)?”.

Selama kurang lebih dua jam kami berada di Benda Kerep, teman-teman saya menanyakan hal ini itu, sementara saya lebih banyak diam, dan sesekali mencicipi dodol mangga gedong yang disajikan tuan rumah serta menyeruput sirup koko pandan dingin yang cukup menyegarkan. Sambil menikmati dodol dan meneguk sirup, saya memperhatikan proses tanya-jawab yang dilakukan teman-teman saya. Menarik. Ada banyak informasi yang saya ketahui tentang masyarakat Benda Kerep. Mereka yang ketakutan setengah mati dengan orang-orang Dinas Kesehatan yang terlibat dalam PIN (Pekan Imunisasi Nasional) sampai-sampai rombongan kami dikira “orang PIN” dan ketika kami berjalan menyusuri kampung, anak-anak disana teriak “Polio Polio Polio!!!” sambil menunjuk kami lalu berlari ke dalam rumah. Mereka yang akhirnya membolehkan masuknya listrik, beberapa alat elektronik termasuk handphone, tetapi sama sekali menentang adanya televisi dan radio. Mereka yang mayoritas menerapkan sistem pernikahan endogami. Mereka yang masih sangat menerapkan nilai-nilai Islam sehingga dilarang keras untuk berpacaran. Dan mereka, maaf ralat, tepatnya teman-teman saya dan informan rombongan yang jadi mencandai salah satu teman perempuan saya dan menggodanya habis-habisan agar “berjodoh” dengan anak laki-laki sulung informan rombongan. Sayangnya keseruan acara tanya-jawab harus selesai karena senja semakin jauh. Sebelum adzan magrib berkumandang kami bergegas meninggalkan Benda Kerep.

P1060589

 

P1060590

P1060592

Malamnya perjalanan kami lanjutkan dengan berkeliling Kota Cirebon, targetnya kali ini adalah pelabuhan batu bara Kota Cirebon dan titik-titik prostitusi. Pelabuhan batu bara Kota Cirebon tidak terlalu jauh dari kota, setibanya disana kami berhasil mengelilingi Zona A setelah dua orang teman saya melakukan negosiasi yang cukup alot dengan petugas keamanan. Di pelabuhan satu-satunya hal yang menarik perhatian saya adalah kapal-kapal besar yang bersandar ke Dermaga, ketika malam mereka terlihat indah, setidaknya bagi saya. Berlanjut ke titik-titik prostitusi, titik-titik ini berada di jalan-jalan yang saya lupa namanya, tapi saya ingat ada truk-truk besar disana. Malam itu tidak terlalu banyak pekerja seks yang saya lihat menunggu pelanggan, hanya beberapa saja yang ada dipinggir jalan, diatas becak, berdiri di sela-sela deretan truk, dan diatas motor. Dua kali rombongan kami memutari ruas jalan itu sebelum berakhir di alun-alun Kota Cirebon dan menikmati segelas kopi atau coklat panas.

Keesokan harinya perjalanan saya di Kota Cirebon harus berakhir. Sejak awal saya memang memutuskan untuk berpisah lebih awal dengan rombongan karena harus mengejar sebuah acara diskusi di Jakarta yang berlangsung jam satu siang. Setengah jam sebelum keberangkatan kereta saya sudah mendaratkan kaki di stasiun dan sempat-sempatnya menyantap empal gentong di depan stasiun. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta saya mengingat-ingat semua rangkaian perjalanan ke Cirebon yang terkesan impulsif karena hanya ingin jalan-jalan saja. Saya menganggap perjalanan ini tanpa persiapan. Seperti yang saya ceritakan diawal, saya tidak sempat membaca apapun tentang medan di Cirebon, tapi saya sangat senang karena saya mendapat pengalaman-pengalaman menarik selama di kota yang panas ini. Hanya satu saja yang masih mengganjal hati saya. Saya teringat Bapak, dosen, sekaligus pembimbing akademik yang sudah saya anggap seperti Ayah sendiri. Beliau tidak menepati janjinya untuk pergi bersama kami, padahal kami sudah berangan-angan untuk menikmati empal gentong dan tahu gejrot bersama. Bapak pergi lebih dulu, bukan ke Cirebon, tapi pergi ke alam lain yang selalu jadi misteri, kematian.Bapak pergi menghadap Yang Maha Segalanya dua minggu sebelum keberangkatan kami.

P1060595

P1060579

Ibumu

Semalam aku bermimpi tentangmu yang tengah menangis dipangkuan Ibumu. Aku dapat mendengar desah napas diantara suara tangismu yang lirih. Membayangkan matamu yang sembab dan basah. Warna coklat itu semakin pekat seperti warna tanah basah sehabis hujan. Dadamu turun naik mengikuti tarikkan napas yang sesak tak beraturan.
Sayang, tahukah kamu betapa inginnya aku menghampiri dan memelukmu saat itu?. Memberikan bahuku agar bisa kautumpangi kepalamu yang berat dengan timbunan air mata. Aku membayangkan bajuku yang sudah tentu akan basah oleh air matamu, seperti habis kehujanan di hari murung sepulang sekolah.
Dalam mimpi, kamu menangis dan terus menangis, seperti tak ada akhir. Bahkan aku sempat khawatir ruang dalam mimpiku akan banjir air matamu. Namun kekhawatiranku segera sirna ketika tiba-tiba kamu berhenti menangis dan terdiam sepi. Kamu diam, tidak ada lagi tangis atau air mata. Ya ya ya…aku tahu tangismu terhenti karena aku tak lagi mendengar suaramu yang pilu sejak tadi. Kemudian aku penasaran dengan keheningan yang tercipta, Ibumu bahkan tak lagi bersuara, menyenandungkan lagu Lir Ilir seperti yang tadi dilakukannya, aku rasa untuk menenangkanmu.
Aku diam terkesiap menatap tubuhmu yang telungkup pada pangkuan Ibumu. Sunyi. Sepi. Detik jam kemudian terdengar jelas. Entah darimana datangnya. Tik Tok Tik Tok Tik Tok. Detik demi detik terdengar ganjil, mereka terdengar layaknya pertanda, peringatan, pemberitahuan atau apalah, aku sulit menemukan kata untuk menggambarkannya. Tapi untuk apa?. Aku disini. Kamu dipangkuan Ibumu. Semua aman. Apa yang harus diperingatkan?. Kamu sudah tenang dalam pangkuan Ibumu. Telungkup tenang disana sementara aku menatapmu khikmat dari tempatku berdiri, sebuah sudut tak terlihat, setidaknya olehmu atau Ibumu,hmmm…atau mungkin tepatnya belum terlihat atau mungkin belum kamu dan Ibumu sadari.
Tik Tok Tik Tok Tik Tok. Bunyi itu semakin keras, entah berasal darimana. Pandanganku mengelilingi sekitar ruangan itu. Tidak ada Jam dinding atau jam jam lain. Aku berusaha memicingkan mata, memperjelas pandanganku pada pergelangan tangan Ibumu yang terkulai diatas kepala juga punggungmu. Polos. Tidak ada yang Ibumu pakai. Kali ini pandanganmu mengarah pada sosokmu yang tengah telungkup di pangkuan Ibu, berusaha melihat tanganmu, nihil, tanganmu begitu sulit terlihat, keduanya tersembunyi dibawah tubuhmu yang telungkup itu.
Tik Tok Tik Tok Tik Tok. Heran, bunyi itu semakin keras, seolah menerorku. Kujulurkan tangan, memastikan tak ada arloji disana. Ya, aku memang tidak mengenakan arloji. Tik Tok Tik Tok Tik Tok. Ah, bunyi itu semakin mengganggu, semakin intens dan, dan, dan terasa mulai menakutkan. Aku masih berusaha mencerna bunyi-bunyian itu saat suara lain memecah konsentrasiku.
Kamu kembali menangis, kali ini lebih pilu. Aku bisa merasakan itu. Ah, suaramu itu. Tapi tunggu. Itu bukan kamu. Bukan suaramu. Tangis itu bukan milikmu. Lalu siapa?. Aku tidak menangis. Ibumu?. Apa Ibumu menangis?. Apa yang iya tangisi?. Kamu?. Kenapa telat sekali?. Kenapa baru sekarang?. Kenapa harus menunggumu terdiam?.
Aku kembali menatap tubuhmu yang masih telungkup dipangkuan Ibumu. Kamu diam. Aku diam. Ibumu menangis dan kemudian sesuatu merembes pelan dari bajumu yang sudah kelihatan lusuh. Setitik merah, sebulatan, lebar, melebar, besar, kemudian bajumu berubah warna. Merah. Tes tes tes tes setetes setetes. Kental. Merah. Darah. Kamu diam. Ibumu menangis. Aku berdiri kaku.
Tik Tok Tik Tok Tik Tok. Suara itu semakin mengganggu. Mengganggu. Mengganggu.
“Hahahahaaa…!”, suara itu keras sekali, memekakkan telingaku. Siapa yang tertawa?. Kamu masih diam dan aku terpaku kaku. Siapa?.
“Hahahahaaa…!”, semakin keras, semakin memekakkan. Aku mulai muak, bau amis sekejap menyeruak.
“Hahahahaaa…Tidur sayang oh tidur sayang…”, tawa, senandung, aku muak. Aku menatap ngeri, tubuhku mulai tegang, rahangku mengeras. Bunyi Tik Tok Tik Tok Tik Tok itu semakin keras. Ibumu menyeringai, tawanya semakin keras, berulang-ulang sama kerasnya seperti sirine mobil ambulance yang kerap lewat dan membuatmu takut. Ibumu menolehkan kepala, matanya menemukanku. Kedua pupilnya yang hitam semakin berkilat menatap kearahku. Sebuah pisau tiba-tiba sudah lekat dalam genggamannya. Napasku tercekat.
“Aku begitu menyayangimu, jangan pergi, aku mohon jangan pergi”, suara itu lirih, pelan, lamat sekali diucapkan dari sosokmu yang telungkup dan dipenuhi warna merah. Siapa?. Siapa yang jangan pergi?. Siapa?. Aku?.
“Aku akan tetap tinggal, untukmu”, suara itu menggaung, menggema, memantul kesetiap sisi hatiku, hanya hatiku. Tak pernah kuucapkan jelas-jelas padamu, padamu…aku…bodoh. Diam. Hanya diam, terpaku kaku menatapmu penuh darah.
Wajah itu menyeringai semakin jelas, meremangkan bulu romaku. Pisau. Pisau itu, merah penuh bercak. Darah. Bunyi Tik Tok Tik Tok Tik Tok semakin keras terdengar, semakin menerorku. Aku kaku terpaku ditempatku. Ibumu semakin intens menatapku, menyeringai buas sembari tertawa keras.

****

“Sayang, semuanya akan baik-baik saja. Kamu akan baik-baik saja. Ibumu sudah Kubunuh, kamu akan baik-baik saja bersamaku. Aku akan tetap tinggal untukmu, untukmu, untukmu”, ia meracau semakin kacau. Tubuhnya yang kini terlihat sangat kurus bergelung tegang diatas tempat tidur putih. Gumamannya terdengar semakin kacau, ingatannya tidak bisa mengenyahkan segala peristiwa hampir setahun lalu. Semua kembali kembali dan kembali berulang setiap hari, setiap malam dalam lelapnya. Semua potongan-potongan adegan yang kemudian menjadi cerita tersendiri dalam mimpi.
Matanya masih tertutup sementara dari mulutnya keluar komat kamit pengulangan kata saat Nena memasuki ruang rawat itu bersama seorang perawat berseragam hijau muda dengan jilbab putih dan sebuah papan, kertas juga bolpoin di tangannya. Nena mendekati sosok tubuh yang tengah bergelung dan meracau itu. Ia menatapnya lekat. Mata itu terpejam sementara mulutnya tak henti menggumam.
“Dia sering kumat dok. Terlebih akhir-akhir ini, ia sulit sekali tenang sejak dokter cuti empat hari lalu”,
Nena mengganggu kecil mendengar penjelasan si perawat, wajahnya  serius seperti biasa. Dokter muda berkacamata minus itu perlahan mengambil posisi duduk disebelah tubuh yang masih meracau tersebut. Nena terlihat begitu tenang, berbeda dengan si perawat yang menatapnya dengan pandangan penuh kekhawatiran layaknya seorang Ibu yang memergoki anaknya tengah memanjat pohon jambu air yang dipenuhi ulat bulu sebesar jari telunjuk orang dewasa berwana kuning yang kerap menggerogoti daun daunnya. Ada yang ingin perawat itu katakan tentang kelakuan si tubuh yang tengah bergelung itu, tentang bagaimana ia mengamuk di waktu-waktu tertentu, terutama beberapa saat setelah ia terjaga dari tidurnya.
“Raysha memang sulit sekali tenang semenjak kematian Rania”, Nina tersenyum samar, senyum yang membuat mulut perawat itu terkunci rapat seketika, apa yang ingin ia katakan mendadak menguap entah kemana. Sebuah instruksi tangan sederhana membuat si perawat meninggalkan ruang perawatan tersebut. Nena kembali tersenyum manis dari balik kacamatanya, menatap Raysha lekat dan membelai rambut hitamnya perlahan. Mata yang terpejam itu perlahan terbuka, sinarnya yang semula redup berubah penuh pengharapan saat melihat Nena dihadapannya.
Hati Nena basah melihat gadis berwajah pucat, bertubuh ramping dengan rambut panjang yang mencuat menutupi sedikit wajahnya yang tetap saja tak mampu menyembunyikan kecantikan lahiriahnya. Nena menyentuhkan tangannya ke wajah Raysha, menyingkirkan rambut-rambut liar dari wajahnya. Ia tersebyum lembut. Gumaman Raysha terhenti. Ia mendekap erat Nena, seolah tak ingin lepas.
“Jangan pergi, jangan pergi. Semua akan baik-baik saja. Aku menyayangimu”.
Nena terdiam. Hatinya basah. Mata coklatnya berkilat semakin pekat seperti tanah basah sehabis hujan.

AAZ 28,Agust 2010

Sepenggal Kisah Usai Sekolah

Sepenggal Kisah Usai Sekolah

“Negara berkembang adalah suatu Negara yang pendapatan rata-ratanya rendah, infrastrukurnya relatif terbelakang, dan indeks perkembangan manusia berada di bawah standar normal global. Kelompok Negara ini memiliki pembangunan sosial terbelakang yang nampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia, seperti rendahnya usia harapan hidup, tingginya kematian bayi dan anak”.

Aku menatap wajah-wajah itu. Wajah-wajah muda yang kuyakin haus akan ilmu. Ah, rasanya masih tetap sama seperti bertahun-tahun lalu saat aku berdiri di depan sini dan mengajar untuk bertama kali. Aku mengerutkan kening saat kulihat ada salah satu dari mereka yang terlihat mengantuk saat aku menerangkan pelajaran hari ini. Dasar anak-anak, pasti semalam tidurnya larut. Aku sudah bisa menebak kenapa?. Ah, anak laki-laki. Pasti semalam tidur larut karena menyaksikan pertandingan sepak bola klub favorit mereka, mungkin klub dari Inggris itu. Aha…bagaimana jika kuminta ia menjelaskan tentang Negara itu.

“Kamu…”, tatapanku mengarah pada wajah anak laki-laki yang terlihat mengantuk itu. Anak itu terlihat terkejut. Ia jadi tidak terlihat mengantuk.
“Iya kamu, coba kamu jelaskan apakah menurutmu Inggris termasuk Negara berkembang?”,
Anak laki-laki berambut cepak itu hanya terdiam. Tidak mengucapkan sepatah katapun. Aku menggeleng-gelengkan kepala.
“Lain kali, jangan tidur terlampau malam. Itu hanya membuatmu tidak konsentrasi belajar”. Aku melihatnya menggangguk pelan. Yasudahlah biar kujelaskan saja.
“Inggris tidak termasuk Negara berkembang. Inggris termasuk Negara maju karena standar hidup yang tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata. Yang disebut Negara maju juga memiliki Pendapatan Nasional Bruto perkapita yang tinggi”. Aku berhenti menjelaskan saat aku merasa sedikit terganggu oleh beberapa siswi yang malah asik mengobrol saat aku menerangkan.
“Ehemmm…”, aku berdeham cukup keras. Bermaksud menyindir siswi-siswi yang sedang asik mengobrol itu. Ternyata mereka menyadarinya dan segera terdiam.
Aku kembali menjelaskan pelajaran hari ini pada mereka.
“Siapa yang bisa menjelaskan contoh Negara berkembang di Asia?”. Tidak ada jawaban. Mereka hanya terpaku menatapku yang mengacungkan tangan dan menunggu salah satu dari mereka melakukan hal yang sama denganku. Hhhh…dasar anak-anak. Pasti kemarin mereka tidak belajar.
“Salah satu contoh Negara berkembang di Asia adalah Cina. Cina merupakan Negara yang memiliki penduduk terpadat di dunia-….”. Penjelasanku terhenti. Aku terbatuk-batuk keras. Dadaku terasa sakit. Hhhhh…anak-anak. Kulihat beberapa dari mereka justru tersenyum mengejek sambil menundukkan kepala. Aku masih dapat melihat bibir mereka berkomat kamit tidak jelas. Mungkin mereka mengejekku. Gurunya yang tengah terbatuk di depan kelas. Guru yang terkenal galak. Begitu kata mereka. Aku jadi teringat saat-saat lalu. Saat tubuhku ini masih sehat dan kuat. Aku memang sering menghukum murid-murid nakal yang suka membuat masalah. Mulai dari tidak mengerjakan PR, mengobrol saat aku tengah menerangkan pelajaran, membuat gaduh di dalam kelas, atau bahkan yang mengejekku atau guru lain. Tapi sekarang sudah berbeda. Aku tidak akan melakukan hal itu. Tubuhku sudah terlalu lemah duntuk bisa seperti dulu. Aku lebih memilih untuk mencoba tidak menghiraukan semua itu. Ah, anak-anak seandainya kalian tahu. Ibu melakukan itu semua karena Ibu sangat menyayangi kalian seperti Ibu menyayangi darah daging Ibu sendiri. Seandainya kalian mengerti Ibu menghukum kalian karena Ibu menyayangi kalian dan berharap kalian menjadi manusia yang lebih baik nantinya. Tidak ada maksud lain. Ibu memang tulus menyayangi kalian, itu sebabnya Ibu tidak bosan-bosannya menasihati kalian dan memperingati kalian saat berbuat salah, berbuat yang seharusnya tidak kalian lakukan. Ibu bukannya tidak tahu apa yang kalian bicarakan tentang Ibu. Ibu guru galak yang selalu memberikan banyak tugas. Ah, Nak…seandainya kalian tahu semua itu Ibu lakukan untuk kalian karena Ibu menyayangi kalian dan ingin kalian lebih banyak belajar.
Ingatanku melayang saat tahun-tahun lalu, dimana waktu Ujian kelulusan semakin dekat. Puasa Senin Kamis sudah menjadi rutinitas wajib yang aku jalani setiap kali ujian semakin dekat. Doa selalu kepanjatkan setiap selesai Beribadah menghadap-Nya. Agar semua murid-muridku lulus dengan nilai yang memuaskan, apalagi yang kupanjatkan selain itu.
“Baik, kalian kerjakan soal latihan halaman 30 sampai dengan selesai. 30 soal, Ibu rasa satu jam cukup. Setelah itu segera dikumpulkan”.
Kulihat wajah-wajah terkejut dari sebagian siswa siswi itu, beberapa melayangkan protes meminta tambahan waktu. Tapi aku tidak menghiraukan itu. 1 jam cukup.
Aku menarik nafas panjang dan tersenyum saat menatap murid-murid yang tengah khidmat mengerjakan soal itu. Ah, betapa menyenangkannya saat melihat mereka sedang serius belajar seperti sekarang ini. Pandanganku tertambat pada salah satu wajah dari mereka. Aku ingat wajah itu. Anak laki-laki bertumbuh gemuk dengan wajah yang kadang terlihat polos namun bandelnya bukan main. Dulu sering aku menghukumnya karena tidak mengerjakan PR, berbuat gaduh dan sebagainya. Ah, dulu…..

******

“Ibu guru, sudah dulu ya mengajarnya….”
“Murid-muridnya sudah ingin pulang. Ibu Guru juga harus makan siang, setelah itu Ibu juga harus beristirahat”
“Besok diteruskan lagi ya….”
Wanita tua itu mengangguk lemah saat seorang perawat berpakaian putih-putih memintanya menghentikan aktifitas yang selalu ia lakukan setiap hari. Perawat itu mendekat kepada wanita tua yang tengah duduk di depan sebuah ruangan kosong yang di bagian depan pintu tertera sebagai ruang serba guna. Perlahan dipapahnya tubuh wanita tua itu untuk meninggalkan ruangan kosong tersebut. Wanita tua itu berjalan mengikuti perawat yang memapahnya. Ia menatap jauh kedepan. Ah, betapa menyenangkannya mengingat masa lalu saat ia masih menjabat seoarang guru. Ah, betapa menyenangkannya saat mengingat wajah-wajah serius anak-anak yang tengah belajar. Dan betapa ia merindukan kembali saat-saat itu.
Wanita tua itu menatap hambar tulisan yang tertera pada sebuah pintu kayu sebuah ruang yang ditujunya. Ruang Makan RUMAH JOMPO “KASIH SEHATI”.

Apakah kita memikirkan sebanyak yang mereka pikirkan untuk kita?
Mereka memberi terlalu banyak, terlalu banyak yang berarti, apa yang sudah kita lakukan untuk mereka?
Kadang apa yang terjadi dikemudian hari tidak selalu seperti apa yang kita bayangkan…
Bagaimana jika sumpah serapah kita menjadi kenyataan?, seperti inikah yang kita harapkan?