Setelah Lima Tahun Berlalu

IMG-20160104-WA0002

Lima tahun lalu di pertengahan tahun seperti sekarang saya pertama kali bertemu dengannya. Saat itu saya masih berusia enambelas tahun, dan dia juga. Malam itu saya menemuinya di belakang panggung usai sebuah acara. Ia mengenakan gaun terusan berwarna merah muda dengan rambut terkepang rapi. Perkenalan kami singkat, hanya bertukar nama, berbincang sebentar, lalu berpisah begitu saya meminta nomor telepon genggamnya yang sampai hari ini tidak pernah berubah. Hari-hari berlalu, waktu berganti, tidak ada yang berbeda, saya tidak pernah lagi mendengar kabarnya, tidak juga mencoba menghubunginya setelah perkenalan pertama kami, tapi hidup siapa yang tahu? Singkat cerita, kami kembali bertemu, lalu saling bertukar cerita, menghadiri beberapa acara peragaan busana saat saya masih begitu aktif wara-wiri di “balik runway” dan acara yang diselenggarakan salah satu majalah remaja terkemuka saat saya ‘kebetulan’ mengisi acara disana.

Lima tahun berlalu dan hingga saat ini gadis remaja bergaun merah muda dengan rambut terkepang rapi yang saya temui lima tahun lalu itu menjadi teman baik saya, atau lebih tepatnya teman gila saya, istilah yang kami ciptakan berdua. Ada banyak kenangan terhadap waktu-waktu yang telah lalu. Ada banyak kenangan akan pertemanan gila saya dan dia yang selalu absurd. Kami sering tertawa terbahak-bahak berdua tanpa sebab yang jelas. Kami kadang membicarakan hal-hal paling filosofis, tapi lebih sering berseloroh akan hal-hal yang konyol dan tidak ada artinya sama sekali. Pada waktu-waktu tertentu kami membicarakan mimpi, berbagi rencana yang begitu ingin dijadikan nyata, dan pada saat lainnya kami pusing sendiri dengan urusan hati yang kadang lebih rumit daripada teka-teki silang diseluruh dunia.

Kamu tahu? Ada begitu banyak hal yang terjadi setelah lima tahun berlalu. Ada banyak hal dari saya yang berubah, dan dia pun juga. Saya yakin sedikit banyak dia menyadari perubahan itu, karena saya pun begitu. Dia berbeda, mulai dari hal-hal sederhana seperti semua mata yang memandang ke arahnya saat kami berdua di keramaian atau orang-orang yang menghampirinya untuk menyapa seakan bertemu kenalan lama, atau mereka yang sering mencuri waktu untuk berfoto bersama. Semua hal sederhana itu kadang terasa lucu bagi saya, rasanya seperti semua orang mengenalinya saat ini, atau memang begitu ya?

Siang ini saya membawakan sebuah kue tart rasa moka dengan lilin berbentuk angka 2 dan 1. Berdua dengan salah seorang “teman baiknya” saya mengendap-endap, menyalakan lilin dan berjalan perlahan. Dalam setiap langkah menuju ruangan tempat dia berada ingatan saya berputar tentang dirinya. Seperti roll film rusak yang secara acak memutar semua hal yang bisa saya ingat tentang dia.

IMG-20160104-WA0001Dia adalah salah satu orang paling menyebalkan dan absurd yang pernah saya kenal. Dia bisa menjadi orang paling bawel dan rewel dalam satu waktu. Dia bisa merajuk seperti anak kecil hanya untuk meminta saya menemaninya. Dia bisa berbicara dan bermain peran yang tidak jelas juntrungannya sampai saya bosan melihat dan mendengarkan. Dia bisa dengan konyolnya menirukan suara kuda di kamar mandi dan menimbulkan kegaduhan. Dia bisa dengan bodohnya memberikan kado sesuatu yang dapat dikenakan tanpa menanyakan ukurannya sampai-sampai saya harus memintanya membawa pulang kado itu lagi. Dia bisa menelepon saya dari tengah malam sampai pagi dan tidak ingin ditinggal tidur sendirian. Dia bisa berulang-ulang kali meminta maaf seperti anak kecil saat saya marah padanya. Dia bisa membuat saya kesal setengah mati, tertawa terpingkal-pingkal dan luluh seketika.

Kamu tahu? Dia salah satu orang paling menyebalkan, absurd dan tambah satu lagi, keras kepala yang saya pernah saya kenal. Tapi, kamu tahu? Sebenarnya saya pun begitu, mungkin baginya saya juga salah satu orang paling menyebalkan, absurd dan keras kepala yang pernah dia kenal, oh ya, tambah satu lagi juga, saya galak, mungkin sering kelewat galak dan sinis kepadanya, untuk hal-hal tertentu, tentu saja. Tapi tetap saja dia mungkin salah satu orang paling menyebalkan, absurd dan keras kepala yang pernah saya kenal, namun diam-diam saya mengaguminya. Dia punya hati yang begitu lembut. Dia punya kemauan yang sangat kuat. Dia punya prinsip hidup dan terus mempertahankannya sepenuh hati. Dia cerdas. Dia sangat menghargai orang-orang disekitarnya. Dia sangat menyayangi teman-temannya. Ya saya tahu itu.

Saya mungkin bukan teman yang baik untuk dia. Pertemanan kita tidak pernah selalu baik-baik saja. Pertemanan kita tidak pernah sempurna, tidak akan pernah. Tapi bukan itu intinya, karena yang terpenting bagi saya, dan semoga saja juga bagi dia, kami selalu mencoba saling berkompromi, memahami segala kekurangan. Saling jujur dan mengingatkan, bila salah katakan salah dengan berbesar hati, dan menerimanya dengan berbesar hati pula. Itu yang selalu kami coba untuk lakukan. Berteman dengan jujur tanpa memandang siapa saya dan siapa dia. Berteman dengan apa adanya, dan dengan gila, karena kami Teman Gila, tentu saja!

Selamat mengulang hari pertama di Bumi, Teman Gila!

 

 

 

Cirebon, Benda Kerep, dan Perjalanan Tanpa Persiapan

P1060557

Terik sekali. Pikiran itu yang pertama kali mampir di kepala saya begitu menginjakan kaki di Kota Cirebon. Sebelumnya saya memang pernah singgah di Cirebon, kurang lebih dua tahun lalu, tapi hanya sebentar saja, kurang dari tiga jam hingga saya lupa bagaimana teriknya sinar matahari di kota ini. Rasanya matahari di Cirebon lebih bersemangat memancarkan sinarnya dibanding Jakarta. Mungkin karena letak Cirebon yang termasuk di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Pikiran tentang teriknya Cirebon diamini pula oleh teman-teman saya. Ya, saya tidak sendirian tiba di kota ini, ada sekitar 26 orang lainnya selain saya. Mereka semua adalah teman satu angkatan saya di program studi Antropologi Sosial Universitas Indonesia.

Diantara teman-teman yang lain, motif bertandang ke Cirebon saya adalah yang paling berbeda. Mereka memiliki tujuan yang jelas, melakukan persiapan penelitian, atau istilahnya preliminary research untuk salah satu mata kuliah yang mengharuskan penelitian lapangan. Sementara saya? Saya hanya ikut-ikutan karena hanya sekadar ingin jalan-jalan. Mengesalkan ya? Setidaknya bagi teman-teman saya, yang lainnya serius memutar otak melakukan pengamatan, dan saya jadi serasa turis. Jangan tanyakan dulu kenapa saya tidak menjadi bagian dari ekspedisi Cirebon ini meskipun saya satu angkata dengan mereka. Dilain waktu mungkin saya akan menceritakannya, tetapi tidak sekarang. Walhasil, karena yang ada di alam pikiran saya bukan untuk persiapan penelitian, saya datang ke Cirebon dengan “otak kosong”. Jangankan studi pustaka terlebih dahulu, membaca berita ringan yang bertebaran di dunia maya saja tidak, tapi mungkin disitu menariknya. Dengan kepala yang “kosong” ini saya melihat dan mengamati berbagai hal di Cirebon dengan penuh ketakjuban. Ada hal-hal yang jadi begitu menarik karena efek keterkejutan akibat ketidaktahuan saya terhadap ini itu di Cirebon. Salah satunya adalah tentang Kampung Benda Kerep.

Kampung Benda Kerep terletak dipinggiran Kota Cirebon. Dari perkiraan jarak yang saya kira-kira sendiri dengan penuh ke-sok-tahuan, sebenarnya letaknya tidak terlampau jauh, perbandingannya tidak sampai Jakarta-Bogor. Dua minggu sebelum keberangkatan ke Cirebon, sebenarnya salah satu dosen saya telah memberikan gambaran umum tentang Benda Kerep. Katanya, kampung ini menolak segala bentuk modernisasi, bahkan untuk listrik apalagi laptop. Namun, fakta lapangan ternyata tidak sampai sebegitunya. Benda Kerep telah dialiri listrik sejak tahun 1987 meskipun awalnya sempat mendapatkan gelombang kontra dari para ToMas alias Tokoh Masyarakat. Menurut informan rombongan kami, keberadaan laptop pun sebenarnya tidak dipermasalahkan, hanya saja, masyarakat disana memang hanya satu orang yang sudah mampu memilikinya. Saya maklum kenapa dosen saya keliru memberikan informasi. Namanya juga manusia yang mungkin saja bisa salah dan lupa. Atau bisa saja memang informan dosen saya yang keliru memberikan informasi. Tidak apa, yang penting faktanya sudah terungkap, kan?

Konon, berdasarkan hasil tabulasi membaca kilat di laman-laman berita dunia maya, Benda Kerep ini didirikan oleh seseorang bernama Kyai Sholeh sekitar 300 tahun lalu. Untuk mencapai Benda Kerep, saya dan teman-teman saya harus menerapkan prinsip “going native”, alias “menjadi seperti penduduk asli” alias menerapkan cara-cara keseharian penduduk Benda Kerep, salah satunya adalah menutup aurat yang berlaku menurut hukum syariat Islam. Rombongan kami yang perempuan, termasuk saya mendadak berhijab semua, sementara salah satu teman laki-laki saya yang mengenakan celana pendek langsung melilitkan kain sarung yang ia bawa dari rumah. Kurangnya hanya satu, sebagian besar rombongan perempuan tidak mengenakan kain atau rok panjang sebagai bawahan karena tidak tahu bahwa ternyata penggunaan celana bagi perempuan ternyata sangat dilarang. Untungnya masyarakat Benda Kerep, termasuk informan rombongan, ternyata sudah sangat memaklumi kelakuan tetamu yang datang.

P1060559

P1060560

P1060567

Selain penerapan “going native” perjalanan mencapai Benda Kerep juga sangat mengesankan. Rombongan kami sempat nyasar beberapa kali hingga aksi putar memutar arah mobil merupakan hal yang lumrah. Benda Kerep yang terletak di seberang aliran sungai yang cukup deras juga menjadi tantangan tersendiri karena tidak ada jembatan! Ya, benar sekali, kamu tidak salah baca. Tidak ada jembatan menuju Benda Kerep. Tidak perlu memekik kata “WOW!” karena ketiadaan jembatan bukan berarti kami harus berenang atau main basah-basahan menerabas sungai, yang kami harus lakukan lebih mudah daripada itu, kami hanya perlu melangkahkan kaki dengan lincah diatas batu-batu pijakan yang tersusun rapi membelah arus. Beruntunglah rombongan kami karena meski rintik hujan sudah membasahi tanah, tapi air sungai belum menampakan tanda-tanda akan meluap.

Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya begitu melangkahkan kaki di Kampung Benda Kerep. Laki-laki disana hampir semuanya mengenakan kain seperti sarung, gamis, dan peci tinggi yang kemudian saya ketahui dinamakan “Peci Sufi” atau “Peci Sombong” oleh masyarakat sekitar. Kenapa “Peci Sufi”? Saya menduga karena bentuknya mirip peci-peci yang dikenakan penari-penari sufi, tapi kenapa dinamakan “Peci Sombong”? Nah untuk yang ini informan saya mengatakan dengan bangga “Karena kalau sudah pakai peci ini jadi terlihat gagah, jadi seperti sombong”. Sedangkan para perempuan Benda Kerep dalam kesehariannya mengenakan kain batik untuk bawaha, atasan seperti blus lengan panjang, dan tentunya hijab, walau ternyata bukan hijab “syar’i” seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Benda Kerep juga dikenal sebagai “Kampung Santri” karena keberadaan pesantren-pesantren disana, jumlah Kyai-nya pun ternyata cukup banyak hingga informan rombongan beberapa kali menanyakan “Dulu dosen kalian kontak-kontakan dengan Kyai yang mana (siapa)?”.

Selama kurang lebih dua jam kami berada di Benda Kerep, teman-teman saya menanyakan hal ini itu, sementara saya lebih banyak diam, dan sesekali mencicipi dodol mangga gedong yang disajikan tuan rumah serta menyeruput sirup koko pandan dingin yang cukup menyegarkan. Sambil menikmati dodol dan meneguk sirup, saya memperhatikan proses tanya-jawab yang dilakukan teman-teman saya. Menarik. Ada banyak informasi yang saya ketahui tentang masyarakat Benda Kerep. Mereka yang ketakutan setengah mati dengan orang-orang Dinas Kesehatan yang terlibat dalam PIN (Pekan Imunisasi Nasional) sampai-sampai rombongan kami dikira “orang PIN” dan ketika kami berjalan menyusuri kampung, anak-anak disana teriak “Polio Polio Polio!!!” sambil menunjuk kami lalu berlari ke dalam rumah. Mereka yang akhirnya membolehkan masuknya listrik, beberapa alat elektronik termasuk handphone, tetapi sama sekali menentang adanya televisi dan radio. Mereka yang mayoritas menerapkan sistem pernikahan endogami. Mereka yang masih sangat menerapkan nilai-nilai Islam sehingga dilarang keras untuk berpacaran. Dan mereka, maaf ralat, tepatnya teman-teman saya dan informan rombongan yang jadi mencandai salah satu teman perempuan saya dan menggodanya habis-habisan agar “berjodoh” dengan anak laki-laki sulung informan rombongan. Sayangnya keseruan acara tanya-jawab harus selesai karena senja semakin jauh. Sebelum adzan magrib berkumandang kami bergegas meninggalkan Benda Kerep.

P1060589

 

P1060590

P1060592

Malamnya perjalanan kami lanjutkan dengan berkeliling Kota Cirebon, targetnya kali ini adalah pelabuhan batu bara Kota Cirebon dan titik-titik prostitusi. Pelabuhan batu bara Kota Cirebon tidak terlalu jauh dari kota, setibanya disana kami berhasil mengelilingi Zona A setelah dua orang teman saya melakukan negosiasi yang cukup alot dengan petugas keamanan. Di pelabuhan satu-satunya hal yang menarik perhatian saya adalah kapal-kapal besar yang bersandar ke Dermaga, ketika malam mereka terlihat indah, setidaknya bagi saya. Berlanjut ke titik-titik prostitusi, titik-titik ini berada di jalan-jalan yang saya lupa namanya, tapi saya ingat ada truk-truk besar disana. Malam itu tidak terlalu banyak pekerja seks yang saya lihat menunggu pelanggan, hanya beberapa saja yang ada dipinggir jalan, diatas becak, berdiri di sela-sela deretan truk, dan diatas motor. Dua kali rombongan kami memutari ruas jalan itu sebelum berakhir di alun-alun Kota Cirebon dan menikmati segelas kopi atau coklat panas.

Keesokan harinya perjalanan saya di Kota Cirebon harus berakhir. Sejak awal saya memang memutuskan untuk berpisah lebih awal dengan rombongan karena harus mengejar sebuah acara diskusi di Jakarta yang berlangsung jam satu siang. Setengah jam sebelum keberangkatan kereta saya sudah mendaratkan kaki di stasiun dan sempat-sempatnya menyantap empal gentong di depan stasiun. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta saya mengingat-ingat semua rangkaian perjalanan ke Cirebon yang terkesan impulsif karena hanya ingin jalan-jalan saja. Saya menganggap perjalanan ini tanpa persiapan. Seperti yang saya ceritakan diawal, saya tidak sempat membaca apapun tentang medan di Cirebon, tapi saya sangat senang karena saya mendapat pengalaman-pengalaman menarik selama di kota yang panas ini. Hanya satu saja yang masih mengganjal hati saya. Saya teringat Bapak, dosen, sekaligus pembimbing akademik yang sudah saya anggap seperti Ayah sendiri. Beliau tidak menepati janjinya untuk pergi bersama kami, padahal kami sudah berangan-angan untuk menikmati empal gentong dan tahu gejrot bersama. Bapak pergi lebih dulu, bukan ke Cirebon, tapi pergi ke alam lain yang selalu jadi misteri, kematian.Bapak pergi menghadap Yang Maha Segalanya dua minggu sebelum keberangkatan kami.

P1060595

P1060579

Ibumu

Semalam aku bermimpi tentangmu yang tengah menangis dipangkuan Ibumu. Aku dapat mendengar desah napas diantara suara tangismu yang lirih. Membayangkan matamu yang sembab dan basah. Warna coklat itu semakin pekat seperti warna tanah basah sehabis hujan. Dadamu turun naik mengikuti tarikkan napas yang sesak tak beraturan.
Sayang, tahukah kamu betapa inginnya aku menghampiri dan memelukmu saat itu?. Memberikan bahuku agar bisa kautumpangi kepalamu yang berat dengan timbunan air mata. Aku membayangkan bajuku yang sudah tentu akan basah oleh air matamu, seperti habis kehujanan di hari murung sepulang sekolah.
Dalam mimpi, kamu menangis dan terus menangis, seperti tak ada akhir. Bahkan aku sempat khawatir ruang dalam mimpiku akan banjir air matamu. Namun kekhawatiranku segera sirna ketika tiba-tiba kamu berhenti menangis dan terdiam sepi. Kamu diam, tidak ada lagi tangis atau air mata. Ya ya ya…aku tahu tangismu terhenti karena aku tak lagi mendengar suaramu yang pilu sejak tadi. Kemudian aku penasaran dengan keheningan yang tercipta, Ibumu bahkan tak lagi bersuara, menyenandungkan lagu Lir Ilir seperti yang tadi dilakukannya, aku rasa untuk menenangkanmu.
Aku diam terkesiap menatap tubuhmu yang telungkup pada pangkuan Ibumu. Sunyi. Sepi. Detik jam kemudian terdengar jelas. Entah darimana datangnya. Tik Tok Tik Tok Tik Tok. Detik demi detik terdengar ganjil, mereka terdengar layaknya pertanda, peringatan, pemberitahuan atau apalah, aku sulit menemukan kata untuk menggambarkannya. Tapi untuk apa?. Aku disini. Kamu dipangkuan Ibumu. Semua aman. Apa yang harus diperingatkan?. Kamu sudah tenang dalam pangkuan Ibumu. Telungkup tenang disana sementara aku menatapmu khikmat dari tempatku berdiri, sebuah sudut tak terlihat, setidaknya olehmu atau Ibumu,hmmm…atau mungkin tepatnya belum terlihat atau mungkin belum kamu dan Ibumu sadari.
Tik Tok Tik Tok Tik Tok. Bunyi itu semakin keras, entah berasal darimana. Pandanganku mengelilingi sekitar ruangan itu. Tidak ada Jam dinding atau jam jam lain. Aku berusaha memicingkan mata, memperjelas pandanganku pada pergelangan tangan Ibumu yang terkulai diatas kepala juga punggungmu. Polos. Tidak ada yang Ibumu pakai. Kali ini pandanganmu mengarah pada sosokmu yang tengah telungkup di pangkuan Ibu, berusaha melihat tanganmu, nihil, tanganmu begitu sulit terlihat, keduanya tersembunyi dibawah tubuhmu yang telungkup itu.
Tik Tok Tik Tok Tik Tok. Heran, bunyi itu semakin keras, seolah menerorku. Kujulurkan tangan, memastikan tak ada arloji disana. Ya, aku memang tidak mengenakan arloji. Tik Tok Tik Tok Tik Tok. Ah, bunyi itu semakin mengganggu, semakin intens dan, dan, dan terasa mulai menakutkan. Aku masih berusaha mencerna bunyi-bunyian itu saat suara lain memecah konsentrasiku.
Kamu kembali menangis, kali ini lebih pilu. Aku bisa merasakan itu. Ah, suaramu itu. Tapi tunggu. Itu bukan kamu. Bukan suaramu. Tangis itu bukan milikmu. Lalu siapa?. Aku tidak menangis. Ibumu?. Apa Ibumu menangis?. Apa yang iya tangisi?. Kamu?. Kenapa telat sekali?. Kenapa baru sekarang?. Kenapa harus menunggumu terdiam?.
Aku kembali menatap tubuhmu yang masih telungkup dipangkuan Ibumu. Kamu diam. Aku diam. Ibumu menangis dan kemudian sesuatu merembes pelan dari bajumu yang sudah kelihatan lusuh. Setitik merah, sebulatan, lebar, melebar, besar, kemudian bajumu berubah warna. Merah. Tes tes tes tes setetes setetes. Kental. Merah. Darah. Kamu diam. Ibumu menangis. Aku berdiri kaku.
Tik Tok Tik Tok Tik Tok. Suara itu semakin mengganggu. Mengganggu. Mengganggu.
“Hahahahaaa…!”, suara itu keras sekali, memekakkan telingaku. Siapa yang tertawa?. Kamu masih diam dan aku terpaku kaku. Siapa?.
“Hahahahaaa…!”, semakin keras, semakin memekakkan. Aku mulai muak, bau amis sekejap menyeruak.
“Hahahahaaa…Tidur sayang oh tidur sayang…”, tawa, senandung, aku muak. Aku menatap ngeri, tubuhku mulai tegang, rahangku mengeras. Bunyi Tik Tok Tik Tok Tik Tok itu semakin keras. Ibumu menyeringai, tawanya semakin keras, berulang-ulang sama kerasnya seperti sirine mobil ambulance yang kerap lewat dan membuatmu takut. Ibumu menolehkan kepala, matanya menemukanku. Kedua pupilnya yang hitam semakin berkilat menatap kearahku. Sebuah pisau tiba-tiba sudah lekat dalam genggamannya. Napasku tercekat.
“Aku begitu menyayangimu, jangan pergi, aku mohon jangan pergi”, suara itu lirih, pelan, lamat sekali diucapkan dari sosokmu yang telungkup dan dipenuhi warna merah. Siapa?. Siapa yang jangan pergi?. Siapa?. Aku?.
“Aku akan tetap tinggal, untukmu”, suara itu menggaung, menggema, memantul kesetiap sisi hatiku, hanya hatiku. Tak pernah kuucapkan jelas-jelas padamu, padamu…aku…bodoh. Diam. Hanya diam, terpaku kaku menatapmu penuh darah.
Wajah itu menyeringai semakin jelas, meremangkan bulu romaku. Pisau. Pisau itu, merah penuh bercak. Darah. Bunyi Tik Tok Tik Tok Tik Tok semakin keras terdengar, semakin menerorku. Aku kaku terpaku ditempatku. Ibumu semakin intens menatapku, menyeringai buas sembari tertawa keras.

****

“Sayang, semuanya akan baik-baik saja. Kamu akan baik-baik saja. Ibumu sudah Kubunuh, kamu akan baik-baik saja bersamaku. Aku akan tetap tinggal untukmu, untukmu, untukmu”, ia meracau semakin kacau. Tubuhnya yang kini terlihat sangat kurus bergelung tegang diatas tempat tidur putih. Gumamannya terdengar semakin kacau, ingatannya tidak bisa mengenyahkan segala peristiwa hampir setahun lalu. Semua kembali kembali dan kembali berulang setiap hari, setiap malam dalam lelapnya. Semua potongan-potongan adegan yang kemudian menjadi cerita tersendiri dalam mimpi.
Matanya masih tertutup sementara dari mulutnya keluar komat kamit pengulangan kata saat Nena memasuki ruang rawat itu bersama seorang perawat berseragam hijau muda dengan jilbab putih dan sebuah papan, kertas juga bolpoin di tangannya. Nena mendekati sosok tubuh yang tengah bergelung dan meracau itu. Ia menatapnya lekat. Mata itu terpejam sementara mulutnya tak henti menggumam.
“Dia sering kumat dok. Terlebih akhir-akhir ini, ia sulit sekali tenang sejak dokter cuti empat hari lalu”,
Nena mengganggu kecil mendengar penjelasan si perawat, wajahnya  serius seperti biasa. Dokter muda berkacamata minus itu perlahan mengambil posisi duduk disebelah tubuh yang masih meracau tersebut. Nena terlihat begitu tenang, berbeda dengan si perawat yang menatapnya dengan pandangan penuh kekhawatiran layaknya seorang Ibu yang memergoki anaknya tengah memanjat pohon jambu air yang dipenuhi ulat bulu sebesar jari telunjuk orang dewasa berwana kuning yang kerap menggerogoti daun daunnya. Ada yang ingin perawat itu katakan tentang kelakuan si tubuh yang tengah bergelung itu, tentang bagaimana ia mengamuk di waktu-waktu tertentu, terutama beberapa saat setelah ia terjaga dari tidurnya.
“Raysha memang sulit sekali tenang semenjak kematian Rania”, Nina tersenyum samar, senyum yang membuat mulut perawat itu terkunci rapat seketika, apa yang ingin ia katakan mendadak menguap entah kemana. Sebuah instruksi tangan sederhana membuat si perawat meninggalkan ruang perawatan tersebut. Nena kembali tersenyum manis dari balik kacamatanya, menatap Raysha lekat dan membelai rambut hitamnya perlahan. Mata yang terpejam itu perlahan terbuka, sinarnya yang semula redup berubah penuh pengharapan saat melihat Nena dihadapannya.
Hati Nena basah melihat gadis berwajah pucat, bertubuh ramping dengan rambut panjang yang mencuat menutupi sedikit wajahnya yang tetap saja tak mampu menyembunyikan kecantikan lahiriahnya. Nena menyentuhkan tangannya ke wajah Raysha, menyingkirkan rambut-rambut liar dari wajahnya. Ia tersebyum lembut. Gumaman Raysha terhenti. Ia mendekap erat Nena, seolah tak ingin lepas.
“Jangan pergi, jangan pergi. Semua akan baik-baik saja. Aku menyayangimu”.
Nena terdiam. Hatinya basah. Mata coklatnya berkilat semakin pekat seperti tanah basah sehabis hujan.

AAZ 28,Agust 2010

Sepenggal Kisah Usai Sekolah

Sepenggal Kisah Usai Sekolah

“Negara berkembang adalah suatu Negara yang pendapatan rata-ratanya rendah, infrastrukurnya relatif terbelakang, dan indeks perkembangan manusia berada di bawah standar normal global. Kelompok Negara ini memiliki pembangunan sosial terbelakang yang nampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia, seperti rendahnya usia harapan hidup, tingginya kematian bayi dan anak”.

Aku menatap wajah-wajah itu. Wajah-wajah muda yang kuyakin haus akan ilmu. Ah, rasanya masih tetap sama seperti bertahun-tahun lalu saat aku berdiri di depan sini dan mengajar untuk bertama kali. Aku mengerutkan kening saat kulihat ada salah satu dari mereka yang terlihat mengantuk saat aku menerangkan pelajaran hari ini. Dasar anak-anak, pasti semalam tidurnya larut. Aku sudah bisa menebak kenapa?. Ah, anak laki-laki. Pasti semalam tidur larut karena menyaksikan pertandingan sepak bola klub favorit mereka, mungkin klub dari Inggris itu. Aha…bagaimana jika kuminta ia menjelaskan tentang Negara itu.

“Kamu…”, tatapanku mengarah pada wajah anak laki-laki yang terlihat mengantuk itu. Anak itu terlihat terkejut. Ia jadi tidak terlihat mengantuk.
“Iya kamu, coba kamu jelaskan apakah menurutmu Inggris termasuk Negara berkembang?”,
Anak laki-laki berambut cepak itu hanya terdiam. Tidak mengucapkan sepatah katapun. Aku menggeleng-gelengkan kepala.
“Lain kali, jangan tidur terlampau malam. Itu hanya membuatmu tidak konsentrasi belajar”. Aku melihatnya menggangguk pelan. Yasudahlah biar kujelaskan saja.
“Inggris tidak termasuk Negara berkembang. Inggris termasuk Negara maju karena standar hidup yang tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata. Yang disebut Negara maju juga memiliki Pendapatan Nasional Bruto perkapita yang tinggi”. Aku berhenti menjelaskan saat aku merasa sedikit terganggu oleh beberapa siswi yang malah asik mengobrol saat aku menerangkan.
“Ehemmm…”, aku berdeham cukup keras. Bermaksud menyindir siswi-siswi yang sedang asik mengobrol itu. Ternyata mereka menyadarinya dan segera terdiam.
Aku kembali menjelaskan pelajaran hari ini pada mereka.
“Siapa yang bisa menjelaskan contoh Negara berkembang di Asia?”. Tidak ada jawaban. Mereka hanya terpaku menatapku yang mengacungkan tangan dan menunggu salah satu dari mereka melakukan hal yang sama denganku. Hhhh…dasar anak-anak. Pasti kemarin mereka tidak belajar.
“Salah satu contoh Negara berkembang di Asia adalah Cina. Cina merupakan Negara yang memiliki penduduk terpadat di dunia-….”. Penjelasanku terhenti. Aku terbatuk-batuk keras. Dadaku terasa sakit. Hhhhh…anak-anak. Kulihat beberapa dari mereka justru tersenyum mengejek sambil menundukkan kepala. Aku masih dapat melihat bibir mereka berkomat kamit tidak jelas. Mungkin mereka mengejekku. Gurunya yang tengah terbatuk di depan kelas. Guru yang terkenal galak. Begitu kata mereka. Aku jadi teringat saat-saat lalu. Saat tubuhku ini masih sehat dan kuat. Aku memang sering menghukum murid-murid nakal yang suka membuat masalah. Mulai dari tidak mengerjakan PR, mengobrol saat aku tengah menerangkan pelajaran, membuat gaduh di dalam kelas, atau bahkan yang mengejekku atau guru lain. Tapi sekarang sudah berbeda. Aku tidak akan melakukan hal itu. Tubuhku sudah terlalu lemah duntuk bisa seperti dulu. Aku lebih memilih untuk mencoba tidak menghiraukan semua itu. Ah, anak-anak seandainya kalian tahu. Ibu melakukan itu semua karena Ibu sangat menyayangi kalian seperti Ibu menyayangi darah daging Ibu sendiri. Seandainya kalian mengerti Ibu menghukum kalian karena Ibu menyayangi kalian dan berharap kalian menjadi manusia yang lebih baik nantinya. Tidak ada maksud lain. Ibu memang tulus menyayangi kalian, itu sebabnya Ibu tidak bosan-bosannya menasihati kalian dan memperingati kalian saat berbuat salah, berbuat yang seharusnya tidak kalian lakukan. Ibu bukannya tidak tahu apa yang kalian bicarakan tentang Ibu. Ibu guru galak yang selalu memberikan banyak tugas. Ah, Nak…seandainya kalian tahu semua itu Ibu lakukan untuk kalian karena Ibu menyayangi kalian dan ingin kalian lebih banyak belajar.
Ingatanku melayang saat tahun-tahun lalu, dimana waktu Ujian kelulusan semakin dekat. Puasa Senin Kamis sudah menjadi rutinitas wajib yang aku jalani setiap kali ujian semakin dekat. Doa selalu kepanjatkan setiap selesai Beribadah menghadap-Nya. Agar semua murid-muridku lulus dengan nilai yang memuaskan, apalagi yang kupanjatkan selain itu.
“Baik, kalian kerjakan soal latihan halaman 30 sampai dengan selesai. 30 soal, Ibu rasa satu jam cukup. Setelah itu segera dikumpulkan”.
Kulihat wajah-wajah terkejut dari sebagian siswa siswi itu, beberapa melayangkan protes meminta tambahan waktu. Tapi aku tidak menghiraukan itu. 1 jam cukup.
Aku menarik nafas panjang dan tersenyum saat menatap murid-murid yang tengah khidmat mengerjakan soal itu. Ah, betapa menyenangkannya saat melihat mereka sedang serius belajar seperti sekarang ini. Pandanganku tertambat pada salah satu wajah dari mereka. Aku ingat wajah itu. Anak laki-laki bertumbuh gemuk dengan wajah yang kadang terlihat polos namun bandelnya bukan main. Dulu sering aku menghukumnya karena tidak mengerjakan PR, berbuat gaduh dan sebagainya. Ah, dulu…..

******

“Ibu guru, sudah dulu ya mengajarnya….”
“Murid-muridnya sudah ingin pulang. Ibu Guru juga harus makan siang, setelah itu Ibu juga harus beristirahat”
“Besok diteruskan lagi ya….”
Wanita tua itu mengangguk lemah saat seorang perawat berpakaian putih-putih memintanya menghentikan aktifitas yang selalu ia lakukan setiap hari. Perawat itu mendekat kepada wanita tua yang tengah duduk di depan sebuah ruangan kosong yang di bagian depan pintu tertera sebagai ruang serba guna. Perlahan dipapahnya tubuh wanita tua itu untuk meninggalkan ruangan kosong tersebut. Wanita tua itu berjalan mengikuti perawat yang memapahnya. Ia menatap jauh kedepan. Ah, betapa menyenangkannya mengingat masa lalu saat ia masih menjabat seoarang guru. Ah, betapa menyenangkannya saat mengingat wajah-wajah serius anak-anak yang tengah belajar. Dan betapa ia merindukan kembali saat-saat itu.
Wanita tua itu menatap hambar tulisan yang tertera pada sebuah pintu kayu sebuah ruang yang ditujunya. Ruang Makan RUMAH JOMPO “KASIH SEHATI”.

Apakah kita memikirkan sebanyak yang mereka pikirkan untuk kita?
Mereka memberi terlalu banyak, terlalu banyak yang berarti, apa yang sudah kita lakukan untuk mereka?
Kadang apa yang terjadi dikemudian hari tidak selalu seperti apa yang kita bayangkan…
Bagaimana jika sumpah serapah kita menjadi kenyataan?, seperti inikah yang kita harapkan?

Pacar Rock and Roll

Pacar Rock and Roll

Gadis itu menatap pantulan wajahnya di dalam cermin saku yang baru saja ia keluarkan dari sling bag coklatnya. Kedua matanya terpusat pada bayangan pelipis kanannya dalam cermin, alisnya mengernyit, ia berpikir dan memperkirakan seberapa dalam luka yang tertanam di balik perban pada pelipis kanannya.
“Kamu ini benar-benar keterlaluan Nind. Baru saja satu bulan lalu masuk rumah sakit gara-gara nabrak trotoar, eh kok ya sekarang masuk rumah sakit lagi gara-gara ditabrak”, wanita paruh baya itu langsung melemparkan pandangan antara tidak percaya, bingung, dan pasrah pada gadis yang masih terbaring diatas tempat tidur dan menatapi wajahnya dalam cermin. “Tapi kan kali ini bukan aku yang nabrak, aku yang ditabrak Ma, berarti aku korbannya. Lagipula ini nggak separah waktu aku nabrak trotoar terus nyusruk ke parit”, gadis itu kembali memasukkan cermin saku nya ke dalam sling bag, dan menatap Sang Ibu dengan tatapan innocent nya.
“Keterlaluan kamu, coba kamu hitung sudah berapa kali kamu kecelakaan?. Sudahlah Nind, lebih baik kamu ndak usah naik motor kemana-mana. Biar Pak Sapri yang antar kamu”. Gadis itu langsung melompat dari ranjang berwarna hijau telur asin tempatnya terbaring tadi, ia tidak peduli pada kaki kirinya yang masih terasa nyeri.
“Aku nggak apa-apa kok. Cuma luka-luka kecil seperti ini, Mama nggak usah sampai segitunya. Udah ah aku mau pulang aja, dokter juga bilang aku boleh pulang kan?”, ia segera mengenakan sepatu kanvas berwarna hitam dan jaket coklat muda kesayangannya dan melangkah pergi dari ruang perawatan itu. “Anind!…Mau kemana kamu?!. Papamu masih urus administrasi kamu ndok”, wanita itu berusaha memanggil anak gadisnya yang sudah terlanjur pergi meninggalkan ruang perawatan itu, ia menggelengkan kepala melihat kelakuan anak gadisnya yang begitu keras kepala.

****

Ia masih sempat mendengar suara Ibu nya saat pergi meninggalkan ruang perawatan ber cat putih itu. Sejenak ia terdiam dan mengurut-urut pangkal hidungnya, kepalanya mendadak terasa pening. Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya, kali ini dengan lebih tergesa begitu melihat sebuah mesin minuman otomatis. Hanya dengan memasukkan 2 lembar uang pecahan 1000 rupiah atau 4 koin 500 an, segelas kecil minuman hangat sudah bisa dinikmati.
Gadis itu menyeruput minumannya yang masih terlampau panas dengan perlahan. Namun tiba-tiba saja ia jadi tak berselera dengan minuman itu saat pandangannya terpaku pada seseorang yang tengah duduk terdiam disebuah bangku besi panjang bercat putih tidak terlalu jauh dari tempat gadis itu berdiri dan menyesap minumannya.
Laki-laki itu memejamkan mata, nampaknya ia menikmati betul alunan musik dari ujung-ujung headphone yang ia kenakan di kedua telinganya. Ia tidak menyadari seseorang telah berbagi bangku dengannya dan menatap wajahnya lekat-lekat sebelum kembali memandang lurus kedepan dan kembali menyesap minuman hangatnya.
“Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu disini. Ada bagusnya juga ternyata aku masuk rumah sakit”, suara riang dari seorang gadis perlahan menyusup disela-sela alunan musik dari ujung headphone nya. Laki-laki itu membuka kedua matanya, memutar posisi duduk sedemikian rupa sehingga dapat melihat wajah dari si pemilik suara tanpa perlu menolehkan kepalanya. Lidah laki-laki itu mendadak kelu saat melihat siapa yang berbicara padanya tadi, seorang gadis dengan jaket coklat muda sambil menyesap minuman yang terlihat masih menguarkan asap tipis. Gadis itu balas memandang si lelaki dengan tatapannya yang khas dibingkai senyum yang mengembang cantik.
“Hai Irish…Ngapain kamu disini?, sendirian pula, kalau mau menyendiri lebih baik di dalam kamar jangan di Rumah Sakit”, ucap gadis itu sambil terus memamerkan senyum menawannya. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga si lelaki, dan setengah berbisik, “Di Rumah Sakit auranya terlalu suram, terlalu murung. Kalau kamu di rumah auranya bisa lebih bagus, setidaknya kamu bisa liat Aura Kasih di TV”, laki-laki muda itu tertawa kecil, mengubah posisi duduknya kembali dan menyenderkan kepalanya pada dinding Rumah Sakit yang terasa dingin.
“Ini sudah yang keberapa kali?”, tanya Irish ringan. Kedua bola matanya melirik ke samping, memperhatikan pelipis dan lengan gadis disampingnya yang dipenuhi memar, lecet dan balutan perban.
“12 kali. Tapi kali ini bukan aku yang nabrak tapi aku yang ditabrak”, gadis itu tersenyum miris saat menyadari Irish tengah menyilangkan tangannya di depan dada, senyum sinisnya mengembang.
“Kamu nggak pernah berubah ya?”, Irish berkata pelan disela senyum yang masih tersungging karena ucapan gadis di sampingnya.
“Kamu lupa?, aku bukan power rangers, ultraman juga bukan, apalagi sailor moon. Jadi mana bisa berubah. Aku nggak punya kekuatan super…hehehe”, canda gadis yang masih tersenyum 3 jari saat senyum Irish perlahan memudar dari wajahnya yang semakin pucat.
“Mungkin seharusnya aku nggak pernah ketemu kamu lagi, terlebih disaat-saat seperti sekarang ini. Kamu bikin aku merasa bisa bertahan lebih lama dari yang aku bisa”, Irish terdiam, pandangannya menerawang kembali mengingat mengapa ia bisa sampai berada di Rumah Sakit ini.
“Bukan aku yang berubah, tapi kamu. Kamu kayaknya lebih mellow sampai bawa bertahan bertahan segala, kayak lagu Rio Febrian aja. Mellow banget sih, kebanyakkan denger lagunya D’Massive tuh”, ucap gadis itu sembari menyesap minumannya.
“Harusnya aku pergi dari sini sejak tadi”, Irish bangkit dari duduknya, ia baru saja akan melangkah pergi ketika jemari lembut gadis itu menangkap pergelangan tangannya. “Kenapa sih?, kita cuma ngobrol, kamu masih anggap aku temanmu kan?”, tanya gadis itu dengan senyum yang berbeda, sebuah senyuman yang sulit ditepiskan Irish dari ingatannya.

****

Sore itu ia begitu saja muncul di tempat latihan futsal tanpa memberitahukanku terlebih dahulu. Ia tersenyum dari kejauhan, aku bisa melihat bayangan tubuh Irish diantara teman-teman satu team futsalku yang berlari mengejar bola yang saat itu ada di posisi lawan.
10 menit berselang setelah aku melihat senyuman Irish pertandingan berakhir dengan kemenangan 3-2 untuk team futsalku. Aku segera berlari kearahnya, ingin sekali aku memeluk laki-laki yang sudah 2 tahun terakhir menjadi kekasihku, namun niat itu segera kuurungkan begitu menyadari tubuhku yang masih bermandikan keringat.

“Heiii…sendirian aja nih cowok. Oiya, aku lupa kamu kan memang nggak pernah sama yang lain selain aku”, gadis itu dengan sukses membuat Irish tersenyum geli dengan candaannya yang khas dan penuh keriangan. Mereka berbincang, namun tidak terlalu banyak karena suasana seketika berubah menjadi lebih senyap saat Irish menggenggam tangan gadis itu. “Anind, kamu tau kan aku sakit?”, tanyanya seketika.
“Iya tau, kenapa memangnya?”, gadis itu menatap Irish dengan bingung, namun keriangan itu tidak juga sirna dari pancaran matanya.
“Kamu pernah bilang akan nurut sama aku setelah kecelakaanmu itu”, gadis itu mengangguk masih dengan senyumannya yang menawan. Irish merasakan sesuatu yang benar-benar mengaduk-aduk perasaannya. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasa, lidahnya kaku, ia bahkan tidak yakin tangannya tidak gemetar saat menggenggam tangan kekasihnya itu. “Aku rasa lebih baik kita sampai disini saja. Aku nggak mau semakin sulit untuk melepasmu nanti. Aku nggak mau hubungan kita semakin dalam dan aku sudah terlalu sayang untuk meninggalkanmu, ketika aku memang harus pergi. Aku tau ini terlalu sulit dan tiba-tiba, tapi aku mohon demi apapun juga-“, Irish belum sempat meneruskan apa yang ingin dikatakannya saat gadis itu menarik tangan kanannya dari genggaman erat tangan Irish. Kulit telapak tangan Irish terasa semakin dingin, seperti mayat.
“Aku punya satu syarat untukmu, kamu harus janji sama aku untuk menjalankannya saat hubungan ini benar-benar berakhir”, gadis itu menerawang jauh kedepan sebelum tertunduk lemas dan menggigit bibir bagian bawahnya menahan butiran-butiran air mata yang semakin lama semakin mendesak keluar.
Irish mengangguk kecil beberapa kali tanda menyetujui permintaan gadis yang masih mengenakan kaus futsal disampingnya. Irish menolehkan kepalanya, berusaha untuk mengetahui eskpresi gadis itu. Gadis itu hanya terdiam, dan balik menatapnya lembut sambil menenggak air mineral dari dalam botol minuman bening. Irish merasakan sesuatu perlahan mulai menjalari tengkuknya, sesuatu yang membuatnya merasa teramat nyeri, terus merambat naik hingga ke ubun-ubunnya. Ia segera memalingkan wajah dari gadis itu, berusaha menegakkan kepalanya yang semakin terasa sakit, terutama di bagian leher.

**

Kondisi tubuhnya yang semakin memburuk, terlalu mengkhawatirkan untuk dibiarkan begitu saja. Suhu tubuhnya tak kunjung mengalami penurunan. Ia demam tinggi, sudah beberapa hari. Demam yang disertai nyeri-nyeri di beberapa bagian tubuhnya, terutama pada bagian leher. Dan pagi itu ia dilarikan ke Rumah Sakit saat dimana ia seharusnya berada di sekolah dan mengikuti pelajaran.
Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, ada sesuatu yang mengkhawatirkan, begitu tutur seorang dokter yang memeriksa keadaannya. Beberapa hari berselang kekhawatiran dokter itu terbukti saat ia mengetahui hasil lab pemeriksaannya.
Sel-sel ganas itu sudah bersarang di tubuhnya. Menyerang salah satu pertahanan tubuh paling vital. Menyerang kelenjar getah bening di bagian lehernya. Sel-sel kanker ganas yang mematikan. Rahangnya mengeras, tiba-tiba saja ia merasa sesak seperti ada sebuah batu besar yang menindih dadanya.

**

“Okey Tuan Irish, Let’s Be Friend. Saya harap saya bisa menjadi teman yang baik bagi anda”, Irish tidak tahu sejak kapan gadis itu telah bangkit dari sisinya dan kini berdiri tepat dihadapannya, menjulurkan lengannya yang kemudian dijabatnya erat. Senyuman itu tidak pernah lepas dari wajah cantiknya. Irish menatap gadis itu dengan penuh rasa heran, ia masih bisa merasakan kehangatan dan keriangan gadisnya sama seperti dulu. Senyumnya tak pernah berubah, bagitu pula perkataan yang keluar dari sela bibir merah muda nya. Selalu riang, ringan tanpa beban. Apakah dua tahun kebersamaan tidak sama sekali berarti baginya?. Ia tahu gadisnya memang selalu begitu. Dia unik, menarik, dan selalu mampu membawa kecerian tersendiri yang tidak dimiliki gadis-gadis lainnya. Dia si cantik dengan tatapan hangat dan lembut. Tapi dia juga tuan putri dengan sejuta petualangan mendebarkan. Dia selalu riang, dan terlihat santai dalam menjalankan segala sesuatu yang mesti ia jalankan. Namun tidak pernah sekalipun ia tidak serius dan bersungguh-sungguh dalam menjalankannya. The Complicated Princess. Pacar Rock and Roll nya. Anindya.

****

Irish menarik napas panjang, mengacak-acak rambut bagian belakangnya dan tersenyum satir pada gadis disampingnya, Anind.
“Jadi seminggu lagi seminggu lagi kepalamu ini akan benar-benar botak?”, Anind berusaha menahan tawanya, hanya dengan senyuman.
“Berarti kamu sebentar lagi akan jadi seperti tuyul. Botak…hahaha”, kali ini ia tidak mampu lagi menahan derai tawanya. Ia tertawa. Memang. Ia tertawa untuk menahan air matanya agar tidak jatuh saat harus membayangkan laki-laki yang masih begitu ia sayangi akan menghadapi tahapan lebih lanjut, bertarung dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya yang semakin kurus. Bertarung melawan maut. Mungkin tidak lama lagi. Ia tidak akan menangis, tidak. Tidak untuk saat ini. Laki-laki itu tidak boleh melihat lelehan air matanya. Ia tidak boleh melihat lelehan air mata dari Pacar Rock and Roll nya yang tidak pernah menangis di 12 kali kecelakaan yang pernah ia alami.

****

Aku tahu sejak dulu Irish bukanlah tipe orang mengingkari apa yang pernah diucapkannya. Ia tidak pernah sedikitpun bermain-main dengan janji yang pernah ia ucapkan. Ia terlalu memegang teguh kata-katanya tentang Janji adalah janji yang harus ditepati. Sejak dulu, sejak kami masih menjadi sepasang kekasih. Ia berjanji padaku untuk menuruti kemauanku sebagai syarat perpisahan dengannya. Kami berteman dan sebagai teman aku memintanya untuk memperbolehkanku menemaninya diruang perawatan hingga tiba waktunya untuk ia menjalani kemotherapi tahap selanjutnya.
Dan disinilah aku kini. Di dalam sebuah ruangan bercat putih, dengan ranjang berwarna hijau telur asin dan bantal putih sebagai penyangga kepala. Irish masih tertidur saat aku tiba, diruangan ini ia ditemani Ibu serta kakak perempuannya yang begitu aku datang segera pamit pulang, ia-kakak perempuan Irish- sudah 2 hari 2 malam menunggui Irish di ruangan ini. Irish terbangun dari tidurnya tak berapa lama setelah Ibu nya pamit untuk membeli minuman dan makanan kecil, aku memang tak sempat membelinya karena terlalu tergesa-gesa menuju tempat ini dari kampus.
“Anind…”, aku tersenyum semanis mungkin saat mendengar suara lirihnya memanggil namaku. Ia balas tersenyum padaku. Perlahan namun pasti aku bisa merasakan nyeri yang teramat sangat menyembul keluar begitu saja dari bagian-bagian terkecil hatiku, merambat dan terus menjalari seluruh tubuh. Sakit rasanya saat melihat ia terbaring tak berdaya di atas ranjang dengan kepala yang sudah benar-benar licin seperti sekarang ini. Wajahnya semakin pucat, tubuh karateka nya semakin kurus.
Aku menangis dalam diam. Dalam hati. Karena ia tidak boleh melihatku meneteskan air mata, menangis tidak akan membuatnya merasa lebih baik dari sekarang, mungkin sebaliknya. “Hei, kamu mau apa?. Mau makan?, mau minum?, mau pipis?,mau pup?, atau mau pulang?. Yuk kita pulang, mumpung dokternya nggak ada…hihihi”, aku tidak yakin apa guyonan semacam ini bisa sedikit mengurangi rasa sakit yang aku yakin semakin hari semakin bertambah, dan menjalari setiap senti tubuhnya, tapi aku tak peduli dan tetap mencobanya. Irish tertawa kecil dan menjadikan wajahnya lebih cerah,
“Ingat ya, kamu belum jadi dokter, mana bisa seenaknya memperbolehkan pasien pulang”.
“Hahaha…oiya, aku kan masih semester 2. Terus berapa lama lagi ya?, 4 tahun?, 5 tahun?, emmmm…kalau ditambah spesialisasi 2 tahun jadi berapa?. Waduhhh…masih lama banget ternyata”, aku berusaha untuk terlihat berpikir tentang pertanyaan yang kulontarkan sendiri. Aku melihat senyum di wajah Irish saat aku mencuri-curi pandang ketika berusaha untuk terlihat tengah berpikir tentang pertanyaanku.
“Aku akan di kemo sekali lagi minggu depan. Maaf ya aku jadi terlalu merepotkanmu”, ucap Irish dengan suaranya yang terdengar semakin lirih, tapi aku tau ia bersungguh-sungguh akan ucapannya tadi.
“Aku nggak repot kok, suer”, aku berusaha meyakinkannya dengan gerakan tangan mengangkat sejajar dengan bahu dan dua jariku membentuk huruf V.
“Sudah 3 minggu kamu selalu menyempatkan diri menjengukku. Sejak kamu masih luka-luka seusai kecelakaan keduabelasmu sampai kini, saat luka-lukamu sudah mengering dan hilang dari permukaan kulitmu”. Aku tidak mampu berkata apa-apa lagi. Isi kepalaku seolah mendadak menguap entah kemana. Tidak ada satu kata pun yang kurasa tepat untuk menggambarkan perasaanku saat Irish berkata demikian. Lama aku memikirkan apa yang akan kukatakan padanya. Namun aku sadar nampaknya aku sudah terlalu jauh terseret suasana muram ini. “Aku nggak pernah merasa direpotkan oleh teman baikku. Mungkin sekarang statusnya sudah meningkat. Sahabat?”,sekali lagi aku berusaha mengeluarkan senyuman terbaik yang aku miliki. Irish tersenyum. Jelas ia tidak sedikitpun menolak perkataanku tadi.

****

“Kamu kenapa nangis?”, laki-laki berwajah pucat yang masih terbaring diatas ranjang berwarna hijau telur asin itu berusaha mengangkat tangan kanannya dan menggapai wajah gadis yang dengan setia menemaninya sampai saat ini. Saat yang dirasakannya sebagai saat penghabisan. Begitu ingin rasanya ia menghapus butiran air mata yang meleleh di pipi gadis itu.
“Aku nggak nangis, cuma kelilipan”, jemari Irish belum sempat menghapus lelehan air mata itu saat si gadis telah lebih dulu menghapusnya dengan punggung tangan kanannya.
Irish tersenyum tipis. Tatapannya yang kuyu semakin membuat gadis itu tak kuasa menahan air mata yang masih saja meleleh di pipinya.
“Anind, aku pergi dulu ya. Kamu jaga diri baik-baik. Jangan bandel seperti biasa. Hati-hati kalau mengendarai motor”. Gadis itu tidak bisa menahannya lagi, ia membiarkan butiran-butiran air mata itu luruh dari kedua pelupuk matanya seperti hujan saat sore sebelum kecelakaan keduabelas yang ia alami dulu.
“Pergi…pergi…kamu mau kemana sih?. Jangan ngomong begitu, kamu ini pesimis banget sih”, kali ini nada suara gadis yang biasanya riang itu telah bercampur dengan emosi yang tidak bisa tidak dikeluarkannya.
“Aku bukan pesimis, tapi realistis”, suaranya tenang semakin membuat hati gadis itu tercabik-cabik.
“Kaa…Kammu…bahkan belum lihat aku diwisuda dan jadi dokter”, ujarnya disela isak tangis yang semakin tak tertahankan. “Aku pasti datang”, ia tesenyum. Senyumnya yang terakhir sebelum petugas Rumah Sakit memohon agar si pasien ditinggalkan sendiri untuk persiapan perpindahan pasien ke ruangan khusus kemotherapi.

****

Hari ini aku kembali melihat senyumannya. Bukan di lapangan Futsal, bukan pula di Rumah Sakit atau tempat-tempat yang sering kami kunjungi dulu. Aku melihatnya diantara para orangtua, wali murid, kerabat, teman, atau mungkin aku lebih senang menyebutnya para tamu wisuda. Aku bisa melihat Irish tersenyum padaku, ia berdiri dibagian belakang dan menatapku yang tengah menerima peresmian sebagai sarjana kedokteran.
Ia tidak lagi berkepala licin, rambutnya telah kembali seperti sediakala, tebal berwarna coklat kehitaman. Wajahnya tampan di bingkai senyum sempurna yang semakin menegaskan darah campuran yang mengalir dalam dirinya. Aku tau ia pasti bangga atas pencapaianku. Aku tau ia bangga karena Pacar Rock and Roll nya ini mampu menyelesaikan kuliah kedokterannya dengan IP memuaskan. Dan….
Dan…aku tau saat ia berbalik, melangkah dan semakin menjauh sebelum kembali menolehkan kepalanya untuk tersenyum padaku. Itu adalah senyuman terakhirnya.

*******

LETTER FOR GOD

Tuhan….

Lihat aku disini Tuhan…

Berdiri dan sendiri dalam ruang sepi tanpa tepi…

Tuhan…

Pandang aku disini Tuhan…

Lihat hati ini Tuhan, hati dengan nama-Mu di setiap merahnya…

Tuhan…

Tatap aku disini Tuhan…

Lihat aku yang menengadahkan tangan dan bicara pada-Mu…

Tuhan…

Aku meminta pada-Mu dalam sepi ini, dalam sunyi ini, dalam sendiri ini Tuhan…

Tuhan…

Dengar aku disini Tuhan…

Dengar aku yang bermunajat pada-Mu atas semua yang terjadi…

Tuhan…

Tolong pegang tanganku saat aku terjatuh dan terlalu sulit untuk bangkit…

Tuhan…

Tolong bungkam mulutku saat ia hendak mengatakan sesuatu yang menyakitkan bagi orang lain…

Tuhan…

Aku ingin mengadu pada-Mu Tuhan, seperti yang sudah sudah kulakukan…

Tuhan…

Kau memberikanku satu hati Tuhan…

Tapi hati itu sudah terlanjur mati saat luka demi luka perlahan menyayatnya terlalu dalam, hingga mati rasa, lalu mati, dalam arti kata sebenarnya…

Tuhan…

Aku sakit, apa Kau dengar rintihanku?

Aku terluka, aku berdarah, aku terhina…

Tuhan…

Aku ingin bertemu dengan-Mu, bercerita dan bersandar di sisi-Mu yang kutahu tak mungkin terjadi saat ini…

Tuhan…

Aku tahu, aku hanya manusia biasa, penuh dosa, penuh salah, penuh hina…

Tapi izinkanku Tuhan, untuk meminta pada-Mu, walau kurasa kadang aku tak pantas untuk mengharap banyak…

Tuhan…

Aku memohon pada-Mu….

Aku memohon pada-Mu disaat waktu terasa makin beranjak dari sisiku…

Tuhan…

Aku memohon pada-Mu…

Aku mohon jagalah mereka yang kusayangi, limpahkan nikmat-Mu yang tak terkira pada mereka dan cintailah mereka yang membenciku, mencaciku, menghinaku sebagaimana Kau mencintai hamba-Mu yang paling patuh….

Tuhan aku tahu Kau Satu, aku tahu Kau selalu bersamaku dan semua hamba-Mu…

Selalu melihat…

Selalu membimbing…

Selalu mendengar…

Tuhan…

Jika aku sendiri, selalu temani aku Tuhan…

Genggam tanganku, bimbing langkahku, ingatkan aku….

Tuhan…

Kau Satu, Kau Rindu, Kau Ada…

Untukku dan semua hamba-Mu…