Cerita Tentang si Seniman dan Seorang Teman

Dia selalu menarik di mata saya. Ada hal berbeda dari pancaran auranya. Mungkin terdengar aneh, tapi memang itu yang saya rasa. Entah kenapa saya selalu merasa jiwanya telah lama mengembara dan kebetulan saja (jika bisa disebut kebetulan) saat ini sedang mampir ke Bumi dalam wujudnya yang sekarang. Mungkin saya berlebihan, mungkin juga tidak, kalau kamu mengenalnya seperti saya mengenal dia. Ya, dia, kenalkan, teman saya, Nastiti Dewanti.

P1040339Saat saya menuliskan ini dan mungkin ia akan membacanya, mungkin dia tidak sedang berada disekitar saya. Saya yakin benar bahwa ia masih berada di satu daerah terpencil sana dan sedang melaksanakan rangkaian tugas mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif (MPE) dari program studi Antropologi. Saya dapat membayangkannya mengenakan bucket hat, kaus oblong atau kemeja lapangan dan mungkin celana lapangan. Berjalan-jalan keluar masuk rumah nelayan di pesisir pantai dan sibuk mewawancari mereka satu persatu guna mencari data penelitian, atau mungkin saja ia sedang berjalan menyusuri hutan bakau, atau mungkin juga sedang berada di “ruang kerja” dadakannya yang menghadap langsung ke hutan bakau yang rindang.

Lalu wajahnya. Saya selalu dapat membayangkan wajahnya itu. Wajah yang kadang membuat saya segan setengah mati entah karena apa. Wajah yang menurut saya seperti menyimpan banyak misteri padahal saya sudah mengenalkan dua tahun lebih dan kini berteman baik dengannya. Terdengar aneh memang, tapi itulah kenyataannya. Sulit untuk menjelaskan dengan kata-kata karena kamu mungkin harus mengenalnya lebih dulu baru dapat memahami apa yang saya bicarakan. Tapi, mari singkirkan semua tentang sisi “misteriusnya” yang selalu saya rasakan, lalu biarkan saya bercerita tentang banyak hal lain yang menarik tentangnya. Dan semua cerita bermula pada sore itu.

_MG_0999Sebelum senja kami berdua sudah duduk di kursi yang berada di halaman belakang rumahnya. Ditemani segelas kopi susu hangat untuk saya dan kopi hitam kegemarannya. Berdua hari itu kami banyak bertukar cerita, tentang kegiatan yang kami lakukan bersama beberapa bulan belakangan ini, tentang kegiatan perkuliahan yang sama-sama sedang kami jalani, tentang cerita selingan tentang beberapa teman, dan terutama, tentang dia, tentang seorang Nastiti Dewanti.

Bukan tanpa sebab saya katakan tentang dia adalah yang utama. Agenda saya hari itu memang mewawancarainya untuk kepentingan salah satu tulisan eksperimental saya. Sebenarnya dari jauh-jauh waktu saya sudah menduga akan ada banyak hal menarik yang akan saya dapatkan dari rangkaian pertanyaan saya untuk, tapi saya masih saja terpukau dengan cerita-cerita yang terucap dari bibirnya. Bagi saya semua yang ia ceritakan tentang aktivitasnya sangat mengesankan, terutama untuk segala pencapaiannya di usia yang masih sangat muda. Cerita-cerita darinya sekaligus mengamini semua candaan yang kerap terlontar dari saya bahwa ia adalah “Si Seniman Totok”.

Berbincang dengan saya, Titis memutar kembali ingatannya pada waktu-waktu lalu, saat ia pertama kali terjun ke dunia seni. Menurut ceritanya, kala itu ia masih remaja usia belasan yang dilarang kedua orangtuanya untuk memasuki salah satu institusi pendidikan tinggi ternama di bidang seni di Jakarta. Alasannya cukup memusingkan, orangtuanya ingin agar Titis dapat terlebih dahulu membuktikan bahwa ia benar-benar bisa ”hidup” dan menghasilkan karya di dunia seni, padahal Titis sudah kadung jatuh cinta dengan segala dunia seni terutama seni rupa. Enggan menggantungkan harapannya untuk dapat memperdalam ilmu di institut kesenian impian, Titis mencari cara pembuktian kepada kedua orangtuanya. Video Art kemudian ia pilih sebagai senjata perlawanannya karena alasan yang cukup sederhana, ia perlu media seni yang dianggapnya instan namun dapat membawanya mengikuti sebuah pameran seni.

_MG_0996Bekerjasama dengan teman-teman SMA-nya, Titis membuat sebuah Video Art bertajuk “Jakarta Kata Gue, Mubazir” yang kemudian ia ikutkan dalam Video Art Competiton Jakarta Biennale Exhibition 2012. Tidak dinyana, karya Video Art Titis menyabet gelar juara sekaligus mengantarkannya sebagai pemenang dan peserta termuda dalam Jakarta Biennale Art Exhibition 2012. Kegilaan seninya pun tidak berhenti sampai disana, bakat Titis dalam merangkai kata dalam bentuk sajak terendus sastrawan Nirwan Dewanto yang aktif di Komunitas Salihara dan mengundang Titis secara khusus dalam Lokakarya Seniman Membaca Sastra yang digagas Komunitas Salihara. Mengulang kasus kemenangannya di Jakarta Biennale Exhibition 2012, Titis kembali menyabet gelar sebagai Best Reader termuda dalam Lokakarya dan dikirim sebagai perwakilan pembaca sajak di International Literary Biennale Salihara 2012. Di ajang bergengsi itu, Titis sekali lagi membuktikan kepiawaiannya dalam membaca sajak dengan membawa pulang predikat Best Reader.

Belum cukup dalam seni Video Art dan Sastra, Titis turut merambah lingkup seni rupa lainnya, yakni gambar ilustrasi dan kerajinan tangan. Gambar-gambar yang awalnya ia ciptakan sebagai intepretasi visual dari sajak-sajak yang ditulisnya kemudian membawa Titis mengikuti sebuah pameran kolektif tentang Drawing Art bertajuk “Lunch Time” pada tahun 2013. Setelahnya ia kembali mengikuti pameran seni rupa yang diselenggarakan oleh Ruang Rupa Jakarta di tahun 2014, namun kali ini memilih seni rupa Object Art, dan ditahun selanjutnya ia beralih pada seni kerajinan tangan pada pameran bersama perupa-perupa perempuan dalam pameran seni “Buka Warung”.

_MG_0995Dengan segala pencapaiannya di bidang seni , mungkin kamu mengira Titis telah resmi menjadi salah satu dari mahasiswa seni? Sayangnya tidak. Meski sempat mendapat tawaran beasiswa separuh biaya kuliah di Institut Kesenian Jakarta, Titis akhirnya lebih memilih untuk menjadi mahasiswa program studi Antropologi di Universitas Indonesia. Pilihan ini diambilnya berdasarkan saran beberapa orang yang sempat menjadi juri penentu kemenangannya di Jakarta Biennale Art Exhibition yang menilai bahwa karya Video Art Titis sangat dekat dengan nuansa serta nilai-nilai Antropologis. Pilihannya sebagai mahasiswa Antropologi ini pula yang membuat saya mengenalnya dengan baik. Dia senior saya. Satu tahun diatas saya. Sekali waktu menjadi satu kelompok penelitian kecil-kecilan dan banyak waktu lainnya menjadi teman berbincang yang menyenangkan.

Saya kemudian mencoba mengingat-ingat lagi tentang apa-apa saja kenangan saya bersama Titis. Salah satu yang paling berkesan rasanya adalah saat “jalan-jalan berkedok penelitian”-nya mahasiswa Antropologi, ke desa Cigugur, Kuningan, Jawab Barat. “Jalan-jalan berkedok penelitian” itu kira-kira berlangsung setahun lalu, kami berdua ditempatkan satu kelompok di satu rumah tinggal yang sama. Selama lima hari empat malam saya tinggal serumah bersama Titis, saya jadi tahu banyak kebiasaannya, termasuk kebiasaan uniknya yang seperti orang mengunyah saat tidur. Di rumah Induk Semang, Titis seperti anak kesayangan, Kakak Tertua yang penurut dan ringan tangan membantu pekerjaan sementara saya adalah adik bandel yang impulsif dan kadang suka sekehendak hati saja. Jadi ya tidak heran kalau Titis kadang memarahi saya karena kelakuan saya yang (kadang) ajaib. Untungnya, dia masih mau duduk berdua dan berbincang diberanda depan rumah sembari menikmati teh manis hangat serta aneka gorengan saat pagi.

Coba tengok blog Titis di nastitidewanti.blogspot.com

Cerita Cinta Lagi, Lagi-lagi Cerita Cinta

Saya ingin memuat ulang tulisan ini, sebuah tulisan yang sebelumnya saya buat untuk majalah milik mahasiswa Antropologi FISIP UI. Tulisan ini tentang cerita cinta, tapi ceritanya lain dari biasa, karena penulisnya sok menginisiasi konsep-konsep antropologis di dalamnya. Maklum, namanya juga mahasiswa yang masih kena euforia ilmu yang dipelajarinya. Semoga tulisan ini tidak terlalu ngawur dan masih bisa dinikmati bersama secangkir kopi pagi.

Cerita Cinta Lagi, Lagi-lagi Cerita Cinta*
Siapa yang bosan membahas tentang cinta? Saya ingin tahu berapa banyak orang yang muak membicarakan problematika hati dan rasa. Mungkin ada, dan tidak sedikit yang sudah jengah membicarakan tentang cinta termasuk juga membaca cerita cinta. Tapi, saya masih yakin benar kalau cinta tetap jadi salah satu formula paling ampuh untuk membangkitkan gairah bercerita. Jadi mari sekali lagi, membicarakan tentang cinta. Mari sekali lagi mengikuti arus global yang isinya jadi cinta yang berbunga-bunga menjelang Valentine’s Day. Ya, tidak ada salahnya sesekali terhanyut pada kisah-kisah roman yang mengagungkan cinta. Kan, katanya cinta tidak pernah salah, ya kan?

Cerita Cinta

Ada yang bilang kalau sebuah cerita akan tidak terlalu menarik untuk disimak jika tidak menyisipkan kisah cinta. Meski sekelebat, meski sekelumit, meski separagraf, bumbu-bumbu percintaan sebaiknya disisipkan agar lebih terasa manis. Cinta kadang juga dibubuhkan untuk meringankan muatan sebenarnya yang berat. Misalnya saja, apa yang sebenarnya disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia? Apakah hanya percintaan Minke dan Annelies? Tentu saja tidak! Pram membicarakan begitu banyak hal, tentang kolonialisme, tentang struktur sosial pada masa kolonial, tentang paradigma masyarakat di masa kolonial dan masih banyak lagi yang akan terasa jadi perenungan yang berat jika saja tidak dihadirkan dalam balutan roman serta alur cerita yang mengalir nikmat.

Memandang ke belakang, jauh sebelum Pram muncul dengan Tetralogi Bumi Manusianya, penggunaan kisah percintaan untuk menyampaikan ragam pesan moril atau isu lainnya jamak kita jumpai dalam cerita rakyat. Sebagaimana hakikat fungsi foklor seperti yang dimaktubkan James Danandjaja, cerita rakyat yang jadi bagian dari folklor memiliki kegunaan sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam. Maka tidak heran bila cerita rakyat yang biasa kamu baca, yang sekilas mungkin berkisah tentang lika-liku kisah cinta dua insan turut disesaki pesan-pesan tersirat di dalamnya.

Ambil perumpamaan cerita rakyat masyarakat Bali tentang Jayaprana dan Layon Sari. Cerita ini bertutur tentang seorang pemuda bernama Jayaprana, ia adalah putra angkat dari seorang raja yang pernah memerintah Raja Buleleng. Alkisah, Jayaprana menikah dengan seorang gadis cantik jelita yang jadi pilihannya, gadis itu bernama Layon Sari. Pernikahan keduanya memang mendapat restu dari sang Raja Buleleng, akan tetapi sialnya sang Raja malahan tergila-gila pula dengan kecantikan Layon Sari dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Layon Sari sebagai istrinya, termasuk membunuh Jayaprana. Rencana diatur, siasat disusun, Jayaprana diberikan tugas fiktif untuk berkunjung ke Celuk Terima. Meski firasat sudah melekat erat dalam pikirannya, Jayaprana membiarkan diri untuk digiring menuju kematian, semua atas nama kepatuhan pada sang Raja Buleleng, ayah angkatnya. Setelah kematian Jayaprana, Raja Buleleng pada akhirnya tidak berhasil pula memperistri Layon Sari karena Layon Sari memutuskan untuk bunuh diri menyusul suaminya yang lebih dulu mati.

Cerita Jayaprana dan Layon Sari yang awalnya tersebar dalam bentuk balada (ballad) atau syair yang diukir di atas daun lontar kering ini sesungguhnya memperlihatkan banyak sisi menarik selain kisah cinta itu sendiri. Jika kamu dapat menemukan versi lebih lengkap dan rinci mengenai cerita ini, gambaran kehidupan sosial budaya masyarakat Bali dapat terlihat disamping pesan lainnya yang ingin disampaikan tentang tentang kepatuhan, pengorbanan, kesetiaan, dan moralitas. Intinya sama, cerita cinta tidak hanya hadir sebagai cerita cinta semata tapi sebagai alat untuk menyampaikan hal-hal lainnya. Hal yang sebagian masih berkaitan seputar cinta dan sebagian lainnya mungkin bertolak belakang atau bahkan tak ada kaitannya.

Dari Antropologi Dengan Penuh Cinta

Jika yang jadi pertanyaan besar selanjutnya adalah dimana letak sisi antropologinya dari semua cerita-cerita cinta yang ada? Jawabannya tentu saja ada! Seperti yang telah saya uraikan sebelumnya, cerita-cerita cinta yang sarat akan muatan isu-isu lain yang bukan romansa kerap menyinggung permasalahan sosial budaya tempat yang jadi latar belakang cerita. Entah tentang bagaimana struktur sosial dalam masyarakat, sistem kepercayaan setempat, adat istiadat, dinamika kebudayaan yang ada, dan masalah-masalah sosial lainnya yang mengarah pada isu-isu antropologis. Tidak hanya itu saja, dalam hal persebaran dan pola-pola yang ada pada cerita cinta, terutama cerita cinta pada cerita rakyat, juga bisa lihat dari kacamata antropologi.

Mencoba untuk sedikit iseng mengaitkan pendekatan antropologi dengan cerita rakyat bermuatan cinta di Indonesia, rasanya pendekatan strukturalisme milik Lévi-Strauss merupakan salah satu yang bisa diambil sebagai pisau analisis kecil-kecilan. Secara sederhana strukturalisme merupakan pendekatan yang menekankan kepada analisis struktural suatu kebudayaan. Berhubung cerita rakyat adalah bagian dari folklor dan folklor tidak lain merupakan sebagian dari kebudayaan kolektif, maka kita dapat melihat adanya struktur kebudayaan dalam cerita rakyat. Saya coba ambil contoh sederhana yakni cerita Legenda Gunung Tangkuban Perahu yang memiliki struktur atau pola cerita yang sama dengan cerita Oedipus dari Yunani. Keduanya sama-sama bercerita tentang anak laki-laki yang jatuh cinta pada Ibunya sendiri. Cerita cinta, bukan? Meski cinta yang terlarang. Ada pesan-pesan yang ingin disampaikan, bukan? Tentang moralitas, tentang kehidupan sosial yang jadi latar belakang dan lain sebagainya.

Pendekatan strukturalisme selanjutnya bisa kita jumpai pada cerita-cerita lainnya. Coba perhatikan struktur atau pola-pola cerita cinta yang kamu ketahui, pasti kamu akan banyak menemukan kesamaan. Cinta yang ditentang orangtua karena status sosial yang berbeda, cinta yang tidak bisa bersatu dan berakhir tragis, cinta yang sempurna, cinta yang berbeda alam dan cinta-cinta lainnya. Benang merahnya mungkin sama saja antara cerita cinta yang ini dan yang itu, hanya masalah pengemasannya saja yang berbeda.

Menutup tulisan ini, yang digagas sebagai etnomini, (padahal saya pun masih tidak yakin apakah ini sudah cukup mewakili etnomini seperti yang dibayangkan), saya ingin bertanya lagi, apakah kamu sudah bosan dengan cerita cinta? Kalau kamu sudah bosan, mungkin kamu bisa coba cara menarik lain untuk menikmati cerita cinta yang ada. Caranya adalah dengan menggunakan kacamata antropologi untuk melihat keseluruhan cerita cinta yang ada. Siapa tahu ternyata “muatan-muatan” lain didalamnya ternyata justru lebih menarik untuk disimak dan direnungkan dalam-dalam. Juga mencoba iseng mengait-kaitkan pendekatan antropologi dengan cerita cinta yang kamu baca, siapa tahu kamu menemukan pendekatan yang sebenarnya bisa dijadikan pisau analisis terkait dengan cerita cinta tersebut. Siapa tahu?

*Dimuat dalam Antropos edisi Februari 2015, Antropologi (Bicara) Cinta.
http://issuu.com/antroposheman/docs/antropos_03complete

Sutardji, Idul Fitri dan Kelahiran Kembali

Sejak malam takbiran saya bacai satu sajak Sutardji lamat-lamat. Mencoba memahami arti kata, jangan sampai terlewat satu biji, karena seperti yang sudah-sudah, Sutardji sering terlalu sulit untuk dimengerti. Tapi kali ini rasanya saya dapat sedikit lebih lega, karena sajaknya yang ini lebih bisa dinikmati. Oh, bukan saja dinikmati, juga lebih mudah dimamah dengan tidak perlahan. Kesimpulannya, saya suka sajak Sutardji yang ini, atau lebih tepatnya, sangat suka.

Judulnya “Idul Fitri”. Sajak ini saya temukan dalam sebuah buku catatan usang yang telah lama disusun Ibu untuk anak-anaknya, termasuk saya, tapi saya tidak akan menceritakan tentang buku itu sekarang karena ada hal lain yang lebih menarik hati. Lalu, kembali ke Sutardji dan Idul Fitri-nya, saya dipaksa gelisah saat membaca. Karena lariknya yang lebih sederhana dari sajak-sajak Sutardji yang lain justru terasa menyayat hati dengan caranya sendiri. Saya akui, saya bukan penikmat sastra sejati, apalagi pemerhati fasih. Disebut amatiran saja sudah bagus karena mungkin dalam strata, saya bisa diposisikan dibawahnya lagi, jadi mohon dimaafkan bila ada salah-salah tafsir atau kata. Tapi, bolehlah saya bawa tafsiran sendiri tentang sajaknya ini, sesuai dengan kondisi yang dialami, tentu saja. Selain itu, secara singkat tentunya, karena saya pun setengah ragu dan setengah malas untuk menuliskan seluruh tafsiran. Separuh takut tulisan jadi kelewat panjang, separuh khawatir isi kepala terlalu sok tahu, dan sisanya ya, karena memang sedang tidak ingin menulis panjang-panjang. Setidaknya tidak untuk saat ini.

Dalam “Idul Fitri” saya melihat Sutardji sedang melsayakan perjalanan pribadi, semacam retrospeksi. Ia datang ke masa lalu, mengingat semua “dosa-dosa” nya lalu kembali ke masa kini. Menumpahkan segala penyesalannya lalu mengungkap cara “penebusan dosa” yang coba ia lakukan. Tujuannya, agar ia dapat terlahir kembali di Hari Suci, meskipun dalam lariknya ia terasa ragu sendiri. Lalu mempersingkat ratusan kata yang bisa saja muntah bila diteruskan, satu pertanyaan akan dikemukakan? Lantas, apa yang sama dengan keadaan saya? Dua kata. Kelahiran kembali. Bedanya saya dapat menambahkannya dengan kata “ingin” di depannya.

Saya ingin lahir kembali. Dalam rangkaian kata dan dalam laman maya ini terutama. Rasanya sudah terlalu lama laman ini ditinggalkan begitu saja. Jadi saya rasa, Idul Fitri tepatkan saja sebagai momentumnya. Tapi jangan terkejut bila nanti kamu yang kadang suka terjebak mampir ke laman ini menemukan banyak cerita yang berbeda dari biasa. Itu wajar. Dalam hidup saya yang terasa berlalu begitu cepat ada banyak peristiwa yang belum sempat diceritakan dan mungkin akan diceritakan kemudian di laman ini. Yang jelas, saya tahu ada banyak hal yang sudah berbeda, dan saya separuh ingin kamu tahu itu, sementara separuhnya lagi biarlah bebas tanpa keinginan.

 

 
IDUL FITRI

Lihat
Pedang tobat ini menebas-nebas hati
dari masa lampau yang lalai dan sia-sia
Telah kulaksanakan puasa ramdhanku,
telah kutegakkan shalat malam
telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang
Telah kuhamparkan sajadah
Yang tak hanya nunu Ka’bah
tapi ikhlas mencapai hati dan darah
Dan di malam-malam Lailatul Qadar sayapun menunggu
Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

Maka saya girang-girangkan hatiku
Saya bilang: Tardji rindu yang kau wudhukan setiap malam Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang Namun si
bandel Tardji ini sekali merindu Takkan pernah melupa Takkan kulupa janjiNya Bagi yang merindu insya-Allah kan
ada mustajab Cinta

Maka walau tak jumpa denganNya
Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwsaya ini
Semakin mendekatkan saya padaNya
Dan semakin dekat
semakin terasa kesiasiaan pada usia lama yang lalai
berlupa

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini
ngebut di jalan lurus Jangan kau depakkan lagi saya ke trotoir tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia
Kau biarkan saya menenggak marak cahayaMu di ujung usia

O usia lalai yang berkepanjangan
yang menyebabkan saya kini ngebut di jalan lurus Tuhan jangan Kau depakkan lagi saya di trotoir tempat dulu saya
menenggak arak di warung dunia

Maka pagi ini
Kukenakan zirah la ilaha illallah saya pakai sepatu siratal mustaqiem sayapun lurus menuju lapangan tempat shlat ied
Saya bawa masjid dalam diriku Kuhamparkan di lapangan Kutegakkan shalat dan kurayakan kelahiran kembali di sana

-Sutardji Calzoum Bachri-

Dibalik Pelepasan Baju Zirah Sang Ksatria (?)

Rasanya sudah lama sekali saya absen menarikan jemari di atas keyboard, merangkai kata, dan akhirnya menghasilkan tulisan untuk blog ini. Melihat dari posting terakhir yang saya buat, sudah setahun saya absen. Keinginan untuk kembali mengisi laman baru blog saya ini sebenarnya sudah lama membuncah, tapi selalu saja ada alasan untuk menunda dan terus menundanya. Tapi, malam ini saya begitu sulit memejamkan mata. Pikiran terus sibuk dan ribut meminta untuk dituangkan dalam tulisan. Bukan tanpa sebab, ada hal yang membuat saya gatal untuk menulis lagi. Sebuah akun di instagram bernama @nyinyirfashion

Gambar BlogKemarin sore (12/11) mendung sedang memayungi langit saat sebuah panggilan masuk ke handphone saya dari seorang teman. Dia memberitahu saya tentang sebuah kabar pengunduran diri dari seorang desainer yang selama ini digelari “Ksatria” oleh majalah mode Dewi dan hampir selalu terlibat di peragaan busana pamungkas Jakarta Fashion Week, Dewi Fashion Knight. Dia memberitahu saya seraya ingin pula mengkonfirmasi dan bertanya. Tapi apa lacur, jangankan menjawab pertanyaan, mengkonfirmasi saja saya tidak bisa karena jangankan mengetahui detil, tahu bahwa si desainer mengundurkan diri saja baru darinya.

Memang bukan tanpa alasan teman saya ini langsung menghubungi saya. Saya memang salah satu orang yang mengikuti karya si desainer sejak dulu, dan sejujurnya sangat mengaguminya. Kabar ini juga membuat saya kaget terutama bingung. Karena begitu mendadak dengan pernyataan yang ternyata amat singkat, padat, jelas dari desainer itu via website majalah Dewi dan karena peragaan busana Dewi Fashion Knight 2014 sudah hampir sepekan berlalu. Bagaimana atau seperti apa yang dimaksud dengan pengunduran diri? Sejujurnya saya kurang mengerti.

Sepanjang sisa hari dikepala saya muncul pertanyaan-pertanyaan terkait berita terhangat itu. Pikiran saya sibuk mengaduk-aduk ingatan yang akhirnya sampai pada beberapa posting yang sempat saya lihat di akun sosial media instagram bernama @nyinyirfashion. Di akun itu ada beberapa foto perbandingan koleksi desainer yang mengundurkan diri dari Dewi Fashion Knight 2014 dan koleksi dari desainer lain yang dinilai serupa. Dengan cepat saya menelusuri postingan-postingan itu lagi. Saya terhenyak. Foto-foto desainer itu memang paling banyak mendapatkan komentar pedas entah level berapa dan dituding sana-sini. Saya lantas menghembuskan nafas, sedikit resah, entah kenapa. Awalnya saya mencoba mengalihkan pikiran karena ada beberapa hal lain yang harus saya kerjakan saat itu, tapi sebuah kegelisahan semakin menjalar hebat, minta untuk dituliskan.

Tudingan akan desainer-desainer mode Indonesia yang menyontek, menjiplak, memplagiat atau apapun itu namanya bukan hal baru di dunia fesyen. Jauh sebelum peristiwa ini dan mulai melesatnya popularitas akun @nyinyirfashion terutama dikalangan penggelut, pecinta, dan pemerhati fesyen Indonesia, kasus ini sudah cukup banyak dibicarakan. Legenda pengamat mode Indonesia (Alm) Muara Bagdja di tahun 2007 silam bahkan sudah pernah menyinggung hal ini dalam tulisannya di majalah A+ yang bertajuk “Ada Apa di Belakang Panggung?”. Meski isi tulisan tersebut tidak mengupas indikasi peniruan secara tuntas, tetapi beliau memberikan porsi cukup banyak terhadapnya.

“Karena ide bisa dari mana saja, juga sah saja dari karya perancang lain. Paling banyak berasal dari perancang ternama dunia yang sedang menjadi tren diubah sana-sini, lalu dijadikan koleksi baru. Bilangnya adaptasi, interpretasi, inspirasi. Padahal itu kata halus untuk menyebut tiruan. Malah kata bisik-bisik, ada perancang senior- sekali lagi senior- yang senangnya membeli baju buatan perancang dunia, lalu baju itu dibuka jahitannya untuk melihat polanya hingga mudah ditiru.”

“Dengan gaya ‘ide dari mana saja’ itu, banyak peragaan meninggalkan kesan seperti koleksi bernapas “wanna be”, mirip dengan koleksi yang kita lihat di laporan peragaan di majalah atau Fashion TV. Jelas mirip karena perancang pun mencari ilham dari sumber yang sama dengan pecinta mode.”

-Muara Bagdja, 2007-

Gambar Blog 1Melalui penuturan (Alm) Muara Bagdja tujuh tahun silam itu, bisa disimpulkan sendiri bahwa hal ini bukan masalah asing yang tiba-tiba berhembus kencang di dunia fesyen Indonesia. Praduga-praduga meniru sudah ada sejak dulu. Akan tetapi, beberapa waktu belakangan dengan eksistensi akun @nyinyirfashion hal ini semakin jadi buah bibir yang tak terhindarkan. Jika dimasa lalu hanya akan ada segelintir orang yang benar-benar melek dan mengikuti perkembangan mode yang dapat menilai indikasi-indikasi peniruan atau mengetahui terjadinya peniruan pada rancangan seorang desainer, sekarang semua orang bisa melakukan penilaian. Caranya toh mudah saja, hanya perlu jadi pengikut akun @nyinyirfashion dan secara otomatis akan disuguhi hidangan foto siap saji yang memperlihatkan kemiripan-kemiripan yang bisa memicu timbulnya komentar super pedas.

Saya pribadi termasuk orang yang mendapatkan sajian foto perbandingan tersebut karena menjadi salah satu pengikutnya. Awalnya hanya untuk iseng dan sekadar ingin tahu, tapi semakin hari dinamika yang terjadi di akun ini ternyata bisa sampai ditahap semenarik sekarang. Dimana akun ini saya duga sebagai salah satu penyebab keputusan yang diambil desainer yang juga salah satu Ksatria Mode Indonesia untuk melepaskan baju zirahnya entah untuk berapa lama. Desainer yang sangat saya kagumi namun sekarang mungkin sedang menerima begitu banyak kritik mengiris hati karena perbandingan yang dilakukan si akun itu terhadap beberapa karyanya ternyata mendatangkan komentar pedas gila-gilaan.

Apa yang dilakukan akun instagram ini memang sempat saya perkirakan dapat menimbulkan efek samping terhadap para desainer yang karyanya sempat mampir jadi sajian perbandingan kemiripan. Tetapi, jujur saja saya tidak mengira efek sampingnya bisa sampai sehebat dan secepat ini. Mungkin ini yang dinamakan kekuatan sosial media? Mungkin ini juga yang dinamakan kekuatan anonim? Dan mungkin, inilah bukti nyata kekuatan permainan pikiran? Tiga pertanyaan ini yang kemudian muncul dikepala saya.

Jika faktor kekuatan sosial media sudah sempat saya singgung diawal, bagaimana dengan dua kekuatan lain yang jadi pertanyaan saya? Dan kenapa saya bisa mempertanyakan dua hal itu? Kekuatan anonim dan kekuatan permainan pikiran. Jawabannya bisa sesederhana ini, karena akun @nyinyirfashion hingga saat ini tidak diketahui identitas sebenarnya dan karena akun tersebut tidak pernah memberi caption atau pernyataan yang menilai rancangan yang ditampilkan meniru. Ia hanya menyandingkan dua buah foto koleksi dari desainer berbeda. Ia hanya menuliskan “Trends exist because fashion can’t be copyrighted. Coco Chanel once said, “Copying is a ransom of success”. I post a pic, you make up your mind” di bio akunnya.

Berpikir lebih dalam sejenak dan menunda penghakiman, metode anonim yang digunakan oleh akun ini bisa menimbulkan banyak pertanyaan. Tentang siapa sebenarnya dibalik akun ini? Tentang apakah si pemilik akun memiliki kredibelitas untuk melakukan perbandingan? Tentang apakah ia memiliki kepentingan tersendiri atau tidak terkait apa yang dilakukannya? Semacam hidden agenda? Untuk pertanyaan terakhir, jawabannya memang sangat relatif, bisa saja memang ada, tapi bisa juga memang tidak ada apa-apa. Pertanyaan itu memang muncul dari saya karena keterkejutan saya tentang efek yang ditimbulkan memang. Sementara itu harus diakui akun ini cukup cerdas memainkan pikiran para pengikutnya, tanpa ia menuliskan apa-apa dan hanya menyandingkan foto, rentetan komentar dan pemikiran-pemikiran tentang indikasi peniruan muncul. Ia sengaja tidak mengedukasi apa-apa. Hal ini bisa dijadikan senjatanya baginya jika yang muncul malah sebaliknya, malah komentar pedas terhadap si akun, karena ia bisa dengan mudah mengembalikan ke tulisan di bionya “I post a pic, you make up your mind”.

Tulisan yang saya buat ini sebenarnya pun penuh dengan asumsi dan praduga. Terutama tentang kaitan pelepasan baju zirah sang Ksatria Mode dan akun instagram @nyinyirfashion. Saya memang yang mengasumsikan itu karena hingga kini belum ada bukti konkret apa-apa tentang korelasi keduanya. Saya pribadi tidak bermaksud menjatuhkan, memojokan atau membela pihak manapun. Bukan juga untuk membuat akun instagram @nyinyirfashion semakin populer, karena saya yakin tanpa tulisan ini akun tersebut akan semakin populer juga karena dikalangan fesyen memang sudah jadi perbincangan. Saya hanya ingin mengajak untuk merenungkan kembali sebelum bisa menilai atau menyalahkan segala sesuatu terutama dalam kasus ini. Coba melihatnya dengan mata yang lebih terbuka. Tidak ada yang 100% salah –kalau memang bisa disebut salah, meski saya tidak yakin penggunaan kata ini tepat- tapi tidak ada pula yang 100% benar karena semua pihak memiliki kekuatan “pembelaan” dan semua pihak mempunyai titik lemah untuk jadi sasaran “penyerangan”. Dan para komentator, mungkin perlu mempertimbangkan kembali kata-katanya yang terlalu pedas apakah sudah diimbangi dengan pengetahuan yang cukup mumpuni karena jangan sampai hanya jadi bagian dari peribahasa “air beriak tanda tak dalam”, bukan?

CardioMind : Ketika Cabang Olahraga Dijadikan Inspirasi Mencipta Busana

Bagaimana jadinya bila cabang-cabang olahraga cardio yang biasa kita kenal diterjemahkan dalam wujud koleksi busana oleh para siswa dan alumnus terbaik sekolah mode tertua di Indonesia? Apakah cabang-cabang olahraga diterjemahkan mentah-mentah pada wujud busana? Atau kita akan dibuat terkejut dengan permainan interpretasi yang ditawarkan?

"CardioMind" interpretasi para siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo tentang cabang olahraga yang dijadikan benang merah inspirasi

“CardioMind” interpretasi para siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo tentang cabang olahraga yang dijadikan benang merah inspirasi

Ada dua hal yang membuat saya cukup khawatir dengan kondisi jalan-jalan di Jakarta pada hari Jumat tanggal 1 November 2013 lalu. Hal pertama adalah tentang hujan yang mulai sering mengguyur Jakarta dan kerap membuat saya kewalahan bila harus melakukan aktivitas yang mengharuskan saya berjibaku di jalanan Ibukota. Hal kedua adalah tentang isu demo ribuan buruh yang menuntut kenaikan upah minimum. Cukup membayangkan dua hal tersebut kepala saya pening seketika. Bagaimana tidak? Pada hari itu saya berencana untuk menghadiri undangan peragaan busana siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo mengambil tempat di The Hall Senayan City, sementara ada dua kemungkinan jarak yang akan saya tempuh untuk bisa hadir di The Hall, dari kampus saya di Depok, atau dari kediaman saya di daerah Cibubur.

Dua kemungkinan jarak yang akan saya tempuh sama-sama pelik, terlebih saat saya kembali mengingat dua hal yang saya khawatirkan. Tetapi apa lacur, niat saya untuk menghadiri acara tersebut begitu kuat, maka saya menyusun strategi perjalanan sedemikian rupa dengan memperhitungkan waktu tempuh terlama dari rumah saya di bilangan Cibubur. Strategi saya berhasil, saya datang sangat tepat waktu, bahkan satu jam setelah saya tiba di The Hall Senayan City, acara belum juga dimulai. Sebenarnya bukan hanya karena strategi waktu yang saya buat, tetapi memang karena saya tidak bertemu hujan, hanya gerimis kecil yang menerpa, dan saya juga tidak menjumpai kemacetan berarti, rute yang saya tempuh sangat bersahabat, malahan tergolong cukup sepi untuk ukuran Jakarta di Jumat sore menjelang malam.

Lembaga Pendidikan Tata Busana(LPTB) Susan Budihardjo bukan nama asing dalam dunia mode Indonesia. Jauh sebelum menejamurnya sekolah mode franchise dari berbagai belahan dunia, desainer mode kawakan Susan Budihardjo telah merintis sekolah mode ini. Resmi didirikan pada tahun 1980, LPTB Susan Budihardjo tercatat sebagai salah satu sekolah mode dan tempat kursus mode tertua di Indonesia yang masih bertahan. Tersebutlah nama desainer mode papan atas Indonesia semisal Adrian Gan, Denny Wirawan, Didi Budihardjo, Sebastian Gunawan, Eddy Betty, Sofie, dan Tri Handoko sebagai alumnus LPTB Susan Budihardjo.

Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB ketika suara merdu Ira Duati terdengar diseantero ruangan, menandakan acara akan segera dimulai. Diawali dengan pemberian door prize kepada para hadirin yang datang, disusul dengan pemberian plakat kepada beberapa pihak penting yang mendukung jalannya acara, peragaan busana akhirnya dimulai sepuluh menit kemudian dengan menyuguhkan rancangan busana berbahan material daur ulang dari kemasan produk Khong Guan Biscuit yang tak lain adalah salah satu sponsor utama.

“CardioMind” adalah tajuk menarik yang dipilih LPTB Susan Budihardjo dalam peragaan busana siswa dan alumnusnya, peragaan busana ini merupakan perayaan setalah wisuda tahunan siswa sekolah mode ini berlangsung sehari sebelumnya. Dalam tajuk “CardioMind” terdapat sebuah tema akbar yang melatarbelakangi terciptanya rangkaian koleksi busana, olahraga.

Inspirasi pakaian olahraga baseball pada koleksi busana salah satu siswa LPTB Susan Budihardjo. Model: Katya Talanova

Inspirasi pakaian olahraga baseball pada koleksi busana salah satu siswa LPTB Susan Budihardjo. Model: Katya Talanova

Kentalnya unsur sporty dalam busana pada peragaan busana siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo. Model: Ilmira

Kentalnya unsur sporty dalam busana pada peragaan busana siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo. Model: Ilmira

Alat pancing yang digunakan sebagai pelengkap presentasi busana oleh model. Model: Mareike Brenda

Alat pancing yang digunakan sebagai pelengkap presentasi busana oleh model. Model: Mareike Brenda

Inspirasi cabang olahraga panahan dalam busana karya siswa LPTB Susan Budihardjo

Inspirasi cabang olahraga panahan dalam busana karya siswa LPTB Susan Budihardjo

Diusungnya tema olahraga sebagai benang merah menjadi sangat menarik terutama saat saya teringat dengan riset tren mode yang dilakukan BD+A Design, sebuah lembaga konsultasi desain multi disiplin, bersama Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia(APPMI) yang mengungkapkan bahwa salah satu tren mode di tahun 2014 nanti adalah CardioMind, persis seperti  judul yang dipilih oleh LPTB Susan Budihardjo. “CardioMind” yang dimaksudkan dalam riset tersebut adalah tren busana yang hadir karena pengaruh berkembangnya kelompok orang-orang yang mementingkan pola hidup sehatdan gemar berolahraga. Dalam tren ini dijelaskan bahwa di tahun 2014 nanti akan ada busana-busana yang terinspirasi dari pakaian olahraga. Bagi saya hal ini sangat menarik, namun sayangnya saya belum melihat implementasinya secara jelas, tetapi akhirnya di peragaan busana milik LPTB Susan Budihardjo saya dapat melihatnya.

“CardioMind” sebagai tajuk dan olahraga sebagai tema coba di interpretasikan oleh para siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo. Meski mendapatkan porsi yang lebih sedikit, yakni berupa parade busana, koleksi siswa LPTB Susan Budihardjo yang baru saja menerima pesta kelulusannya terlihat menarik. Cabang-cabang olahraga seperti berkuda, tinju, atletik, hingga memancing coba diterjemahkan para siswa dalam busana-busana siap pakai yang kasual. Tak lupa pula penyisipan beberapa alat olahraga seperti hula hoop, alat pancing, panah, stick baseball, dan sarung tinju guna memperkuat judul dan tema besar yang diangkat. Walhasil jadilah aneka gaun, atasan berupa kemeja, blus, atasan tanpa lengan, blazer, rok berlipit, rok denim, rok pendek berpotongan lurus, celana jodhpur, celana pendek yang longgar hingga celana panjang yang diolah dengan potongan unik terlihat sporty dan edgy.

Usai parade busana dari siswa-siswi LPTB Susan Budihardjo yang baru saja menerima kelulusannya, peragaan busana berlanjut dengan menampilkan rangkaian koleksi para alumnus LPTB Susan Budihardjo, tidak ketinggalan juga label milik sekolah mode ini “Number 1” yang ikut memamerkan koleksi teranyarnya.

"You Can Do Kendo" oleh Afina Meyandra yang memadukan unsur street style ala Jepang dan kebudayaan Jepang dalam busana siap pakai

“You Can Do Kendo” oleh Afina Meyandra yang memadukan unsur street style ala Jepang dan kebudayaan Jepang dalam busana siap pakai

“You Can Do Kendo” adalah judul yang dipilih Afina Meyandra dalam menyajikan 8 koleksi busana teranyarnya. Menjadi desainer pembuka rangkaian peragaan busana alumnus LPTB Susan Budihardjo, Afina Meyandra mentranslasikan cabang olahraga Kendo ke dalam busana wanita siap pakai yang kental dengan unsur street style ala Jepang. Gaya kimono, penggunaan bahan katun tebal, teknik lilit, lipit dan ikat, serta bentuk-bentuk origami juga ikut diselipkan Afina Meyandra sebagai detil yang memperkaya keseluruhan busana. Atasan berpotongan longgar, celana, kulot, rok panjang, luaran berupa trench coat hingga rok pinsil ia hadirkan dengan dominasi warna putih ditambah beberapa aksen berwarna biru dongker dan merah.

Koleksi busana pria siap pakai Andreas Wen yang terinspirasi oleh cabang olahraga Sepakbola. Model: Richard Fiando

Koleksi busana pria siap pakai Andreas Wen yang terinspirasi oleh cabang olahraga Sepakbola. Model: Richard Fiando

Andreas Wen, desainer mode yang memulai karirnya dua tahun lalu setelah menyelesaikan pendidikan di LPTB Susan Budihardjo ini memilih cabang olahraga sepakbola sebagai inspirasi utama koleksinya. Cabang olahraga yang selalu mengundang gegap gempita para penggemarnya ini ditransformasikan Andreas ke dalam koleksi busana pria siap pakai. Motif si kulit bundar yang jadi favorit jutaan orang di dunia ia aplikasikan ke dalam material berwarna meriah layaknya warna-warna yang biasa digunakan dalam Pop Art. Material atau bahan itu lantas ia olah menjadi kemeja lengan panjang dan lengan pendek, vest, jaket varsity, blazer, celana panjang, celana pendek, hingga rok berlipit seperti yang biasa dikenakan pria Skotlandia.

Busana siap pakai dengan printing motif cabang-cabang olahraga yang dilansir "Number 1"

Busana siap pakai dengan printing motif cabang-cabang olahraga yang dilansir “Number 1”

Label busana “Number 1” menjadi penyambung peragaan busana ketika koleksi milik Andreas Wen usai ditampilkan. Label yang sukses mencatatkan LPTB Susan Budihardjo sebagai sekolah mode pertama yang memiliki label busana hasil kolektif alumnusnya itu melansir 20 koleksi busana yang terinspirasi dari cabang olahraga Balap Sepeda. Berorientasi pada busana siap pakai yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar tanpa menghilangkan idealisme dalam mencipta, busana koleksi “Number 1” hadir dalam garis rancang sederhana namun berpotongan unik, basic with a twist. Meski pada beberapa koleksi yang ditampilkan cenderung terlihat biasa saja, tapi tunggu hingga lampu yang menerangi ruang dipadamkan. Motif print yang tersebar di tiap potong koleksi akan mengeluarkan warna terang yang sangat menyita perhatian. Motif print glow in the dark dengan cepat menjadi pusat perhatian yang kejutan yang menyenangkan.

Struktur konstruktif pada bahu yang merupakan ciri khas dari pakaian cabang olahraga American Football. Model: Laura Muljadi

Struktur konstruktif pada bahu yang merupakan ciri khas dari pakaian cabang olahraga American Football. Model: Laura Muljadi

American Football rupanya terlalu menarik untuk dilewatkan. Cabang olahraga yang penuh dengan kontak fisik ini pula yang melesatkan imajinasi Ddy Pramono Widjaja untuk mentransformasikannya dalam wujud koleksi busana. Siluet kostum pemain American Football yang menyimpan kekhasan tersendiri terutama pada konstruksi di bagian bahu yang menggembung lebih besar ia racik dalam busana bernafas ready-to-wear. Atasan berkerah V yang longgar, gaun yang lekat memeluk tubuh dengan detil bahu membentuk lengkungan yang terlihat kaku, rok model span, hingga gaun panjang dengan konstruksi bagian bahu yang membumbung tinggi besar dan kaku layaknya hiperbola detil kostum American Football dihadirkan Ddy Pramono dalam warna dasar putih gading yang dipercantik corak geometris aneka warna cerah.Untuk sentuhan akhir, Ddy Pramono melengkapi presentasi koleksi busananya dengan wedges kayu setinggi 18 senti yang menguatkan kesan strong dan sporty.

Aksen akrilik pada bagian atas busana yang memberikan kesan "dingin", sangat menarik. Model: Drina Ciputra

Aksen akrilik pada bagian atas busana Ruth Elke yang memberikan kesan “dingin”, sangat menarik. Model: Drina Ciputra

Mendapuk Ruth Elke sebagai penutup rangkaian peragaan busana karya alumnus LPTB Susan Budihardjo rupanya adalah pilihan yang tepat. Desainer mode yang memperoleh kelulusannya dari LPTB Susan Budihardjo di tahun 2009 silam ini terasa begitu piawai memformulasikan ulang embrio utama inspirasinya, cabang olahraga Ice Hockey, ke dalam koleksi busana bergaya sporty-androgyny. Disaat desainer mode lain kadang terkesan menelan bulat-bulat inspirasi cabang olahraga yang digarapnya, Ruth Elke justru seolah mengajak siapa saja yang menyaksikannya menebak-nebak sumber inspirasi sang kreator. Dibawah bendera label Rue yang tak lain adalah lini busana siap pakai eksklusif miliknya, Ruth Elke menyuguhkan 8 set busana dengan dominasi warna hitam. Detil sisipan akrilik yang dapat dipasang-dicopot pada beberapa bagian busana menjadi salah satu elemen menarik yang memunculkan kesan “dingin” nan otentik.

Koleksi busana siap pakai "Number 1" yang glow in the dark.

Koleksi busana siap pakai “Number 1” yang glow in the dark.

Menyaksikan keseluruhan peragaan busana LPTB Susan Budihardjo bagi saya adalah suatu hal yang sangat menarik. Judul dan tema yang diangkat terasa sangat dekat sekaligus membawa pesan tersirat tentang gaya hidup sehat, hal positif yang sangat diperlukan masyarakat dewasa ini. Namun sayangnya, saya merasa tetap ada beberapa catatan kecil mengenai jalannya acara.

Inspirasi dari cabang olahraga tinju.

Inspirasi dari cabang olahraga tinju.

Inspirasi busana dari cabang olahraga American Football.

Inspirasi busana dari cabang olahraga American Football.

Finale koleksi busana milik Ddy Pramono Widjaja yang terinspirasi American Football

Finale koleksi busana milik Ddy Pramono Widjaja yang terinspirasi American Football

Persembahan siswa LPTB Susan Budihardjo yang terinspirasi cabang-cabang olahraga.

Persembahan siswa LPTB Susan Budihardjo yang terinspirasi cabang-cabang olahraga.

Salah satunya adalah momen peragaan busana yang tak lain merupakan presentasi akbar karya para siswa dan alumnus saya rasakan tak tersusun rapi. Para model yang berjalan di atas lintasan catwalk sering kali terasa tumpang tindih antara satu dan yang lain, terutama pada saat parade. Hal ini menyebabkan saya yang menyaksikan jalannya acara terkadang lepas konsentrasi terhadap satu busana yang sedang dipertontonkan di atas lintasan catwalk karena model busana lainnya sudah menyusul masuk dalam jarak yang terlalu dekat. Hal lain yang turut mengganjal pikiran saya adalah tentang pemilihan musik pengiring yang kadang terasa terlampau nge-pop, dan pengaturan lighting yang kadang memusingkan kepala.

Namun terlepas dari semua hal tadi, LPTB Susan Budihardjo tetap sukses mengajak saya pada pengalaman berbeda menyaksikan peragaan busana berbalut unsur inspirasi olahraga yang kental. Setelah ini, saya pasti menunggu-nunggu apalagi judul dan tema besar yang akan diusung pada tahun-tahun selanjutnya. Saya harap saya bisa menyaksikannya kembali 😀

“Tale of The Goddess” ; Dongeng Sang Dewi Dari Lima Ksatria Mode Indonesia

Lima ksatria mode diberikan satu benang merah. Kelimanya diminta untuk menerjemahkan sosok “dewi” dalam koleksi busana pamungkasnya. Lima ksatria menyusun strategi, coba melukisan “dewi” dalam interpretasi tersendiri. Lima cerita tentang sosok “dewi” disuguhkan. Kelima ksatria mode seolah mendongeng dengan caranya masing-masing. Penasaran?

Pidato Penutupan Jakarta Fashion Week 2014 oleh Svida Alisjahbana

Pidato Penutupan Jakarta Fashion Week 2014 oleh Svida Alisjahbana

Dewi Fashion Knights bukan lagi sekadar peragaan busana penutup rangkaian Jakarta Fashion Week setiap tahunnya. Bukan lagi hanya sebatas ajang pameran karya para “ksatria mode” Indonesia. Bukan juga sebuah pesta mode yang selesai tuntas dalam satu malam perayaan. Lebih dari itu, bagi saya, Dewi Fashion Knights telah menjelma sebagai legenda dalam setiap penyelenggaraan Jakarta Fashion Week.

Desainer mode Indonesia terpilih. Karya busana mutakhir yang mengundang decak kagum. Barisan model peraga busana yang dipilih secara teliti. Konsep matang yang dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Tim koreografer jempolan yang ditugaskan khusus untuk mengeksekusi jalannya acara. Bila dirangkumkan, semua hal tadi tak lain adalah formula esensial dalam mencipta Dewi Fashion Knights sebagai legenda peragaan busana di Jakarta Fashion Week.

Namun terlepas dari semua itu ada beberapa hal penting lainnya yang menjadikan Dewi Fashion Knights layaknya legenda di Jakarta Fashion Week. Bagi saya, gelar legenda patut disematkan pada Dewi Fashion Knights karena peragaan mode ini adalah salah satu barometer terpenting dunia mode Indonesia yang mampu merepresentasikan karya visioner para desainer mode Indonesia terpilih. Dalam tahun-tahun pelaksanaannya, pecinta mode acap dibuat terperangah oleh karya busana mengagumkan yang ditampilkan. Tapi kadang, Dewi Fashion Knights juga meninggalkan kontroversi tersendiri mengenai ksatria mode yang dipinang atau karya busana yang ditampilkan. Lalu, jadilah peragaan busana pamungkas ini sebagai buah bibir yang terlalu menarik bila hanya dibicarakan semalaman, begitu pula pada perhelatannya di tahun ini.

Dewi Fashion Knights "Galore"

Dewi Fashion Knights “Galore”

Membicarakan Dewi fashion Knights tentu tidak bisa lepas dari nama-nama desainer mode yang dipinang sebagai “ksatria” di dalamnya. Ya, ksatria, sesuai dengan nama gelaran ini, para desainer mode yang dipilih untuk menampilkan karyanya dalam Dewi Fashion Knights lantas diberi gelar “ksatria mode”. Setelah di tahun sebelumnya, Dewi Fashion Knights menghadirkan Sapto Djojokartiko, Ghea Panggabean, Oscar Lawalata, Priyo Oktaviano dan Deden Siswanto, pada tahun 2013 ini, Dewi Fashion Knights hanya mempertahankan Priyo Oktaviano dan Oscar Lawalata dalam jajaran ksatria mode yang turut berpartisipasi, sementara Toton Januar, Populo Batik adalah nama baru yang dipinang Dewi Fashion Nights melengkapi kembalinya Tex Saverio dalam singgasana ksatria mode Indonesia.

Mengusung tema “Tale of The Goddess” lima ksatria mode diminta untuk menginterpretasikan definisi “dewi” sebagai sosok wanita modern dari kacamata kreatifitas masing-masing. Berangkat darisana kelimanya pun merangkai cerita yang bersumber pada interpretasi mereka tentang sang “dewi”, lalu mentransformasikannya ke dalam  koleksi busana yang dipersembahkan khusus untuk Dewi Fashion Knights. Dan inilah para ksatria serta kisah mereka tentang sang “dewi” :

Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Finale Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Finale Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Tampil sebagai pembuka Dewi Fashion Knights, Oscar Lawalata mengisahkan “dewi” yang ada dalam kepalanya dalam rangka imajinasi indah namun misterius layaknya keadaan galaksi di angkasa luas. Nama galaksi tetangga Bimasakti, Andromeda, pun ikut disematkan pada tajuk untuk koleksi busananya, “My Name is Andromeda”. Sisi kekuatan dan kelemahan yang ada dalam sosok wanita ia ibaratkan layaknya peleburan galaksi yang misterius dan memiliki dua citra utama sebagai tempat yang asing berlatar hitam yang menyimpan kekuatan besar nan magis, sekaligus hamparan bintang dan planet yang membentuk pola keindahan tersendiri.

Konstruksi kisah “dewi” seolah ia bangun sebagai sosok wanita yang memiliki kecantikan misterius dengan kepribadian kuat yang terwujud dalam busana berpalet warna hitam. Menggunakan material utama kain sutra berwarna hitam, Oscar Lawalata menghadirkan busana bergaris rancang geometris dengan siluet flare. Pada beberapa busana Oscar Lawalata juga terasa meminimalisir pemotongan dan pengikatan bahan sehingga busana-busana yang ditampilkan layaknya jubah ringan yang dikenakan dengan cara sedemikian rupa oleh para model. Atasan dan celana bersiluet flare, rok midi A-line, celana kulot yang menyerupai rok panjang dan beberapa atasan berdetil cut out serta draperi disajikan Oscar untuk koleksi berpalet warna hitam miliknya.

Busana bersiluet flare dengan detil draperi pada "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata. Model: Renata

Busana bersiluet flare dengan detil draperi pada “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata. Model: Renata

Atasan bergaris rancang tegas dipadu celana kulot dari sutra hitam pada "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata. Model: Dominique Diyose

Atasan bergaris rancang tegas dipadu celana kulot dari sutra hitam pada “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata. Model: Dominique Diyose

Busana berpotongan lurus dengan palet warna cerah dalam "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata

Busana berpotongan lurus dengan palet warna cerah dalam “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata

Usai menampilkan palet warna hitam, kini giliran palet warna cerah seperti putih, merah, pink, oranye dan ungu yang dipilih Oscar Lawalata. Pada sekuensnya yang kedua, sang desainer seakan ingin menampilkan warna keindahan galaksi melalui ragam busana yang ia buat dalam siluet yang longgar. Gaun-gaun pendek dengan garis rancang sederhana bersiluet flare serta A-line pun ia jadikan sajian utama.

Menutup akhir sesi peragaan busana, Oscar lantas memberi sebuah kejutan kecil. Desainer mode berpenampilan androgini ini menyusup ke dalam barisan model peraga busananya dan berlenggok bersama mereka disepanjang lintasan catwalk Jakarta Fashion Week. Sebuah kejutan kecil yang langsung memicu riuh rendah tepuk tangan dari dalam Fashion Tent Jakarta Fashion Week 2014.

Populo Batik

Koleksi busana pria bergaya kasual dari Populo Batik dengan motif batik kontemporer 'Slobok'

Koleksi busana pria bergaya kasual dari Populo Batik dengan motif batik kontemporer ‘Slobok’

Keberadaan Populo Batik dalam jajaran ksatria mode Dewi Fashion Knights mau tak mau sempat membuat saya mengerutkan kening. Pasalnya, baru kali ini rasanya Dewi Fashion Knights menunjuk lini busana yang sangat berorientasi ready-to-wear dan produksi cukup massal ke dalam jajaran para ksatria. Memang, lini busana ready-to-wear bukan hal yang baru pada Dewi Fashion Knights, di tahun sebelumnya pun ada SPOUS, lini busana siap pakai kepunyaan Priyo Oktaviano. Namun, tetap saja keberadaan Populo Batik pada Dewi Fashion Knights terasa cukup ganjil bagi saya. Mungkin karena saya selama ini lebih akrab dengan Dewi Fashion Knights yang selalu menghadirkan nama-nama desainer mode dengan lini utamanya atau lini kedua yang tetap saja menguarkan aroma eksklusivitas tinggi, teknik pembuatan rumit dan konsep yang tertata jeli khas karya busana desainer mode pada umumya.

Tetapi nyatanya lini busana milik Bai Soemarlono dan Joseph Lim melenggang mulus di atas lintasan catwalk Dewi Fashion Knights dengan koleksi busana batik bergaya kasual dan modern. Mengedepankan koleksi busana bergaya kekinian, Populo Batik lebih banyak bermain dengan motif batik kontemporer berbentuk garis dan geometris. Adapun sisi klasik dari kain Batik yang dipertahankan ialah teknik pembuatan dan pewarnaan motif pada kain batik yang menggunakan alat-alat untuk membuat batik tulis serta batik cap.

IMG_7669

Koleksi busana wanita siap pakai oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Firrina

Gaun batik kontemporer yang terlihat santai nan kasual oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kusuma Wardhany

Gaun batik kontemporer yang terlihat santai nan kasual oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kusuma Wardhany

Luaran berupa jubah panjang dalam koleksi Men's Wear Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Dion Wiyoko

Luaran berupa jubah panjang dalam koleksi Men’s Wear Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Dion Wiyoko

Pada pembuktian eksistensinya dalam Dewi Fashion Knights, lini busana ready-to-wear yang sudah ada sejak tahun 1994 ini seolah menerjemahkan sosok “dewi” yang lekat dengan imej magis dan mengagumkan sebagai sosok wanita modern masa kini yang bisa jadi tersusup diantara orang-orang yang biasa kita jumpai sehari-hari. Interpretasi kata “goddess” yang ada dalam tajuk Dewi Fashion Knights kali ini juga dipersembahkan duo Bai dan Joseph pada perajin batik yang mereka rasakan sebagai salah satu perwujudan “goddess” bagi keduanya. Memadukan hasil kreasi motif batik tulis dan batik cap kontemporer hasil modifikasi motif klasik, Populo lantas mengaplikasikan keduanya pada lebih dari 20 pasang busana women’s wear dan men’s wear. Blus, celana model Capri, celana panjang lurus, rok, blazer, kemeja, hoodies, rompi, gaun, hingga luaran seperti jubah menjadi bagian dari koleksi Populo Batik pada gelaran Dewi Fashion Knights.

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Terinspirasi oleh keindahan bawah laut yang begitu mempesona sekaligus menyimpan sisi misterius yang tak bisa terelakan, Toton Januar mendongengkan kisah sang “dewi” dalam tajuk “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”. Ketika menyaksikan dan melafalkan lamat-lamat judul yang dipilih Toton, alam imaji saya membentuk penafsiran tersendiri tentang alur cerita yang mungkin tersimpan dalam rangkaian koleksi milik desainer muda yang baru memulai labelnya di tahun 2012 silam ini.

Saya membayangkan bahwa “dewi” yang diceritakan Toton Januar seperti dongeng-dongeng tentang sosok wanita tangguh penguasa lautan luas yang akhirnya diketahui keberadaannya oleh seorang Raja atau Sultan dari sebuah negeri. “dewi” penguasa lautan dan Sultan lalu menjadi cerita, entah cerita cinta, petualangan, atau sekadar cerita tentang kekaguman pada sosok “dewi” yang begitu melenakan.

Dalam hal koleksi yang ditampilkan, Toton menghadirkan 10 set busana bergaris rancang unik yang sangat khas. Potongan asimetris banyak ia suguhkan bersama padupadan detil ruffles, bahan transparan, bordir, payet berkilauan dalam pasang-pasang busana berstruktur tegas yang memiliki kesan bahwa Toton menampilkan “dewi” dalam ceritanya sebagai sosok yang kuat meski terselip pula kesan feminin dan romantis.

Padupadan busana berpotongan tegas dan material transparan pada koleksi Toton Januar untuk Dewi Fashion Knights. Model: Michelle Agnes

Padupadan busana berpotongan tegas dan material transparan pada koleksi Toton Januar untuk Dewi Fashion Knights. Model: Michelle Agnes

Koleksi Toton Januar dalam “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss” untuk Dewi Fashion Knights. Model: Putri Sulistyo

Koleksi Toton Januar dalam “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss” untuk Dewi Fashion Knights. Model: Putri Sulistyo

Interpretasi "dewi" oleh Toton Januaryang mengambil inspirasi dari keindahan bawah laut. Model: Reti Ragil

Interpretasi “dewi” oleh Toton Januaryang mengambil inspirasi dari keindahan bawah laut. Model: Reti Ragil

Jalinan cerita tentang “dewi” lautan yang didongengkan Toton pun kembali terlihat pada pemilihan warna dalam busananya. Warna hijau kebiruan, warna putih gading, dan beberapa sentuhan warna cerah seperti oranye merupakan interpretasi sang desainer terhadap warna laut dan ekosistem di dalamnya. Namun, tentang pemilihan warna yang ditampilkan Toton, saya pribadi merasakan bahwa warna-warna yang ia pilih cenderung pucat sehingga menghasilkan kesan latar belakang lautan yang tenang namun misterius dibandingkan dengan lautan yang kaya akan keindahan ekosistem.

Sisi lainnya yang juga menarik untuk ditilik pada rangkaian koleksi Toton Januar kali ini adalah pemilih model yang membawakan koleksi busana. Deretan model berwajah khas Indonesia yang dipilih Toton sebagai garda depan dalam presentasi karyanya seakan menciptakan kesan bahwa dongeng “dewi” lautan dan keindahan bawah laut yang sedari awal ia usung merupakan representasi gambaran keindahan lautan Indonesia.

Priyo Oktaviano “Galore”

Sang ksatria mode, Priyo Oktaviano bersama koleksinya "Galore" pada Dewi Fashion Knight

Sang ksatria mode, Priyo Oktaviano bersama koleksinya “Galore” pada Dewi Fashion Knights

Tantangan interpretasi sosok “dewi” yang diberikan Dewi Fashion Knights melambungkan tinggi imajinasi Priyo Oktaviano pada kemegahan Istana kebanggan rakyat Perancis Château de Versailles” dan pesona kemewahan kain Tapis Lampung yang tidak lain adalah perlambang kejayaan Kerajaan Lampung di masa lalu. Bersamaan dengan latar belakang kemegahan, kemewahan, dan kejayaan itu, Priyo Oktaviano lantas menemukan sosok wanita kuat, gagah, memiliki keberanian untuk keluar dari wilayah privat, tetapi tetap menyimpan sisi feminin serta kecantikan yang sulit terbantahkan. Aroma “Femme Fatale” pada koleksi Priyo kali ini pun terasa menguar kuat. Sosok “dewi” seolah diterjemahkan Priyo ke dalam sosok wanita yang tahu benar bagaimana ia mampu mempergunakan kekuatan, daya tarik sekaligus kecantikannya untuk membuat siapa saja tidak hanya mengagumi tetapi bertekuk lutut pada sosoknya.

Telah menjadi bagian dari Dewi Fashion Knights sejak tahun 2008, pada keterlibatannya kali ini sang ksatria mode mempertemukan dua kebudayaan dari dua belahan dunia berbeda. Megahnya arsitektur interior Istana Versailles di Prancis menjadi rangka inspirasinya dalam mempersembahkan 12 set busana wanita dalam tema “Galore”, kemegahan. Meski rangka inspirasi ia susun dari kemegahan arsitektur interior Istana Versailles, adalah hal yang keliru bila mengira bahwa inspirasi Istana yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Louise XVIII yang akan jadi primadona. Dalam rangkaian koleksi milik desainer berkacamata ini, justru kain Tapis Lampung yang ia gunakan sebagai aspek pengisi rangka inspirasilah yang mencuat menempati posisi puncak limpahan perhatian ketika koleksi dipresentasikan.

Melalui 12 set busana wanita yang bersiluet gagah, bergaris potong tegas, kuat dan terkesan androgini layaknya seragam perang sang Jenderal Perancis, Napoleon Bonaparte. Hadir dalam warna-warna yang terkesan mewah dan gagah seperti emas, hitam, dan merah, Priyo Oktaviano menggunakan material inti 80% kain Tapis Lampung yang kemudian ia olah dalam kemasan kemegahan ala Eropa.

Gaun beraksen ruffles yang terinspirasi oleh Marie Antoinette pada koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano. Model: Kelly Tandiono

Gaun beraksen ruffles yang terinspirasi oleh Marie Antoinette pada koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano. Model: Kelly Tandiono

Busana wanita bernuansa androgini yang terinspirasi oleh seragam perang Napoleon Bonaparte dalam koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano. Model: Chloe Clau

Busana wanita bernuansa androgini yang terinspirasi oleh seragam perang Napoleon Bonaparte dalam koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano. Model: Chloe Clau

Gaun pamungkas koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano untuk Dewi Fashion Knight. Model: Kimmy Jayanti

Gaun pamungkas koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kimmy Jayanti

Keindahan kain Tapis Lampung yang dikerjakan secara manual menggunakan gedokan dan teknik sulam(cucuk) ditransformasikan ke dalam bentuk busana hasil penafsiran kemewahan dan kemegahan Istana Versailles. Langit-langit megah istana, dinding-dinding penuh dekoratif mewah nan artistik hingga ukiran kayu dan gypsum klasik yang seolah mempigurakan keindahan abadi Istana Versailles diterjemahkan lewat siluet busana bervolume  tegas dan teknik patchwork  yang digunakan dalam pengaplikasian kain Tapis Lampung pada tiap panel busana.

Sentuhan warna emas pekat, motif geometris di helai kain Tapis Lampung, dan aksen ruffles  yang mempercantik gaun kreasi Priyo Oktaviano, masing-masing merujuk pada banyaknya ornamen emas di Istana Versailles, pola dinding bagian dalam Istana Versailles, serta cerminan gaya berbusana Ratu Marie Antoinette, sang permaisuri Raja Louise XIV yang kontroversional. Detil koleksi busana pun bertambah kaya dengan banyak permainan bordir berbentuk daun ivy(daun kemakmuran bagi rakyat Perancis) dan manik-manik yang dibentuk menyerupai matahari.

Tex Saverio Prive “Exoskeleton”

Sosok "dewi" dari masa depan yang dituangkan Tex pada busana yang mengaplikasikan teknik print 3D bertajuk "Exoskeleton".

Sosok “dewi” dari masa depan yang dituangkan Tex pada busana yang mengaplikasikan teknik print 3D bertajuk “Exoskeleton”.

Tex Saverio memiliki tafsiran tersendiri tentang sosok “dewi”. Bagi desainer muda yang namanya meroket setelah gaun rancangannya dikenakan Lady Gaga ini, sosok “dewi” yang berkembang dalam imajinasinya adalah sesosok wanita dengan keanggunan yang tak biasa. Dalam imajinasinya, “dewi” adalah seorang wanita, namun bukan manusia, dan ia datang dari masa depan. Imajinasi akan sosok “dewi” yang bukan manusia dalam bayangan Tex Saverio ini kemudian ia tuangkan dalam 5 set busana wanita dengan dominasi warna hitam yang mau tak mau memunculkan kesan magis nan misterius dari sosok “dewi” yang coba ia hadirkan.

Lebih jauh, bayangan mengenai sosok “dewi” yang berasal dari masa depan lantas ia coba terjemahkan melalui pengaplikasian teknologi rumit printing 3D. Suatu teknik terbilang langka di dunia mode namun acap kali dipergunakan oleh desainer couture asal Belanda Irish van Herpen dalam karyanya. Meski bukan hal yang terlampau baru di dunia mode, penggunaan print 3D oleh Tex Saverio adalah yang pertama kali dilakukan oleh desainer mode di Indonesia. Untuk menerapkannya dalam busana pun terbilang rumit, selain harus menggunakan software khusus untuk menggambar pola yang diinginkan, Tex harus melakukan pemindaian langsung pada tubuh model saat akan membuat cetakan yang nantinya digunakan untuk pencetakan material besi khusus yang digunakan. Bahan baku besi yang digunakan pun tak main-main, untuk urusan satu ini, Tex Saverio menggunakan bahan besi yang biasa dipergunakan untuk kebutuhan seragam perang.

Koleksi busana dengan dominasi warna hitam dan metalik yang dihadirkan Tex Saverio dalam "Exoskeleton". Model: Christina Borries

Koleksi busana dengan dominasi warna hitam dan metalik yang dihadirkan Tex Saverio dalam “Exoskeleton”. Model: Christina Borries

Jubah hitam berbahan velvet semakin menguatkan kesan magis nan misterius dari interpretasi sosok "dewi" Tex Saverio. Model: Simona

Jubah hitam berbahan velvet semakin menguatkan kesan magis nan misterius dari interpretasi sosok “dewi” Tex Saverio. Model: Simona

Busana penutup koleksi Tex Saverio "Exoskeleton", print 3D ia tampilkan secara maksimal pada bagian atas busana dan head piece. Model: Paula Verhoeven

Busana penutup koleksi Tex Saverio “Exoskeleton”, print 3D ia tampilkan secara maksimal pada bagian atas busana dan head piece. Model: Paula Verhoeven

Digadang sebagai momen pertama penggunaan print 3D di Indonesia, rangkaian koleksi busana Tex Saverio terdiri atas 4 gaun panjang dan 1 busana bersiluet swim suit berwarna metalik. Dalam presentasinya di atas lintasan catwalk Dewi Fashion Knights, busana koleksinya itu dilengkapi dengan jubah velvet berwarna hitam yang semakin menguatkan kesan “gelap” dan misterius. Pemberian urutan presentasi bungsu yang diberikan kepada Tex pun mampu ia gunakan dengan cukup apik untuk menyerap perhatian maksimal dari para tetamu dan awak media di Dewi Fashion Knights dengan menyajikan kelima set busana di bawah spot light yang dramatis. Adapun judul “Exoskeleton” atau dapat dimaknai sebagai kerangka keras yang berada diluar tubuh dipilih Tex untuk judul koleksinya kali ini. Bagi Tex, “Exoskeleton” merupakan perumpamaan sebagai pelindung  seperti sosok “dewi” yang coba ia hadirkan dalam tiap pasang busananya.

Hutang

Selama saya tidak menulis atau pun memposting suatu tulisan dalam blog ini, saya sering bertanya-tanya, apakah masih ada yang membaca blog ini? Apakah statistik saya hanya jalan ditempat dan tidak lebih baik dari terakhir kali saya membuat posting tentang peragaan busana Biyan? Maklum, saya memang sangat senang saat melihat statistik blog saya meningkat dan terus meningkat, kata teman saya, saya ini banci statistik. Mungkin memang benar. Tapi apa salahnya menjadi banci statistik kalau itu bisa menjadi motivasi untuk membuat lebih banyak tulisan yang bisa ditampilkan dalam blog ini? Tidak salah bukan? Bagi saya saat ada banyak orang yang membaca blog saya, itu seperti sebuah apresiasi tersendiri bagi saya dan jujur saja, pasti setiap orang senang mendapatkan apresiasi.

Tapi ada yang lebih membuat saya gelisah dibandingkan angka-angka pada statistik blog ini yang mungkin menurun drastis. Ada yang lebih membuat saya gelisah dari sekadar kekhawatiran akan ditinggalkan pembaca blog saya saat blog ini miskin tulisan baru. Rasa berhutang. Ya, saya lebih gelisah karena perasaan itu diam-diam semakin menghantui saya. Saya merasa berhutang pada banyak orang ketika blog ini seperti mati suri. Berhutang kepada teman-teman saya di dunia mode Indonesia yang terus menyemangati saya untuk terus menulis, kepada mereka dan juga kamu yang sering membaca blog ini dalam diam, dan kepada diri saya sendiri.

Rasa berhutang saya yang paling besar adalah pada Mbak Alvie dan Mas Gita, dua orang yang saya sangat hormati, dua orang yang saat ini menjadi koorniator media mode paling kawakan di dunia mode Indonesia. Sepeninggal (alm) Muara Bagdja saya banyak sekali bertanya pada keduanya tentang bagaimana penulisan mode yang baik. Saya merasa berhutang pada keduanya karena hingga kini masih ada tulisan yang belum sempat saya realisasikan karena saya sudah keburu direpotkan dengan masalah perkuliahan dan pekerjaan lain saya, -saya akan ceritakan itu nanti.

Lalu pada Mas Priyo Oktaviano. Pada beliau saya pernah berkata akan menuliskan koleksi ready-to-wear yang ia rilis di Jakarta Fashion and Food Festival, tetapi hingga saat ini saya belum bisa menuliskannya dalam blog ini, meski saya sudah menuliskannya untuk salah satu situs yang beberapa bulan lalu sempat meminta saya untuk menjadi penulis artikel mode disana. Tapi tetap saja, tulisan khusus untuk koleksi beliau di blog ini belum bisa saya realisasikan.

Sebenarnya masih banyak lagi rasa berhutang saya saat saya tidak membuat posting baru di blog ini. Saking banyaknya, saya jadi malu sendiri untuk mengatakannya. Ah, tapi tidak apa karena dengan tulisan ini saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya karena sempat menghilang dan itu membuat saya merasa berhutang pada beberapa orang. Saat saya menghilang itu ada begitu banyak hal yang terjadi. Ada banyak peristiwa yang saya alami dan moment yang ternyata terlewat dalam hidup saya.

Saya membayangkan pada saat saya menghilang, saya seperti pergi dari tempat saya yang dulu. Melakukan perjalanan jauh hingga bingung apakah harus kembali atau tetap meneruskan kepergian saya. Tapi dalam perjalanan saya, saya justru merasa berhutang sekaligus kangen dengan “rumah” saya yang dulu. Untuk itu saya kembali, untuk menebus rasa berhutang saya dan menuntaskan rasa kangen saya.