“Asymmetry” Danjyo Hiyoji’s Spring/Summer 2013; Welcome Back The Pioner!

Bagi saya, Danjyo-Hiyoji adalah cinta pertama jika membicarakan indie label. Jauh sebelum puluhan indie label yang akhir-akhir ini mudah sekali dijumpai, saya telah mengenal Danjyo-Hiyoji lebih dulu. Saya mengenal mereka sebagai salah satu yang pertama, dan yang berhasil mencuri hati saya.

Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013 "Asymmetry"

Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013 “Asymmetry”

 Tiga tahun lalu, tepatnya pada JFW(Jakarta Fashion Week) 2009/2010 adalah kali pertama saya mengetahui tentang Danjyo-Hiyoji. Pada satu sesi peragaan busana, saya menyaksikan koleksi-koleksi dari mereka. Rasanya aneh. Kenapa?. Karena saat itu, selama beberapa hari berada di JFW, saya melulu dipertontonkan oleh puluhan koleksi desainer-desainer terkemuka di Indonesia, dan mereka serupa tapi tak sama dalam hal orientasi koleksi. Serupanya karena hampir semua desainer mengarah ke couture, high fashion, atau setidaknya ready-to-wear duluxe. Tetapi tidak samanya, ya karena gaya rancangan mereka sudah pasti berbeda. Polanya beda, warnanya beda, garis rancangannya beda, apalagi tiupan “ruh” yang diberikan, sudah pasti beda. Karena itu, puluhan koleksi busana yang saya saksikan ketika JFW 2009/2010 saya katakan serupa tapi tak sama.

Lalu saya lupa kapan tepatnya, tetapi yang saya ingat adalah saya melihat satu sesi peragaan busana yang menampilkan jajaran busana sehari-hari yang biasa, tetapi tidak biasa. Biasa tapi tidak biasa. Hmmm…begini, busana yang ditampilkan di atas lintasan catwalk JFW itu seperti biasa saya lihat banyak dikenakan di keseharian, atau mungkin bisa kita sebut busana basic. Tapi tidak biasa, karena seperti itulah wujud si busana, tidak biasa, pada cutting, pada warna, pada “sesuatu” yang ada di dalamnya.

Basic with a twist. Kalimat itulah yang sempat dikatakan para punggawa Danjyo-Hiyoji untuk mendeskripsikan koleksinya saat itu. Mungkin terdengar biasa, atau mungkin basi jika kalian dengan sekarang ini, tapi tidak jika kalian mendengarnya tiga tahun lalu, dimana indie label tidak sebanyak sekarang dan tidak mengadopsi garis rancang yang kebanyakkan satu aliran. Tiga tahun lalu, 2009, saya tahu saya mulai jatuh cinta, dengan Danjyo-Hiyoji dan “basic with a twist” yang mereka miliki.

Lama waktu berselang, saya tidak banyak mendengar kabar tentang salah satu label kesayangan saya ini. Terakhir yang saya tahu dan membuat saya sedih adalah ditutupnya toko fisik Danjyo-Hiyoji dan toko-toko lain di Level One Grand Indonesia. Namun beberapa waktu setelah kabar tidak menyenangkan itu, saya mendengar kalau Danjyo-Hiyoji kembali. Sebuah peragaan busana akan diadakan untuk memperkenalkan koleksi busana Spring/Summer 2013 nya.

Mendengar kabar ini, tentu saya senang dan bersemangat sekali. Akhirnya, setelah sekian lama Danjyo-Hiyoji menarik diri dari dunia nyata dan lebih banyak mengandalkan media dunia maya, mereka kembali. Saya akan bisa melihat koleksi mereka lagi langsung di depan kedua mata saya.

Uniquely Video Mapping at Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013 "Asymmetry"

Uniquely Video Mapping at Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013 “Asymmetry”

Bertempat di Fairground Area SCBD atau yang dulu lebih dikenal dengan nama Bengkel Night Park, peragaan busana koleksi Spring/Summer 2013 milik Danjyo-Hiyoji ini ternyata tidak berdiri sendiri. Acara yang diberi nama Asymmetry dan The Dream Factory ini merupakan hasil kolaborasi antara peluncuran koleksi Spring/Summer 2013 Danjyo-Hiyoji dan perayaan ulang tahun ke-17 dari Future 10, sebuah promotor musik milik Anton Wiryono, serta didukung penuh oleh Avolution Rated-A. Rated-A adalah sebuah wadah yang dibentuk oleh Avolution bagi para perokok dewasanya untuk menyalurkan aspirasi dan inspirasi di bidang kreatif.

Dimulai sekitar pukul 20.30 WIB, Asymmetry The Dream Factory dibuka oleh karya busana pemenang Rated-A “Metamorforward” Fashion Online Competition yang dilangsungkan beberapa waktu lalu. Setelahnya, tiga orang model yang mengenakan busana serba putih dengan garis rancang berbeda dijadikan manekin pada permainan mapping video yang unik. Bagian mapping video ini adalah salah satu bagian favorit saya sepanjang Asymmetry The Dream Factory. Ketika tiga orang model itu berdiri di depan dinding putih dan proyektor mengarah kepada mereka lalu memainkan mapping video yang serupa permainan laser, saya hanya bisa berdecak kagum, serta berkali-kali mengatakan, “Keren!”.

Kurang lebih lima menit mapping video itu diputarkan dan tiga model mematung di depannya sebelum mereka pergi ketika mapping video selesai, pertanda acara yang paling saya tunggu-tunggu akan segera dimulai, peragaan busana koleksi Spring/Summer 2013 DanjyoHiyoji.

Salah satu koleksi teranyar Danjyo-Hiyoji. Suka blazer hitam ini :D

Salah satu koleksi teranyar Danjyo-Hiyoji. Suka blazer hitam ini 😀

Menampilkan 30 busana yang dibawakan oleh 15 model wanita dan 15 model pria. Bagi saya, Danjyo-Hiyoji seperti membagi-bagi koleksi busana kali ini ke dalam empat kategori. Pertama, busana dengan paduan warna-warna cerah. Kedua, busana dengan motif print. Ketiga, busana dengan potongan cenderung lebih clean dan aplikasi warna-warna “aman”. Dan keempat, busana yang di dominasi warna gelap semisal hitam dengan menitikberatkan pada permainan struktur dan volume busana.

Pada koleksi kali ini Danjyo-Hiyoji terasa sangat bermain-main dengan banyak hal, tidak hanya sebatas garis rancang atau potongan busana seperti yang biasa mereka lakukan, tetapi mereka juga mengeksplorasi warna, garis rancang, struktur busana, volume, hingga motif print pada koleksinya. Hal itu sudah pasti tidak mudah. Dengan koleksi dengan jumlah yang tergolong sedang-sedang saja, dan banyaknya elemen yang “dimainkan”, saya pikir bisa saja jika koleksi Danjyo-Hiyoji kali ini jatuhnya “random collection”, sangat berlainan diantara satu sama lain dan tidak memiliki benang merah atau “ruh” yang sama. Seperti koleksi yang diambil secara acak, dan hanya lebih berat kekeberagaman tanpa adanya satu pengikat.

Tapi apakah hal itu terjadi?. Bagi saya tidak. Setelah melihat keseluruhan koleksi milik Danjyo-Hiyoji, saya tetap bisa merasakan satu benang merah yang sama. Saya tetap bisa merasakan kalau itulah Danjyo-Hiyoji, Indie Label yang telah membuat saya jatuh cinta tiga tahun lalu. Mereka tetaplah sama, meski digarap dengan formasi baru. Bagi saya, pada koleksi Spring/Summer nya kali ini, Danjyo-Hiyoji justru makin memperlihatkan kematangannya dalam berkarya. Mereka berani mengeksplorasi hal-hal baru pada koleksinya, mengambil beberapa resiko yang ada, dan seolah mengatakan, “We can create many kind of outfit with the same spirit.”

Sebagian dari koleksi Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013. Coba lihat, koleksi printing-nya, keren banget ya? :)

Sebagian dari koleksi Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013. Coba lihat, koleksi printing-nya, keren banget ya? 🙂

"Dark Collections" Danjyo-Hiyoji yang bikin jatuh cinta(khususnya 4 koleksi di tengah foto). I love this collection, cause, hey, I love black outfit! Lol :p

“Dark Collections” Danjyo-Hiyoji yang bikin jatuh cinta(khususnya 4 koleksi di tengah foto). I love this collection, cause, hey, I love black outfit! Lol :-p

Sepanjang jalannya peragaan busana, selain bagian mapping video saya juga sangat suka sekuens koleksi busana print. Sampai saya menuliskan ini, saya sebenarnya masih menerka-nerka sebenarnya apa motif print yang ada pada koleksi Danjyo-Hiyoji. Motif-motif yang dibubuhkan pada busana berwarna dasar putih itu bagi saya terlihat seperti bagian dari arsitektur art deco (?), burung phoenix (?), geladak kapal (?). Ah, jujur saya bingung, biar nanti saya cari tahu lagi. Tapi sungguh, saat melihat koleksi tersebut diperagakan para model di lintasan catwalk, terasa keren. T-shirt, baju terusan, celana panjang, kemeja, hingga blazer yang mungkin biasa saja jadi sangat menarik tapi tidak too much karena penempatan motif print yang proporsional serta pemilihan warna yang tidak terlampau ramai.

Selain bagian koleksi bermotif print, yang juga paling saya sukai adalah rangkaian koleksi busana yang didominasi warna hitam. Terutama ketika koleksi tersebut dibawakan oleh tiga orang model dengan koreografi spesial yang banyak menggunakan gerak tubuh, ditambah dengan aksesori topeng berwarna hitam, jadilah pada bagian ini terasa lebih drama.

Bukan hanya karena faktor drama-nya saja yang saya suka, tetapi busana yang mereka kenakan, juga keluwesan gerak tubuh tiga model itu turut membungkus keseluruhan dengan sangat pas. Dan jujur saya sedikit surprise ketika sadar salah satu dari tiga model pada bagian itu adalah Reti Ragil. Ya, Reti Ragil, si Super Skinny Girl yang pernah saya tulis profilnya, dan dua model lainnya adalah Drina Ciputra dan Antie Damayanti. Kenapa surprise?, mungkin karena selama ini saya tidak pernah melihat Reti melakukan koreo dengan body movement yang kental seperti saat itu, sementara saya sudah menyaksikan kepiawaian Drina dan Antie dalam olah tubuh di lintasan catwalk. “I think she was great, and they was awesome”.

Namun, harus jujur saya katakan, tidak semua koleksi Danjyo-Hiyoji tersaji pas sempurna. Ada beberapa koleksi, terutama yang ditampilkan pada awal peragaan busana bagi saya terasa seperti pengulangan yang terlalu biasa meski terasa sangat diusahakan untuk menjadi tidak biasa. Saat melihat koleksi tersebut saya seperti ingin mengatakan, “I’m so sorry, but it’s like so last year”. Memang pada kenyataannya, pengulangan bukan hal yang baru di dunia fashion atau dimanapun, pengulangan sangat sering dilakukan, tapi entah mengapa, pada beberapa kesempatan, pengulangan terasa mengganggu pikiran. Hmmm…mungkin saya terlalu sensitif pada beberapa kesempatan, terutama yang menyangkut hal-hal yang sangat saya sukai dan perhatikan.

Tetapi secara keseluruhan saya sangat senang dan belum puas dengan peragaan busana Spring/Summer 2013 Danjyo-Hiyoji. Sangat senang karena “Sang Pioner” kembali, dan belum puas karena saya ingin melihat lagi, lagi, dan lagi koleksi dari Danjyo-Hiyoji. Ah, ya, dan belum puas karena saya tidak bisa mendapatkan foto-foto yang bagus pada peragaan busana itu karena pengaturan spot untuk mengambil foto yang bagi saya susah sekali untuk ambil foto. Terlebih dengan kamera imut saya ini…hahaha 🙂

Antie Damayanti ; Totalitas Dua Panggung Berbeda, Catwalk dan Teater

Menjadi pusat perhatian diatas panggung peragaan busana mungkin jadi hal yang sangat biasa bagi mereka yang menekuni profesi sebagai model catwalk, namun menjadi pusat perhatian diatas panggung teater dan berakting sepenuh jiwa raga, tentu itu lain perkara. Tetapi model satu ini melakukan keduanya, ia menjadi pusat perhatian di keduanya, catwalk dan teater

Antie Damayanti. Foto: Andry Wibowo

Ada suatu keterikatan perasaan yang aneh antara saya dan sosok yang saya lihat pada panggung pagelaran Bazaar Fashion Celebration “Langgam Tiga Hati” yang dihelat pada Desember 2011 silam. Sosok yang saya lihat itu memiliki rambut hitam menjuntai panjang hampir menyapu lantai, wajahnya pucat, dan ia mengenakan gaun putih longgar yang membuat sosoknya seolah melayang di atas panggung Bazaar Fashion Celebration “Langgam Tiga Hati”.

Sosok itu adalah hantu. Hantu dari Putri Gula Oei Hui Lan. Hantu itu benar-benar membuat bulu kuduk saya meremang, bukan hanya karena perasaan tidak nyaman yang menggelayut di hati saya, tapi ada perasaan magis yang mengagumkan. Saya begitu terpesona oleh “hantu” itu, dia begitu nyata, serasa hantu sungguhan, walau saya tahu itu hanya peran pelengkap di sebuah pagelaran tahunan milik majalah Harpers Bazaar Indonesia.

Bagi saya saat itu, si hantu terlalu mempesona. Setiap gerakan yang ia pamerkan di atas panggung sana menyita seluruh perhatian saya, membuat saya terdiam lama, terpesona. Saya merasa terikat, meski hanya searah, tapi saya tahu hati saya sudah tertambat pada si hantu, dan terutama pada sosok asli dibalik si hantu, karena ia begitu sempurna memerankannya. Cukup lama saya mencarinya, dan kini saya tahu persis siapa sosok dibalik hantu Putri Gula Oei Hui Lan, dia adalah Antie Damayanti.

Antie sebagai Putri Gula Oei Hui Lan di Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”

Lahir di Jakarta, 10 Juli 1983, Antie memulai karirnya dengan niatan mulia, membantu seorang teman yang baru saja akan memulai debutnya sebagai fashion designer. Berawal dari sana, ia memberanikan diri untuk mengikuti casting iklan, dan beruntung, ia mendapatkan job iklan pertamanya untuk sebuah produk kecantikan. Namun sayang karirnya harus terhenti karena kedua orangtuanya lebih menginginkan Antie untuk fokus di bangku sekolah, dan menyelesaikan pendidikannya.

Setelahnya, baru pada tahun 2006, Antie memutuskan untuk kembali menggeluti dunia modeling yang sempat ia tinggalkan. Dengan tinggi badan 174cm, dan berat 46 kg, Antie memang tergolong model yang memiliki postur tubuh lebih mungil jika dibandingkan dengan model catwalk lainnya. Tetapi ada satu hal yang sangat menarik dari Antie, yakni karakter wajahnya yang begitu kuat. Ia memiliki gurat oriental yang menarik. Wajahnya tirus dengan garis tulang pipi yang sangat kentara, dan itu yang membuat karakter wajahnya sangat kuat.

Antie oleh Nicoline Patricia Malina

Foto: Portfolio Antie oleh Damn-Inc Models

Sepanjang karir modelingnya Antie telah merasakan berbagai panggung peragaan busana milik desainer ternama Indonesia. Sebut saja nama Biyan, Denny Wirawan, Edward Hutabarat Sapto Djojokartiko, Barli Asmara hingga Ivan Gunawan yang pernah menggunakan jasanya sebagai model pada peragaan busana mereka. Namun mungkin tidak banyak yang tahu bahwa model lulusan D3 Public Relation Interstudy ini menekuni profesi lain sebagai pemain teater.

Peragaan Busana Karya Edward Hutabarat

Trend Show IPMI 2013

Pada tahun 2010 silam bakat terpendam Antie dalam berakting ditemukan oleh tim Teater Populer yang dikepalai aktor kawakan Slamet Rahardjo. Ketika itu, tim Teater Populer tengah menggelar audisi untuk Mercedez Benz yang menginginkan konsep teater pada peluncuran seri mobil terbarunya, dan Antie sebagai salah satu peserta audisi berhasil memikat tim Teater Populer dengan kepiwaiannya memainkan peran. Menjadi bagian dari Teater Populer dan memainkan sebuah peran pada pertunjukkan Mercedez Benz “The Journey” membuat Antie menemukan dunia barunya di atas panggung teater. Tiga bulan lamanya ia mengikuti kelas latihan rutin Teater Populer, dan mempelajari tentang seni peran serta teater.

Penampilan Antie dalam Teater Populer “Pinangan”. Foto: Dokumentasi Teater Populer

Antie dalam “Pinangan” . Foto: Dokumentasi Teater Populer

Banyak hal yang membuat Antie semakin jatuh hati dengan dunia teater, banyak hal yang ia pelajari disana. Teater tak hanya mengajarkannya tentang seni peran dan dunia teater itu sendiri, tapi juga tentang bagaimana melatih diri serta mengenali karakter diri sendiri lebih dalam lagi.

Berlanjut ke bulan Mei tahun 2011, model yang pernah mendapat gelar The Most Sensual Lady di tahun 2000 ini juga terlibat pada pementasan Teater Populer berjudul “Pinangan” yang digelar di Jakarta dan Surabaya. Hingga saat ini, ia masih tetap setia menjalani dua dunianya dengan penuh totalitas. Baginya, jujur terhadap diri sendiri dan bersungguh-sungguh terhadap apa yang dijalani merupakan kunci terpenting ketika ia tengah menekuni profesinya, baik sebagai model maupun pemain teater.

Part 2 Bazaar Fashion Celebration 2011. Langgam Tiga Hati ; Perayaan Fesyen Berbalut Tradisi

“Obin Komara, Ghea Panggabean dan Eddy Betty Persembahkan Yang Terbaik Untuk Negeri. Totally Awesome Collection With Wonderful Show!”

Keroncong, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Keroncong memiliki tiga artian. Pertama, Keroncong dapat diartikan sebagai alat musik berupa gitar kecil berdawai empat atau lima. Kedua, Keroncong adalah irama atau langgam musik yang ciri khasnya terletak pada permainan alat musik Keroncong, yaitu kendang, selo, dan gitar melodi yang dimainkan secara beruntun. Ketiga, Keroncong merupakan jenis orkes yang terdiri atas biola, seruling, gitar, ukulele, banyo, selo, dan bass.

Tapi bagi saya pribadi terlepas dari bermacam penafsiran itu, Keroncong memiliki satu pemaknaan penting. Keroncong = Musik. Keroncong adalah satu jenis musik yang kemudian dipertegas sebagai musik asli kepunyaan Indonesia.

Yup Keroncong adalah musik asli kepunyaan Indonesia. Keroncong adalah musik asli serta salah satu pencapaian tertinggi dari para musisi Indonesia di masa lampau dalam bermusik. Keroncong tidak lain merupakan musik asli kepunyaan Indonesia hasil kreatifitas anak negeri bukan musik bawaan dari Portugis seperti yang selama ini banyak diketahui. Hal ini bukan tanpa dasar yang jelas, Keroncong diketahui sebagai musik asli Indonesia setelah Jay Subijakto selaku show director dan Erwin Gutawa sebagai music director Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” mengadakan sebuah riset panjang mengenai musik Keroncong di beberapa daerah di Indonesia yang disinyalir sebagai tempat-tempat awal munculnya musik Keroncong.

EdBe by Eddy Betty

Setelah pada tahun sebelumnya, Majalah Harper’s Bazaar Indonesia sukses menyelenggarakan sebuah pagelaran busana akbar dipadukan dengan live music layaknya sebuah mega konser dalam Bazaar Fashion Concerto, kali ini Majalah Harper’s Bazaar Indonesia melaksanakan sebuah pagelaran busana dari tiga orang desainer kenamaan Indonesia dalam balutan budaya serta tradisi yang kental tanpa melupakan ke khasan signature event Bazaar, fashion show dengan live music.

Keroncong sebagai salah satu musik asli Indonesia kemudian dipilih sebagai embrio utama dalam penyelenggaraan Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”. “Langgam Tiga Hati” yang menjadi tema besar dalam terselenggaranya acara ini memiliki arti tersendiri. Langgam memiliki arti irama, sementara tiga hati merupakan metamorfora dari tiga orang desainer yang ikut berpartisipasi dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Jika dirangkumkan secara keseluruhan, “Langgam Tiga Hati” mungkin dapat ditafsirkan sebagai penyatuan irama karya dari tiga desainer Indonesia dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Ketiga orang desainer yakni Obin Komara, Ghea Panggabean, dan Eddy Betty sempat mengatakan bahwa koleksi-koleksi yang mereka tampilkan pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah interpretasi masing-masing dari mereka saat mendengar kata keroncong.

Menjadi sangat menarik karena meski keroncong menjadi gagasan utama atas terselenggaranya acara ini, dan masing-masing desainer sepakat bahwa saat mendengar kata Keroncong yang terpikir adalah tentang budaya, serta tradisi, namun ketiganya menghadirkan koleksi busana yang amat berbeda satu sama lain. Busana ready to wear berbahan batik, sampai gaun malam model cheongsam menjadi interpretasi tersendiri.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Terbagi atas 5 sekuens parade busana, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 terlebih dahulu dibuka dengan parade busana Sariayu “Etnika Nusa Tenggara” oleh Deden Siswanto yang seolah menjadi sajian pembuka sebelum sampai kepada sajian utama “Langgam Tiga Hati”. Pada rangkaian koleksinya untuk Sariayu ini, Deden mengolah kain-kain tradisional khas Nusa Tenggara dalam busana yang kaya akan  detail dan beragam tekstur bahan.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Parade busana Sariayu ini sekaligus pertanda diluncurkannya 26 trend warna 2012 “Etnika Nusa Tenggara” dari Sariayu.

EdBe oleh Eddy Betty

EdBe oleh Eddy Betty with Darell Ferhostan as Model

Setelahnya, serangkaian koleksi busana ready to wear dari EdBe(baca: edibi) yang merupakan lini kedua milik Eddy Betty hadir sebagai pembuka pagelaran busana utama “Langgam Tiga Hati”. Awalnya saat pertama kali tahu bahwa Eddy Betty akan menampilkan koleksi dari lini EdBe, saya mengira koleksi yang akan ditampilkan ini adalah koleksi yang sama seperti yang pernah ia tampilkan pada pagelaran busana tunggal EdBe “Love Is The Air”, mengingat jarak waktu yang sangat singkat dari pagelaran busana tersebut, tapi ternyata tidak. Koleksi yang ditampilkan Eddy Betty ini sebagian besar adalah koleksi baru meski ada beberapa koleksi lama, namun dengan padupadan berfilosofi “Mix Don’t Match” yang dianut EdBe hal ini tidak terlalu terlihat.

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Reti Ragil Riani

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Filantropi

Untuk koleksinya ini EdBe menghadirkan Batik Kudus sebagai material dasar pada tiap potong busana. Palet warna-warna menyolok serta cutting asimetris ala harajuku yang jadi ciri khas EdBe kemudian ditampilkan dengan tabrak warna dan motif. Make up para model yang dibuat sedikit gothic dan “berantakkan” serta aksesoris pelengkap seperti gelang yang melilit pada tangan para model membuat rangkaian koleksi EdBe yang ia beri judul “Loves Batik Kudus” terlihat semakin menarik serta terkesan sangat anak muda dan funky.

Ghea Panggabean

Ghea Couture oleh Ghea Panggabean. Model: Drina Ciputra

Ghea Panggabean membagi sekuens parade busananya menjadi tiga sub sekuens. Ia membuat parade busananya layaknya drama tiga babak tentang perjalanan hidup Oei Hui Lan. Oei Hui Lan sendiri adalah seorang Putri Raja Gula dari Semarang yang memiliki kisah hidup tragis.

Sebagai putri orang terkaya di Indonesia juga di Asia Tenggara saat itu, Oei Hui Lan justru memilih cara bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Kisah tragis dari Oei Hui Lan inilah yang kemudian menginspirasi Ghea dalam rangkaian koleksi terbarunya. Kisah hidup Oei Hui Lan yang terjadi sekitar tahun 1920an adalah interpretasi Ghea terhadap musik Keroncong yang juga mulai dikenal luas pada masa-masa itu.

Salah satu koleksi di sekuens 1 Ghea Panggabean

Drama tiga babak hidup Oei Hui Lan dijabarkan dalam tiga sekuens parade busana yang pada masing-masing sekuens terasa amat berbeda meski memiliki satu benang merah yang sama yakni nuansa oriental yang sangat kental.

Sekuens 1 Ghea Panggabean. Model: Ayu Faradilla

Pada babak atau sekuens pertama, set busana cocktail dengan motif sulam dan bunga-bunga serta sentuhan gaya bohemian  berpadu dengan nuansa oriental menjadi gambaran dari romantika masa-masa awal hidup Oei Hui Lan selama di Indonesia.

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model : Kelly Tandiono

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model: Juanita Haryadi

Motif-motif keramik porselen khas Negeri Tirai Bambu yang sejak lama telah dikenal sebagai salah satu trade mark budaya Tiongkok yang sangat akrab dengan kehidupan Oei Hui Lan dihadirkan sebagai inspirasi utama pada sekuens kedua.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Dramatisasi Antie Damayanti

Babak terakhir dalam drama tiga babak kisah hidup Oei Hui Lan adalah sekuens yang bagi saya pribadi tidak akan pernah terlupakan. Diiringi lagu “Surya Tenggelam” milik mendiang Chrisye, aura magis pada sekuens ini benar-benar terasa.Terlebih lagi saat Antie Damayanti, salah seorang model pada sekuens Ghea muncul di atas panggung dengan sebuah koreografi yang begitu dramatis yang seolah menggambarkan kisah hidup penuh drama yang dijalani Oei Hui Lan.

Tidak berhenti sampai disitu, Dominique Diyose yang kemudian tampil dipanggung mengenakan sebuah payung yang tertutup kelambu hitam seperti menyerupai perumpamaan penampakkan hantu Oei Hui Lan yang kabarnya sering terlihat di hotel keluarga Oei Hui Lan.

Dominique Diyose, "Hantu" Oei Hui Lan

Bagi saya, sekuens ini lebih menyerupai kisah kematian Oei Hui Lan yang tragis dibandingkan dengan interpretasi  gaya hidup jetset super mewah yang dijalani Oei Hui Lan semasa hidupnya. Pada sekuens ini saya lebih membayangkan cerita kematian Oei Hui Lan yang tragis serta cerita seram tentang hantu Oei Hui Lan yang konon sering menampakkan diri di hotel keluarga di Semarang.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Dominique Diyose

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Prinka Cassy

Secara keseluruhan sekuens yang menghadirkan koleksi gaun malam dari lini teranyar Ghea Panggabean yang ia beri nama Ghea Couture ini adalah sekuens yang paling menyita perhatian saya. Gaun-gaun malam dengan dominasi warna hitam ditambah motif-motif bordir bernuansa oriental yang disajikan dalam warna emas menambah kekuatan drama dalam sekuens ini.

BIN HOUSE Oleh Obin Komara

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Kimmy Jayanti

Jika pada tahun sebelumnya koleksi dari BIN HOUSE untuk Bazaar Fashion Concerto diwakili oleh Wita, pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini BIN House diwakili langsung oleh sang pendiri, Obin Komara.

Lebih senang disebut sebagai “tukang kain”, Obin Komara mempersembahkan 15 koleksi busana. Pada koleksinya kali ini BIN HOUSE bermain-main dengan cutting jas pada kebaya. Beragam kain-kain cantik yang selalu jadi andalan BIN House diwujudkan dalam kebaya-kebaya  bersilluet modern dengan teknik tripping dan stitching yang memperkuat tekstur serta karakter kain.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Ines Arieza

Meski menjadi desainer yang paling sedikit mengeluarkan koleksi pada moment ini, keseluruhan koleksi dari Obin Komara untuk BIN HOUSE menjadi sangat menarik dengan arahan koreografi centil bagi setiap model pada sekuens BIN HOUSE.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Evie Mulya

Permainan kain dari beberapa model seperti Kimmy Jayanti, Evie Mulya, dan Ines Arieza juga menambah point plus dalam sekuens BIN HOUSE.

Eddy Betty

Eddy Betty. Model: Nien Indriyati

Eddy Betty tidak hanya menampilkan lini EdBe yang selama ini ia khususkan untuk busana-busana batik ready to wear, pada Sariayu Bazaar fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini ia juga mempertontonkan koleksi teranyar dari lini utamanya, Eddy Betty. Ia kemudian memilih bintang Hollywood legendaries, Elizabeth Taylor sebagai inspirasi utama karyanya. Melalui koleksinya ia seolah  membayangkan lambing glamoritas Hollywood yang ikonis ini ditempatkan dalam sebuah scene pertunjukkan Keroncong di Broadway, ditengah musim dingin sambil mengenakan kebaya cantik nan mewah.

Eddy Betty. Model: Dea Nabila

Suhu rendah pada musim dingin tidak lagi menjadi halangan ketika Eddy Betty menambahkan aksen penghangat berupa bulu-bulu, coat, dan mantel yang terbuat dari kulit hewan berbulu tebal namun terlihat sangat lembut.

Tidak hanya menampilkan kebaya yang berpadu dengan aksen penghangat, pada sekuensnya, Eddy Betty turut menampilkan beberapa koleksi kebaya yang ia desain khusus untuk pernikahan. Salah satu kebaya untuk pernikahan yang ia tampilkan adalah kebaya yang ia desain untuk pernikahan model cantik Laura Basuki beberapa waktu lalu. Kebaya pernikahan tersebut dibawakan langsung oleh sang mempelai, Laura Basuki.

Eddy Betty. Model: Laura Basuki

Bagi saya, secara keseluruhan, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah satu kesatuan karya masterpiece dari semua yang terlibat didalamnya. Terlepas dari beberapa kekurangan yang masih terdapat dalam penyelenggaraannya, Sariayu Bazaar Fashion Celebration meninggalkan kesan mendalam yang tidak akan terlupakan,dan membuat saya semakin menantikan acara tahunan ini di tahun mendatang.