Cirebon, Benda Kerep, dan Perjalanan Tanpa Persiapan

P1060557

Terik sekali. Pikiran itu yang pertama kali mampir di kepala saya begitu menginjakan kaki di Kota Cirebon. Sebelumnya saya memang pernah singgah di Cirebon, kurang lebih dua tahun lalu, tapi hanya sebentar saja, kurang dari tiga jam hingga saya lupa bagaimana teriknya sinar matahari di kota ini. Rasanya matahari di Cirebon lebih bersemangat memancarkan sinarnya dibanding Jakarta. Mungkin karena letak Cirebon yang termasuk di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Pikiran tentang teriknya Cirebon diamini pula oleh teman-teman saya. Ya, saya tidak sendirian tiba di kota ini, ada sekitar 26 orang lainnya selain saya. Mereka semua adalah teman satu angkatan saya di program studi Antropologi Sosial Universitas Indonesia.

Diantara teman-teman yang lain, motif bertandang ke Cirebon saya adalah yang paling berbeda. Mereka memiliki tujuan yang jelas, melakukan persiapan penelitian, atau istilahnya preliminary research untuk salah satu mata kuliah yang mengharuskan penelitian lapangan. Sementara saya? Saya hanya ikut-ikutan karena hanya sekadar ingin jalan-jalan. Mengesalkan ya? Setidaknya bagi teman-teman saya, yang lainnya serius memutar otak melakukan pengamatan, dan saya jadi serasa turis. Jangan tanyakan dulu kenapa saya tidak menjadi bagian dari ekspedisi Cirebon ini meskipun saya satu angkata dengan mereka. Dilain waktu mungkin saya akan menceritakannya, tetapi tidak sekarang. Walhasil, karena yang ada di alam pikiran saya bukan untuk persiapan penelitian, saya datang ke Cirebon dengan “otak kosong”. Jangankan studi pustaka terlebih dahulu, membaca berita ringan yang bertebaran di dunia maya saja tidak, tapi mungkin disitu menariknya. Dengan kepala yang “kosong” ini saya melihat dan mengamati berbagai hal di Cirebon dengan penuh ketakjuban. Ada hal-hal yang jadi begitu menarik karena efek keterkejutan akibat ketidaktahuan saya terhadap ini itu di Cirebon. Salah satunya adalah tentang Kampung Benda Kerep.

Kampung Benda Kerep terletak dipinggiran Kota Cirebon. Dari perkiraan jarak yang saya kira-kira sendiri dengan penuh ke-sok-tahuan, sebenarnya letaknya tidak terlampau jauh, perbandingannya tidak sampai Jakarta-Bogor. Dua minggu sebelum keberangkatan ke Cirebon, sebenarnya salah satu dosen saya telah memberikan gambaran umum tentang Benda Kerep. Katanya, kampung ini menolak segala bentuk modernisasi, bahkan untuk listrik apalagi laptop. Namun, fakta lapangan ternyata tidak sampai sebegitunya. Benda Kerep telah dialiri listrik sejak tahun 1987 meskipun awalnya sempat mendapatkan gelombang kontra dari para ToMas alias Tokoh Masyarakat. Menurut informan rombongan kami, keberadaan laptop pun sebenarnya tidak dipermasalahkan, hanya saja, masyarakat disana memang hanya satu orang yang sudah mampu memilikinya. Saya maklum kenapa dosen saya keliru memberikan informasi. Namanya juga manusia yang mungkin saja bisa salah dan lupa. Atau bisa saja memang informan dosen saya yang keliru memberikan informasi. Tidak apa, yang penting faktanya sudah terungkap, kan?

Konon, berdasarkan hasil tabulasi membaca kilat di laman-laman berita dunia maya, Benda Kerep ini didirikan oleh seseorang bernama Kyai Sholeh sekitar 300 tahun lalu. Untuk mencapai Benda Kerep, saya dan teman-teman saya harus menerapkan prinsip “going native”, alias “menjadi seperti penduduk asli” alias menerapkan cara-cara keseharian penduduk Benda Kerep, salah satunya adalah menutup aurat yang berlaku menurut hukum syariat Islam. Rombongan kami yang perempuan, termasuk saya mendadak berhijab semua, sementara salah satu teman laki-laki saya yang mengenakan celana pendek langsung melilitkan kain sarung yang ia bawa dari rumah. Kurangnya hanya satu, sebagian besar rombongan perempuan tidak mengenakan kain atau rok panjang sebagai bawahan karena tidak tahu bahwa ternyata penggunaan celana bagi perempuan ternyata sangat dilarang. Untungnya masyarakat Benda Kerep, termasuk informan rombongan, ternyata sudah sangat memaklumi kelakuan tetamu yang datang.

P1060559

P1060560

P1060567

Selain penerapan “going native” perjalanan mencapai Benda Kerep juga sangat mengesankan. Rombongan kami sempat nyasar beberapa kali hingga aksi putar memutar arah mobil merupakan hal yang lumrah. Benda Kerep yang terletak di seberang aliran sungai yang cukup deras juga menjadi tantangan tersendiri karena tidak ada jembatan! Ya, benar sekali, kamu tidak salah baca. Tidak ada jembatan menuju Benda Kerep. Tidak perlu memekik kata “WOW!” karena ketiadaan jembatan bukan berarti kami harus berenang atau main basah-basahan menerabas sungai, yang kami harus lakukan lebih mudah daripada itu, kami hanya perlu melangkahkan kaki dengan lincah diatas batu-batu pijakan yang tersusun rapi membelah arus. Beruntunglah rombongan kami karena meski rintik hujan sudah membasahi tanah, tapi air sungai belum menampakan tanda-tanda akan meluap.

Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya begitu melangkahkan kaki di Kampung Benda Kerep. Laki-laki disana hampir semuanya mengenakan kain seperti sarung, gamis, dan peci tinggi yang kemudian saya ketahui dinamakan “Peci Sufi” atau “Peci Sombong” oleh masyarakat sekitar. Kenapa “Peci Sufi”? Saya menduga karena bentuknya mirip peci-peci yang dikenakan penari-penari sufi, tapi kenapa dinamakan “Peci Sombong”? Nah untuk yang ini informan saya mengatakan dengan bangga “Karena kalau sudah pakai peci ini jadi terlihat gagah, jadi seperti sombong”. Sedangkan para perempuan Benda Kerep dalam kesehariannya mengenakan kain batik untuk bawaha, atasan seperti blus lengan panjang, dan tentunya hijab, walau ternyata bukan hijab “syar’i” seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Benda Kerep juga dikenal sebagai “Kampung Santri” karena keberadaan pesantren-pesantren disana, jumlah Kyai-nya pun ternyata cukup banyak hingga informan rombongan beberapa kali menanyakan “Dulu dosen kalian kontak-kontakan dengan Kyai yang mana (siapa)?”.

Selama kurang lebih dua jam kami berada di Benda Kerep, teman-teman saya menanyakan hal ini itu, sementara saya lebih banyak diam, dan sesekali mencicipi dodol mangga gedong yang disajikan tuan rumah serta menyeruput sirup koko pandan dingin yang cukup menyegarkan. Sambil menikmati dodol dan meneguk sirup, saya memperhatikan proses tanya-jawab yang dilakukan teman-teman saya. Menarik. Ada banyak informasi yang saya ketahui tentang masyarakat Benda Kerep. Mereka yang ketakutan setengah mati dengan orang-orang Dinas Kesehatan yang terlibat dalam PIN (Pekan Imunisasi Nasional) sampai-sampai rombongan kami dikira “orang PIN” dan ketika kami berjalan menyusuri kampung, anak-anak disana teriak “Polio Polio Polio!!!” sambil menunjuk kami lalu berlari ke dalam rumah. Mereka yang akhirnya membolehkan masuknya listrik, beberapa alat elektronik termasuk handphone, tetapi sama sekali menentang adanya televisi dan radio. Mereka yang mayoritas menerapkan sistem pernikahan endogami. Mereka yang masih sangat menerapkan nilai-nilai Islam sehingga dilarang keras untuk berpacaran. Dan mereka, maaf ralat, tepatnya teman-teman saya dan informan rombongan yang jadi mencandai salah satu teman perempuan saya dan menggodanya habis-habisan agar “berjodoh” dengan anak laki-laki sulung informan rombongan. Sayangnya keseruan acara tanya-jawab harus selesai karena senja semakin jauh. Sebelum adzan magrib berkumandang kami bergegas meninggalkan Benda Kerep.

P1060589

 

P1060590

P1060592

Malamnya perjalanan kami lanjutkan dengan berkeliling Kota Cirebon, targetnya kali ini adalah pelabuhan batu bara Kota Cirebon dan titik-titik prostitusi. Pelabuhan batu bara Kota Cirebon tidak terlalu jauh dari kota, setibanya disana kami berhasil mengelilingi Zona A setelah dua orang teman saya melakukan negosiasi yang cukup alot dengan petugas keamanan. Di pelabuhan satu-satunya hal yang menarik perhatian saya adalah kapal-kapal besar yang bersandar ke Dermaga, ketika malam mereka terlihat indah, setidaknya bagi saya. Berlanjut ke titik-titik prostitusi, titik-titik ini berada di jalan-jalan yang saya lupa namanya, tapi saya ingat ada truk-truk besar disana. Malam itu tidak terlalu banyak pekerja seks yang saya lihat menunggu pelanggan, hanya beberapa saja yang ada dipinggir jalan, diatas becak, berdiri di sela-sela deretan truk, dan diatas motor. Dua kali rombongan kami memutari ruas jalan itu sebelum berakhir di alun-alun Kota Cirebon dan menikmati segelas kopi atau coklat panas.

Keesokan harinya perjalanan saya di Kota Cirebon harus berakhir. Sejak awal saya memang memutuskan untuk berpisah lebih awal dengan rombongan karena harus mengejar sebuah acara diskusi di Jakarta yang berlangsung jam satu siang. Setengah jam sebelum keberangkatan kereta saya sudah mendaratkan kaki di stasiun dan sempat-sempatnya menyantap empal gentong di depan stasiun. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta saya mengingat-ingat semua rangkaian perjalanan ke Cirebon yang terkesan impulsif karena hanya ingin jalan-jalan saja. Saya menganggap perjalanan ini tanpa persiapan. Seperti yang saya ceritakan diawal, saya tidak sempat membaca apapun tentang medan di Cirebon, tapi saya sangat senang karena saya mendapat pengalaman-pengalaman menarik selama di kota yang panas ini. Hanya satu saja yang masih mengganjal hati saya. Saya teringat Bapak, dosen, sekaligus pembimbing akademik yang sudah saya anggap seperti Ayah sendiri. Beliau tidak menepati janjinya untuk pergi bersama kami, padahal kami sudah berangan-angan untuk menikmati empal gentong dan tahu gejrot bersama. Bapak pergi lebih dulu, bukan ke Cirebon, tapi pergi ke alam lain yang selalu jadi misteri, kematian.Bapak pergi menghadap Yang Maha Segalanya dua minggu sebelum keberangkatan kami.

P1060595

P1060579

Cerita Tentang si Seniman dan Seorang Teman

Dia selalu menarik di mata saya. Ada hal berbeda dari pancaran auranya. Mungkin terdengar aneh, tapi memang itu yang saya rasa. Entah kenapa saya selalu merasa jiwanya telah lama mengembara dan kebetulan saja (jika bisa disebut kebetulan) saat ini sedang mampir ke Bumi dalam wujudnya yang sekarang. Mungkin saya berlebihan, mungkin juga tidak, kalau kamu mengenalnya seperti saya mengenal dia. Ya, dia, kenalkan, teman saya, Nastiti Dewanti.

P1040339Saat saya menuliskan ini dan mungkin ia akan membacanya, mungkin dia tidak sedang berada disekitar saya. Saya yakin benar bahwa ia masih berada di satu daerah terpencil sana dan sedang melaksanakan rangkaian tugas mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif (MPE) dari program studi Antropologi. Saya dapat membayangkannya mengenakan bucket hat, kaus oblong atau kemeja lapangan dan mungkin celana lapangan. Berjalan-jalan keluar masuk rumah nelayan di pesisir pantai dan sibuk mewawancari mereka satu persatu guna mencari data penelitian, atau mungkin saja ia sedang berjalan menyusuri hutan bakau, atau mungkin juga sedang berada di “ruang kerja” dadakannya yang menghadap langsung ke hutan bakau yang rindang.

Lalu wajahnya. Saya selalu dapat membayangkan wajahnya itu. Wajah yang kadang membuat saya segan setengah mati entah karena apa. Wajah yang menurut saya seperti menyimpan banyak misteri padahal saya sudah mengenalkan dua tahun lebih dan kini berteman baik dengannya. Terdengar aneh memang, tapi itulah kenyataannya. Sulit untuk menjelaskan dengan kata-kata karena kamu mungkin harus mengenalnya lebih dulu baru dapat memahami apa yang saya bicarakan. Tapi, mari singkirkan semua tentang sisi “misteriusnya” yang selalu saya rasakan, lalu biarkan saya bercerita tentang banyak hal lain yang menarik tentangnya. Dan semua cerita bermula pada sore itu.

_MG_0999Sebelum senja kami berdua sudah duduk di kursi yang berada di halaman belakang rumahnya. Ditemani segelas kopi susu hangat untuk saya dan kopi hitam kegemarannya. Berdua hari itu kami banyak bertukar cerita, tentang kegiatan yang kami lakukan bersama beberapa bulan belakangan ini, tentang kegiatan perkuliahan yang sama-sama sedang kami jalani, tentang cerita selingan tentang beberapa teman, dan terutama, tentang dia, tentang seorang Nastiti Dewanti.

Bukan tanpa sebab saya katakan tentang dia adalah yang utama. Agenda saya hari itu memang mewawancarainya untuk kepentingan salah satu tulisan eksperimental saya. Sebenarnya dari jauh-jauh waktu saya sudah menduga akan ada banyak hal menarik yang akan saya dapatkan dari rangkaian pertanyaan saya untuk, tapi saya masih saja terpukau dengan cerita-cerita yang terucap dari bibirnya. Bagi saya semua yang ia ceritakan tentang aktivitasnya sangat mengesankan, terutama untuk segala pencapaiannya di usia yang masih sangat muda. Cerita-cerita darinya sekaligus mengamini semua candaan yang kerap terlontar dari saya bahwa ia adalah “Si Seniman Totok”.

Berbincang dengan saya, Titis memutar kembali ingatannya pada waktu-waktu lalu, saat ia pertama kali terjun ke dunia seni. Menurut ceritanya, kala itu ia masih remaja usia belasan yang dilarang kedua orangtuanya untuk memasuki salah satu institusi pendidikan tinggi ternama di bidang seni di Jakarta. Alasannya cukup memusingkan, orangtuanya ingin agar Titis dapat terlebih dahulu membuktikan bahwa ia benar-benar bisa ”hidup” dan menghasilkan karya di dunia seni, padahal Titis sudah kadung jatuh cinta dengan segala dunia seni terutama seni rupa. Enggan menggantungkan harapannya untuk dapat memperdalam ilmu di institut kesenian impian, Titis mencari cara pembuktian kepada kedua orangtuanya. Video Art kemudian ia pilih sebagai senjata perlawanannya karena alasan yang cukup sederhana, ia perlu media seni yang dianggapnya instan namun dapat membawanya mengikuti sebuah pameran seni.

_MG_0996Bekerjasama dengan teman-teman SMA-nya, Titis membuat sebuah Video Art bertajuk “Jakarta Kata Gue, Mubazir” yang kemudian ia ikutkan dalam Video Art Competiton Jakarta Biennale Exhibition 2012. Tidak dinyana, karya Video Art Titis menyabet gelar juara sekaligus mengantarkannya sebagai pemenang dan peserta termuda dalam Jakarta Biennale Art Exhibition 2012. Kegilaan seninya pun tidak berhenti sampai disana, bakat Titis dalam merangkai kata dalam bentuk sajak terendus sastrawan Nirwan Dewanto yang aktif di Komunitas Salihara dan mengundang Titis secara khusus dalam Lokakarya Seniman Membaca Sastra yang digagas Komunitas Salihara. Mengulang kasus kemenangannya di Jakarta Biennale Exhibition 2012, Titis kembali menyabet gelar sebagai Best Reader termuda dalam Lokakarya dan dikirim sebagai perwakilan pembaca sajak di International Literary Biennale Salihara 2012. Di ajang bergengsi itu, Titis sekali lagi membuktikan kepiawaiannya dalam membaca sajak dengan membawa pulang predikat Best Reader.

Belum cukup dalam seni Video Art dan Sastra, Titis turut merambah lingkup seni rupa lainnya, yakni gambar ilustrasi dan kerajinan tangan. Gambar-gambar yang awalnya ia ciptakan sebagai intepretasi visual dari sajak-sajak yang ditulisnya kemudian membawa Titis mengikuti sebuah pameran kolektif tentang Drawing Art bertajuk “Lunch Time” pada tahun 2013. Setelahnya ia kembali mengikuti pameran seni rupa yang diselenggarakan oleh Ruang Rupa Jakarta di tahun 2014, namun kali ini memilih seni rupa Object Art, dan ditahun selanjutnya ia beralih pada seni kerajinan tangan pada pameran bersama perupa-perupa perempuan dalam pameran seni “Buka Warung”.

_MG_0995Dengan segala pencapaiannya di bidang seni , mungkin kamu mengira Titis telah resmi menjadi salah satu dari mahasiswa seni? Sayangnya tidak. Meski sempat mendapat tawaran beasiswa separuh biaya kuliah di Institut Kesenian Jakarta, Titis akhirnya lebih memilih untuk menjadi mahasiswa program studi Antropologi di Universitas Indonesia. Pilihan ini diambilnya berdasarkan saran beberapa orang yang sempat menjadi juri penentu kemenangannya di Jakarta Biennale Art Exhibition yang menilai bahwa karya Video Art Titis sangat dekat dengan nuansa serta nilai-nilai Antropologis. Pilihannya sebagai mahasiswa Antropologi ini pula yang membuat saya mengenalnya dengan baik. Dia senior saya. Satu tahun diatas saya. Sekali waktu menjadi satu kelompok penelitian kecil-kecilan dan banyak waktu lainnya menjadi teman berbincang yang menyenangkan.

Saya kemudian mencoba mengingat-ingat lagi tentang apa-apa saja kenangan saya bersama Titis. Salah satu yang paling berkesan rasanya adalah saat “jalan-jalan berkedok penelitian”-nya mahasiswa Antropologi, ke desa Cigugur, Kuningan, Jawab Barat. “Jalan-jalan berkedok penelitian” itu kira-kira berlangsung setahun lalu, kami berdua ditempatkan satu kelompok di satu rumah tinggal yang sama. Selama lima hari empat malam saya tinggal serumah bersama Titis, saya jadi tahu banyak kebiasaannya, termasuk kebiasaan uniknya yang seperti orang mengunyah saat tidur. Di rumah Induk Semang, Titis seperti anak kesayangan, Kakak Tertua yang penurut dan ringan tangan membantu pekerjaan sementara saya adalah adik bandel yang impulsif dan kadang suka sekehendak hati saja. Jadi ya tidak heran kalau Titis kadang memarahi saya karena kelakuan saya yang (kadang) ajaib. Untungnya, dia masih mau duduk berdua dan berbincang diberanda depan rumah sembari menikmati teh manis hangat serta aneka gorengan saat pagi.

Coba tengok blog Titis di nastitidewanti.blogspot.com