Ketika Semua Orang Adalah Pemimpin, Siapa yang Bersedia Dipimpin? Sebuah Refleksi Diri Tentang “Pemimpin”

Sepeda motor saya pacu dengan santai sepanjang Jalan Antasari, Jakarta Selatan. Di bawah jalan layang yang dihiasi lampu beraneka warna, biasanya perjalanan ini akan terasa menyenangkan. Malam yang syahdu, jalanan sepi, dan cahaya warna-warni, rasanya saya tidak perlu meminta lebih dari suasana malam ini. Namun, ada yang sedikit mengganjal pikiran ketika mengingat beberapa jam waktu kebelakang sebelum saya melintasi jalan ini. Beberapa jam lalu saya masih berada di dalam sebuah ruangan bersama beberapa teman. Mereka masih muda, seusia dengan saya, dan sukses di bidangnya masing-masing. Bersama-sama mereka di ruangan itu, obrolan silih berganti, namun ada satu topik yang terperangkap dan tidak mau lepas dari rongga kepala saya. Topik mengenai pemimpin yang kemudian punya turunan “menjadi pemimpin masa depan”, “mempersiapkan pemimpin masa depan”, “generasi muda sebagai pemimpin masa depan yang membawa perubahan” dan narasi-narasi serupa itu.

Diantara perbincangan bertopik pemimpin dan segala turunannya itu, saya sempat menyeletuk “Kalau gue nggak mau jadi pemimpin gimana?”. Seorang teman laki-laki di samping saya segera menoleh ke arah saya, begitu pula wajah-wajah lainnya. Sementara orang yang jadi pusat perhatian hanyacengar-cengir sarkastik. Sebenarnya saya tidak berniat memunculkan sinisme terhadap topik tersebut, hanya saja, mungkin saya yang terlalu gemar menjadi oposisi untuk beberapa hal. Salah satunya tentang topik semacam ini. Hal ini mungkin terjadi karena setiap kali topik “pemimpin” atau “kepemimpinan” muncul, kepala saya langsung penuh dengan kegiatan-kegiatan pelatihan kepemimpinan, narasi-narasi di berbagai media tentang menjadi seorang pemimpin, hingga beasiswa-beasiswa yang jelas-jelas memuat kalimat “untuk pemimpin muda”, “kepemimpinan” dan sebagainya, dan sebagainya. Sampai-sampai kadang saya merasa bahwa kita, terutama anak muda, dituntut untuk berlomba-lomba menjadi atau mendapatkan posisi sebagai pemimpin. Positif memang, saya akui, karena dalam diri saya pun masih begitu kuat doktrin “Setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri”. Ya, saya setuju, setiap manusia memang dilahirnya sebagai pemimpin, setidaknya mereka sudah pasti menjadi pemimpin atas dirinya sendiri. Namun, saya ingin coba sedikit melepaskan doktrin itu karena saya tidak ingin berbicara tentang topik ini di level individu.

Sepanjang perjalanan pulang menyusuri Jalan Antasari hingga wilayah Jakarta Timur yang berbatasan dengan Bogor isi kepala saya begitu riuh. Rasanya seperti ada ratusan makhluk kecil yang sibuk membongkar tumpukan ingatan tentang satu kata itu, pemimpin. Saya bingung, “Kenapa (berlomba-lomba) menjadi seorang pemimpin itu penting?” Kebingungan saya lantas semakin menjadi-jadi ketika pertanyaan lanjutan muncul, “Sebenarnya pemimpin itu apa sih? Pemimpin menurut siapa? Pemimpin untuk siapa?”

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa ingatan saya pada salah satu mata kuliah yang pernah saya ikuti. Di mata kuliah itu saya diharuskan untuk membaca sebuah disertasi untuk memperoleh gelar Ph.D Rijksuniversiteit Leiden milik Johszua Robert Mansoben bertajuk “Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya”. Dalam menyelesaikan disertasinya, J.R Mansoben mengumpulkan data pedukung dalam kurun waktu dua tahun, terhitung tahun 1988 hingga awal tahun 1990. Penjelasan J.R Mansoben sangat terang terkait sistem politik tradisional di Irian Jaya dalam menentukan pemimpinnya. Ada 4 sistem politik yakni sistem big man atau pria berwibawa, sistem kerajaan, sistem ondoafi dan sistem campuran. Diantara 4 sistem itu yang paling membekas di kepala saya tentu saja adalah sistem big man atau pria berwibawa.

Sistem pria berwibawa diterapkan oleh orang Dani, orang Asmat, orang Me, orang Meybrat, dan orang Muyu. Salah satu ciri terpenting dalam konsep pria berwibawa adalah sifat kewibawaan dan pencapaian seseorang. Maksudnya, seorang pria berwibawa dapat mencapai kedudukannya saat ia memiliki kewibawaan yang diperoleh karena kecakapan-kecakapannya dalam berbagai hal. Bila dibagi dalam dua garis besar, kecakapan yang harus dimiliki pria berwibawa meliputi kecakapan untuk memanipulasi orang-orang dengan jalan berdiplomasi sehingga ia mendapatkan banyak dukungan dan kecakapan mengumpulkan atau memanipulasi sumber-sumber daya untuk mencapai kepentingan sendiri. Berdasarkan hal ini maka seorang pria berwibawa harus memiliki bukti konkret dari kewibawaannya seperti citra bahwa ia merupakan seseorang yang memiliki kecakapan-kecakapan tertentu, misalnya pandai bertani, pandai berburu, pandai berdiplomasi, pantai berpidato, pandai memimpin upacara-upacara ritual, berani memimpin perang dan memiliki kekuatan magis. Selain itu, keberadaan atribut-atribut seperti kekayaan yang terlihat atau atribut yang dikenakan akan dilihat pula sebagai bukti konkret.

Bukti konkret. Atribut yang dikenakan. Kekayaan yang terlihat. Konsep pria berwibawa telah membawa satu tawaran kriteria pemimpin. Ia yang memiliki segudang kecakapan-kecakapan dengan bukti konkret, pria berwibawa. Tetapi sayangnya, itu kan versi orang Dani, orang Asmar, orang Me, orang Meybrat, dan orang Muyu. Lalu, kriteria kita (saya, kamu, kelompok-kelompok masyarakat di sekitarmu, kelompok anak muda di Indonesia, atau bangsa Indonesia dewasa ini) apa ya? Siapa ya bisa disebut pemimpin? Kenapa ia layak disebut pemimpin? Pemimpin yang seperti apa sih sebenarnya?

Satu lagi memori yang muncul dalam kepala saya ketika berbicara tentang pemimpin adalah keterkaitan erat dengan konsep lainnya, kepemimpinan. Bila saya hanya merujuk pada definisi KBBI, kepemimpinan adalah perihal pemimpin atau cara memimpin. Namun, jika saya mengingat kembali penjelasan konsep kepemimpinan milik McShane dan Von Glinow (2010), kepemimpinan dijelaskan sebagai kemampuan seseorang untuk memberikan pengaruh, motivasi, dan kemungkinan untuk berkontribusi pada efektivitas organisasi atau kelompok tempat mereka bernaung. Berdasarkan argumentasi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa seorang pemimpin yang memiliki nilai-nilai kepemimpinan yang baik mampu memberikan pengaruh, motiviasi, dan berkontribusi pada kelompok yang ia pimpin sehingga menghasilkan kinerja yang efektif sehingga kelompok atau organisasi tersebut mampu mencapai target, tujuan maupun cita-cita yang diimpi-impikan.

Dulu saya ingat benar bahwa katanya, pemimpin itu harus memiliki aspek-aspek kepemimpinan yang baik. Mungkin aspek-aspek itu seperti yang dijelaskan McShane dan Von Glinow, atau mungkin bisa kembali berkaca pada sistem politik tradisional pria berwibawa di Irian Jaya. Di sistem politik tersebut bisa saja diasumsikan rumusan bahwa si Pria Berwibawa dengan semua kecakapannya turut memiliki aspek-aspek kepemimpinan yang baik. Tetapi, bisa saja tidak semuanya. Kenapa? Karena bagi saya tetap tidak terjawab, “Kenapa (berlomba-lomba) menjadi seorang pemimpin itu penting?”, “Sebenarnya pemimpin itu apa sih?”, “ Pemimpin menurut siapa?”, “Pemimpin untuk siapa?”. Dalam kepala saya jawaban untuk semua pertanyaan itu jadi kabur, abu-abu, relatif, dan semakin menaikan intensitas pertanyaan berawalan “kenapa” atau “mengapa”.

Lalu saya kembali membayangkan sebuah momentum. Di dalam suatu forum di sebuah ruangan, berkumpul anak-anak muda penuh dengan pengetahuan, gejolak semangat, optimisme, cita-cita untuk membawa perubahan atau sekadar bergerak, dan berjiwa pemimpin. Ya, mereka berjiwa pemimpin, merasa dirinya adalah seorang pemimpin. Bukan hanya di satu orang, tapi lebih dari satu, dua, tiga, setengahnya, atau mungkin lebih. Namun, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi masih kabur dan memantul-mantul di udara bebas. Walhasil di forum tersebut semuanya seperti memimpin. Mengarahkan diskusi sesuai dengan keinginannya, berlomba-lomba memperlihatkan kecakapan sekaligus kekeraskepalaannya, tidak ada yang mau mengalah karena merasa biar bagaimanapun dialah yang memimpin. Mungkin kamu pernah merasakannya, berada di dalam situasi seperti yang saya bayangkan. Bagaimana rasanya? Lalu bagaimana jika suatu saat nanti semua orang merasa dirinya pemimpin karena memang dibiasakan untuk berkompetisi sebagai pemimpin? Lalu siapa yang bersedia dipimpin?

 

Ps : Tulisan ini dibuat hanya untuk mengungkapkan pikiran saya. Awalnya tidak diniatkan menjadi serius karena hanya berisi uneg-uneg pikiran. Tidak juga bermaksud menyinggung satu, dua, tiga, empat pihak. Ini hanya tulisan iseng.

 

Bacaan:

McShane, S. L., and M. A. Y. Von Glinow. “Workplace emotions, attitudes, and stress.” Organizational Behavior 5. 2010.

Mansoben, Johszua Robert. Sistem politik tradisional di Irian Jaya, Indonesia: studi perbandingan. Diss. 1994.

Cirebon, Benda Kerep, dan Perjalanan Tanpa Persiapan

P1060557

Terik sekali. Pikiran itu yang pertama kali mampir di kepala saya begitu menginjakan kaki di Kota Cirebon. Sebelumnya saya memang pernah singgah di Cirebon, kurang lebih dua tahun lalu, tapi hanya sebentar saja, kurang dari tiga jam hingga saya lupa bagaimana teriknya sinar matahari di kota ini. Rasanya matahari di Cirebon lebih bersemangat memancarkan sinarnya dibanding Jakarta. Mungkin karena letak Cirebon yang termasuk di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Pikiran tentang teriknya Cirebon diamini pula oleh teman-teman saya. Ya, saya tidak sendirian tiba di kota ini, ada sekitar 26 orang lainnya selain saya. Mereka semua adalah teman satu angkatan saya di program studi Antropologi Sosial Universitas Indonesia.

Diantara teman-teman yang lain, motif bertandang ke Cirebon saya adalah yang paling berbeda. Mereka memiliki tujuan yang jelas, melakukan persiapan penelitian, atau istilahnya preliminary research untuk salah satu mata kuliah yang mengharuskan penelitian lapangan. Sementara saya? Saya hanya ikut-ikutan karena hanya sekadar ingin jalan-jalan. Mengesalkan ya? Setidaknya bagi teman-teman saya, yang lainnya serius memutar otak melakukan pengamatan, dan saya jadi serasa turis. Jangan tanyakan dulu kenapa saya tidak menjadi bagian dari ekspedisi Cirebon ini meskipun saya satu angkata dengan mereka. Dilain waktu mungkin saya akan menceritakannya, tetapi tidak sekarang. Walhasil, karena yang ada di alam pikiran saya bukan untuk persiapan penelitian, saya datang ke Cirebon dengan “otak kosong”. Jangankan studi pustaka terlebih dahulu, membaca berita ringan yang bertebaran di dunia maya saja tidak, tapi mungkin disitu menariknya. Dengan kepala yang “kosong” ini saya melihat dan mengamati berbagai hal di Cirebon dengan penuh ketakjuban. Ada hal-hal yang jadi begitu menarik karena efek keterkejutan akibat ketidaktahuan saya terhadap ini itu di Cirebon. Salah satunya adalah tentang Kampung Benda Kerep.

Kampung Benda Kerep terletak dipinggiran Kota Cirebon. Dari perkiraan jarak yang saya kira-kira sendiri dengan penuh ke-sok-tahuan, sebenarnya letaknya tidak terlampau jauh, perbandingannya tidak sampai Jakarta-Bogor. Dua minggu sebelum keberangkatan ke Cirebon, sebenarnya salah satu dosen saya telah memberikan gambaran umum tentang Benda Kerep. Katanya, kampung ini menolak segala bentuk modernisasi, bahkan untuk listrik apalagi laptop. Namun, fakta lapangan ternyata tidak sampai sebegitunya. Benda Kerep telah dialiri listrik sejak tahun 1987 meskipun awalnya sempat mendapatkan gelombang kontra dari para ToMas alias Tokoh Masyarakat. Menurut informan rombongan kami, keberadaan laptop pun sebenarnya tidak dipermasalahkan, hanya saja, masyarakat disana memang hanya satu orang yang sudah mampu memilikinya. Saya maklum kenapa dosen saya keliru memberikan informasi. Namanya juga manusia yang mungkin saja bisa salah dan lupa. Atau bisa saja memang informan dosen saya yang keliru memberikan informasi. Tidak apa, yang penting faktanya sudah terungkap, kan?

Konon, berdasarkan hasil tabulasi membaca kilat di laman-laman berita dunia maya, Benda Kerep ini didirikan oleh seseorang bernama Kyai Sholeh sekitar 300 tahun lalu. Untuk mencapai Benda Kerep, saya dan teman-teman saya harus menerapkan prinsip “going native”, alias “menjadi seperti penduduk asli” alias menerapkan cara-cara keseharian penduduk Benda Kerep, salah satunya adalah menutup aurat yang berlaku menurut hukum syariat Islam. Rombongan kami yang perempuan, termasuk saya mendadak berhijab semua, sementara salah satu teman laki-laki saya yang mengenakan celana pendek langsung melilitkan kain sarung yang ia bawa dari rumah. Kurangnya hanya satu, sebagian besar rombongan perempuan tidak mengenakan kain atau rok panjang sebagai bawahan karena tidak tahu bahwa ternyata penggunaan celana bagi perempuan ternyata sangat dilarang. Untungnya masyarakat Benda Kerep, termasuk informan rombongan, ternyata sudah sangat memaklumi kelakuan tetamu yang datang.

P1060559

P1060560

P1060567

Selain penerapan “going native” perjalanan mencapai Benda Kerep juga sangat mengesankan. Rombongan kami sempat nyasar beberapa kali hingga aksi putar memutar arah mobil merupakan hal yang lumrah. Benda Kerep yang terletak di seberang aliran sungai yang cukup deras juga menjadi tantangan tersendiri karena tidak ada jembatan! Ya, benar sekali, kamu tidak salah baca. Tidak ada jembatan menuju Benda Kerep. Tidak perlu memekik kata “WOW!” karena ketiadaan jembatan bukan berarti kami harus berenang atau main basah-basahan menerabas sungai, yang kami harus lakukan lebih mudah daripada itu, kami hanya perlu melangkahkan kaki dengan lincah diatas batu-batu pijakan yang tersusun rapi membelah arus. Beruntunglah rombongan kami karena meski rintik hujan sudah membasahi tanah, tapi air sungai belum menampakan tanda-tanda akan meluap.

Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya begitu melangkahkan kaki di Kampung Benda Kerep. Laki-laki disana hampir semuanya mengenakan kain seperti sarung, gamis, dan peci tinggi yang kemudian saya ketahui dinamakan “Peci Sufi” atau “Peci Sombong” oleh masyarakat sekitar. Kenapa “Peci Sufi”? Saya menduga karena bentuknya mirip peci-peci yang dikenakan penari-penari sufi, tapi kenapa dinamakan “Peci Sombong”? Nah untuk yang ini informan saya mengatakan dengan bangga “Karena kalau sudah pakai peci ini jadi terlihat gagah, jadi seperti sombong”. Sedangkan para perempuan Benda Kerep dalam kesehariannya mengenakan kain batik untuk bawaha, atasan seperti blus lengan panjang, dan tentunya hijab, walau ternyata bukan hijab “syar’i” seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Benda Kerep juga dikenal sebagai “Kampung Santri” karena keberadaan pesantren-pesantren disana, jumlah Kyai-nya pun ternyata cukup banyak hingga informan rombongan beberapa kali menanyakan “Dulu dosen kalian kontak-kontakan dengan Kyai yang mana (siapa)?”.

Selama kurang lebih dua jam kami berada di Benda Kerep, teman-teman saya menanyakan hal ini itu, sementara saya lebih banyak diam, dan sesekali mencicipi dodol mangga gedong yang disajikan tuan rumah serta menyeruput sirup koko pandan dingin yang cukup menyegarkan. Sambil menikmati dodol dan meneguk sirup, saya memperhatikan proses tanya-jawab yang dilakukan teman-teman saya. Menarik. Ada banyak informasi yang saya ketahui tentang masyarakat Benda Kerep. Mereka yang ketakutan setengah mati dengan orang-orang Dinas Kesehatan yang terlibat dalam PIN (Pekan Imunisasi Nasional) sampai-sampai rombongan kami dikira “orang PIN” dan ketika kami berjalan menyusuri kampung, anak-anak disana teriak “Polio Polio Polio!!!” sambil menunjuk kami lalu berlari ke dalam rumah. Mereka yang akhirnya membolehkan masuknya listrik, beberapa alat elektronik termasuk handphone, tetapi sama sekali menentang adanya televisi dan radio. Mereka yang mayoritas menerapkan sistem pernikahan endogami. Mereka yang masih sangat menerapkan nilai-nilai Islam sehingga dilarang keras untuk berpacaran. Dan mereka, maaf ralat, tepatnya teman-teman saya dan informan rombongan yang jadi mencandai salah satu teman perempuan saya dan menggodanya habis-habisan agar “berjodoh” dengan anak laki-laki sulung informan rombongan. Sayangnya keseruan acara tanya-jawab harus selesai karena senja semakin jauh. Sebelum adzan magrib berkumandang kami bergegas meninggalkan Benda Kerep.

P1060589

 

P1060590

P1060592

Malamnya perjalanan kami lanjutkan dengan berkeliling Kota Cirebon, targetnya kali ini adalah pelabuhan batu bara Kota Cirebon dan titik-titik prostitusi. Pelabuhan batu bara Kota Cirebon tidak terlalu jauh dari kota, setibanya disana kami berhasil mengelilingi Zona A setelah dua orang teman saya melakukan negosiasi yang cukup alot dengan petugas keamanan. Di pelabuhan satu-satunya hal yang menarik perhatian saya adalah kapal-kapal besar yang bersandar ke Dermaga, ketika malam mereka terlihat indah, setidaknya bagi saya. Berlanjut ke titik-titik prostitusi, titik-titik ini berada di jalan-jalan yang saya lupa namanya, tapi saya ingat ada truk-truk besar disana. Malam itu tidak terlalu banyak pekerja seks yang saya lihat menunggu pelanggan, hanya beberapa saja yang ada dipinggir jalan, diatas becak, berdiri di sela-sela deretan truk, dan diatas motor. Dua kali rombongan kami memutari ruas jalan itu sebelum berakhir di alun-alun Kota Cirebon dan menikmati segelas kopi atau coklat panas.

Keesokan harinya perjalanan saya di Kota Cirebon harus berakhir. Sejak awal saya memang memutuskan untuk berpisah lebih awal dengan rombongan karena harus mengejar sebuah acara diskusi di Jakarta yang berlangsung jam satu siang. Setengah jam sebelum keberangkatan kereta saya sudah mendaratkan kaki di stasiun dan sempat-sempatnya menyantap empal gentong di depan stasiun. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta saya mengingat-ingat semua rangkaian perjalanan ke Cirebon yang terkesan impulsif karena hanya ingin jalan-jalan saja. Saya menganggap perjalanan ini tanpa persiapan. Seperti yang saya ceritakan diawal, saya tidak sempat membaca apapun tentang medan di Cirebon, tapi saya sangat senang karena saya mendapat pengalaman-pengalaman menarik selama di kota yang panas ini. Hanya satu saja yang masih mengganjal hati saya. Saya teringat Bapak, dosen, sekaligus pembimbing akademik yang sudah saya anggap seperti Ayah sendiri. Beliau tidak menepati janjinya untuk pergi bersama kami, padahal kami sudah berangan-angan untuk menikmati empal gentong dan tahu gejrot bersama. Bapak pergi lebih dulu, bukan ke Cirebon, tapi pergi ke alam lain yang selalu jadi misteri, kematian.Bapak pergi menghadap Yang Maha Segalanya dua minggu sebelum keberangkatan kami.

P1060595

P1060579

Cerita Cinta Lagi, Lagi-lagi Cerita Cinta

Saya ingin memuat ulang tulisan ini, sebuah tulisan yang sebelumnya saya buat untuk majalah milik mahasiswa Antropologi FISIP UI. Tulisan ini tentang cerita cinta, tapi ceritanya lain dari biasa, karena penulisnya sok menginisiasi konsep-konsep antropologis di dalamnya. Maklum, namanya juga mahasiswa yang masih kena euforia ilmu yang dipelajarinya. Semoga tulisan ini tidak terlalu ngawur dan masih bisa dinikmati bersama secangkir kopi pagi.

Cerita Cinta Lagi, Lagi-lagi Cerita Cinta*
Siapa yang bosan membahas tentang cinta? Saya ingin tahu berapa banyak orang yang muak membicarakan problematika hati dan rasa. Mungkin ada, dan tidak sedikit yang sudah jengah membicarakan tentang cinta termasuk juga membaca cerita cinta. Tapi, saya masih yakin benar kalau cinta tetap jadi salah satu formula paling ampuh untuk membangkitkan gairah bercerita. Jadi mari sekali lagi, membicarakan tentang cinta. Mari sekali lagi mengikuti arus global yang isinya jadi cinta yang berbunga-bunga menjelang Valentine’s Day. Ya, tidak ada salahnya sesekali terhanyut pada kisah-kisah roman yang mengagungkan cinta. Kan, katanya cinta tidak pernah salah, ya kan?

Cerita Cinta

Ada yang bilang kalau sebuah cerita akan tidak terlalu menarik untuk disimak jika tidak menyisipkan kisah cinta. Meski sekelebat, meski sekelumit, meski separagraf, bumbu-bumbu percintaan sebaiknya disisipkan agar lebih terasa manis. Cinta kadang juga dibubuhkan untuk meringankan muatan sebenarnya yang berat. Misalnya saja, apa yang sebenarnya disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia? Apakah hanya percintaan Minke dan Annelies? Tentu saja tidak! Pram membicarakan begitu banyak hal, tentang kolonialisme, tentang struktur sosial pada masa kolonial, tentang paradigma masyarakat di masa kolonial dan masih banyak lagi yang akan terasa jadi perenungan yang berat jika saja tidak dihadirkan dalam balutan roman serta alur cerita yang mengalir nikmat.

Memandang ke belakang, jauh sebelum Pram muncul dengan Tetralogi Bumi Manusianya, penggunaan kisah percintaan untuk menyampaikan ragam pesan moril atau isu lainnya jamak kita jumpai dalam cerita rakyat. Sebagaimana hakikat fungsi foklor seperti yang dimaktubkan James Danandjaja, cerita rakyat yang jadi bagian dari folklor memiliki kegunaan sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam. Maka tidak heran bila cerita rakyat yang biasa kamu baca, yang sekilas mungkin berkisah tentang lika-liku kisah cinta dua insan turut disesaki pesan-pesan tersirat di dalamnya.

Ambil perumpamaan cerita rakyat masyarakat Bali tentang Jayaprana dan Layon Sari. Cerita ini bertutur tentang seorang pemuda bernama Jayaprana, ia adalah putra angkat dari seorang raja yang pernah memerintah Raja Buleleng. Alkisah, Jayaprana menikah dengan seorang gadis cantik jelita yang jadi pilihannya, gadis itu bernama Layon Sari. Pernikahan keduanya memang mendapat restu dari sang Raja Buleleng, akan tetapi sialnya sang Raja malahan tergila-gila pula dengan kecantikan Layon Sari dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Layon Sari sebagai istrinya, termasuk membunuh Jayaprana. Rencana diatur, siasat disusun, Jayaprana diberikan tugas fiktif untuk berkunjung ke Celuk Terima. Meski firasat sudah melekat erat dalam pikirannya, Jayaprana membiarkan diri untuk digiring menuju kematian, semua atas nama kepatuhan pada sang Raja Buleleng, ayah angkatnya. Setelah kematian Jayaprana, Raja Buleleng pada akhirnya tidak berhasil pula memperistri Layon Sari karena Layon Sari memutuskan untuk bunuh diri menyusul suaminya yang lebih dulu mati.

Cerita Jayaprana dan Layon Sari yang awalnya tersebar dalam bentuk balada (ballad) atau syair yang diukir di atas daun lontar kering ini sesungguhnya memperlihatkan banyak sisi menarik selain kisah cinta itu sendiri. Jika kamu dapat menemukan versi lebih lengkap dan rinci mengenai cerita ini, gambaran kehidupan sosial budaya masyarakat Bali dapat terlihat disamping pesan lainnya yang ingin disampaikan tentang tentang kepatuhan, pengorbanan, kesetiaan, dan moralitas. Intinya sama, cerita cinta tidak hanya hadir sebagai cerita cinta semata tapi sebagai alat untuk menyampaikan hal-hal lainnya. Hal yang sebagian masih berkaitan seputar cinta dan sebagian lainnya mungkin bertolak belakang atau bahkan tak ada kaitannya.

Dari Antropologi Dengan Penuh Cinta

Jika yang jadi pertanyaan besar selanjutnya adalah dimana letak sisi antropologinya dari semua cerita-cerita cinta yang ada? Jawabannya tentu saja ada! Seperti yang telah saya uraikan sebelumnya, cerita-cerita cinta yang sarat akan muatan isu-isu lain yang bukan romansa kerap menyinggung permasalahan sosial budaya tempat yang jadi latar belakang cerita. Entah tentang bagaimana struktur sosial dalam masyarakat, sistem kepercayaan setempat, adat istiadat, dinamika kebudayaan yang ada, dan masalah-masalah sosial lainnya yang mengarah pada isu-isu antropologis. Tidak hanya itu saja, dalam hal persebaran dan pola-pola yang ada pada cerita cinta, terutama cerita cinta pada cerita rakyat, juga bisa lihat dari kacamata antropologi.

Mencoba untuk sedikit iseng mengaitkan pendekatan antropologi dengan cerita rakyat bermuatan cinta di Indonesia, rasanya pendekatan strukturalisme milik Lévi-Strauss merupakan salah satu yang bisa diambil sebagai pisau analisis kecil-kecilan. Secara sederhana strukturalisme merupakan pendekatan yang menekankan kepada analisis struktural suatu kebudayaan. Berhubung cerita rakyat adalah bagian dari folklor dan folklor tidak lain merupakan sebagian dari kebudayaan kolektif, maka kita dapat melihat adanya struktur kebudayaan dalam cerita rakyat. Saya coba ambil contoh sederhana yakni cerita Legenda Gunung Tangkuban Perahu yang memiliki struktur atau pola cerita yang sama dengan cerita Oedipus dari Yunani. Keduanya sama-sama bercerita tentang anak laki-laki yang jatuh cinta pada Ibunya sendiri. Cerita cinta, bukan? Meski cinta yang terlarang. Ada pesan-pesan yang ingin disampaikan, bukan? Tentang moralitas, tentang kehidupan sosial yang jadi latar belakang dan lain sebagainya.

Pendekatan strukturalisme selanjutnya bisa kita jumpai pada cerita-cerita lainnya. Coba perhatikan struktur atau pola-pola cerita cinta yang kamu ketahui, pasti kamu akan banyak menemukan kesamaan. Cinta yang ditentang orangtua karena status sosial yang berbeda, cinta yang tidak bisa bersatu dan berakhir tragis, cinta yang sempurna, cinta yang berbeda alam dan cinta-cinta lainnya. Benang merahnya mungkin sama saja antara cerita cinta yang ini dan yang itu, hanya masalah pengemasannya saja yang berbeda.

Menutup tulisan ini, yang digagas sebagai etnomini, (padahal saya pun masih tidak yakin apakah ini sudah cukup mewakili etnomini seperti yang dibayangkan), saya ingin bertanya lagi, apakah kamu sudah bosan dengan cerita cinta? Kalau kamu sudah bosan, mungkin kamu bisa coba cara menarik lain untuk menikmati cerita cinta yang ada. Caranya adalah dengan menggunakan kacamata antropologi untuk melihat keseluruhan cerita cinta yang ada. Siapa tahu ternyata “muatan-muatan” lain didalamnya ternyata justru lebih menarik untuk disimak dan direnungkan dalam-dalam. Juga mencoba iseng mengait-kaitkan pendekatan antropologi dengan cerita cinta yang kamu baca, siapa tahu kamu menemukan pendekatan yang sebenarnya bisa dijadikan pisau analisis terkait dengan cerita cinta tersebut. Siapa tahu?

*Dimuat dalam Antropos edisi Februari 2015, Antropologi (Bicara) Cinta.
http://issuu.com/antroposheman/docs/antropos_03complete