Biyan “POSTCARD”, Perayaan 30 Tahun Kreativitas, dan Ekspetasi Tinggi

Selama dua tahun berturut-turut menyaksikan koleksi busana dalam peragaan tahunan Biyan adalah suatu kenikmatan tak terganti. Kenikmatan yang membuat candu, kenikmatan yang bila terlewatkan akan membuahkan suatu penyesalan. Namun rupanya saya juga perlu berhati-hati dengan ekspetasi yang terlalu tinggi, ya, meskipun di tahun ini merupakan perayaan 30 tahun Sang Desainer Legendaris berkarya.

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard"

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”

Dua tahun telah berlalu sejak pertama kali saya bisa menikmati peragaan busana tahunan milik Biyan Wanaatmadja atau yang lebih dikenal dengan Biyan. Dua tahun mungkin bukan waktu yang lama, tetapi saya rasa bukan juga waktu yang terlalu singkat. Ukuran waktu mungkin memang relatif, berbeda bagi setiap orang, tergantung cara pandang dan presfektif masing-masing. Dua tahun bisa saja dianggap baru kemarin sore. Dua tahun bisa saja dikatakan masa lalu dengan seabrek hal yang telah berlalu. Terlepas dari semua itu, yang saya tahu dalam dua tahun kemarin, saya sudah melalui dua kali peragaan busana tahunan Biyan, “The Orient Revisited” di tahun 2011, dan “Foliage” pada tahun 2012.

Dua peragaan busana tahunan Biyan atau yang biasa disebut “Biyan Annual Show” sudah saya lalui. Meski waktu telah berlalu dan kedua bola mata saya sudah menyaksikan ratusan busana dalam peragaan busana lain, saya hampir tidak pernah lupa detil yang ada pada kedua peragaan busana tahunan Biyan yang pernah saya nikmati. Saya tidak pernah melupakan atmosfernya, tata panggungnya, jajaran model yang memperagakan busananya, dan tentunya koleksi busana itu sendiri. Saya masih ingat semua. Mungkin bukan karena ingatan saya sekuat badak, tapi karena peragaan busana tahunan milik Biyan terlalu mengagumkan untuk dilupakan.

Ada yang mengatakan bahwa kesuksesan seorang desainer –dalam hal ini tentu saja desainer mode- tidak hanya diukur dari seberapa banyak klien prestisius yang ia miliki, seberapa tinggi pencapaian yang telah diraih, dan seberapa menggema namanya di penjuru dunia, tetapi juga dipandang dari sumbangsih berkesinambungan serta kontribusi positif untuk terus bertumbuh yang ia berikan bagi perkembangan dunia mode tanah airnya. Tidak perlu diragukan, seorang Biyan Wanaatmadja telah meraih semua hal tadi dalam satu paket lengkap.

Tepat di tahun 2013 ini, desainer sempat mengenyam pendidikan mode di Muller & Sohn Privatmodeschule, Duesseldorf, Jerman, dan The London College of Fashion ini menorehkan tinta emas 30 tahun berkarya di dunia mode Indonesia. Sebagai seorang desainer mode, Biyan telah memiliki hampir semua aspek yang diimpikan para desainer mode. Ia memiliki banyak klien prestisius, koleksi busananya selalu ditunggu dan dielu-elukan, karyanya sudah merambah ke berbagai penjuru dunia, namanya seakan menjadi jaminan dalam setiap karyanya, dan tidak bisa dibantah jika Biyan telah menjadi inspirasi banyak desainer mode muda Indonesia. Singkatnya, ia begitu disegani dan dicintai.

Ada banyak hal yang telah terjadi selama 30 tahun Biyan berkarya. Ada banyak kenangan yang patut untuk diabadikan selama tiga dekade perjalanan kreativitasnya.

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard". Model: Fahrani

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”. Model: Fahrani

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard". Model: Kimberly Ryder

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”. Model: Kimberly Ryder

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard". Model: Renata

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”. Model: Renata

Biyan telah singgah di berbagai tempat, dalam berbagai waktu, dalam bermacam suasana, dalam beraneka kesempatan. Bagi Biyan, setiap tempat memiliki kenangannya sendiri dan kartu pos yang sering ia temui seakan mencerminkan perjalanan kreativitasnya. Karena itu, ia memilih tema “POSTCARD” dalam peragaan busana tahunannya kali ini. Dalam lembaran press release yang saya terima, Biyan mengatakan bahwa “POSTCARD” yang menjadi tema utama koleksinya seperti menjadi memorabilia sejarah, budaya, warisan, generasi, dan energi rangkuman pelancongan kreativitasnya selama tiga dekade, baik di dalam dan di luar negeri.

Detik-detik menjelang peragaan busana memang selalu mengaduk-aduk perasaan saya. Rasa semangat dan penasaran tentang bagaimana koleksi yang akan beliau tampilkan serta dekorasi mempesona macam apa lagi yang akan disuguhkan. Lalu, ada terselip perasaan gugup yang entah mengapa selalu muncul begitu saja pada diri saja setiap kali bersemangat. Parahnya lagi, bila saya terlalu bersemangat dan penasaran, rasa gugup itu akan meningkat berkali-kali lipat dan kerap membuat saya mual. Mungkin terdengar berlebihan, tetapi itulah yang saya rasakan pada detik-detik menjelang peragaan busana tahunan Biyan pada Rabu malam(02/06) lalu.

Seperti di tahun-tahun sebelumnya, saya melangkahkan kaki ke dalam Grand Ballroom Hotel Mulia –tempat berlangsungnya peragaan busana- sekitar satu jam sebelum jadwal peragaan busana dihelat. Seperti di tahun-tahun sebelumnya pula, perasaan campur aduk saya semakin menjadi-jadi tatkala saya semakin jauh melangkahkan kaki.

Di dalam kepala saya sudah berputar-putar berbagai potongan ingatan dan juga bayangan pengelihatan yang akan datang. Maksud saya, potongan ingatan dari dua peragaan busana terdahulu Biyan yang terlalu mengagumkan untuk dilupakan, dan bayangan saya akan peragaan busana kali ini yang saya duga tidak akan cukup bila hanya diwakilkan dengan kata mempesona atau mengagumkan saja. 30 tahun berkarya. 30 tahun perayaan kreativitas sang legenda. Dan jaminan nama seorang Biyan Wanaatmadja. Sangat lumrah rasanya bila saya memiliki ekspetasi yang amat tinggi.

Memasuki Grand Ballroom Hotel Mulia dan berdiri tepat di depan panggung peragaan busana untuk beberapa waktu membuat saya menyadari beberapa hal. Ruangan megah itu terasa amat “bersih”. Tidak ada dekorasi berupa pepohonan rindang dengan bau menenangkan yang khas seperti di tahun sebelumnya. “Bersih”, seperti peragaan busana tahunan Biyan dua tahun lalu, “The Orient Revisited”.

Namun kehadiran empat “penjaga” di pangkal panggung peragaan busana Biyan membuat saya cukup terperangah. Ya, ada empat Burung Garuda sangat besar yang menggantung kokoh disana. Keempat Burung Garuda yang jadi bagian dari dekorasi panggung peragaan busana. Dan keempat “penjaga” itu  pun semakin menarik saat saya menyadari bahwa lantai panggung peragaan busana yang terbuat dari kayu atau yang biasa disebut parket.

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard"

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard"

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”

“The Radiance Postcard” adalah judul lengkap peragaan busana tahunan Biyan kali ini. Judul tersebut diambil dari kata “Radiance” yang terdapat pada salah satu produk kecantikan yang menjadi sponsor utama peragaan busana Biyan, dan “POSTCARD” embrio sentral inspirasi koleksi Biyan. Menampilkan sekitar 100 set koleksi, peragaan busananya kali ini seumpama buah tangan istimewa Biyan selama melakukan 30 tahun perjalanan ke berbagai tempat yang pernah ia singgahi selama menggeluti karirnya di dunia mode.

Menyaksikan peragaan busana “The Radiance Postcard” saya seperti melihat mozaik-mozaik perjalanan Biyan selama ini.

Diawali dengan sekuens yang menampilkan koleksi busana didominasi warna putih, saya seolah diajak kembali menengok masa-masa polos kertas putih kehidupan yang belum terbubuhi warna. Di sekuens pembuka ini, saya sempat terpesona dengan koleksi-koleksi yang dihadirkan. Sisi tanpa dosa alias innocent tergambar jelas dari busana-busana berwarna putih yang menerawang pada atasan. Selain kesan innocent yang sangat kental, pada sekuens pembuka ini aura romantic dan sophisticated pun terasa membungkus keseluruhan busana.

Setelah sekuens pembuka usai, koleksi busana yang ditampilkan berlanjut pada rangkaian busana yang inspirasinya banyak diambil dari pakaian adat pria dan wanita Indonesia tempo dulu. Biyan menterjemahkan koleksinya kedalam suatu komposisi persilangan antara siluet maskulin dengan spirit yang feminin. Jaket-jaket yang terlihat maskulin ia padukan dengan roses lace skirt overlayered diatas celana, gaun berbahan tulle yang berpotongan feminin pun ia padankan dengan short pants yang terkesan boyish. Esensi busana Jawa dengan unsur seragam era kolonial diselaraskan dalam konsep androgini yang gagah namun cantik. Tidak lupa ia turut mengambil inspirasi dari siluet jarik dan kebaya pada koleksinya kali ini. Motif cetak yang terinspirasi dari motif kain batik, sarung, serta kerajinan tikar yang dicetak sangat besar pada kain busana kemudian menjadi nilai tambah yang luar biasa pada koleksi Biyan kali ini.

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard"

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard"

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard".

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”.

Dalam hal pemilihan bahan sendiri, Biyan lebih banyak bermain pada bahan-bahan bertekstur ringan seperti organza, tulle, dan light silk. Bagi Biyan, pemilihan bahan-bahan bertekstur ringan seperti ini diperuntukkan pada para wanita yang tidak takut untuk menampilkan keindahan kulit tubuhnya. Penggunaan bahan kain juga ia padupadankan dengan cara yang tidak biasa, misalnya kain transparan bermotif cetak dipadu dengan sulaman yang indah berkilauan dan ditabrak dengan lace, serta kain sutra bermotif cetak diaplikasikan dalam bentuk bordiran diatas kain tulle yang transparan pula.

Sementara untuk warna, Biyan nampak lebih senang menggunakan warna-warna pupus yang tidak mencolok namun memunculkan keanggunan dan eleganitas tersendiri. Palet warna khas Biyan, dusty pastels lembut seperti putih pupus, abu-abu, peach, merah muda, coklat susu tampil kontas dengan warna sogan, biru tua, hitam, serta banyak aksen perak dan keemasan pada koleksi cetak kali ini.

Sekitar 100 set busana dibawakan oleh puluhan model dalam rentan waktu kurang dari satu jam, dan sayangnya dahi saya terus mengerut usai sekuens pembuka usai. Keindahan rangkaian busana Biyan dalam “The Radiance Postcard” memang sangat terasa. Saya begitu terpesona di sekuens pembuka, namun sayangnya setelah itu saya harus bisa berpikir keras untuk mendapatkan perasaan yang sama. Saya harus benar-benar memperhatikan dengan seksama motif-motif batik yang begitu besar dan luar biasa indah yang tercetak di atas busana.

Saya harus bisa benar-benar menangkap motif garuda sangat besar, ikan koi sangat menarik, dan juga motif-motif bunga raksasa yang tercetak pada busana sebelum benar-benar mengaguminya. Mungkin terasa aneh kenapa saya harus sebegitu memperhatikannya padahal motif-motif itu tercetak besar, tapi saat itu saya merasa ada jarak yang begitu jauh dengan koleksi. Pengaturan para model yang beberapa kali terlalu dekat jaraknya satu dengan lainnya membuat saya beberapa kali hilang fokus, begitu pula deretan kursi-kursi penonton yang diatur berjajar di depan photographer pit –tempat saya lebih senang berada bersama kamera saku saya- sering kali menyulitkan untuk melihat dan hampir tidak bisa mengabadikan gambar karena terhalang kepala. Selain itu, ketika memperhatikan koleksi-koleksi tersebut pikiran dan hati saya sudah terlanjur terkontaminasi rasa De Javu yang begitu domininan. Ya, lagi-lagi saya De Javu. Sama seperti yang saya rasakan di tahun lalu.

Musik pengiring peragaan busana pun sempat membuat saya bertanya-tanya. Awalnya saya merasa bunggah saat Biyan menggunakan lagu “Dago Inang Sarge” di tengah peragaan busana. Lagu asal daerah Tapanuli ini terdengar pas dengan atmosfer peragaan busana, namun beberapa saat kemudian lagu-lagu lain silih berganti, lagu-lagu yang entah mengapa seolah menjadikan suasana terasa asing dan tidak lagi sama bagi saya.

Menyaksikan peragaan busana “The Radiance Postcard” saya seperti menengok kembali koleksi-koleksi sang maestro terdahulu. Garis rancang, potongan busana, perasaan yang dihasilkan, warna-warna yang digunakan, sedikit banyak motif-motif yang digunakan, hampir semua itu seakan pernah juga saya saksikan pada peragaan busana di tempo lalu. Namun jangan sekali-kali berpikir bahwa koleksi yang disajikan adalah benar-benar pengulangan. Tentu saja tidak. Hanya saja memang ada banyak cita rasa sama yang kembali ditonjolkan.

Lalu saya mencoba memutar presfektif saya ke sisi lain, sama seperti tahun kemarin, bahkan yang saya tulis setelah ini hanya hasil memindahkan tulisan saja:

Mungkin karena ciri khas siap pakai yang sudah terpatri erat pada garis rancang Biyan, atau mungkin memang Biyan masih ingin melanjutkan benang merah rangkaian koleksinya yang terdahulu. Atau, karena konsep mendasar yang ia usung tetaplah sama, mudah dipakai serta mudah dipadupadankan, nyaman namun tetap mengedepankan sisi gaya dan anggun sekaligus berkarakter kuat. Hal yang kemudian ia rekatkan menjadi satu kesatuan koleksi busana yang memiliki daya tarik tinggi meski terkesan sederhana dan santai.

Kemudian saya tambahkan:

Atau mungkin memang ekspetasi saya saja yang terlalu tinggi dan berlebihan. Tak begitu paham bahwa inilah Biyan dengan segala benang merah koleksi yang selalu ia tampilkan. Ya, ekspetasi saya terlalu tinggi untuk Biyan, rangkaian koleksinya dan presentasi peragaan busana tahunan kali ini. 

Namun terlepas dari itu semua, saya tetap sangat mengaguminya sang legenda, Biyan Wanaatmadja.

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013; Selamat Datang di “Tomorrow Land” !

Tentang sebuah perjalanan. Tentang hidup dan kehidupan. Tentang interpretasi satu tempat impian rumah masa depan dimana kreatifitas, imajinitas serta dinamisnya hidup jadi komponen utama pembentuk kehidupan.

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land” di Fairground SCBD

Saya masih ingat benar, dua tahun lalu, sekitar pertengahan tahun 2010, saya tergila-gila setengah mati dengan sebuah peragaan busana berupa Annual Show dari (X).S.M.L yang menyulap sebuah Bar&Resto di daerah Kuningan menjadi bunker ala militer lengkap dengan karung-karung goni, peti-peti kayu, jaring-jaring latihan, hingga jeep ala militer. Kala itu (X).S.M.L sukses besar membawa atmosfer ala militer pada peragaan busana koleksi teranyarnya.

Pada Annual Show nya itu semua terasa begitu menyatu, mulai dari tata artistik area peragaan busana, make up dan gaya rambut para model, sampai deretan busana siap pakai berorientasi pada detil-detil busana ala militer. Setelahnya, atau lebih tepatnya berhari-hari, bulan, bahkan tahun setelah lewat peragaan busana (X).S.M.L kala itu, di kepala saya masih terus terbayang-bayang semua detil yang ada pada malam itu. Saya merasa benar-benar jatuh cinta pada Annual Show (X).S.M.L dan pada busana-busana yang diperagakan pada saat itu.

Bagi saya, Annual Show (X).S.M.L pada tahun 2010 itu adalah salah satu peragaan busana siap pakai terbaik yang pernah ada dan pernah saya saksikan. Lalu di tahun 2012 ini setelah melewati 1 tahun tanpa Annual Show, (X).S.M.L kembali membuat saya terpukau dengan persembahan Annual Show yang ia selenggarakan.

Suasana sebelum show dimulai di dalam area utama

Pesawat “Tomorrow Land” mendarat di atas landasan

Ratusan orang datang pada malam itu, mengantre di depan sebuah gerbang yang masih ditutup, gerbang yang pada bagian atasnya tertulis rangkaian kata “Broading Time Tomorrow Land”. Mereka telah bersiap, membawa satu undangan serupa passport pesawat terbang. Ratusan orang, ratusan passport keberangkatan, tapi hanya satu tujuan. Sama seperti yang tertulis di atas gerbang keberangkatan, sama seperti yang tertulis pada passport masing-masing orang, tujuan hari itu hanya satu tempat, “Tomorrow Land”.

Kurang lebih seperti itulah gambaran yang terekam di ingatan saya pada Jumat malam (14/09) lalu. Ratusan orang yang sebagian besar patuh pada dresscode bertema “modern” memenuhi area Fairground SCBD atau yang dulu lebih dikenal dengan nama Bengkel Night Park. Ratusan orang, termasuk saya, pada malam itu terlihat begitu antusias dan bersemangat menunggu sebuah gerbang besar dibuka lebar, gerbang yang di atasnya terdapat teks hologram berjalanan bertuliskan “Boarding Time Tomorrow Land”.

Tapi jangan cepat salah sangka dengan kata-kata broading time, juga passport yang dipegang masing-masing orang, serta suasana sekitar yang tak ubahnya terminal keberangkatan di suatu bandar udara. Saya dan ratusan orang lainnya bukan hendak pergi menggunakan pesawat terbang ke tempat nun jauh disana, karena percayalah,  “Tomorrow Land” tidak benar-benar ada. “Tomorrow Land” hanyalah satu destinasi imajiner yang diciptakan oleh orang-orang “sinting” dibalik brand (X).S.M.L.

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land” . Model: Kelly Tandiono

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: JRyan Karsten

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: Renata

“Everybody deserve to have a different interpretation of place for them to live and have a life”, begitulah kata-kata yang tertulis sebagai tagline Annual Show (X).S.M.L 2012/2013. Interpretasi berbeda, ya, setiap orang memiliki interpretasi berbeda tentang segala hal, termasuk tempat dimana ia akan memiliki satu kehidupan. Interpretasi inilah yang kemudian diolah oleh (X).S.M.L sebagai ruh utama pada rangkaian koleksi teranyarnya.

Area Fairground yang biasa dijadikan tempat berlangsungnya konser band-band indie lokal dan mancanegara disulap serupa terminal keberangkatan pesawat terbang. Begitu pula ketika gerbang keberangkatan dibuka lebar dan para tetamu undangan dipersilakan masuk, mereka yang datang akan melihat satu panggung catwalk yang di rancang seperti lapangan landasan udara. Satu replika pesawat terbang pun dihadirkan di pangkal panggung catwalk, dan dari dalam pesawat itulah satu persatu model Annual Show (X).S.M.L memulai langkahnya di atas panggung catwalk.

Memamerkan 108 outfits, (X).S.M.L menyatukan konsep modern minimalism dengan sentuhan romantisme masa muda. Detil asimetris dan tiga dimensi yang selama ini jadi ciri khas (X).S.M.L kembali ditampilkan pada tiap potong busana. Silluet busana yang bermain-main dengan detil, volume, serta struktur ini pun di perlihatkan dalam bentuk rounded sleeves, oversized shapes, dan boxy shapes.

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: Ayu Faradilla

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”.

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: Laura Basuki

Motif polkadot, segitiga, serta motif print lain yang unik dieksplorasi lebih dalam dan menghasilkan banyak motif abstrak yang menarik. Motif-motif ini lalu diwujudkan dalam kombinasi bahan-bahan khas busana siap pakai semisal katun, bahan rajutan, kulit sintetis, serta bahan-bahan bermaterial serat tipis nan halus lainnya yang sangat cocok dikenakan di negara tropis.

Sementara untuk palet warna, (X).S.M.L Fall/Winter 2012/2013 menyuguhkan warna-warna monokromatik semisal putih, putih gading, abu-abu, pink pupus, khaki, hitam, dan navy. Desain, bahan, motif, warna, detil, hingga cutting ke-108 outfits koleksi (X).S.M.L terasa sangat khas anak muda kota-kota metropolitan dewasa ini yang sangat gandrung busana berwarna monokrom, pastel, dengan garis rancang dipenuhi twist disana-sini.

Item standar busana siap pakai semisal jaket dipermainkan sedemikian rupa sehingga dapat dialihrupakan menjadi beberapa model yang sangat menarik. Pembubuhan detil semisal resleting dan kancing dibeberapa bagian pun turut jadi andil besar dalam aneka twist yang tercipta pada beberapa busana.

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: Renata

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: Nico Christanto

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: Kimberly

Keseluruhan tata artistik, koleksi busana, dan atmosfer yang tercipta pada Annual Show (X).S.M.L 2012/2013 juga semakin diperkuat oleh 24 model wanita dan 12 model laki-laki yang tampil memesona dengan make up dan hair do yang terasa pas, meski saya sedikit terganggu dengan model rambut klimis dengan “kelebihan” di bagian depan para model laki-laki.

Merangkum dua kali Annual Show (X).S.M.L yang saya datangi, rasanya konsep dari Annual Show itu sendiri memang jadi bagian utama yang tidak bisa dilepaskan. Tingkat kematangan konsep serta eksekusi yang begitu mengagumkan, membuat jajaran koleksi busana siap pakai yang dipamerkan jauh dari kata membosankan.

Secara keseluruhan Annual Show (X).S.M.L 2012/2013 “Tomorrow Land” berhasil membawa tamu undangan yang hadir mengikuti satu perjalanan menuju suatu destinasi imajiner yang terlampau menarik untuk dilewatkan. Destinasi imajiner yang mungkin suatu saat nanti akan bersama-sama kita tinggali esok hari, destinasi yang dilukiskan (X).S.M.L sebagai “Tomorrow Land”.

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Dominique Diyose

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: Richard Fiando

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: Drina Ciputra

Jika setiap orang memiliki interpretasi tersendiri berbagai hal, maka saya mempunyai interpretasi tentang “Tomorrow Land”. “Tomorrow Land” adalah sesuatu yang lebih dari sekadar destinasi perjalanan. “Tomorrow Land” adalah sebuah proses pencarian tempat hidup dan berkehidupan. “Tomorrow Land” adalah satu perjalanan dalam hidup dimana dalam perjalanan itu mimpi akan masa depan yang jauh lebih baik berkembang secara dinamis mengikuti alur kehidupan. Ya, “Tomorrow Land” adalah proses dan perjalan”. Bagi saya. Tetapi bagi (X).S.M.L nampaknya “Tomorrow Land” adalah suatu proses pencapaian yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai brand busana siap pakai dalam negeri paling diperhitungkan dalam segala aspek, termasuk konsep serta aktualisasi diri.

Christina Borries; Label “kutilangdarat” Tidak Berlaku Padanya

Kurus tinggi langsing dada rata, sejak dulu sudah jadi tagline tidak terpisahkan dari para model catwalk. Tapi bagi model satu ini, ungkapan tersebut hampir tidak berlaku. Ia memang tinggi dan langsing, namun tubuhnya tidak kurus, apalagi berdada rata.

Christina Borries. Foto: Composite E-Model Management

Ada begitu banyak model yang setiap harinya turut mewarnai dunia mode Indonesia. Puluhan perempuan-perempuan jangkung yang memiliki proporsi tubuh nyaris serupa satu sama lainnya. Tinggi semampai di atas 170cm, tubuh langsing bahkan cenderung super skinny, serta memiliki lingkar dada dan hips yang jauh dibawah rata-rata. Perempuan-perempuan pemegang garda terdepan dunia mode yang sering mendapat sebutan kutilangdarat. Kutilangdarat tentunya bukan sama sekali berkaitan dengan jenis unggas, tetapi kutilangdarat adalah sebuah singkatan dari 4 hal yang melukiskan bagaimana proporsi tubuh para model catwalk kebanyakkan, kurus, tinggi, langsing, dan berdada rata.

Secara generalilasi ugkapan kutilangdarat mungkin memang terasa cocok bagi sebagian besar model catwalk yang hingga kini eksis dalam peta permodelan tanah air. Namun jika kita melepaskan generalisasi dan menelaah lebih seksama, nyatanya tidak semua model catwalk adalah perempuan dengan label kutilangdarat.

Biyan Annual Fashion Show 2011-2012 “The Orient Revisited”

Fashion Show VALENTINO di Pembukaan PI Fashion Week 2012. Foto: Windy Sucipto

“The Catwalk Moment” oleh Obin untuk BIN House di JFW 2011-2012.

Dia adalah Christina Borries, salah seorang model catwalk yang telah mencatatkan karir modelingnya sejak tahun 2001 silam. Lahir di Bandung 21 Agustus 1984, dia adalah salah satu model catwalk yang jauh dari tagline “kutilangdarat. Tubuhnya memang tinggi semampai tak kurang dari 180cm dan beratnya hanya 52kg, namun ia memiliki lekuk tubuh yang sangat menawan. Ia juga memiliki aura sensual yang berbeda, sensual namun anggun, dan ‘mahal’ di satu waktu.

Memulai karirnya ketika masih bersekolah di bangku SMA, Christina memilih untuk bergabung dengan agensi milik desainer Adjie Notonegoro di Ibu Kota, namun sayang lompatan karir pertamanya itu harus terhenti untuk sementara karena ia masih harus menyelesaikan sekolahnya di Bandung. Barulah pada tahun 20 04 ketika ia telah benar-benar menyelesaikan sekolahnya dan menetap di Jakarta, namanya mulai dikenal luas setelah mengikuti ajang Indonesian Model Indosiar(IMI). IMI sendiri merupakan sebuah ajang pencarian bibit baru di dunia modeling Indonesia yang diselenggarakan oleh stasiun TV Indosiar yang menggandeng nama-nama kondang di dunia mode seperti Itang Yunaz dan Okky Asokawati sebagai dewan juri.

Dilahirkan di sebuah keluarga kecil dengan dua kebudayaan berbeda, yakni Ayah yang berkewarganegaraan Jerman berdarah Rusia sementara Ibu-nya seorang wanita Banjarmasin yang kemudian tinggal menetap di kota Bandung, Christina tumbuh menjadi seorang yang memiliki sifat tertutup dan introvert. Dua sifatnya inilah yang kemudian menimbulkan masalah ketika ia terjun di dunia modeling.

Fashion Show “Fashion Nation Senayan City” sekuens IKAT oleh Didiet Maulana.

Sekuens Eddy Betty di Bazaar Langgam Tiga Hati Fashion Celebration 2011.

Foto Composite E-Models Management.

“Tribute to The Cure” oleh Ve Dhanito.

Membutuhkan waktu yang lama baginya untuk bisa nyaman menjadi seorang model yang harus tampil di depan orang banyak. Namun perjalanan karirnya di dunia mode semakin lama membuatnya banyak belajar. Sifatnya yang tertutup dan sangat introvert perlahan mulai berkurang, ia mulai lebih banyak berbicara dan sedikit terbuka kepada orang baru, krisis percaya diri yang dulu sempat ia alami pun lama kelamaan teratasi.

Selama lebih dari sepuluh tahun karir modelingnya, nama Christina Borries telah dikenal luas sebagai salah satu model papan atas kesayangan para desainer ternama. Sebastian Gunawan, Biyan, Didi Budihardjo, Sally Koeswanto, Ghea Panggabean, Eddy Betty hingga Edward Hutabarat merupakan sebagian kecil desainer ternama Indonesia yang pernah bekerjasama dengan model yang sangat menggemari aktivitas membaca ini. Lintasan catwalk yang ia lalui tidak hanya di dalam negeri saja, negara-negara di Asia seperti Jepang, Cina, Hongkong dan Singapura pernah ia cicipi di sepanjang karir modelingnya.

Membayangkan dirinya suatu saat tidak lagi eksis di dunia modeling Indonesia, Christina berkeinginan untuk memperdalam dunia bisnis. Memiliki clothing line, restaurant, salon, serta jenis usaha lain yang masih berhubungan dengan makanan, fesyen, dan kecantikkan menjadi bagian dari impiannya satu saat nanti.

FOLIAGE ; Bayangan Keindahan Alam Ala Biyan

Biyan adalah salah satu legenda hidup dunia mode Indonesia. Setiap kali ia melansir koleksi busana teranyar, adalah wajib hukumnya bagi pecinta mode khususnya pengagum karya beliau, termasuk saya, untuk mengetahui apalagi yang ia persembahkan untuk dunia mode. Dan Biyan Annual Show 2012/2013 adalah satu hari yang telah saya tunggu sejak satu tahun lalu.

 

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Pertengahan tahun 2011 lalu adalah kali pertama saya menyaksikan secara langsung pagelaran busana karya Biyan Wanaatmadja atau yang lebih dikenal dengan nama Biyan. “The Orient Revisited” begitulah judul yang ia pilih untuk pagelaran busananya tahun lalu, judul yang hingga saat ini tidak pernah hilang dalam ingatan saya.

Saya masih ingat benar ketika setahun lalu saya berada di Grand Ballroom Hotel Mulia yang diterangi sinaran lampu temaram sebelum berubah terang dan seorang penari kontemporer mempertontonkan liukan tubuhnya sebagai pembuka pagelaran tunggal “The Orient Revisited”. Begitu pun dengan rak kayu super besar yang didalamnya berjejer guci-guci raksasa yang jadi dekorasi pada pangkal panggung lintasan catwalk.

Saya tidak akan lupa, tidak pernah lupa betapa menghanyutkannya suasana pada malam itu. Syahdu, megah, namun masih menyisakan kesan modern meski sekaligus seakan membawa saya bertamasya ke suatu tempat nun jauh disana. Tempat dimana saya menyaksikan geliat aktivitas masyarakat etnis Tionghoa dalam perpaduan tempoe doeloe dan modern.

Setahun berlalu dan kesan akan pagelaran tunggal Biyan atau yang biasa disebut Biyan Annual Show tidak bisa hilang. Setahun berlalu, dan dalam setahun itu pula saya menanti untuk bisa mengulang kesan mendalam ketika menyaksikan pagelaran tunggal milik Biyan.

Dekorasi panggung Biyan Annual Show “FOLIAGE”

 

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Saya melangkahkan kaki masuk ke area Grand Ballroom sekitar satu jam sebelum jadwal show seharusnya dimulai, dan saya merasa seperti tersesat di dalam hutan hujan tropis kala malam. Pepohonan yang tingginya lebih dari dua meter, dedaunan yang menguarkan bau khas, bunga-bunga kecil yang menyembul malu-malu dari sela sulur pohon, serta suasana sekitar yang masih gelap dan hanya sedikit terkena pencahayaan yang entah berasal dari mana. Seumur-umur, saya belum pernah merasakan sensasi memasuki ruangan tempat akan berlangsungnya sebuah pagelaran busana seperti saya ada disini. Di Ballroom tempat pagelaran busana Biyan akan berlangsung.

Suasana hutan tropis lengkap dengan pepohonan rimbun bercabang, daun-daun hijau hijau beraroma menenangkan seperti bau tanah sehabis hujan, dan kesyahduan cahaya temaram. Saya rasa saya tidak akan menyadari bahwa sesungguhnya saya berada di dalam sebuah Ballroom tempat akan berlangsungnya pagelaran busana jika saja sebuah lintasan catwalk berwarna putih bersih, kursi-kursi yang berjajar rapi dan bangku berundak di sisi kiri dan kanan ruang tidak menyapa saya beberapa saat kemudian, ketika saya sudah melewati bagian Ballroom yang di tata sedemikian rupa hingga tak ubahnya seperti hutan tropis.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Hege Wollan

“Represent life and its growth..Cerita kehidupan dengan pertumbuhan dan perkembangannya”,

itulah yang diucapkan sang maestro mengenai pagelaran busananya kali ini. Biyan seolah membayangkan berada diantara sekumpulan daun-daun hijau yang rimbun atau bentangan ladang yang luas dipenuhi bunga-bunga liar bermekaran, dan hembusan angin yang beralun ringan menyempurnakan bayangannya tentang sebuah “pelarian” yang indah dan menyejukkan.

Biyan lalu memilih “FOLIAGE” sebagai satu nama yang dirasa mampu mewakili semua yang ada dalam angannya. “FOLIAGE”, ia terjemahkan sebagai sekumpulan daun, interpretasi tentang hidup yang terus betumbuh.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Drina Ciputra

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Michelle Samantha

Jika di tahun sebelumnya dalam pagelaran “The Orient Revisited” Biyan meluncurkan 100 koleksi, pada “FOLIAGE” ia mengurangi jumlah menjadi 90 set busana. Pada rangkaian koleksinya kali ini pula, Biyan terlihat masih sangat nyaman bermain-main dengan eksplorasi keindahan alam yang ada di sekelilingnya dalam membuat motif, warna dan rasa pada koleksi busananya.

Ornamen payet yang dirangkaikan secara detil menjadi rangkaian bunga-bunga kecil serta dedaunan yang memenuhi beberapa bagian busana, disamping motif print bunga, dedaunan, rerumputan, pakis, kupu-kupu, hingga motif polkadot yang menyerupai stomata daun mewarnai kesembilanpuluh set busana yang disuguhkan pada malam itu.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Sharlotta

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Ilmira

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Renata

Siluet busana seperti atasan yang ramping dan potongan bawah yang bervolume, ataupun sebaliknya seperti blus berstuktur kaku dengan bawahan yang ramping, jaket berstuktur kaku yang dipadankan dengan rok lebar bervolume ringan, kesemuanya itu menampilkan sisi feminin perempuan sesungguhnya, bersamaan dengan sisi maskulin, bahkan menyajikannya dengan aspek innocence secara berbarengan.

Sementara, dalam sisi pemilihan warna, Biyan menyelaraskan penggunaan warna dalam koleksinya dengan konsep keindahan alam yang dipilihnya, keindahan alam yang terkesan begitu lembut dan menyejukkan. Warna hijau dari rerumputan, biru langit, putih gading, abu-abu, hitam, merah dan orange pucat, serta emas adalah warna-warna yang dipilih Biyan dalam rangkaian koleksinya.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Katya Talanova

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

90 set busana dibawakan dalam waktu kurang dari satu jam, dan selama itu saya merasa jika koleksi Biyan kali ini masih merupakan pengulangan koleksi terdahulu. Meski saya sangat menyukai keseluruhan koleksi, namun kesan De Javu tetap tak bisa dihilangkan. Motif-motif yang dihadirkan, juga siluet yang ada pada tiap set busana, terasa masih memiliki kesamaan yang begitu kental dengan koleksi “The Orient Revisited”.

Mungkin karena ciri khas siap pakai yang sudah terpatri erat pada garis rancang Biyan, atau mungkin memang Biyan masih ingin melanjutkan benang merah rangkaian koleksinya yang terdahulu. Atau, karena konsep mendasar yang ia usung tetaplah sama, mudah dipakai serta mudah dipadupadankan, nyaman namun tetap mengedepankan sisi gaya dan anggun sekaligus berkarakter kuat. Hal yang kemudian ia rekatkan menjadi satu kesatuan koleksi busana yang memiliki daya tarik tinggi meski terkesan sederhana dan santai.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Advina Ratnaningsih

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Drina Ciputra

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Reti Ragil Riani

Selain itu, tata artistik dekorasi panggung lintasan catwalk yang dibuat sedemikian rupa dipenuhi pepohonan rindang, tumbuhan merambat, dedaunan hijau yang member kesan rimbun, teduh, terpencil sekaligus megah sepintas mengingatkan pada nostalgia film Great Expectations yang merupakan adaptasi novel karya penulis Inggris, Charles Dickens, menjadi daya tarik tersendiri. Saya rasa, dekorasi ruang Ballroom dan panggung lintasan catwalk yang terkonsep sedemikian rupa serta nyaris sempurna menjadi suatu nilai tambah yang sangat besar pada pagelaran busana Biyan di tahun ini.

Seusai Finale Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Dan jika pada tahun lalu saya menuliskan jika para model yang dipilih Biyan dalam memperagakan busana cukup “mengganggu” banyak diantaranya tak ubah zombie di atas catwalk sementara beberapa yang lainnya tak mampu menutupi raut wajah seperti menahan sakit, pada pagelaran busana nya kali ini hal tersebut jauh berkurang. Saya memang masih merasakan beberapa model berjalan seperti tak mempunyai “ruh”, tetapi tidak banyak, dan bisa dihitung jari. Raut wajah seperti menahan sakit pun tidak terasa sama sekali.

Secara keseluruhan, bagi saya, pagelaran busana Biyan kali ini nyaris sempurna terlepas dari kesan De Javu yang begitu melekat.

Reti Ragil Riani ; Skinny Girl Kesayangan Para Desainer

Yang saya selalu ingat darinya adalah tubuh super skinny, wajah tirus yang lancip, dan baju-baju Tex Saverio yang sering ia peragakan. Ia juga pribadi yang rendah hati dan menyenangkan.

Nama Reti Ragil Riani mungkin masih belum cukup familiar ditelinga para pecinta mode. Bisa dikatakan jika belum banyak yang tahu tentang dara bertubuh super langsing dan berwajah lancip yang kini jadi kesayangan banyak desainer ternama Indonesia, termasuk si “gila” Tex Saverio.

Reti Pada Sekuens Tex Saverio Dewi Fashion Knights 2011-12

Reti, Dewi Fashion Knights 2010-11 Sekuens Tex Saverio. Foto: Website JFW

Namun menariknya, saya cukup sering menemukan data statistik blog saya ini dengan keyword Reti Ragil. Oleh karena itu saya menduga mungkin sudah ada cukup banyak orang yang pernah mendengar namanya, tetapi belum mengetahui lebih banyak tentang model peraga busana Tex Saverio yang dikenakan Lady Gaga ini.

Reti(kiri), Fashion Spread Tex Saverio. Foto: Anton Ismael untuk Majalah Dewi

Sejak pertama mengenal sosok Reti, saya selalu mengenangnya sebagai si model super skinny dengan pribadi yang menyenangkan. Dilahirkan dalam keluarga yang sangat peduli dengan pendidikan dan keagamaan, Reti menghabiskan masa sekolahnya selama 12 tahun di sebuah sekolah swasta yang dikenal mementingkan bidang keagamaan disamping bidang akademis, yakni Panglima Besar Soedirman yang berlokasi di wilayah Cijantung Jakarta Timur. Saat masa-masa sekolah itulah Reti menyadari kenyataan bahwa ia memiliki tinggi tubuh di atas rata-rata anak seusianya.

Reti, Fashion Show The Culture Incarnation oleh Oscar Lawalata, JFW 2011-12

Selepas SMA untuk mengisi waktu libur sebelum kuliah, Reti memutuskan untuk mengikuti sekolah modeling atas kemauannya sendiri dan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Dipilihlah Look Models Inc sebagai tempat ia menimba ilmu modeling, namun jalan hidup tidak ada yang bisa menduga, pada saat pertama mendaftar, Reti justru langsung ditawari kontrak selama lima tahun oleh Look Models Inc dibawah pimpinan Keke Harun. Setelah berkonsultasi ke sang Mama, esok harinya Reti memutuskan untuk menerima tawaran kontrak tersebut.

Reti di Majalah Fashion Pro. Foto oleh Azmi

Berawal dari sana, karir modelingnya lalu berkembang pesat. Deretan nama desainer papan atas Indonesia seperti Priyo Oktavianno, Biyan, Eddy Betty, Sebastian Gunawan, dan Tex Saverio, adalah sebagian kecil dari para desainer ternama yang kerap kali menggunakan jasanya  sebagai seorang model. Meski tergolong sebagai model pendatang baru, namun dengan tinggi 179 cm dan berat 50 kg, wajah lancip yang khas serta memiliki karakter tersendiri, tidak heran bila gadis yang punya hobi membaca komik Miko ini menjadi salah satu model kesayangan para desainer yang patut diperhitungkan.

Reti di "Shanghai Swing" Sebastian Gunawan. Foto: Windy Sucipto

Reti, "The Orient Revisited" BIYAN

Saat ini, selain disibukkan oleh aktivitasnya di bidang modeling, Reti juga masih tercatat sebagai mahasiswi di STIKS Tarakanita. Pengagum sosok TOP model Fahrani pun memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi.

Hal ini terbukti dengan waktu-waktu yang dihabiskannya untuk mengunjungi panti jompo, serta bakti sosial kecil-kecilan. Ia juga memiliki sebuah impian untuk bisa mengajak anak-anak yatim piatu mengunjungi dan bermain sepuasnya di DUFAN. Baginya, jika hal itu bisa terlaksana pasti akan menyenangkan sekali.