“Tale of The Goddess” ; Dongeng Sang Dewi Dari Lima Ksatria Mode Indonesia

Lima ksatria mode diberikan satu benang merah. Kelimanya diminta untuk menerjemahkan sosok “dewi” dalam koleksi busana pamungkasnya. Lima ksatria menyusun strategi, coba melukisan “dewi” dalam interpretasi tersendiri. Lima cerita tentang sosok “dewi” disuguhkan. Kelima ksatria mode seolah mendongeng dengan caranya masing-masing. Penasaran?

Pidato Penutupan Jakarta Fashion Week 2014 oleh Svida Alisjahbana

Pidato Penutupan Jakarta Fashion Week 2014 oleh Svida Alisjahbana

Dewi Fashion Knights bukan lagi sekadar peragaan busana penutup rangkaian Jakarta Fashion Week setiap tahunnya. Bukan lagi hanya sebatas ajang pameran karya para “ksatria mode” Indonesia. Bukan juga sebuah pesta mode yang selesai tuntas dalam satu malam perayaan. Lebih dari itu, bagi saya, Dewi Fashion Knights telah menjelma sebagai legenda dalam setiap penyelenggaraan Jakarta Fashion Week.

Desainer mode Indonesia terpilih. Karya busana mutakhir yang mengundang decak kagum. Barisan model peraga busana yang dipilih secara teliti. Konsep matang yang dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Tim koreografer jempolan yang ditugaskan khusus untuk mengeksekusi jalannya acara. Bila dirangkumkan, semua hal tadi tak lain adalah formula esensial dalam mencipta Dewi Fashion Knights sebagai legenda peragaan busana di Jakarta Fashion Week.

Namun terlepas dari semua itu ada beberapa hal penting lainnya yang menjadikan Dewi Fashion Knights layaknya legenda di Jakarta Fashion Week. Bagi saya, gelar legenda patut disematkan pada Dewi Fashion Knights karena peragaan mode ini adalah salah satu barometer terpenting dunia mode Indonesia yang mampu merepresentasikan karya visioner para desainer mode Indonesia terpilih. Dalam tahun-tahun pelaksanaannya, pecinta mode acap dibuat terperangah oleh karya busana mengagumkan yang ditampilkan. Tapi kadang, Dewi Fashion Knights juga meninggalkan kontroversi tersendiri mengenai ksatria mode yang dipinang atau karya busana yang ditampilkan. Lalu, jadilah peragaan busana pamungkas ini sebagai buah bibir yang terlalu menarik bila hanya dibicarakan semalaman, begitu pula pada perhelatannya di tahun ini.

Dewi Fashion Knights "Galore"

Dewi Fashion Knights “Galore”

Membicarakan Dewi fashion Knights tentu tidak bisa lepas dari nama-nama desainer mode yang dipinang sebagai “ksatria” di dalamnya. Ya, ksatria, sesuai dengan nama gelaran ini, para desainer mode yang dipilih untuk menampilkan karyanya dalam Dewi Fashion Knights lantas diberi gelar “ksatria mode”. Setelah di tahun sebelumnya, Dewi Fashion Knights menghadirkan Sapto Djojokartiko, Ghea Panggabean, Oscar Lawalata, Priyo Oktaviano dan Deden Siswanto, pada tahun 2013 ini, Dewi Fashion Knights hanya mempertahankan Priyo Oktaviano dan Oscar Lawalata dalam jajaran ksatria mode yang turut berpartisipasi, sementara Toton Januar, Populo Batik adalah nama baru yang dipinang Dewi Fashion Nights melengkapi kembalinya Tex Saverio dalam singgasana ksatria mode Indonesia.

Mengusung tema “Tale of The Goddess” lima ksatria mode diminta untuk menginterpretasikan definisi “dewi” sebagai sosok wanita modern dari kacamata kreatifitas masing-masing. Berangkat darisana kelimanya pun merangkai cerita yang bersumber pada interpretasi mereka tentang sang “dewi”, lalu mentransformasikannya ke dalam  koleksi busana yang dipersembahkan khusus untuk Dewi Fashion Knights. Dan inilah para ksatria serta kisah mereka tentang sang “dewi” :

Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Finale Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Finale Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Tampil sebagai pembuka Dewi Fashion Knights, Oscar Lawalata mengisahkan “dewi” yang ada dalam kepalanya dalam rangka imajinasi indah namun misterius layaknya keadaan galaksi di angkasa luas. Nama galaksi tetangga Bimasakti, Andromeda, pun ikut disematkan pada tajuk untuk koleksi busananya, “My Name is Andromeda”. Sisi kekuatan dan kelemahan yang ada dalam sosok wanita ia ibaratkan layaknya peleburan galaksi yang misterius dan memiliki dua citra utama sebagai tempat yang asing berlatar hitam yang menyimpan kekuatan besar nan magis, sekaligus hamparan bintang dan planet yang membentuk pola keindahan tersendiri.

Konstruksi kisah “dewi” seolah ia bangun sebagai sosok wanita yang memiliki kecantikan misterius dengan kepribadian kuat yang terwujud dalam busana berpalet warna hitam. Menggunakan material utama kain sutra berwarna hitam, Oscar Lawalata menghadirkan busana bergaris rancang geometris dengan siluet flare. Pada beberapa busana Oscar Lawalata juga terasa meminimalisir pemotongan dan pengikatan bahan sehingga busana-busana yang ditampilkan layaknya jubah ringan yang dikenakan dengan cara sedemikian rupa oleh para model. Atasan dan celana bersiluet flare, rok midi A-line, celana kulot yang menyerupai rok panjang dan beberapa atasan berdetil cut out serta draperi disajikan Oscar untuk koleksi berpalet warna hitam miliknya.

Busana bersiluet flare dengan detil draperi pada "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata. Model: Renata

Busana bersiluet flare dengan detil draperi pada “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata. Model: Renata

Atasan bergaris rancang tegas dipadu celana kulot dari sutra hitam pada "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata. Model: Dominique Diyose

Atasan bergaris rancang tegas dipadu celana kulot dari sutra hitam pada “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata. Model: Dominique Diyose

Busana berpotongan lurus dengan palet warna cerah dalam "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata

Busana berpotongan lurus dengan palet warna cerah dalam “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata

Usai menampilkan palet warna hitam, kini giliran palet warna cerah seperti putih, merah, pink, oranye dan ungu yang dipilih Oscar Lawalata. Pada sekuensnya yang kedua, sang desainer seakan ingin menampilkan warna keindahan galaksi melalui ragam busana yang ia buat dalam siluet yang longgar. Gaun-gaun pendek dengan garis rancang sederhana bersiluet flare serta A-line pun ia jadikan sajian utama.

Menutup akhir sesi peragaan busana, Oscar lantas memberi sebuah kejutan kecil. Desainer mode berpenampilan androgini ini menyusup ke dalam barisan model peraga busananya dan berlenggok bersama mereka disepanjang lintasan catwalk Jakarta Fashion Week. Sebuah kejutan kecil yang langsung memicu riuh rendah tepuk tangan dari dalam Fashion Tent Jakarta Fashion Week 2014.

Populo Batik

Koleksi busana pria bergaya kasual dari Populo Batik dengan motif batik kontemporer 'Slobok'

Koleksi busana pria bergaya kasual dari Populo Batik dengan motif batik kontemporer ‘Slobok’

Keberadaan Populo Batik dalam jajaran ksatria mode Dewi Fashion Knights mau tak mau sempat membuat saya mengerutkan kening. Pasalnya, baru kali ini rasanya Dewi Fashion Knights menunjuk lini busana yang sangat berorientasi ready-to-wear dan produksi cukup massal ke dalam jajaran para ksatria. Memang, lini busana ready-to-wear bukan hal yang baru pada Dewi Fashion Knights, di tahun sebelumnya pun ada SPOUS, lini busana siap pakai kepunyaan Priyo Oktaviano. Namun, tetap saja keberadaan Populo Batik pada Dewi Fashion Knights terasa cukup ganjil bagi saya. Mungkin karena saya selama ini lebih akrab dengan Dewi Fashion Knights yang selalu menghadirkan nama-nama desainer mode dengan lini utamanya atau lini kedua yang tetap saja menguarkan aroma eksklusivitas tinggi, teknik pembuatan rumit dan konsep yang tertata jeli khas karya busana desainer mode pada umumya.

Tetapi nyatanya lini busana milik Bai Soemarlono dan Joseph Lim melenggang mulus di atas lintasan catwalk Dewi Fashion Knights dengan koleksi busana batik bergaya kasual dan modern. Mengedepankan koleksi busana bergaya kekinian, Populo Batik lebih banyak bermain dengan motif batik kontemporer berbentuk garis dan geometris. Adapun sisi klasik dari kain Batik yang dipertahankan ialah teknik pembuatan dan pewarnaan motif pada kain batik yang menggunakan alat-alat untuk membuat batik tulis serta batik cap.

IMG_7669

Koleksi busana wanita siap pakai oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Firrina

Gaun batik kontemporer yang terlihat santai nan kasual oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kusuma Wardhany

Gaun batik kontemporer yang terlihat santai nan kasual oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kusuma Wardhany

Luaran berupa jubah panjang dalam koleksi Men's Wear Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Dion Wiyoko

Luaran berupa jubah panjang dalam koleksi Men’s Wear Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Dion Wiyoko

Pada pembuktian eksistensinya dalam Dewi Fashion Knights, lini busana ready-to-wear yang sudah ada sejak tahun 1994 ini seolah menerjemahkan sosok “dewi” yang lekat dengan imej magis dan mengagumkan sebagai sosok wanita modern masa kini yang bisa jadi tersusup diantara orang-orang yang biasa kita jumpai sehari-hari. Interpretasi kata “goddess” yang ada dalam tajuk Dewi Fashion Knights kali ini juga dipersembahkan duo Bai dan Joseph pada perajin batik yang mereka rasakan sebagai salah satu perwujudan “goddess” bagi keduanya. Memadukan hasil kreasi motif batik tulis dan batik cap kontemporer hasil modifikasi motif klasik, Populo lantas mengaplikasikan keduanya pada lebih dari 20 pasang busana women’s wear dan men’s wear. Blus, celana model Capri, celana panjang lurus, rok, blazer, kemeja, hoodies, rompi, gaun, hingga luaran seperti jubah menjadi bagian dari koleksi Populo Batik pada gelaran Dewi Fashion Knights.

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Terinspirasi oleh keindahan bawah laut yang begitu mempesona sekaligus menyimpan sisi misterius yang tak bisa terelakan, Toton Januar mendongengkan kisah sang “dewi” dalam tajuk “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”. Ketika menyaksikan dan melafalkan lamat-lamat judul yang dipilih Toton, alam imaji saya membentuk penafsiran tersendiri tentang alur cerita yang mungkin tersimpan dalam rangkaian koleksi milik desainer muda yang baru memulai labelnya di tahun 2012 silam ini.

Saya membayangkan bahwa “dewi” yang diceritakan Toton Januar seperti dongeng-dongeng tentang sosok wanita tangguh penguasa lautan luas yang akhirnya diketahui keberadaannya oleh seorang Raja atau Sultan dari sebuah negeri. “dewi” penguasa lautan dan Sultan lalu menjadi cerita, entah cerita cinta, petualangan, atau sekadar cerita tentang kekaguman pada sosok “dewi” yang begitu melenakan.

Dalam hal koleksi yang ditampilkan, Toton menghadirkan 10 set busana bergaris rancang unik yang sangat khas. Potongan asimetris banyak ia suguhkan bersama padupadan detil ruffles, bahan transparan, bordir, payet berkilauan dalam pasang-pasang busana berstruktur tegas yang memiliki kesan bahwa Toton menampilkan “dewi” dalam ceritanya sebagai sosok yang kuat meski terselip pula kesan feminin dan romantis.

Padupadan busana berpotongan tegas dan material transparan pada koleksi Toton Januar untuk Dewi Fashion Knights. Model: Michelle Agnes

Padupadan busana berpotongan tegas dan material transparan pada koleksi Toton Januar untuk Dewi Fashion Knights. Model: Michelle Agnes

Koleksi Toton Januar dalam “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss” untuk Dewi Fashion Knights. Model: Putri Sulistyo

Koleksi Toton Januar dalam “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss” untuk Dewi Fashion Knights. Model: Putri Sulistyo

Interpretasi "dewi" oleh Toton Januaryang mengambil inspirasi dari keindahan bawah laut. Model: Reti Ragil

Interpretasi “dewi” oleh Toton Januaryang mengambil inspirasi dari keindahan bawah laut. Model: Reti Ragil

Jalinan cerita tentang “dewi” lautan yang didongengkan Toton pun kembali terlihat pada pemilihan warna dalam busananya. Warna hijau kebiruan, warna putih gading, dan beberapa sentuhan warna cerah seperti oranye merupakan interpretasi sang desainer terhadap warna laut dan ekosistem di dalamnya. Namun, tentang pemilihan warna yang ditampilkan Toton, saya pribadi merasakan bahwa warna-warna yang ia pilih cenderung pucat sehingga menghasilkan kesan latar belakang lautan yang tenang namun misterius dibandingkan dengan lautan yang kaya akan keindahan ekosistem.

Sisi lainnya yang juga menarik untuk ditilik pada rangkaian koleksi Toton Januar kali ini adalah pemilih model yang membawakan koleksi busana. Deretan model berwajah khas Indonesia yang dipilih Toton sebagai garda depan dalam presentasi karyanya seakan menciptakan kesan bahwa dongeng “dewi” lautan dan keindahan bawah laut yang sedari awal ia usung merupakan representasi gambaran keindahan lautan Indonesia.

Priyo Oktaviano “Galore”

Sang ksatria mode, Priyo Oktaviano bersama koleksinya "Galore" pada Dewi Fashion Knight

Sang ksatria mode, Priyo Oktaviano bersama koleksinya “Galore” pada Dewi Fashion Knights

Tantangan interpretasi sosok “dewi” yang diberikan Dewi Fashion Knights melambungkan tinggi imajinasi Priyo Oktaviano pada kemegahan Istana kebanggan rakyat Perancis Château de Versailles” dan pesona kemewahan kain Tapis Lampung yang tidak lain adalah perlambang kejayaan Kerajaan Lampung di masa lalu. Bersamaan dengan latar belakang kemegahan, kemewahan, dan kejayaan itu, Priyo Oktaviano lantas menemukan sosok wanita kuat, gagah, memiliki keberanian untuk keluar dari wilayah privat, tetapi tetap menyimpan sisi feminin serta kecantikan yang sulit terbantahkan. Aroma “Femme Fatale” pada koleksi Priyo kali ini pun terasa menguar kuat. Sosok “dewi” seolah diterjemahkan Priyo ke dalam sosok wanita yang tahu benar bagaimana ia mampu mempergunakan kekuatan, daya tarik sekaligus kecantikannya untuk membuat siapa saja tidak hanya mengagumi tetapi bertekuk lutut pada sosoknya.

Telah menjadi bagian dari Dewi Fashion Knights sejak tahun 2008, pada keterlibatannya kali ini sang ksatria mode mempertemukan dua kebudayaan dari dua belahan dunia berbeda. Megahnya arsitektur interior Istana Versailles di Prancis menjadi rangka inspirasinya dalam mempersembahkan 12 set busana wanita dalam tema “Galore”, kemegahan. Meski rangka inspirasi ia susun dari kemegahan arsitektur interior Istana Versailles, adalah hal yang keliru bila mengira bahwa inspirasi Istana yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Louise XVIII yang akan jadi primadona. Dalam rangkaian koleksi milik desainer berkacamata ini, justru kain Tapis Lampung yang ia gunakan sebagai aspek pengisi rangka inspirasilah yang mencuat menempati posisi puncak limpahan perhatian ketika koleksi dipresentasikan.

Melalui 12 set busana wanita yang bersiluet gagah, bergaris potong tegas, kuat dan terkesan androgini layaknya seragam perang sang Jenderal Perancis, Napoleon Bonaparte. Hadir dalam warna-warna yang terkesan mewah dan gagah seperti emas, hitam, dan merah, Priyo Oktaviano menggunakan material inti 80% kain Tapis Lampung yang kemudian ia olah dalam kemasan kemegahan ala Eropa.

Gaun beraksen ruffles yang terinspirasi oleh Marie Antoinette pada koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano. Model: Kelly Tandiono

Gaun beraksen ruffles yang terinspirasi oleh Marie Antoinette pada koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano. Model: Kelly Tandiono

Busana wanita bernuansa androgini yang terinspirasi oleh seragam perang Napoleon Bonaparte dalam koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano. Model: Chloe Clau

Busana wanita bernuansa androgini yang terinspirasi oleh seragam perang Napoleon Bonaparte dalam koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano. Model: Chloe Clau

Gaun pamungkas koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano untuk Dewi Fashion Knight. Model: Kimmy Jayanti

Gaun pamungkas koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kimmy Jayanti

Keindahan kain Tapis Lampung yang dikerjakan secara manual menggunakan gedokan dan teknik sulam(cucuk) ditransformasikan ke dalam bentuk busana hasil penafsiran kemewahan dan kemegahan Istana Versailles. Langit-langit megah istana, dinding-dinding penuh dekoratif mewah nan artistik hingga ukiran kayu dan gypsum klasik yang seolah mempigurakan keindahan abadi Istana Versailles diterjemahkan lewat siluet busana bervolume  tegas dan teknik patchwork  yang digunakan dalam pengaplikasian kain Tapis Lampung pada tiap panel busana.

Sentuhan warna emas pekat, motif geometris di helai kain Tapis Lampung, dan aksen ruffles  yang mempercantik gaun kreasi Priyo Oktaviano, masing-masing merujuk pada banyaknya ornamen emas di Istana Versailles, pola dinding bagian dalam Istana Versailles, serta cerminan gaya berbusana Ratu Marie Antoinette, sang permaisuri Raja Louise XIV yang kontroversional. Detil koleksi busana pun bertambah kaya dengan banyak permainan bordir berbentuk daun ivy(daun kemakmuran bagi rakyat Perancis) dan manik-manik yang dibentuk menyerupai matahari.

Tex Saverio Prive “Exoskeleton”

Sosok "dewi" dari masa depan yang dituangkan Tex pada busana yang mengaplikasikan teknik print 3D bertajuk "Exoskeleton".

Sosok “dewi” dari masa depan yang dituangkan Tex pada busana yang mengaplikasikan teknik print 3D bertajuk “Exoskeleton”.

Tex Saverio memiliki tafsiran tersendiri tentang sosok “dewi”. Bagi desainer muda yang namanya meroket setelah gaun rancangannya dikenakan Lady Gaga ini, sosok “dewi” yang berkembang dalam imajinasinya adalah sesosok wanita dengan keanggunan yang tak biasa. Dalam imajinasinya, “dewi” adalah seorang wanita, namun bukan manusia, dan ia datang dari masa depan. Imajinasi akan sosok “dewi” yang bukan manusia dalam bayangan Tex Saverio ini kemudian ia tuangkan dalam 5 set busana wanita dengan dominasi warna hitam yang mau tak mau memunculkan kesan magis nan misterius dari sosok “dewi” yang coba ia hadirkan.

Lebih jauh, bayangan mengenai sosok “dewi” yang berasal dari masa depan lantas ia coba terjemahkan melalui pengaplikasian teknologi rumit printing 3D. Suatu teknik terbilang langka di dunia mode namun acap kali dipergunakan oleh desainer couture asal Belanda Irish van Herpen dalam karyanya. Meski bukan hal yang terlampau baru di dunia mode, penggunaan print 3D oleh Tex Saverio adalah yang pertama kali dilakukan oleh desainer mode di Indonesia. Untuk menerapkannya dalam busana pun terbilang rumit, selain harus menggunakan software khusus untuk menggambar pola yang diinginkan, Tex harus melakukan pemindaian langsung pada tubuh model saat akan membuat cetakan yang nantinya digunakan untuk pencetakan material besi khusus yang digunakan. Bahan baku besi yang digunakan pun tak main-main, untuk urusan satu ini, Tex Saverio menggunakan bahan besi yang biasa dipergunakan untuk kebutuhan seragam perang.

Koleksi busana dengan dominasi warna hitam dan metalik yang dihadirkan Tex Saverio dalam "Exoskeleton". Model: Christina Borries

Koleksi busana dengan dominasi warna hitam dan metalik yang dihadirkan Tex Saverio dalam “Exoskeleton”. Model: Christina Borries

Jubah hitam berbahan velvet semakin menguatkan kesan magis nan misterius dari interpretasi sosok "dewi" Tex Saverio. Model: Simona

Jubah hitam berbahan velvet semakin menguatkan kesan magis nan misterius dari interpretasi sosok “dewi” Tex Saverio. Model: Simona

Busana penutup koleksi Tex Saverio "Exoskeleton", print 3D ia tampilkan secara maksimal pada bagian atas busana dan head piece. Model: Paula Verhoeven

Busana penutup koleksi Tex Saverio “Exoskeleton”, print 3D ia tampilkan secara maksimal pada bagian atas busana dan head piece. Model: Paula Verhoeven

Digadang sebagai momen pertama penggunaan print 3D di Indonesia, rangkaian koleksi busana Tex Saverio terdiri atas 4 gaun panjang dan 1 busana bersiluet swim suit berwarna metalik. Dalam presentasinya di atas lintasan catwalk Dewi Fashion Knights, busana koleksinya itu dilengkapi dengan jubah velvet berwarna hitam yang semakin menguatkan kesan “gelap” dan misterius. Pemberian urutan presentasi bungsu yang diberikan kepada Tex pun mampu ia gunakan dengan cukup apik untuk menyerap perhatian maksimal dari para tetamu dan awak media di Dewi Fashion Knights dengan menyajikan kelima set busana di bawah spot light yang dramatis. Adapun judul “Exoskeleton” atau dapat dimaknai sebagai kerangka keras yang berada diluar tubuh dipilih Tex untuk judul koleksinya kali ini. Bagi Tex, “Exoskeleton” merupakan perumpamaan sebagai pelindung  seperti sosok “dewi” yang coba ia hadirkan dalam tiap pasang busananya.

Terimakasih Teman-Teman Model untuk ABG di Balik Runway

Delapan model bersama ABG di Balik Runway

Delapan model bersama ABG di Balik Runway

Terimakasih teman-teman model semua. Terimakasih delapan teman model dalam foto diatas:
1. Melinda Priskila, 2. Kelly Tandiono, 3. Christina Borries, 4. Whulandary Herman
5.Winny Christy, 6. Maria Margareth, 7. Ayu Faradilla, 8. Marcella Tanaya

Bersama ABG di Balik Runway

Bersama ABG di Balik Runway

Terimakasih juga untuk para model di dalam foto ini:
1. Simona Travnickova yang berpose seksi dengan ABG di Balik Runway :-p
2. Richard Fiando dan Hendy Bramantyo
3. Mareike Brenda
4. Renobulan Sanusi

Dan yang terakhir terimakasih banyak untuk seorang teman baik, si Model Pendiam:

Temen gue si Model Pendiam

Temen gue si Model Pendiam

Christina Borries; Label “kutilangdarat” Tidak Berlaku Padanya

Kurus tinggi langsing dada rata, sejak dulu sudah jadi tagline tidak terpisahkan dari para model catwalk. Tapi bagi model satu ini, ungkapan tersebut hampir tidak berlaku. Ia memang tinggi dan langsing, namun tubuhnya tidak kurus, apalagi berdada rata.

Christina Borries. Foto: Composite E-Model Management

Ada begitu banyak model yang setiap harinya turut mewarnai dunia mode Indonesia. Puluhan perempuan-perempuan jangkung yang memiliki proporsi tubuh nyaris serupa satu sama lainnya. Tinggi semampai di atas 170cm, tubuh langsing bahkan cenderung super skinny, serta memiliki lingkar dada dan hips yang jauh dibawah rata-rata. Perempuan-perempuan pemegang garda terdepan dunia mode yang sering mendapat sebutan kutilangdarat. Kutilangdarat tentunya bukan sama sekali berkaitan dengan jenis unggas, tetapi kutilangdarat adalah sebuah singkatan dari 4 hal yang melukiskan bagaimana proporsi tubuh para model catwalk kebanyakkan, kurus, tinggi, langsing, dan berdada rata.

Secara generalilasi ugkapan kutilangdarat mungkin memang terasa cocok bagi sebagian besar model catwalk yang hingga kini eksis dalam peta permodelan tanah air. Namun jika kita melepaskan generalisasi dan menelaah lebih seksama, nyatanya tidak semua model catwalk adalah perempuan dengan label kutilangdarat.

Biyan Annual Fashion Show 2011-2012 “The Orient Revisited”

Fashion Show VALENTINO di Pembukaan PI Fashion Week 2012. Foto: Windy Sucipto

“The Catwalk Moment” oleh Obin untuk BIN House di JFW 2011-2012.

Dia adalah Christina Borries, salah seorang model catwalk yang telah mencatatkan karir modelingnya sejak tahun 2001 silam. Lahir di Bandung 21 Agustus 1984, dia adalah salah satu model catwalk yang jauh dari tagline “kutilangdarat. Tubuhnya memang tinggi semampai tak kurang dari 180cm dan beratnya hanya 52kg, namun ia memiliki lekuk tubuh yang sangat menawan. Ia juga memiliki aura sensual yang berbeda, sensual namun anggun, dan ‘mahal’ di satu waktu.

Memulai karirnya ketika masih bersekolah di bangku SMA, Christina memilih untuk bergabung dengan agensi milik desainer Adjie Notonegoro di Ibu Kota, namun sayang lompatan karir pertamanya itu harus terhenti untuk sementara karena ia masih harus menyelesaikan sekolahnya di Bandung. Barulah pada tahun 20 04 ketika ia telah benar-benar menyelesaikan sekolahnya dan menetap di Jakarta, namanya mulai dikenal luas setelah mengikuti ajang Indonesian Model Indosiar(IMI). IMI sendiri merupakan sebuah ajang pencarian bibit baru di dunia modeling Indonesia yang diselenggarakan oleh stasiun TV Indosiar yang menggandeng nama-nama kondang di dunia mode seperti Itang Yunaz dan Okky Asokawati sebagai dewan juri.

Dilahirkan di sebuah keluarga kecil dengan dua kebudayaan berbeda, yakni Ayah yang berkewarganegaraan Jerman berdarah Rusia sementara Ibu-nya seorang wanita Banjarmasin yang kemudian tinggal menetap di kota Bandung, Christina tumbuh menjadi seorang yang memiliki sifat tertutup dan introvert. Dua sifatnya inilah yang kemudian menimbulkan masalah ketika ia terjun di dunia modeling.

Fashion Show “Fashion Nation Senayan City” sekuens IKAT oleh Didiet Maulana.

Sekuens Eddy Betty di Bazaar Langgam Tiga Hati Fashion Celebration 2011.

Foto Composite E-Models Management.

“Tribute to The Cure” oleh Ve Dhanito.

Membutuhkan waktu yang lama baginya untuk bisa nyaman menjadi seorang model yang harus tampil di depan orang banyak. Namun perjalanan karirnya di dunia mode semakin lama membuatnya banyak belajar. Sifatnya yang tertutup dan sangat introvert perlahan mulai berkurang, ia mulai lebih banyak berbicara dan sedikit terbuka kepada orang baru, krisis percaya diri yang dulu sempat ia alami pun lama kelamaan teratasi.

Selama lebih dari sepuluh tahun karir modelingnya, nama Christina Borries telah dikenal luas sebagai salah satu model papan atas kesayangan para desainer ternama. Sebastian Gunawan, Biyan, Didi Budihardjo, Sally Koeswanto, Ghea Panggabean, Eddy Betty hingga Edward Hutabarat merupakan sebagian kecil desainer ternama Indonesia yang pernah bekerjasama dengan model yang sangat menggemari aktivitas membaca ini. Lintasan catwalk yang ia lalui tidak hanya di dalam negeri saja, negara-negara di Asia seperti Jepang, Cina, Hongkong dan Singapura pernah ia cicipi di sepanjang karir modelingnya.

Membayangkan dirinya suatu saat tidak lagi eksis di dunia modeling Indonesia, Christina berkeinginan untuk memperdalam dunia bisnis. Memiliki clothing line, restaurant, salon, serta jenis usaha lain yang masih berhubungan dengan makanan, fesyen, dan kecantikkan menjadi bagian dari impiannya satu saat nanti.

Claire de Lune ; Didi Budihardjo Terinspirasi Oleh Budaya Jawa (?)

Claire de Lune, saya melafalkannya pelan-pelan. Pikiran saya langsung terbawa ke satu dimensi lain dimana saya tengah berada disebuah malam yang syahdu dan hanya ditemani cahaya bulan yang membulat penuh di langit hitam. Syahdu,  intim, dan menghipnotis.

 

Model: Tri Sudarko

Claire de Lune, sebuah nama yang cantik ketika dipilih sebagai judul pegelaran busana tunggal. Nama yang langsung membangkitkan imajinasi, dan membuat otak saya bekerja cepat untuk menebak-nebak apa yang akan ditampilkan pada malam hari ketika bulan membulat sempurna?. Lalu jika yang muncul kemudian adalah pertanyaan, kenapa bulan?. Kenapa sejak tadi saya seperti tak bisa lepas membayangkan bulan penuh yang bersinar terang, karena Claire de Lune atau Trang Boelan yang menjadi judul pada pagelaran busana tunggal milik Didi Budihardjo ini dapat diartikan sebagai satu fase dalam pergantian wujud bulan dimana ia membulat sempurna, bersinar terang, dan begitu cantik. Banyak orang yang menyebutnya sebagai bulan purnama.

Tiba sejak pukul 18. 20 WIB saya terpaksa harus benar-benar melewatkan sesi pers conference yang diadakan di sebuah ruang di lantai M Hotel Mulia. Saya tidak bisa menolak ajakan salah seorang teman yang meminta saya menemaninya menghabiskan makan malam di The Café. Tapi saya membaca rilis yang saya terima dari panitia penyelenggara pagelaran busana tunggal Didi Budihardjo itu secara seksama. Saya membacanya lamat-lamat dan berusaha untuk memahaminya sebaik mungkin.

Satu jam sebelum pagelaran busana tunggal dimulai, saya sudah mengambil posisi terbaik yang bisa saya dapatkan tepat di depan lintasan catwalk. Pada posisi saya itu saya duduk manis sembari merenung dan berpikir keras tentang dekorasi panggung di hadapan saya yang belum rampung seluruhnya.

Beberapa orang pekerja masih terlihat sibuk menjadi spiderman dadakan untuk membenarkan beberapa papan kayu agar terpasang sempurna sebagai bagian dari dekorasi panggung pada malam itu. Dekorasi yang pada saat belum sempurnanya saja sudah terasa cantik karena menyerupai dinding putih besar yang kokoh dan megah ala bangunan jaman kolonial.

Satu jam sebelum pagelaran busana dimulai, hanya satu jam, dan pekerja masih sibuk membenarkan dekorasi di bagian pangkal lintasan catwalk. Jantung saya ikut berdebar, bisakah semua selesai tepat waktu?. Dan jawabannya adalah bisa, sempurna. Dekorasi panggung lintasan catwalk terselesaikan secara sempurna beberapa saat kemudian, tak perlu waktu terlalu lama. Dinding besar yang mengingatkan saya pada bangunan jaman kolonial itu berdiri kokoh dan berfungsi seperti semestinya, sebagai dekorasi sekaligus gerbang buka-tutup untuk para model yang akan memperagakan busana.

Model: Marcella Tanaya

Model: Nien Indriyati

Putih adalah warna pembuka pada pagelaran busana Didi Budihardjo. Sebuah gaun pendek dengan rangkaian bunga yang terjalin rapi pada bagian depan gaun dan bagian bahu berdetil menyerupai lilitan kain yang dibawakan oleh Kelly Tandiono menjadi busana pembuka pada sekuens pertama.

Kontradiksi lalu dihadirkan Didi Budihardjo begitu memasuki sekuens kedua. Nuansa putih digantikan oleh rangkaian busana berwarna hitam. Permainan kelompok warna sebagai penanda bergantinya sekuens memang sangat terasa pada pegelaran tunggal yang diganjar rekor MURI karena dianggap sebagai pagelaran busana desainer Indonesia pertama yang ditayangkan secara live streaming yang bisa disaksikan oleh seluruh dunia melalui situs wollipop.com.

Putih, hitam, emas, biru, merah dan perak merupakan rangkaian warna yang mendominasi pada keseluruhan pagelaran busana.

Model: Fahrani

Model: Reti Ragil Riani

Meski sempat dikatakan bahwa rangkaian koleksinya kali ini mengambil esensi utama dari kebudayaan Jawa yang kemudian diolah dalam bentuk yang lebih kontemporer, seperti yang saya baca dengan seksama di pers rilis yang dibagikan, namun hal ini terasa kurang, dan bahkan saya sampai tidak menyadarinya sama sekali jika saja saya tidak mengingat lagi si rilis yang sempat saya baca.

Claire de Lune oleh Didi Budihardjo

Claire de Lune oleh Didi Budihardjo

Inspirasi cara pemakaian wiron, dodot, beskap maupun stagen tidak tergambar jelas melalui busana yang Didi Budihardjo pamerkan. Justru, nuansa kebarat-baratanlah yang terasa begitu kental. Terlebih ketika suasana dramatis yang terbangun sepanjang pagelaran busana begitu identik dengan suasana dramatis di film Black Swan.

Seperti misalnya pemilihan warna dua warna di dua sekuens awal, putih lalu berganti hitam. Memang jika ingin ditilik, penggunaan kedua warna itu sangatlah umum dan bukan hal baru. “Penabrakkan” kedua warna tersebut pada sebuah rangkaian koleksi juga terbilang cukup sering dilakukan, namun dengan make up, tata rambut, aksesoris pelengkap yang dikenakan para model, sampai alunan musik klasik kontemporer yang mengalun indah membuat aura film Black Swan terasa begitu lekat.

Model: Mungky Chrisna

Model: Kelly Tandiono

Model: Christina Borries

Namun jika membicarakan kelimapuluh rancangan koleksi yang disuguhkan Didi Budihardjo, ia rasanya berhasil membuat setiap pasang mata terpukau atas busana-busana indah dengan detil-deti rumit. Gaun pendek one shoulder, gaun pendek off shoulder, gaun pendek dengan belahan dada yang rendah, gaun panjang yang ringan melambai, gaun panjang bertumpuk yang menawan, hingga aksen pelengkap seperti mantel bulu dan jubah panjang, sudah lebih dari cukup untuk membuat segenap tamu undangan yang hadir berdecak kagum.

Model: Nadine Chandrawinata

Model: Laura Basuki

Model: Laura Muljadi

Tapi hingga detik ini, ada beberapa hal yang masih mengganggu pikiran saya mengenai pagelaran tunggal Claire de Lune disamping dekorasi panggung lintasan catwalk yang belum rampung benar di jam-jam terakhir pagelaran busana akan diselenggarakan dan pers rilis yang terasa kurang sesuai dengan pagelaran busana, hal lain yang mengganggu adalah pada saat kemunculan tiga model yang membawakan gaun pendek penuh taburan manik-manik kristal, butiran manik-manik sangat banyak yang jatuh terlepas dari gaun sehingga ‘mengotori’ sepanjang lintasan catwalk.

Bagi saya hal ini perlu menjadi catatan penting karena butiran manik-manik kristal yang terjatuh bececeran di lantai sangat berbahaya bagi para model yang mengenakan sepatu ber-hak tinggi. Butiran manik-manik yang berceceran itu sangat berpotensi membuat model tergelincir lalu jatuh diatas lintasan catwalk. Akibatnya tentu bisa fatal bagi si model, mulai dari terkilir, hingga patah kaki jika memang entah bagaimana caranya terjatuh dalam posisi yang benar-benar apes, dan bagi busana yang dikenakan si model tentunya sangat mungkin terjadi kerusakan.

Dalam hemat saya, ada baiknya jika hal-hal seperti ini lebih dipertimbangkan lagi. Jika memang si busana belum rampung benar dan manik-manik belum terlekatkan dengan kuat, mungkin akan lebih baik jika tidak ditampilkan. Namun jika memang si busana harus ditampilkan dan tidak bisa tidak karena satu dan lain hal, ada baiknya jika jatuhnya butiran manik-manik yang akhirnya mengotori lintasan catwalk bisa diantisipasi dengan memberika jeda sebentar saja setelah kemunculan si busana untuk membersihkan lintasan catwalk. Saya yakin jika memang telah dipersiapkan secara matang, lintasan catwalk bisa bersih lagi hanya dalam sekejap saja.

Akan tetapi, jika jatuhnya butiran manik-manik memang sangat tidak terduga dan tidak disangka-sangka akan berjatuhan, saya pasti sudah berkeringat dingin dan khawatir setengah mati bila ada di posisi si desainer atau koreografer, atau crew, dan terlebih model.