Refleksi Gaya Pria oleh Oka Diputra

Pilihan warna monokromatik koleksi Oka Diputra di IFW 2013. Model: Andaka Dewangga

Pilihan warna monokromatik koleksi Oka Diputra di IFW 2013. Model: Andaka Dewangga

Memulai karir di dunia mode sejak tahun 90an, nama Oka Diputra dikenal luas berkat rancangan busananya yang unik. Desainer kelahiran Surabaya, 18 September 1970 ini hampir selalu menggunakan teknik potong bias dan meminimalisir penggunaan kancing serta ritsleting dalam busana rancangannya, sebagai gantinya, ia lebih senang mamakai teknik ikat pada busana. Hasilnya, busana karyanya selalu khas, terlihat praktis, multifungsi, mudah dipadupadankan, minim ornamen namun memiliki daya pakai yang tingi.

Koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Siluet celana jodhpur dan tank top pria pada koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Siluet celana jodhpur dan tank top pria pada koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Hoodie deep V neck jadi bagian dari koleksi Oka Ciputra di IFW 2013.

Hoodie deep V neck jadi bagian dari koleksi Oka Ciputra di IFW 2013.

Setelah sebelumnya Oka Diputra lebih banyak berkutat dalam dunia rancang busana perempuan, pada perhelatan Indonesia Fashion Week 2013(IFW 2013) desainer anggota APPMI ini kembali melirik ranah rancang busana pria yang dulu sempat ia tekuni diawal karirnya. Menghadirkan sekitar 15 set busana pria, kita seakan diajak untuk mengenal sang kreator lebih dalam, terutama gaya penampilannya. Pecinta, pemerhati, serta penikmat mode yang mengenal atau mengetahui sosok Oka Diputra pasti sudah akrab benar dengan gaya berbusananya, dan hal itulah yang jadi embrio inti rangkaian busana koleksinya kali ini. Rangkaian busana tersebut angat terasa merefleksikan gaya serta karakter sang desainer yang edgy, unik, dan twisty.

Detil print motif burung pada unsleeves shirt Oka Diputra di IFW 2013. Model: Darell Ferhostan

Detil print motif burung pada unsleeves shirt Oka Diputra di IFW 2013. Model: Darell Ferhostan

Kemeja putih dengan detil print motif burung di bagian bahu yang mencuri perhatian pada koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Kemeja putih dengan detil print motif burung di bagian bahu yang mencuri perhatian pada koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Dalam rangkaian koleksi teranyarnya, Oka Diputra menyuguhkan busana pria yang unik dan edgy. Celana harem, celana jodhpur, knickerbockers, hingga celana bersiluet super ramping dihadirkan Oka Diputra bersama pasangan atasan yang tak kalah menarik misalnya saja kemeja bermotif burung, rompi, glittery crop tee, hingga kaus model tank top. Untuk masalah detil, Oka Diputra terasa sangat piawai memainkannya, tidak hanya motif burung-burung pada kemeja dan rompi karyanya saja yang mencuri perhatian tapi juga detil cowl neck, serta hooded draped  turut jadi bagian menarik dalam koleksi busananya. Sementara dalam perkara warna, Oka Diputra mendominasi koleksinya dalam 4 warna utama, hitam, putih, abu-abu dan merah.

Kolaborasi Apik Deden Siswanto dan Pinot Noir

Finale Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013.

Finale Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013.

Berkarakter kuat, klasik, sarat akan maskulinitas, serta dibalut dalam sentuhan modern adalah kesan yang terlukis kala menyaksikan deretan koleksi busana milik Deden Siswanto untuk Pinot Noir. Dengan mengambil inspirasi dari sebuah film romantis era 90an, “A Walk In The Clouds”, rasanya sang desainer menuai sukses besar dalam menginterpretasikan bagian-bagian cerita dalam film tersebut ke jajaran koleksi busana teranyarnya.

Tokoh utama film bernama Paul Sutton, seorang tentang militer yang baru saja kembali dari medan perang Pasifik tahun 1945, berhasil Deden bangkitkan melalui busana siap pakai pria yang ia ramu dengan aroma military yang kental.

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013.

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013.

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model: J Ryan Karsten

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model: J Ryan Karsten

Busana dasar semisal celana bermuda, celana panjang, kemeja lengan panjang, rompi, hingga frock coat atau mantel panjang hasil adaptasi mantel militer dari abad ke-19 dihadirkan Deden Siswanto dalam garis rancang yang tegas dan volume yang terkesan padat serta sisi maskulin yang sangat terasa. Dalam pemilihan warna, koleksi busana kali ini banyak didominasi oleh warna hijau khaki, coklat, merah marun, abu-abu, dan biru yang pada beberapa racikan busana terselip kesan lembut dan melankolis. Untuk urusan material, Deden banyak mengaplikasikan katun, linen dan voil.

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model: Darell Ferhostan

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model: Darell Ferhostan

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model(tengah): Darell Ferhostan

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model(tengah): Darell Ferhostan

Dalam keseluruhan presentasi busana karya Deden Siswanto untuk Pinot Noir di gelaran Indonesia Fashion Week 2013 ini, hal lain yang tak kalah menarik adalah bagaimana Deden mengemas satu set outfit bersama aksesoris penunjang. Syal yang dililitkan pada leher model, kalung handmade yang unik, cummerbund atau kain lebar yang biasa dikenakan untuk ikat pinggang, cap, serta topi fedora yang jadi aksesoris pelengkap menjadikan keseluruhan koleksi terasa makin hidup dan menarik.

Part 2 Bazaar Fashion Celebration 2011. Langgam Tiga Hati ; Perayaan Fesyen Berbalut Tradisi

“Obin Komara, Ghea Panggabean dan Eddy Betty Persembahkan Yang Terbaik Untuk Negeri. Totally Awesome Collection With Wonderful Show!”

Keroncong, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Keroncong memiliki tiga artian. Pertama, Keroncong dapat diartikan sebagai alat musik berupa gitar kecil berdawai empat atau lima. Kedua, Keroncong adalah irama atau langgam musik yang ciri khasnya terletak pada permainan alat musik Keroncong, yaitu kendang, selo, dan gitar melodi yang dimainkan secara beruntun. Ketiga, Keroncong merupakan jenis orkes yang terdiri atas biola, seruling, gitar, ukulele, banyo, selo, dan bass.

Tapi bagi saya pribadi terlepas dari bermacam penafsiran itu, Keroncong memiliki satu pemaknaan penting. Keroncong = Musik. Keroncong adalah satu jenis musik yang kemudian dipertegas sebagai musik asli kepunyaan Indonesia.

Yup Keroncong adalah musik asli kepunyaan Indonesia. Keroncong adalah musik asli serta salah satu pencapaian tertinggi dari para musisi Indonesia di masa lampau dalam bermusik. Keroncong tidak lain merupakan musik asli kepunyaan Indonesia hasil kreatifitas anak negeri bukan musik bawaan dari Portugis seperti yang selama ini banyak diketahui. Hal ini bukan tanpa dasar yang jelas, Keroncong diketahui sebagai musik asli Indonesia setelah Jay Subijakto selaku show director dan Erwin Gutawa sebagai music director Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” mengadakan sebuah riset panjang mengenai musik Keroncong di beberapa daerah di Indonesia yang disinyalir sebagai tempat-tempat awal munculnya musik Keroncong.

EdBe by Eddy Betty

Setelah pada tahun sebelumnya, Majalah Harper’s Bazaar Indonesia sukses menyelenggarakan sebuah pagelaran busana akbar dipadukan dengan live music layaknya sebuah mega konser dalam Bazaar Fashion Concerto, kali ini Majalah Harper’s Bazaar Indonesia melaksanakan sebuah pagelaran busana dari tiga orang desainer kenamaan Indonesia dalam balutan budaya serta tradisi yang kental tanpa melupakan ke khasan signature event Bazaar, fashion show dengan live music.

Keroncong sebagai salah satu musik asli Indonesia kemudian dipilih sebagai embrio utama dalam penyelenggaraan Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”. “Langgam Tiga Hati” yang menjadi tema besar dalam terselenggaranya acara ini memiliki arti tersendiri. Langgam memiliki arti irama, sementara tiga hati merupakan metamorfora dari tiga orang desainer yang ikut berpartisipasi dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Jika dirangkumkan secara keseluruhan, “Langgam Tiga Hati” mungkin dapat ditafsirkan sebagai penyatuan irama karya dari tiga desainer Indonesia dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Ketiga orang desainer yakni Obin Komara, Ghea Panggabean, dan Eddy Betty sempat mengatakan bahwa koleksi-koleksi yang mereka tampilkan pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah interpretasi masing-masing dari mereka saat mendengar kata keroncong.

Menjadi sangat menarik karena meski keroncong menjadi gagasan utama atas terselenggaranya acara ini, dan masing-masing desainer sepakat bahwa saat mendengar kata Keroncong yang terpikir adalah tentang budaya, serta tradisi, namun ketiganya menghadirkan koleksi busana yang amat berbeda satu sama lain. Busana ready to wear berbahan batik, sampai gaun malam model cheongsam menjadi interpretasi tersendiri.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Terbagi atas 5 sekuens parade busana, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 terlebih dahulu dibuka dengan parade busana Sariayu “Etnika Nusa Tenggara” oleh Deden Siswanto yang seolah menjadi sajian pembuka sebelum sampai kepada sajian utama “Langgam Tiga Hati”. Pada rangkaian koleksinya untuk Sariayu ini, Deden mengolah kain-kain tradisional khas Nusa Tenggara dalam busana yang kaya akan  detail dan beragam tekstur bahan.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Parade busana Sariayu ini sekaligus pertanda diluncurkannya 26 trend warna 2012 “Etnika Nusa Tenggara” dari Sariayu.

EdBe oleh Eddy Betty

EdBe oleh Eddy Betty with Darell Ferhostan as Model

Setelahnya, serangkaian koleksi busana ready to wear dari EdBe(baca: edibi) yang merupakan lini kedua milik Eddy Betty hadir sebagai pembuka pagelaran busana utama “Langgam Tiga Hati”. Awalnya saat pertama kali tahu bahwa Eddy Betty akan menampilkan koleksi dari lini EdBe, saya mengira koleksi yang akan ditampilkan ini adalah koleksi yang sama seperti yang pernah ia tampilkan pada pagelaran busana tunggal EdBe “Love Is The Air”, mengingat jarak waktu yang sangat singkat dari pagelaran busana tersebut, tapi ternyata tidak. Koleksi yang ditampilkan Eddy Betty ini sebagian besar adalah koleksi baru meski ada beberapa koleksi lama, namun dengan padupadan berfilosofi “Mix Don’t Match” yang dianut EdBe hal ini tidak terlalu terlihat.

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Reti Ragil Riani

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Filantropi

Untuk koleksinya ini EdBe menghadirkan Batik Kudus sebagai material dasar pada tiap potong busana. Palet warna-warna menyolok serta cutting asimetris ala harajuku yang jadi ciri khas EdBe kemudian ditampilkan dengan tabrak warna dan motif. Make up para model yang dibuat sedikit gothic dan “berantakkan” serta aksesoris pelengkap seperti gelang yang melilit pada tangan para model membuat rangkaian koleksi EdBe yang ia beri judul “Loves Batik Kudus” terlihat semakin menarik serta terkesan sangat anak muda dan funky.

Ghea Panggabean

Ghea Couture oleh Ghea Panggabean. Model: Drina Ciputra

Ghea Panggabean membagi sekuens parade busananya menjadi tiga sub sekuens. Ia membuat parade busananya layaknya drama tiga babak tentang perjalanan hidup Oei Hui Lan. Oei Hui Lan sendiri adalah seorang Putri Raja Gula dari Semarang yang memiliki kisah hidup tragis.

Sebagai putri orang terkaya di Indonesia juga di Asia Tenggara saat itu, Oei Hui Lan justru memilih cara bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Kisah tragis dari Oei Hui Lan inilah yang kemudian menginspirasi Ghea dalam rangkaian koleksi terbarunya. Kisah hidup Oei Hui Lan yang terjadi sekitar tahun 1920an adalah interpretasi Ghea terhadap musik Keroncong yang juga mulai dikenal luas pada masa-masa itu.

Salah satu koleksi di sekuens 1 Ghea Panggabean

Drama tiga babak hidup Oei Hui Lan dijabarkan dalam tiga sekuens parade busana yang pada masing-masing sekuens terasa amat berbeda meski memiliki satu benang merah yang sama yakni nuansa oriental yang sangat kental.

Sekuens 1 Ghea Panggabean. Model: Ayu Faradilla

Pada babak atau sekuens pertama, set busana cocktail dengan motif sulam dan bunga-bunga serta sentuhan gaya bohemian  berpadu dengan nuansa oriental menjadi gambaran dari romantika masa-masa awal hidup Oei Hui Lan selama di Indonesia.

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model : Kelly Tandiono

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model: Juanita Haryadi

Motif-motif keramik porselen khas Negeri Tirai Bambu yang sejak lama telah dikenal sebagai salah satu trade mark budaya Tiongkok yang sangat akrab dengan kehidupan Oei Hui Lan dihadirkan sebagai inspirasi utama pada sekuens kedua.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Dramatisasi Antie Damayanti

Babak terakhir dalam drama tiga babak kisah hidup Oei Hui Lan adalah sekuens yang bagi saya pribadi tidak akan pernah terlupakan. Diiringi lagu “Surya Tenggelam” milik mendiang Chrisye, aura magis pada sekuens ini benar-benar terasa.Terlebih lagi saat Antie Damayanti, salah seorang model pada sekuens Ghea muncul di atas panggung dengan sebuah koreografi yang begitu dramatis yang seolah menggambarkan kisah hidup penuh drama yang dijalani Oei Hui Lan.

Tidak berhenti sampai disitu, Dominique Diyose yang kemudian tampil dipanggung mengenakan sebuah payung yang tertutup kelambu hitam seperti menyerupai perumpamaan penampakkan hantu Oei Hui Lan yang kabarnya sering terlihat di hotel keluarga Oei Hui Lan.

Dominique Diyose, "Hantu" Oei Hui Lan

Bagi saya, sekuens ini lebih menyerupai kisah kematian Oei Hui Lan yang tragis dibandingkan dengan interpretasi  gaya hidup jetset super mewah yang dijalani Oei Hui Lan semasa hidupnya. Pada sekuens ini saya lebih membayangkan cerita kematian Oei Hui Lan yang tragis serta cerita seram tentang hantu Oei Hui Lan yang konon sering menampakkan diri di hotel keluarga di Semarang.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Dominique Diyose

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Prinka Cassy

Secara keseluruhan sekuens yang menghadirkan koleksi gaun malam dari lini teranyar Ghea Panggabean yang ia beri nama Ghea Couture ini adalah sekuens yang paling menyita perhatian saya. Gaun-gaun malam dengan dominasi warna hitam ditambah motif-motif bordir bernuansa oriental yang disajikan dalam warna emas menambah kekuatan drama dalam sekuens ini.

BIN HOUSE Oleh Obin Komara

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Kimmy Jayanti

Jika pada tahun sebelumnya koleksi dari BIN HOUSE untuk Bazaar Fashion Concerto diwakili oleh Wita, pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini BIN House diwakili langsung oleh sang pendiri, Obin Komara.

Lebih senang disebut sebagai “tukang kain”, Obin Komara mempersembahkan 15 koleksi busana. Pada koleksinya kali ini BIN HOUSE bermain-main dengan cutting jas pada kebaya. Beragam kain-kain cantik yang selalu jadi andalan BIN House diwujudkan dalam kebaya-kebaya  bersilluet modern dengan teknik tripping dan stitching yang memperkuat tekstur serta karakter kain.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Ines Arieza

Meski menjadi desainer yang paling sedikit mengeluarkan koleksi pada moment ini, keseluruhan koleksi dari Obin Komara untuk BIN HOUSE menjadi sangat menarik dengan arahan koreografi centil bagi setiap model pada sekuens BIN HOUSE.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Evie Mulya

Permainan kain dari beberapa model seperti Kimmy Jayanti, Evie Mulya, dan Ines Arieza juga menambah point plus dalam sekuens BIN HOUSE.

Eddy Betty

Eddy Betty. Model: Nien Indriyati

Eddy Betty tidak hanya menampilkan lini EdBe yang selama ini ia khususkan untuk busana-busana batik ready to wear, pada Sariayu Bazaar fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini ia juga mempertontonkan koleksi teranyar dari lini utamanya, Eddy Betty. Ia kemudian memilih bintang Hollywood legendaries, Elizabeth Taylor sebagai inspirasi utama karyanya. Melalui koleksinya ia seolah  membayangkan lambing glamoritas Hollywood yang ikonis ini ditempatkan dalam sebuah scene pertunjukkan Keroncong di Broadway, ditengah musim dingin sambil mengenakan kebaya cantik nan mewah.

Eddy Betty. Model: Dea Nabila

Suhu rendah pada musim dingin tidak lagi menjadi halangan ketika Eddy Betty menambahkan aksen penghangat berupa bulu-bulu, coat, dan mantel yang terbuat dari kulit hewan berbulu tebal namun terlihat sangat lembut.

Tidak hanya menampilkan kebaya yang berpadu dengan aksen penghangat, pada sekuensnya, Eddy Betty turut menampilkan beberapa koleksi kebaya yang ia desain khusus untuk pernikahan. Salah satu kebaya untuk pernikahan yang ia tampilkan adalah kebaya yang ia desain untuk pernikahan model cantik Laura Basuki beberapa waktu lalu. Kebaya pernikahan tersebut dibawakan langsung oleh sang mempelai, Laura Basuki.

Eddy Betty. Model: Laura Basuki

Bagi saya, secara keseluruhan, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah satu kesatuan karya masterpiece dari semua yang terlibat didalamnya. Terlepas dari beberapa kekurangan yang masih terdapat dalam penyelenggaraannya, Sariayu Bazaar Fashion Celebration meninggalkan kesan mendalam yang tidak akan terlupakan,dan membuat saya semakin menantikan acara tahunan ini di tahun mendatang.

Hari Kedua JFW 2012 ; Warna-Warni Di Fashion Show IPMI “Color Me Life”

Dalam satu tahun ada dua kali pagelaran busana yang dipersembahkan bagi Robby Tumewu. Terharu!

Sebelumnya, Anne Avantie melalui fashion show Puteri Tionghoa yang diadakan bertepatan dengan malam pembukaan Jakarta Fashion and Food Festival 2011(JFFF 2011) telah mempersembahkan pagelaran busana tersebut bagi Robby Tumewu, desainer senior yang selama ini juga dikenal sebagai entertainer serba bisa. Kali ini, 10 rekan sejawatnya yang tergabung dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia(IPMI) melakukan hal serupa. Mereka mempersembahkan sebuah rangkaian pagelaran busana alias fashion show bagi Robby Tumewu yang pada tahun lalu sempat melalui kondisi kesehatan yang cukup kritis.

Kesepuluh orang desainer IPMI tersebut menamai fashion show itu “Color Me Life”. Mereka terinspirasi oleh “warna-warni” yang diciptakan oleh Robby Tumewu selama berkarya sebagai desainer. Mereka menganggap Robby telah memiliki andil yang begitu besar dalam perkembangan dunia fesyen Indonesia melalui karya-karyanya.

Kesepuluh desainer tersebut adalah Tri Handoko, Adesagi Kierana, Era Soekamto, Ghea Panggabean, Tuty Cholid, Kanaya Tabitha, Liliana Lim, Yongki Budisutisna, Carmanita, dan Barli Asmara. Pada fashion show “Color Me Life”, para desainer menyajikan 6 buah koleksi busana terbaru yang masing-masing dari desainer mewakili satu warna berbeda. Warna yang diangkat masing-masing desainer mewakili energy dan semangat sosok Robby Tumewu selama berkarya.

Sejak awal saya mendengar semua premis ini, saya langsung bersemangat untuk menyaksikan bagaimana fashion shownya. Terlebih saat saya mengetahui model androgyny Darell Ferhostan akan turut ambil bagian dalam show tersebut. Ia akan menjadi model first face untuk koleksi dari Tri Handoko.

 

Fashion Show pun dimulai dengan jadwal yang tidak ngaret banyak. Dibuka oleh rancangan dari Tri Handoko yang mengambil warna putih sebagai warna utama keseluruhan busana yang ia pamerkan.

Jujur saya jauhhhh lebih suka dengan mini koleksi Tri Handoko kali ini dibandingkan dengan koleksi yang ia pertunjukkan saat IPMI Trend Show 2012 beberapa waktu lalu. Rancangan Tri Handoko kali ini bagi saya lebih menarik walau seluruhnya berwarna putih dan masih mengusung ready to wear. Pada sequensnya, make up dan hair do para model juga sangat simple dan mengambil kesan “geek and nerd”, namun itu turut jadi bagian yang menambah menarik keseluruhan koleksi Tri Handoko.

Setelahnya, gaun-gaun malam berwarna merah dengan garis rancang klasik disajikan Liliana Lim. Melihat mini koleksi karya Liliana Lim, kesan seksi nan sensual pun terpancar, mungkin karena warna merah yang dipilihnya.

Telah sejak awal saya mengagumi karya Ghea Panggabean yang selalu kental nuansa etnik. Setelah pada pagelaran busana di tahun sebelumnya Ghea banyak bermain-main dengan budaya Jawa, kali ini Ghea hadir dengan mini koleksi yang mengambil inspirasi dari suku Dayak di pedalaman Kalimantan. Untuk mini koleksinya ini, Ghea Panggabean mewakili warna Oranye.

Tuty Cholid dengan warna kuning nya masih mengambil silluet baju-baju tradisional khas Sulawesi Selatan. Koleksi busana dengan gaya ini sebelumnya telah Tuty Cholid tampilkan pada fashion show nya di IPMI Trend Show 2012 yang juga belum lama ini berlalu.

Warna hijau adalah warna yang dipilih oleh Era Soekamto dalam mewakili kreasi terbarunya. Seperti biasa, kesan sexy selalu melekat pada koleksi Era. Untuk “Color Me Life” ini Era menampilkan 6 set busana yang terdiri atas gaun pendek berdetail bordir yang ia padukan dengan kain silk sebagai material dasar.

Playful, edgy, asimetris, rame, dan terkesan glamour adalah hal yang melekat erat pada hampir semua koleksi Adesagi Kierana. Dalam mini koleksi yang diperuntukkan bagi rangkaian fashion show “Color Me Life” ini Adesagi kembali menghadirkan hal serupa. 6 set busana yang ia pamerkan dalam warna Turqoise atau biru kehijauan memunculkan kesan penuh drama.

Gaun pendek dengan material ringan dipadu dengan bahan seperti denim menjadi andalan Yongki Budisutisna dalam mini koleksinya yang mewakili warna Biru. Melalui koleksinya tersebut, Yongki menghadirkan kesan elegan dan formal sekaligus santai dan casual.

Saya selalu mengingat Carmanita dengan busana bertumpuknya. Gayanya bohemian, dengan potongan busana dari bahan-bahan ringan yang kemudian ia tumpuk sehingga terkesan lebih memiliki volume. Ia juga sangat terlihat menyukai warna-warna “wanita” seperti merah muda dan ungu. Begitupun pada koleksinya kali itu, warna ungu jadi warna yang ia angkat dalam 6 set koleksi busana karyanya.

Sifon, silk, print, dan lame adalah material yang dipilih Kanaya Tabitha untukmini koleksinya. Ia mewujudkan warna emas dengan interpretasi sebuah kesempurnaan. Mungkin sebuah keindahan yang berbalut nuansa glamour. Tidak tanggung-tanggung, ia mewujudkan warna emasnya dengan taburan crystal swarovski pada 6 busana rancangannya.

****

Pada hari kedua itu sebenarnya saya lihat 2 show. Yang satu adalah Grazia Glitz and Glam awards. Tapi jujur saya nggak terlalu ingat detail gimana shownya, saat itu saya juga sama sekali tidak mengabadikan gambar karena sudah terlanjur duduk manis bersama Abang saya di kursi tamu undangan. Tapi, kalau Grazia Glitz and Glam Awards diadakan sebelum IPMI “Color Me Life”, ada juga fashion show yang diadakan setelah IPMI, yakni fashion show tunggal dari Batik Danar Hadi.
Saya melewati fashion show Danar Hadi tersebut. Setengah males, dan saya juga memilih untuk menemani seorang teman yang kakinya terkilir seusai fashion show IPMI “Color Me Life. Saya menemani dia mencari obat sampai dijemput oleh supirnya. Setelahnya ada lagi teman saya yang kakinya berkali-kali keram sesaat sebelum show, saya kembali menemani dia ke minimarket obat yang ada di Pasific Place. Sesudah itu semua, fashion show sudah dimulai, saya tidak bisa masuk kedalam. Nggak apa, bagi saya nggak masalah. Teman yang lagi susah lebih penting daripada deretan baju yang akan dipamerkan, ya kan?.

IPMI Trend Show 2012 Hari Pertama Part 1

Ada Tri Handoko, Valentino Napitupulu, Adesagi Kierana dan dibuka dengan parade busana seragam!
Tapi untuk Adesagi akan dipisah yaaa….

 

Big Bang by Tri Handoko. Foto by Rizka Fashionesedaily

Yup benar sekali saudara-saudara, IPMI Trend Show 2012 hari pertama dibuka dengan parade fashion show seragam yang awalnya bikin saya bingung dan bengong karena saya nggak tau kalau akan dibuka dengan fashion show seragam. Ketidaktahuan itu memang murni salah saya karena datang mepet waktu show, buru-buru dan nggak sempet baca rilis. Barulah akhirnya setelah saya buka dan baca rilis yang saya terima, saya menyadari bahwa disitu sudah ditulis dengan jelas kalau, opening IPMI Trend Show 2012 akan dibuka dengan parade Trend Seragam 2012 yang diprakarasai oleh Maxistyle.

Maxistyle sendiri adalah perusahaan tekstil dibawah PT. Maxistar Intermoda Indonesia yang merupakan korporasi marketing dan distribusi tekstil untuk seragam instasi.

Maxistyle kemudian bekerjasama dengan 10 orang desainer anggota IPMI untuk menciptakan rancangan busana seragam untuk 10 industri korporasi mulai dari perbankan, penerbangan, rumah sakit dan kesehatan sampai industri otomotif.

Dari total 32 set seragam rancangan 10 orang desainer IPMI(Adesagi Kierana, Ari Seputra, Barli Asmara, Denny Wirawan, Era Soekamto, Ghea Panggabean, Hutama Adhi, Syahreza Muslim, Tri Handoko dan Valentino Napitupulu) overall saya suka rancangan seragamnya. Meski tampilan bentuk asli seragam yang cenderung konvensional tidak hilang, tapi seragam rancangan para desainer ini jauh dari kesan kaku, dan tentunya jauh lebih stylish nan modis dibandingkan desain konvensional seragam-seragam biasa.

 

Big Bang by Tri Handoko

Foto by Rizka Fashionesedaily

Setelah parade fashion show seragam selesai, desainer IPMI pertama yang mempertontonkan koleksi busana teranyarnya adalah Tri Handoko. Terinspirasi dari kekuatan dari harapan dan optimisme di tengah kekacauan, ketakutan serta tekanan yang terjadi hampir diseluruh belahan dunia, Tri handoko menghadirkan rangkaian koleksi busana bernapaskan Ready To Wear.

Sebagai desainer pembuka, bagi saya pribadi Tri Handoko cukup mampu mencuri perhatian dari tamu undangan yang datang dengan memunculkan si model Androgini, Darell Ferhostan sebagai model pertama yang memperagakan koleksi karyanya. Dengan tampilnya Darell sebagai model pertama, Tri Handoko memperkuat kesan pertama terhadap rancangannya, Androgini.

Foto by Rizka Fashionesedaily

Tapi nggak cuma busana siap pakai beraroma androgini yang disuguhkan Tri Handoko pada parade peragaan busananya. Nuansa feminine dan maskulin pun ia sajikan dengan apik melalui koleksi gaun asimetris, blazer, T-Shirt, celana panjang dan pendek, jumpsuit, gaun berpotongan simple dan ringan, serta baju tanpa lengan. Hampir kesemua koleksinya itu ia racik dengan warna-warna gelap seperti hitam, dan merah tua. Memang ada beberapa koleksi yang mengaplikasikan warna lebih cerah seperti kuning, atau beberapa warna yang cukup cerah lainnya, tapi frekuensinya sedikit sekali.

Dan setelah melihat keseluruhan koleksi dari Tri Handoko ini, saya pun kemudian berpikir,

“Kayaknya trend motif garis kotak-kotak jadi ngetrend lagi nih”.

Karena hampir disetiap potong busana Tri Handoko selalu ada motif garis dan kotak-kotak.

 

The Touch of Art by Valentino Napitupulu

Dari ready to wear bepindahlah ke gaun-gaun cantik. Atmosfer santai serta jauh dari kesan formal langsung berganti ke nuansa romantis klasik dan unyu moment saat

baju-baju kasual Tri Handoko berganti dengan gaun cantik dari Valentino Napitupulu. Mengeksplorasi detail melalui sentuhan motif paisley, bunga dan dedaunan, Valentino Napitupulu meramu keanggunan dan kecantikan dalam polesan seni versinya. Dan viola!, jadilah koleksi bertajuk The Touch of Art ini.

Pelbagai gaun panjang dan pendek ia sajikan dalam silluet ringan dan bebas, saat melihatnya saya kadang seperti merasa berada di taman lengkap dengan beberapa ekor kupu-kupu yang berterbangan disekeliling saya. Romantis dan manis.

Selain menghadirkan bermacam-macam gaun, Valentino Napitupulu juga menampilkan koleksi busana pria yang memiliki pola rancangan klasik dan cenderung formal yang tertuang dalam potingan jas serta blazer. Koleksi seperti ini bagi saya cukup rawan, cukup rawan menimbulkan kebosanan dan kesan kaku. Tapi untungnya pada beberapa detail, Valentino Napitupulu membubuhi warna-warna cerah seperti merah dan emas serta beberapa motif menarik seperti motif hati(love) yang membuat setelan jas kaku menjadi lebih menarik dan seru.

Tapi, pada saat kemunculan koleksi sepasang setelan busana pernikahan. Dengan wajah datar saya langsung komen,

“Gila, ini dua model kaku banget sih. Baru kali ini Gue liat ada model buat wedding gown sama pasangannya yang kaku setengah mati, kayak pasangan baru kenal tadi pagi dan dinikahin siangnya”.

Ya abis gimana nggak?. Udah chemistrynya nggak ada sama sekali, terus si model cowoknya nampak seperti orang bngung. Dia bener-bener kaku, sama sekali nggak ada usaha untuk bantu si model cewek yang beberapa kali terlihat kesulitan berjalan dengan gaun pengantin yang punya buntut lumayan panjang itu. Mungkin mereka memang nggak mengenal satu sama lain, karena si model cewek itu model bule sementara si cowoknya model Indonesia, tapi apa karena nggak kenal jadi dia nggak ada rasa peka sama sekali sama pasangan di atas catwalknya. Dan saya pun dalam hati sudah gemes setengah mati, sambil ngegerutu,

“Bantuin kek itu pasangannya. Bantuin woyyy!”.

Tapi akhirnya disaat-saat terakhir, si model pengantin cowok tersadar juga akan ke khilafannya dan membantu si model cewek yang sampai pada titik terlihat benar-benar kesulitan saat berjalan mengenakan gaun pengantin itu.

 

EdBe Love Is In The Air ; Batik&Ready To Wear Keren Dalam Presentasi Yang Missing Something

Missing Something?. Something what?. Ehmmm…Oke saya ralat, bukan something tapi more. Missing more than something.

EdBe Love Is In The Air with Renata and Richard as Model. Foto by Andreas Dwi

Selasa malam(04/10) saya diundang untuk datang ke Fashion Show koleksi terbaru Eddy Betty untuk second line nya EdBe di Ballroom 2 Hotel Mulia. Second line dari Eddy Betty ini mulai diperkenalkan sejak sekitar 2 tahun lalu dengan mengusung baju-baju Ready To Wear sebagai main course utama.

Sebelumnya saya pernah melihat koleksi EdBe by Eddy Betty beberapa kali, baik di fashion spread majalah, atau event fashion lainnya, dan saya suka dengan konsep ready to wear yang diadopsi Eddy Betty untuk second line nya ini. Itu yang bikin saya excited untuk datang ke Fashion Show koleksi terbarunya kali ini.

Meski jujur harus saya katakan bahwa rancangan-rancangan ready to wear yang ada pada lini EdBe bukanlah sesuatu yang benar-benar baru 100% dalam dunia ready to wear di Indonesia, tetapi koleksi-koleksinya tetap saja menarik dengan detail yang jika diperhatikan lebih seksama akan terasa “tidak sesederhana yang terlihat”. Dari segi model baju sampai detail cutting selalu saja ada hal yang unik dan seru. Tarikan garis rancangannya seperti tidak terkonstruksi rapi sesuai pakem, seperti gaya desainer Jepang yang unik dan asimetris.

Dengan mengambil tema Love Is In The Air, pada presentasi karya teranyarnya yang terwujud dalam sebuah peragaan busana a.k.a Fashion Show, EdBe by Eddy Betty menampilkan 90 outfit busana ready to wear. Menariknya, koleksi yang ditampilkan bukan hanya koleksi yang menggunakan material “standart” seperti katun, rayon, dan tenun hitam putih berdetail border berlubang-lubang(eyelet), tetapi yang jadi primadona justru koleksi ready to wear berbahan batik tulis.

Dan bukan batik tulis biasa yang diaplikasikan pada rancangan EdBe, tapi batik tulis dengan motif yang dipesan secara khusus pada pengerajin. Motif yang tentunya sesuai dengan keinginan si desainer, yakni motif corak mainan anak-anak, boneka matryoska, boneka Jepang, sampai motif telor paskah disajikan pada selembar kain batik yang kemudian diolah menjadi busana siap pakai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada presentasi koleksi kali ini, sekali lagi EdBe menampilkan gaya khasnya dalam memadupadankan busana. Ia menyusun setiap outfit yang dikenakan model dengan seolah semaunya dan sembarang, ia melawan apa yang lazim dianggap sebagai sesuatu yang harmonis dalam mix and match busana. Hal yang saya rasa sangat cocok dengan filosofi yang konon dianutnya, Mix Don’t Match, padukan tanpa serasikan.

Padupadan yang seolah main-main dan sembarang ini akhirnya membuat gaun bervolume, blus asimentris, rok multi posisi, celana terusan(jumsuit), kemeja lengan raglan dan di bawah siku sampai celana sarung(sarouel) yang menjadi produk andalan dalam koleksi terbarunya terlihat semakin menarik dan seru.

Foto by Andreas Dwi

Foto by Andreas Dwi

Tetapi sayangnya, kadar menarik, keren dan seru dari koleksi terbaru EdBe harus terkontaminasi dengan banyak hal yang missing dalam keseluruhan Fashion Show nya. Dalam Fashion Show ini saya cukup banyak menulis catatan hal-hal yang “ganggu”. Seperti ada beberapa hal yang miss. Entah misunderstanding, miscommunication, atau missing the time to prepare, tapi dari ke “miss” an yang saya rasakan itulah yang memunculkan catatan ini.

Darell Ferhostan between another model. Foto by Windy Sucipto

Pertama, urutan keluar model yang bagi saya terasa berantakan dan sedikit asal. Model bagus yang performa saat membawakan busana di atas catwalk sudah tidak perlu diragukan justru ditaruh ditengah, sehingga keberadaan mereka jadi biasa saja, tidak ada yang spesial. Lalu saat The Finale yang menjadi moment puncak dalam Fashion Show, susunan model yang berbeda lagi kemudian mengganjal bagi saya. Jujur saya sangat menyayangkan kenapa Darell Ferhostan si model androgini yang sejak awal kemunculannya di fashion show mengundang bisik-bisik dan sangat mencuri perhatian karena ke androginiannya justru diposisikan ditengah dan tertutup model-model “biasa”. Sementara saya pikir ia akan sangat menarik bila dijadikan first face atau last face yang keluar bersama sang desainer. Itu pasti akan jadi sesuatu yang keren karena hampir belum ada model androgini di Indonesia seperti Darell, dan Eddy Betty adalah desainer papan atas pertama yang menggunakan jasanya dalam sebuah Fashion Show. Semoga saja di kerjasama berikutnya hal tersebut dapat dipikirkan kembali karena bukannya tidak mungkin mereka akan dikenang sebagai simbiosis mutualisme ala Jean Paul Gaultier dan supermodel androgini Andrej Pejic.

Kedua, urutan baju yang dikenakan si model. Saya pun cukup terganggu dengan hal ini karena yang saya lihat dan rasakan adalah urutan baju yang dikenakan si model pada saat Fashion Show terasa tidak diurutkan secara rapi. Maksud saya bukan keseluruhan outfit yang dipakai ya, karena kan memang EdBe terkonsep Mix don’t Match seperti itu, tapi maksud saya adalah urutan keluar bajunya. Saya cukup sibuk bertanya-tanya, kenapa tidak mengeluarkan secara urut baju-baju yang memiliki benang merah yang sama misalnya dari segi bahan, cutting atau warna sih?, malah makin random gini. Saya cukup bingung dengan hal itu, entah memang seperti itulah yang ingin ditampilkan atau bagaimana. Saya pikir mungkin akan lebih nyaman untuk disaksikan bila urutan baju yang dikeluarkan meski terkonsep Mix don’t Match tapi tetap diurutkan sesuai dengan satu benang merah yang sama agar tidak terkesan koleksi random.

Ketiga, musik pengiring fashion show. Saya memang nggak terlalu ngerti detail tentang musik, tapi yang jelas bagi saya atmosfer musik dengan fashion show nya nggak dapet. Musiknya kurang bercampur dengan asik bersama keseluruhan fashion show dan temanya. Sepertinya akan lebih asik jika next time musiknya didengarkan ulang beberapa kali dan kembali dipikirkan bisa ngeblend atau enggak dengan keseluruhan acaranya jadi crowd dan atmosfer yang tercipta akan lebih terasa.

Keempat, MC. Ada beberapa kesalahan pengucapan MC dibagian akhir yang cukup penting. Kesalahan yang semestinya tidak perlu terjadi. Kesalahan yang sampai menyebabkan wajah Eddy Betty sempat terlihat tertegun bingung dan bengong. Mungkin karena human error, faktor X, kesalahan teknis atau mungkin juga karena kurangnya persiapan.

Kesimpulannya adalah, sayang. Bahkan sayang sekali saat koleksi yang keren-keren itu terkontaminasi dengan hal-hal yang cukup mengganggu selama presentasi kepada orang banyak sedang berlangsung.

Namun terlepas dari itu semua, saya pribadi dan saya yakin banyak diantara para pecinta fashion lokal yang terus menunggu karya EdBe selanjutnya 🙂

Darell Ferhostan ; The Androgyny Model Who Made Me Falling In Love

Maybe I don’t care with Andrej Pejic, but I really really care with Darell Ferhostan, he’s really awesome!

Apa yang terlintas saat kamu mendengar kata Androgini?. Bagi saya Androgini itu adalah mereka yang tidak mengenal keterikatan batas gender dalam berpenampilan. Androgini ibarat bunglon, mereka yang ada dalam garis androgini selalu bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Sekali waktu bisa berpenampilan selayaknya pria, namun di waktu lain bisa juga berperan sebagai wanita. Bisa juga, mereka yang disebut Androgini malahan sulit untuk dideskripsikan ataupun dikelompokkan dalam satu gender. Terlalu cantik jika dikategorikan pria, tapi juga terlalu memilki struktur tubuh maskulin bila dikategorikan wanita. Kurang lebih seperti itu, dan juga sebaliknya.

Adalah Darell Ferhostan, seorang model cowok pendatang baru yang telah mencuri perhatian saya sejak pertemuan pertama. Darell sangat berbeda dari semua model cowok yang pernah saya tau. Rambutnya tergerai panjang melewati punggung, badannya tinggi semampai, ramping tanpa otot bertonjolan di lengan atau dada seperti yang sudah menjadi stereotipe model pria, kulitnya putih bersih dan raut wajahnya begitu lembut.
Kesimpulannya, Darell terlalu cantik sebagai cowok.


Dan itulah Darell, dia memang bukan seperti model cowok kebanyakkan. Jauh dari kesan macho dan maskulin. Jangan heran, karena Darell adalah model Androgini. Jenis model yang mengaburkan batasan gender pria dan wanita. Sekali waktu dia kelihatan ganteng dengan outfit cowok, tapi di waktu lain dia benar-benar cantik dengan outfit cewek.

Cowok kelahiran Jakarta, 16 November 1991 ini memulai karir modelingnya baru sejak Februari 2011, berawal dari beberapa photoshoot untuk produk fashion indie yang saat ini sedang menjamur. Setelahnya, baru pada pertengahan Mei 2011 ia menerima job pertamanya sebagai model catwalk. Tidak tanggung-tanggung, Darell langsung didapuk sebagai model pembuka atau first face dalam fashion show yang menampilkan karya designer Yossafat. Setelah itu Darell kembali tampil berturut-turut dalam fashion show koleksi EdBe by Eddy Betty, ESMOD Graduation, dan LaSalle Graduation.

Dengan tinggi 185 cm dan berat 63 kg ditambah segala keunikkan yang ia miliki, termasuk faktor Androgini didalamnya. Rasanya tidak berlebihan bila Darell menjadi salah satu dari sekian nama model newcommer paling menjanjikan.
Yeahhh at least, we can say Will See and Welcome Darell Ferhostan to our fashion industry!.

Teks: Armadina
Foto:
-Luki (lukimages.blogspot.com)
-Ejja Pahlevi
-Christina Phan
-Arselan Ganin for EdBe
More Photos about Darell: darellferhostan.tumblr.com