Palais Royal ; Daya Tarik Konsep Penggabungan Budaya Cina dan Jawa Oleh Priyo Oktaviano

Ia menginterpretasikan film “Shanghai Tang” dan kehidupan tanah Jawa dalam lingkungan Kraton melalui koleksi terbarunya. Suasana kota Shanghai pada tahun 1920an pun ditampilkan berdampingan dengan atmosfer Kraton Jawa di era kolonial. Desainer berkacamata ini memang selalu membuat saya jatuh hati.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Laura Muljadi

Fashion show yang terselenggara pada hari penutupan Jakarta Fashion and Food Festival memang selalu membuat saya penasaran terlebih ketika mengingat pada tahun lalu, Adrian Gan sukses membuat saya serasa naik roaller coaster melalui rangkaian koleksinya yang bertajuk “Patola Kamba Manandang”. Kain-kain tenun yang ia datangkan langsung dari Nusa Tenggara dan juga kain dari berbagai belahan dunia lain seperti India, dan Perancis berhasil ia ubah dengan sangat apik menjadi koleksi busana couture yang indah. Jangan pula lupakan alas kaki yang diberikan pada seluruh model yang membawakan koleksinya, alas kaki itu hingga kini masih membuat jantung saya berdebar cepat bila mengingatnya.

Sejak hari pertama saya menerima jadwal lengkap penyelenggaraan JFFF 2012 saya sudah tahu jika fashion show hari terakhir yang diberi judul “Palais Royal” adalah satu dari sekian banyak fashion show yang tidak boleh terlewatkan di tahun naga air ini. Bukan hanya karena judulnya saja yang terasa legit jika dilafalkan pelan-pelan, tapi nama desainer dibalik judul itu sudah lebih dari cukup menjadi jaminan bahwa pagelaran busana di hari terakhir itu akan berlangsung memukau. Desainer dibelakang judul “Palais Royal” tak lain adalah Priyo Oktaviano, desainer sudah saya kagumi sejak tiga tahun belakangan.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano

Dimulai sejak pukul 20.00 WIB, “Palais Royal” dibuka dengan sekelompok penari berpakaian adat Bali membawa sesajen dan bakaran serupa menyan yang menguarkan aroma khas kesekeliling ruang. Setelahnya, formula yang sama seperti “Patola Kamba Manandang” milik Adrian Gan dimunculkan ke atas panggung. Seorang penari kontemporer pria meliukkan tubuhnya dengan luwes namun penuh tenaga, hanya saja bedanya ia tak lagi sendiri seperti pada “Patola Kamba Manandang” milik Adrian Gan, di panggung “Palais Royal” milik Priyo Oktaviano, ia bak seorang kepala suku yang dikawal hulu balangnya karena dibelakangnya turut berbaris dengan rapi penari-penari lain ketika ia akan mengakhiri penampilannya di atas lintasan catwalk.

Menghadirkan 35 set busana yang terdiri dari 27 set busana wanita dan 8 set busana pria, “Palais Royal” dibagi atas tiga sekuens utama yang kesemuanya memiliki konsep serta premis cerita yang berbeda.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Ferry Salim

 

Pada sekuens pertama, suasana kota Shanghai tahun 1920an dihadirkan oleh Priyo Oktaviano dengan menampilkan pemuda dan pemudi Cina yang tengah bercengkrama di sebuah taman sebagai prolog pembukaan sekuens. Aktor berwajah oriental Ferry Salim kemudian dipilihnya sebagai first face yang mengenakan topi fedora serta baju jubah tertutup yang sering kita lihat di film kungfu jaman dulu. Pada sekuens ini silluet busana bergaya cheongsam yang selalu identik dengan kerahnya yang tinggi, diaplikasikan Priyo menjadi gaun pendek berbelahan tinggi pada bagian bawah serta memiliki lekuk yang pas memeluk tubuh.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: J Ryan

 

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Sarah Azka

Selain itu terdapat pula gaun pendek berbelahan tinggi yang pada bagian atasnya menyerupai kemben dengan detil bertumpuk. Namun jika pada divisi busana wanita, warna mencolok khas busana bernuansa oriental seperti marun dan emas yang dihadirkan, empat set busana pria pada sekuens ini hadir dalam warna monokrom hitam-putih. Hal menarik lain yang sangat terasa pada sekuens ini adalah terdapatnya tattoo naga yang sengaja dilukiskan pada bagian tubuh model yang memperagakan busana, seperti pada bagian tangan, punggung, atau kaki.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Mareike Brenda

Nuansa khas Kraton Jawa di masa kolonial menjadi hal yang begitu terasa ketika memasuki sekuens kedua. Busana berwarna hitam terlihat mendominasi pada sekuens ini disamping padupadan warna lain seperti, emas, putih, marun, dan juga kain lurik yang dijadikan pelengkap busana. Stelan busana mirip beskap, celana longgar, gaun panjang yang pas badan berwarna metalik dan emas, blazer dengan motif kain songket hingga busana bersilluet kebaya kutubaru berbahan beludru dihadirkan untuk sesi busana wanita dalam sekuens kedua. Sedangkan untuk busana pria, Priyo menampilkan variasi pada bawahan seperti celana komprang dan harem serta atasan berupa jas, kemeja, dan beskap khas Jawa klasik.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Witha

 

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano.

Jika pada sekuens pertama saya serasa tengah menyaksikan replika kehidupan tempoe doeloe di daratan Cina sana, pada sekuens kedua ini saya seperti dibawa menyusuri lingkungan Kraton Jawa di era kolonial. Era dimana budaya Jawa yang masih memegang teguh warisan leluhur harus berbenturan dengan budaya barat yang mulai menyusup pada sendi kehidupan.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Advina Ratnaningsih

Sementara itu, sekuens ketiga yang merupakan sekuens penutup, Priyo Oktaviano coba untuk meleburkan dua kebudayaan yang jadi inspirasinya, yakni Cina dan Jawa. Gaun panjang one shoulder, gaun panjang bersilluet cheongsam dengan belahan bawah yang tinggi ia hadirkan dalam material dasar kain songket khas Bali yang kaya akan warna-warna emas.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Drina Ciputra

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Dominiwue Diyose

Pada keseluruhan busana yang ia tampilkan, Priyo Oktaviano menggunakan 70 persen kain tenun Bali buatan tangan atau handmade, sementara sisanya ia mengaplikasikan berbagai material lain seperti chiffon, linen, katun dan beludru pada tiap potong koleksi busananya.

Dalam durasi kurang dari empatpuluhlima menit, saya rasa “Palais Royal” dari Priyo Oktaviano sukses menjadi penutup yang meninggalkan kesan mendalam. Perpaduan suasana Shanghai sembilan dekade lampau dan tanah Jawi di masa kolonial telah ia suguhkan dengan begitu cantik.

BIN House dan Salah Satu Moment Paling Menyenangkan Selama JFW 2011-2012

Hari itu untuk pertama kalinya selama JFW 2011-2012 saya merasa benar-benar tersenyum bahagia. Rasanya senang sekali ketika saya usai menyaksikan 4 sekuens fashion show dari BIN House yang begitu seru, lepas, dan sangat menyenangkan

BIN House. Jujur, sebelumnya Saya nggak banyak tau tentang BIN House. Saya pertama kali dengar nama itu sekitar satu tahun lalu pada Bazaar Fashion Concerto. Saya ingat betul, BIN House adalah salah satu yang berpartisipasi dalam acara itu. Saya tau, si empunya BIN House bernama Obin. Tapi pada saat Bazaar Fashion Concerto 2010, koleksi yang dikeluarkan bukan karya Obin, melainkan karya seorang desainer bernama Wita.

Selang waktu berlalu, saya tetap tidak banyak tau tentang BIN House, sampai pada akhirnya saya membaca tentang Obin Komara, sang pendiri BIN House di salah satu majalah mode ternama. Menarik. Itulah satu kata yang menjadi kesimpulan saya ketika saya membaca tentang beliau di majalah tersebut. Dalam wawancaranya dengan majalah itu, Obin mengatakan bahwa ia lebih senang disebut sebagai “tukang kain” daripada seorang desainer. Bagi saya, hal itu benar-benar menarik, terlebih setelah mengetahui bahwa reputasi Obin dan label yang ia dirikan, BIN House, sudah tidak diragukan lagi tidak hanya di Indonesia tetapi juga dunia internasional. Bahkan aktris sekaliber Julia Roberts adalah salah satu kolektor kain buatan Obin.

Tidak hanya berhenti sampai disitu, setelah membaca artikel di majalah tersebut tentang Obin, masih banyak hal menarik lainnya yang membuat saya penasaran dengan Obin dan BIN House. Jadi, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak datang dalam sebuah fashion show khusus dari BIN House di hari ke-4 Jakarta Fashion Week 2011-2012.

Fashion show dimulai jam 1 siang, jam dimana saya biasanya masih asik tidur-tiduran sambil nonton TV kabel di kostan(saat itu saya sedang numpang di kostan teman di daerah Senopati). Sebenarnya agak malas rasanya beranjak dari kostan yang benar-benar nyaman dan bikin betah itu. Tapi saat saya mengingat lagi kalau yang akan show adalah koleksi dari BIN House saya langsung bersemangat siap-siap pergi menuju Pasific Place dan menyaksikan fashion show itu.

Fashion show dari BIN House diberi judul “Apresiasi Pesona Bersama BIN House ‘A Catwalk Moment’. Sebelumnya saya harus mengatakan kalau saya nggak akan terlalu membahas tentang koleksi dari BIN House karena pada show ini saya memang sangat amat terkesan pada keseluruhan pengemasan fashion shownya yang sangat menyenangkan. Jadi, saya memang lebih tertarik untuk membahas keseluruhan fashion show :p.

BIN House oleh Obin Komara di JFW 2011-2012. Model: Dhining

Dibagi menjadi 4 sekuens, fashion show BIN House itu diarahkan secara langsung oleh Panca Makmun selaku koreografer. Saat pertama kali saya tau kalau koreografer fashion show BIN House adalah Panca Makmun, saya yakin kalau kemungkinan besar fashion show akan berjalan dengan sangat menyenangkan. Dan benar saja, 4 sekuens show BIN House benar-benar menjadi salah satu moment yang paling tidak bisa saya lupakan selama JFW 2011-2012. Alur masing-masing sekuens dari fashion show tersebut dibuat naik turun bergantian pada setiap sekuens. Grup model dibagi menjadi dua sub grup, dikelompokkan sesuai dengan karakter para model. Untuk kasus fashion show BIN House itu, saya senang menyebutnya dengan Grup1, Model Anggun&Dewasa dan Grup2, Model Ceria&Centil.
Kedua grup model itu masing-masing “dikepalai” oleh Dominique Diyose di Grup 1, dan Kimmy Jayanti di Grup 2.

BIN House oleh Obin Komara di JFW 2011-2012. Model: Dominique Diyose

BIN House oleh Obin Komara di JFW 2011-2012. Model: Whulandari

Sekuens pertama di buka dengan para model dari Grup 1 yang diawali dengan penampilan Dominique Diyose yang mengenakan satu set busana bermaterial kain batik. Irama musik mengalun perlahan seiring dengan penampilan kalau-kamu-lihat-kamu-akan-tahan-nafas-saking-kerennya dari Dominique. Penampilan Dominique yang sangat anggun, dewasa, dan terkesan sexy juga berlaku pada setiap model yang ada dalam Grup 1. Semua model dari Grup 1, adalah tipe model yang memiliki karakter yang anggun, dewasa, dan terkesan sexy.

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 2 di JFW 2011-2012. Model: Renata

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 2 di JFW 2011-2012. Model: Dea Nabila

Beralih dari sekuens satu ke sekuens dua, Kimmy Jayanti si model rock and roll tampil dengan gaya ceria. Dengan musik backsound yang dinamis ia menebar senyum dan tawa kepada setiap orang yang memenuhi fashion tent. Benar-benar menciptakan suasana perpindahan sekuens yang berbeda dari sekuens sebelumnya yang lebih syahdu.

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 3. Model: Dominique Diyose

Tapi, dari semua sequens saya nggak akan pernah bisa lupa dengan sekuens tiga. Sekuens yang memakai lagu “Juwita Malam” Ismail Marzuki versi Slank. Sejak dulu saya memang sangat suka dengan lagu itu. Setiap mendengar lagu itu, otak saya selalu memvisualisasikan dengan seorang wanita cantik yang mengenakan gaun warna merah. Dalam bayangan saya wanita itu terlihat cantik, pintar, seksi, dan membuat terpesona siapa saja yang melihatnya.

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 3 di JFW 2011-2012. Model: Whulandari

Lalu pada sekuens tiga itu, Dominique muncul, berjalan perlahan dari belakang lintasan catwalk mengenakan kebaya encim warna merah, kain batik, dan selendang putih. Damn!. Visualisasi saya jadi kenyataan!. Dan si wanita dalam lagu “Juwita Malam” dalam bayangan saya menjelma nyata!. Am Speechless.

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 4. Model: Kimmy Jayanti

 

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 4 di JFW 2011-2012. Model: Renata

Pada sekuens terakhir, Grup 2 Kimmy Jayanti tampil dengan lebih “tenang”. Mengenakan  busana two piece putih-putih dan sehelai kain merah  yang kemudian ia mainkan(putar-putar). Seluruh model pada Grup 2 Kimmy yang sebelumnya tampil dengan ceria dan centil pun sedikit berubah imej menjadi lebih “tenang”. Pada sequens ini, busana yang dibawakan para model didominasi oleh warna putih.

Finale Akhir BIN House di JFW 2011-2012

Seluruh sekuens pada fashion show BIN House berakhir. Seluruh model melakukan sesi finale. Saat finale,  para model yang kesemuanya telah berada di lintasan catwalk mengambil posisi duduk di tepi lintasan, dan sang empunya label BIN House, Obin Komara pun berjalan dengan menggoyangkan tubuh menuju depan lintasan catwalk dengan membawa sebuah kain. Saat lihat Obin bergoyang dengan begitu asyiknya, saya yang hanya berjarak beberapa meter di depan lintasan catwalk serasa ingin bergoyang juga. Rasanya pasti sangat menyenangkan. Semenyenangkan show nya. 😀

Part 2 Bazaar Fashion Celebration 2011. Langgam Tiga Hati ; Perayaan Fesyen Berbalut Tradisi

“Obin Komara, Ghea Panggabean dan Eddy Betty Persembahkan Yang Terbaik Untuk Negeri. Totally Awesome Collection With Wonderful Show!”

Keroncong, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Keroncong memiliki tiga artian. Pertama, Keroncong dapat diartikan sebagai alat musik berupa gitar kecil berdawai empat atau lima. Kedua, Keroncong adalah irama atau langgam musik yang ciri khasnya terletak pada permainan alat musik Keroncong, yaitu kendang, selo, dan gitar melodi yang dimainkan secara beruntun. Ketiga, Keroncong merupakan jenis orkes yang terdiri atas biola, seruling, gitar, ukulele, banyo, selo, dan bass.

Tapi bagi saya pribadi terlepas dari bermacam penafsiran itu, Keroncong memiliki satu pemaknaan penting. Keroncong = Musik. Keroncong adalah satu jenis musik yang kemudian dipertegas sebagai musik asli kepunyaan Indonesia.

Yup Keroncong adalah musik asli kepunyaan Indonesia. Keroncong adalah musik asli serta salah satu pencapaian tertinggi dari para musisi Indonesia di masa lampau dalam bermusik. Keroncong tidak lain merupakan musik asli kepunyaan Indonesia hasil kreatifitas anak negeri bukan musik bawaan dari Portugis seperti yang selama ini banyak diketahui. Hal ini bukan tanpa dasar yang jelas, Keroncong diketahui sebagai musik asli Indonesia setelah Jay Subijakto selaku show director dan Erwin Gutawa sebagai music director Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” mengadakan sebuah riset panjang mengenai musik Keroncong di beberapa daerah di Indonesia yang disinyalir sebagai tempat-tempat awal munculnya musik Keroncong.

EdBe by Eddy Betty

Setelah pada tahun sebelumnya, Majalah Harper’s Bazaar Indonesia sukses menyelenggarakan sebuah pagelaran busana akbar dipadukan dengan live music layaknya sebuah mega konser dalam Bazaar Fashion Concerto, kali ini Majalah Harper’s Bazaar Indonesia melaksanakan sebuah pagelaran busana dari tiga orang desainer kenamaan Indonesia dalam balutan budaya serta tradisi yang kental tanpa melupakan ke khasan signature event Bazaar, fashion show dengan live music.

Keroncong sebagai salah satu musik asli Indonesia kemudian dipilih sebagai embrio utama dalam penyelenggaraan Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”. “Langgam Tiga Hati” yang menjadi tema besar dalam terselenggaranya acara ini memiliki arti tersendiri. Langgam memiliki arti irama, sementara tiga hati merupakan metamorfora dari tiga orang desainer yang ikut berpartisipasi dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Jika dirangkumkan secara keseluruhan, “Langgam Tiga Hati” mungkin dapat ditafsirkan sebagai penyatuan irama karya dari tiga desainer Indonesia dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Ketiga orang desainer yakni Obin Komara, Ghea Panggabean, dan Eddy Betty sempat mengatakan bahwa koleksi-koleksi yang mereka tampilkan pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah interpretasi masing-masing dari mereka saat mendengar kata keroncong.

Menjadi sangat menarik karena meski keroncong menjadi gagasan utama atas terselenggaranya acara ini, dan masing-masing desainer sepakat bahwa saat mendengar kata Keroncong yang terpikir adalah tentang budaya, serta tradisi, namun ketiganya menghadirkan koleksi busana yang amat berbeda satu sama lain. Busana ready to wear berbahan batik, sampai gaun malam model cheongsam menjadi interpretasi tersendiri.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Terbagi atas 5 sekuens parade busana, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 terlebih dahulu dibuka dengan parade busana Sariayu “Etnika Nusa Tenggara” oleh Deden Siswanto yang seolah menjadi sajian pembuka sebelum sampai kepada sajian utama “Langgam Tiga Hati”. Pada rangkaian koleksinya untuk Sariayu ini, Deden mengolah kain-kain tradisional khas Nusa Tenggara dalam busana yang kaya akan  detail dan beragam tekstur bahan.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Parade busana Sariayu ini sekaligus pertanda diluncurkannya 26 trend warna 2012 “Etnika Nusa Tenggara” dari Sariayu.

EdBe oleh Eddy Betty

EdBe oleh Eddy Betty with Darell Ferhostan as Model

Setelahnya, serangkaian koleksi busana ready to wear dari EdBe(baca: edibi) yang merupakan lini kedua milik Eddy Betty hadir sebagai pembuka pagelaran busana utama “Langgam Tiga Hati”. Awalnya saat pertama kali tahu bahwa Eddy Betty akan menampilkan koleksi dari lini EdBe, saya mengira koleksi yang akan ditampilkan ini adalah koleksi yang sama seperti yang pernah ia tampilkan pada pagelaran busana tunggal EdBe “Love Is The Air”, mengingat jarak waktu yang sangat singkat dari pagelaran busana tersebut, tapi ternyata tidak. Koleksi yang ditampilkan Eddy Betty ini sebagian besar adalah koleksi baru meski ada beberapa koleksi lama, namun dengan padupadan berfilosofi “Mix Don’t Match” yang dianut EdBe hal ini tidak terlalu terlihat.

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Reti Ragil Riani

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Filantropi

Untuk koleksinya ini EdBe menghadirkan Batik Kudus sebagai material dasar pada tiap potong busana. Palet warna-warna menyolok serta cutting asimetris ala harajuku yang jadi ciri khas EdBe kemudian ditampilkan dengan tabrak warna dan motif. Make up para model yang dibuat sedikit gothic dan “berantakkan” serta aksesoris pelengkap seperti gelang yang melilit pada tangan para model membuat rangkaian koleksi EdBe yang ia beri judul “Loves Batik Kudus” terlihat semakin menarik serta terkesan sangat anak muda dan funky.

Ghea Panggabean

Ghea Couture oleh Ghea Panggabean. Model: Drina Ciputra

Ghea Panggabean membagi sekuens parade busananya menjadi tiga sub sekuens. Ia membuat parade busananya layaknya drama tiga babak tentang perjalanan hidup Oei Hui Lan. Oei Hui Lan sendiri adalah seorang Putri Raja Gula dari Semarang yang memiliki kisah hidup tragis.

Sebagai putri orang terkaya di Indonesia juga di Asia Tenggara saat itu, Oei Hui Lan justru memilih cara bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Kisah tragis dari Oei Hui Lan inilah yang kemudian menginspirasi Ghea dalam rangkaian koleksi terbarunya. Kisah hidup Oei Hui Lan yang terjadi sekitar tahun 1920an adalah interpretasi Ghea terhadap musik Keroncong yang juga mulai dikenal luas pada masa-masa itu.

Salah satu koleksi di sekuens 1 Ghea Panggabean

Drama tiga babak hidup Oei Hui Lan dijabarkan dalam tiga sekuens parade busana yang pada masing-masing sekuens terasa amat berbeda meski memiliki satu benang merah yang sama yakni nuansa oriental yang sangat kental.

Sekuens 1 Ghea Panggabean. Model: Ayu Faradilla

Pada babak atau sekuens pertama, set busana cocktail dengan motif sulam dan bunga-bunga serta sentuhan gaya bohemian  berpadu dengan nuansa oriental menjadi gambaran dari romantika masa-masa awal hidup Oei Hui Lan selama di Indonesia.

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model : Kelly Tandiono

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model: Juanita Haryadi

Motif-motif keramik porselen khas Negeri Tirai Bambu yang sejak lama telah dikenal sebagai salah satu trade mark budaya Tiongkok yang sangat akrab dengan kehidupan Oei Hui Lan dihadirkan sebagai inspirasi utama pada sekuens kedua.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Dramatisasi Antie Damayanti

Babak terakhir dalam drama tiga babak kisah hidup Oei Hui Lan adalah sekuens yang bagi saya pribadi tidak akan pernah terlupakan. Diiringi lagu “Surya Tenggelam” milik mendiang Chrisye, aura magis pada sekuens ini benar-benar terasa.Terlebih lagi saat Antie Damayanti, salah seorang model pada sekuens Ghea muncul di atas panggung dengan sebuah koreografi yang begitu dramatis yang seolah menggambarkan kisah hidup penuh drama yang dijalani Oei Hui Lan.

Tidak berhenti sampai disitu, Dominique Diyose yang kemudian tampil dipanggung mengenakan sebuah payung yang tertutup kelambu hitam seperti menyerupai perumpamaan penampakkan hantu Oei Hui Lan yang kabarnya sering terlihat di hotel keluarga Oei Hui Lan.

Dominique Diyose, "Hantu" Oei Hui Lan

Bagi saya, sekuens ini lebih menyerupai kisah kematian Oei Hui Lan yang tragis dibandingkan dengan interpretasi  gaya hidup jetset super mewah yang dijalani Oei Hui Lan semasa hidupnya. Pada sekuens ini saya lebih membayangkan cerita kematian Oei Hui Lan yang tragis serta cerita seram tentang hantu Oei Hui Lan yang konon sering menampakkan diri di hotel keluarga di Semarang.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Dominique Diyose

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Prinka Cassy

Secara keseluruhan sekuens yang menghadirkan koleksi gaun malam dari lini teranyar Ghea Panggabean yang ia beri nama Ghea Couture ini adalah sekuens yang paling menyita perhatian saya. Gaun-gaun malam dengan dominasi warna hitam ditambah motif-motif bordir bernuansa oriental yang disajikan dalam warna emas menambah kekuatan drama dalam sekuens ini.

BIN HOUSE Oleh Obin Komara

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Kimmy Jayanti

Jika pada tahun sebelumnya koleksi dari BIN HOUSE untuk Bazaar Fashion Concerto diwakili oleh Wita, pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini BIN House diwakili langsung oleh sang pendiri, Obin Komara.

Lebih senang disebut sebagai “tukang kain”, Obin Komara mempersembahkan 15 koleksi busana. Pada koleksinya kali ini BIN HOUSE bermain-main dengan cutting jas pada kebaya. Beragam kain-kain cantik yang selalu jadi andalan BIN House diwujudkan dalam kebaya-kebaya  bersilluet modern dengan teknik tripping dan stitching yang memperkuat tekstur serta karakter kain.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Ines Arieza

Meski menjadi desainer yang paling sedikit mengeluarkan koleksi pada moment ini, keseluruhan koleksi dari Obin Komara untuk BIN HOUSE menjadi sangat menarik dengan arahan koreografi centil bagi setiap model pada sekuens BIN HOUSE.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Evie Mulya

Permainan kain dari beberapa model seperti Kimmy Jayanti, Evie Mulya, dan Ines Arieza juga menambah point plus dalam sekuens BIN HOUSE.

Eddy Betty

Eddy Betty. Model: Nien Indriyati

Eddy Betty tidak hanya menampilkan lini EdBe yang selama ini ia khususkan untuk busana-busana batik ready to wear, pada Sariayu Bazaar fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini ia juga mempertontonkan koleksi teranyar dari lini utamanya, Eddy Betty. Ia kemudian memilih bintang Hollywood legendaries, Elizabeth Taylor sebagai inspirasi utama karyanya. Melalui koleksinya ia seolah  membayangkan lambing glamoritas Hollywood yang ikonis ini ditempatkan dalam sebuah scene pertunjukkan Keroncong di Broadway, ditengah musim dingin sambil mengenakan kebaya cantik nan mewah.

Eddy Betty. Model: Dea Nabila

Suhu rendah pada musim dingin tidak lagi menjadi halangan ketika Eddy Betty menambahkan aksen penghangat berupa bulu-bulu, coat, dan mantel yang terbuat dari kulit hewan berbulu tebal namun terlihat sangat lembut.

Tidak hanya menampilkan kebaya yang berpadu dengan aksen penghangat, pada sekuensnya, Eddy Betty turut menampilkan beberapa koleksi kebaya yang ia desain khusus untuk pernikahan. Salah satu kebaya untuk pernikahan yang ia tampilkan adalah kebaya yang ia desain untuk pernikahan model cantik Laura Basuki beberapa waktu lalu. Kebaya pernikahan tersebut dibawakan langsung oleh sang mempelai, Laura Basuki.

Eddy Betty. Model: Laura Basuki

Bagi saya, secara keseluruhan, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah satu kesatuan karya masterpiece dari semua yang terlibat didalamnya. Terlepas dari beberapa kekurangan yang masih terdapat dalam penyelenggaraannya, Sariayu Bazaar Fashion Celebration meninggalkan kesan mendalam yang tidak akan terlupakan,dan membuat saya semakin menantikan acara tahunan ini di tahun mendatang.