Chateau Fleur : Panggung Magis Peragaan Busana Tunggal Perdana Hian Tjen

Agaknya benar bila perputaran kreator di dunia mode begitu dinamis. Setiap jeda waktu pasti ada saja bibit-bibit baru bermunculan dan memamerkan karya. Darah-darah muda yang masih menggelorakan semangat dalam mencipta menawarkan warna berbeda atau setidaknya warna serupa yang dikemas sedemikian rupa hingga tidak lagi sama. Salah satunya Hian Tjen, desainer muda yang baru genap menapak kepala tiga beberapa waktu lalu.

Simona, Hian Tjen, Paula Verhoeven (Kiri-Kanan)

Simona, Hian Tjen, Paula Verhoeven (Kiri-Kanan)

Saya hampir lupa kapan terakhir menjejakan kaki di tempat peragaan busana, menyaksikan satu persatu model yang wajahnya sudah sangat familiar melenggak-lenggok di atas catwalk. Seingat saya, itu pun kalau tidak salah, sekitar bulan Februari lalu ketika perhelatan Indonesia Fashion Week menjadi agenda terpenting di dunia mode Indonesia. Tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, saat Indonesia Fashion Week tempo lalu saya hanya datang pada dua peragaan busana, salah satunya peragaan busana penutup. Semenjak kuliah saya semakin padat, saya memang tidak lagi bisa berlama-lama atau menyempatkan banyak waktu untuk wara-wiri di berbagai peragaan busana Ibu Kota. Walhasil, selain sering ketinggalan beragam perkembangan, saya jadi begitu merindukan suasana peragaan busana, dan merindukan teman-teman yang biasa saya temui di kursi tamu, photographer pit atau belakang panggung.

Terkejut dan bersemangat. Dua perasaan itu sama-sama muncul dalam benak saya ketika mengetahui Hian Tjen akan melaksanakan peragaan busana tunggal perdana. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah sebegitu lamanya saya absen dari perkembangan mode Indonesia hingga tahu-tahu, Hian Tjen yang masih saya bayangkan sebagai salah satu desainer muda sudah memantapkan diri mengadakan peragaan busana tunggal. Tanda eksistensi dan pengukuhan posisinya di dunia mode.

Sapaan hangat salah satu Tim Muara Bagdja yang sayangnya saya lupa namanya tetapi ingat benar perawakannya terasa begitu menyenangkan saat tiba di depan Dian Ballroom Hotel Raffles. Saya senang karena ia masih mengingat saya meski sudah cukup lama absen hadir dalam sebuah peragaan busana. Begitu pula pelukan hangat dari Mas Gita dan Mbak Alvie dari Tim Muara Bagdja yang seolah menebus satu persatu rasa rindu. Saya merasa luapan keakraban yang telah lama absen. Setelah bercakap-cakap sebentar dan mencicipi hidangan makanan lezat Hotel Raffles saya melanjutkan langkah kaki memasuki Dian Ballroom, tempat berlangsungnya peragaan busana tunggal Hian Tjen.

Drina Ciputra. Model Pembuka "Chateau Fleur".

Drina Ciputra. Model Pembuka “Chateau Fleur”.

Chateau Fleur.

Chateau Fleur.

Advina Ratnaningsih. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Advina Ratnaningsih. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Nuansa muram menguar kencang saat saya memasuki Dian Ballroom. Sinar lampu temaram dan asap tipis serupa kabut lembut mengepung seluruh ruangan. Suhu rendah dari pendingin ruangan menyapu pelan permukaan kulit, dan dingin semakin terasa menembus nyaris ke tulang saat semakin lama duduk diam bersama kamera kesayangan, menunggu peragaan busana dimulai. Dalam tenang saya mengamati sekeliling ruang. Dari tempat saya duduk, tepat di depan lintasan panggung peragaan busana, saya dapat melihat dekorasi berupa sebuah meja makan panjang nan megah berdiri kokoh ditengah ruangan. Meja tersebut dikelilingi kursi-kursi yang berjajar namun terkesan ditata sembarang. Di atas meja tampak dekorasi lilin, dan benda-benda asing yang tidak semestinya ada di atas meja makan. Sungguhan seperti kerangka kepala rusa, bunga-bunga liar, dan tetumbuhan menjalar mengesankan meja tersebut lama ditinggalkan.

Meluaskan pandangan, bola mata saya tertambat pada dekorasi serupa tembok-tembok tebal yang usang. Anggun dan pongah disaat bersamaan, seperti bangunan-bangunan peninggalan era kolonial yang terbengkalai di daerah Kota Tua, atau seperti gambaran tentang kastil-kastil kuno dan berhantu dalam cerita-cerita horor barat klasik. Dinding yang terkikis, bata-bata bersembulan, sulur-sulur dari tumbuhan menjalar, warna cat yang jadi sulit terdeteksi warna aslinya, semua lebur jadi satu. Belum lagi sinaran tata lampu ruangan yang memancarkan pendar temaram diselingi bias cahaya merah, yang tersisa di ujung lidah saya hanya tinggal satu kata, magis.

Saya masih terpesona ketika suara Master of Ceremony menggema. Ia lalu menjelaskan latar belakang peragaan busana dalam bahasa Inggris fasih dan pelafalan judul peragaan busana dalam Perancis yang legit. Temaram lampu ruangan digantikan sebuah titik tembak yang tahu-tahu ada di ujung kiri lintasan panggung peragaan busanaa. Dan lagi-lagi, saya seakan terhipnotis saat Drina Ciputra melesat masuk sebagai model pembuka peragaan busana “Chateau Fleur”.

Mengumpamakan peragaan busananya layaknya sebuah lakon, Hian Tjen mendongengkan sebuah kisah yang mungkin telah lama mengusik kepalanya. Tanpa mengawalinya dengan kalimat “Once upon a time”, Hian langsung mengajak kita masuk ke dalam sebuah adegan yang dalam bayangan saya adalah perjamuan di sebuah kastil antah berantah. Di dalam perjamuan itu kemudian ia bercerita tentang dua sifat manusia yang rasa-rasanya selalu membuatnya terkesima. Si cantik bertabiat buruk dan si rupawan berwatak baik. Keduanya saling berkilatan, muncul berdampingan, menawarkan pesona yang sama-sama memabukan.

Wita Juwita. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Wita Juwita. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Paula Verhoeven. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Paula Verhoeven. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Selma Abidin. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Selma Abidin. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Membagi peragaan busananya dalam dua sekuens, “Evil Stalked The Night” merajut kisah yang meremangkan bulu roma di atas panggung peragaan busana. Alunan musik syahdu yang kadang terdengar menyeramkan mengiringi para model membawakan  busana dengan dominasi warna merah dan hitam. Melalui dua warna yang dimunculkan, Hian merepresentasikan bahwa merah mengandung kebengisan dan hitam menampilkan sisi gelap sekaligus jahat dari diri manusia. Kedua warna tersebut diibaratkan Hian sebagai irisan hati yang palsu dari perempuan yang tetap mampu memancarkan keindahan meski terbalut kejahatan.Siluet sederhana namun terkesan elegan membalut tubuh para model dalam potongan busana gaun pendek mau pun panjang, terusan bervolume kaya wiru, hingga ballgown. Permainan detil yang tanpa malu-malu ditunjukan Hian menjadikan keseluruhan koleksi pada sekuens pertama ini terlihat kompleks.

Sebagai sekuens pembuka “Evil Stalked The Night”  sukses merepresentasikan keinginan Hian untuk menyajikan sisi kelam keindahan. Potongan-potongan busana yang bisa jatuh terasa “biasa saja” dan telah berulang ditampilkan desainer mode lain, ditangannya tampil dengan suatu muatan yang terlalu kuat mendatang imej baru. Ambil contoh begini, gaun panjang dengan potongan dada yan begitu rendah, gaun panjang dengan tekstur bahan ringan melambai dengan belahan kaki hingga atas paha, atau gaun pendek dengan bulu-bulu unggas tentu bukan barang baru di dunia mode, namun dengan dramatisasi atmosfer yang diciptakan pada peragaan busana seakan menghapuskan rasa de javu yang mungkin tercipta. Satu-satunya yang sedikit mengusik pikiran saya hanya potongan ingatan yang terus berseliweran tentang film Black Swan dan Maleficent yang memiliki “cita rasa” serupa.

Christina Borries. "Love Will Bring The Joy", Chateau Fleur.

Christina Borries. “Love Will Bring The Joy”, Chateau Fleur.

Simona. "Love Will Bring The Joy", Chateau Fleur.

Simona. “Love Will Bring The Joy”, Chateau Fleur.

Katya Talanova. "Love Will Bring The Joy", Chateau Fleur.

Katya Talanova. “Love Will Bring The Joy”, Chateau Fleur.

Bertolak belakang 180 derajat dari sekuens pertama yang kental akan suasana muram dan menakutkan, “Love Will Bring The Joy” menawarkan utopisme yang membuai hati. Pada sekuens ini sang desainer mengisahkan balada tentang cinta dan kebajikan yang selalu ada pada setiap diri manusia. Paparan tentang kebahagiaan yang selalu jadi sisi menyenangkan dari kehidupan ia hadirkan melalui warna-warna pastel seperti baby blue, krem, putih, hingga warna keemasan dalam busana-busana yang bersiluet jubah, gaun panjang, gaun midi, busana bervolume, terusan pendek, hingga busana yang ketat memeluk tubuh. Bagi saya sekuens kedua ini serupa lagu pengantar tidur yang menenangkan. Membawa saya ke satu kisah mimpi yang tidak ingin diakhiri meskipun harus saya akui terlalu membuai-buai sampai-sampai pada beberapa momen saya nyaris mengantuk. Mungkin ini pengaruh dari tata musik yang mengalun pelan dan alur keluar para model yang lamat-lamat. Saya jadi membayangkan, seandainya saja musik lebih memiliki tempo dan nuansa benar-benar dijungkirbalikan jadi riang gembira, mungkin akan lebih menyegarkan mata.

Mengingat kembali keseluruhan sekuens kedua, saya merasa bahwa ada beberapa pesan yang jadi kurang tersampaikan jika merunut dari sisi cerita yang ingin ia bawakan. Hal ini mungkin saja disebabkan terlalu kuatnya atmosfer di sekuens pertama sehingga “Love Will Bring The Joy” kurang membawa kebahagiaan seperti yang semestinya terjadi. Namun konsistensi busana-busana yang disajikan Hian perlu diapresiasi. Ia mampu membuktikan ajegnya benang merah keseluruhan busana sehingga saya masih dapat merasakan kesamaan garis besar gaya rancangannya meski dalam dua sub-tema yang hampir berlainan sama sekali.

Di dua sekuens peragaan busananya, Hian menggunakan variasi bahan duchess, scuba, crepes, serta tule berlipit-lipit. Aplikasi detil rumit pada beberapa bagian busana dikreasikan dari bulu-bulu unggas dan hewan lainnya. Menilik lebih jauh tentang detil potongan busana milik Hian, kita dapat pula menjumpai aksesoris yang menyerupai serangga maupun detil yang terbentuk dari susunan manik-manik yang dijalin sedemikian rupa. Meski memiliki kompleksitas tinggi, keseluruhan karya Hian tidak juga jatuh sebagai “busana pajangan” atau busana yang terlampau “berat” berkat keseimbangan yang dimainkan sang kreator. Hian Tjen terasa arif dalam memberikan porsi kerumitan busana, ia tidak serta merta berambisi menjadikan busana-busananya grande dengan detil njelimet sana-sini, ketika sudah ada detil-detil yang terlampau rumit pada bagian-bagian tertentu busana, ia akan membiarkan bagian lainnya tampil polos sehingga terasa lebih pas.

Merangkumkan keseluruhan kesan atas peragaan busana tunggal “Chateau Fleur” lebih dari memenuhi standar ideal peragaan busana, terutama peragaan busana tunggal, bagi saya. Peragaan busana yang bagus adalah peragaan busana yang mampu menutupi kekurangan koleksi yang ditampilkan atau menyempurnakan keindahannya. Bagi saya Hian  cerdas, ia mampu membangun atmosfer yang sangat pas dan begitu kuat pada peragaan busana tunggal perdananya. Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar setidaknya para tetamu undangan yang hadir di malam itu mudah mengingat peragaan busana debutnya. Dengan menyaksikan peragaan busana “Chateau Fleur” saya serasa menghadiri sebuah pertunjukan teatrikal yang bercerita. Berkesan untuk dikenang.

CardioMind : Ketika Cabang Olahraga Dijadikan Inspirasi Mencipta Busana

Bagaimana jadinya bila cabang-cabang olahraga cardio yang biasa kita kenal diterjemahkan dalam wujud koleksi busana oleh para siswa dan alumnus terbaik sekolah mode tertua di Indonesia? Apakah cabang-cabang olahraga diterjemahkan mentah-mentah pada wujud busana? Atau kita akan dibuat terkejut dengan permainan interpretasi yang ditawarkan?

"CardioMind" interpretasi para siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo tentang cabang olahraga yang dijadikan benang merah inspirasi

“CardioMind” interpretasi para siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo tentang cabang olahraga yang dijadikan benang merah inspirasi

Ada dua hal yang membuat saya cukup khawatir dengan kondisi jalan-jalan di Jakarta pada hari Jumat tanggal 1 November 2013 lalu. Hal pertama adalah tentang hujan yang mulai sering mengguyur Jakarta dan kerap membuat saya kewalahan bila harus melakukan aktivitas yang mengharuskan saya berjibaku di jalanan Ibukota. Hal kedua adalah tentang isu demo ribuan buruh yang menuntut kenaikan upah minimum. Cukup membayangkan dua hal tersebut kepala saya pening seketika. Bagaimana tidak? Pada hari itu saya berencana untuk menghadiri undangan peragaan busana siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo mengambil tempat di The Hall Senayan City, sementara ada dua kemungkinan jarak yang akan saya tempuh untuk bisa hadir di The Hall, dari kampus saya di Depok, atau dari kediaman saya di daerah Cibubur.

Dua kemungkinan jarak yang akan saya tempuh sama-sama pelik, terlebih saat saya kembali mengingat dua hal yang saya khawatirkan. Tetapi apa lacur, niat saya untuk menghadiri acara tersebut begitu kuat, maka saya menyusun strategi perjalanan sedemikian rupa dengan memperhitungkan waktu tempuh terlama dari rumah saya di bilangan Cibubur. Strategi saya berhasil, saya datang sangat tepat waktu, bahkan satu jam setelah saya tiba di The Hall Senayan City, acara belum juga dimulai. Sebenarnya bukan hanya karena strategi waktu yang saya buat, tetapi memang karena saya tidak bertemu hujan, hanya gerimis kecil yang menerpa, dan saya juga tidak menjumpai kemacetan berarti, rute yang saya tempuh sangat bersahabat, malahan tergolong cukup sepi untuk ukuran Jakarta di Jumat sore menjelang malam.

Lembaga Pendidikan Tata Busana(LPTB) Susan Budihardjo bukan nama asing dalam dunia mode Indonesia. Jauh sebelum menejamurnya sekolah mode franchise dari berbagai belahan dunia, desainer mode kawakan Susan Budihardjo telah merintis sekolah mode ini. Resmi didirikan pada tahun 1980, LPTB Susan Budihardjo tercatat sebagai salah satu sekolah mode dan tempat kursus mode tertua di Indonesia yang masih bertahan. Tersebutlah nama desainer mode papan atas Indonesia semisal Adrian Gan, Denny Wirawan, Didi Budihardjo, Sebastian Gunawan, Eddy Betty, Sofie, dan Tri Handoko sebagai alumnus LPTB Susan Budihardjo.

Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB ketika suara merdu Ira Duati terdengar diseantero ruangan, menandakan acara akan segera dimulai. Diawali dengan pemberian door prize kepada para hadirin yang datang, disusul dengan pemberian plakat kepada beberapa pihak penting yang mendukung jalannya acara, peragaan busana akhirnya dimulai sepuluh menit kemudian dengan menyuguhkan rancangan busana berbahan material daur ulang dari kemasan produk Khong Guan Biscuit yang tak lain adalah salah satu sponsor utama.

“CardioMind” adalah tajuk menarik yang dipilih LPTB Susan Budihardjo dalam peragaan busana siswa dan alumnusnya, peragaan busana ini merupakan perayaan setalah wisuda tahunan siswa sekolah mode ini berlangsung sehari sebelumnya. Dalam tajuk “CardioMind” terdapat sebuah tema akbar yang melatarbelakangi terciptanya rangkaian koleksi busana, olahraga.

Inspirasi pakaian olahraga baseball pada koleksi busana salah satu siswa LPTB Susan Budihardjo. Model: Katya Talanova

Inspirasi pakaian olahraga baseball pada koleksi busana salah satu siswa LPTB Susan Budihardjo. Model: Katya Talanova

Kentalnya unsur sporty dalam busana pada peragaan busana siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo. Model: Ilmira

Kentalnya unsur sporty dalam busana pada peragaan busana siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo. Model: Ilmira

Alat pancing yang digunakan sebagai pelengkap presentasi busana oleh model. Model: Mareike Brenda

Alat pancing yang digunakan sebagai pelengkap presentasi busana oleh model. Model: Mareike Brenda

Inspirasi cabang olahraga panahan dalam busana karya siswa LPTB Susan Budihardjo

Inspirasi cabang olahraga panahan dalam busana karya siswa LPTB Susan Budihardjo

Diusungnya tema olahraga sebagai benang merah menjadi sangat menarik terutama saat saya teringat dengan riset tren mode yang dilakukan BD+A Design, sebuah lembaga konsultasi desain multi disiplin, bersama Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia(APPMI) yang mengungkapkan bahwa salah satu tren mode di tahun 2014 nanti adalah CardioMind, persis seperti  judul yang dipilih oleh LPTB Susan Budihardjo. “CardioMind” yang dimaksudkan dalam riset tersebut adalah tren busana yang hadir karena pengaruh berkembangnya kelompok orang-orang yang mementingkan pola hidup sehatdan gemar berolahraga. Dalam tren ini dijelaskan bahwa di tahun 2014 nanti akan ada busana-busana yang terinspirasi dari pakaian olahraga. Bagi saya hal ini sangat menarik, namun sayangnya saya belum melihat implementasinya secara jelas, tetapi akhirnya di peragaan busana milik LPTB Susan Budihardjo saya dapat melihatnya.

“CardioMind” sebagai tajuk dan olahraga sebagai tema coba di interpretasikan oleh para siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo. Meski mendapatkan porsi yang lebih sedikit, yakni berupa parade busana, koleksi siswa LPTB Susan Budihardjo yang baru saja menerima pesta kelulusannya terlihat menarik. Cabang-cabang olahraga seperti berkuda, tinju, atletik, hingga memancing coba diterjemahkan para siswa dalam busana-busana siap pakai yang kasual. Tak lupa pula penyisipan beberapa alat olahraga seperti hula hoop, alat pancing, panah, stick baseball, dan sarung tinju guna memperkuat judul dan tema besar yang diangkat. Walhasil jadilah aneka gaun, atasan berupa kemeja, blus, atasan tanpa lengan, blazer, rok berlipit, rok denim, rok pendek berpotongan lurus, celana jodhpur, celana pendek yang longgar hingga celana panjang yang diolah dengan potongan unik terlihat sporty dan edgy.

Usai parade busana dari siswa-siswi LPTB Susan Budihardjo yang baru saja menerima kelulusannya, peragaan busana berlanjut dengan menampilkan rangkaian koleksi para alumnus LPTB Susan Budihardjo, tidak ketinggalan juga label milik sekolah mode ini “Number 1” yang ikut memamerkan koleksi teranyarnya.

"You Can Do Kendo" oleh Afina Meyandra yang memadukan unsur street style ala Jepang dan kebudayaan Jepang dalam busana siap pakai

“You Can Do Kendo” oleh Afina Meyandra yang memadukan unsur street style ala Jepang dan kebudayaan Jepang dalam busana siap pakai

“You Can Do Kendo” adalah judul yang dipilih Afina Meyandra dalam menyajikan 8 koleksi busana teranyarnya. Menjadi desainer pembuka rangkaian peragaan busana alumnus LPTB Susan Budihardjo, Afina Meyandra mentranslasikan cabang olahraga Kendo ke dalam busana wanita siap pakai yang kental dengan unsur street style ala Jepang. Gaya kimono, penggunaan bahan katun tebal, teknik lilit, lipit dan ikat, serta bentuk-bentuk origami juga ikut diselipkan Afina Meyandra sebagai detil yang memperkaya keseluruhan busana. Atasan berpotongan longgar, celana, kulot, rok panjang, luaran berupa trench coat hingga rok pinsil ia hadirkan dengan dominasi warna putih ditambah beberapa aksen berwarna biru dongker dan merah.

Koleksi busana pria siap pakai Andreas Wen yang terinspirasi oleh cabang olahraga Sepakbola. Model: Richard Fiando

Koleksi busana pria siap pakai Andreas Wen yang terinspirasi oleh cabang olahraga Sepakbola. Model: Richard Fiando

Andreas Wen, desainer mode yang memulai karirnya dua tahun lalu setelah menyelesaikan pendidikan di LPTB Susan Budihardjo ini memilih cabang olahraga sepakbola sebagai inspirasi utama koleksinya. Cabang olahraga yang selalu mengundang gegap gempita para penggemarnya ini ditransformasikan Andreas ke dalam koleksi busana pria siap pakai. Motif si kulit bundar yang jadi favorit jutaan orang di dunia ia aplikasikan ke dalam material berwarna meriah layaknya warna-warna yang biasa digunakan dalam Pop Art. Material atau bahan itu lantas ia olah menjadi kemeja lengan panjang dan lengan pendek, vest, jaket varsity, blazer, celana panjang, celana pendek, hingga rok berlipit seperti yang biasa dikenakan pria Skotlandia.

Busana siap pakai dengan printing motif cabang-cabang olahraga yang dilansir "Number 1"

Busana siap pakai dengan printing motif cabang-cabang olahraga yang dilansir “Number 1”

Label busana “Number 1” menjadi penyambung peragaan busana ketika koleksi milik Andreas Wen usai ditampilkan. Label yang sukses mencatatkan LPTB Susan Budihardjo sebagai sekolah mode pertama yang memiliki label busana hasil kolektif alumnusnya itu melansir 20 koleksi busana yang terinspirasi dari cabang olahraga Balap Sepeda. Berorientasi pada busana siap pakai yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar tanpa menghilangkan idealisme dalam mencipta, busana koleksi “Number 1” hadir dalam garis rancang sederhana namun berpotongan unik, basic with a twist. Meski pada beberapa koleksi yang ditampilkan cenderung terlihat biasa saja, tapi tunggu hingga lampu yang menerangi ruang dipadamkan. Motif print yang tersebar di tiap potong koleksi akan mengeluarkan warna terang yang sangat menyita perhatian. Motif print glow in the dark dengan cepat menjadi pusat perhatian yang kejutan yang menyenangkan.

Struktur konstruktif pada bahu yang merupakan ciri khas dari pakaian cabang olahraga American Football. Model: Laura Muljadi

Struktur konstruktif pada bahu yang merupakan ciri khas dari pakaian cabang olahraga American Football. Model: Laura Muljadi

American Football rupanya terlalu menarik untuk dilewatkan. Cabang olahraga yang penuh dengan kontak fisik ini pula yang melesatkan imajinasi Ddy Pramono Widjaja untuk mentransformasikannya dalam wujud koleksi busana. Siluet kostum pemain American Football yang menyimpan kekhasan tersendiri terutama pada konstruksi di bagian bahu yang menggembung lebih besar ia racik dalam busana bernafas ready-to-wear. Atasan berkerah V yang longgar, gaun yang lekat memeluk tubuh dengan detil bahu membentuk lengkungan yang terlihat kaku, rok model span, hingga gaun panjang dengan konstruksi bagian bahu yang membumbung tinggi besar dan kaku layaknya hiperbola detil kostum American Football dihadirkan Ddy Pramono dalam warna dasar putih gading yang dipercantik corak geometris aneka warna cerah.Untuk sentuhan akhir, Ddy Pramono melengkapi presentasi koleksi busananya dengan wedges kayu setinggi 18 senti yang menguatkan kesan strong dan sporty.

Aksen akrilik pada bagian atas busana yang memberikan kesan "dingin", sangat menarik. Model: Drina Ciputra

Aksen akrilik pada bagian atas busana Ruth Elke yang memberikan kesan “dingin”, sangat menarik. Model: Drina Ciputra

Mendapuk Ruth Elke sebagai penutup rangkaian peragaan busana karya alumnus LPTB Susan Budihardjo rupanya adalah pilihan yang tepat. Desainer mode yang memperoleh kelulusannya dari LPTB Susan Budihardjo di tahun 2009 silam ini terasa begitu piawai memformulasikan ulang embrio utama inspirasinya, cabang olahraga Ice Hockey, ke dalam koleksi busana bergaya sporty-androgyny. Disaat desainer mode lain kadang terkesan menelan bulat-bulat inspirasi cabang olahraga yang digarapnya, Ruth Elke justru seolah mengajak siapa saja yang menyaksikannya menebak-nebak sumber inspirasi sang kreator. Dibawah bendera label Rue yang tak lain adalah lini busana siap pakai eksklusif miliknya, Ruth Elke menyuguhkan 8 set busana dengan dominasi warna hitam. Detil sisipan akrilik yang dapat dipasang-dicopot pada beberapa bagian busana menjadi salah satu elemen menarik yang memunculkan kesan “dingin” nan otentik.

Koleksi busana siap pakai "Number 1" yang glow in the dark.

Koleksi busana siap pakai “Number 1” yang glow in the dark.

Menyaksikan keseluruhan peragaan busana LPTB Susan Budihardjo bagi saya adalah suatu hal yang sangat menarik. Judul dan tema yang diangkat terasa sangat dekat sekaligus membawa pesan tersirat tentang gaya hidup sehat, hal positif yang sangat diperlukan masyarakat dewasa ini. Namun sayangnya, saya merasa tetap ada beberapa catatan kecil mengenai jalannya acara.

Inspirasi dari cabang olahraga tinju.

Inspirasi dari cabang olahraga tinju.

Inspirasi busana dari cabang olahraga American Football.

Inspirasi busana dari cabang olahraga American Football.

Finale koleksi busana milik Ddy Pramono Widjaja yang terinspirasi American Football

Finale koleksi busana milik Ddy Pramono Widjaja yang terinspirasi American Football

Persembahan siswa LPTB Susan Budihardjo yang terinspirasi cabang-cabang olahraga.

Persembahan siswa LPTB Susan Budihardjo yang terinspirasi cabang-cabang olahraga.

Salah satunya adalah momen peragaan busana yang tak lain merupakan presentasi akbar karya para siswa dan alumnus saya rasakan tak tersusun rapi. Para model yang berjalan di atas lintasan catwalk sering kali terasa tumpang tindih antara satu dan yang lain, terutama pada saat parade. Hal ini menyebabkan saya yang menyaksikan jalannya acara terkadang lepas konsentrasi terhadap satu busana yang sedang dipertontonkan di atas lintasan catwalk karena model busana lainnya sudah menyusul masuk dalam jarak yang terlalu dekat. Hal lain yang turut mengganjal pikiran saya adalah tentang pemilihan musik pengiring yang kadang terasa terlampau nge-pop, dan pengaturan lighting yang kadang memusingkan kepala.

Namun terlepas dari semua hal tadi, LPTB Susan Budihardjo tetap sukses mengajak saya pada pengalaman berbeda menyaksikan peragaan busana berbalut unsur inspirasi olahraga yang kental. Setelah ini, saya pasti menunggu-nunggu apalagi judul dan tema besar yang akan diusung pada tahun-tahun selanjutnya. Saya harap saya bisa menyaksikannya kembali 😀

Interpretasi Keberagaman Warna di Jalur Sutra oleh Sebastian Gunawan

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Model: Drina Ciputra

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Model: Drina Ciputra

Jalur Sutra atau yang dalam bahasa Prancis dapat diartikan sebagai “La Route De La Soie”, menjadi tajuk sekaligus inspirasi utama Seba pada peragaan busananya Jum’at sore(25/01). Menghubungkan lalu lintas perdagangan darat antara Asia dan Eropa, Seba seolah melakukan napak tilas Jalur Sutra dan melakukan eksplorasi di empat titik perhentian Jalur Sutra. Empat titik yang lantas diwujudkan pada empat sekuens peragaan busana La Route De La Soie” yang menampilkan total 75 busana teranyar Seba untuk koleksi Imlek 2013 .

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Perjalanan panjang jalur sutra dimulai di Negeri Tirai Bambu. Model: Renata Kusmanto

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Perjalanan panjang jalur sutra dimulai di Negeri Tirai Bambu. Model: Renata Kusmanto

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Sensualitas dan Glamoritas perempuan Shanghai tahun 20an. Model: Paula Verhoeven.

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Sensualitas dan Glamoritas perempuan Shanghai tahun 20an. Model: Paula Verhoeven.

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Model: Marcella Tanaya.

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Model: Marcella Tanaya.

Negeri Tirai Bambu menjadi titik tolak penelusuran Seba di Jalur Sutra. Pada titik awal ini, Seba menyerap inspirasi dari sosok perempuan di kota Shanghai era 1920-an yang menyimpan daya tarik sensualitas yang begitu besar. Aura sensual yang melekat pada sosok perempuan Shanghai lalu ia terjemahkan lewat gaun-gaun cheongsam yang terlihat mewah nan elegan dalam siluet feminin. Dominasi warna merah marun, hitam, coklat dan emas dibubuhkan Seba pada rangkaian koleksinya di sekuens pertama. Permainan detil renda klasik, taburan payet dan bebatuan pun semakin menyumbangkan kesan mewah yang abadi pada keseluruhan koleksi di sekuens pertama.

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Tiara Westlake

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Tiara Westlake

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Mischa Jeter

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Mischa Jeter

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Michelle Samantha

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Michelle Samantha

Perjalanan berlanjur semakin ke arah Timur benua Asia. Negeri Matahari Terbit yang selalu dipenuhi bunga Sakura pada musim semi jadi titik perhentian kedua dalam penelusuran Seba di Jalur Sutra. Helaian kain obi sutra Nishijin-Ori yang ditenun di kota Kyoto dan memiliki warna cerah serta tekstur lembut, diolah dalam rancangan bergaris geometris. Menyelipkan unsur Harajuku yang sangat modern melalui bahan berwarna neon, pada sekuens kedua ini Seba banyak menampilkan gaun-gaun pendek yang kaya akan permainan volume dan detil. Gaun pendek yang dibuat menggembung pada bagian pinggul kebawah, detil bunga-bunga kecil, bagian atas busana yang diberi frog clousure atau kancing China, serta beberapa padupadan dengan bolero bertekstur kaku yang semakin memperkaya tampilan busana.

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Gaun biru metalik mewah nan memukau. Model: Drina Ciputra

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Gaun biru metalik mewah nan memukau. Model: Drina Ciputra

IMG_7538

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Kemewahan negeri Barat berpadu budaya khas negeri Timur.

Bahan beludru mewah yang biasa diaplikasikan dalam warna-warna gelap ditransformasikan Seba dalam warna cerah dan motif eksotis yang khas. Kemunculan aneka kain tenun Uzbekistan yang berwarna-warni lalu jadi pertanda perjalanan di Jalur Sutra tiba di dataran Asia Tengah. Kain tenun khas Uzbekistan yang memiliki warna-warna cerah dengan corak dan cara pembuatan serupa tenun ikat khas Nusa Tenggara ini dikombinasikan Seba pada gaun model cheongsam berpotongan feminin yang memiliki siluet agak longgar di tubuh. Detil permainan bidang bahan tampak terlihat, gradasi warna serta motif yang tampak rumit namun indah memperkuat kesan grafis dari bahan tersebut.

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Detil kemewahan tinta emas ala Paris.

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Detil kemewahan tinta emas ala Paris.

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Perjalanan menelusuri jalur sutra. Model: Ilmira

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Perjalanan menelusuri jalur sutra. Model: Ilmira

Napak tilas Seba tiba di titik keempat, titik terakhir dalam perjalanannya menelusuri Jalur Sutra, Eropa. Nuansa feminin nan elegan khas Roma, serta kesan mewah dan high-fashion khas Paris melebur pada sekuens akhir peragaan busana “La Route De La Soie”. Siluet cheongsam yang khas berpadu dengan detil kemewahan dari motif-motif berwarna emas dan metalik terasa sangat memukau. Penggunaan bahan lace, sequin, serta banyak bordiran benang metalik kemudian semakin mempertegas keseluruhan koleksi pada sekuens penutup “La Route De La Soie”.*

* Tulisan ini juga dimuat di beritafesyen.com
** Seluruh foto: Arselan Ganin

“Asymmetry” Danjyo Hiyoji’s Spring/Summer 2013; Welcome Back The Pioner!

Bagi saya, Danjyo-Hiyoji adalah cinta pertama jika membicarakan indie label. Jauh sebelum puluhan indie label yang akhir-akhir ini mudah sekali dijumpai, saya telah mengenal Danjyo-Hiyoji lebih dulu. Saya mengenal mereka sebagai salah satu yang pertama, dan yang berhasil mencuri hati saya.

Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013 "Asymmetry"

Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013 “Asymmetry”

 Tiga tahun lalu, tepatnya pada JFW(Jakarta Fashion Week) 2009/2010 adalah kali pertama saya mengetahui tentang Danjyo-Hiyoji. Pada satu sesi peragaan busana, saya menyaksikan koleksi-koleksi dari mereka. Rasanya aneh. Kenapa?. Karena saat itu, selama beberapa hari berada di JFW, saya melulu dipertontonkan oleh puluhan koleksi desainer-desainer terkemuka di Indonesia, dan mereka serupa tapi tak sama dalam hal orientasi koleksi. Serupanya karena hampir semua desainer mengarah ke couture, high fashion, atau setidaknya ready-to-wear duluxe. Tetapi tidak samanya, ya karena gaya rancangan mereka sudah pasti berbeda. Polanya beda, warnanya beda, garis rancangannya beda, apalagi tiupan “ruh” yang diberikan, sudah pasti beda. Karena itu, puluhan koleksi busana yang saya saksikan ketika JFW 2009/2010 saya katakan serupa tapi tak sama.

Lalu saya lupa kapan tepatnya, tetapi yang saya ingat adalah saya melihat satu sesi peragaan busana yang menampilkan jajaran busana sehari-hari yang biasa, tetapi tidak biasa. Biasa tapi tidak biasa. Hmmm…begini, busana yang ditampilkan di atas lintasan catwalk JFW itu seperti biasa saya lihat banyak dikenakan di keseharian, atau mungkin bisa kita sebut busana basic. Tapi tidak biasa, karena seperti itulah wujud si busana, tidak biasa, pada cutting, pada warna, pada “sesuatu” yang ada di dalamnya.

Basic with a twist. Kalimat itulah yang sempat dikatakan para punggawa Danjyo-Hiyoji untuk mendeskripsikan koleksinya saat itu. Mungkin terdengar biasa, atau mungkin basi jika kalian dengan sekarang ini, tapi tidak jika kalian mendengarnya tiga tahun lalu, dimana indie label tidak sebanyak sekarang dan tidak mengadopsi garis rancang yang kebanyakkan satu aliran. Tiga tahun lalu, 2009, saya tahu saya mulai jatuh cinta, dengan Danjyo-Hiyoji dan “basic with a twist” yang mereka miliki.

Lama waktu berselang, saya tidak banyak mendengar kabar tentang salah satu label kesayangan saya ini. Terakhir yang saya tahu dan membuat saya sedih adalah ditutupnya toko fisik Danjyo-Hiyoji dan toko-toko lain di Level One Grand Indonesia. Namun beberapa waktu setelah kabar tidak menyenangkan itu, saya mendengar kalau Danjyo-Hiyoji kembali. Sebuah peragaan busana akan diadakan untuk memperkenalkan koleksi busana Spring/Summer 2013 nya.

Mendengar kabar ini, tentu saya senang dan bersemangat sekali. Akhirnya, setelah sekian lama Danjyo-Hiyoji menarik diri dari dunia nyata dan lebih banyak mengandalkan media dunia maya, mereka kembali. Saya akan bisa melihat koleksi mereka lagi langsung di depan kedua mata saya.

Uniquely Video Mapping at Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013 "Asymmetry"

Uniquely Video Mapping at Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013 “Asymmetry”

Bertempat di Fairground Area SCBD atau yang dulu lebih dikenal dengan nama Bengkel Night Park, peragaan busana koleksi Spring/Summer 2013 milik Danjyo-Hiyoji ini ternyata tidak berdiri sendiri. Acara yang diberi nama Asymmetry dan The Dream Factory ini merupakan hasil kolaborasi antara peluncuran koleksi Spring/Summer 2013 Danjyo-Hiyoji dan perayaan ulang tahun ke-17 dari Future 10, sebuah promotor musik milik Anton Wiryono, serta didukung penuh oleh Avolution Rated-A. Rated-A adalah sebuah wadah yang dibentuk oleh Avolution bagi para perokok dewasanya untuk menyalurkan aspirasi dan inspirasi di bidang kreatif.

Dimulai sekitar pukul 20.30 WIB, Asymmetry The Dream Factory dibuka oleh karya busana pemenang Rated-A “Metamorforward” Fashion Online Competition yang dilangsungkan beberapa waktu lalu. Setelahnya, tiga orang model yang mengenakan busana serba putih dengan garis rancang berbeda dijadikan manekin pada permainan mapping video yang unik. Bagian mapping video ini adalah salah satu bagian favorit saya sepanjang Asymmetry The Dream Factory. Ketika tiga orang model itu berdiri di depan dinding putih dan proyektor mengarah kepada mereka lalu memainkan mapping video yang serupa permainan laser, saya hanya bisa berdecak kagum, serta berkali-kali mengatakan, “Keren!”.

Kurang lebih lima menit mapping video itu diputarkan dan tiga model mematung di depannya sebelum mereka pergi ketika mapping video selesai, pertanda acara yang paling saya tunggu-tunggu akan segera dimulai, peragaan busana koleksi Spring/Summer 2013 DanjyoHiyoji.

Salah satu koleksi teranyar Danjyo-Hiyoji. Suka blazer hitam ini :D

Salah satu koleksi teranyar Danjyo-Hiyoji. Suka blazer hitam ini 😀

Menampilkan 30 busana yang dibawakan oleh 15 model wanita dan 15 model pria. Bagi saya, Danjyo-Hiyoji seperti membagi-bagi koleksi busana kali ini ke dalam empat kategori. Pertama, busana dengan paduan warna-warna cerah. Kedua, busana dengan motif print. Ketiga, busana dengan potongan cenderung lebih clean dan aplikasi warna-warna “aman”. Dan keempat, busana yang di dominasi warna gelap semisal hitam dengan menitikberatkan pada permainan struktur dan volume busana.

Pada koleksi kali ini Danjyo-Hiyoji terasa sangat bermain-main dengan banyak hal, tidak hanya sebatas garis rancang atau potongan busana seperti yang biasa mereka lakukan, tetapi mereka juga mengeksplorasi warna, garis rancang, struktur busana, volume, hingga motif print pada koleksinya. Hal itu sudah pasti tidak mudah. Dengan koleksi dengan jumlah yang tergolong sedang-sedang saja, dan banyaknya elemen yang “dimainkan”, saya pikir bisa saja jika koleksi Danjyo-Hiyoji kali ini jatuhnya “random collection”, sangat berlainan diantara satu sama lain dan tidak memiliki benang merah atau “ruh” yang sama. Seperti koleksi yang diambil secara acak, dan hanya lebih berat kekeberagaman tanpa adanya satu pengikat.

Tapi apakah hal itu terjadi?. Bagi saya tidak. Setelah melihat keseluruhan koleksi milik Danjyo-Hiyoji, saya tetap bisa merasakan satu benang merah yang sama. Saya tetap bisa merasakan kalau itulah Danjyo-Hiyoji, Indie Label yang telah membuat saya jatuh cinta tiga tahun lalu. Mereka tetaplah sama, meski digarap dengan formasi baru. Bagi saya, pada koleksi Spring/Summer nya kali ini, Danjyo-Hiyoji justru makin memperlihatkan kematangannya dalam berkarya. Mereka berani mengeksplorasi hal-hal baru pada koleksinya, mengambil beberapa resiko yang ada, dan seolah mengatakan, “We can create many kind of outfit with the same spirit.”

Sebagian dari koleksi Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013. Coba lihat, koleksi printing-nya, keren banget ya? :)

Sebagian dari koleksi Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013. Coba lihat, koleksi printing-nya, keren banget ya? 🙂

"Dark Collections" Danjyo-Hiyoji yang bikin jatuh cinta(khususnya 4 koleksi di tengah foto). I love this collection, cause, hey, I love black outfit! Lol :p

“Dark Collections” Danjyo-Hiyoji yang bikin jatuh cinta(khususnya 4 koleksi di tengah foto). I love this collection, cause, hey, I love black outfit! Lol :-p

Sepanjang jalannya peragaan busana, selain bagian mapping video saya juga sangat suka sekuens koleksi busana print. Sampai saya menuliskan ini, saya sebenarnya masih menerka-nerka sebenarnya apa motif print yang ada pada koleksi Danjyo-Hiyoji. Motif-motif yang dibubuhkan pada busana berwarna dasar putih itu bagi saya terlihat seperti bagian dari arsitektur art deco (?), burung phoenix (?), geladak kapal (?). Ah, jujur saya bingung, biar nanti saya cari tahu lagi. Tapi sungguh, saat melihat koleksi tersebut diperagakan para model di lintasan catwalk, terasa keren. T-shirt, baju terusan, celana panjang, kemeja, hingga blazer yang mungkin biasa saja jadi sangat menarik tapi tidak too much karena penempatan motif print yang proporsional serta pemilihan warna yang tidak terlampau ramai.

Selain bagian koleksi bermotif print, yang juga paling saya sukai adalah rangkaian koleksi busana yang didominasi warna hitam. Terutama ketika koleksi tersebut dibawakan oleh tiga orang model dengan koreografi spesial yang banyak menggunakan gerak tubuh, ditambah dengan aksesori topeng berwarna hitam, jadilah pada bagian ini terasa lebih drama.

Bukan hanya karena faktor drama-nya saja yang saya suka, tetapi busana yang mereka kenakan, juga keluwesan gerak tubuh tiga model itu turut membungkus keseluruhan dengan sangat pas. Dan jujur saya sedikit surprise ketika sadar salah satu dari tiga model pada bagian itu adalah Reti Ragil. Ya, Reti Ragil, si Super Skinny Girl yang pernah saya tulis profilnya, dan dua model lainnya adalah Drina Ciputra dan Antie Damayanti. Kenapa surprise?, mungkin karena selama ini saya tidak pernah melihat Reti melakukan koreo dengan body movement yang kental seperti saat itu, sementara saya sudah menyaksikan kepiawaian Drina dan Antie dalam olah tubuh di lintasan catwalk. “I think she was great, and they was awesome”.

Namun, harus jujur saya katakan, tidak semua koleksi Danjyo-Hiyoji tersaji pas sempurna. Ada beberapa koleksi, terutama yang ditampilkan pada awal peragaan busana bagi saya terasa seperti pengulangan yang terlalu biasa meski terasa sangat diusahakan untuk menjadi tidak biasa. Saat melihat koleksi tersebut saya seperti ingin mengatakan, “I’m so sorry, but it’s like so last year”. Memang pada kenyataannya, pengulangan bukan hal yang baru di dunia fashion atau dimanapun, pengulangan sangat sering dilakukan, tapi entah mengapa, pada beberapa kesempatan, pengulangan terasa mengganggu pikiran. Hmmm…mungkin saya terlalu sensitif pada beberapa kesempatan, terutama yang menyangkut hal-hal yang sangat saya sukai dan perhatikan.

Tetapi secara keseluruhan saya sangat senang dan belum puas dengan peragaan busana Spring/Summer 2013 Danjyo-Hiyoji. Sangat senang karena “Sang Pioner” kembali, dan belum puas karena saya ingin melihat lagi, lagi, dan lagi koleksi dari Danjyo-Hiyoji. Ah, ya, dan belum puas karena saya tidak bisa mendapatkan foto-foto yang bagus pada peragaan busana itu karena pengaturan spot untuk mengambil foto yang bagi saya susah sekali untuk ambil foto. Terlebih dengan kamera imut saya ini…hahaha 🙂

FOLIAGE ; Bayangan Keindahan Alam Ala Biyan

Biyan adalah salah satu legenda hidup dunia mode Indonesia. Setiap kali ia melansir koleksi busana teranyar, adalah wajib hukumnya bagi pecinta mode khususnya pengagum karya beliau, termasuk saya, untuk mengetahui apalagi yang ia persembahkan untuk dunia mode. Dan Biyan Annual Show 2012/2013 adalah satu hari yang telah saya tunggu sejak satu tahun lalu.

 

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Pertengahan tahun 2011 lalu adalah kali pertama saya menyaksikan secara langsung pagelaran busana karya Biyan Wanaatmadja atau yang lebih dikenal dengan nama Biyan. “The Orient Revisited” begitulah judul yang ia pilih untuk pagelaran busananya tahun lalu, judul yang hingga saat ini tidak pernah hilang dalam ingatan saya.

Saya masih ingat benar ketika setahun lalu saya berada di Grand Ballroom Hotel Mulia yang diterangi sinaran lampu temaram sebelum berubah terang dan seorang penari kontemporer mempertontonkan liukan tubuhnya sebagai pembuka pagelaran tunggal “The Orient Revisited”. Begitu pun dengan rak kayu super besar yang didalamnya berjejer guci-guci raksasa yang jadi dekorasi pada pangkal panggung lintasan catwalk.

Saya tidak akan lupa, tidak pernah lupa betapa menghanyutkannya suasana pada malam itu. Syahdu, megah, namun masih menyisakan kesan modern meski sekaligus seakan membawa saya bertamasya ke suatu tempat nun jauh disana. Tempat dimana saya menyaksikan geliat aktivitas masyarakat etnis Tionghoa dalam perpaduan tempoe doeloe dan modern.

Setahun berlalu dan kesan akan pagelaran tunggal Biyan atau yang biasa disebut Biyan Annual Show tidak bisa hilang. Setahun berlalu, dan dalam setahun itu pula saya menanti untuk bisa mengulang kesan mendalam ketika menyaksikan pagelaran tunggal milik Biyan.

Dekorasi panggung Biyan Annual Show “FOLIAGE”

 

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Saya melangkahkan kaki masuk ke area Grand Ballroom sekitar satu jam sebelum jadwal show seharusnya dimulai, dan saya merasa seperti tersesat di dalam hutan hujan tropis kala malam. Pepohonan yang tingginya lebih dari dua meter, dedaunan yang menguarkan bau khas, bunga-bunga kecil yang menyembul malu-malu dari sela sulur pohon, serta suasana sekitar yang masih gelap dan hanya sedikit terkena pencahayaan yang entah berasal dari mana. Seumur-umur, saya belum pernah merasakan sensasi memasuki ruangan tempat akan berlangsungnya sebuah pagelaran busana seperti saya ada disini. Di Ballroom tempat pagelaran busana Biyan akan berlangsung.

Suasana hutan tropis lengkap dengan pepohonan rimbun bercabang, daun-daun hijau hijau beraroma menenangkan seperti bau tanah sehabis hujan, dan kesyahduan cahaya temaram. Saya rasa saya tidak akan menyadari bahwa sesungguhnya saya berada di dalam sebuah Ballroom tempat akan berlangsungnya pagelaran busana jika saja sebuah lintasan catwalk berwarna putih bersih, kursi-kursi yang berjajar rapi dan bangku berundak di sisi kiri dan kanan ruang tidak menyapa saya beberapa saat kemudian, ketika saya sudah melewati bagian Ballroom yang di tata sedemikian rupa hingga tak ubahnya seperti hutan tropis.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Hege Wollan

“Represent life and its growth..Cerita kehidupan dengan pertumbuhan dan perkembangannya”,

itulah yang diucapkan sang maestro mengenai pagelaran busananya kali ini. Biyan seolah membayangkan berada diantara sekumpulan daun-daun hijau yang rimbun atau bentangan ladang yang luas dipenuhi bunga-bunga liar bermekaran, dan hembusan angin yang beralun ringan menyempurnakan bayangannya tentang sebuah “pelarian” yang indah dan menyejukkan.

Biyan lalu memilih “FOLIAGE” sebagai satu nama yang dirasa mampu mewakili semua yang ada dalam angannya. “FOLIAGE”, ia terjemahkan sebagai sekumpulan daun, interpretasi tentang hidup yang terus betumbuh.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Drina Ciputra

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Michelle Samantha

Jika di tahun sebelumnya dalam pagelaran “The Orient Revisited” Biyan meluncurkan 100 koleksi, pada “FOLIAGE” ia mengurangi jumlah menjadi 90 set busana. Pada rangkaian koleksinya kali ini pula, Biyan terlihat masih sangat nyaman bermain-main dengan eksplorasi keindahan alam yang ada di sekelilingnya dalam membuat motif, warna dan rasa pada koleksi busananya.

Ornamen payet yang dirangkaikan secara detil menjadi rangkaian bunga-bunga kecil serta dedaunan yang memenuhi beberapa bagian busana, disamping motif print bunga, dedaunan, rerumputan, pakis, kupu-kupu, hingga motif polkadot yang menyerupai stomata daun mewarnai kesembilanpuluh set busana yang disuguhkan pada malam itu.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Sharlotta

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Ilmira

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Renata

Siluet busana seperti atasan yang ramping dan potongan bawah yang bervolume, ataupun sebaliknya seperti blus berstuktur kaku dengan bawahan yang ramping, jaket berstuktur kaku yang dipadankan dengan rok lebar bervolume ringan, kesemuanya itu menampilkan sisi feminin perempuan sesungguhnya, bersamaan dengan sisi maskulin, bahkan menyajikannya dengan aspek innocence secara berbarengan.

Sementara, dalam sisi pemilihan warna, Biyan menyelaraskan penggunaan warna dalam koleksinya dengan konsep keindahan alam yang dipilihnya, keindahan alam yang terkesan begitu lembut dan menyejukkan. Warna hijau dari rerumputan, biru langit, putih gading, abu-abu, hitam, merah dan orange pucat, serta emas adalah warna-warna yang dipilih Biyan dalam rangkaian koleksinya.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Katya Talanova

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

90 set busana dibawakan dalam waktu kurang dari satu jam, dan selama itu saya merasa jika koleksi Biyan kali ini masih merupakan pengulangan koleksi terdahulu. Meski saya sangat menyukai keseluruhan koleksi, namun kesan De Javu tetap tak bisa dihilangkan. Motif-motif yang dihadirkan, juga siluet yang ada pada tiap set busana, terasa masih memiliki kesamaan yang begitu kental dengan koleksi “The Orient Revisited”.

Mungkin karena ciri khas siap pakai yang sudah terpatri erat pada garis rancang Biyan, atau mungkin memang Biyan masih ingin melanjutkan benang merah rangkaian koleksinya yang terdahulu. Atau, karena konsep mendasar yang ia usung tetaplah sama, mudah dipakai serta mudah dipadupadankan, nyaman namun tetap mengedepankan sisi gaya dan anggun sekaligus berkarakter kuat. Hal yang kemudian ia rekatkan menjadi satu kesatuan koleksi busana yang memiliki daya tarik tinggi meski terkesan sederhana dan santai.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Advina Ratnaningsih

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Drina Ciputra

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Reti Ragil Riani

Selain itu, tata artistik dekorasi panggung lintasan catwalk yang dibuat sedemikian rupa dipenuhi pepohonan rindang, tumbuhan merambat, dedaunan hijau yang member kesan rimbun, teduh, terpencil sekaligus megah sepintas mengingatkan pada nostalgia film Great Expectations yang merupakan adaptasi novel karya penulis Inggris, Charles Dickens, menjadi daya tarik tersendiri. Saya rasa, dekorasi ruang Ballroom dan panggung lintasan catwalk yang terkonsep sedemikian rupa serta nyaris sempurna menjadi suatu nilai tambah yang sangat besar pada pagelaran busana Biyan di tahun ini.

Seusai Finale Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Dan jika pada tahun lalu saya menuliskan jika para model yang dipilih Biyan dalam memperagakan busana cukup “mengganggu” banyak diantaranya tak ubah zombie di atas catwalk sementara beberapa yang lainnya tak mampu menutupi raut wajah seperti menahan sakit, pada pagelaran busana nya kali ini hal tersebut jauh berkurang. Saya memang masih merasakan beberapa model berjalan seperti tak mempunyai “ruh”, tetapi tidak banyak, dan bisa dihitung jari. Raut wajah seperti menahan sakit pun tidak terasa sama sekali.

Secara keseluruhan, bagi saya, pagelaran busana Biyan kali ini nyaris sempurna terlepas dari kesan De Javu yang begitu melekat.

Palais Royal ; Daya Tarik Konsep Penggabungan Budaya Cina dan Jawa Oleh Priyo Oktaviano

Ia menginterpretasikan film “Shanghai Tang” dan kehidupan tanah Jawa dalam lingkungan Kraton melalui koleksi terbarunya. Suasana kota Shanghai pada tahun 1920an pun ditampilkan berdampingan dengan atmosfer Kraton Jawa di era kolonial. Desainer berkacamata ini memang selalu membuat saya jatuh hati.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Laura Muljadi

Fashion show yang terselenggara pada hari penutupan Jakarta Fashion and Food Festival memang selalu membuat saya penasaran terlebih ketika mengingat pada tahun lalu, Adrian Gan sukses membuat saya serasa naik roaller coaster melalui rangkaian koleksinya yang bertajuk “Patola Kamba Manandang”. Kain-kain tenun yang ia datangkan langsung dari Nusa Tenggara dan juga kain dari berbagai belahan dunia lain seperti India, dan Perancis berhasil ia ubah dengan sangat apik menjadi koleksi busana couture yang indah. Jangan pula lupakan alas kaki yang diberikan pada seluruh model yang membawakan koleksinya, alas kaki itu hingga kini masih membuat jantung saya berdebar cepat bila mengingatnya.

Sejak hari pertama saya menerima jadwal lengkap penyelenggaraan JFFF 2012 saya sudah tahu jika fashion show hari terakhir yang diberi judul “Palais Royal” adalah satu dari sekian banyak fashion show yang tidak boleh terlewatkan di tahun naga air ini. Bukan hanya karena judulnya saja yang terasa legit jika dilafalkan pelan-pelan, tapi nama desainer dibalik judul itu sudah lebih dari cukup menjadi jaminan bahwa pagelaran busana di hari terakhir itu akan berlangsung memukau. Desainer dibelakang judul “Palais Royal” tak lain adalah Priyo Oktaviano, desainer sudah saya kagumi sejak tiga tahun belakangan.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano

Dimulai sejak pukul 20.00 WIB, “Palais Royal” dibuka dengan sekelompok penari berpakaian adat Bali membawa sesajen dan bakaran serupa menyan yang menguarkan aroma khas kesekeliling ruang. Setelahnya, formula yang sama seperti “Patola Kamba Manandang” milik Adrian Gan dimunculkan ke atas panggung. Seorang penari kontemporer pria meliukkan tubuhnya dengan luwes namun penuh tenaga, hanya saja bedanya ia tak lagi sendiri seperti pada “Patola Kamba Manandang” milik Adrian Gan, di panggung “Palais Royal” milik Priyo Oktaviano, ia bak seorang kepala suku yang dikawal hulu balangnya karena dibelakangnya turut berbaris dengan rapi penari-penari lain ketika ia akan mengakhiri penampilannya di atas lintasan catwalk.

Menghadirkan 35 set busana yang terdiri dari 27 set busana wanita dan 8 set busana pria, “Palais Royal” dibagi atas tiga sekuens utama yang kesemuanya memiliki konsep serta premis cerita yang berbeda.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Ferry Salim

 

Pada sekuens pertama, suasana kota Shanghai tahun 1920an dihadirkan oleh Priyo Oktaviano dengan menampilkan pemuda dan pemudi Cina yang tengah bercengkrama di sebuah taman sebagai prolog pembukaan sekuens. Aktor berwajah oriental Ferry Salim kemudian dipilihnya sebagai first face yang mengenakan topi fedora serta baju jubah tertutup yang sering kita lihat di film kungfu jaman dulu. Pada sekuens ini silluet busana bergaya cheongsam yang selalu identik dengan kerahnya yang tinggi, diaplikasikan Priyo menjadi gaun pendek berbelahan tinggi pada bagian bawah serta memiliki lekuk yang pas memeluk tubuh.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: J Ryan

 

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Sarah Azka

Selain itu terdapat pula gaun pendek berbelahan tinggi yang pada bagian atasnya menyerupai kemben dengan detil bertumpuk. Namun jika pada divisi busana wanita, warna mencolok khas busana bernuansa oriental seperti marun dan emas yang dihadirkan, empat set busana pria pada sekuens ini hadir dalam warna monokrom hitam-putih. Hal menarik lain yang sangat terasa pada sekuens ini adalah terdapatnya tattoo naga yang sengaja dilukiskan pada bagian tubuh model yang memperagakan busana, seperti pada bagian tangan, punggung, atau kaki.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Mareike Brenda

Nuansa khas Kraton Jawa di masa kolonial menjadi hal yang begitu terasa ketika memasuki sekuens kedua. Busana berwarna hitam terlihat mendominasi pada sekuens ini disamping padupadan warna lain seperti, emas, putih, marun, dan juga kain lurik yang dijadikan pelengkap busana. Stelan busana mirip beskap, celana longgar, gaun panjang yang pas badan berwarna metalik dan emas, blazer dengan motif kain songket hingga busana bersilluet kebaya kutubaru berbahan beludru dihadirkan untuk sesi busana wanita dalam sekuens kedua. Sedangkan untuk busana pria, Priyo menampilkan variasi pada bawahan seperti celana komprang dan harem serta atasan berupa jas, kemeja, dan beskap khas Jawa klasik.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Witha

 

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano.

Jika pada sekuens pertama saya serasa tengah menyaksikan replika kehidupan tempoe doeloe di daratan Cina sana, pada sekuens kedua ini saya seperti dibawa menyusuri lingkungan Kraton Jawa di era kolonial. Era dimana budaya Jawa yang masih memegang teguh warisan leluhur harus berbenturan dengan budaya barat yang mulai menyusup pada sendi kehidupan.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Advina Ratnaningsih

Sementara itu, sekuens ketiga yang merupakan sekuens penutup, Priyo Oktaviano coba untuk meleburkan dua kebudayaan yang jadi inspirasinya, yakni Cina dan Jawa. Gaun panjang one shoulder, gaun panjang bersilluet cheongsam dengan belahan bawah yang tinggi ia hadirkan dalam material dasar kain songket khas Bali yang kaya akan warna-warna emas.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Drina Ciputra

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Dominiwue Diyose

Pada keseluruhan busana yang ia tampilkan, Priyo Oktaviano menggunakan 70 persen kain tenun Bali buatan tangan atau handmade, sementara sisanya ia mengaplikasikan berbagai material lain seperti chiffon, linen, katun dan beludru pada tiap potong koleksi busananya.

Dalam durasi kurang dari empatpuluhlima menit, saya rasa “Palais Royal” dari Priyo Oktaviano sukses menjadi penutup yang meninggalkan kesan mendalam. Perpaduan suasana Shanghai sembilan dekade lampau dan tanah Jawi di masa kolonial telah ia suguhkan dengan begitu cantik.

Part 2 Bazaar Fashion Celebration 2011. Langgam Tiga Hati ; Perayaan Fesyen Berbalut Tradisi

“Obin Komara, Ghea Panggabean dan Eddy Betty Persembahkan Yang Terbaik Untuk Negeri. Totally Awesome Collection With Wonderful Show!”

Keroncong, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Keroncong memiliki tiga artian. Pertama, Keroncong dapat diartikan sebagai alat musik berupa gitar kecil berdawai empat atau lima. Kedua, Keroncong adalah irama atau langgam musik yang ciri khasnya terletak pada permainan alat musik Keroncong, yaitu kendang, selo, dan gitar melodi yang dimainkan secara beruntun. Ketiga, Keroncong merupakan jenis orkes yang terdiri atas biola, seruling, gitar, ukulele, banyo, selo, dan bass.

Tapi bagi saya pribadi terlepas dari bermacam penafsiran itu, Keroncong memiliki satu pemaknaan penting. Keroncong = Musik. Keroncong adalah satu jenis musik yang kemudian dipertegas sebagai musik asli kepunyaan Indonesia.

Yup Keroncong adalah musik asli kepunyaan Indonesia. Keroncong adalah musik asli serta salah satu pencapaian tertinggi dari para musisi Indonesia di masa lampau dalam bermusik. Keroncong tidak lain merupakan musik asli kepunyaan Indonesia hasil kreatifitas anak negeri bukan musik bawaan dari Portugis seperti yang selama ini banyak diketahui. Hal ini bukan tanpa dasar yang jelas, Keroncong diketahui sebagai musik asli Indonesia setelah Jay Subijakto selaku show director dan Erwin Gutawa sebagai music director Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” mengadakan sebuah riset panjang mengenai musik Keroncong di beberapa daerah di Indonesia yang disinyalir sebagai tempat-tempat awal munculnya musik Keroncong.

EdBe by Eddy Betty

Setelah pada tahun sebelumnya, Majalah Harper’s Bazaar Indonesia sukses menyelenggarakan sebuah pagelaran busana akbar dipadukan dengan live music layaknya sebuah mega konser dalam Bazaar Fashion Concerto, kali ini Majalah Harper’s Bazaar Indonesia melaksanakan sebuah pagelaran busana dari tiga orang desainer kenamaan Indonesia dalam balutan budaya serta tradisi yang kental tanpa melupakan ke khasan signature event Bazaar, fashion show dengan live music.

Keroncong sebagai salah satu musik asli Indonesia kemudian dipilih sebagai embrio utama dalam penyelenggaraan Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”. “Langgam Tiga Hati” yang menjadi tema besar dalam terselenggaranya acara ini memiliki arti tersendiri. Langgam memiliki arti irama, sementara tiga hati merupakan metamorfora dari tiga orang desainer yang ikut berpartisipasi dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Jika dirangkumkan secara keseluruhan, “Langgam Tiga Hati” mungkin dapat ditafsirkan sebagai penyatuan irama karya dari tiga desainer Indonesia dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Ketiga orang desainer yakni Obin Komara, Ghea Panggabean, dan Eddy Betty sempat mengatakan bahwa koleksi-koleksi yang mereka tampilkan pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah interpretasi masing-masing dari mereka saat mendengar kata keroncong.

Menjadi sangat menarik karena meski keroncong menjadi gagasan utama atas terselenggaranya acara ini, dan masing-masing desainer sepakat bahwa saat mendengar kata Keroncong yang terpikir adalah tentang budaya, serta tradisi, namun ketiganya menghadirkan koleksi busana yang amat berbeda satu sama lain. Busana ready to wear berbahan batik, sampai gaun malam model cheongsam menjadi interpretasi tersendiri.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Terbagi atas 5 sekuens parade busana, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 terlebih dahulu dibuka dengan parade busana Sariayu “Etnika Nusa Tenggara” oleh Deden Siswanto yang seolah menjadi sajian pembuka sebelum sampai kepada sajian utama “Langgam Tiga Hati”. Pada rangkaian koleksinya untuk Sariayu ini, Deden mengolah kain-kain tradisional khas Nusa Tenggara dalam busana yang kaya akan  detail dan beragam tekstur bahan.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Parade busana Sariayu ini sekaligus pertanda diluncurkannya 26 trend warna 2012 “Etnika Nusa Tenggara” dari Sariayu.

EdBe oleh Eddy Betty

EdBe oleh Eddy Betty with Darell Ferhostan as Model

Setelahnya, serangkaian koleksi busana ready to wear dari EdBe(baca: edibi) yang merupakan lini kedua milik Eddy Betty hadir sebagai pembuka pagelaran busana utama “Langgam Tiga Hati”. Awalnya saat pertama kali tahu bahwa Eddy Betty akan menampilkan koleksi dari lini EdBe, saya mengira koleksi yang akan ditampilkan ini adalah koleksi yang sama seperti yang pernah ia tampilkan pada pagelaran busana tunggal EdBe “Love Is The Air”, mengingat jarak waktu yang sangat singkat dari pagelaran busana tersebut, tapi ternyata tidak. Koleksi yang ditampilkan Eddy Betty ini sebagian besar adalah koleksi baru meski ada beberapa koleksi lama, namun dengan padupadan berfilosofi “Mix Don’t Match” yang dianut EdBe hal ini tidak terlalu terlihat.

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Reti Ragil Riani

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Filantropi

Untuk koleksinya ini EdBe menghadirkan Batik Kudus sebagai material dasar pada tiap potong busana. Palet warna-warna menyolok serta cutting asimetris ala harajuku yang jadi ciri khas EdBe kemudian ditampilkan dengan tabrak warna dan motif. Make up para model yang dibuat sedikit gothic dan “berantakkan” serta aksesoris pelengkap seperti gelang yang melilit pada tangan para model membuat rangkaian koleksi EdBe yang ia beri judul “Loves Batik Kudus” terlihat semakin menarik serta terkesan sangat anak muda dan funky.

Ghea Panggabean

Ghea Couture oleh Ghea Panggabean. Model: Drina Ciputra

Ghea Panggabean membagi sekuens parade busananya menjadi tiga sub sekuens. Ia membuat parade busananya layaknya drama tiga babak tentang perjalanan hidup Oei Hui Lan. Oei Hui Lan sendiri adalah seorang Putri Raja Gula dari Semarang yang memiliki kisah hidup tragis.

Sebagai putri orang terkaya di Indonesia juga di Asia Tenggara saat itu, Oei Hui Lan justru memilih cara bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Kisah tragis dari Oei Hui Lan inilah yang kemudian menginspirasi Ghea dalam rangkaian koleksi terbarunya. Kisah hidup Oei Hui Lan yang terjadi sekitar tahun 1920an adalah interpretasi Ghea terhadap musik Keroncong yang juga mulai dikenal luas pada masa-masa itu.

Salah satu koleksi di sekuens 1 Ghea Panggabean

Drama tiga babak hidup Oei Hui Lan dijabarkan dalam tiga sekuens parade busana yang pada masing-masing sekuens terasa amat berbeda meski memiliki satu benang merah yang sama yakni nuansa oriental yang sangat kental.

Sekuens 1 Ghea Panggabean. Model: Ayu Faradilla

Pada babak atau sekuens pertama, set busana cocktail dengan motif sulam dan bunga-bunga serta sentuhan gaya bohemian  berpadu dengan nuansa oriental menjadi gambaran dari romantika masa-masa awal hidup Oei Hui Lan selama di Indonesia.

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model : Kelly Tandiono

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model: Juanita Haryadi

Motif-motif keramik porselen khas Negeri Tirai Bambu yang sejak lama telah dikenal sebagai salah satu trade mark budaya Tiongkok yang sangat akrab dengan kehidupan Oei Hui Lan dihadirkan sebagai inspirasi utama pada sekuens kedua.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Dramatisasi Antie Damayanti

Babak terakhir dalam drama tiga babak kisah hidup Oei Hui Lan adalah sekuens yang bagi saya pribadi tidak akan pernah terlupakan. Diiringi lagu “Surya Tenggelam” milik mendiang Chrisye, aura magis pada sekuens ini benar-benar terasa.Terlebih lagi saat Antie Damayanti, salah seorang model pada sekuens Ghea muncul di atas panggung dengan sebuah koreografi yang begitu dramatis yang seolah menggambarkan kisah hidup penuh drama yang dijalani Oei Hui Lan.

Tidak berhenti sampai disitu, Dominique Diyose yang kemudian tampil dipanggung mengenakan sebuah payung yang tertutup kelambu hitam seperti menyerupai perumpamaan penampakkan hantu Oei Hui Lan yang kabarnya sering terlihat di hotel keluarga Oei Hui Lan.

Dominique Diyose, "Hantu" Oei Hui Lan

Bagi saya, sekuens ini lebih menyerupai kisah kematian Oei Hui Lan yang tragis dibandingkan dengan interpretasi  gaya hidup jetset super mewah yang dijalani Oei Hui Lan semasa hidupnya. Pada sekuens ini saya lebih membayangkan cerita kematian Oei Hui Lan yang tragis serta cerita seram tentang hantu Oei Hui Lan yang konon sering menampakkan diri di hotel keluarga di Semarang.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Dominique Diyose

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Prinka Cassy

Secara keseluruhan sekuens yang menghadirkan koleksi gaun malam dari lini teranyar Ghea Panggabean yang ia beri nama Ghea Couture ini adalah sekuens yang paling menyita perhatian saya. Gaun-gaun malam dengan dominasi warna hitam ditambah motif-motif bordir bernuansa oriental yang disajikan dalam warna emas menambah kekuatan drama dalam sekuens ini.

BIN HOUSE Oleh Obin Komara

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Kimmy Jayanti

Jika pada tahun sebelumnya koleksi dari BIN HOUSE untuk Bazaar Fashion Concerto diwakili oleh Wita, pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini BIN House diwakili langsung oleh sang pendiri, Obin Komara.

Lebih senang disebut sebagai “tukang kain”, Obin Komara mempersembahkan 15 koleksi busana. Pada koleksinya kali ini BIN HOUSE bermain-main dengan cutting jas pada kebaya. Beragam kain-kain cantik yang selalu jadi andalan BIN House diwujudkan dalam kebaya-kebaya  bersilluet modern dengan teknik tripping dan stitching yang memperkuat tekstur serta karakter kain.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Ines Arieza

Meski menjadi desainer yang paling sedikit mengeluarkan koleksi pada moment ini, keseluruhan koleksi dari Obin Komara untuk BIN HOUSE menjadi sangat menarik dengan arahan koreografi centil bagi setiap model pada sekuens BIN HOUSE.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Evie Mulya

Permainan kain dari beberapa model seperti Kimmy Jayanti, Evie Mulya, dan Ines Arieza juga menambah point plus dalam sekuens BIN HOUSE.

Eddy Betty

Eddy Betty. Model: Nien Indriyati

Eddy Betty tidak hanya menampilkan lini EdBe yang selama ini ia khususkan untuk busana-busana batik ready to wear, pada Sariayu Bazaar fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini ia juga mempertontonkan koleksi teranyar dari lini utamanya, Eddy Betty. Ia kemudian memilih bintang Hollywood legendaries, Elizabeth Taylor sebagai inspirasi utama karyanya. Melalui koleksinya ia seolah  membayangkan lambing glamoritas Hollywood yang ikonis ini ditempatkan dalam sebuah scene pertunjukkan Keroncong di Broadway, ditengah musim dingin sambil mengenakan kebaya cantik nan mewah.

Eddy Betty. Model: Dea Nabila

Suhu rendah pada musim dingin tidak lagi menjadi halangan ketika Eddy Betty menambahkan aksen penghangat berupa bulu-bulu, coat, dan mantel yang terbuat dari kulit hewan berbulu tebal namun terlihat sangat lembut.

Tidak hanya menampilkan kebaya yang berpadu dengan aksen penghangat, pada sekuensnya, Eddy Betty turut menampilkan beberapa koleksi kebaya yang ia desain khusus untuk pernikahan. Salah satu kebaya untuk pernikahan yang ia tampilkan adalah kebaya yang ia desain untuk pernikahan model cantik Laura Basuki beberapa waktu lalu. Kebaya pernikahan tersebut dibawakan langsung oleh sang mempelai, Laura Basuki.

Eddy Betty. Model: Laura Basuki

Bagi saya, secara keseluruhan, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah satu kesatuan karya masterpiece dari semua yang terlibat didalamnya. Terlepas dari beberapa kekurangan yang masih terdapat dalam penyelenggaraannya, Sariayu Bazaar Fashion Celebration meninggalkan kesan mendalam yang tidak akan terlupakan,dan membuat saya semakin menantikan acara tahunan ini di tahun mendatang.