Christina Borries; Label “kutilangdarat” Tidak Berlaku Padanya

Kurus tinggi langsing dada rata, sejak dulu sudah jadi tagline tidak terpisahkan dari para model catwalk. Tapi bagi model satu ini, ungkapan tersebut hampir tidak berlaku. Ia memang tinggi dan langsing, namun tubuhnya tidak kurus, apalagi berdada rata.

Christina Borries. Foto: Composite E-Model Management

Ada begitu banyak model yang setiap harinya turut mewarnai dunia mode Indonesia. Puluhan perempuan-perempuan jangkung yang memiliki proporsi tubuh nyaris serupa satu sama lainnya. Tinggi semampai di atas 170cm, tubuh langsing bahkan cenderung super skinny, serta memiliki lingkar dada dan hips yang jauh dibawah rata-rata. Perempuan-perempuan pemegang garda terdepan dunia mode yang sering mendapat sebutan kutilangdarat. Kutilangdarat tentunya bukan sama sekali berkaitan dengan jenis unggas, tetapi kutilangdarat adalah sebuah singkatan dari 4 hal yang melukiskan bagaimana proporsi tubuh para model catwalk kebanyakkan, kurus, tinggi, langsing, dan berdada rata.

Secara generalilasi ugkapan kutilangdarat mungkin memang terasa cocok bagi sebagian besar model catwalk yang hingga kini eksis dalam peta permodelan tanah air. Namun jika kita melepaskan generalisasi dan menelaah lebih seksama, nyatanya tidak semua model catwalk adalah perempuan dengan label kutilangdarat.

Biyan Annual Fashion Show 2011-2012 “The Orient Revisited”

Fashion Show VALENTINO di Pembukaan PI Fashion Week 2012. Foto: Windy Sucipto

“The Catwalk Moment” oleh Obin untuk BIN House di JFW 2011-2012.

Dia adalah Christina Borries, salah seorang model catwalk yang telah mencatatkan karir modelingnya sejak tahun 2001 silam. Lahir di Bandung 21 Agustus 1984, dia adalah salah satu model catwalk yang jauh dari tagline “kutilangdarat. Tubuhnya memang tinggi semampai tak kurang dari 180cm dan beratnya hanya 52kg, namun ia memiliki lekuk tubuh yang sangat menawan. Ia juga memiliki aura sensual yang berbeda, sensual namun anggun, dan ‘mahal’ di satu waktu.

Memulai karirnya ketika masih bersekolah di bangku SMA, Christina memilih untuk bergabung dengan agensi milik desainer Adjie Notonegoro di Ibu Kota, namun sayang lompatan karir pertamanya itu harus terhenti untuk sementara karena ia masih harus menyelesaikan sekolahnya di Bandung. Barulah pada tahun 20 04 ketika ia telah benar-benar menyelesaikan sekolahnya dan menetap di Jakarta, namanya mulai dikenal luas setelah mengikuti ajang Indonesian Model Indosiar(IMI). IMI sendiri merupakan sebuah ajang pencarian bibit baru di dunia modeling Indonesia yang diselenggarakan oleh stasiun TV Indosiar yang menggandeng nama-nama kondang di dunia mode seperti Itang Yunaz dan Okky Asokawati sebagai dewan juri.

Dilahirkan di sebuah keluarga kecil dengan dua kebudayaan berbeda, yakni Ayah yang berkewarganegaraan Jerman berdarah Rusia sementara Ibu-nya seorang wanita Banjarmasin yang kemudian tinggal menetap di kota Bandung, Christina tumbuh menjadi seorang yang memiliki sifat tertutup dan introvert. Dua sifatnya inilah yang kemudian menimbulkan masalah ketika ia terjun di dunia modeling.

Fashion Show “Fashion Nation Senayan City” sekuens IKAT oleh Didiet Maulana.

Sekuens Eddy Betty di Bazaar Langgam Tiga Hati Fashion Celebration 2011.

Foto Composite E-Models Management.

“Tribute to The Cure” oleh Ve Dhanito.

Membutuhkan waktu yang lama baginya untuk bisa nyaman menjadi seorang model yang harus tampil di depan orang banyak. Namun perjalanan karirnya di dunia mode semakin lama membuatnya banyak belajar. Sifatnya yang tertutup dan sangat introvert perlahan mulai berkurang, ia mulai lebih banyak berbicara dan sedikit terbuka kepada orang baru, krisis percaya diri yang dulu sempat ia alami pun lama kelamaan teratasi.

Selama lebih dari sepuluh tahun karir modelingnya, nama Christina Borries telah dikenal luas sebagai salah satu model papan atas kesayangan para desainer ternama. Sebastian Gunawan, Biyan, Didi Budihardjo, Sally Koeswanto, Ghea Panggabean, Eddy Betty hingga Edward Hutabarat merupakan sebagian kecil desainer ternama Indonesia yang pernah bekerjasama dengan model yang sangat menggemari aktivitas membaca ini. Lintasan catwalk yang ia lalui tidak hanya di dalam negeri saja, negara-negara di Asia seperti Jepang, Cina, Hongkong dan Singapura pernah ia cicipi di sepanjang karir modelingnya.

Membayangkan dirinya suatu saat tidak lagi eksis di dunia modeling Indonesia, Christina berkeinginan untuk memperdalam dunia bisnis. Memiliki clothing line, restaurant, salon, serta jenis usaha lain yang masih berhubungan dengan makanan, fesyen, dan kecantikkan menjadi bagian dari impiannya satu saat nanti.

Renobulan; Dunia Antara Modeling, Kedokteran dan Musik

Ia pernah merasakan killer shoes yang membuat para model frustrasi setengah mati, ia pernah merasakan masa-masa koas di rumah sakit serta puskesmas daerah yang ala kadarnya, dan ia pernah merasakan memiliki banyak groupies ketika bergabung dalam sebuah band.

Renobulan Sanusi. Foto: Dokumentasi Composite E-Models Management

Saat pertamakali mengenal sosoknya, saya dibuat terkagum-kagum dengan perputaran dunianya, modeling, kedokteran, dan musik. Ya, dia adalah model catwalk, sekaligus dokter, dan anak band. Namanya mungkin belum terlalu familiar bagi sebagaian orang, tetapi dara bernama lengkap Renobulan Sanusi ini resmi membuat saya kagum dengan semua aktivitas yang ia geluti. Model, dokter, pemain band, serta jangan lupakan kegemarannya akan olahraga basket semasa SMA yang sempat mengantarkannya sebagai MVP(Most Valuable Player) tingkat SMA se Jakarta-Selatan. Satu kata untunya, keren!

Lahir di Washington DC 17 Mei 1986, anak kedua dari tiga bersaudara ini memulai karir modelingnya pada tahun 2006 silam dengan bergabung di Plativm Models Management di bawah asuhan desainer Ichwan Thoha. Meski ia mulai menapaki karir modelingnya di tahun 2006, namun sebenarnya Bulan telah mendapat banyak tawaran sebagai model catwalk semenjak ia duduk di bangku SMP karena postur tubuhnya yang memiliki tinggi diatas rata-rata remaja seusianya. Namun kekhawatiran sang Mama akan aktivitas modeling yang sangat mungkin mengganggu masa sekolah, membuat Bulan terus menolak tawaran demi tawaran yang datang.

Dan lampu hijau dari sang Mama akhirnya ia dapatkan ketika namanya sudah tercantum selama dua tahun sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta. Dengan ciri khas tubuh tinggi semampai tak kurang dari 181cm dan bahu yang memiliki tingkat kebidangan diatas rata-rata model perempuan lainnya, sosok Bulan begitu mudah dikenali dalam peta permodelan Indonesia. Jajaran desainer ternama semisal Deden Siswanto, Denny Wirawan, Musa Widiatmodjo, Sapto Djojokartiko hingga Biyan pun pernah menggunakan jasanya sebagai model.

Dewi Fashion Knight JFW 2011-2012 sekuens Sapto Djojokartiko

Biyan’s Annual Show 2012-2013 “Foliage”.

Fashion Show Sebastian Gunawan “Votum” di JFFF 2012.

Membicarakan tentang seorang Renobulan, memang tidak bisa terlepas dari aktivitas lainnya diluar modeling, yaitu kedokteran dan musik. Seperti yang sudah saya katakan di awal tadi, selain berprofesi sebagai model, Bulan juga berprofesi sebagai dokter dan ia sempat menekuni dunia musik dengan bergabung di sebuah grup band bernama “Altvra”. Meski ia kini tidak lagi aktif bersama grup band-nya, namun Bulan tak pernah melupakan musik sebagai bagian penting dari dunia-nya. Maka tak aneh bila ia sering bernyanyi sembari memainkan gitar-nya sendirian ketika rasa jenuh terhadap sesuatu mulai ia rasakan.

Deden Siswanto untuk IFW 2012. Foto oleh Afrizal.

Ruang make up sebelum Fashion Show Batik Summit 2011.

Renobulan, foto composite E-Models Management.

Berbeda dengan karir musiknya yang terhenti ketika ia memutuskan hengkang dari grup band yang sempat ia gawangi, karir lainnya sebagai seorang dokter masih terus ia geluti hingga kini disamping karir modelingnya. Nama dokter Renobulan pun tercatat sebagai dokter jaga di salah satu klinik di daerah Pejaten dengan jadwal jaga setiap hari Senin. Dengan segudang aktivitas modeling dan kedokteran yang ia tekuni, model yang kini bernaung dibawah E-Models Management ini mengaku tidak pernah memiliki target khusus terhadap seluruh kegiatannya tersebut. Ia hanya menyebutkan lima kata untuk melukiskan impian hidupnya. Sehat, sukses, senang, kaya dan amin!.