Christina Borries; Label “kutilangdarat” Tidak Berlaku Padanya

Kurus tinggi langsing dada rata, sejak dulu sudah jadi tagline tidak terpisahkan dari para model catwalk. Tapi bagi model satu ini, ungkapan tersebut hampir tidak berlaku. Ia memang tinggi dan langsing, namun tubuhnya tidak kurus, apalagi berdada rata.

Christina Borries. Foto: Composite E-Model Management

Ada begitu banyak model yang setiap harinya turut mewarnai dunia mode Indonesia. Puluhan perempuan-perempuan jangkung yang memiliki proporsi tubuh nyaris serupa satu sama lainnya. Tinggi semampai di atas 170cm, tubuh langsing bahkan cenderung super skinny, serta memiliki lingkar dada dan hips yang jauh dibawah rata-rata. Perempuan-perempuan pemegang garda terdepan dunia mode yang sering mendapat sebutan kutilangdarat. Kutilangdarat tentunya bukan sama sekali berkaitan dengan jenis unggas, tetapi kutilangdarat adalah sebuah singkatan dari 4 hal yang melukiskan bagaimana proporsi tubuh para model catwalk kebanyakkan, kurus, tinggi, langsing, dan berdada rata.

Secara generalilasi ugkapan kutilangdarat mungkin memang terasa cocok bagi sebagian besar model catwalk yang hingga kini eksis dalam peta permodelan tanah air. Namun jika kita melepaskan generalisasi dan menelaah lebih seksama, nyatanya tidak semua model catwalk adalah perempuan dengan label kutilangdarat.

Biyan Annual Fashion Show 2011-2012 “The Orient Revisited”

Fashion Show VALENTINO di Pembukaan PI Fashion Week 2012. Foto: Windy Sucipto

“The Catwalk Moment” oleh Obin untuk BIN House di JFW 2011-2012.

Dia adalah Christina Borries, salah seorang model catwalk yang telah mencatatkan karir modelingnya sejak tahun 2001 silam. Lahir di Bandung 21 Agustus 1984, dia adalah salah satu model catwalk yang jauh dari tagline “kutilangdarat. Tubuhnya memang tinggi semampai tak kurang dari 180cm dan beratnya hanya 52kg, namun ia memiliki lekuk tubuh yang sangat menawan. Ia juga memiliki aura sensual yang berbeda, sensual namun anggun, dan ‘mahal’ di satu waktu.

Memulai karirnya ketika masih bersekolah di bangku SMA, Christina memilih untuk bergabung dengan agensi milik desainer Adjie Notonegoro di Ibu Kota, namun sayang lompatan karir pertamanya itu harus terhenti untuk sementara karena ia masih harus menyelesaikan sekolahnya di Bandung. Barulah pada tahun 20 04 ketika ia telah benar-benar menyelesaikan sekolahnya dan menetap di Jakarta, namanya mulai dikenal luas setelah mengikuti ajang Indonesian Model Indosiar(IMI). IMI sendiri merupakan sebuah ajang pencarian bibit baru di dunia modeling Indonesia yang diselenggarakan oleh stasiun TV Indosiar yang menggandeng nama-nama kondang di dunia mode seperti Itang Yunaz dan Okky Asokawati sebagai dewan juri.

Dilahirkan di sebuah keluarga kecil dengan dua kebudayaan berbeda, yakni Ayah yang berkewarganegaraan Jerman berdarah Rusia sementara Ibu-nya seorang wanita Banjarmasin yang kemudian tinggal menetap di kota Bandung, Christina tumbuh menjadi seorang yang memiliki sifat tertutup dan introvert. Dua sifatnya inilah yang kemudian menimbulkan masalah ketika ia terjun di dunia modeling.

Fashion Show “Fashion Nation Senayan City” sekuens IKAT oleh Didiet Maulana.

Sekuens Eddy Betty di Bazaar Langgam Tiga Hati Fashion Celebration 2011.

Foto Composite E-Models Management.

“Tribute to The Cure” oleh Ve Dhanito.

Membutuhkan waktu yang lama baginya untuk bisa nyaman menjadi seorang model yang harus tampil di depan orang banyak. Namun perjalanan karirnya di dunia mode semakin lama membuatnya banyak belajar. Sifatnya yang tertutup dan sangat introvert perlahan mulai berkurang, ia mulai lebih banyak berbicara dan sedikit terbuka kepada orang baru, krisis percaya diri yang dulu sempat ia alami pun lama kelamaan teratasi.

Selama lebih dari sepuluh tahun karir modelingnya, nama Christina Borries telah dikenal luas sebagai salah satu model papan atas kesayangan para desainer ternama. Sebastian Gunawan, Biyan, Didi Budihardjo, Sally Koeswanto, Ghea Panggabean, Eddy Betty hingga Edward Hutabarat merupakan sebagian kecil desainer ternama Indonesia yang pernah bekerjasama dengan model yang sangat menggemari aktivitas membaca ini. Lintasan catwalk yang ia lalui tidak hanya di dalam negeri saja, negara-negara di Asia seperti Jepang, Cina, Hongkong dan Singapura pernah ia cicipi di sepanjang karir modelingnya.

Membayangkan dirinya suatu saat tidak lagi eksis di dunia modeling Indonesia, Christina berkeinginan untuk memperdalam dunia bisnis. Memiliki clothing line, restaurant, salon, serta jenis usaha lain yang masih berhubungan dengan makanan, fesyen, dan kecantikkan menjadi bagian dari impiannya satu saat nanti.

Imperata Nomadechic ; Kali Ini Bukan Batik, Tapi Kain Tenun-lah Yang Dipilih Eddy Betty

Awalnya saya kira, Eddy Betty melalui lini keduanya, edbe(baca: e.di.bi), akan terus mengolah kain batik sebagai material andalan pada setiap potong busana siap pakai yang ia lansir. Namun ternyata hal ini terpatahkan ketika pagelaran teranyarnya, ia berpindah hati dari kain batik ke kain tenun.

“Imperata Nomadechic” edbe oleh Eddy Betty. Foto. Windy Sucipto

Oktober 2011 silam, saya berada di deret kursi terdepan yang disediakan untuk rekan media ketika lini kedua desainer Eddy Betty menyelenggarakan sebuah pagelaran busana koleksi teranyar. Koleksi berbahan batik tulis dengan konsep “padukan tanpa serasikan”, ia wujudkan ke lebih dari tujuh lusin set busana yang dipertontonkan pada malam itu.

Busana siap pakai dengan penggunaan kain batik sebagai material dasar mungkin akan terasa biasa saja, karena Eddy Betty melalui lini edbe bukanlah yang pertama merilis koleksi semacam itu. Namun, rangkaian koleksi berjudul “Love Is In The Air” yang ia lansir hampir setahun lalu, menjadi istimewa tatkala sang desainer mengaplikasikan motif-motif batik tulis yang ia pesan secara khusus dan tidak terikat pakem motif batik yang sudah ada.

Motif mainan anak-anak, telor paskah hingga boneka matryoska yang khas Rusia ia lukiskan pada puluhan pasang koleksinya. Warna-warna cerah yang ceria nan playful ia jadikan pengikat tiap pasang mata yang menyaksikan rangkaian koleksinya.

Meski dalam penyelenggaraannya, pagelaran busana edbe “Love Is In The Air” masih terdapat banyak kekurangan atau bagian yang miss, namun bagi saya, tiap potong koleksi yang dahulu ia suguhkan cukup meninggalkan kesan, karena batik ia reinkarnasikan menjadi sesuatu yang lebih seru, anak muda, “bandel”, tanpa meninggalkan pesona kain batik tulis yang khas.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Maria Titah. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe sekuens pertama. Model: Mareike Brenda. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Reti Ragil Riani. Foto: Windy Sucipto

Awal bulan Juni 2012, saya mendengar kabar bahwa edbe akan kembali merilis rangkaian koleksi terbarunya. Sebuah pagelaran busana pun ia siapkan dengan mengambil tempat di Grand Ballroom Hotel Ritz Carlton Pasific Place. Saat mengetahui hal tersebut, yang pertama kali mampir di otak saya adalah, batik.

Ya, batik. Edbe dan batik, saya rasa dua hal itu sulit terpisahkan. Tapi ternyata saya salah, kali ini tak lagi batik yang ia gadang, pilihan desainer yang pernah mengenyam pendidikan mode di Fleuri de la Porte dan Chambre Syndicale de la Couture Parisienne ini jatuh pada kain tenun bali dan tenun ende.

Bersama pasangan bisnisnya, Ley Sandjaja, Eddy Betty berkeinginan untuk mengangkat keindahan wastra nusantara yang begitu kaya melalui koleksi busana siap pakai yang edgy dan kaya akan muatan lokal dalam bingkai modernitas. Ia juga sempat mengatakan pada sesi pers conference bahwa koleksi dari lini edbe tidak akan terhenti pada batik saja, ataupun kain tenun, namun akan terus berlanjut ke material dasar lain seiring perjalanan hidup dan keragaman kain-kain nusantara lainnya.

“Imperata Nomadechic” atau yang bisa diterjemahkan sebagai“From Sunrise to Sunsite” adalah judul sekaligus tema besar yang ia usung pada rangkaian koleksinya kali ini. Bekerjasama dengan majalah Harpers Bazaar Indonesia dan MRA Group, pagelaran busana “Imperata Nomadechic” pun dikultuskan sebagai pagelaran busana pertama dari desainer Indonesia yang ditayangkan melalui live streaming di 6 situs premium kepunyaan MRA Group.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Prinka Cassy. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadehic” edbe, sekuens kedua. Model: Bunga Jelita. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Jenny Chang. Foto: Windy Sucipto

Jika membicarakan keseluruhan koleksi yang ditampilkan, pada “Imperata Nomadechic” ketiga sekuens memiliki garis besar koleksi yang serupa. Gaun pendek berpotongan lurus, gaun pendek bervolume dengan siluet menyerupai boneka matryoska, gaun asimetris, blus, kemeja, celana pendek sebatas paha, celana pendek ¾, celana jodhpur, celana panjang, hingga baju terusan(jumpsuit) seakan menjadi item wajib yang mesti ada pada setiap sekuens.

Tetapi yang menjadikannya lebih menarik dan jauh dari kata membosankan adalah konsep pembagian ke-114 set koleksi menjadi tiga sekuens utama, dimana masing-masing sekuens mewakili satu fase waktu utama sejak terbit hingga terbenamnya matahari yang terinterpretasikan melalui benang merah semburat warna yang hadir dalam setiap sekuens.

“Imperata Nomadehic” edbe, sekuens pertama. Model: Kelly Tandiono. Foto: Windy Sucipto

Dalam sekuens pertama, koleksi tenun dihadirkan dalam sentuhan warna-warna pagi yang cerah seperti biru, kuning, merah, hijau dan orange. Warna-warna inilah yang kemudian seolah melukiskan keindahan alam di kala matahari baru saja terbit di ufuk timur.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens kedua. Model: Hege Wollan. Foto: Windy Sucipto

Linen menjadi paduan yang apik bagi tenun Bali yang memiliki warna lebih lembut pada sekuens kedua. Di sekuens ini warna-warna yang lebih lembut seperti putih gading, hijau pupus, coklat muda dan abu-abu seakan menghadirkan semburat ketenangan jiwa ketika matahari berada di puncaknya. Seakan menepis terik yang sudah pasti terasa menyengat pada siang di negara tropis seperti Indonesia.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Hege Wollan. Foto: Windy Sucipto

Kesan mewah dalam warna-warna lebih gelap yang mendominasi koleksi adalah hal yang langsung tertangkap begitu memasuki sekuens ketiga. Kain tenun ende yang diolah menjadi 8 set busana pria dan 30 set busana wanita terlihat begitu memukau dalam warna-warna gelap yang mewakili keindahan kilau warna alam disaat senja ketika matahari merangkak naik menuju peraduan.

Mungkin sebagian dari mereka yang sering iseng menyatroni tulisan-tulisan di blog saya ini tidak akan lupa dengan sebuah tulisan saya mengenai pagelaran busana “Love Is In The Air” yang saya posting di tahun kemarin. Ada banyak hal yang mengganggu pikiran saya pada saat menyaksikan pagelaran busana tersebut. Hal yang kemudian saya tuangkan dalam sebuah tulisan berisi beberapa point kekecewaan saya terhadap pagelaran busana milik edbe itu. Mulai dari susunan koleksi, susunan keluarnya model, musik pengiring, hingga kesalahan MC saya jadikan bahan dalam tulisan saya. Lalu bagaimana dengan pagelaran busana edbe kali ini?.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Renata. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechi” edbe, sekuens kedua. Model: Filantropi. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Foto: Windy Sucipto

Pertama, susunan koleksi. Jika pada tahun lalu, konsep “Mix don’t Match” yang diusung edbe sedikit mengganggu saya karena malah memunculkan kesan ‘random’ pada susunan koleksi yang dimunculkan karena beberapa hal termasuk padupadan, urutan keluarnya busana dan juga konsep tabrak warna, pada “Imperata Nomadechic” hal itu tak lagi eksis.

Tema “From Sunshine To Sunsire” yang diangkat edbe pada tahun ini terinterpretasikan dengan sangat apik melalui sistem pembagian sekuens menjadi tiga fase waktu utama. Tone warna yang dihadirkan, garis potong yang ‘bebas’ dan ‘semaunya’ ala harajuku, serta konsep “Mix don’t Match” yang masih terus dimunculkan, terasa lebih nyaman serta jauh dari kesan “random”.

Saya pribadi sangat menyukai suasana yang terbangun ketika memasuki perpindahan sekuens kedua yang mewakili waktu siang menuju sekuens tiga yang mewakili keindahan dikala senja menjelang malam datang. Mulai dari multimedia visual, alunan musik, hingga ‘rasa’ pada koleksi yang ditampilkan terasa sangat pas untuk menggambarkan momen spesial yang tercipta ketika senja tiba.

Kedua, susunan keluar model dan model itu sendiri. Rapi, dan hampir sangat pas. Saya hanya merasa sedikit terganggu dengan 1-2 model yang karakternya terasa nanggung. Dikatakan androgini, tidak, tapi kalau tidak androgini kenapa bahasa tubuh dan pembawaan mengarah ke androgini. Saya jadi menangkap kesan “tanggung” pada si model yang saya sendiri tidak tahu siapa namanya.

Lantas selebihnya?. Saya rasa tidak ada lagi hal yang menganggu pikiran saya pada pagelaran busana milik edbe kali ini. Semuanya hampir sangat pas dan sempurna.

“Imperata Nomadechic” edbe.

“Imperata Nomadehic” edbe.

Secara keseluruhan saya merasa sangat nyaman dan jauh lebih menyukai pagelaran busana “Imperata Nomadechic” dibandingkan yang terdahulu karena bagi saya, konsep yang ada terasa lebih tereksekusi dengan baik dalam penyelenggaraan yang lebih tertata rapi.

Serta jangan lupakan dekorasi panggung lintasan catwalk yang pada bagian pangkalnya diberi rerumputan tinggi dan pada alas lintasan catwalk dilapisi oleh kayu. Terlihat sederhana dan tidak serumit beberapa pagelaran busana yang pernah terselenggara, namun hal itu sudah lebih dari cukup memperkuat konsep “From Sunrise To Sunsite” yang ingin dihadirkan.

Mas Muara Bagdja Dalam Bingkai Kenangan

Saya belum lama mengenal sosoknya. Sosoknya yang selalu ramah dan penuh senyum. Sosoknya yang selalu ceria dengan kumis melingkar ala Salvador Dali. Sosok yang terakhir sempat mengatakan bahwa ia sehat dan hanya kecapean. Sosok yang sekarang hanya ada dalam kenangan.

 Jauh sebelum ini saya hanya remaja biasa yang tidak tahu apa-apa soal fesyen. Saya tidak mengenal siapa itu Sebastian Gunawan, Eddy Betty apalagi desainer muda Denny Wirawan. Saya tidak mengenal mereka, saya hanya pernah tahu nama-nama itu secara samar, tidak jelas saya tahu darimana. Mungkin saya tidak sengaja membacanya di koran-koran minggu yang selalu jadi santapan pagi Ibu saya di rumah, atau mungkin dari majalah-majalah edisi lama yang tidak sengaja saya temukan entah dimana lalu saya buka dan saya baca isinya.

Saya ingat benar, ketika itu saya mendengar akan ada pagelaran busana tunggal dari Denny Wirawan. Kala itu saya sudah tidak lagi buta akan fesyen di Indonesia, saya juga sudah tahu siapa itu Sebastian Gunawan, Eddy Betty, atau pun Priyo Oktaviano. Semua itu karena saya sudah mulai melangkahkan kaki memasuki gerbang besar yang diatasnya terdapat sebuah papan nama yang diukir begitu apik bertuliskan, “Fesyen Indonesia”.

Mendapatkan informasi tentang akan terselenggaranya pagelaran busana tunggal dari Denny Wirawan, hati saya terusik untuk bisa menjadi salah satu saksi mata berlangsungnya momen akbar ini. Ini adalah kali pertama Denny Wirawan akan menggelar sebuah pagelaran busana tunggal

Saya mengenalnya disana, pada saat ia menangani puluhan media yang akan meliput pagelaran tunggal tersebut. Tidak ada yang terlalu berkesan saat itu, ia hanya seorang lelaki berbadan ramping dengan kumis melingkar, dan pakaian modis. Penampilannya memang langsung mencuri perhatian saya, apalagi dengan kumis melingkar yang khas sekali. Tapi hanya sebatas itu saja, tidak ada yang terlalu berkesan ketika itu.

Seiring berjalannya waktu dan intensitas saya menyambangi berbagai acara fesyen meningkat, saya semakin sering bertemu dengan sosoknya, lengkap dengan kumis melingkar yang terlihat lucu ada di wajahnya yang tidak pernah lepas dari senyum ramah. Saya pun mulai mengenal siapa beliau sesungguhnya, Muara Bagdja. Ia adalah salah satu punggawa dunia fesyen tanah air. Ia bukan hanya seorang media koordinator jempolan, tapi juga stylish, penulis, dan pengamat mode senior yang sangat dihormati dalam perpetaan fesyen Indonesia.

Dari satu acara fesyen ke acara fesyen lain, dari satu sapaan hangat ke obrolan singkat, hingga ciuman ringan di kedua pipi, begitulah saya akhirnya semakin mengenal beliau yang saya sering sapa, “Mas Muara”.

Tidak banyak memang obrolan yang pernah terjadi antara saya dan beliau karena pertemuan antara kami hanya sebatas lusinan acara fesyen yang menyisakan begitu sedikit waktu untuk bisa bercengkrama lebih lama. Tapi sedikitnya waktu yang terjalin bukanlah ukuran mengenai sedikit banyaknya kesan dan kenangan yang tertinggal. Ada banyak, bahkan begitu banyak kesan yang tertanam kuat dalam hati saya tentang sosok Mas Muara.

Tentang kumisnya yang melingkar lucu, tentang senyum ramah yang selalu menghiasi wajahnya, tentang ia yang tidak memiliki nomor handphone ketika saya memintanya, tentang ia yang menyemangati saya untuk menyelesaikan satu proyek tentang dunia modeling, tentang ia yang begitu sabar menjawab email-email saya dari alat yang selalu ia sebut Sabak(sejenis batu tulis yang digunakan pada jaman dahulu), tentang ia yang memberi masukan ini itu, tentang ia yang berkata sedang tidak bisa menjawab pertanyaan di email karena sedang sakit tanpa menjelaskan sakit apa yang dimaksud.

Ya, ada beberapa email saya yang pada akhirnya tidak sempat beliau balas, dan hanya menganggur pada folder surat keluar. Mas Muara hanya bilang kalau ia sedang sakit, saya tidak tahu apa penyakitnya. Pun ketika akhirnya saya memiliki kesempatan bertemu lagi dengan beliau yang telah lama ‘menghilang’ di pagelaran busana tunggal dari lini kedua Eddy Betty, EdBe. Ia begitu berbeda dari gambaran Mas Muara yang selalu ada di dalam kepala saya. Wajahnya yang dihiasi kumis melingkar berubah menjadi licin dan lebih tirus, rambutnya yang selalu terpangkas pendek dan rapi menjadi plontos, dan tubuhnya yang ramping terlihat ringkih. Ia begitu berbeda, tapi satu yang tak akan pernah saya lupa, senyum selalu menyungging di wajahnya.

Saya sempat bertanya pada beliau,

“Mas Mu sakit ya?, sakit apa?”,

hingga saat ini saya masih bisa merasakan kesedihan yang tertuang jelas dalam suara saya ketika itu.

Ia lalu menjawab dengan jawah tak pernah lepas dari senyum,

“Nggak apa-apa Din, cuma kecapean aja kok. Aku nggak apa-apa. Maaf ya kemarin-kemarin nggak sempat balas emailnya”.

Saat mendengar ucapan Mas Muara, bukan email-email yang belum terjawab yang saya pikirkan, tapi beliaulah yang lebih mengambil tempat dalam pikiran saya dengan kondisinya yang terlihat begitu menurun drastis.

Beberapa bulan berselang saya kembali bertemu dengan beliau dalam pagelaran busana “Shanghai Swing” milik Sebastian Gunawan. Ketika itu Mas Muara terlihat lebih segar meski kepalanya masih plontos dan kumis khasnya belum menghiasi wajahnya lagi. Namun empat bulan berselang, berita mengejutkan itu datang, Mas Muara telah berpulang ke Rahmatullah. Ia akhirnya menyerah atas penyakit kanker kelenjar getah bening yang selama ini menggerogoti tubuhnya, penyakit yang dulu tak mau ia ungkapkan.

Ada banyak sekali kenangan yang masih segar di dalam ingatan saya tentang beliau. Ada banyak potret senyuman beliau yang sempat terabadikan dalam memori saya. Ada lebih dari cukup masukan, obrolan dan kesan yang menjadikan beliau sebagai panutan sekaligus guru bagi saya.

Saya yakin kini beliau telah tenang disana, dan saya yakin Tuhan telah memberikan tempat terbaik untuknya.

 

Aku akan selalu kangen senyum ramah dan kumis melingkarmu Mas Mu….:)

Part 2 Bazaar Fashion Celebration 2011. Langgam Tiga Hati ; Perayaan Fesyen Berbalut Tradisi

“Obin Komara, Ghea Panggabean dan Eddy Betty Persembahkan Yang Terbaik Untuk Negeri. Totally Awesome Collection With Wonderful Show!”

Keroncong, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Keroncong memiliki tiga artian. Pertama, Keroncong dapat diartikan sebagai alat musik berupa gitar kecil berdawai empat atau lima. Kedua, Keroncong adalah irama atau langgam musik yang ciri khasnya terletak pada permainan alat musik Keroncong, yaitu kendang, selo, dan gitar melodi yang dimainkan secara beruntun. Ketiga, Keroncong merupakan jenis orkes yang terdiri atas biola, seruling, gitar, ukulele, banyo, selo, dan bass.

Tapi bagi saya pribadi terlepas dari bermacam penafsiran itu, Keroncong memiliki satu pemaknaan penting. Keroncong = Musik. Keroncong adalah satu jenis musik yang kemudian dipertegas sebagai musik asli kepunyaan Indonesia.

Yup Keroncong adalah musik asli kepunyaan Indonesia. Keroncong adalah musik asli serta salah satu pencapaian tertinggi dari para musisi Indonesia di masa lampau dalam bermusik. Keroncong tidak lain merupakan musik asli kepunyaan Indonesia hasil kreatifitas anak negeri bukan musik bawaan dari Portugis seperti yang selama ini banyak diketahui. Hal ini bukan tanpa dasar yang jelas, Keroncong diketahui sebagai musik asli Indonesia setelah Jay Subijakto selaku show director dan Erwin Gutawa sebagai music director Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” mengadakan sebuah riset panjang mengenai musik Keroncong di beberapa daerah di Indonesia yang disinyalir sebagai tempat-tempat awal munculnya musik Keroncong.

EdBe by Eddy Betty

Setelah pada tahun sebelumnya, Majalah Harper’s Bazaar Indonesia sukses menyelenggarakan sebuah pagelaran busana akbar dipadukan dengan live music layaknya sebuah mega konser dalam Bazaar Fashion Concerto, kali ini Majalah Harper’s Bazaar Indonesia melaksanakan sebuah pagelaran busana dari tiga orang desainer kenamaan Indonesia dalam balutan budaya serta tradisi yang kental tanpa melupakan ke khasan signature event Bazaar, fashion show dengan live music.

Keroncong sebagai salah satu musik asli Indonesia kemudian dipilih sebagai embrio utama dalam penyelenggaraan Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”. “Langgam Tiga Hati” yang menjadi tema besar dalam terselenggaranya acara ini memiliki arti tersendiri. Langgam memiliki arti irama, sementara tiga hati merupakan metamorfora dari tiga orang desainer yang ikut berpartisipasi dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Jika dirangkumkan secara keseluruhan, “Langgam Tiga Hati” mungkin dapat ditafsirkan sebagai penyatuan irama karya dari tiga desainer Indonesia dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Ketiga orang desainer yakni Obin Komara, Ghea Panggabean, dan Eddy Betty sempat mengatakan bahwa koleksi-koleksi yang mereka tampilkan pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah interpretasi masing-masing dari mereka saat mendengar kata keroncong.

Menjadi sangat menarik karena meski keroncong menjadi gagasan utama atas terselenggaranya acara ini, dan masing-masing desainer sepakat bahwa saat mendengar kata Keroncong yang terpikir adalah tentang budaya, serta tradisi, namun ketiganya menghadirkan koleksi busana yang amat berbeda satu sama lain. Busana ready to wear berbahan batik, sampai gaun malam model cheongsam menjadi interpretasi tersendiri.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Terbagi atas 5 sekuens parade busana, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 terlebih dahulu dibuka dengan parade busana Sariayu “Etnika Nusa Tenggara” oleh Deden Siswanto yang seolah menjadi sajian pembuka sebelum sampai kepada sajian utama “Langgam Tiga Hati”. Pada rangkaian koleksinya untuk Sariayu ini, Deden mengolah kain-kain tradisional khas Nusa Tenggara dalam busana yang kaya akan  detail dan beragam tekstur bahan.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Parade busana Sariayu ini sekaligus pertanda diluncurkannya 26 trend warna 2012 “Etnika Nusa Tenggara” dari Sariayu.

EdBe oleh Eddy Betty

EdBe oleh Eddy Betty with Darell Ferhostan as Model

Setelahnya, serangkaian koleksi busana ready to wear dari EdBe(baca: edibi) yang merupakan lini kedua milik Eddy Betty hadir sebagai pembuka pagelaran busana utama “Langgam Tiga Hati”. Awalnya saat pertama kali tahu bahwa Eddy Betty akan menampilkan koleksi dari lini EdBe, saya mengira koleksi yang akan ditampilkan ini adalah koleksi yang sama seperti yang pernah ia tampilkan pada pagelaran busana tunggal EdBe “Love Is The Air”, mengingat jarak waktu yang sangat singkat dari pagelaran busana tersebut, tapi ternyata tidak. Koleksi yang ditampilkan Eddy Betty ini sebagian besar adalah koleksi baru meski ada beberapa koleksi lama, namun dengan padupadan berfilosofi “Mix Don’t Match” yang dianut EdBe hal ini tidak terlalu terlihat.

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Reti Ragil Riani

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Filantropi

Untuk koleksinya ini EdBe menghadirkan Batik Kudus sebagai material dasar pada tiap potong busana. Palet warna-warna menyolok serta cutting asimetris ala harajuku yang jadi ciri khas EdBe kemudian ditampilkan dengan tabrak warna dan motif. Make up para model yang dibuat sedikit gothic dan “berantakkan” serta aksesoris pelengkap seperti gelang yang melilit pada tangan para model membuat rangkaian koleksi EdBe yang ia beri judul “Loves Batik Kudus” terlihat semakin menarik serta terkesan sangat anak muda dan funky.

Ghea Panggabean

Ghea Couture oleh Ghea Panggabean. Model: Drina Ciputra

Ghea Panggabean membagi sekuens parade busananya menjadi tiga sub sekuens. Ia membuat parade busananya layaknya drama tiga babak tentang perjalanan hidup Oei Hui Lan. Oei Hui Lan sendiri adalah seorang Putri Raja Gula dari Semarang yang memiliki kisah hidup tragis.

Sebagai putri orang terkaya di Indonesia juga di Asia Tenggara saat itu, Oei Hui Lan justru memilih cara bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Kisah tragis dari Oei Hui Lan inilah yang kemudian menginspirasi Ghea dalam rangkaian koleksi terbarunya. Kisah hidup Oei Hui Lan yang terjadi sekitar tahun 1920an adalah interpretasi Ghea terhadap musik Keroncong yang juga mulai dikenal luas pada masa-masa itu.

Salah satu koleksi di sekuens 1 Ghea Panggabean

Drama tiga babak hidup Oei Hui Lan dijabarkan dalam tiga sekuens parade busana yang pada masing-masing sekuens terasa amat berbeda meski memiliki satu benang merah yang sama yakni nuansa oriental yang sangat kental.

Sekuens 1 Ghea Panggabean. Model: Ayu Faradilla

Pada babak atau sekuens pertama, set busana cocktail dengan motif sulam dan bunga-bunga serta sentuhan gaya bohemian  berpadu dengan nuansa oriental menjadi gambaran dari romantika masa-masa awal hidup Oei Hui Lan selama di Indonesia.

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model : Kelly Tandiono

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model: Juanita Haryadi

Motif-motif keramik porselen khas Negeri Tirai Bambu yang sejak lama telah dikenal sebagai salah satu trade mark budaya Tiongkok yang sangat akrab dengan kehidupan Oei Hui Lan dihadirkan sebagai inspirasi utama pada sekuens kedua.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Dramatisasi Antie Damayanti

Babak terakhir dalam drama tiga babak kisah hidup Oei Hui Lan adalah sekuens yang bagi saya pribadi tidak akan pernah terlupakan. Diiringi lagu “Surya Tenggelam” milik mendiang Chrisye, aura magis pada sekuens ini benar-benar terasa.Terlebih lagi saat Antie Damayanti, salah seorang model pada sekuens Ghea muncul di atas panggung dengan sebuah koreografi yang begitu dramatis yang seolah menggambarkan kisah hidup penuh drama yang dijalani Oei Hui Lan.

Tidak berhenti sampai disitu, Dominique Diyose yang kemudian tampil dipanggung mengenakan sebuah payung yang tertutup kelambu hitam seperti menyerupai perumpamaan penampakkan hantu Oei Hui Lan yang kabarnya sering terlihat di hotel keluarga Oei Hui Lan.

Dominique Diyose, "Hantu" Oei Hui Lan

Bagi saya, sekuens ini lebih menyerupai kisah kematian Oei Hui Lan yang tragis dibandingkan dengan interpretasi  gaya hidup jetset super mewah yang dijalani Oei Hui Lan semasa hidupnya. Pada sekuens ini saya lebih membayangkan cerita kematian Oei Hui Lan yang tragis serta cerita seram tentang hantu Oei Hui Lan yang konon sering menampakkan diri di hotel keluarga di Semarang.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Dominique Diyose

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Prinka Cassy

Secara keseluruhan sekuens yang menghadirkan koleksi gaun malam dari lini teranyar Ghea Panggabean yang ia beri nama Ghea Couture ini adalah sekuens yang paling menyita perhatian saya. Gaun-gaun malam dengan dominasi warna hitam ditambah motif-motif bordir bernuansa oriental yang disajikan dalam warna emas menambah kekuatan drama dalam sekuens ini.

BIN HOUSE Oleh Obin Komara

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Kimmy Jayanti

Jika pada tahun sebelumnya koleksi dari BIN HOUSE untuk Bazaar Fashion Concerto diwakili oleh Wita, pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini BIN House diwakili langsung oleh sang pendiri, Obin Komara.

Lebih senang disebut sebagai “tukang kain”, Obin Komara mempersembahkan 15 koleksi busana. Pada koleksinya kali ini BIN HOUSE bermain-main dengan cutting jas pada kebaya. Beragam kain-kain cantik yang selalu jadi andalan BIN House diwujudkan dalam kebaya-kebaya  bersilluet modern dengan teknik tripping dan stitching yang memperkuat tekstur serta karakter kain.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Ines Arieza

Meski menjadi desainer yang paling sedikit mengeluarkan koleksi pada moment ini, keseluruhan koleksi dari Obin Komara untuk BIN HOUSE menjadi sangat menarik dengan arahan koreografi centil bagi setiap model pada sekuens BIN HOUSE.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Evie Mulya

Permainan kain dari beberapa model seperti Kimmy Jayanti, Evie Mulya, dan Ines Arieza juga menambah point plus dalam sekuens BIN HOUSE.

Eddy Betty

Eddy Betty. Model: Nien Indriyati

Eddy Betty tidak hanya menampilkan lini EdBe yang selama ini ia khususkan untuk busana-busana batik ready to wear, pada Sariayu Bazaar fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini ia juga mempertontonkan koleksi teranyar dari lini utamanya, Eddy Betty. Ia kemudian memilih bintang Hollywood legendaries, Elizabeth Taylor sebagai inspirasi utama karyanya. Melalui koleksinya ia seolah  membayangkan lambing glamoritas Hollywood yang ikonis ini ditempatkan dalam sebuah scene pertunjukkan Keroncong di Broadway, ditengah musim dingin sambil mengenakan kebaya cantik nan mewah.

Eddy Betty. Model: Dea Nabila

Suhu rendah pada musim dingin tidak lagi menjadi halangan ketika Eddy Betty menambahkan aksen penghangat berupa bulu-bulu, coat, dan mantel yang terbuat dari kulit hewan berbulu tebal namun terlihat sangat lembut.

Tidak hanya menampilkan kebaya yang berpadu dengan aksen penghangat, pada sekuensnya, Eddy Betty turut menampilkan beberapa koleksi kebaya yang ia desain khusus untuk pernikahan. Salah satu kebaya untuk pernikahan yang ia tampilkan adalah kebaya yang ia desain untuk pernikahan model cantik Laura Basuki beberapa waktu lalu. Kebaya pernikahan tersebut dibawakan langsung oleh sang mempelai, Laura Basuki.

Eddy Betty. Model: Laura Basuki

Bagi saya, secara keseluruhan, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah satu kesatuan karya masterpiece dari semua yang terlibat didalamnya. Terlepas dari beberapa kekurangan yang masih terdapat dalam penyelenggaraannya, Sariayu Bazaar Fashion Celebration meninggalkan kesan mendalam yang tidak akan terlupakan,dan membuat saya semakin menantikan acara tahunan ini di tahun mendatang.

Part 1 Bazaar Fashion Celebration 2011. Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” VS Bazaar Fashion Concerto 2010 “Fashiontech”

“Antara Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” dan kenangan setahun lalu di Bazaar Fashion Concerto 2010 “Fashiontech” “

Saya nggak akan pernah lupa moment penting satu tahun lalu, sekitar awal Desember di tahun 2010. Saat itu saya benar-benar terpukau dengan sebuah pagelaran busana yang dikemas dengan live music yang begitu megah dan mengagumkan. Pagelaran busana itu bernama Bazaar Fashion Concerto “Fashiontech”. Sejak saat itu saya hampir tidak bisa menghilangkan kenangan dan rasa kagum yang mendalam tentang acara, yang akhirnya saya tahu, dihelat setahun sekali oleh majalah Bazaar. Sejak saat itu pula saya seolah menanti-nanti kapan Bazaar Fashion Concerto akan digelar lagi.

Selang setahun berlalu akhirnya saya mendapat kabar bahwa Bazaar Fashion Concerto akan kembali dilaksanakan. Tetapi acara akbar ini seolah berganti rupa, dan berganti nama. Tidak ada lagi Bazaar Fashion Concerto, kali ini judulnya adalah Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Sangat berbeda dengan Bazaar Fashion Concerto setahun lalu, Bazaar Fashion Celebration 2011 digelar dengan lebih sederhana. Jika pada tahun sebelumnya Bazaar Indonesia seperti “jor-jor-an” dalam hal tempat penyelenggaraan, tata panggung, musik pengiring, lighting, pengisi acara, juga para desainer yang berpartisipasi, pada tahun ini semua itu seolah diputarbalik nyaris habis-habisan.

Tempat penyelenggaraan, jika pada tahun sebelumnya Bazaar Fashion Concerto dilaksanakan di Planery Hall JCC yang sebegitu besarnya, kali ini Bazaar Fashion Celebration 2011 diselenggarakan di Grand Ballroom Ritz Carlton Pasfic Place yang jauh lebih sedikit kapasitas penontonnya dibandingkan dengan Planery Hall JCC.

Selain itu, perihal tata panggung, musik pengiring dan lighting juga tidak seheboh tahun lalu yang sarat akan unsur teknologi dan penuh kejutan,  Bazaar Fashion Celebration kali ini meski tetap mengawinkan duo jempolan Jay Subijakto sebagai show director, dan Erwin Gutawa sebagai music director, ditata dengan lebih sederhana.

Seperti misalnya, lintasan panggung untuk para model memang lebih panjang karena berbentuk lingkaran penuh dengan tiga titik sudut lintasan untuk berhenti, pose, dan diabadikan gambarnya oleh para media yang meliput. Tetapi tata panggungnya cenderung lebih sederhana, clean, dan tidak ada gimmick-gimmick seru seperti tahun lalu ketika pada pembukaan sequens parade busana Sally Koeswanto, Drina Ciputra menjadi first face yang bergaya ala alien yang keluar dari sebuah tempat persembunyian dengan koreografi yang super menawan.

Meski diselenggarakan dengan kesan lebih sederhana dan “tidak macam-macam”, bukan berarti Bazaar Fashion Celebration 2011 berlalu tanpa meninggalkan kesan berarti. Itu semua salah besar!. Memang jika perhatikan Bazaar Fashion Celebration 2011 diselenggarakan dengan lebih sederhana, desainer yang berpartisipasi pun hanya tiga orang, berbeda jauh dari tahun lalu yang melibatkan sepuluh orang desainer. Namun cenderung lebih sederhananya penyelenggaraan Bazaar Fashion Celebration dibandingkan Bazaar Fashion Concerto di tahun sebelumnya menghadirkan beberapa point plus. Seperti misalnya suasana lebih intim yang tercipta.

Atmosfer perayaan fesyen dari Bazaar kali ini memang bukan layaknya pesta besar-besaran ulangtahun televisi swasta, perayaan fesyen dari Bazaar kali ini seperti sebuah perayaan pesta hari jadi seseorang atau perayaan ulang tahun pernikahan, dimana yang hadir adalah sebuah keluarga besar, sahabat, dan handai taulan yang mempunyai ikatan perasaan satu sama lain.

Selain itu berkurangnya jumlah desainer yang berpartisipasi dari sepuluh desainer di tahun 2010, dan kini tiga orang desainer membuat koleksi busana yang ditampilkan menjadi lebih fokus. Meski tentunya koleksi yang ditampilkan para desainer berbeda tetapi benang merah yang merupakan pengikat utama dalam keseluruhan koleksi dan acara amat terasa pada setiap sekuens yang dihadirkan.

BIN HOUSE oleh Obin Komara

Nafas utama dalam terselenggaranya acara ini, yakni keroncong juga sangat terwakili dengan metode penyelenggaraan Bazaar Fashion Celebration yang lebih sederhana dan intim. Para tamu undangan yang hadir seolah diajak berkunjung ke dua suasana berbeda. Pada masa kejayaan musik keroncong yang membawa pada atmosfer nostalgia masa lalu, dan pada hari ini, dimana musik keroncong dimunculkan kembali dalam kemegahan tata musik orkestra modern yang memukau serta  alunan suara merdu dari para pengisi acara, Bunga Citra Lestari, Sammy Simorangkir, Sundari Soekotjo, dan penyanyi cilik (yang merupakan main cast musical Laskar Pelangi) Christoffer Nelwan, Kanya, Hilmi Faturrahman, dan Sheila Hasto. 

Dengan treatment yang lebih sederhana dan intim itu, semua orang yang menonton secara langsung jalannya acara Bazaar Fashion Celebration 2011 rasanya lebih bisa menikmati keseluruhan sajian Bazaar Fashion Celebration 2011.

EdBe oleh Eddy Betty

Hal lain yang bagi saya turut menjadi point plus Bazaar Fashion Celebration 2011 adalah space-space yang sediakan oleh penyelenggara untuk media yang meliput jauh lebih nyaman dibandingkan pada tahun sebelumnya. Jarak kursi khusus untuk media, serta jarak fotografer pit dengan panggung jauh lebih dekat, hal ini sangat memudahkan para jurnalis dan fotografer untuk mengabadikan moment berlangsungnya Bazaar Fashion Celebration 2011.

Dan tulisan part ini saya cukupkan sampai disini. Mari lanjut ke part 2. Enjoy!

EdBe Love Is In The Air ; Batik&Ready To Wear Keren Dalam Presentasi Yang Missing Something

Missing Something?. Something what?. Ehmmm…Oke saya ralat, bukan something tapi more. Missing more than something.

EdBe Love Is In The Air with Renata and Richard as Model. Foto by Andreas Dwi

Selasa malam(04/10) saya diundang untuk datang ke Fashion Show koleksi terbaru Eddy Betty untuk second line nya EdBe di Ballroom 2 Hotel Mulia. Second line dari Eddy Betty ini mulai diperkenalkan sejak sekitar 2 tahun lalu dengan mengusung baju-baju Ready To Wear sebagai main course utama.

Sebelumnya saya pernah melihat koleksi EdBe by Eddy Betty beberapa kali, baik di fashion spread majalah, atau event fashion lainnya, dan saya suka dengan konsep ready to wear yang diadopsi Eddy Betty untuk second line nya ini. Itu yang bikin saya excited untuk datang ke Fashion Show koleksi terbarunya kali ini.

Meski jujur harus saya katakan bahwa rancangan-rancangan ready to wear yang ada pada lini EdBe bukanlah sesuatu yang benar-benar baru 100% dalam dunia ready to wear di Indonesia, tetapi koleksi-koleksinya tetap saja menarik dengan detail yang jika diperhatikan lebih seksama akan terasa “tidak sesederhana yang terlihat”. Dari segi model baju sampai detail cutting selalu saja ada hal yang unik dan seru. Tarikan garis rancangannya seperti tidak terkonstruksi rapi sesuai pakem, seperti gaya desainer Jepang yang unik dan asimetris.

Dengan mengambil tema Love Is In The Air, pada presentasi karya teranyarnya yang terwujud dalam sebuah peragaan busana a.k.a Fashion Show, EdBe by Eddy Betty menampilkan 90 outfit busana ready to wear. Menariknya, koleksi yang ditampilkan bukan hanya koleksi yang menggunakan material “standart” seperti katun, rayon, dan tenun hitam putih berdetail border berlubang-lubang(eyelet), tetapi yang jadi primadona justru koleksi ready to wear berbahan batik tulis.

Dan bukan batik tulis biasa yang diaplikasikan pada rancangan EdBe, tapi batik tulis dengan motif yang dipesan secara khusus pada pengerajin. Motif yang tentunya sesuai dengan keinginan si desainer, yakni motif corak mainan anak-anak, boneka matryoska, boneka Jepang, sampai motif telor paskah disajikan pada selembar kain batik yang kemudian diolah menjadi busana siap pakai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada presentasi koleksi kali ini, sekali lagi EdBe menampilkan gaya khasnya dalam memadupadankan busana. Ia menyusun setiap outfit yang dikenakan model dengan seolah semaunya dan sembarang, ia melawan apa yang lazim dianggap sebagai sesuatu yang harmonis dalam mix and match busana. Hal yang saya rasa sangat cocok dengan filosofi yang konon dianutnya, Mix Don’t Match, padukan tanpa serasikan.

Padupadan yang seolah main-main dan sembarang ini akhirnya membuat gaun bervolume, blus asimentris, rok multi posisi, celana terusan(jumsuit), kemeja lengan raglan dan di bawah siku sampai celana sarung(sarouel) yang menjadi produk andalan dalam koleksi terbarunya terlihat semakin menarik dan seru.

Foto by Andreas Dwi

Foto by Andreas Dwi

Tetapi sayangnya, kadar menarik, keren dan seru dari koleksi terbaru EdBe harus terkontaminasi dengan banyak hal yang missing dalam keseluruhan Fashion Show nya. Dalam Fashion Show ini saya cukup banyak menulis catatan hal-hal yang “ganggu”. Seperti ada beberapa hal yang miss. Entah misunderstanding, miscommunication, atau missing the time to prepare, tapi dari ke “miss” an yang saya rasakan itulah yang memunculkan catatan ini.

Darell Ferhostan between another model. Foto by Windy Sucipto

Pertama, urutan keluar model yang bagi saya terasa berantakan dan sedikit asal. Model bagus yang performa saat membawakan busana di atas catwalk sudah tidak perlu diragukan justru ditaruh ditengah, sehingga keberadaan mereka jadi biasa saja, tidak ada yang spesial. Lalu saat The Finale yang menjadi moment puncak dalam Fashion Show, susunan model yang berbeda lagi kemudian mengganjal bagi saya. Jujur saya sangat menyayangkan kenapa Darell Ferhostan si model androgini yang sejak awal kemunculannya di fashion show mengundang bisik-bisik dan sangat mencuri perhatian karena ke androginiannya justru diposisikan ditengah dan tertutup model-model “biasa”. Sementara saya pikir ia akan sangat menarik bila dijadikan first face atau last face yang keluar bersama sang desainer. Itu pasti akan jadi sesuatu yang keren karena hampir belum ada model androgini di Indonesia seperti Darell, dan Eddy Betty adalah desainer papan atas pertama yang menggunakan jasanya dalam sebuah Fashion Show. Semoga saja di kerjasama berikutnya hal tersebut dapat dipikirkan kembali karena bukannya tidak mungkin mereka akan dikenang sebagai simbiosis mutualisme ala Jean Paul Gaultier dan supermodel androgini Andrej Pejic.

Kedua, urutan baju yang dikenakan si model. Saya pun cukup terganggu dengan hal ini karena yang saya lihat dan rasakan adalah urutan baju yang dikenakan si model pada saat Fashion Show terasa tidak diurutkan secara rapi. Maksud saya bukan keseluruhan outfit yang dipakai ya, karena kan memang EdBe terkonsep Mix don’t Match seperti itu, tapi maksud saya adalah urutan keluar bajunya. Saya cukup sibuk bertanya-tanya, kenapa tidak mengeluarkan secara urut baju-baju yang memiliki benang merah yang sama misalnya dari segi bahan, cutting atau warna sih?, malah makin random gini. Saya cukup bingung dengan hal itu, entah memang seperti itulah yang ingin ditampilkan atau bagaimana. Saya pikir mungkin akan lebih nyaman untuk disaksikan bila urutan baju yang dikeluarkan meski terkonsep Mix don’t Match tapi tetap diurutkan sesuai dengan satu benang merah yang sama agar tidak terkesan koleksi random.

Ketiga, musik pengiring fashion show. Saya memang nggak terlalu ngerti detail tentang musik, tapi yang jelas bagi saya atmosfer musik dengan fashion show nya nggak dapet. Musiknya kurang bercampur dengan asik bersama keseluruhan fashion show dan temanya. Sepertinya akan lebih asik jika next time musiknya didengarkan ulang beberapa kali dan kembali dipikirkan bisa ngeblend atau enggak dengan keseluruhan acaranya jadi crowd dan atmosfer yang tercipta akan lebih terasa.

Keempat, MC. Ada beberapa kesalahan pengucapan MC dibagian akhir yang cukup penting. Kesalahan yang semestinya tidak perlu terjadi. Kesalahan yang sampai menyebabkan wajah Eddy Betty sempat terlihat tertegun bingung dan bengong. Mungkin karena human error, faktor X, kesalahan teknis atau mungkin juga karena kurangnya persiapan.

Kesimpulannya adalah, sayang. Bahkan sayang sekali saat koleksi yang keren-keren itu terkontaminasi dengan hal-hal yang cukup mengganggu selama presentasi kepada orang banyak sedang berlangsung.

Namun terlepas dari itu semua, saya pribadi dan saya yakin banyak diantara para pecinta fashion lokal yang terus menunggu karya EdBe selanjutnya 🙂