Bagian Pertama, IPMI Trend Show 2013; Kekuatan Esensial 4 Desainer IPMI

Seperti spektrum yang ada karena kolaborasi berbagai jenis warna, jika dipenggal menjadi bagian-bagian terpisah, warna-warna itu akan kembali mendiri, menguarkan pendaran bagi dirinya sendiri, memunculkan satu kekuatan khas yang sudah lama ada di dalam diri.

Finale Carmanita at IPMI’s Trend Show 2013 “Energie”

Saya mengibaratkan warna sebagai para desainer dan pendaran warna, sebagai ciri khas yang selalu ada di setiap karyanya. Sehingga bisa dikatakan bahwa setiap desainer memiliki warna atau kekuatan atau ciri khasnya tersendiri.

Beberapa lama saya menjadi bagian dari perkembangan dunia mode Indonesia, meski hingga kini saya rasa status saya hanya sebagai penikmat dan pengamat “amatiran”, dan bukan sebagai pelaku langsung, namun saya sudah cukup hapal dengan berbagai macam warna yang berpendar-pendar pada masing-masing karya desainer mode di Indonesia.

Si A yang baju-bajunya seperti ini, si B yang karya-karya nya seperti itu, atau si C yang kekuatan utama koleksinya begini. Saya sudah cukup hapal dengan itu semua, walau belum seperti pengamat-pengamat mode senior yang  hatam semua hal tentang mode diluar kepala mereka.

Saya sudah cukup terbiasa melihat karya-karya mereka dengan berbagai warna yang mereka punya. Warna yang menjadi ciri khas serta kekuatan utama mereka. Karena itu saya merasa tidak asing ketika ritual mode tahunan milik Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI), “Trend Show”, seakan coba mengulik warna dari para desainer yang bernaung dibawahnya.

Ikatan Perancang Mode Indonesia(IPMI), telah melewati hampir tiga dekade fesyen di Indonesia. Didirikan pada tahun 1985, IPMI telah dikenal luas sebagai salah satu organisasi profesi perancang busana paling bergengsi. Ritual tahunannya yang dinamakan “Trend Show” pun tak pelak menjadi salah satu pagelaran busana paling dinantikan. Para penikmat, pengamat, praktisi, dan mereka yang akrab dengan lingkungan fesyen di Indonesia dapat dipastikan menyimpan rasa penasaran tentang bagaimana teropong trend mode di satu tahun mendatang versi IPMI.

Mereka yang menyimpan rasa penasaran itu termasuk saya di dalamnya, saya juga merasa sangat penasaran akan apalagi yang akan di tampilkan para desainer IPMI pada Trend Shownya?.

Saya masih ingat jika tahun lalu saya terpaksa mengernyitkan dahi dengan penyelenggaraan Trend Show IPMI yang sedikit memusingkan dari segi tata panggung. Panggung lintasan catwalk berbentuk segitiga mengelilingi hall di Plaza Bapindo. Belum lagi lampu tata lampu yang cahayanya terlampau menyilaukan dan “nembak” ke arah fotografer pit.

Tetapi semua itu hanya menyangkut masalah teknis penyelenggaraan saja, karena untuk urusan bagaimana koleksi busana yang dihadirkan, sampai detik ini masih ada satu rangkaian koleksi yang benar-benar tidak bisa hilang dalam ingatan saya, koleksi tersebut adalah milik Barli Asmara, dimana ia menggunakan teknik macramé atau teknik tali simpul pada tiap potong koleksinya.

Bagi saya, apa yang suguhkan Barli pada koleksi terdahulunya itu amat sangat menarik, teknik macramé yang rumit dan keberaniannya hanya mengolah satu warna saja pada keseluruhan koleksi patut diacungi jempol.

Lantas, bagaimana dengan IPMI Trend Show di tahun ini?.

Ari Seputra “Neo Plaited”. Model: Dhining

Era Soekamto “Sang Panji”.

Valentino Napitupulu “Adrenaline Flower”. Model: Michella Samantha

Carmanita “Dream Life”. Model: Lita

“Energie”, satu kata yang dipilih IPMI untuk menjadi benang merah utama Trend Show nya kali ini. Melalui “Energie”, IPMI coba meleburkan kekuatan, atau yang saya interpretasikan juga sebagai “warna”, yang tersimpan dalam kekhasan karya 8 orang anggota terpilih.

Kedelapan orang anggota IPMI yang terdiri atas Ari Seputra, Era Soekamto, Valentino Napitupulu, Carmanita, Andrianto Halim, Tuty Cholid, Yongki Budisutisna, dan Barli Asmara masing-masing mengemban tugas untuk menginterpretasikan totalitas energi yang dipecah menjadi 3 bahasa berbeda. Tiga bahasa itu masing-masing, Adrenaline Rush, Silence Zen, dan Equilibrium.

Berbeda dari penyelenggaraan Trend Show tahun lalu dimana IPMI membaginya jadi 2 hari penyelenggaraan, pada Trend Show tahun ini, IPMI memadatkannya dalam satu hari penyelenggaraan dan hanya membaginya menjadi dua babak berbeda yang diberi jeda satu jam. Pada babak pertama, Trend Show IPMI 2013 menyuguhkan koleksi teranyar dari kuartet desainer Ari Seputra, Era Soekamto, Valentino Napitupulu dan Carmanita secara berturut-turut.

Inspirasi Perjalan di Tanah Lombok. Ari Seputra “Neo Plaited”. Model: Dominique Diyose

Motif tenun khas Lombok berpadu dengan warna-warna tanah. Ari Seputra “Neo Plaited”.

Membuka rangkaian pagelaran busana babak pertama, Ari Seputra memamerkan 10 set koleksi yang ia beri nama “Neo Plaited”. Koleksi yang kental akan nuansa etnik ini tercipta berdasarkan kisah perjalanan sang desainer menelusuri tanah Lombok yang kaya akan tradisi.

Warna-warna “membumi” semisal coklat tua, coklat muda, hingga putih gading kemudian ia kombinasikan dengan motif-motif kain tenun khas Lombok yang eksotis sehingga menghasilkan satu rangkaian busana yang seakan merefleksikan kekuatan dari kearifan lokal berwujud modern.

Siluet kebaya dalam bingkai modernitas. Era Soekamto “Sang Panji”. Model: Juwita Rahmawati

Motif burung Hong dan Lokcan digoreskan pada kain berwarna pastel nan lembut. Era Soekamto “Sang Panji”. Model: Laura Muljadi

Melihat keseluruhan koleksi Era Soekamto yang ia beri tajuk “Sang Panji” mau tidak mau ingatan saya kembali berputar pada koleksi Era terdahulu yang ia tampilkan pada Bazaar Wedding Exhibition, koleksi yang kala itu diberi nama “Jangan Menir”. Pada koleksi “Sang Panji”, Era yang masih setia bermain-main dalam ranah siluet kebaya modern, seakan mengulur benang merah yang sama dengan koleksi “Jangan Menir”. Kesamaan gagasan mengangkat budaya Jawa serta pemilihan siluet kebaya modern yang ia gunakan pada rangkaian koleksinya, membuat cita rasa yang serupa begitu terasa.

Namun, jika pada koleksi “Jangan Menir” Era lebih banyak memadukan warna-warna gelap yang memberikan kesan kuat pada busananya, kali ini koleksi Era lebih didominasi warna-warna lembut. Motif burung Hong dan Lokcan yang tergores samar pada kain batik berwarna pastel nan lembut kemudian menjadi daya tarik utama pada koleksi “Sang Panji” karya Era Soekamto.

Gaun-gaun cantik dengan warna yang sering diidentikan dengan feminitas. Valentino Napitupulu “Adrenaline Rush. Model: Christina Borries

Busana pria, atau lebih tepatnya, pengantin pria. Valentino Napitupulu “Adrenaline Flower”. Model: Betrand Antoline

Romantisme hubungan cinta dua insan manusia sepertinya menjadi salah satu pembahasan paling menarik bagi Valentino Napitupulu. Ia seolah tak pernah jemu mengolah sisi manis dari romantisme cinta ke dalam koleksi-koleksi busananya. Begitupula ketika ia melansir koleksi “Adrenaline Flower”, Valentino terlihat sangat menonjolkan aura feminine pada rangkaian koleksinya.

Warna-warna yang sering diidentikan dengan feminitas semisal merah muda terasa cukup mendominasi koleksi yang ia tampilkan, walaupun ia juga menghadirkan warna-warna lain seperti merah, orange, dan ungu. Aura feminine dalam koleksi Valentino Napitupulu juga tidak berhenti pada pemilihan warna, tetapi siluet serta detil-detil busana yang ia ciptakan juga sangat kental nuansa feminine, pun ketika ia menghadirkan busana laki-laki, aura feminine yang ada tetap tidak bisa hilang.

Warna-warna cerah dari kain tenun Makasar dan sari India. Carmanita “Dream Life”. Model: Mungky Chrisna

Teknik tumpuk kain-kain berstruktur ringan dengan potongan longgar. Carmanita “Dream Life”. Model: Dea Nabila

Memulai karir di tahun 1980 sejak ia menyelesaikan kuliahnya di bidang manajemen bisnis dan pemasaran di University of San Francisco, Amerika Serikat, nama Carmanita perlahan dikenal luas setelah ia berhasil memenangkan juara 3 Loma Perancang Mode majalah Femina. Sejak awal kemunculannya di jagad fesyen Indonesia, Carmanita dikenal dengan  kepiawaiannya mengolah motif-motif batik kontemporer dan kain-kain tradisional.

Dan pada IPMI Trend Show kali ini, Carmanita mengawinkan kain tenun Makassar dan sari India menjadi satu rangkian koleksi penuh warna. Menyematkan nama “Dream Life”, Carmanita masih setia dengan teknik tumpuk kain yang menjadi kegemarannya. Tidak menitikberatkan pada permainan silluet, Carmanita, membuat busana karyanya tetap memiliki kesan ringan dengan potongan yang longgar.

 

Bersambung…..

Jatuh Cinta Pada Kebaya

Dulu, saya selalu mengidentikkan kebaya dengan Nenek tercinta. Bukan karena Nenek saya adalah seorang pembuat kebaya, bukan juga seorang penggila kebaya yang mengkoleksi busana itu hingga ratusan. Nenek saya hanya seorang wanita dari masa lalu yang sering mengenakan kebaya sebagai dress code nya tiap kali ia menghadiri sebuah acara.

"Jangan Menir" oleh Era Soekamto untuk Bazaar Wedding Exhibition 2012. Model: Nien Indriyati

Kebaya bukan hal yang asing bagi saya. Dibesarkan di keluarga Jawa, saya sudah terbiasa melihat Nenek saya mengenakan kebaya jika akan menghadiri suatu acara. Tapi dulu saya tidak terlalu memperhatikannya. Yang saya tahu, kebaya hanya busana “dresscode” setiap acara formal atau semi formal yang akan dihadiri Nenek saya, biasanya acara itu tidak jauh-jauh dari pesta pernikahan, atau acara keluarga semacamnya.

Ketika saya masih kecil dulu, saya tidak pernah tertarik untuk mengenakan kebaya, bagi saya melihat Nenek mengenakannya saja sudah cukup. Lagipula saya selalu malas membayangkan segala macam atribut tambahan yang mesti saya kenakan jika memakai kebaya. Korset, kain, sanggul, kembang goyang, dan belum lagi make up tebal yang harus jadi “topeng” saya untuk sementara. Setiap kali membayangkan semua itu, saya sudah malas duluan.

"Jangan Menir" oleh Era Soekamto untuk Bazaar Wedding Exhibition 2012. Model: Firrina

Saya ingat betul, pertama kali saya mengenakan kebaya saat saya duduk di bangku TK, lebih dari sebelas tahun lalu. Bukan karena ingin, tapi saat itu saya memang harus mengenakan kebaya di acara peringatan hari Kartini yang jatuh setiap 21 April, bertepatan dengan hari kelahiran beliau. Kebaya pertama saya adalah kebaya model kebaya kartini berwarna hitam berbahan beludru. Kebaya yang kini setelah tahun-tahun lewat setelah saya mengenakannya justru malah membuat saya jatuh cinta.

Jatuh cinta, saya rasa perasaan itulah yang saya rasakan ketika melihat deretan kebaya-kebaya pada pagelaran busana karya Deden Siswanto, Era Soekamto. Perasaan jatuh cinta saya saat itu memang bukan perasaan baru yang tiba-tiba muncul begitu saja. Saya sudah tahu bahwa saya memiliki potensi jatuh cinta dengan kebaya beludru sejak dulu, hanya saja saat itu, saat saya melihat kembali lekukan kebaya-kebaya beludru di atas panggung pagelaran busana dua desainer terkenal itu perasaan saya seperti ketika kamu menulis di Microsoft Word, lalu kamu menambahkan bold dan italic pada dua kata itu, jatuh cinta.

"Jangan Menir" oleh Era Soekamto untuk Bazaar Wedding Exhibition 2012

Saya tahu ada beberapa jenis kebaya, atau lebih tepatnya variasi model dan penggunaan kebaya. Kebaya Belanda, Kebaya China, Kebaya Encim, Kebaya Kutubaru, Kebaya Panjang, tapi bagi saya, mau apapun jenis dan variasinya, asalkan bahan kebaya itu beludru, saya pasti segera jatuh cinta.

Lantas kenapa harus berbahan beludru?. Hmmm…kenapa ya?. Karena bagi saya beludru itu seperti “Blod” pada pilihan menu Format “Font” pada Microsoft Word. Beludru seperti manusia yang punya dua kepribadian, lembut namun tegas, halus namun kuat. Beludru seperti figura kayu tebal pada foto yang dipajang di ruang tengah rumah saya. Mempertegas kesan sekaligus menghadirkan satu nuansa klasik yang sangat kental.

"Jangan Menir" oleh Era Soekamto untuk Bazaar Wedding Exhibition 2012

"Jangan Menir" oleh Era Soekamto untuk Bazaar Wedding Exhibition 2012

Pada pagelaran busananya ketika Bazaar Wedding Exhibition 2012, Deden Siswanto melansir koleksi busana pernikahannya yang lebih banyak beraroma tradisional. Diantara sekian potong busana karya Deden itu, terselip beberapa kebaya berbahan beludru. Untuk kebaya berbahan beludru itu, Deden memilih kebaya panjang sebagai model kebaya yang ia aplikasikan dengan bahan beludru berwarna gelap, seperti hitam, ungu tua, hijau tua, dan merah hati.

Deden Siswanto untuk Bazaar Wedding Exhibition 2012.

Lain halnya dengan kebaya-kebaya rancangan Era Seokamto yang ia pertunjukkan pada event yang sama, Bazaar Wedding Exhibition 2012. Era menamai rangkaian koleksi teranyarnya “Jangan Menir”. Nama tersebut ia adopsi dari bahasa Jawa, Jangan yang berarti sayur mayur, dan Menir yang berarti beras adalah nama baju pengantin Jawa berwarna hitam beludru dengan dekorasi keemasan yang memiliki makna kemakmuran berasal dari kekayaan hati, untuk mencapai puncak keemasan dalam pengabdian total terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Koleksi busana pengantin Era Soekamto yang berkiblat pada pernikahan ala keraton Yogyakarta, menghadirkan bermacam kebaya dalam pakem kebaya kutu baru, kebaya Kartini, evening dress yang terinspirasi dari silluet kebaya modern yang dinamis. Warna klasik putih, hitam, emas, biru, dan merah menghiasi koleksi ini. Dalam hal pemilihan material sendiri, Era Soekamto menggunakan sutra taffeta, satin duches, velvet, tulle, sutra ATBM(Alat Tenun Bukan Mesin), 100% katun, dan sutra yang pada proses pengerjaannya hampir seluruhnya secara handwork atau menggunakan tangan tanpa banyak campur tangan mesin.

Sekarang, Saya bukan hanya memandang kebaya sebagai dress code wajib Nenek, karena saya rasa, saya sudah jatuh cinta pada kebaya, atau lebih tepatnya saya jatuh cinta dengan kebaya berbahan beludru. Klasik. Elegan. Cantik.

Hari Kedua JFW 2012 ; Warna-Warni Di Fashion Show IPMI “Color Me Life”

Dalam satu tahun ada dua kali pagelaran busana yang dipersembahkan bagi Robby Tumewu. Terharu!

Sebelumnya, Anne Avantie melalui fashion show Puteri Tionghoa yang diadakan bertepatan dengan malam pembukaan Jakarta Fashion and Food Festival 2011(JFFF 2011) telah mempersembahkan pagelaran busana tersebut bagi Robby Tumewu, desainer senior yang selama ini juga dikenal sebagai entertainer serba bisa. Kali ini, 10 rekan sejawatnya yang tergabung dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia(IPMI) melakukan hal serupa. Mereka mempersembahkan sebuah rangkaian pagelaran busana alias fashion show bagi Robby Tumewu yang pada tahun lalu sempat melalui kondisi kesehatan yang cukup kritis.

Kesepuluh orang desainer IPMI tersebut menamai fashion show itu “Color Me Life”. Mereka terinspirasi oleh “warna-warni” yang diciptakan oleh Robby Tumewu selama berkarya sebagai desainer. Mereka menganggap Robby telah memiliki andil yang begitu besar dalam perkembangan dunia fesyen Indonesia melalui karya-karyanya.

Kesepuluh desainer tersebut adalah Tri Handoko, Adesagi Kierana, Era Soekamto, Ghea Panggabean, Tuty Cholid, Kanaya Tabitha, Liliana Lim, Yongki Budisutisna, Carmanita, dan Barli Asmara. Pada fashion show “Color Me Life”, para desainer menyajikan 6 buah koleksi busana terbaru yang masing-masing dari desainer mewakili satu warna berbeda. Warna yang diangkat masing-masing desainer mewakili energy dan semangat sosok Robby Tumewu selama berkarya.

Sejak awal saya mendengar semua premis ini, saya langsung bersemangat untuk menyaksikan bagaimana fashion shownya. Terlebih saat saya mengetahui model androgyny Darell Ferhostan akan turut ambil bagian dalam show tersebut. Ia akan menjadi model first face untuk koleksi dari Tri Handoko.

 

Fashion Show pun dimulai dengan jadwal yang tidak ngaret banyak. Dibuka oleh rancangan dari Tri Handoko yang mengambil warna putih sebagai warna utama keseluruhan busana yang ia pamerkan.

Jujur saya jauhhhh lebih suka dengan mini koleksi Tri Handoko kali ini dibandingkan dengan koleksi yang ia pertunjukkan saat IPMI Trend Show 2012 beberapa waktu lalu. Rancangan Tri Handoko kali ini bagi saya lebih menarik walau seluruhnya berwarna putih dan masih mengusung ready to wear. Pada sequensnya, make up dan hair do para model juga sangat simple dan mengambil kesan “geek and nerd”, namun itu turut jadi bagian yang menambah menarik keseluruhan koleksi Tri Handoko.

Setelahnya, gaun-gaun malam berwarna merah dengan garis rancang klasik disajikan Liliana Lim. Melihat mini koleksi karya Liliana Lim, kesan seksi nan sensual pun terpancar, mungkin karena warna merah yang dipilihnya.

Telah sejak awal saya mengagumi karya Ghea Panggabean yang selalu kental nuansa etnik. Setelah pada pagelaran busana di tahun sebelumnya Ghea banyak bermain-main dengan budaya Jawa, kali ini Ghea hadir dengan mini koleksi yang mengambil inspirasi dari suku Dayak di pedalaman Kalimantan. Untuk mini koleksinya ini, Ghea Panggabean mewakili warna Oranye.

Tuty Cholid dengan warna kuning nya masih mengambil silluet baju-baju tradisional khas Sulawesi Selatan. Koleksi busana dengan gaya ini sebelumnya telah Tuty Cholid tampilkan pada fashion show nya di IPMI Trend Show 2012 yang juga belum lama ini berlalu.

Warna hijau adalah warna yang dipilih oleh Era Soekamto dalam mewakili kreasi terbarunya. Seperti biasa, kesan sexy selalu melekat pada koleksi Era. Untuk “Color Me Life” ini Era menampilkan 6 set busana yang terdiri atas gaun pendek berdetail bordir yang ia padukan dengan kain silk sebagai material dasar.

Playful, edgy, asimetris, rame, dan terkesan glamour adalah hal yang melekat erat pada hampir semua koleksi Adesagi Kierana. Dalam mini koleksi yang diperuntukkan bagi rangkaian fashion show “Color Me Life” ini Adesagi kembali menghadirkan hal serupa. 6 set busana yang ia pamerkan dalam warna Turqoise atau biru kehijauan memunculkan kesan penuh drama.

Gaun pendek dengan material ringan dipadu dengan bahan seperti denim menjadi andalan Yongki Budisutisna dalam mini koleksinya yang mewakili warna Biru. Melalui koleksinya tersebut, Yongki menghadirkan kesan elegan dan formal sekaligus santai dan casual.

Saya selalu mengingat Carmanita dengan busana bertumpuknya. Gayanya bohemian, dengan potongan busana dari bahan-bahan ringan yang kemudian ia tumpuk sehingga terkesan lebih memiliki volume. Ia juga sangat terlihat menyukai warna-warna “wanita” seperti merah muda dan ungu. Begitupun pada koleksinya kali itu, warna ungu jadi warna yang ia angkat dalam 6 set koleksi busana karyanya.

Sifon, silk, print, dan lame adalah material yang dipilih Kanaya Tabitha untukmini koleksinya. Ia mewujudkan warna emas dengan interpretasi sebuah kesempurnaan. Mungkin sebuah keindahan yang berbalut nuansa glamour. Tidak tanggung-tanggung, ia mewujudkan warna emasnya dengan taburan crystal swarovski pada 6 busana rancangannya.

****

Pada hari kedua itu sebenarnya saya lihat 2 show. Yang satu adalah Grazia Glitz and Glam awards. Tapi jujur saya nggak terlalu ingat detail gimana shownya, saat itu saya juga sama sekali tidak mengabadikan gambar karena sudah terlanjur duduk manis bersama Abang saya di kursi tamu undangan. Tapi, kalau Grazia Glitz and Glam Awards diadakan sebelum IPMI “Color Me Life”, ada juga fashion show yang diadakan setelah IPMI, yakni fashion show tunggal dari Batik Danar Hadi.
Saya melewati fashion show Danar Hadi tersebut. Setengah males, dan saya juga memilih untuk menemani seorang teman yang kakinya terkilir seusai fashion show IPMI “Color Me Life. Saya menemani dia mencari obat sampai dijemput oleh supirnya. Setelahnya ada lagi teman saya yang kakinya berkali-kali keram sesaat sebelum show, saya kembali menemani dia ke minimarket obat yang ada di Pasific Place. Sesudah itu semua, fashion show sudah dimulai, saya tidak bisa masuk kedalam. Nggak apa, bagi saya nggak masalah. Teman yang lagi susah lebih penting daripada deretan baju yang akan dipamerkan, ya kan?.

IPMI Trend Show 2012 Hari Kedua

Setelah sekian lama akhirnya part ini tersambung lagi. Kali ini ada Tuty Cholid, Era Soekamto dan Barli Asmara

Tidak ada yang lebih saya ingat pada IPMI Trend Show 2012 hari kedua selain ruang Assembly Hall yang kosong lebih dari sepertiganya disaat jadwal Fashion Show pertama telah berlalu sekitar 20 menit. Saat itu saya agak bingung, harus senang atau sedih. Senang karena ternyata saya tidak terlambat sama sekali padahal saya datang ketika seharusnya show telah berjalan selama 5 menit. Atau sedih karena ternyata penyelenggara tidak belajar dari pengalaman hari sebelumnya yang juga ngaret lumayan lama. Tapi yang jelas kekosongan ruang assembly ini sukses bikin saya cengok, karena,

“Ulalaaaa….20 menit ngaret dan boro-boro ada tanda-tanda di mulai, keisi tiga perempatnya aja belum!”.

Saya sebenarnya nggak ngerti juga kenapa bisa sampai seperti itu. Mungkin ada misscomunication diantara beberapa pihak penyelenggara, atau memang karena faktor X yang menyebabkan show itu telat. Bagi saya itu cukup luar biasa, ketika 20 menit jadwal show yang sebenarnya telah berlalu dan ternyata masih banyakkkk kursi kosong. Karena biasanya, meski terjadi keterlambatan jadwal show(dan itu sangat sering terjadi) kursi kosong di dalam ruang utama diselenggarakannya show tidak sampai sebanyak itu.

Setelah penantian cukup panjang yang saya isi dengan mendengarkan playlist di handphone saya dan membaca berulang-ulang rilis yang saya terima, akhirnya Fashion Show pertama dimulai pada entah menit keberapa lewat dari jadwal seharunya.

Diawali dengan koleksi busana dari Era Soekamto dan secara berturut-turut diikuti oleh penampilan koleksi terbaru dari Tuty Cholid dan Barli Asmara. Dan saya akan menceritakannya satu persatu.

Swargaloka by Era Soekamto

Pertama kali mengenal karya rancangan dari Era Soekamto sekitar 2 tahun lalu pada Jakarta Fashion Week 2009, saya segera mendapatkan kesan berani, rebel, dan sexy bahkan cenderung menantang dari setiap potong busana rancangannya.

Pada koleksi kali ini Era Soekamto terinspirasi dari kecantikan alami wanita Indonesia, khususnya kecantikan wanita Bugis dan Jawa. Memberi judul “Swargaloka” pada koleksinya kali ini Era membawa cerita tentang sebuah surga yang selalu berusaha diciptakan atau ditemukan oleh setiap wanita Indonesia dalam keberagaman budaya yang mereka miliki. Surga yang bagi Era sejatinya selalu ada dalam diri setiap wanita.

Lewat “Swargaloka”, Era Soekamto mengawinkan dua kebudayaan berbeda, yakni Bugis dan Jawa yang dihadirkan melalui percampuran teknik lilit khas kedua kebudayaan tersebut.

Menggunakan kain tenun Sulawesi Selatan, dengan amateri ATBM dan chiffon, Era Soekamto menampilkan beragam koleksi busana seperti gaun panjang dan gaun pendek yang memiliki silluet tradisional dalam busana khas ala Era Soekamto yang sexy, dan terkesan menabrak batas-batas dalam berbusana. Melalui koleksi rancangan ini, Era Soekamto membuat baju-baju yang tetap terasa sangat tradisional tampil lebih berani.

Baine Gammara by Tuty Cholid

Masih dengan mengambil inspirasi dari kecantikan alami wanita Sulawesi Selatan. Tuty Cholid menamai koleksinya “Baine Gammara” atau yang berarti wanita cantik dalam bahasa Sulawesi Selatan. Dan masih dengan mengusung kain tenun ikat, sungkit, dan ATBM Sulawesi Selatan, Tuty Cholid menghadirkan silluet busana tradisional baju bodo dari suku Bugis yang tidak lain adalah suku asli Sulawesi Selatan.

Jangan heran, mengapa Sulawesi Selatan kembali muncul di rancangan Tuty Cholid setelah sebelumnya muncul di rancangan Era Soekamto. Hal ini idak lain karena dua desainer ini adalah salah dua desainer yang dipilih bekerjasama dengan pemerintah daerah Sulawesi Selatan untuk turut mengeksplorasi kain tenun khas Sulawesi Selatan.

Namun jika pada rancangan Sulawesi Selatannya Era Soekamto lebih memilih warna-warna yang cenderung “aman”, Tuty Cholid mencoba sedikit bermain-main dengan warna-warna terang seperti shocking pink, bottle green, tosca, dan emas. Gaun panjang, gaun pendek, blazer, rok, celana panjang, dan kemeja yang sarat nuansa etnik pun menjadi andalan Tuty Cholid dalam rangkaian koleksi teranyarnya ini.

Natural Bond Beauty by Barli Asmara

Nude. Seolah satu kata itulah yang bagi saya menggambarkan koleksi busana dari Barli Asmara. Hal itu bukan tanpa alasan, karena desainer yang baru bergabung dengan IPMI pada tahun 2010 silam ini menyajikan semua busana yang dipamerkannya saat itu dalam warna-warna nude, atau warna yang menyerupai warna kulit coklat muda. Didapuk sebagai desainer penutup dalam rangkaian IPMI Trend Show 2012, Barli yang selama ini lebih dikenal dengan koleksi gaun-gaun cantiknya mengusung “Natural Bond Beauty” sebagai sebuah tema besar dalam koleksi teranyarnya.

Koleksi dari Barli Asmara ini mungkin akan terkesan membosankan jika saja Barli tidak bermain dengan dengan teknik Macrame, yakni sebuah teknik tali temali yang pengerjaannya memiliki tingkat kesulitan tinggi. Dan di teknik macramé inilah daya tarik paling besar dari koleksi Barli Asmara kali ini. Seru rasanya, saat kita memperhatikan satu persatu koleksi busana yang ditampilkan dan melihat secara seksama dan teliti setiap detail tali temali yang ada di dalamnya. Sebuah kerumitan yang sangat menarik.

Untuk materinya sendiri, Barli menggunakan benang pita untuk dijadikan tali temali yang kemudian di macramé secara handmade. Dalam koleksi ini, Barli juga memadukan kecantikan alam, eksotisme, serta nilai-nilai tradisional dan tentunya teknik pengerjaan dengan kesulitan tingkat tinggi. Gaun panjang, gaun pendek, gaun asimetris, gaun one shoulder yang selama ini kerap jadi andalan Barli, kembali ditampilkan dalam keindahan natural bersimpul-simpul yang unik dan rumit.