Chateau Fleur : Panggung Magis Peragaan Busana Tunggal Perdana Hian Tjen

Agaknya benar bila perputaran kreator di dunia mode begitu dinamis. Setiap jeda waktu pasti ada saja bibit-bibit baru bermunculan dan memamerkan karya. Darah-darah muda yang masih menggelorakan semangat dalam mencipta menawarkan warna berbeda atau setidaknya warna serupa yang dikemas sedemikian rupa hingga tidak lagi sama. Salah satunya Hian Tjen, desainer muda yang baru genap menapak kepala tiga beberapa waktu lalu.

Simona, Hian Tjen, Paula Verhoeven (Kiri-Kanan)

Simona, Hian Tjen, Paula Verhoeven (Kiri-Kanan)

Saya hampir lupa kapan terakhir menjejakan kaki di tempat peragaan busana, menyaksikan satu persatu model yang wajahnya sudah sangat familiar melenggak-lenggok di atas catwalk. Seingat saya, itu pun kalau tidak salah, sekitar bulan Februari lalu ketika perhelatan Indonesia Fashion Week menjadi agenda terpenting di dunia mode Indonesia. Tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, saat Indonesia Fashion Week tempo lalu saya hanya datang pada dua peragaan busana, salah satunya peragaan busana penutup. Semenjak kuliah saya semakin padat, saya memang tidak lagi bisa berlama-lama atau menyempatkan banyak waktu untuk wara-wiri di berbagai peragaan busana Ibu Kota. Walhasil, selain sering ketinggalan beragam perkembangan, saya jadi begitu merindukan suasana peragaan busana, dan merindukan teman-teman yang biasa saya temui di kursi tamu, photographer pit atau belakang panggung.

Terkejut dan bersemangat. Dua perasaan itu sama-sama muncul dalam benak saya ketika mengetahui Hian Tjen akan melaksanakan peragaan busana tunggal perdana. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah sebegitu lamanya saya absen dari perkembangan mode Indonesia hingga tahu-tahu, Hian Tjen yang masih saya bayangkan sebagai salah satu desainer muda sudah memantapkan diri mengadakan peragaan busana tunggal. Tanda eksistensi dan pengukuhan posisinya di dunia mode.

Sapaan hangat salah satu Tim Muara Bagdja yang sayangnya saya lupa namanya tetapi ingat benar perawakannya terasa begitu menyenangkan saat tiba di depan Dian Ballroom Hotel Raffles. Saya senang karena ia masih mengingat saya meski sudah cukup lama absen hadir dalam sebuah peragaan busana. Begitu pula pelukan hangat dari Mas Gita dan Mbak Alvie dari Tim Muara Bagdja yang seolah menebus satu persatu rasa rindu. Saya merasa luapan keakraban yang telah lama absen. Setelah bercakap-cakap sebentar dan mencicipi hidangan makanan lezat Hotel Raffles saya melanjutkan langkah kaki memasuki Dian Ballroom, tempat berlangsungnya peragaan busana tunggal Hian Tjen.

Drina Ciputra. Model Pembuka "Chateau Fleur".

Drina Ciputra. Model Pembuka “Chateau Fleur”.

Chateau Fleur.

Chateau Fleur.

Advina Ratnaningsih. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Advina Ratnaningsih. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Nuansa muram menguar kencang saat saya memasuki Dian Ballroom. Sinar lampu temaram dan asap tipis serupa kabut lembut mengepung seluruh ruangan. Suhu rendah dari pendingin ruangan menyapu pelan permukaan kulit, dan dingin semakin terasa menembus nyaris ke tulang saat semakin lama duduk diam bersama kamera kesayangan, menunggu peragaan busana dimulai. Dalam tenang saya mengamati sekeliling ruang. Dari tempat saya duduk, tepat di depan lintasan panggung peragaan busana, saya dapat melihat dekorasi berupa sebuah meja makan panjang nan megah berdiri kokoh ditengah ruangan. Meja tersebut dikelilingi kursi-kursi yang berjajar namun terkesan ditata sembarang. Di atas meja tampak dekorasi lilin, dan benda-benda asing yang tidak semestinya ada di atas meja makan. Sungguhan seperti kerangka kepala rusa, bunga-bunga liar, dan tetumbuhan menjalar mengesankan meja tersebut lama ditinggalkan.

Meluaskan pandangan, bola mata saya tertambat pada dekorasi serupa tembok-tembok tebal yang usang. Anggun dan pongah disaat bersamaan, seperti bangunan-bangunan peninggalan era kolonial yang terbengkalai di daerah Kota Tua, atau seperti gambaran tentang kastil-kastil kuno dan berhantu dalam cerita-cerita horor barat klasik. Dinding yang terkikis, bata-bata bersembulan, sulur-sulur dari tumbuhan menjalar, warna cat yang jadi sulit terdeteksi warna aslinya, semua lebur jadi satu. Belum lagi sinaran tata lampu ruangan yang memancarkan pendar temaram diselingi bias cahaya merah, yang tersisa di ujung lidah saya hanya tinggal satu kata, magis.

Saya masih terpesona ketika suara Master of Ceremony menggema. Ia lalu menjelaskan latar belakang peragaan busana dalam bahasa Inggris fasih dan pelafalan judul peragaan busana dalam Perancis yang legit. Temaram lampu ruangan digantikan sebuah titik tembak yang tahu-tahu ada di ujung kiri lintasan panggung peragaan busanaa. Dan lagi-lagi, saya seakan terhipnotis saat Drina Ciputra melesat masuk sebagai model pembuka peragaan busana “Chateau Fleur”.

Mengumpamakan peragaan busananya layaknya sebuah lakon, Hian Tjen mendongengkan sebuah kisah yang mungkin telah lama mengusik kepalanya. Tanpa mengawalinya dengan kalimat “Once upon a time”, Hian langsung mengajak kita masuk ke dalam sebuah adegan yang dalam bayangan saya adalah perjamuan di sebuah kastil antah berantah. Di dalam perjamuan itu kemudian ia bercerita tentang dua sifat manusia yang rasa-rasanya selalu membuatnya terkesima. Si cantik bertabiat buruk dan si rupawan berwatak baik. Keduanya saling berkilatan, muncul berdampingan, menawarkan pesona yang sama-sama memabukan.

Wita Juwita. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Wita Juwita. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Paula Verhoeven. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Paula Verhoeven. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Selma Abidin. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Selma Abidin. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Membagi peragaan busananya dalam dua sekuens, “Evil Stalked The Night” merajut kisah yang meremangkan bulu roma di atas panggung peragaan busana. Alunan musik syahdu yang kadang terdengar menyeramkan mengiringi para model membawakan  busana dengan dominasi warna merah dan hitam. Melalui dua warna yang dimunculkan, Hian merepresentasikan bahwa merah mengandung kebengisan dan hitam menampilkan sisi gelap sekaligus jahat dari diri manusia. Kedua warna tersebut diibaratkan Hian sebagai irisan hati yang palsu dari perempuan yang tetap mampu memancarkan keindahan meski terbalut kejahatan.Siluet sederhana namun terkesan elegan membalut tubuh para model dalam potongan busana gaun pendek mau pun panjang, terusan bervolume kaya wiru, hingga ballgown. Permainan detil yang tanpa malu-malu ditunjukan Hian menjadikan keseluruhan koleksi pada sekuens pertama ini terlihat kompleks.

Sebagai sekuens pembuka “Evil Stalked The Night”  sukses merepresentasikan keinginan Hian untuk menyajikan sisi kelam keindahan. Potongan-potongan busana yang bisa jatuh terasa “biasa saja” dan telah berulang ditampilkan desainer mode lain, ditangannya tampil dengan suatu muatan yang terlalu kuat mendatang imej baru. Ambil contoh begini, gaun panjang dengan potongan dada yan begitu rendah, gaun panjang dengan tekstur bahan ringan melambai dengan belahan kaki hingga atas paha, atau gaun pendek dengan bulu-bulu unggas tentu bukan barang baru di dunia mode, namun dengan dramatisasi atmosfer yang diciptakan pada peragaan busana seakan menghapuskan rasa de javu yang mungkin tercipta. Satu-satunya yang sedikit mengusik pikiran saya hanya potongan ingatan yang terus berseliweran tentang film Black Swan dan Maleficent yang memiliki “cita rasa” serupa.

Christina Borries. "Love Will Bring The Joy", Chateau Fleur.

Christina Borries. “Love Will Bring The Joy”, Chateau Fleur.

Simona. "Love Will Bring The Joy", Chateau Fleur.

Simona. “Love Will Bring The Joy”, Chateau Fleur.

Katya Talanova. "Love Will Bring The Joy", Chateau Fleur.

Katya Talanova. “Love Will Bring The Joy”, Chateau Fleur.

Bertolak belakang 180 derajat dari sekuens pertama yang kental akan suasana muram dan menakutkan, “Love Will Bring The Joy” menawarkan utopisme yang membuai hati. Pada sekuens ini sang desainer mengisahkan balada tentang cinta dan kebajikan yang selalu ada pada setiap diri manusia. Paparan tentang kebahagiaan yang selalu jadi sisi menyenangkan dari kehidupan ia hadirkan melalui warna-warna pastel seperti baby blue, krem, putih, hingga warna keemasan dalam busana-busana yang bersiluet jubah, gaun panjang, gaun midi, busana bervolume, terusan pendek, hingga busana yang ketat memeluk tubuh. Bagi saya sekuens kedua ini serupa lagu pengantar tidur yang menenangkan. Membawa saya ke satu kisah mimpi yang tidak ingin diakhiri meskipun harus saya akui terlalu membuai-buai sampai-sampai pada beberapa momen saya nyaris mengantuk. Mungkin ini pengaruh dari tata musik yang mengalun pelan dan alur keluar para model yang lamat-lamat. Saya jadi membayangkan, seandainya saja musik lebih memiliki tempo dan nuansa benar-benar dijungkirbalikan jadi riang gembira, mungkin akan lebih menyegarkan mata.

Mengingat kembali keseluruhan sekuens kedua, saya merasa bahwa ada beberapa pesan yang jadi kurang tersampaikan jika merunut dari sisi cerita yang ingin ia bawakan. Hal ini mungkin saja disebabkan terlalu kuatnya atmosfer di sekuens pertama sehingga “Love Will Bring The Joy” kurang membawa kebahagiaan seperti yang semestinya terjadi. Namun konsistensi busana-busana yang disajikan Hian perlu diapresiasi. Ia mampu membuktikan ajegnya benang merah keseluruhan busana sehingga saya masih dapat merasakan kesamaan garis besar gaya rancangannya meski dalam dua sub-tema yang hampir berlainan sama sekali.

Di dua sekuens peragaan busananya, Hian menggunakan variasi bahan duchess, scuba, crepes, serta tule berlipit-lipit. Aplikasi detil rumit pada beberapa bagian busana dikreasikan dari bulu-bulu unggas dan hewan lainnya. Menilik lebih jauh tentang detil potongan busana milik Hian, kita dapat pula menjumpai aksesoris yang menyerupai serangga maupun detil yang terbentuk dari susunan manik-manik yang dijalin sedemikian rupa. Meski memiliki kompleksitas tinggi, keseluruhan karya Hian tidak juga jatuh sebagai “busana pajangan” atau busana yang terlampau “berat” berkat keseimbangan yang dimainkan sang kreator. Hian Tjen terasa arif dalam memberikan porsi kerumitan busana, ia tidak serta merta berambisi menjadikan busana-busananya grande dengan detil njelimet sana-sini, ketika sudah ada detil-detil yang terlampau rumit pada bagian-bagian tertentu busana, ia akan membiarkan bagian lainnya tampil polos sehingga terasa lebih pas.

Merangkumkan keseluruhan kesan atas peragaan busana tunggal “Chateau Fleur” lebih dari memenuhi standar ideal peragaan busana, terutama peragaan busana tunggal, bagi saya. Peragaan busana yang bagus adalah peragaan busana yang mampu menutupi kekurangan koleksi yang ditampilkan atau menyempurnakan keindahannya. Bagi saya Hian  cerdas, ia mampu membangun atmosfer yang sangat pas dan begitu kuat pada peragaan busana tunggal perdananya. Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar setidaknya para tetamu undangan yang hadir di malam itu mudah mengingat peragaan busana debutnya. Dengan menyaksikan peragaan busana “Chateau Fleur” saya serasa menghadiri sebuah pertunjukan teatrikal yang bercerita. Berkesan untuk dikenang.

Part 2 Untold Stories Batik Summit ; Tiga..Dua..Satu..Models!

Saat para model mulai berseliweran di atas catwalk, yang dibelakang panggung ngapain?

Para model yang sudah lengkap mengenakan rancangan Cossy Lattu. Foto oleh Andreas Dwi

Kamu yang mungkin lebih terbiasa menyaksikan sebuah fashion show dari depan panggung sembari duduk manis di kursi-kursi yang telah disediakan si empunya acara, atau kamu yang mungkin terbiasa menonton sebuah fashion show dari layar kaca di rumah, atau kamu yang mungkin terbiasa memandangi gaya para model yang tengah berjalan di atas catwalk di halaman-halaman majalah, mungkin melewati sisi lain yang tidak kalah pentingnya dalam subuah fashion show. Sisi lain dari bagian lain dalam sebuah fashion show. Sisi lain dari bagian belakang panggung.

Apa yang sedang terjadi dibelakang panggung saat para model satu persatu berjalan dengan anggun atau gagahnya di atas catwalk?. Dan, apa yang dilakukan para model itu sebelum melangkah dengan penuh gaya di lintasan catwalk?.

Mari kita putar lagi waktu seperti di cerita sebelumnya. Waktu disaat Gue…

Masih dengan mengalungkan tali kamera di leher, Gue pun memutuskan keluar dari ruangan model Grup A&D setelah sang queuer mengumumkan satu kalimat penting,
“Ayo model siap-siap!”.
Sebenernya, Gue punya pilihan untuk stay di dalem ruangan, tapi gimana ya?. Gue masih nggak enak aja ngeliatin model-model ribet ganti baju. Takut bikin tambah ribet juga kan dengan keberadaan Gue disitu, jadilah Gue keluar sebentar dan nunggu para model selesai ganti baju, atau seenggaknya sampai mereka sudah pakai baju inti.

“Mbak bantuin aku, ini susah make nya” … “Hephhh…mbok kamunya diem dulu,jangan gerak-gerak”

Setelah Gue yakin semua model sudah selesai ganti baju, seenggaknya baju inti, Gue pun kembali masuk ke dalam ruangan model Grup A&D. Dan ternyata disana masih sibukkk ini itu. Para model dibantu beberapa fitter sibuk mengenakan berbagai aksesoris pelengkap, dan juga bagian-bagian tambahan dari busana yang nantinya akan mereka bawakan di atas catwalk.

“Mas itu topi saya”…”Bukan Mas Itu topi saya”…”Eh salah, itu topi saya”…”Jangan pada rebutan deh, mending saya bawa pulang aja topinya!”

Tapi hal itu nggak memakan waktu terlalu lama, karena sebentar saja mereka sudah segera siap dengan busana lengkap. Dan memang proses ganti baju itu nggak boleh makan waktu lama, mereka harus memangkas waktu seminim mungkin untuk tampil kembali dengan outfit lain.

“Ini shephatu shayah bhukan sih?, kok shempit ya?”

Itu juga yang akhirnya memunculkan anggapan kalau model itu ganti baju dimana aja nggak peduli ada banyak orang disana. Ya padahal sih, bukan dimana aja juga, nggak mungkinlah para model itu asal ganti baju ditempat sembarangan. Mereka pasti ganti baju di ruang backstage yang sudah sejak awal disediakan untuk ganti baju para model.

“Aku udah cantik kan?, udah dong?, udah ya pastinya”

Dan kalau pun ada banyak orang disana, tentunya bukan orang-orang sembarangan yang main asal masuk, karena orang-orang yang masuk ke ruang itu pastilah orang-orang yang memang berkepentingan. Lagipula, nggak bisa sembarangan “orang asing” masuk backstage tanpa id pengenal. Gue sendiri pun sempet “kena” saat berniat melihat ke ruangan Grup model lain, belum apa-apa salah seorang crew langsung negur Gue,
“Lagi pada ganti baju Mbak!”. Dan Gue pun langsung menyingkir dari bagian itu tanpa babibu. Id Gue yang All Acsses nggak ngaruh ternyata.

Semua model cowok Grup A&D, “Kita udah ganteng semua nihhh…:D”. Foto oleh Andreas Dwi

Tebak, siapa yang pose nya paling hitz?. Desainernya dong! 😀

Meski sudah pakai baju lengkap beserta aksesorisnya dan dapat dipastikan mereka sudah siap tampil, para model masih harus sedikit bersabar menunggu giliran sequens kemunculan. Sequens ini tergantung urutan baju desainer mana yang akan ditampilkan duluan. Disaat-saat menunggu ini, mereka amat sangat tidak disarankan untuk lengah dan bengong-bengong bingung.

Hendy Bramantyo, “Hmmm ini udah sampe mana ya?. Giliran Gue masih lama nggak ya?”

Para model diharuskan tetap berkonsentrasi dengan jalannya fashion show dan juga selalu mendengarkan setiap arahan sang queuer, Karena kalau sampai mereka tiba-tiba “blank”, jalannya fashion show dapat dipastikan langsung kacau. Nggak lucu kan misalnya ada model desainer sequens ke 4 yang tiba-tiba muncul di desainer sequens 2. Tapi memang untuk urusan satu ini diperlukan kerjasama yang klop dari queuer dan model, nggak bisa hanya membebankan ke salah satu pihak aja.

“Model!. Ayo model!”,

Adalah instruuksi pamungkas dari queuer yang langsung membuat para model bergegas keluar dari ruang grup mereka dan berbaris dengan rapinya sesuai urutan tepat di sisi tangga belakang panggung utama. Disana mereka masih harus menunggu sejenak sampai instruksi selanjutnya dari sang queuer yang kali ini menandakan giliran si model untuk tampil di atas catwalk tiba.

“Nih aku bilangin, kamu jangan tegang yaaa”…”Iya Mbak, aku nggak tegang kok, cuma deg-deg an”

Ditengah suasana tegang menunggu giliran tampil di catwalk, serta konsentrasi penuh menunggu instruksi queuer, para model teteuuppp langsung pasang pose kece saat lensa kamera Gue arahkan ke mereka.

“Meski tegang, yang penting harus tetap POSE!”. Foto oleh Andreas Dwi

Instruksi demi instruksi dari queuer terdengar, para model pun secara teratur melenggang di diatas catwalk sesuai giliran desainer masing-masing. Namun keribetan masih terus terjadi hingga di sequens terakhir. Para model harus segera berganti baju secepat kilat dan tampil kembali membawakan outfit selanjutnya. Ruang Grup model pun kembali ricuh, sibuk ambil ini itu, sibuk pasang ini itu, sibuk dan sibuk sambil terus pasang kuping mendengar arahan queuer.

“Ehhh udah giliran kita belum sih?”

Pada sequens terakhir, barulah mereka bisa sedikit lega, karena rangkaian fashion show akan segera selesai setelah parade puncak, The Finale!. The Finale adalah salah satu prosesi keramat yang paling ditunggu-tunggu oleh segenap crew dan seluruh model yang terlibat dalam sebuah fashion show. The Finale yang menandakan fashion show segera usai tentu sangat melegakan mereka yang sudah seharian menjalankan tugas. Yap!, The Finale adalah akhir dari sebuah fashion show. The Finale juga akhir dari pekerjaan para model untuk hari itu. Tapi The Finale adalah sebuah awal efek yang ditimbulkan saat sebuah fashion show usai.

-Tob Be Continue-

Part 1 Untold Stories Batik Summit ; Curhat Belakang Panggung

Nunggu?, siapa takut?. Hmmmm…tapi jangan lama-lama bisa?.

 

Prolog:
Gala dinner dan fashion show sukses. Tamu undangan meninggalkan tempat acara dengan wajah senang dan perut kenyang. Mungkin beberapa diantaranya juga ada yang langsung berpikir serius untuk membeli satu, dua, atau beberapa rancangan yang mereka suka. Mungkin mereka jatuh cinta dengan motif indah, silluet cantik, atau kesempurnaan tampilan saat si rancangan itu dikenakan para model nan rupawan. Sementara itu, dua setengah jam berlalu membawa harapan besar bagi si penyelenggara. Mulai dari pengakuan dunia internasional terhadap batik Indonesia, sampai harapan semakin banyak investor asing atau siapa aja deh yang punya dana agar bisa ikut terlibat aktif dalam pelestarian budaya bangsa satu ini. Pelestarian budaya yang tentunya nggak makan dana sedikit, sehingga partisipasi dari mereka yang punya duit sangat diharapkan. Rupa serta pikiran tamu undangan yang datang sudah digambarkan, harapan dari si penyelenggara sudah direkakan, acarapun sudah usai diselenggarakan. Terus apa dong?, selesaikah ceritanya?. Tentu aja enggak, karena…

Mari kita putar waktu ke 11 jam sebelum acara Gala dinner dan fashion show dimulai. Mari kita fokuskan ke….Erhmmm ke Gue yang baru sampe tempat acara setelah berjuang melawan diare yang kambuh di malam sebelumnya.

Sampai tepat di depan pintu masuk JCC alias Jakarta Convention Center sekitar jam 08.30 bikin Gue merasa amat sangat bersalah karena seharusnya Gue sampai satu jam sebelumnya kalau memang disesuaikan dengan rencana awal. Namun apa daya saat itu memang salah Gue yang terlalu lelet dan  perut memang sedang susah diajak kompromi sejak malam sebelumnya. Gue kira, Gue udah jadi orang paling berdosa karena telat dari waktu semula, tapi ternyata Gue salah, karena para model yang akan terlibat di fashion show malamnya pun baru saja mendarat satu persatu. Itu cukup bikin Gue lega sedikit, karena seenggaknya Gue nggak kelewatan prosesi GR a.k.a Gladi Resik.

Ocha From JIM, “Ini kipas lumayan juga secara disini dingin-dingin gerah”

Yakub GR, “Ini shayah jhalannya udah betul belum yah?”

Setelah para crew selesai mempersiapkan ini itu, dan setelah para model telah mendarat semua ke TKP utama, yakni Cendrawasih Hall JCC, GR pun dimulai. Di belakang panggung, para model udah baris berbaris dengan cantiknya menunggu giliran keluar dan berlenggok diatas catwalk sembari mendengar arahan dari sang koreografer, Panca Makmun.

Finale GR at Batik Summit…”Ayo jangan sampe salah ya” :p

Setelah GR dimulai, tibalah saat dimana para model sesi couple menunaikan tugas GR nya. Dan di saat itu ada kejadian yang Gue inget banget. Setelah satu dua model couple a.k.a pasangan jalan di catwalk, tibalah saat pasangan yang ceweknya adalah salah satu model nomor satu di Indonesia. Tak tik tuk tik tak tik tuk mereka jalan berdua, sampai di 3/4 lintasan catwalk, terdengarlah suara,
“Yah kurang romantis, yang lebih romantis dong”.

Dominique&Holly Feriston “Kita romantis juga ya”…”Eyimmm…”

Si model cowok pun terlihat agak bingung mendengar ucapan itu. Dengan wajah “Gimana nih?”, dia pun liat-liatan sama si model cewek yang jadi pasangannya. Rupanya, si model cewek ini sadar banget kalau si model cowok yang jadi pasangannya kebingungan. Dan langsunglah dia bilang,
“Lahhh kan situ lakinya!. Gimana sih?”.
Hahahahaaa…LOL :p.

Cute Baby Girl yang guling-gulingan di Backstage :D. “Pap Papp Pappapapaaap…”

Di waktu lain saat prosesi GR masih berlangsung, ada hal yang justru menarik perhatian Gue dibelakang panggung, yakni seorang bayi perempuan berwajah bulat yang disaat para model tengah sibuk menanti giliran, si baby girl ini malah asik guling-gulingan dengan wajah menggemaskan. Usut punya usut, ternyata si baby girl ini adalah anak dari salah satu model cowok bule ganteng yang akhirnya setelah GR selesai di ruang make up sedikit curhat dengan logat yang khas kalau,
“Erghttt rephot bhawa dia. Rhewelll shekhali, mintha perhatian therhus. Khalau engghak, dhia nangis…OeeeOoeeee. Dhan dia ithu berat, shephuluh khilo!. Ughhttt berat, hmmm….thapi sudhah turun sih beratnya waktu dia shakit, jhadi 9 khilo”.

Si model cowok bule yang gantengnya bikin meleleh itu pun cerita dengan semangatnya, dan Gue mendengar dengan setengah bingung, serta bertanya-tanya dalam hati, “Ini kenapa jadi sesi curhat ya?”.

“Show nya lhamaaa yaaa”…”Udah deh ih, sabar aja”

Nah, jangan sedih, sesi curhat belakang panggung nggak cuma milik si model bule yang ganteng itu. Masih dari ruang make up, ketika Gue sedang cari-cari objek foto dan clingak-clinguk kanan kiri, seorang model bule, kali ini cewek, pun berjalan cepat dengan muka kusut sambil menggerutu yang kurang lebih intinya gini,
“Ini gimana sih?, nggak bener ini, Gila!…Hrrrr…”.

Adegan ini sempet jadi slow motion di kepala Gue. Gue inget banget tuh gimana muka jutek dan nggak ngenakin si model. Tapi ya, Gue bingung juga sama itu model bule, perasaan Gue model yang lain anteng-anteng aja, kenapa doi kesel sendiri?. Dan Gue pun berpikir mungkin dia bete kali ya kelamaan nunggu antri buat make up, atau mungkin dia lagi PMS, jadi sensi deh.

Katya Talanova, “Hmmmm…saya make up sendiri aja deh, kece juga kan?”

Whulandari dan Dinda “Saling bantu ya…yiukkk”…”Yiukkk mari bantu dibantu” .Foto oleh Andreas Dwi

Ngobrol+main BB=Cara efektif membunuh waktu dikala nunggu, “Wah banyak BBM nih”

Lama nunggu, akhirnya sampe merem-merem sendiri :p

Karena banyaknya model dan terbatasnya tenaga make up artist, sekitar 1:3, para model pun diharuskan sabar menanti giliran make up dan hair do. Saat giliran menanti itulah, akhirnya beberapa model memutuskan untuk memberikan polesan dasar sendiri di wajahnya, yang nantinya akan semakin dipercantik oleh sang make up artist.

Saat menanti giliran itu juga, beberapa model lain mengkikis waktunya dengan berbagai cara, ada yang asik mainin iPad, ada yang ngerumpi bergerombol, ada juga yang cuma duduk manis sambil liat kanan kiri. Sementara Gue ikutan duduk manis sambil tetep clingukan tengok kanan kiri sembari berjaga-jaga kalau ada kejadian menarik. Disaat itulah tiba-tiba salah seorang model newcomer yang karirnya sedang kinclong di tahun ini berkata pada Gue,

“Aku mah nggak bisa tuh duduk manis kayak gitu”,
“Hmmmm…Kenapa?, bagus lagi, anteng. Kan R juga kayak gitu”, bales Gue sambil ngelirik ke arah yang dimaksud dengan sedang “duduk manis kayak gitu” itu.
“Tapi itu keliatan jaga imej banget, tuh liat cara duduknya, tangannya juga. Ya nggak apa-apa sih, tapi kalau aku mah nggak bisa. Pasti ngobrol-ngobrol…hehehe”,sambung teman ngobrol Gue sambil cengar cengir.

Gue pun semakin ngelirik si model yang sedang “duduk manis kayak gitu”, kebetulan si model yang sedang “duduk manis kayak gitu” itu adalah si model bule ganteng yang punya baby girl. Gue pun nyeletuk untuk terakhir kalinya ke temen ngobrol Gue,

“Ah, nggak apa-apa lah. Yang penting ganteng”.
“Yeeehhhhh dasarrrr Nina”, dan temen ngobrol Gue si newcomer itu pun melengos males denger celetukan terakhir Gue.

Setelah beberapa lama, akhirnya Gue pun meninggalkan ruang make up untuk ambil foto para pengisi acara yang terdiri dari anak-anak sekolah di luar. Gue seneng banget ambil foto anak-anak sekolah ini, mereka kelihatan semangat banget, meski Gue tau pasti capek juga udah dari pagi sampai malem ada di tempat itu.

Grup anak-anak sekolah bersama beberapa crew seusai tampil

Evaluasi dengan Tara Makmun setelah tampil

Nah, ngomongin anak-anak sekolah, ada juga nih kejadian lucu yang Gue denger dari temen Gue, tapi Gue lupa siapa yang cerita ya?. Jadi gini, dari grup anak-anak sekolah itu, dibagi 3 kategori, anak SD, SMP dan SMA. Disaat mereka sedang nunggu waktu tampil, duduk-duduk manis lah mereka di ruangan yang sudah disediakan khusus.

Gaya gokil Kimmy Jayanti from Look Inc, “Ngookkkk”

The Gorgeous Dominique Diyose, “Haiii Hallooo”.

Prinka Cassy, “Lihat!. Poni ku lucuuuu”. 😀

Suatu ketika di grup anak-anak SD, tirai penutup ruangan terbuka, dan kebetulan ada beberapa yang sedang melihat ke luar tirai itu. Pas banget dia ngeliat ke luar, lewatlah satu persatu para model TOP. Dominique lewat…mereka bengong, Kimmy lewat…mereka makin bengong, Prinka Cassy lewat…mereka masih bengong ngeliatin, model-model cowok bule lewat…mereka semakin bengong dan tambah nggak kedip, sampai muncullah sebuah suara entah dari mana,
“Woiii biasa aja kali ngeliatnya!”.

Huahahahahahahahahaaaaa….

Haduuhhhh Gue jadi ngebayangin kalau seandainya Gue ada di posisi mereka, kayaknya Gue juga bakal terbengong-bengong ngeliatin para model dengan tampilan nyaris perfecto itu pada seliweran. Dan itu wajar banget, secara kan jarang-jarang bisa ngeliat model-model kece seliweran…heheheee.

Akhirnya dengan masih nenteng-nenteng kamera Gue pun balik lagi ke backstage sambil terus celingak-clinguk sana-sini sembari jaga-jaga siapa tau ada yang menarik untuk di foto. Gue sempet intip ke ruangannya Mas Tara Makmun, disana Gue liat beliau lagi sibuk membicarakan sesuatu sama salah satu crew dengan seriusnya.

Sibuk atur ini itu

Meski sibuk, tapi langsung pose begitu di foto 😀

Nggak jauh beda dari ruang Mas Tara, di ruangan crew beberapa orang juga terlihat sibuk. Ada queuer model yang sibuk bacain jadwal, dan nampak pusing, ada crew yang bantuin ngeliatin jadwalnya juga ikut pusing, dan ada salah satu model yang lagi (sepertinya) betulin make up disana sini dengan sibuknya, intinya, di ruang crew ini tampak sibuk juga. Tapi saat Gue masuk sebentar untuk ambil foto, satu…dua…tiga…dan yakkk mereka semua langsung bergaya di depan kamera :D.

Crew penjaga di depan ruang model grup A&D

Pindah dari ruang crew, Gue masuk ke ruang model di Grup A&D. Disana para model sedang nunggu fashion show dimulai sambil ngobrol-ngobrol. Karena beberapa model sudah Gue kenal baik, ikutlah Gue nimbrung disitu, dengerin mereka ngobrol-ngobrol, sambil ikutan juga tentunya.

Ngobrol rame-rame ngilangin bosen

Menurut jadwal, seharusnya fashion show sudah dimulai, tapi kenyataan setelah berapa lama Gue ikutan nimbrung dan ngobrol-ngobrol, belum juga ada tanda-tanda fashion show akan dimulai, sampai-sampai ada salah seorang crew yang bilang,
“Itu tamunya udah pada kedinginan deh kayaknya, dinnernya belum dimulai”.

Gue dan para model yang sedang khusyuk menunggu pun bengong. Alamakkk dinner nya belum dimulai?. Lahhh apa kabar fashion show nya?. Soalnya fashion show nya itu dijadwalkan setelah dinner selesai. Memang sih “jam karet” memang tergolong biasa terjadi disaat seperti ini, tapi hal itu tetep aja bikin Gue dan salah satu model yang ada di ruangan itu yang kebetulan lumayan akrab sama Gue pun liat-liatan.

Tertawa-tawa ringan ditengah obrolan Grup A&D

“Kak, kayaknya kalau kamu pulang dulu ke BSD terus balik lagi kesini show nya belom mulai juga deh. Secara dinnernya aja belom mulai-mulai”, kata Gue dengan ekspresi jail.
“Nggaklah, kan macet, jadi pasti nggak keburu”, timpal salah satu model cewek berwajah Indoesia banget yang lagi ngantuk-ngantuknya nunggu. Tanpa banyak bersuara, si model yang liat-liatan sama Gue itu cuma ketawa kecil seperti biasa,
“Heheheee…”.

Para model cowok yang nyuri-nyuri tidur saat menunggu fashion show

Melinda yang udah ngantuk berat

Setelah para model cewek udah pada ngantuk kelas berat, sampai-sampai salah satu model udah bener-bener susah nyambung pas diajakin ngomong, terdengarlah suara yang seolah seperti dewa penyelamat yang menitahkan,
“Ayo model siap-siap!”.

Para model yang sudah siap-siap fashion show. Foto oleh Amby at art8amby

Yeaayyyy. Semua model pun langsung sigap bangun, termasuk si model cewek yang udah ngantuk kelas berat, dia mendadak jadi seger lagi. Mereka pun bersiap ganti baju pertanda fashion show akan segera dimulai dan mereka akan segera menunaikan tugas jalan di catwalk malam ini. Ditengah kesibukan itu, akhirnya Gue melangkah keluar ruangan, dan nunggu sampai mereka selesai ganti baju.

-To Be Continue-

Prinka Cassy ; West Look Indonesian Model, The Newcomer!

For sure All, ajaklah dia berbicara bahasa Indonesia, dia bukan Bule.

Tidak banyak model pendatang baru alias newcomer yang memiliki karir cemerlang di tahun-tahun awal kemunculannya dalam jagad fesyen Indonesia. Dari belasan nama model newcomer yang ada, rasanya mereka yang memiliki karir mencorong jumlahnya bisa dihitung dengan jari disatu tangan. Tidak mengherankan memang hal seperti itu terjadi, terlebih jika kita melihat peta persaingan model catwalk yang sangat ketat, ditambah dengan ekspansi model-model import yang semakin menggila belakangan ini.
Lalu terdengarlah nama Prinka Cassy, seorang model berwajah Londo yang namanya sempat menjadi buah bibir atas segala pencapaiannya yang terbilang tidak biasa di dua tahun karirnya. Dua tahun karir yang segera melesatkan Prinka ke dalam jejeran model papan atas Indonesia.

Prinka Cassy Pertiwi adalah seorang model berkewarganegaraan Indonesia yang memiliki darah campuran Manado-Sunda-Belanda. Kewarganergaraan Prinka saya rasa memang harus di bold seperti itu karena tidak hanya ada satu dua kasus orang-orang yang mengira bahwa model yang memiliki warna rambut dark brown ini adalah model import alias bule yang kini semakin marak berseliweran di panggung mode Indonesia. Padahal Prinka yang kerap menjadi model langganan desainer Ghea Panggabean ini sangatlah Indonesia dibalik wajah bule yang ia miliki, mulai dari cara dan gaya bicara, sampai attitude di atas catwalk.

Prinka memulai kariernya dengan mengikuti ajang pemilihan model “Gading Model Search” pada tahun 2009 dan memperoleh juara ketiga dalam ajang pemilihan tersebut. Sebagai model Indo, Prinka memiliki raut wajah yang unik serta berbeda dari para model berdarah campuran kebanyakkan. Hal tersebut menjadi salah satu kelebihan Prinka diantara para model lainnya, disamping tubuh proporsional dengan tinggi 179cm dan berat 53kg yang ia miliki. Dengan semua kelebihan yang ia miliki, tak heran bila sulung dari tiga bersaudara ini masuk dalam jejeran model pendatang baru alias newcomer yang patut diperhitungkan. Sosoknya kini sangat mudah dijumpai diberbagai pagelaran fashion para designer ternama seperti Biyan, Sebastian Gunawan, Priyo Oktaviano, dan Ghea Panggabean.

Desainer Ghea Panggabean yang terkenal akan rancangan-rancangan berbau etniknya bahkan sempat memboyong Prinka pada pagelaran fashionnya “The Splendor of Indonesia” di Milan, Italia pada Oktober 2010 lalu. Selain itu, gadis bermata sayu kelahiran Jakarta, 26 November 1991 ini juga terpilih sebagai Face Icon Jakarta Fashion and food Festival 2011. Dan yang terpenting adalah semua itu dicapainya dalam waktu kurang dari dua tahun karirnya dalam dunia modeling Indonesia!. Sebuah pencapaian yang terbilang sangat mengesankan untuk ukuran seorang model newcomer di Indonesia.

Disela-sela kesibukkannya sebagai model catwalk, serta aktivitas lainnya, Prinka masih menyempatkan diri untuk menekuni salah satu hobi favoritnya yakni membaca buku-buku yang berhubungan dengan sejarah dan biografi orang-orang terkenal.

Teks: Armadina
Foto :
-Windy Sucipto
-AMICA Indonesia
-Doc Pribadi
-Facebook Prinka Cassy

“Mascarade Mystique”, Pesta Kelulusan Dengan Tema Menjanjikan

Sayangnya untuk eksekusi akhir masih banyak terdapat bagian yang “Miss” dan jadi terasa kentang alias “Kena Tanggung”.

Awalnya saya nggak terlalu tau banyak tentang sekolah fashion yang ada di Indonesia, ya yang paling saya tau dan familiar bagi saya hanya ESMOD. Sekolah mode franchaise dari Perancis yang konon adalah salah satu sekolah mode tertua di dunia. Seiring semakin bertambahnya jam jalan(Yeppp jam jalan, bukan jam terbang, karena saya nggak pernah terbang kalau dateng fashion show) akhirnya saya mulai tau satu persatu tentang sekolah mode lain yang bertebaran di Indonesia khususnya Jakarta. Jumlahnya memang nggak banyak, hmmmm atau mungkin lebih tepatnya saya tetep nggak banyak tau tentang sekolah mode disini. Saya hanya tau 4 sekolah mode, ESMOD, LaSalle, Raffles, dan Susan Budiardjo.

Kalau ESMOD memang sudah familiar bagi saya karena sudah 2 tahun saya selalu datang ke Graduation Night nya. Nah, saat tau kalau LaSalle akan mengadakan Graduation Night langsunglah saat itu juga saya penasaran banget gimana ya acaranya kira-kira?. Dan juga saya penasaran banget dengan gimana sih design-design anak-anak lulusan LaSalle?.

Karena itu, berangkatlah saya ke LaSalle Graduation’s Night dengan waktu yang sebenernya udah mepet banget gara-gara STNK motor saya nggak ada, dan walhasil menyebabkan saya menuju Balai Sarbini tempat berlangsungnya LaSalle Graduation’s Night tanpa STNK. Maafkan ya Pak Polisi…hiks.

“Mascarade Mystique” merupakan hasil kolaborasi siswa/siswi lulusan LaSalle periode 2011 dari seluruh program yang ada, yaitu : Fashion Design, Fashion Business, Digital Media Design, Interior Design, Photography, dan Artistic Make Up. Event ini diawali dengan pameran hasil karya siswa pada pukul 15.00 WIB yang meliputi Mini Boutique Bazaar, Movie Screening, Interior Installation, Photography Exhibition, dan Make Up Presentation yang kesemuanya skip bagi saya karena saya hanya menyaksikan acara puncak yakni fashion show. Karena ke skip an itu, saya nggak akan berkomentar apa-apa di acara awal ini.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan Graduation Ceremony pada pukul 16.00 yang diikuti 93 mahasiswa dari 6 program study yang ada di LaSalle. Dari 93 orang tersebut kemudian dipilihlah 6 siswa dari perwakilan masing-masing progran study yang dianggap menjadi siswa-siswa terbaik pada tahun ini. Mereka ini kemudian berhak menerima hadiah berupa Blackberry Playbook dan hadiah-hadiah lainnya, enak betul ya dapet Blackberry Playbook, saya juga maoooo…:p.

Acara puncak, yakni fashion show, merupakan presentasi akhir dari program Fashion Design yang mempersembahkan mini collection mereka. Bagi saya, acara inilah yang paling menarik, karena memang saya hanya menyaksikan langsung yang ini…:p.

Awalnya saya sangat curious dengan Fashion Show para siswa LaSalle ini. Tema yang diangkat menarik, unik, dan spesifik mengacu pada satu hal, sehingga saya awalnya mengharapkan akan menemukan gimmick-gimmick yang menarik. Dibuka oleh rangkaian mini collection dari salah seorang siswa yang menampilkan dress-dress dengan warna merah menyala.

Di titik ini saya masih merasa excited dengan jalannya show, tapi ternyata setelah kemunculan dress-dress membara itu yang ditampilkan kemudian adalah baju-baju ready to wear yang bagi saya sendiri, nothing special. Rasanya saya sudah pernah melihat belasan kali baju-baju ready to wear yang memiliki cita rasa serupa tapi tak sama seperti itu.

Cutting, pemilihan warna, detail, silluet, nggak ada yang baru. Baju-baju pada sequens itu saya rasa memang baju-baju untuk “jualan”, dan ya memang rasa-rasanya baju-baju itu sangat bisa untuk dijual. Si designer terasa sangat mengikuti selera pasar yang sekarang sedang “in”. Tapi kalau baju-baju seperti itu sudah banyak, kenapa harus semakin diperbanyak lagi ya dengan rancangan-rancangan ini? :p.

Ditengah-tengah show saya juga semakin menyadari, kalau jalur lintasan fashion show yang bukan berupa catwalk melainkan jalan yang melingkar ditengah-tengah area ternyata jadi cukup mengganggu karena sebuah pot bunga super besar yang diletakkan di tengah-tengahnya sehingga menghalangi arah pandangan ke panggung kecil yang berada di depan pot bunga super besar tersebut.

Panggung kecil yang menjadi salah satu titik utama dalam fashion show tersebut karena beberapa kali para model melakukan pose final disana. Selain itu lintasan fashion show yang demikian juga kurang memberikan kesan “fashion show sungguhan”, dan juga koreografi para model yang galau karena berbeda-beda tempat berhentinya serta sering kali terlalu cepat pergerakkannya bikin fotografer kerkadang bingung membidiknya karena lintasannya pun melingkar seperti itu.

Music sound yang kurang pas, dan ritme yang kadang terasa kejar-kejaran juga menjadi bagian dari fashion show graduate LaSalle ini.

Dengan tema yang menurut saya sangat menarik dan spesifik, seperti “Mascarade Mystique” ini sayang sekali ternyata eksekusi akhir di fashionnya kedodoran dan jadi kentang alias kena tanggung. Nuansa “mistik” yang terasa di pemilihan warna untuk area fashion dan dress code hitam-hitam bagi semua warga LaSalle yang terlibat di dalam acara itu, harus disayangkan karena ya hanya berhenti sampai disitu aja. Selebihnya, buat saya pribadi banyak bagian yang “miss”. Mulai dari rancangan para siswa yang sebagian masuk dalam kategori biasa aja walau memang ada yang keren-keren juga, masalah di music sound yang kurang pas dan kejar-kejaran ritme, sampai treatment show yang nothing special. Ya semua itu yang membuat saya bisa mengatakan kalau eksekusi akhir acara ini jadi kentang atau kena tanggung.

Overall, keseluruhan acara bagi saya sendiri nggak terlalu sampai yang bikin drop. Tetep ada moment-moment yang bisa saya ingat dengan baik, khususnya di sequens terakhir pada rancangan seorang siswi LaSalle bernama Bernanda Antony yang cukup eksperimental. Bernanda menghadirkan mini collection yang terbilang adibusana yang cukup menarik dengan dress berduri-duri besar.

Dan inilah akhir dari cerita saya dari LaSalle Graduation Night “Mascarade Mystique”.

Ps : #nomention #youknowwhoyouare You look so superbbbb at the show, happy to saw you there…J

INA THOMAS ; BOHO STYLE?, AS ALWAYS I SAW HER….

Ina Thomas dan Bohemian Style, udah kayak amplop sama perangko

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada Rabu sore, teman saya mengirimi saya pesan singkat tentang jadwal Fashion Shownya di keesokan sore. Saat menerima pesan singkat itu saya segera bertekad untuk hadir ke acara tersebut karena jujur, saya memang sangat ingin bertemu dengan dia dan melanjutkan obrolan saya dengan dia. Obrolan yang sangat-sangat menarik tentang profesinya sebagai model. Jadilah di Kamis sore(14/07) sepulang sekolah, saya buru-buru beres-beres semua yang harus saya bereskan.

Ya ganti baju seragam, ya taro tas, ya keluarin si Whiki alias laptop kesayangan saya dari tas sekolah dan saya pindahkan ke tas yang biasa saya pakai untuk kabur(istilah saya saat harus pergi keluar rumah atau ada liputan), mandi, siap-siap, ya semuanya deh sebelum saya siap lagi untuk langsung pergi keluar rumah. Dengan kecepatan ekstra saya segera menyelesaikan semua persiapan dan cauuu menuju Plaza Indonesia. Disana ada acara dari majalah InStyle, nama acaranya InStyle Soiree.

Saya sebenernya nggak terlalu jelas, acara itu diadakan dalam rangka apa. Tapi dugaan kuat dari saya sih acara itu dalam rangka perayaan Ultahnya majalah InStyle yang pertama. Tujuan utama saya kesana sebenarnya untuk bertemu dengan teman saya ini, bukan sengaja-sengaja untuk liputan seperti biasa, karena juju raja saya masih terlalu ribet dengan jadwal sekolah yang sekarang ini.

Tapi ternyata saya nggak tahan untuk akhirnya menuliskan ini juga, memang bukan di web seperti biasa, melainkan di blog ini. Karena apa?, karena saya baru bisa menuliskannya sekarang, dan kalau untuk ukuran web saya, berita ini sudah sangat basi, karena peraturan ketat deadline disana yang harus mengirimkan berita paling lambat 1 X 24 jam, sementara sekarang ini sudah lewat 3 kali lipat dari waktu deadline…Zzzzz.

InStyle Soiree diadakan di Function Room Plaza Indonesia, acaranya sih ya simple. Seperti perayaan-perayaan majalah mode lainnya, apalagi kalau bukan rangkaian Fashion Show. Di InStyle Soiree ada 2 kali Fashion Show di 2 jam berbeda. Pertama, pada jam 14.30 WIB ada peragaan busana dari Ardistia New York, Designer yang udah lama menetap di New York. Nah Fashion Show ini diadakan juga dalam rangka “pulang kampung” nya Ardistia ke Indonesia, ini juga diadakan untuk perkenalan rancangan-rancangannya yang dari desainnya lebih ke ready to wear yang simple.

Di jam kedua, sekitar pukul 19.30 WIB, barulah para tamu yang hadir disuguhkan 50 koleksi rancangan terbaru dari Ina Thomas yang nggak lain nggak bukan adalah istri dari aktor yang sekarang banting stir jadi pengusaha, Jeremy Thomas.

Kalau biasanya Ina Thomas lebih dikenal dengan signature line atau lini busana utama “INA THOMAS” yang koleksi-koleksinya selalu memiliki nuansa bohemian yang kental. Dalam acara ini Ina Thomas memperkenalkan lini-lini lainnya disamping lini “INA THOMAS” yang sudah jadi signature line dari mantan model ini. Ada 3 lini busana lain yang rancangannya menjadi bagian kompilasi ke 50 busana yang dipamerkan pada malam itu. Lini-lini tersebut adalah, “ROCKING DARLING”, “NYAI”, dan “PATIH”.

Pada peragaan busana malam itu, koleksi pertama yang ditampilkan adalah koleksi-koleksi dari sang lini utama, “INA THOMAS”. Seperti yang sudah-sudah, dalam koleksinya kali ini, Ina Thomas tetap mempertahankan gaya khasnya, yakni Bohemian Style atau yang lebih enak disebut sebagai Boho Style. Dalam koleksinya untuk lini “INA THOMAS”, designer satu ini menampilkan gaun-gaun panjang dengan warna-warna cerah seperti ungu, pink, merah, biru, serta motif-motif print abstrak dengan warna-warna kontras yang cerah. Sementara untuk tekstur busananya sendiri, seperti layaknya busana-busana bernuansa bohemian lainnya koleksi kali ini memiliki tekstur ringan, longgar dan melambai dibeberapa busana.

Boho Style ini memang sejak pertama kemunculan lini “INA THOMAS” pada 2009 silam telah dijadikan andalan atau benang merah utama dalam setiap koleksi dari lini tersebut. Setiap kali saya lihat koleksi terbaru dari “INA THOMAS” selalu always, tidak pernah never pasti saya bergumam dalam hati, “Ini Ina Thomas banget”.

Yaaa…kata-kata itu memang yang saya rasa sangat cocok untuk menginterpretasikan rancangan dari Ina Thomas dengan gaya sehari-hari dia yang sejak pertama saya lihat. Gaya yang jadi andalan Ina Thomas  itu selalu terasa sangat glamor, wah, sometime agak heboh, dengan rambut highlight dan busana-busana yang selalu kental nuansa bohemiannya. Bohemian atau Boho Style memang nampaknya sudah jadi andalan Ina Thomas sejak dulu, bahkan sejak dia belum asyik dengan “mainan baru” sebagai designer.

Tapi melalui lini “ROCKING DARLING” yang jadi satu dari tiga “baby” nya Ina Thomas, dia memberikan sentuhan lain dari boho style yang biasa jadi andalannya. Di lini ini, sama seperti judulnya, Rocking, koleksi di lini ini lebih terasa nuansa rebel nya, seperti penyanyi-penyanyi rock yang selalu kental dengan imej, dark, strong, rebel, semaunya, dan apa ya?. Ya Rock and Roll lah pokoknya…:p.

Di koleksi ini, Ina Thomas menghadirkan busana-busana yang terasa lebih kuat pada konstruksi dan silluet yang sangat terasa untuk gaun-gaun pendeknya. Untuk warnanya sendiri, hitam memang sepertinya sudah sejak dulu jadi signature color untuk tema-tema yang berkaitan atau berbau Rocking, Rock and Roll, Rocker, or whatever about Rock. Dan kemudian warna hitam itu dipadupadankan dengan warna-warna yang lebih netral seperti gold and silver.

Sebenarnya yang bagi saya pribadi, yang lebih menarik perhatian adalah 2 lini lain dari Ina Thomas yang sejak awal diperkenalkan sebagai lini khususnya untuk busana-busana berbahan dasar kain batik. Ada lini “NYAI” yang dikhususkan untuk busana wanita, dan ada lini “PATIH” untuk busana pria. Rasa penasaran saya akan kedua lini tersebut lebih kepada, pertanyaan,
“Kira-kira Ina Thomas akan menampilkan batik dalam bentuk yang bagaimana lagi ya?”,
Yaaa… secara udah banyak banget designer, label, dan retail-retail lain yang sekarang lagi getol-getol nya mengolah kain batik. Dan ternyata untuk kedua lini batiknya ini, Ina Thomas tidak terlalu memayungi keduanya dengan nuansa Boho yang kental seperti biasa ia lakukan di signature line nya.

Lini “NYAI” hadir dengan dress-dress berpotongan simple, tanpa banyak detail, Ina Thomas juga banyak mengaplikasikan kain batiknya kedalam potongan busana bernuansa modern. Tapi sayangnya, bagi saya tidak ada yang baru dalam rancangannya. Saya seperti sudah melihat rancangan kain batik dengan rasa seperti ini berkali-kali sebelumnya.

Sedangkan lini “PATIH” menghadirkan kemeja-kemeja batik lengan panjang dan lengan pendek seperti kemeja-kemeja batik pada umumnya yang sering kita jumpai di banyak acara kondangan atau acara resmi lainnya. Tapi yang membuat kemeja-kemeja batik “PATIH” lebih enak diliat adalah pola slim fit yang diusung. Dengan potongan model slim fit ini, kemeja-kemeja batik itu jadi lebih enak dilihat dan membuat pemakainya kelihatan lebih gagah, karena tidak kedombrongan dan lebih pas di badan.

Itulah laporan pandangan mata saya dari Fashion Show 4 lini busana Ina Thomas di InStyle Soiree

Sebastian Gunawan ; Reflections of You

Sebastian Gunawan ; Reflections of You

Sebuah refleksi dari….Tunggu berikan saya waktu untuk berpikir. Hmmm…ralat, ini bukan sebuah refleksi, tapi refleksi, tanpa sebuah, refleksi dari keberagaman gaya para wanita dimata Seba.

Saya masih ingat betul fashion show pertama yang saya datangi. Tepatnya sekitar 2 tahun lalu, untuk pertama kalinya saya berkesempatan untuk menyaksikan sebuah fashion show secara langsung pada pembukaan Jakarta Fashion Week 2009. Fashion show yang malam itu bertema India Night menampilkan koleksi dari 4 orang designer yang terdiri dari 2 orang designer India dan 2 orang designer Indonesia. Salah satu designer Indonesia itu adalah Sebastian Gunawan. Dan dari situlah saya langsung jatuh cinta dengan rancangan-rancangan Seba yang cantik, artistik, sophicticated, memiliki detail yang menarik namun tetap terlihat wearable, jadi nggak hanya enak dipandang, dan lumayan “nyeni”, tapi juga tetap bisa dipakai dan nggak hanya jadi pajangan yang cuma cocok di display di manekin.

Dari situ saya selalu berusaha datang ke setiap fashion show karya-karya Seba (ya tentunya kalau saya tau infonya, atau diundang). Setelah pada tahun 2010 lalu Seba membuat show tunggal yang diberi judul “Femme Fetale”, pada tahun 2011 ini dengan masih mengambil tempat di Hotel Mulia Jakarta, Seba menggelar sebuah show tunggal yang ia beri judul “Reflections of You”.

Namun bedanya, jika pada “Femme Fetale” Seba bergantung pada diri sendiri tanpa didalangi sponsor utama (Hmmm…seingat saya show itu nggak ada sponsor utama, tapi kalau seandainya saya yang lupa tolong dimaafkan ya :p), pada “Reflections of You” ini Danone Aqua lah yang menjadi sponsor utama. Fashion show ini pun sekaligus menjadi pertanda diluncurkannya secara resmi desain eksklusif botol Aqua yang di rancang secara khusus oleh Seba. Sebuah desain botol yang…kereeennnn banget, saya suka banget desain botol dari Seba ini. Botolnya itu terkesan eksklusif, mewah, enak diliat, dan lambang yang diciptakan khusus oleh Seba yang kemudian di print di bagian perut luar botol itu juga kereennnn banget dan lebih memunculkan nuansa ke eksklusifan itu sendiri.

Cukup berbicara tentang desain botol yang keren itu, sekarang mari kita beralih ke menu maincourse dari acara ini (baca: Fashion Show Seba) “Reflections of You”. Menampilkan 77 gaun cocktail dan gaun malam yang ditujukan untuk lini utama (first line) “Sebastian Gunawan” dan delapan gaun pengantin eksklusif kelas medium alias medium-high fashion bridal collection dari lini “Sebastian Sposa”, fashion show malam itu entah mengapa terasa berjalan sangat lambat.

Hmmmm saya pun masih berpikir kenapa kok rasanya show itu rasanya lamaaa banget ya?, padahal kalau dibandingin fashion show nya Biyan yang menampilkan 100 koleksi (It’s mean lebih banyak 15 koleksi dari show Seba ini) rasanya lebih cepat show nya Biyan yang meski baju nya banyak tapi nggak kerasa sebanyak itu (kebalikan dari show Seba ini, yang sempat membuat saya berpikir kalau show ini menampilkan ratusan koleksi..-______-). Hmmm agak berlebihan mungkin, tapi memang begitulah yang saya rasakan, lama banget rasanya show itu, saya sampe agak pegel motret baju-bajunya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mungkin karena koreografinya ya yang memang dibuat lebih lambat?, atau mungkin karena show ini berjalan secara konvensional seperti show-show “biasa” tanpa sama sekali memberikan sesuatu yang berbeda semisal alur cerita, penampilan khusus, koreografi berbeda atau lain sebagainya yang bisa dijadikan “penyegar” atau alternatif yang lebih bisa menghidupkan suasana. Latar panggungnya juga masih biasa, tidak ada yang spesial atau istimewa. Tidak ada peletakan properti pelengkap yang membuatnya lebih menatrik atau pun lebih mengentalkan tema yang diusung.

Ke “biasa” an ini sebenarnya cukup saya sayangkan, terlebih setelah tau untuk urusan koreografi mereka bekerjasama dengan P Productions. Ya bagi saya sayang aja sudah kerjasama dengan P Productions yang terkenal di seantero per fashion an tanah air itu tapi show nya nggak di “macem-macem” in, apalagi dengan baju yang jumlahnya lumayan banyak dan itu juga berarti lumayan beresiko menimbulkan rasa bosan saat menyaksikan show tersebut apabila ditampilkan dengan alur lambat serta “kemasan” yang terlalu biasa.

Bisa dikatakan untuk sekaliber pagelaran tunggal, show Sebastian Gunawan “Reflections of You “ ini tergolong masih biasa dalam segi treatment show.

Tapi entahlah, mungkin memang pihak Seba memang lebih ingin menonjolkan baju-baju yang menjadi menu utama di show tersebut sehingga menomor duakan pengemasan show dan lebih memilih untuk melakukan show secara konvensional seperti biasa sehingga tidak melakukan eksperimen dalam pengemasan show ini yang sangat mungkin menyebabkan terpecahnya konsentrasi seluruh orang yang menyaksikan jadi tidak terlalu fokus ke baju, tetapi lebih seru melihat gimmick-gimmick yang di suguhkan.

Selepas show malam itu saya sempat sedikit berbincang dengan salah satu model yang ikut dalam show itu. Ketika saya bilang kalau, “Sayang ya pakai P Productions tapi nggak diapa-apain dan show nya biasa aja treatmentnya”.

Dan di bilang, “Enggak gitulah, tetep aja beda, koreonya beda, jalannya juga lebih clean, lebih rapi”.

Mendengar itu saya langsung mikir, dimana letak bedanya?. Jalannya juga sama saja seperti show konvensional lainnya, walau tentu dengan detail kecil yang berbeda seperti perputaran para model dan pembentukan formasinya. Tapi ya bagi saya tetap sama aja. Hmmmm…mungkin benar sih kata dia kalau tetap aja beda, hanya saja mungkin yang lebih bisa merasakan itu ya para model-modelnya yang jalan langsung di atas catwalk sana dan sudah hapal di luar kepala mana yang biasa dan mana yang nggak biasa, mana treatment yang lebih enak mana yang biasa, atau malah kurang enak.

Anyway, mari kita tinggalkan tentang pengemasan show nya yang bagi saya terasa sedikit kurang, dan membahas tentang koleksi-koleksi yang kemarin ditampilkan Seba.

Melalui “Reflections of You”, Sebastian Gunawan bercerita tentang para wanita yang hidup di hari ini, dalam pakaian bergaya masa kini sebagai refleksi pernyataan dirinya. Wanita yang semakin menampilkan gaya personal yang kemudian menimbulkan pencitraan tersendiri bagi dirinya. Entah menjadikan dirinya wanita yang elegan atau feminine, bisa juga unik dan berbeda, atau lebih playful dan beragam karakter lain yang sesuai dengan dirinya.

Ke 77 gaun cocktail dan 8 gaun pengantin siap pakai kelas medium high yang ditampilkan Seba pada malam itu memang terasa menunjukkan beragamnya karakter berbeda. Keberbedaan itulah yang kemudian menjadikan keseluruhan koleksi memang benar-benar berbeda, walau Seba menyebutkan warna lah yang menjadi benang merah pengikat satu koleksi ke koleksi lainnya, tetap saja bagi saya yang melihat keseluruhan koleksi malam itu, rangkaian koleksi yang ditampilkan Seba terasa berdiri sendiri-sendiri tanpa ada suatu kesamaan yang mengikat. Berbeda. Koleksi-koleksi yang ditampilkan itu lebih terasa koleski random/campuran dibandingkan dengan suatu koleksi yang mengusung tema secara spesifik.

Tapi memang harus diakui keseluruhan karya Seba yang tergabung dalam “Reflections of You” ini sangat menarik, dan overall saya suka. Beberapa rancangan yang simple jadi tidak se simple yang dilihat dengan motif-motif print yang sangat menarik, atau juga gaun-gaun yang agak berat tidak membuat kita berpikir “Bisakah ini “dipakai” ?” karena gaun-gaun itu memang cantik-cantik semua dan bikin langsung jatuh hati. Ya seperti yang kamu tau, kalau orang sudah jatuh hati akan susah menolak apa yang membuatnya jatuh hati walau pun ia tahu itu mungkin sedikit sulit…:p

“Reflections of You” sendiri memang diinterpretasikan Seba sebagai pantulan gaya para wanita masa kini yang sangat beragam dan bervariasi. Bervariasinya gaya wanita itu kemudian dituangkan lewat karakter desain yang juga beragam, mulai gaun ringan berkesan muda, gaun berkonstruksi kuat, gaun lembut berdraperi, gaun mewah kaya ornament, bahkan haun polos tanpa bling-bling sekalipun. Keberagaman ini kemudian seperti lebih di kelompokan atau diikat dengan permainan warna. Warna-warna cerah dipilih untuk sebagian besar koleski, warna yang baik berdiri sendiri maupun dikomposisikan berani dalam blok warna, motif bunga yang semarak berukuran besar dan daya tarik draperi aneka bahan.

Pemilihan pada koleskinya ini mewakili keceriaan warna-warna musim panas dengan nuansa putih pudar, merah jambu, merah bata, hijau, kuning, dan salem. Semua itu dilengkapi lagi dengan jajaran nuansa abu-abu, perak dan hitam yang mengekspresikan kemewahan malam hari.
Ditengah kerampingan pinggang dan keceriaan rok mekar ala Dior, koleksi juga mengantarkan napas orientalisme lewat sulaman dan aplikasi gaya lukisan Jepang, potongan tenda dari gaya baju Korea, ikat pinggang tali obi sampai blus berpotongan cheongsam. Sementara Stola Spanyol diinterpretasikan menjadi kerah syal berdraperi artistik yang membungkus bagian bahu gaun-gaun rampingnya yang terkonstruksi dalam pola asimetris.

Ya kurang lebih seperti itulah cerita saya dari show Seba…
Hiks Yes I know it was tooooo late to update this story…hikshiks…
Tapi sayutralah yaaa…It’s just for fun dan buat seru-seru an aja…
Hmmm hmmmm sebelum saya menutup cerita ini, ada satu lagi yang paling saya inget dari show Seba ini, yaituuuu…Hair Do nyaaaa….Yeeppp hair do nya alias tata rambut di show ini yang bentuknya potongan rambut ngebob berponi asimetris telah dengan sukses mengingatkan saya dengan potongan rambut Andhika Kangen Band…Yaaa saudara-saudara, kalian nggak salah baca, saya beneran keinget potongan rambutnya Andhika Kangen Band pas liat hair do di show ini. Dan sangat beruntunglah saya karena untuk pertama kalinya saya liat Kimmy Jayanti dengan rambut ngebob berponi asimetris yang nutupin muka dan rambut itu warnanya hitammm nggak blonde kayak biasa…yihiii…Ya walau saya tau itu wig, tapi tetep aja, bookkk kapan lagi liat Kimmy yang tiba-tiba menanggalkan rambut blonde andalannya…hihihiiii :p

Akhir kata, inilah diaaa…Nona Kimmy Jayanti with her Bob Asimetris hair…:D