Finally a Girl Is No One

P1120734

Sidang skripsi baru saja selesai saat seorang teman baik saya di kampus menyampirkan selendang kenang-kenangan kelulusan. Menariknya, selendang itu berbeda dari yang biasa diberikan orang lain untuk temannya yang baru saja jadi sarjana. Alih-alih bertuliskan nama si Sarjana Baru dengan embel-embel gelar yang diperoleh semisal S.Sos, S.T, S.Hum, S.H, dan sebagainya, teman saya ini memilih sebuah kalimat yang menurutnya akan saya suka, “Finally a Girl Is No One”. Dahi saya berkerut saat pertama kali melihat tulisan itu. Separuh dari diri saya merasa tergelitik saat membaca kalimat “Finally a Girl Is No One” karena yang terbayang di kepala adalah Arya Stark di serial Game of Thrones dengan wajah sengitnya. Namun, sebagian diri saya yang lain bertanya-tanya, kenapa kata-kata itu yang dipilih untuk saya?

Melihat ekspresi wajah saya yang mungkin tidak karuan, teman saya itu menjelaskan, “Karena lo sarjana Antropologi, jadi sebenernya lo udah akan selalu siap jadi ‘no one’. Nanti setiap kali penelitian lo bakal ‘live in’, ‘emerge’, sama kelompok masyarakat tempat lo neliti, and you’ll be ‘no one’ there, Nin. And I know, you ready for that”. Dan saya tertawa mendengar penjelasannya.

Jadi, “Finally a Girl Is No One?”

TAKOR

P1120773

Senja habis di tempat ini sementara saya masih menikmati setiap perbincangan dan tawa. Tempat ini adalah ruang terbuka dengan meja-kursi yang dirancang menyatu, terbuat dari kayu, besi, dan fiber karbon (?). Sekilas tidak istimewa, bahkan sebagian orang membencinya. Mereka bilang tempat ini jorok, membuat selera makan hilang, tidak nyaman sebagai kantin. Belum lagi kucing-kucing yang berseliweran, mengeong dengan rajin, dan teliti mengintai setiap piring makanan dari masing-masing orang. Lalu, semua itu diperparah dengan kepulan asap rokok yang seakan tidak ada habis-habisnya dihembuskan dari sela bibir puluhan orang disana. Jadi, tidak heran memang bila ada yang membenci tempat ini sampai-sampai mereka enggan makan, mampir, atau bahkan sekadar menginjakan kaki di sana. Sebuah kantin yang punya nama cukup unik, Takor, singkatan dari Taman Korea.

Perihal nama, jangan buru-buru bertanya dengan pertanyaan semacam “Banyak ya orang Korea disana?”, atau “Oh kantinnya bernuansa Korea ya?”, atau “Ada makanan Korea di situ?”. Mulailah dari pertanyaan “Kenapa namanya Taman Korea?”. Jawabannya sederhana, karena kantin ini dahulu dibangun atas sponsor sebuah perusahaan dari Korea Selatan dan semenjak itu mahasiswa-mahasiswa di FISIP menamainya Taman Korea, ringkasnya Takor. Sedikit tambahan informasi, nama perusahaan Korea Selatan yang mensponsori pembangunan juga masih terabadikan sebagai nama salah satu ruangan di lantai dua kantin ini, Yongma.

P1120781

P1120783

Takor bagi saya bukan sekadar kantin tempat saya menuntaskan lapar dan dahaga atau mengunyah bekal makanan yang terkadang dibawa dari rumah. Di tempat ini saya mengerjakan tugas kuliah baik tugas individual maupun berkelompok. Di tempat ini dahulu saya terbiasa mengerjakan pekerjaan saya seorang diri saat masih menjadi pekerja lepas. Di tempat ini saya bercengkrama, bercanda, berbincang santai, hingga berdiskusi serius dengan teman-teman saya hingga larut malam. Di tempat ini pula saya menemukan banyak teman baru selama masa perkuliahan. Takor bagi saya begitu kompleks, tapi juga begitu sederhana, sesederhana anggapan saya bahwa kantin ini serasa rumah kedua.

Selasa, 20 Juni 2017. Hari ini adalah salah satu hari paling bersejarah dalam hidup saya. Di sore yang sedikit mendung ini, saya dinyatakan lulus sidang karya tulis ilmiah akhir, skripsi. Saya senang, tentu saja, tapi bukan perasaan senang yang meluap-luap, hanya senang saja, karena satu tahapan di dalam hidup bisa saya lewati dengan cukup baik. Walaupun perasaan senang yang saya rasakan tidak meluap-luap namun itu justru lebih menyenangkan karena terasa nyaman dan tidak terlalu emosional. Singkat cerita, seusai sidang skripsi hanya ada satu tempat yang ingin saya tuju, Takor. Rasanya saya sudah tidak sabar untuk menyesap segelas minuman dingin dari Mang Ari atau Bu Cil, dua orang pedagang minuman di Takor, dan berbincang diantara riuh tawa dan asap tembakau.

Mungkin kamu merasa aneh dengan tulisan ini. Lama saya tidak menulis apa-apa di laman blog ini lalu tahu-tahu kembali muncul hanya dengan membicarakan hal yang membingungkan seperti Takor si Kantin FISIP. Tidak apa, kamu toh tidak perlu benar-benar mengerti bila tulisan ini memang hakikatnya saya paksakan agar saya dapat menulis lagi. Sudah lama rasanya kemampuan menulis saya sekarat dan nyaris mati. Jadi, mungkin ini waktunya untuk menuliskan apa saja yang terpikir dan ingin ditulis walau tidak akan banyak yang mengerti.

P1120777

Salah satu sudut paling khas di Takor untuk mahasiswa dan alumni Antropologi, Meja Bunder.

Cirebon, Benda Kerep, dan Perjalanan Tanpa Persiapan

P1060557

Terik sekali. Pikiran itu yang pertama kali mampir di kepala saya begitu menginjakan kaki di Kota Cirebon. Sebelumnya saya memang pernah singgah di Cirebon, kurang lebih dua tahun lalu, tapi hanya sebentar saja, kurang dari tiga jam hingga saya lupa bagaimana teriknya sinar matahari di kota ini. Rasanya matahari di Cirebon lebih bersemangat memancarkan sinarnya dibanding Jakarta. Mungkin karena letak Cirebon yang termasuk di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Pikiran tentang teriknya Cirebon diamini pula oleh teman-teman saya. Ya, saya tidak sendirian tiba di kota ini, ada sekitar 26 orang lainnya selain saya. Mereka semua adalah teman satu angkatan saya di program studi Antropologi Sosial Universitas Indonesia.

Diantara teman-teman yang lain, motif bertandang ke Cirebon saya adalah yang paling berbeda. Mereka memiliki tujuan yang jelas, melakukan persiapan penelitian, atau istilahnya preliminary research untuk salah satu mata kuliah yang mengharuskan penelitian lapangan. Sementara saya? Saya hanya ikut-ikutan karena hanya sekadar ingin jalan-jalan. Mengesalkan ya? Setidaknya bagi teman-teman saya, yang lainnya serius memutar otak melakukan pengamatan, dan saya jadi serasa turis. Jangan tanyakan dulu kenapa saya tidak menjadi bagian dari ekspedisi Cirebon ini meskipun saya satu angkata dengan mereka. Dilain waktu mungkin saya akan menceritakannya, tetapi tidak sekarang. Walhasil, karena yang ada di alam pikiran saya bukan untuk persiapan penelitian, saya datang ke Cirebon dengan “otak kosong”. Jangankan studi pustaka terlebih dahulu, membaca berita ringan yang bertebaran di dunia maya saja tidak, tapi mungkin disitu menariknya. Dengan kepala yang “kosong” ini saya melihat dan mengamati berbagai hal di Cirebon dengan penuh ketakjuban. Ada hal-hal yang jadi begitu menarik karena efek keterkejutan akibat ketidaktahuan saya terhadap ini itu di Cirebon. Salah satunya adalah tentang Kampung Benda Kerep.

Kampung Benda Kerep terletak dipinggiran Kota Cirebon. Dari perkiraan jarak yang saya kira-kira sendiri dengan penuh ke-sok-tahuan, sebenarnya letaknya tidak terlampau jauh, perbandingannya tidak sampai Jakarta-Bogor. Dua minggu sebelum keberangkatan ke Cirebon, sebenarnya salah satu dosen saya telah memberikan gambaran umum tentang Benda Kerep. Katanya, kampung ini menolak segala bentuk modernisasi, bahkan untuk listrik apalagi laptop. Namun, fakta lapangan ternyata tidak sampai sebegitunya. Benda Kerep telah dialiri listrik sejak tahun 1987 meskipun awalnya sempat mendapatkan gelombang kontra dari para ToMas alias Tokoh Masyarakat. Menurut informan rombongan kami, keberadaan laptop pun sebenarnya tidak dipermasalahkan, hanya saja, masyarakat disana memang hanya satu orang yang sudah mampu memilikinya. Saya maklum kenapa dosen saya keliru memberikan informasi. Namanya juga manusia yang mungkin saja bisa salah dan lupa. Atau bisa saja memang informan dosen saya yang keliru memberikan informasi. Tidak apa, yang penting faktanya sudah terungkap, kan?

Konon, berdasarkan hasil tabulasi membaca kilat di laman-laman berita dunia maya, Benda Kerep ini didirikan oleh seseorang bernama Kyai Sholeh sekitar 300 tahun lalu. Untuk mencapai Benda Kerep, saya dan teman-teman saya harus menerapkan prinsip “going native”, alias “menjadi seperti penduduk asli” alias menerapkan cara-cara keseharian penduduk Benda Kerep, salah satunya adalah menutup aurat yang berlaku menurut hukum syariat Islam. Rombongan kami yang perempuan, termasuk saya mendadak berhijab semua, sementara salah satu teman laki-laki saya yang mengenakan celana pendek langsung melilitkan kain sarung yang ia bawa dari rumah. Kurangnya hanya satu, sebagian besar rombongan perempuan tidak mengenakan kain atau rok panjang sebagai bawahan karena tidak tahu bahwa ternyata penggunaan celana bagi perempuan ternyata sangat dilarang. Untungnya masyarakat Benda Kerep, termasuk informan rombongan, ternyata sudah sangat memaklumi kelakuan tetamu yang datang.

P1060559

P1060560

P1060567

Selain penerapan “going native” perjalanan mencapai Benda Kerep juga sangat mengesankan. Rombongan kami sempat nyasar beberapa kali hingga aksi putar memutar arah mobil merupakan hal yang lumrah. Benda Kerep yang terletak di seberang aliran sungai yang cukup deras juga menjadi tantangan tersendiri karena tidak ada jembatan! Ya, benar sekali, kamu tidak salah baca. Tidak ada jembatan menuju Benda Kerep. Tidak perlu memekik kata “WOW!” karena ketiadaan jembatan bukan berarti kami harus berenang atau main basah-basahan menerabas sungai, yang kami harus lakukan lebih mudah daripada itu, kami hanya perlu melangkahkan kaki dengan lincah diatas batu-batu pijakan yang tersusun rapi membelah arus. Beruntunglah rombongan kami karena meski rintik hujan sudah membasahi tanah, tapi air sungai belum menampakan tanda-tanda akan meluap.

Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya begitu melangkahkan kaki di Kampung Benda Kerep. Laki-laki disana hampir semuanya mengenakan kain seperti sarung, gamis, dan peci tinggi yang kemudian saya ketahui dinamakan “Peci Sufi” atau “Peci Sombong” oleh masyarakat sekitar. Kenapa “Peci Sufi”? Saya menduga karena bentuknya mirip peci-peci yang dikenakan penari-penari sufi, tapi kenapa dinamakan “Peci Sombong”? Nah untuk yang ini informan saya mengatakan dengan bangga “Karena kalau sudah pakai peci ini jadi terlihat gagah, jadi seperti sombong”. Sedangkan para perempuan Benda Kerep dalam kesehariannya mengenakan kain batik untuk bawaha, atasan seperti blus lengan panjang, dan tentunya hijab, walau ternyata bukan hijab “syar’i” seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Benda Kerep juga dikenal sebagai “Kampung Santri” karena keberadaan pesantren-pesantren disana, jumlah Kyai-nya pun ternyata cukup banyak hingga informan rombongan beberapa kali menanyakan “Dulu dosen kalian kontak-kontakan dengan Kyai yang mana (siapa)?”.

Selama kurang lebih dua jam kami berada di Benda Kerep, teman-teman saya menanyakan hal ini itu, sementara saya lebih banyak diam, dan sesekali mencicipi dodol mangga gedong yang disajikan tuan rumah serta menyeruput sirup koko pandan dingin yang cukup menyegarkan. Sambil menikmati dodol dan meneguk sirup, saya memperhatikan proses tanya-jawab yang dilakukan teman-teman saya. Menarik. Ada banyak informasi yang saya ketahui tentang masyarakat Benda Kerep. Mereka yang ketakutan setengah mati dengan orang-orang Dinas Kesehatan yang terlibat dalam PIN (Pekan Imunisasi Nasional) sampai-sampai rombongan kami dikira “orang PIN” dan ketika kami berjalan menyusuri kampung, anak-anak disana teriak “Polio Polio Polio!!!” sambil menunjuk kami lalu berlari ke dalam rumah. Mereka yang akhirnya membolehkan masuknya listrik, beberapa alat elektronik termasuk handphone, tetapi sama sekali menentang adanya televisi dan radio. Mereka yang mayoritas menerapkan sistem pernikahan endogami. Mereka yang masih sangat menerapkan nilai-nilai Islam sehingga dilarang keras untuk berpacaran. Dan mereka, maaf ralat, tepatnya teman-teman saya dan informan rombongan yang jadi mencandai salah satu teman perempuan saya dan menggodanya habis-habisan agar “berjodoh” dengan anak laki-laki sulung informan rombongan. Sayangnya keseruan acara tanya-jawab harus selesai karena senja semakin jauh. Sebelum adzan magrib berkumandang kami bergegas meninggalkan Benda Kerep.

P1060589

 

P1060590

P1060592

Malamnya perjalanan kami lanjutkan dengan berkeliling Kota Cirebon, targetnya kali ini adalah pelabuhan batu bara Kota Cirebon dan titik-titik prostitusi. Pelabuhan batu bara Kota Cirebon tidak terlalu jauh dari kota, setibanya disana kami berhasil mengelilingi Zona A setelah dua orang teman saya melakukan negosiasi yang cukup alot dengan petugas keamanan. Di pelabuhan satu-satunya hal yang menarik perhatian saya adalah kapal-kapal besar yang bersandar ke Dermaga, ketika malam mereka terlihat indah, setidaknya bagi saya. Berlanjut ke titik-titik prostitusi, titik-titik ini berada di jalan-jalan yang saya lupa namanya, tapi saya ingat ada truk-truk besar disana. Malam itu tidak terlalu banyak pekerja seks yang saya lihat menunggu pelanggan, hanya beberapa saja yang ada dipinggir jalan, diatas becak, berdiri di sela-sela deretan truk, dan diatas motor. Dua kali rombongan kami memutari ruas jalan itu sebelum berakhir di alun-alun Kota Cirebon dan menikmati segelas kopi atau coklat panas.

Keesokan harinya perjalanan saya di Kota Cirebon harus berakhir. Sejak awal saya memang memutuskan untuk berpisah lebih awal dengan rombongan karena harus mengejar sebuah acara diskusi di Jakarta yang berlangsung jam satu siang. Setengah jam sebelum keberangkatan kereta saya sudah mendaratkan kaki di stasiun dan sempat-sempatnya menyantap empal gentong di depan stasiun. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta saya mengingat-ingat semua rangkaian perjalanan ke Cirebon yang terkesan impulsif karena hanya ingin jalan-jalan saja. Saya menganggap perjalanan ini tanpa persiapan. Seperti yang saya ceritakan diawal, saya tidak sempat membaca apapun tentang medan di Cirebon, tapi saya sangat senang karena saya mendapat pengalaman-pengalaman menarik selama di kota yang panas ini. Hanya satu saja yang masih mengganjal hati saya. Saya teringat Bapak, dosen, sekaligus pembimbing akademik yang sudah saya anggap seperti Ayah sendiri. Beliau tidak menepati janjinya untuk pergi bersama kami, padahal kami sudah berangan-angan untuk menikmati empal gentong dan tahu gejrot bersama. Bapak pergi lebih dulu, bukan ke Cirebon, tapi pergi ke alam lain yang selalu jadi misteri, kematian.Bapak pergi menghadap Yang Maha Segalanya dua minggu sebelum keberangkatan kami.

P1060595

P1060579