Part 2 Bazaar Fashion Celebration 2011. Langgam Tiga Hati ; Perayaan Fesyen Berbalut Tradisi

“Obin Komara, Ghea Panggabean dan Eddy Betty Persembahkan Yang Terbaik Untuk Negeri. Totally Awesome Collection With Wonderful Show!”

Keroncong, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Keroncong memiliki tiga artian. Pertama, Keroncong dapat diartikan sebagai alat musik berupa gitar kecil berdawai empat atau lima. Kedua, Keroncong adalah irama atau langgam musik yang ciri khasnya terletak pada permainan alat musik Keroncong, yaitu kendang, selo, dan gitar melodi yang dimainkan secara beruntun. Ketiga, Keroncong merupakan jenis orkes yang terdiri atas biola, seruling, gitar, ukulele, banyo, selo, dan bass.

Tapi bagi saya pribadi terlepas dari bermacam penafsiran itu, Keroncong memiliki satu pemaknaan penting. Keroncong = Musik. Keroncong adalah satu jenis musik yang kemudian dipertegas sebagai musik asli kepunyaan Indonesia.

Yup Keroncong adalah musik asli kepunyaan Indonesia. Keroncong adalah musik asli serta salah satu pencapaian tertinggi dari para musisi Indonesia di masa lampau dalam bermusik. Keroncong tidak lain merupakan musik asli kepunyaan Indonesia hasil kreatifitas anak negeri bukan musik bawaan dari Portugis seperti yang selama ini banyak diketahui. Hal ini bukan tanpa dasar yang jelas, Keroncong diketahui sebagai musik asli Indonesia setelah Jay Subijakto selaku show director dan Erwin Gutawa sebagai music director Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” mengadakan sebuah riset panjang mengenai musik Keroncong di beberapa daerah di Indonesia yang disinyalir sebagai tempat-tempat awal munculnya musik Keroncong.

EdBe by Eddy Betty

Setelah pada tahun sebelumnya, Majalah Harper’s Bazaar Indonesia sukses menyelenggarakan sebuah pagelaran busana akbar dipadukan dengan live music layaknya sebuah mega konser dalam Bazaar Fashion Concerto, kali ini Majalah Harper’s Bazaar Indonesia melaksanakan sebuah pagelaran busana dari tiga orang desainer kenamaan Indonesia dalam balutan budaya serta tradisi yang kental tanpa melupakan ke khasan signature event Bazaar, fashion show dengan live music.

Keroncong sebagai salah satu musik asli Indonesia kemudian dipilih sebagai embrio utama dalam penyelenggaraan Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”. “Langgam Tiga Hati” yang menjadi tema besar dalam terselenggaranya acara ini memiliki arti tersendiri. Langgam memiliki arti irama, sementara tiga hati merupakan metamorfora dari tiga orang desainer yang ikut berpartisipasi dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Jika dirangkumkan secara keseluruhan, “Langgam Tiga Hati” mungkin dapat ditafsirkan sebagai penyatuan irama karya dari tiga desainer Indonesia dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Ketiga orang desainer yakni Obin Komara, Ghea Panggabean, dan Eddy Betty sempat mengatakan bahwa koleksi-koleksi yang mereka tampilkan pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah interpretasi masing-masing dari mereka saat mendengar kata keroncong.

Menjadi sangat menarik karena meski keroncong menjadi gagasan utama atas terselenggaranya acara ini, dan masing-masing desainer sepakat bahwa saat mendengar kata Keroncong yang terpikir adalah tentang budaya, serta tradisi, namun ketiganya menghadirkan koleksi busana yang amat berbeda satu sama lain. Busana ready to wear berbahan batik, sampai gaun malam model cheongsam menjadi interpretasi tersendiri.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Terbagi atas 5 sekuens parade busana, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 terlebih dahulu dibuka dengan parade busana Sariayu “Etnika Nusa Tenggara” oleh Deden Siswanto yang seolah menjadi sajian pembuka sebelum sampai kepada sajian utama “Langgam Tiga Hati”. Pada rangkaian koleksinya untuk Sariayu ini, Deden mengolah kain-kain tradisional khas Nusa Tenggara dalam busana yang kaya akan  detail dan beragam tekstur bahan.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Parade busana Sariayu ini sekaligus pertanda diluncurkannya 26 trend warna 2012 “Etnika Nusa Tenggara” dari Sariayu.

EdBe oleh Eddy Betty

EdBe oleh Eddy Betty with Darell Ferhostan as Model

Setelahnya, serangkaian koleksi busana ready to wear dari EdBe(baca: edibi) yang merupakan lini kedua milik Eddy Betty hadir sebagai pembuka pagelaran busana utama “Langgam Tiga Hati”. Awalnya saat pertama kali tahu bahwa Eddy Betty akan menampilkan koleksi dari lini EdBe, saya mengira koleksi yang akan ditampilkan ini adalah koleksi yang sama seperti yang pernah ia tampilkan pada pagelaran busana tunggal EdBe “Love Is The Air”, mengingat jarak waktu yang sangat singkat dari pagelaran busana tersebut, tapi ternyata tidak. Koleksi yang ditampilkan Eddy Betty ini sebagian besar adalah koleksi baru meski ada beberapa koleksi lama, namun dengan padupadan berfilosofi “Mix Don’t Match” yang dianut EdBe hal ini tidak terlalu terlihat.

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Reti Ragil Riani

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Filantropi

Untuk koleksinya ini EdBe menghadirkan Batik Kudus sebagai material dasar pada tiap potong busana. Palet warna-warna menyolok serta cutting asimetris ala harajuku yang jadi ciri khas EdBe kemudian ditampilkan dengan tabrak warna dan motif. Make up para model yang dibuat sedikit gothic dan “berantakkan” serta aksesoris pelengkap seperti gelang yang melilit pada tangan para model membuat rangkaian koleksi EdBe yang ia beri judul “Loves Batik Kudus” terlihat semakin menarik serta terkesan sangat anak muda dan funky.

Ghea Panggabean

Ghea Couture oleh Ghea Panggabean. Model: Drina Ciputra

Ghea Panggabean membagi sekuens parade busananya menjadi tiga sub sekuens. Ia membuat parade busananya layaknya drama tiga babak tentang perjalanan hidup Oei Hui Lan. Oei Hui Lan sendiri adalah seorang Putri Raja Gula dari Semarang yang memiliki kisah hidup tragis.

Sebagai putri orang terkaya di Indonesia juga di Asia Tenggara saat itu, Oei Hui Lan justru memilih cara bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Kisah tragis dari Oei Hui Lan inilah yang kemudian menginspirasi Ghea dalam rangkaian koleksi terbarunya. Kisah hidup Oei Hui Lan yang terjadi sekitar tahun 1920an adalah interpretasi Ghea terhadap musik Keroncong yang juga mulai dikenal luas pada masa-masa itu.

Salah satu koleksi di sekuens 1 Ghea Panggabean

Drama tiga babak hidup Oei Hui Lan dijabarkan dalam tiga sekuens parade busana yang pada masing-masing sekuens terasa amat berbeda meski memiliki satu benang merah yang sama yakni nuansa oriental yang sangat kental.

Sekuens 1 Ghea Panggabean. Model: Ayu Faradilla

Pada babak atau sekuens pertama, set busana cocktail dengan motif sulam dan bunga-bunga serta sentuhan gaya bohemian  berpadu dengan nuansa oriental menjadi gambaran dari romantika masa-masa awal hidup Oei Hui Lan selama di Indonesia.

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model : Kelly Tandiono

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model: Juanita Haryadi

Motif-motif keramik porselen khas Negeri Tirai Bambu yang sejak lama telah dikenal sebagai salah satu trade mark budaya Tiongkok yang sangat akrab dengan kehidupan Oei Hui Lan dihadirkan sebagai inspirasi utama pada sekuens kedua.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Dramatisasi Antie Damayanti

Babak terakhir dalam drama tiga babak kisah hidup Oei Hui Lan adalah sekuens yang bagi saya pribadi tidak akan pernah terlupakan. Diiringi lagu “Surya Tenggelam” milik mendiang Chrisye, aura magis pada sekuens ini benar-benar terasa.Terlebih lagi saat Antie Damayanti, salah seorang model pada sekuens Ghea muncul di atas panggung dengan sebuah koreografi yang begitu dramatis yang seolah menggambarkan kisah hidup penuh drama yang dijalani Oei Hui Lan.

Tidak berhenti sampai disitu, Dominique Diyose yang kemudian tampil dipanggung mengenakan sebuah payung yang tertutup kelambu hitam seperti menyerupai perumpamaan penampakkan hantu Oei Hui Lan yang kabarnya sering terlihat di hotel keluarga Oei Hui Lan.

Dominique Diyose, "Hantu" Oei Hui Lan

Bagi saya, sekuens ini lebih menyerupai kisah kematian Oei Hui Lan yang tragis dibandingkan dengan interpretasi  gaya hidup jetset super mewah yang dijalani Oei Hui Lan semasa hidupnya. Pada sekuens ini saya lebih membayangkan cerita kematian Oei Hui Lan yang tragis serta cerita seram tentang hantu Oei Hui Lan yang konon sering menampakkan diri di hotel keluarga di Semarang.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Dominique Diyose

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Prinka Cassy

Secara keseluruhan sekuens yang menghadirkan koleksi gaun malam dari lini teranyar Ghea Panggabean yang ia beri nama Ghea Couture ini adalah sekuens yang paling menyita perhatian saya. Gaun-gaun malam dengan dominasi warna hitam ditambah motif-motif bordir bernuansa oriental yang disajikan dalam warna emas menambah kekuatan drama dalam sekuens ini.

BIN HOUSE Oleh Obin Komara

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Kimmy Jayanti

Jika pada tahun sebelumnya koleksi dari BIN HOUSE untuk Bazaar Fashion Concerto diwakili oleh Wita, pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini BIN House diwakili langsung oleh sang pendiri, Obin Komara.

Lebih senang disebut sebagai “tukang kain”, Obin Komara mempersembahkan 15 koleksi busana. Pada koleksinya kali ini BIN HOUSE bermain-main dengan cutting jas pada kebaya. Beragam kain-kain cantik yang selalu jadi andalan BIN House diwujudkan dalam kebaya-kebaya  bersilluet modern dengan teknik tripping dan stitching yang memperkuat tekstur serta karakter kain.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Ines Arieza

Meski menjadi desainer yang paling sedikit mengeluarkan koleksi pada moment ini, keseluruhan koleksi dari Obin Komara untuk BIN HOUSE menjadi sangat menarik dengan arahan koreografi centil bagi setiap model pada sekuens BIN HOUSE.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Evie Mulya

Permainan kain dari beberapa model seperti Kimmy Jayanti, Evie Mulya, dan Ines Arieza juga menambah point plus dalam sekuens BIN HOUSE.

Eddy Betty

Eddy Betty. Model: Nien Indriyati

Eddy Betty tidak hanya menampilkan lini EdBe yang selama ini ia khususkan untuk busana-busana batik ready to wear, pada Sariayu Bazaar fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini ia juga mempertontonkan koleksi teranyar dari lini utamanya, Eddy Betty. Ia kemudian memilih bintang Hollywood legendaries, Elizabeth Taylor sebagai inspirasi utama karyanya. Melalui koleksinya ia seolah  membayangkan lambing glamoritas Hollywood yang ikonis ini ditempatkan dalam sebuah scene pertunjukkan Keroncong di Broadway, ditengah musim dingin sambil mengenakan kebaya cantik nan mewah.

Eddy Betty. Model: Dea Nabila

Suhu rendah pada musim dingin tidak lagi menjadi halangan ketika Eddy Betty menambahkan aksen penghangat berupa bulu-bulu, coat, dan mantel yang terbuat dari kulit hewan berbulu tebal namun terlihat sangat lembut.

Tidak hanya menampilkan kebaya yang berpadu dengan aksen penghangat, pada sekuensnya, Eddy Betty turut menampilkan beberapa koleksi kebaya yang ia desain khusus untuk pernikahan. Salah satu kebaya untuk pernikahan yang ia tampilkan adalah kebaya yang ia desain untuk pernikahan model cantik Laura Basuki beberapa waktu lalu. Kebaya pernikahan tersebut dibawakan langsung oleh sang mempelai, Laura Basuki.

Eddy Betty. Model: Laura Basuki

Bagi saya, secara keseluruhan, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah satu kesatuan karya masterpiece dari semua yang terlibat didalamnya. Terlepas dari beberapa kekurangan yang masih terdapat dalam penyelenggaraannya, Sariayu Bazaar Fashion Celebration meninggalkan kesan mendalam yang tidak akan terlupakan,dan membuat saya semakin menantikan acara tahunan ini di tahun mendatang.

Part 1 Bazaar Fashion Celebration 2011. Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” VS Bazaar Fashion Concerto 2010 “Fashiontech”

“Antara Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” dan kenangan setahun lalu di Bazaar Fashion Concerto 2010 “Fashiontech” “

Saya nggak akan pernah lupa moment penting satu tahun lalu, sekitar awal Desember di tahun 2010. Saat itu saya benar-benar terpukau dengan sebuah pagelaran busana yang dikemas dengan live music yang begitu megah dan mengagumkan. Pagelaran busana itu bernama Bazaar Fashion Concerto “Fashiontech”. Sejak saat itu saya hampir tidak bisa menghilangkan kenangan dan rasa kagum yang mendalam tentang acara, yang akhirnya saya tahu, dihelat setahun sekali oleh majalah Bazaar. Sejak saat itu pula saya seolah menanti-nanti kapan Bazaar Fashion Concerto akan digelar lagi.

Selang setahun berlalu akhirnya saya mendapat kabar bahwa Bazaar Fashion Concerto akan kembali dilaksanakan. Tetapi acara akbar ini seolah berganti rupa, dan berganti nama. Tidak ada lagi Bazaar Fashion Concerto, kali ini judulnya adalah Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Sangat berbeda dengan Bazaar Fashion Concerto setahun lalu, Bazaar Fashion Celebration 2011 digelar dengan lebih sederhana. Jika pada tahun sebelumnya Bazaar Indonesia seperti “jor-jor-an” dalam hal tempat penyelenggaraan, tata panggung, musik pengiring, lighting, pengisi acara, juga para desainer yang berpartisipasi, pada tahun ini semua itu seolah diputarbalik nyaris habis-habisan.

Tempat penyelenggaraan, jika pada tahun sebelumnya Bazaar Fashion Concerto dilaksanakan di Planery Hall JCC yang sebegitu besarnya, kali ini Bazaar Fashion Celebration 2011 diselenggarakan di Grand Ballroom Ritz Carlton Pasfic Place yang jauh lebih sedikit kapasitas penontonnya dibandingkan dengan Planery Hall JCC.

Selain itu, perihal tata panggung, musik pengiring dan lighting juga tidak seheboh tahun lalu yang sarat akan unsur teknologi dan penuh kejutan,  Bazaar Fashion Celebration kali ini meski tetap mengawinkan duo jempolan Jay Subijakto sebagai show director, dan Erwin Gutawa sebagai music director, ditata dengan lebih sederhana.

Seperti misalnya, lintasan panggung untuk para model memang lebih panjang karena berbentuk lingkaran penuh dengan tiga titik sudut lintasan untuk berhenti, pose, dan diabadikan gambarnya oleh para media yang meliput. Tetapi tata panggungnya cenderung lebih sederhana, clean, dan tidak ada gimmick-gimmick seru seperti tahun lalu ketika pada pembukaan sequens parade busana Sally Koeswanto, Drina Ciputra menjadi first face yang bergaya ala alien yang keluar dari sebuah tempat persembunyian dengan koreografi yang super menawan.

Meski diselenggarakan dengan kesan lebih sederhana dan “tidak macam-macam”, bukan berarti Bazaar Fashion Celebration 2011 berlalu tanpa meninggalkan kesan berarti. Itu semua salah besar!. Memang jika perhatikan Bazaar Fashion Celebration 2011 diselenggarakan dengan lebih sederhana, desainer yang berpartisipasi pun hanya tiga orang, berbeda jauh dari tahun lalu yang melibatkan sepuluh orang desainer. Namun cenderung lebih sederhananya penyelenggaraan Bazaar Fashion Celebration dibandingkan Bazaar Fashion Concerto di tahun sebelumnya menghadirkan beberapa point plus. Seperti misalnya suasana lebih intim yang tercipta.

Atmosfer perayaan fesyen dari Bazaar kali ini memang bukan layaknya pesta besar-besaran ulangtahun televisi swasta, perayaan fesyen dari Bazaar kali ini seperti sebuah perayaan pesta hari jadi seseorang atau perayaan ulang tahun pernikahan, dimana yang hadir adalah sebuah keluarga besar, sahabat, dan handai taulan yang mempunyai ikatan perasaan satu sama lain.

Selain itu berkurangnya jumlah desainer yang berpartisipasi dari sepuluh desainer di tahun 2010, dan kini tiga orang desainer membuat koleksi busana yang ditampilkan menjadi lebih fokus. Meski tentunya koleksi yang ditampilkan para desainer berbeda tetapi benang merah yang merupakan pengikat utama dalam keseluruhan koleksi dan acara amat terasa pada setiap sekuens yang dihadirkan.

BIN HOUSE oleh Obin Komara

Nafas utama dalam terselenggaranya acara ini, yakni keroncong juga sangat terwakili dengan metode penyelenggaraan Bazaar Fashion Celebration yang lebih sederhana dan intim. Para tamu undangan yang hadir seolah diajak berkunjung ke dua suasana berbeda. Pada masa kejayaan musik keroncong yang membawa pada atmosfer nostalgia masa lalu, dan pada hari ini, dimana musik keroncong dimunculkan kembali dalam kemegahan tata musik orkestra modern yang memukau serta  alunan suara merdu dari para pengisi acara, Bunga Citra Lestari, Sammy Simorangkir, Sundari Soekotjo, dan penyanyi cilik (yang merupakan main cast musical Laskar Pelangi) Christoffer Nelwan, Kanya, Hilmi Faturrahman, dan Sheila Hasto. 

Dengan treatment yang lebih sederhana dan intim itu, semua orang yang menonton secara langsung jalannya acara Bazaar Fashion Celebration 2011 rasanya lebih bisa menikmati keseluruhan sajian Bazaar Fashion Celebration 2011.

EdBe oleh Eddy Betty

Hal lain yang bagi saya turut menjadi point plus Bazaar Fashion Celebration 2011 adalah space-space yang sediakan oleh penyelenggara untuk media yang meliput jauh lebih nyaman dibandingkan pada tahun sebelumnya. Jarak kursi khusus untuk media, serta jarak fotografer pit dengan panggung jauh lebih dekat, hal ini sangat memudahkan para jurnalis dan fotografer untuk mengabadikan moment berlangsungnya Bazaar Fashion Celebration 2011.

Dan tulisan part ini saya cukupkan sampai disini. Mari lanjut ke part 2. Enjoy!

Hari Kedua JFW 2012 ; Warna-Warni Di Fashion Show IPMI “Color Me Life”

Dalam satu tahun ada dua kali pagelaran busana yang dipersembahkan bagi Robby Tumewu. Terharu!

Sebelumnya, Anne Avantie melalui fashion show Puteri Tionghoa yang diadakan bertepatan dengan malam pembukaan Jakarta Fashion and Food Festival 2011(JFFF 2011) telah mempersembahkan pagelaran busana tersebut bagi Robby Tumewu, desainer senior yang selama ini juga dikenal sebagai entertainer serba bisa. Kali ini, 10 rekan sejawatnya yang tergabung dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia(IPMI) melakukan hal serupa. Mereka mempersembahkan sebuah rangkaian pagelaran busana alias fashion show bagi Robby Tumewu yang pada tahun lalu sempat melalui kondisi kesehatan yang cukup kritis.

Kesepuluh orang desainer IPMI tersebut menamai fashion show itu “Color Me Life”. Mereka terinspirasi oleh “warna-warni” yang diciptakan oleh Robby Tumewu selama berkarya sebagai desainer. Mereka menganggap Robby telah memiliki andil yang begitu besar dalam perkembangan dunia fesyen Indonesia melalui karya-karyanya.

Kesepuluh desainer tersebut adalah Tri Handoko, Adesagi Kierana, Era Soekamto, Ghea Panggabean, Tuty Cholid, Kanaya Tabitha, Liliana Lim, Yongki Budisutisna, Carmanita, dan Barli Asmara. Pada fashion show “Color Me Life”, para desainer menyajikan 6 buah koleksi busana terbaru yang masing-masing dari desainer mewakili satu warna berbeda. Warna yang diangkat masing-masing desainer mewakili energy dan semangat sosok Robby Tumewu selama berkarya.

Sejak awal saya mendengar semua premis ini, saya langsung bersemangat untuk menyaksikan bagaimana fashion shownya. Terlebih saat saya mengetahui model androgyny Darell Ferhostan akan turut ambil bagian dalam show tersebut. Ia akan menjadi model first face untuk koleksi dari Tri Handoko.

 

Fashion Show pun dimulai dengan jadwal yang tidak ngaret banyak. Dibuka oleh rancangan dari Tri Handoko yang mengambil warna putih sebagai warna utama keseluruhan busana yang ia pamerkan.

Jujur saya jauhhhh lebih suka dengan mini koleksi Tri Handoko kali ini dibandingkan dengan koleksi yang ia pertunjukkan saat IPMI Trend Show 2012 beberapa waktu lalu. Rancangan Tri Handoko kali ini bagi saya lebih menarik walau seluruhnya berwarna putih dan masih mengusung ready to wear. Pada sequensnya, make up dan hair do para model juga sangat simple dan mengambil kesan “geek and nerd”, namun itu turut jadi bagian yang menambah menarik keseluruhan koleksi Tri Handoko.

Setelahnya, gaun-gaun malam berwarna merah dengan garis rancang klasik disajikan Liliana Lim. Melihat mini koleksi karya Liliana Lim, kesan seksi nan sensual pun terpancar, mungkin karena warna merah yang dipilihnya.

Telah sejak awal saya mengagumi karya Ghea Panggabean yang selalu kental nuansa etnik. Setelah pada pagelaran busana di tahun sebelumnya Ghea banyak bermain-main dengan budaya Jawa, kali ini Ghea hadir dengan mini koleksi yang mengambil inspirasi dari suku Dayak di pedalaman Kalimantan. Untuk mini koleksinya ini, Ghea Panggabean mewakili warna Oranye.

Tuty Cholid dengan warna kuning nya masih mengambil silluet baju-baju tradisional khas Sulawesi Selatan. Koleksi busana dengan gaya ini sebelumnya telah Tuty Cholid tampilkan pada fashion show nya di IPMI Trend Show 2012 yang juga belum lama ini berlalu.

Warna hijau adalah warna yang dipilih oleh Era Soekamto dalam mewakili kreasi terbarunya. Seperti biasa, kesan sexy selalu melekat pada koleksi Era. Untuk “Color Me Life” ini Era menampilkan 6 set busana yang terdiri atas gaun pendek berdetail bordir yang ia padukan dengan kain silk sebagai material dasar.

Playful, edgy, asimetris, rame, dan terkesan glamour adalah hal yang melekat erat pada hampir semua koleksi Adesagi Kierana. Dalam mini koleksi yang diperuntukkan bagi rangkaian fashion show “Color Me Life” ini Adesagi kembali menghadirkan hal serupa. 6 set busana yang ia pamerkan dalam warna Turqoise atau biru kehijauan memunculkan kesan penuh drama.

Gaun pendek dengan material ringan dipadu dengan bahan seperti denim menjadi andalan Yongki Budisutisna dalam mini koleksinya yang mewakili warna Biru. Melalui koleksinya tersebut, Yongki menghadirkan kesan elegan dan formal sekaligus santai dan casual.

Saya selalu mengingat Carmanita dengan busana bertumpuknya. Gayanya bohemian, dengan potongan busana dari bahan-bahan ringan yang kemudian ia tumpuk sehingga terkesan lebih memiliki volume. Ia juga sangat terlihat menyukai warna-warna “wanita” seperti merah muda dan ungu. Begitupun pada koleksinya kali itu, warna ungu jadi warna yang ia angkat dalam 6 set koleksi busana karyanya.

Sifon, silk, print, dan lame adalah material yang dipilih Kanaya Tabitha untukmini koleksinya. Ia mewujudkan warna emas dengan interpretasi sebuah kesempurnaan. Mungkin sebuah keindahan yang berbalut nuansa glamour. Tidak tanggung-tanggung, ia mewujudkan warna emasnya dengan taburan crystal swarovski pada 6 busana rancangannya.

****

Pada hari kedua itu sebenarnya saya lihat 2 show. Yang satu adalah Grazia Glitz and Glam awards. Tapi jujur saya nggak terlalu ingat detail gimana shownya, saat itu saya juga sama sekali tidak mengabadikan gambar karena sudah terlanjur duduk manis bersama Abang saya di kursi tamu undangan. Tapi, kalau Grazia Glitz and Glam Awards diadakan sebelum IPMI “Color Me Life”, ada juga fashion show yang diadakan setelah IPMI, yakni fashion show tunggal dari Batik Danar Hadi.
Saya melewati fashion show Danar Hadi tersebut. Setengah males, dan saya juga memilih untuk menemani seorang teman yang kakinya terkilir seusai fashion show IPMI “Color Me Life. Saya menemani dia mencari obat sampai dijemput oleh supirnya. Setelahnya ada lagi teman saya yang kakinya berkali-kali keram sesaat sebelum show, saya kembali menemani dia ke minimarket obat yang ada di Pasific Place. Sesudah itu semua, fashion show sudah dimulai, saya tidak bisa masuk kedalam. Nggak apa, bagi saya nggak masalah. Teman yang lagi susah lebih penting daripada deretan baju yang akan dipamerkan, ya kan?.

Prinka Cassy ; West Look Indonesian Model, The Newcomer!

For sure All, ajaklah dia berbicara bahasa Indonesia, dia bukan Bule.

Tidak banyak model pendatang baru alias newcomer yang memiliki karir cemerlang di tahun-tahun awal kemunculannya dalam jagad fesyen Indonesia. Dari belasan nama model newcomer yang ada, rasanya mereka yang memiliki karir mencorong jumlahnya bisa dihitung dengan jari disatu tangan. Tidak mengherankan memang hal seperti itu terjadi, terlebih jika kita melihat peta persaingan model catwalk yang sangat ketat, ditambah dengan ekspansi model-model import yang semakin menggila belakangan ini.
Lalu terdengarlah nama Prinka Cassy, seorang model berwajah Londo yang namanya sempat menjadi buah bibir atas segala pencapaiannya yang terbilang tidak biasa di dua tahun karirnya. Dua tahun karir yang segera melesatkan Prinka ke dalam jejeran model papan atas Indonesia.

Prinka Cassy Pertiwi adalah seorang model berkewarganegaraan Indonesia yang memiliki darah campuran Manado-Sunda-Belanda. Kewarganergaraan Prinka saya rasa memang harus di bold seperti itu karena tidak hanya ada satu dua kasus orang-orang yang mengira bahwa model yang memiliki warna rambut dark brown ini adalah model import alias bule yang kini semakin marak berseliweran di panggung mode Indonesia. Padahal Prinka yang kerap menjadi model langganan desainer Ghea Panggabean ini sangatlah Indonesia dibalik wajah bule yang ia miliki, mulai dari cara dan gaya bicara, sampai attitude di atas catwalk.

Prinka memulai kariernya dengan mengikuti ajang pemilihan model “Gading Model Search” pada tahun 2009 dan memperoleh juara ketiga dalam ajang pemilihan tersebut. Sebagai model Indo, Prinka memiliki raut wajah yang unik serta berbeda dari para model berdarah campuran kebanyakkan. Hal tersebut menjadi salah satu kelebihan Prinka diantara para model lainnya, disamping tubuh proporsional dengan tinggi 179cm dan berat 53kg yang ia miliki. Dengan semua kelebihan yang ia miliki, tak heran bila sulung dari tiga bersaudara ini masuk dalam jejeran model pendatang baru alias newcomer yang patut diperhitungkan. Sosoknya kini sangat mudah dijumpai diberbagai pagelaran fashion para designer ternama seperti Biyan, Sebastian Gunawan, Priyo Oktaviano, dan Ghea Panggabean.

Desainer Ghea Panggabean yang terkenal akan rancangan-rancangan berbau etniknya bahkan sempat memboyong Prinka pada pagelaran fashionnya “The Splendor of Indonesia” di Milan, Italia pada Oktober 2010 lalu. Selain itu, gadis bermata sayu kelahiran Jakarta, 26 November 1991 ini juga terpilih sebagai Face Icon Jakarta Fashion and food Festival 2011. Dan yang terpenting adalah semua itu dicapainya dalam waktu kurang dari dua tahun karirnya dalam dunia modeling Indonesia!. Sebuah pencapaian yang terbilang sangat mengesankan untuk ukuran seorang model newcomer di Indonesia.

Disela-sela kesibukkannya sebagai model catwalk, serta aktivitas lainnya, Prinka masih menyempatkan diri untuk menekuni salah satu hobi favoritnya yakni membaca buku-buku yang berhubungan dengan sejarah dan biografi orang-orang terkenal.

Teks: Armadina
Foto :
-Windy Sucipto
-AMICA Indonesia
-Doc Pribadi
-Facebook Prinka Cassy