Refleksi Gaya Pria oleh Oka Diputra

Pilihan warna monokromatik koleksi Oka Diputra di IFW 2013. Model: Andaka Dewangga

Pilihan warna monokromatik koleksi Oka Diputra di IFW 2013. Model: Andaka Dewangga

Memulai karir di dunia mode sejak tahun 90an, nama Oka Diputra dikenal luas berkat rancangan busananya yang unik. Desainer kelahiran Surabaya, 18 September 1970 ini hampir selalu menggunakan teknik potong bias dan meminimalisir penggunaan kancing serta ritsleting dalam busana rancangannya, sebagai gantinya, ia lebih senang mamakai teknik ikat pada busana. Hasilnya, busana karyanya selalu khas, terlihat praktis, multifungsi, mudah dipadupadankan, minim ornamen namun memiliki daya pakai yang tingi.

Koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Siluet celana jodhpur dan tank top pria pada koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Siluet celana jodhpur dan tank top pria pada koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Hoodie deep V neck jadi bagian dari koleksi Oka Ciputra di IFW 2013.

Hoodie deep V neck jadi bagian dari koleksi Oka Ciputra di IFW 2013.

Setelah sebelumnya Oka Diputra lebih banyak berkutat dalam dunia rancang busana perempuan, pada perhelatan Indonesia Fashion Week 2013(IFW 2013) desainer anggota APPMI ini kembali melirik ranah rancang busana pria yang dulu sempat ia tekuni diawal karirnya. Menghadirkan sekitar 15 set busana pria, kita seakan diajak untuk mengenal sang kreator lebih dalam, terutama gaya penampilannya. Pecinta, pemerhati, serta penikmat mode yang mengenal atau mengetahui sosok Oka Diputra pasti sudah akrab benar dengan gaya berbusananya, dan hal itulah yang jadi embrio inti rangkaian busana koleksinya kali ini. Rangkaian busana tersebut angat terasa merefleksikan gaya serta karakter sang desainer yang edgy, unik, dan twisty.

Detil print motif burung pada unsleeves shirt Oka Diputra di IFW 2013. Model: Darell Ferhostan

Detil print motif burung pada unsleeves shirt Oka Diputra di IFW 2013. Model: Darell Ferhostan

Kemeja putih dengan detil print motif burung di bagian bahu yang mencuri perhatian pada koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Kemeja putih dengan detil print motif burung di bagian bahu yang mencuri perhatian pada koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Dalam rangkaian koleksi teranyarnya, Oka Diputra menyuguhkan busana pria yang unik dan edgy. Celana harem, celana jodhpur, knickerbockers, hingga celana bersiluet super ramping dihadirkan Oka Diputra bersama pasangan atasan yang tak kalah menarik misalnya saja kemeja bermotif burung, rompi, glittery crop tee, hingga kaus model tank top. Untuk masalah detil, Oka Diputra terasa sangat piawai memainkannya, tidak hanya motif burung-burung pada kemeja dan rompi karyanya saja yang mencuri perhatian tapi juga detil cowl neck, serta hooded draped  turut jadi bagian menarik dalam koleksi busananya. Sementara dalam perkara warna, Oka Diputra mendominasi koleksinya dalam 4 warna utama, hitam, putih, abu-abu dan merah.

Kolaborasi Apik Deden Siswanto dan Pinot Noir

Finale Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013.

Finale Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013.

Berkarakter kuat, klasik, sarat akan maskulinitas, serta dibalut dalam sentuhan modern adalah kesan yang terlukis kala menyaksikan deretan koleksi busana milik Deden Siswanto untuk Pinot Noir. Dengan mengambil inspirasi dari sebuah film romantis era 90an, “A Walk In The Clouds”, rasanya sang desainer menuai sukses besar dalam menginterpretasikan bagian-bagian cerita dalam film tersebut ke jajaran koleksi busana teranyarnya.

Tokoh utama film bernama Paul Sutton, seorang tentang militer yang baru saja kembali dari medan perang Pasifik tahun 1945, berhasil Deden bangkitkan melalui busana siap pakai pria yang ia ramu dengan aroma military yang kental.

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013.

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013.

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model: J Ryan Karsten

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model: J Ryan Karsten

Busana dasar semisal celana bermuda, celana panjang, kemeja lengan panjang, rompi, hingga frock coat atau mantel panjang hasil adaptasi mantel militer dari abad ke-19 dihadirkan Deden Siswanto dalam garis rancang yang tegas dan volume yang terkesan padat serta sisi maskulin yang sangat terasa. Dalam pemilihan warna, koleksi busana kali ini banyak didominasi oleh warna hijau khaki, coklat, merah marun, abu-abu, dan biru yang pada beberapa racikan busana terselip kesan lembut dan melankolis. Untuk urusan material, Deden banyak mengaplikasikan katun, linen dan voil.

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model: Darell Ferhostan

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model: Darell Ferhostan

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model(tengah): Darell Ferhostan

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model(tengah): Darell Ferhostan

Dalam keseluruhan presentasi busana karya Deden Siswanto untuk Pinot Noir di gelaran Indonesia Fashion Week 2013 ini, hal lain yang tak kalah menarik adalah bagaimana Deden mengemas satu set outfit bersama aksesoris penunjang. Syal yang dililitkan pada leher model, kalung handmade yang unik, cummerbund atau kain lebar yang biasa dikenakan untuk ikat pinggang, cap, serta topi fedora yang jadi aksesoris pelengkap menjadikan keseluruhan koleksi terasa makin hidup dan menarik.

Koleksi Busana Siap Pakai Pria Metropolis dari 3D by Tri Handoko dan Dave Hendrik

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik pada IFW 2013.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik pada IFW 2013.

Meski baru terbentuk seumur jagung, label hasil kolaborasi Tri Handoko dan Dave Hendrik yang diberi nama 3D nyatanya mampu memikat perhatian para penikmat mode Indonesia. Hal ini terbaca jelas saat label 3D unjuk gigi di perhelatan Indonesia Fashion Week 2013 yang terselenggara pada Februari silam. Antusiasme seluruh tamu undangan serta para pewarta mode yang memenuhi Plenary Hall JCC terasa penuh semangat kala satu persatu model berjalan diatas panggung peragaan busana dengan membawakan outfit dari 3D.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013. Model: Nico Christianto.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013. Model: Nico Christianto.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013.

Rangkaian koleksi teranyar dari 3D membawa beberapa dualisme. Misalnya saja, potongan busana yang terasa tegas namun sering terkesan lembut melalui pemilihan warna-warna pastel, serta dari segi desain yang bisa dikatakan klasik karena lebih banyak bermain pada busana dasar namun sekaligus banyak mengandung twist pada detil. Dualisme yang tercipta pada koleksi 3D kemudian membawa daya tarik tersendiri. Dualisme ini seakan jadi cerminan terhadap gaya para pria urban di kota metropolitan yang sering dikatakan banyak orang sebagai metroseksual.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013. Model: Hendy Bramantyo

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013. Model: Hendy Bramantyo

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013. Model: Nico Christianto

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013. Model: Nico Christianto

Celana panjang bersiluet ramping, bermuda, clam digger pants atau celana ramping dengan panjang sebetis, jumpsuit, T-shirt, kemeja lengan panjang, blazer hingga atasan yang berkantung empat yang sekilas mengingatkan kita dengan model baju safari ditampilkan 3D dalam permainan tabrak motif serta padupadan warna yang sangat modern. Koleksi busana 3D tanpa ragu memadukan motif garis-garis horizontal dengan motif tulang ikan, atau motif kotak-kotak berwarna gelap yang ditabrakan dengan warna pastel yang lebih terang.

Melihat keseluruhan koleksi 3D, kita seolah dipertemukan pada keunikan campuran aneka citarasa, klasik, twisty, edgy, dan modern.

Finale 3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013.

Finale 3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013.

Indonesia Fashion Week 2013, What’s Next After Colorful Indonesia?

Image

Penggelut, pemerhati serta pecinta dunia mode di Indonesia tentu sudah akrab dengan beberapa nama perayaan mode tahunan yang terselenggara di Bumi Pertiwi, terutama yang dilaksanakan di Ibukota. Di tahun 2012 silam, tersebutlah satu perayaan mode teranyar yang dihelat, perayaan tersebut bernama Indonesia Fashion Week. Publik mungkin sempat dibuat bingung ketika awal penyelenggaraannya. Mengira-ngira apakah Indonesia Fashion Week ada kaitannya dengan Jakarta Fashion Week? Mungkinkah ajang ini seumpama peleburan seluruh pekan mode yang ada sehingga terangkum jadi satu? Jawabannya adalah, tidak.

Indonesia Fashion Week merupakan satu perayaan mode baru yang bagi saya hadir bukan untuk merangkum keseluruhan ajang perayaan serta pekan mode yang ada. Bagi saya, Indonesia Fashion Week ada untuk semakin menyemarakan peta dunia mode Indonesia melalui kekhasan dan warnanya sendiri. Indonesia Fashion Week hadir dalam konsep yang berbeda. Acara ini tidak hanya memfokuskan pada acuan tren mode dalam kurun waktu setahun setelah penyelenggaraan, tapi juga melebarkan sayap dan memeluk lebih banyak aspek yang ada di dalam industri mode di Indonesia.

Talkshow, peluncuran buku mode, kompetisi desain, hingga ajang pemasaran produk mode karya anak negeri jadi agenda acara selain peragaan busana yang tentunya menjadi salah satu menu utama yang paling ditunggu-tunggu selama berlangsungnya Indonesia Fashion Week.

Bagi saya, menjadi sangat menarik ketika ajang perayaan mode tidak hanya ada sebagai acuan tren di masa mendatang, melainkan ajang pengenalan, pemasaran, dan juga promosi produk mode dari para perintis baru. Indonesia Fashion Week melakukannya dengan cukup baik dan menarik karena memberikan ruang bagi desainer muda atau mereka yang baru memulai usahanya di bidang fesyen untuk bisa memasarkan produknya di rangkaian acara Indonesia Fashion Week.

Bagi saya, di tahun kemarin, Indonesia Fashion Week secara keseluruhan berhasil menuai sukses. Tema “Colorful Indonesia” yang diusung telah mampu diterjemahkan dengan baik pada keseluruhan aspek. Pemilihan desainer ataupun merek yang koleksinya ditampilkan pada peragaan busana baik yang berlokasi di Assembly Hall dan Plenary Hall memiliki warna-warni tersendiri yang mampu mewakili setiap warna yang terpancar dari keberagaman di Indonesia.

Desainer-desainer yang biasa kita kenal dengan karyanya yang berbau etnik seperti Ghea Panggabean, Deden Siswanto, Musa Widyatmodjo hingga Anne Avantie terasa semakin kuat dalam rangkaian koleksi yang dipamerkan. Sementara para desainer muda yang memiliki semangat kebebasan dalam berkarya semisal Yosafat, Jeffry Tan, sampai  Nina Nikicio menampilkan koleksi-koleksi yang mampu merefleksikan kaum muda di kota-kota besar Indonesia dewasa ini. Pengunjung yang datang dan membeli tiket untuk dapat menikmati ajang Indonesia Fashion Week pun cukup dimanjakan dengan keanakeragaman pilihan berbelanja produk fesyen dari para exhibitor.

Meski secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa Indonesia Fashion Week merupakan satu perayaan mode yang komplet, namun pertanyaan-pertanyaan besar muncul kemudian. Bagaimanakah jalannya ajang Indonesia Fashion Week di tahun 2013 ini? Dapatkah Indonesia Fashion Week memenuhi ekspetasi akumulasi kesuksesan yang berhasil ditoreh pada tahun penyelenggaraan kemarin? Dan yang terakhir, apalagi inovasi yang akan ditawarkan gelaran Indonesia Fashion Week setelah “Colorful Indonesia” ? Penasaran sekaligus tak sabar rasanya menunggu ‘what next?’ di Indonesia Fashion Week.