Chateau Fleur : Panggung Magis Peragaan Busana Tunggal Perdana Hian Tjen

Agaknya benar bila perputaran kreator di dunia mode begitu dinamis. Setiap jeda waktu pasti ada saja bibit-bibit baru bermunculan dan memamerkan karya. Darah-darah muda yang masih menggelorakan semangat dalam mencipta menawarkan warna berbeda atau setidaknya warna serupa yang dikemas sedemikian rupa hingga tidak lagi sama. Salah satunya Hian Tjen, desainer muda yang baru genap menapak kepala tiga beberapa waktu lalu.

Simona, Hian Tjen, Paula Verhoeven (Kiri-Kanan)

Simona, Hian Tjen, Paula Verhoeven (Kiri-Kanan)

Saya hampir lupa kapan terakhir menjejakan kaki di tempat peragaan busana, menyaksikan satu persatu model yang wajahnya sudah sangat familiar melenggak-lenggok di atas catwalk. Seingat saya, itu pun kalau tidak salah, sekitar bulan Februari lalu ketika perhelatan Indonesia Fashion Week menjadi agenda terpenting di dunia mode Indonesia. Tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, saat Indonesia Fashion Week tempo lalu saya hanya datang pada dua peragaan busana, salah satunya peragaan busana penutup. Semenjak kuliah saya semakin padat, saya memang tidak lagi bisa berlama-lama atau menyempatkan banyak waktu untuk wara-wiri di berbagai peragaan busana Ibu Kota. Walhasil, selain sering ketinggalan beragam perkembangan, saya jadi begitu merindukan suasana peragaan busana, dan merindukan teman-teman yang biasa saya temui di kursi tamu, photographer pit atau belakang panggung.

Terkejut dan bersemangat. Dua perasaan itu sama-sama muncul dalam benak saya ketika mengetahui Hian Tjen akan melaksanakan peragaan busana tunggal perdana. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah sebegitu lamanya saya absen dari perkembangan mode Indonesia hingga tahu-tahu, Hian Tjen yang masih saya bayangkan sebagai salah satu desainer muda sudah memantapkan diri mengadakan peragaan busana tunggal. Tanda eksistensi dan pengukuhan posisinya di dunia mode.

Sapaan hangat salah satu Tim Muara Bagdja yang sayangnya saya lupa namanya tetapi ingat benar perawakannya terasa begitu menyenangkan saat tiba di depan Dian Ballroom Hotel Raffles. Saya senang karena ia masih mengingat saya meski sudah cukup lama absen hadir dalam sebuah peragaan busana. Begitu pula pelukan hangat dari Mas Gita dan Mbak Alvie dari Tim Muara Bagdja yang seolah menebus satu persatu rasa rindu. Saya merasa luapan keakraban yang telah lama absen. Setelah bercakap-cakap sebentar dan mencicipi hidangan makanan lezat Hotel Raffles saya melanjutkan langkah kaki memasuki Dian Ballroom, tempat berlangsungnya peragaan busana tunggal Hian Tjen.

Drina Ciputra. Model Pembuka "Chateau Fleur".

Drina Ciputra. Model Pembuka “Chateau Fleur”.

Chateau Fleur.

Chateau Fleur.

Advina Ratnaningsih. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Advina Ratnaningsih. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Nuansa muram menguar kencang saat saya memasuki Dian Ballroom. Sinar lampu temaram dan asap tipis serupa kabut lembut mengepung seluruh ruangan. Suhu rendah dari pendingin ruangan menyapu pelan permukaan kulit, dan dingin semakin terasa menembus nyaris ke tulang saat semakin lama duduk diam bersama kamera kesayangan, menunggu peragaan busana dimulai. Dalam tenang saya mengamati sekeliling ruang. Dari tempat saya duduk, tepat di depan lintasan panggung peragaan busana, saya dapat melihat dekorasi berupa sebuah meja makan panjang nan megah berdiri kokoh ditengah ruangan. Meja tersebut dikelilingi kursi-kursi yang berjajar namun terkesan ditata sembarang. Di atas meja tampak dekorasi lilin, dan benda-benda asing yang tidak semestinya ada di atas meja makan. Sungguhan seperti kerangka kepala rusa, bunga-bunga liar, dan tetumbuhan menjalar mengesankan meja tersebut lama ditinggalkan.

Meluaskan pandangan, bola mata saya tertambat pada dekorasi serupa tembok-tembok tebal yang usang. Anggun dan pongah disaat bersamaan, seperti bangunan-bangunan peninggalan era kolonial yang terbengkalai di daerah Kota Tua, atau seperti gambaran tentang kastil-kastil kuno dan berhantu dalam cerita-cerita horor barat klasik. Dinding yang terkikis, bata-bata bersembulan, sulur-sulur dari tumbuhan menjalar, warna cat yang jadi sulit terdeteksi warna aslinya, semua lebur jadi satu. Belum lagi sinaran tata lampu ruangan yang memancarkan pendar temaram diselingi bias cahaya merah, yang tersisa di ujung lidah saya hanya tinggal satu kata, magis.

Saya masih terpesona ketika suara Master of Ceremony menggema. Ia lalu menjelaskan latar belakang peragaan busana dalam bahasa Inggris fasih dan pelafalan judul peragaan busana dalam Perancis yang legit. Temaram lampu ruangan digantikan sebuah titik tembak yang tahu-tahu ada di ujung kiri lintasan panggung peragaan busanaa. Dan lagi-lagi, saya seakan terhipnotis saat Drina Ciputra melesat masuk sebagai model pembuka peragaan busana “Chateau Fleur”.

Mengumpamakan peragaan busananya layaknya sebuah lakon, Hian Tjen mendongengkan sebuah kisah yang mungkin telah lama mengusik kepalanya. Tanpa mengawalinya dengan kalimat “Once upon a time”, Hian langsung mengajak kita masuk ke dalam sebuah adegan yang dalam bayangan saya adalah perjamuan di sebuah kastil antah berantah. Di dalam perjamuan itu kemudian ia bercerita tentang dua sifat manusia yang rasa-rasanya selalu membuatnya terkesima. Si cantik bertabiat buruk dan si rupawan berwatak baik. Keduanya saling berkilatan, muncul berdampingan, menawarkan pesona yang sama-sama memabukan.

Wita Juwita. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Wita Juwita. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Paula Verhoeven. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Paula Verhoeven. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Selma Abidin. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Selma Abidin. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Membagi peragaan busananya dalam dua sekuens, “Evil Stalked The Night” merajut kisah yang meremangkan bulu roma di atas panggung peragaan busana. Alunan musik syahdu yang kadang terdengar menyeramkan mengiringi para model membawakan  busana dengan dominasi warna merah dan hitam. Melalui dua warna yang dimunculkan, Hian merepresentasikan bahwa merah mengandung kebengisan dan hitam menampilkan sisi gelap sekaligus jahat dari diri manusia. Kedua warna tersebut diibaratkan Hian sebagai irisan hati yang palsu dari perempuan yang tetap mampu memancarkan keindahan meski terbalut kejahatan.Siluet sederhana namun terkesan elegan membalut tubuh para model dalam potongan busana gaun pendek mau pun panjang, terusan bervolume kaya wiru, hingga ballgown. Permainan detil yang tanpa malu-malu ditunjukan Hian menjadikan keseluruhan koleksi pada sekuens pertama ini terlihat kompleks.

Sebagai sekuens pembuka “Evil Stalked The Night”  sukses merepresentasikan keinginan Hian untuk menyajikan sisi kelam keindahan. Potongan-potongan busana yang bisa jatuh terasa “biasa saja” dan telah berulang ditampilkan desainer mode lain, ditangannya tampil dengan suatu muatan yang terlalu kuat mendatang imej baru. Ambil contoh begini, gaun panjang dengan potongan dada yan begitu rendah, gaun panjang dengan tekstur bahan ringan melambai dengan belahan kaki hingga atas paha, atau gaun pendek dengan bulu-bulu unggas tentu bukan barang baru di dunia mode, namun dengan dramatisasi atmosfer yang diciptakan pada peragaan busana seakan menghapuskan rasa de javu yang mungkin tercipta. Satu-satunya yang sedikit mengusik pikiran saya hanya potongan ingatan yang terus berseliweran tentang film Black Swan dan Maleficent yang memiliki “cita rasa” serupa.

Christina Borries. "Love Will Bring The Joy", Chateau Fleur.

Christina Borries. “Love Will Bring The Joy”, Chateau Fleur.

Simona. "Love Will Bring The Joy", Chateau Fleur.

Simona. “Love Will Bring The Joy”, Chateau Fleur.

Katya Talanova. "Love Will Bring The Joy", Chateau Fleur.

Katya Talanova. “Love Will Bring The Joy”, Chateau Fleur.

Bertolak belakang 180 derajat dari sekuens pertama yang kental akan suasana muram dan menakutkan, “Love Will Bring The Joy” menawarkan utopisme yang membuai hati. Pada sekuens ini sang desainer mengisahkan balada tentang cinta dan kebajikan yang selalu ada pada setiap diri manusia. Paparan tentang kebahagiaan yang selalu jadi sisi menyenangkan dari kehidupan ia hadirkan melalui warna-warna pastel seperti baby blue, krem, putih, hingga warna keemasan dalam busana-busana yang bersiluet jubah, gaun panjang, gaun midi, busana bervolume, terusan pendek, hingga busana yang ketat memeluk tubuh. Bagi saya sekuens kedua ini serupa lagu pengantar tidur yang menenangkan. Membawa saya ke satu kisah mimpi yang tidak ingin diakhiri meskipun harus saya akui terlalu membuai-buai sampai-sampai pada beberapa momen saya nyaris mengantuk. Mungkin ini pengaruh dari tata musik yang mengalun pelan dan alur keluar para model yang lamat-lamat. Saya jadi membayangkan, seandainya saja musik lebih memiliki tempo dan nuansa benar-benar dijungkirbalikan jadi riang gembira, mungkin akan lebih menyegarkan mata.

Mengingat kembali keseluruhan sekuens kedua, saya merasa bahwa ada beberapa pesan yang jadi kurang tersampaikan jika merunut dari sisi cerita yang ingin ia bawakan. Hal ini mungkin saja disebabkan terlalu kuatnya atmosfer di sekuens pertama sehingga “Love Will Bring The Joy” kurang membawa kebahagiaan seperti yang semestinya terjadi. Namun konsistensi busana-busana yang disajikan Hian perlu diapresiasi. Ia mampu membuktikan ajegnya benang merah keseluruhan busana sehingga saya masih dapat merasakan kesamaan garis besar gaya rancangannya meski dalam dua sub-tema yang hampir berlainan sama sekali.

Di dua sekuens peragaan busananya, Hian menggunakan variasi bahan duchess, scuba, crepes, serta tule berlipit-lipit. Aplikasi detil rumit pada beberapa bagian busana dikreasikan dari bulu-bulu unggas dan hewan lainnya. Menilik lebih jauh tentang detil potongan busana milik Hian, kita dapat pula menjumpai aksesoris yang menyerupai serangga maupun detil yang terbentuk dari susunan manik-manik yang dijalin sedemikian rupa. Meski memiliki kompleksitas tinggi, keseluruhan karya Hian tidak juga jatuh sebagai “busana pajangan” atau busana yang terlampau “berat” berkat keseimbangan yang dimainkan sang kreator. Hian Tjen terasa arif dalam memberikan porsi kerumitan busana, ia tidak serta merta berambisi menjadikan busana-busananya grande dengan detil njelimet sana-sini, ketika sudah ada detil-detil yang terlampau rumit pada bagian-bagian tertentu busana, ia akan membiarkan bagian lainnya tampil polos sehingga terasa lebih pas.

Merangkumkan keseluruhan kesan atas peragaan busana tunggal “Chateau Fleur” lebih dari memenuhi standar ideal peragaan busana, terutama peragaan busana tunggal, bagi saya. Peragaan busana yang bagus adalah peragaan busana yang mampu menutupi kekurangan koleksi yang ditampilkan atau menyempurnakan keindahannya. Bagi saya Hian  cerdas, ia mampu membangun atmosfer yang sangat pas dan begitu kuat pada peragaan busana tunggal perdananya. Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar setidaknya para tetamu undangan yang hadir di malam itu mudah mengingat peragaan busana debutnya. Dengan menyaksikan peragaan busana “Chateau Fleur” saya serasa menghadiri sebuah pertunjukan teatrikal yang bercerita. Berkesan untuk dikenang.

Antie Damayanti ; Totalitas Dua Panggung Berbeda, Catwalk dan Teater

Menjadi pusat perhatian diatas panggung peragaan busana mungkin jadi hal yang sangat biasa bagi mereka yang menekuni profesi sebagai model catwalk, namun menjadi pusat perhatian diatas panggung teater dan berakting sepenuh jiwa raga, tentu itu lain perkara. Tetapi model satu ini melakukan keduanya, ia menjadi pusat perhatian di keduanya, catwalk dan teater

Antie Damayanti. Foto: Andry Wibowo

Ada suatu keterikatan perasaan yang aneh antara saya dan sosok yang saya lihat pada panggung pagelaran Bazaar Fashion Celebration “Langgam Tiga Hati” yang dihelat pada Desember 2011 silam. Sosok yang saya lihat itu memiliki rambut hitam menjuntai panjang hampir menyapu lantai, wajahnya pucat, dan ia mengenakan gaun putih longgar yang membuat sosoknya seolah melayang di atas panggung Bazaar Fashion Celebration “Langgam Tiga Hati”.

Sosok itu adalah hantu. Hantu dari Putri Gula Oei Hui Lan. Hantu itu benar-benar membuat bulu kuduk saya meremang, bukan hanya karena perasaan tidak nyaman yang menggelayut di hati saya, tapi ada perasaan magis yang mengagumkan. Saya begitu terpesona oleh “hantu” itu, dia begitu nyata, serasa hantu sungguhan, walau saya tahu itu hanya peran pelengkap di sebuah pagelaran tahunan milik majalah Harpers Bazaar Indonesia.

Bagi saya saat itu, si hantu terlalu mempesona. Setiap gerakan yang ia pamerkan di atas panggung sana menyita seluruh perhatian saya, membuat saya terdiam lama, terpesona. Saya merasa terikat, meski hanya searah, tapi saya tahu hati saya sudah tertambat pada si hantu, dan terutama pada sosok asli dibalik si hantu, karena ia begitu sempurna memerankannya. Cukup lama saya mencarinya, dan kini saya tahu persis siapa sosok dibalik hantu Putri Gula Oei Hui Lan, dia adalah Antie Damayanti.

Antie sebagai Putri Gula Oei Hui Lan di Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”

Lahir di Jakarta, 10 Juli 1983, Antie memulai karirnya dengan niatan mulia, membantu seorang teman yang baru saja akan memulai debutnya sebagai fashion designer. Berawal dari sana, ia memberanikan diri untuk mengikuti casting iklan, dan beruntung, ia mendapatkan job iklan pertamanya untuk sebuah produk kecantikan. Namun sayang karirnya harus terhenti karena kedua orangtuanya lebih menginginkan Antie untuk fokus di bangku sekolah, dan menyelesaikan pendidikannya.

Setelahnya, baru pada tahun 2006, Antie memutuskan untuk kembali menggeluti dunia modeling yang sempat ia tinggalkan. Dengan tinggi badan 174cm, dan berat 46 kg, Antie memang tergolong model yang memiliki postur tubuh lebih mungil jika dibandingkan dengan model catwalk lainnya. Tetapi ada satu hal yang sangat menarik dari Antie, yakni karakter wajahnya yang begitu kuat. Ia memiliki gurat oriental yang menarik. Wajahnya tirus dengan garis tulang pipi yang sangat kentara, dan itu yang membuat karakter wajahnya sangat kuat.

Antie oleh Nicoline Patricia Malina

Foto: Portfolio Antie oleh Damn-Inc Models

Sepanjang karir modelingnya Antie telah merasakan berbagai panggung peragaan busana milik desainer ternama Indonesia. Sebut saja nama Biyan, Denny Wirawan, Edward Hutabarat Sapto Djojokartiko, Barli Asmara hingga Ivan Gunawan yang pernah menggunakan jasanya sebagai model pada peragaan busana mereka. Namun mungkin tidak banyak yang tahu bahwa model lulusan D3 Public Relation Interstudy ini menekuni profesi lain sebagai pemain teater.

Peragaan Busana Karya Edward Hutabarat

Trend Show IPMI 2013

Pada tahun 2010 silam bakat terpendam Antie dalam berakting ditemukan oleh tim Teater Populer yang dikepalai aktor kawakan Slamet Rahardjo. Ketika itu, tim Teater Populer tengah menggelar audisi untuk Mercedez Benz yang menginginkan konsep teater pada peluncuran seri mobil terbarunya, dan Antie sebagai salah satu peserta audisi berhasil memikat tim Teater Populer dengan kepiwaiannya memainkan peran. Menjadi bagian dari Teater Populer dan memainkan sebuah peran pada pertunjukkan Mercedez Benz “The Journey” membuat Antie menemukan dunia barunya di atas panggung teater. Tiga bulan lamanya ia mengikuti kelas latihan rutin Teater Populer, dan mempelajari tentang seni peran serta teater.

Penampilan Antie dalam Teater Populer “Pinangan”. Foto: Dokumentasi Teater Populer

Antie dalam “Pinangan” . Foto: Dokumentasi Teater Populer

Banyak hal yang membuat Antie semakin jatuh hati dengan dunia teater, banyak hal yang ia pelajari disana. Teater tak hanya mengajarkannya tentang seni peran dan dunia teater itu sendiri, tapi juga tentang bagaimana melatih diri serta mengenali karakter diri sendiri lebih dalam lagi.

Berlanjut ke bulan Mei tahun 2011, model yang pernah mendapat gelar The Most Sensual Lady di tahun 2000 ini juga terlibat pada pementasan Teater Populer berjudul “Pinangan” yang digelar di Jakarta dan Surabaya. Hingga saat ini, ia masih tetap setia menjalani dua dunianya dengan penuh totalitas. Baginya, jujur terhadap diri sendiri dan bersungguh-sungguh terhadap apa yang dijalani merupakan kunci terpenting ketika ia tengah menekuni profesinya, baik sebagai model maupun pemain teater.