Bagian Pertama, IPMI Trend Show 2013; Kekuatan Esensial 4 Desainer IPMI

Seperti spektrum yang ada karena kolaborasi berbagai jenis warna, jika dipenggal menjadi bagian-bagian terpisah, warna-warna itu akan kembali mendiri, menguarkan pendaran bagi dirinya sendiri, memunculkan satu kekuatan khas yang sudah lama ada di dalam diri.

Finale Carmanita at IPMI’s Trend Show 2013 “Energie”

Saya mengibaratkan warna sebagai para desainer dan pendaran warna, sebagai ciri khas yang selalu ada di setiap karyanya. Sehingga bisa dikatakan bahwa setiap desainer memiliki warna atau kekuatan atau ciri khasnya tersendiri.

Beberapa lama saya menjadi bagian dari perkembangan dunia mode Indonesia, meski hingga kini saya rasa status saya hanya sebagai penikmat dan pengamat “amatiran”, dan bukan sebagai pelaku langsung, namun saya sudah cukup hapal dengan berbagai macam warna yang berpendar-pendar pada masing-masing karya desainer mode di Indonesia.

Si A yang baju-bajunya seperti ini, si B yang karya-karya nya seperti itu, atau si C yang kekuatan utama koleksinya begini. Saya sudah cukup hapal dengan itu semua, walau belum seperti pengamat-pengamat mode senior yang  hatam semua hal tentang mode diluar kepala mereka.

Saya sudah cukup terbiasa melihat karya-karya mereka dengan berbagai warna yang mereka punya. Warna yang menjadi ciri khas serta kekuatan utama mereka. Karena itu saya merasa tidak asing ketika ritual mode tahunan milik Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI), “Trend Show”, seakan coba mengulik warna dari para desainer yang bernaung dibawahnya.

Ikatan Perancang Mode Indonesia(IPMI), telah melewati hampir tiga dekade fesyen di Indonesia. Didirikan pada tahun 1985, IPMI telah dikenal luas sebagai salah satu organisasi profesi perancang busana paling bergengsi. Ritual tahunannya yang dinamakan “Trend Show” pun tak pelak menjadi salah satu pagelaran busana paling dinantikan. Para penikmat, pengamat, praktisi, dan mereka yang akrab dengan lingkungan fesyen di Indonesia dapat dipastikan menyimpan rasa penasaran tentang bagaimana teropong trend mode di satu tahun mendatang versi IPMI.

Mereka yang menyimpan rasa penasaran itu termasuk saya di dalamnya, saya juga merasa sangat penasaran akan apalagi yang akan di tampilkan para desainer IPMI pada Trend Shownya?.

Saya masih ingat jika tahun lalu saya terpaksa mengernyitkan dahi dengan penyelenggaraan Trend Show IPMI yang sedikit memusingkan dari segi tata panggung. Panggung lintasan catwalk berbentuk segitiga mengelilingi hall di Plaza Bapindo. Belum lagi lampu tata lampu yang cahayanya terlampau menyilaukan dan “nembak” ke arah fotografer pit.

Tetapi semua itu hanya menyangkut masalah teknis penyelenggaraan saja, karena untuk urusan bagaimana koleksi busana yang dihadirkan, sampai detik ini masih ada satu rangkaian koleksi yang benar-benar tidak bisa hilang dalam ingatan saya, koleksi tersebut adalah milik Barli Asmara, dimana ia menggunakan teknik macramé atau teknik tali simpul pada tiap potong koleksinya.

Bagi saya, apa yang suguhkan Barli pada koleksi terdahulunya itu amat sangat menarik, teknik macramé yang rumit dan keberaniannya hanya mengolah satu warna saja pada keseluruhan koleksi patut diacungi jempol.

Lantas, bagaimana dengan IPMI Trend Show di tahun ini?.

Ari Seputra “Neo Plaited”. Model: Dhining

Era Soekamto “Sang Panji”.

Valentino Napitupulu “Adrenaline Flower”. Model: Michella Samantha

Carmanita “Dream Life”. Model: Lita

“Energie”, satu kata yang dipilih IPMI untuk menjadi benang merah utama Trend Show nya kali ini. Melalui “Energie”, IPMI coba meleburkan kekuatan, atau yang saya interpretasikan juga sebagai “warna”, yang tersimpan dalam kekhasan karya 8 orang anggota terpilih.

Kedelapan orang anggota IPMI yang terdiri atas Ari Seputra, Era Soekamto, Valentino Napitupulu, Carmanita, Andrianto Halim, Tuty Cholid, Yongki Budisutisna, dan Barli Asmara masing-masing mengemban tugas untuk menginterpretasikan totalitas energi yang dipecah menjadi 3 bahasa berbeda. Tiga bahasa itu masing-masing, Adrenaline Rush, Silence Zen, dan Equilibrium.

Berbeda dari penyelenggaraan Trend Show tahun lalu dimana IPMI membaginya jadi 2 hari penyelenggaraan, pada Trend Show tahun ini, IPMI memadatkannya dalam satu hari penyelenggaraan dan hanya membaginya menjadi dua babak berbeda yang diberi jeda satu jam. Pada babak pertama, Trend Show IPMI 2013 menyuguhkan koleksi teranyar dari kuartet desainer Ari Seputra, Era Soekamto, Valentino Napitupulu dan Carmanita secara berturut-turut.

Inspirasi Perjalan di Tanah Lombok. Ari Seputra “Neo Plaited”. Model: Dominique Diyose

Motif tenun khas Lombok berpadu dengan warna-warna tanah. Ari Seputra “Neo Plaited”.

Membuka rangkaian pagelaran busana babak pertama, Ari Seputra memamerkan 10 set koleksi yang ia beri nama “Neo Plaited”. Koleksi yang kental akan nuansa etnik ini tercipta berdasarkan kisah perjalanan sang desainer menelusuri tanah Lombok yang kaya akan tradisi.

Warna-warna “membumi” semisal coklat tua, coklat muda, hingga putih gading kemudian ia kombinasikan dengan motif-motif kain tenun khas Lombok yang eksotis sehingga menghasilkan satu rangkaian busana yang seakan merefleksikan kekuatan dari kearifan lokal berwujud modern.

Siluet kebaya dalam bingkai modernitas. Era Soekamto “Sang Panji”. Model: Juwita Rahmawati

Motif burung Hong dan Lokcan digoreskan pada kain berwarna pastel nan lembut. Era Soekamto “Sang Panji”. Model: Laura Muljadi

Melihat keseluruhan koleksi Era Soekamto yang ia beri tajuk “Sang Panji” mau tidak mau ingatan saya kembali berputar pada koleksi Era terdahulu yang ia tampilkan pada Bazaar Wedding Exhibition, koleksi yang kala itu diberi nama “Jangan Menir”. Pada koleksi “Sang Panji”, Era yang masih setia bermain-main dalam ranah siluet kebaya modern, seakan mengulur benang merah yang sama dengan koleksi “Jangan Menir”. Kesamaan gagasan mengangkat budaya Jawa serta pemilihan siluet kebaya modern yang ia gunakan pada rangkaian koleksinya, membuat cita rasa yang serupa begitu terasa.

Namun, jika pada koleksi “Jangan Menir” Era lebih banyak memadukan warna-warna gelap yang memberikan kesan kuat pada busananya, kali ini koleksi Era lebih didominasi warna-warna lembut. Motif burung Hong dan Lokcan yang tergores samar pada kain batik berwarna pastel nan lembut kemudian menjadi daya tarik utama pada koleksi “Sang Panji” karya Era Soekamto.

Gaun-gaun cantik dengan warna yang sering diidentikan dengan feminitas. Valentino Napitupulu “Adrenaline Rush. Model: Christina Borries

Busana pria, atau lebih tepatnya, pengantin pria. Valentino Napitupulu “Adrenaline Flower”. Model: Betrand Antoline

Romantisme hubungan cinta dua insan manusia sepertinya menjadi salah satu pembahasan paling menarik bagi Valentino Napitupulu. Ia seolah tak pernah jemu mengolah sisi manis dari romantisme cinta ke dalam koleksi-koleksi busananya. Begitupula ketika ia melansir koleksi “Adrenaline Flower”, Valentino terlihat sangat menonjolkan aura feminine pada rangkaian koleksinya.

Warna-warna yang sering diidentikan dengan feminitas semisal merah muda terasa cukup mendominasi koleksi yang ia tampilkan, walaupun ia juga menghadirkan warna-warna lain seperti merah, orange, dan ungu. Aura feminine dalam koleksi Valentino Napitupulu juga tidak berhenti pada pemilihan warna, tetapi siluet serta detil-detil busana yang ia ciptakan juga sangat kental nuansa feminine, pun ketika ia menghadirkan busana laki-laki, aura feminine yang ada tetap tidak bisa hilang.

Warna-warna cerah dari kain tenun Makasar dan sari India. Carmanita “Dream Life”. Model: Mungky Chrisna

Teknik tumpuk kain-kain berstruktur ringan dengan potongan longgar. Carmanita “Dream Life”. Model: Dea Nabila

Memulai karir di tahun 1980 sejak ia menyelesaikan kuliahnya di bidang manajemen bisnis dan pemasaran di University of San Francisco, Amerika Serikat, nama Carmanita perlahan dikenal luas setelah ia berhasil memenangkan juara 3 Loma Perancang Mode majalah Femina. Sejak awal kemunculannya di jagad fesyen Indonesia, Carmanita dikenal dengan  kepiawaiannya mengolah motif-motif batik kontemporer dan kain-kain tradisional.

Dan pada IPMI Trend Show kali ini, Carmanita mengawinkan kain tenun Makassar dan sari India menjadi satu rangkian koleksi penuh warna. Menyematkan nama “Dream Life”, Carmanita masih setia dengan teknik tumpuk kain yang menjadi kegemarannya. Tidak menitikberatkan pada permainan silluet, Carmanita, membuat busana karyanya tetap memiliki kesan ringan dengan potongan yang longgar.

 

Bersambung…..

IPMI Trend Show 2012 Hari Kedua

Setelah sekian lama akhirnya part ini tersambung lagi. Kali ini ada Tuty Cholid, Era Soekamto dan Barli Asmara

Tidak ada yang lebih saya ingat pada IPMI Trend Show 2012 hari kedua selain ruang Assembly Hall yang kosong lebih dari sepertiganya disaat jadwal Fashion Show pertama telah berlalu sekitar 20 menit. Saat itu saya agak bingung, harus senang atau sedih. Senang karena ternyata saya tidak terlambat sama sekali padahal saya datang ketika seharusnya show telah berjalan selama 5 menit. Atau sedih karena ternyata penyelenggara tidak belajar dari pengalaman hari sebelumnya yang juga ngaret lumayan lama. Tapi yang jelas kekosongan ruang assembly ini sukses bikin saya cengok, karena,

“Ulalaaaa….20 menit ngaret dan boro-boro ada tanda-tanda di mulai, keisi tiga perempatnya aja belum!”.

Saya sebenarnya nggak ngerti juga kenapa bisa sampai seperti itu. Mungkin ada misscomunication diantara beberapa pihak penyelenggara, atau memang karena faktor X yang menyebabkan show itu telat. Bagi saya itu cukup luar biasa, ketika 20 menit jadwal show yang sebenarnya telah berlalu dan ternyata masih banyakkkk kursi kosong. Karena biasanya, meski terjadi keterlambatan jadwal show(dan itu sangat sering terjadi) kursi kosong di dalam ruang utama diselenggarakannya show tidak sampai sebanyak itu.

Setelah penantian cukup panjang yang saya isi dengan mendengarkan playlist di handphone saya dan membaca berulang-ulang rilis yang saya terima, akhirnya Fashion Show pertama dimulai pada entah menit keberapa lewat dari jadwal seharunya.

Diawali dengan koleksi busana dari Era Soekamto dan secara berturut-turut diikuti oleh penampilan koleksi terbaru dari Tuty Cholid dan Barli Asmara. Dan saya akan menceritakannya satu persatu.

Swargaloka by Era Soekamto

Pertama kali mengenal karya rancangan dari Era Soekamto sekitar 2 tahun lalu pada Jakarta Fashion Week 2009, saya segera mendapatkan kesan berani, rebel, dan sexy bahkan cenderung menantang dari setiap potong busana rancangannya.

Pada koleksi kali ini Era Soekamto terinspirasi dari kecantikan alami wanita Indonesia, khususnya kecantikan wanita Bugis dan Jawa. Memberi judul “Swargaloka” pada koleksinya kali ini Era membawa cerita tentang sebuah surga yang selalu berusaha diciptakan atau ditemukan oleh setiap wanita Indonesia dalam keberagaman budaya yang mereka miliki. Surga yang bagi Era sejatinya selalu ada dalam diri setiap wanita.

Lewat “Swargaloka”, Era Soekamto mengawinkan dua kebudayaan berbeda, yakni Bugis dan Jawa yang dihadirkan melalui percampuran teknik lilit khas kedua kebudayaan tersebut.

Menggunakan kain tenun Sulawesi Selatan, dengan amateri ATBM dan chiffon, Era Soekamto menampilkan beragam koleksi busana seperti gaun panjang dan gaun pendek yang memiliki silluet tradisional dalam busana khas ala Era Soekamto yang sexy, dan terkesan menabrak batas-batas dalam berbusana. Melalui koleksi rancangan ini, Era Soekamto membuat baju-baju yang tetap terasa sangat tradisional tampil lebih berani.

Baine Gammara by Tuty Cholid

Masih dengan mengambil inspirasi dari kecantikan alami wanita Sulawesi Selatan. Tuty Cholid menamai koleksinya “Baine Gammara” atau yang berarti wanita cantik dalam bahasa Sulawesi Selatan. Dan masih dengan mengusung kain tenun ikat, sungkit, dan ATBM Sulawesi Selatan, Tuty Cholid menghadirkan silluet busana tradisional baju bodo dari suku Bugis yang tidak lain adalah suku asli Sulawesi Selatan.

Jangan heran, mengapa Sulawesi Selatan kembali muncul di rancangan Tuty Cholid setelah sebelumnya muncul di rancangan Era Soekamto. Hal ini idak lain karena dua desainer ini adalah salah dua desainer yang dipilih bekerjasama dengan pemerintah daerah Sulawesi Selatan untuk turut mengeksplorasi kain tenun khas Sulawesi Selatan.

Namun jika pada rancangan Sulawesi Selatannya Era Soekamto lebih memilih warna-warna yang cenderung “aman”, Tuty Cholid mencoba sedikit bermain-main dengan warna-warna terang seperti shocking pink, bottle green, tosca, dan emas. Gaun panjang, gaun pendek, blazer, rok, celana panjang, dan kemeja yang sarat nuansa etnik pun menjadi andalan Tuty Cholid dalam rangkaian koleksi teranyarnya ini.

Natural Bond Beauty by Barli Asmara

Nude. Seolah satu kata itulah yang bagi saya menggambarkan koleksi busana dari Barli Asmara. Hal itu bukan tanpa alasan, karena desainer yang baru bergabung dengan IPMI pada tahun 2010 silam ini menyajikan semua busana yang dipamerkannya saat itu dalam warna-warna nude, atau warna yang menyerupai warna kulit coklat muda. Didapuk sebagai desainer penutup dalam rangkaian IPMI Trend Show 2012, Barli yang selama ini lebih dikenal dengan koleksi gaun-gaun cantiknya mengusung “Natural Bond Beauty” sebagai sebuah tema besar dalam koleksi teranyarnya.

Koleksi dari Barli Asmara ini mungkin akan terkesan membosankan jika saja Barli tidak bermain dengan dengan teknik Macrame, yakni sebuah teknik tali temali yang pengerjaannya memiliki tingkat kesulitan tinggi. Dan di teknik macramé inilah daya tarik paling besar dari koleksi Barli Asmara kali ini. Seru rasanya, saat kita memperhatikan satu persatu koleksi busana yang ditampilkan dan melihat secara seksama dan teliti setiap detail tali temali yang ada di dalamnya. Sebuah kerumitan yang sangat menarik.

Untuk materinya sendiri, Barli menggunakan benang pita untuk dijadikan tali temali yang kemudian di macramé secara handmade. Dalam koleksi ini, Barli juga memadukan kecantikan alam, eksotisme, serta nilai-nilai tradisional dan tentunya teknik pengerjaan dengan kesulitan tingkat tinggi. Gaun panjang, gaun pendek, gaun asimetris, gaun one shoulder yang selama ini kerap jadi andalan Barli, kembali ditampilkan dalam keindahan natural bersimpul-simpul yang unik dan rumit.

IPMI Trend Show 2012 Hari Pertama Part 2

Khusus Bagian Yang Terpisah Tentang Fashion Show Adesagi Kierana…

Almost Famous by Adesagi Kierana

 

Drama. Itulah kesan pertama yang saya dapatkan sejak melihat outfit pertama yang ia keluarkan pada parade koleksi busana teranyarnya. Outfit two piece, yakni rok pendek sebatas paha dengan silluet seperti rok milik anggota chearleadders, dan baju lengan panjang dengan lekuk amat pas di tubuh yang keduanya berwarna hitam blink-blink glitter dikenakan oleh Dewi Sandra sebagai model first face membuat aura drama langsung terasa sejak fashion show dimulai.

Almost Famous sendiri memang diciptakan Adesagi Kierana yang coba terjemahkan keinginan wanita untuk selalu menjadi pusat perhatian. Dalam koleksinya kali ini, Adesagi kembali memadukan unsur-unsur yang selama ini jadi ciri khas dalam setiap rancangannya, playfull, edgy, serta sesuatu yang asimetris. Semua perpaduan ini kemudian semakin menghidupkan sisi dramatis dari sebuah “ketenaran”.

Beragam gaun panjang dan pendek, gaun asimetris, rok, dan baju terusan(jumpsuit) dihadirkan Adesagi dengan padupadan tabrak warna dan transparan serta berbagai motif print yang kaya warna. Selain itu, Adesagi kembali menghadirkan print judul koleksi ke dalam potongan busana, motif print judul koleksi seperti ini juga sepertinya menjadi salah satu ciri khas busana rancangan Adesagi karena pada beberapa koleksi sebelumnya, Adesagi sempat menampilkan ragam busana dengan motif print judul seperti itu.

Drama dan drama dan semakin drama keseluruhan koleksi dari Adesagi Kierana ini ketika kehadiran model dadakan nggak berhenti sampai di Dewi Sandra aja. Ruth Sahanaya, Titi Dj, Vina Panduwinata, ikut ambil bagian dalam fashion show koleksi Adesagi. Sampai pada bagian Vina Panduwinata, bagi saya itu masih termasuk lucu dan seru lihat mereka berlenggak-lenggok dengan centilnya di atas catwalk. Tetapi tibalah di model dadakan terakhir yang bikin saya….hmmm….Kalau di twitter itu hastagnya #NinapunHening . Dan dia adalah Manohara Odelia. Akhir kata, jika memang Adesagi ingin menonjolkan unsur dramatisasi dalam koleksi terbarunya, bagi saya dia berhasil!. Almost Famous it’s so dramaaa.

IPMI Trend Show 2012 Hari Pertama Part 1

Ada Tri Handoko, Valentino Napitupulu, Adesagi Kierana dan dibuka dengan parade busana seragam!
Tapi untuk Adesagi akan dipisah yaaa….

 

Big Bang by Tri Handoko. Foto by Rizka Fashionesedaily

Yup benar sekali saudara-saudara, IPMI Trend Show 2012 hari pertama dibuka dengan parade fashion show seragam yang awalnya bikin saya bingung dan bengong karena saya nggak tau kalau akan dibuka dengan fashion show seragam. Ketidaktahuan itu memang murni salah saya karena datang mepet waktu show, buru-buru dan nggak sempet baca rilis. Barulah akhirnya setelah saya buka dan baca rilis yang saya terima, saya menyadari bahwa disitu sudah ditulis dengan jelas kalau, opening IPMI Trend Show 2012 akan dibuka dengan parade Trend Seragam 2012 yang diprakarasai oleh Maxistyle.

Maxistyle sendiri adalah perusahaan tekstil dibawah PT. Maxistar Intermoda Indonesia yang merupakan korporasi marketing dan distribusi tekstil untuk seragam instasi.

Maxistyle kemudian bekerjasama dengan 10 orang desainer anggota IPMI untuk menciptakan rancangan busana seragam untuk 10 industri korporasi mulai dari perbankan, penerbangan, rumah sakit dan kesehatan sampai industri otomotif.

Dari total 32 set seragam rancangan 10 orang desainer IPMI(Adesagi Kierana, Ari Seputra, Barli Asmara, Denny Wirawan, Era Soekamto, Ghea Panggabean, Hutama Adhi, Syahreza Muslim, Tri Handoko dan Valentino Napitupulu) overall saya suka rancangan seragamnya. Meski tampilan bentuk asli seragam yang cenderung konvensional tidak hilang, tapi seragam rancangan para desainer ini jauh dari kesan kaku, dan tentunya jauh lebih stylish nan modis dibandingkan desain konvensional seragam-seragam biasa.

 

Big Bang by Tri Handoko

Foto by Rizka Fashionesedaily

Setelah parade fashion show seragam selesai, desainer IPMI pertama yang mempertontonkan koleksi busana teranyarnya adalah Tri Handoko. Terinspirasi dari kekuatan dari harapan dan optimisme di tengah kekacauan, ketakutan serta tekanan yang terjadi hampir diseluruh belahan dunia, Tri handoko menghadirkan rangkaian koleksi busana bernapaskan Ready To Wear.

Sebagai desainer pembuka, bagi saya pribadi Tri Handoko cukup mampu mencuri perhatian dari tamu undangan yang datang dengan memunculkan si model Androgini, Darell Ferhostan sebagai model pertama yang memperagakan koleksi karyanya. Dengan tampilnya Darell sebagai model pertama, Tri Handoko memperkuat kesan pertama terhadap rancangannya, Androgini.

Foto by Rizka Fashionesedaily

Tapi nggak cuma busana siap pakai beraroma androgini yang disuguhkan Tri Handoko pada parade peragaan busananya. Nuansa feminine dan maskulin pun ia sajikan dengan apik melalui koleksi gaun asimetris, blazer, T-Shirt, celana panjang dan pendek, jumpsuit, gaun berpotongan simple dan ringan, serta baju tanpa lengan. Hampir kesemua koleksinya itu ia racik dengan warna-warna gelap seperti hitam, dan merah tua. Memang ada beberapa koleksi yang mengaplikasikan warna lebih cerah seperti kuning, atau beberapa warna yang cukup cerah lainnya, tapi frekuensinya sedikit sekali.

Dan setelah melihat keseluruhan koleksi dari Tri Handoko ini, saya pun kemudian berpikir,

“Kayaknya trend motif garis kotak-kotak jadi ngetrend lagi nih”.

Karena hampir disetiap potong busana Tri Handoko selalu ada motif garis dan kotak-kotak.

 

The Touch of Art by Valentino Napitupulu

Dari ready to wear bepindahlah ke gaun-gaun cantik. Atmosfer santai serta jauh dari kesan formal langsung berganti ke nuansa romantis klasik dan unyu moment saat

baju-baju kasual Tri Handoko berganti dengan gaun cantik dari Valentino Napitupulu. Mengeksplorasi detail melalui sentuhan motif paisley, bunga dan dedaunan, Valentino Napitupulu meramu keanggunan dan kecantikan dalam polesan seni versinya. Dan viola!, jadilah koleksi bertajuk The Touch of Art ini.

Pelbagai gaun panjang dan pendek ia sajikan dalam silluet ringan dan bebas, saat melihatnya saya kadang seperti merasa berada di taman lengkap dengan beberapa ekor kupu-kupu yang berterbangan disekeliling saya. Romantis dan manis.

Selain menghadirkan bermacam-macam gaun, Valentino Napitupulu juga menampilkan koleksi busana pria yang memiliki pola rancangan klasik dan cenderung formal yang tertuang dalam potingan jas serta blazer. Koleksi seperti ini bagi saya cukup rawan, cukup rawan menimbulkan kebosanan dan kesan kaku. Tapi untungnya pada beberapa detail, Valentino Napitupulu membubuhi warna-warna cerah seperti merah dan emas serta beberapa motif menarik seperti motif hati(love) yang membuat setelan jas kaku menjadi lebih menarik dan seru.

Tapi, pada saat kemunculan koleksi sepasang setelan busana pernikahan. Dengan wajah datar saya langsung komen,

“Gila, ini dua model kaku banget sih. Baru kali ini Gue liat ada model buat wedding gown sama pasangannya yang kaku setengah mati, kayak pasangan baru kenal tadi pagi dan dinikahin siangnya”.

Ya abis gimana nggak?. Udah chemistrynya nggak ada sama sekali, terus si model cowoknya nampak seperti orang bngung. Dia bener-bener kaku, sama sekali nggak ada usaha untuk bantu si model cewek yang beberapa kali terlihat kesulitan berjalan dengan gaun pengantin yang punya buntut lumayan panjang itu. Mungkin mereka memang nggak mengenal satu sama lain, karena si model cewek itu model bule sementara si cowoknya model Indonesia, tapi apa karena nggak kenal jadi dia nggak ada rasa peka sama sekali sama pasangan di atas catwalknya. Dan saya pun dalam hati sudah gemes setengah mati, sambil ngegerutu,

“Bantuin kek itu pasangannya. Bantuin woyyy!”.

Tapi akhirnya disaat-saat terakhir, si model pengantin cowok tersadar juga akan ke khilafannya dan membantu si model cewek yang sampai pada titik terlihat benar-benar kesulitan saat berjalan mengenakan gaun pengantin itu.