Rangkuman Kabar Dari Jakarta Fashion Week 2013

Di tahun penyelenggaraannya yang kelima, saya kembali mendapat kesempatan untuk bisa menghadiri pekan mode paling dinanti penyelenggaraannya ini. Ada banyak kejadian tidak terduga, ada banyak cerita. Namun saya belum akan menceritakan semuanya secara detil, maka saya akan merangkumkannya terlebih dulu.

Malam Pembukaan JFW 2013 di Fashion Tent

Malam Pembukaan JFW 2013 di Fashion Tent

Jakarta Fashion Week 2013(JFW 2013) pada awalnya direncanakan untuk terselenggara selama tujuh hari penuh, sejak tanggal 3 sampai 9 November 2012 dengan mengambil tempat di Plaza Senayan. Namun pada kenyataannya, JFW 2013 tidak bisa terselenggara selama tujuh hari, dan mengalami penambahan waktu menjadi sepuluh hari penyelenggaraan.

Mungkin sudah banyak yang mengetahui apa sebab JFW tahun ini mengalami perpanjangan waktu, tapi saya juga yakin sebagian lainnya masih belum tau kenapa JFW bisa sampai sepuluh hari. Dan sebenarnya saya juga yakin, mereka yang mengetahui sebab kenapa JFW mengalami perpanjangan waktu, terbagi lagi menjadi 3 kelompok.

Kelompok pertama, adalah kelompok yang memang mengetahui secara detil. Kelompok kedua, adalah kelompok yang mengetahui tetapi tidak secara langsung. Dan kelompok ketiga, adalah kelompok yang mengetahui secara simpang siur.

Saya akan menceritakan sedikit, kenapa JFW 2013 mengalami pertambahan waktu. Hal ini disebabkan oleh insiden yang sering saya katakan “insiden tenda”. Singkatnya, karena cuaca buruk yang terjadi kala penyelenggaraan JFW 2013, tenda utama tempat berlangsungnya fashion show di JFW 2013 mengalami masalah yang cukup serius sehingga seluruh kegiatan yang dijadwalkan akan berlangsung disana mengalami relokasi tempat. Tetapi, saya tidak akan menceritakan detil kejadiannya sekarang, saya akan menuliskannya nanti.

Dan inilah rangkuman JFW 2013 yang sempat saya ikuti.

Hari Pertama (Sabtu, 3 November 2012):

After Finale Sebastian Gunawan at Opening JFW 2013. Model with The Designer: Michelle Samantha

After Finale Sebastian Gunawan at Opening JFW 2013. Model with The Designer: Michelle Samantha

Opening JFW 2013 by Sebastian Gunawan. Model: Laura Muljadi

Opening JFW 2013 by Sebastian Gunawan. Model: Laura Muljadi

20.00-21.00 WIB, Fashion Show Opening JFW 2013 “Indonesia Today, World Tomorrow” oleh Sebastian Gunawan dan Lie Sang Bong.
Pada hari pertama JFW 2013, acara berjalan lancar tanpa ada masalah berarti. Peragaan busana dari Sebastian Gunawan dan Lie Sang Bong, seorang desainer asal Korea Selatan yang memiliki basis di Paris, dimulai tepat waktu sekitar pukul 20.00 WIB. Pada hari pertama penyelenggaraan JFW 2013, lokasi utama adalah di sebuah tenda atau yang biasa disebut Fashion Tent yang dibangun di lapangan di sisi gedung Plaza Senayan, atau di depan Union.

Hari Kedua (Minggu, 4 November 2012):

Pada hari kedua JFW 2013, saya baru datang sekitar pukul 15.00. Pada hari itu sejak awal saya memang hanya ingin menyaksikan peragaan busana dari Ivan Gunawan, dan Anne Avantie. Tapi ketika saya sudah sampai venue acara, saya sedikit terkejut karena semua fotografer yang biasa mengambil posisi di dalam tenda sudah perpindah ke atrium. Mereka, dengan kamera berlensa besarnya sudah bergerombol di bagian depan lintasan catwalk yang dibangun di atrium Plaza Senayan.

Tenda bocor, begitu kata para fotografer. Maka hari itu semua jadwal acara JFW 2013 menjadi tidak pasti. Tidak ada satu pun pihak yang bisa memastikan apakah rangkaian busana yang sedianya akan dilangsungkan di dalam tenda akan dipindahkan ke atrium atau tidak. Lalu ketidakpastian itu berujung pada pemindahan tiga jadwal show yakni, “Dress Me Up Competition” oleh dr.m, Grazia Glitz and Glam, dan “Purana; Retro Batik” oleh Lia Chandra Foundation yang tadinya akan dilangsungkan di tenda menjadi di atrium Plaza Senayan. Sementara tiga jadwal pergaan busana lainnya yaitu, ESMOD “E-Craft”, Ivan Gunawan “Mysterious Regal”, dan Anne Avantie “Puspawarni”, ditambah Pia Alisjahbana Award mengalami penundaan sampai jadwal yang belum dapat ditentukan pada hari itu.

Hari Ketiga(Senin, 5 November 2012):

Pada hari ketiga JFW 2012 menurut jadwal hanya ada satu sesi peragaan busana yang akan berlangsung di atrium, yaitu peragaan busana dari Ted Baker, dan sisanya, ada delapan peragaan busana yang akan dilangsungkan di Fashion Tent. Meski sehari sebelumnya, tenda sempat bermasalah dan berujung pada penundaan beberapa jadwal peragaan busana, panitia JFW 2013 meyakinkan semua awak media dan tamu JFW jika jadwal peragaan busana pada hari itu akan berlangsung secara normal di Fashion Tent. Mereka mengatakan jika area Fashion Tent sudah aman untuk digunakan kembali karena kebocoran yang terjadi telah diperbaiki.

Hari itu saya datang seusai jam sekolah. Kira-kira pukul 18.00 saya baru sampai di Plaza Senayan, hari itu, peragaan busana yang sangat saya nantikan adalah “Globalization” oleh IPMI(Ikatan Perancang Mode Indonesia). Namun ketika saya tiba, saya melihat seorang teman yang termasuk model grup B ada di luar Green Room(ruangan khusus yang hanya boleh dimasuki orang-orang tertentu seperti model, panitia, crew dan sejenisnya) sambil asik mengisap rokok putihnya.

Dia bilang ke saya kalau hari itu semua peragaan busana mengalami keterlambatan, atau lebih tepatnya mundur satu jam dari yang sudah di jadwalkan. Itu sebabnya, dia masih santai-santai saja dan masih sempat ngobrol singkat bersama saya. Dari obrolan saya dengan dia, saya sempat kaget karena grup teman saya itu baru akan muncul lagi di peragaan busana Aguste Soesastro dan Oscar Lawalata yang seharusnya berlangsung pada pukul 17.00.

Kenapa saya kaget, karena ketika saya ngobrol dengan dia, yang sedang memperagakan busana di dalam tenda adalah grup A, mereka membawakan busana dari LaSalle College International Jakarta. Peragaan busana dari LaSalle itu seharusnya sudah usai sejak satu setengah jam lalu, tapi saat itu, dimulai saja belum. Kata teman saya, “Modelnya baru stand by Nin, show-nya belum”.

Finale "KROMO" oleh Aguste Soesastro

Finale “KROMO” oleh Aguste Soesastro

Finale "Mongoloid" oleh Oscar Lawalata

Finale “Mongoloid” oleh Oscar Lawalata

Peragaan busana dari Aguste Soesastro dan Oscar Lawalata yang disponsori oleh Samsung Galaxy Notes 10.1 dimulai sekitar pukul 19.00 WIB, hampir dua jam lewat dari jadwal seharusnya. Terlambat besar memang, tapi semua itu seolah termaafkan begitu rangkaian koleksi dari Aguste Soesastro dan Oscar Lawalata dipertontonkan. Kedua desainer muda yang selalu jadi buah bibir berkat karya-karya nya ini, sungguh memenuhi ekspetasi tentang apa lagi yang akan mereka tampilkan.

Awalnya saya kira, penyelenggaraan JFW 2013 hari ketiga ini akan berjalan seperti biasa, meski dengan keterlambatan yang cukup parah, namun setidaknya semua jadwal pergaan busana bisa berlangsung lancar di tenda. Tetapi saya salah, segera setelah peragaan busana usai, tim protokol JFW 2013 dan bagian pengamanan langsung meminta semua orang, termasuk para wartawan dan fotografer untuk meninggalkan area Fashion Tent. Hal ini tidak biasanya dilakukan, karena wartawan dan fotografer selama penyelenggaraan JFW seperti memiliki hak khusus untuk bisa tetap tinggal di dalam tenda untuk meliput peragaan busana selanjutnya atau tidak.

Dimintanya para fotografer dan wartawan untuk meninggalkan area tenda pada hari itu ternyata menjadi pertanda bahwa JFW 2013 kembali mengalami penundaan jadwal. Ya, terhitung sejak pukul 20.00 WIB tanggal 5 November 2012, JFW 2013 mengalami perubahan jadwal, dan Fashion Tent resmi ditutup. Sisa peragaan busana pada hari itu tidak ada yang dilangsungkan, selain Fashion Parade dari Matahari Dept Store yang mengalami pemindahan tempat di atrium.

Hari Keempat(Selasa, 6 November 2012):

Hari keempat penyelenggaraan JFW 2013 saya memutuskan untuk tidak hadir, dan saya punya dua alasan untuk itu. Pertama, kondisi tubuh saya yang mulai drop karena terlalu capek dan sempat kehujanan. Kedua, karena pada hari keempat JFW 2013, enam jadwal peragaan busana yang rencananya akan diadakan di Fashion Tent ditunda hingga batas waktu yang belum ditentukan. Sementara L’Oreal Professionnel “Retro Nouveau” yang menampilkan kolaborasi tata rambut dari L’Oreal dan busana dari Hian Tjen, Soko Wiyanto, dan Yogi Pratama tetap dilaksanakan pada pukul 13.00 di atrium.

Hari Kelima(Rabu, 7 November 2012):

Satu-satunya peragaan busana pindahan dari Fashion Tend yang diselenggarakan adalah peragaan busana dari Erasmus Huis, pusat kebudayaan Belanda, yang bekerja sama dengan tiga desainer muda berbakat, Lulu Lutfi Labibi, Sischaet Detta dan Iwan Amir. Peragaan busana ini tetap diselenggarakan di waktu yang sama, yakni pada pukul 13.00, hanya tempatnya saja yang pindah di atrium.

Sebenarnya saya ingin sekali menyaksikan peragaan busana ini, disamping tema menarik yang diangkat yakni “Revival of Batik Belanda”, saya juga penasaran dengan 24 set busana yang akan ditampilkan oleh Lulu Lutfi Labibi, seorang desainer pendatang baru yang bisa saya katakan sebagai “One of The Most Promising Newcomer Designer”. Tapi sayangnya saya tidak bisa datang pada peragaan busananya karena saya sekolah dan pas sekali ada jadwal les tambahan.

Hari Keenam(Kamis, 8 November 2012):

Finale ISIS

Finale ISIS

Finale Lenny Agustin "Paper Garden"

Finale Lenny Agustin “Paper Garden”

Toton The Label Bersama Dua Model-nya. Reti Ragil(kiri), dan Paula Verhoeven(kanan)

Toton The Label Bersama Dua Model-nya. Reti Ragil(kiri), dan Paula Verhoeven(kanan)

Di hari keenam JFW 2013 ada sebuah kabar baik yang resmi diterima. Kabar baik tersebut adalah kepastian tentang penyelenggaraan JFW 2013 dengan perubahan tempat dan pengumuman jadwal baru deretan peragaan busana yang sempat ditunda. Setelah Fashion Tent ditiadakan, panitia JFW 2013, memindahkan tempat peragaan busana di sebuah area baru yang dinamakan Fashion Loft. Fashion Loft bertempat di lantai 4 Plaza Senayan, satu lantai dengan XXI, dan menempati area eks. Bowling Plaza Senayan. Di area ini juga pernah dijadikan tempat terselenggaranya Brightspot Market.

Dengan diresmikannya “kamar baru” peragaan busana utama JFW 2013 ini, maka panitia juga resmi pengumumkan bahwa jadwal JFW 2013 untuk tanggal 8, dan 9 November tidak ada perubahan, hanya tempatnya saja yang berubah dari Fashion Tent ke Fashion Loft. Lalu bagaimana dengan deretan peragaan busana yang ditunda?. JFW 2013 membuat kebijakan bahwa pada tahun ini, JFW tidak diselenggarakan selama 7 hari tetapi mengalami pertambahan hari menjadi 10 hari pelaksanaan. Dengan ditambahnya hari penyelenggaraan JFW 2013, maka deretan peragaan busana yang sempat tertunda dibagi-bagi jadwalnya kedalam tiga hari penambahan tersebut.

Di hari keenam JFW 2013 saya datang baru pada peragaan busana dari ISIS, sebuah brand busana ready-to-wear yang dikepalai oleh Andrea Risjad dan Amot Syamsuri. Setelahnya pada hari itu berturut-turut saya menyaksikan peragaan busana dari Lenny Agustin yang dipersembahkan The Body Shop, Mazda Young Vibrant Designer yang menampilkan tiga nama desainer muda yaitu Friederich Herman, Toton The Label, dan Cynthia Tan, dan yang terakhir adalah peragaan busana dari Ardistia New York.

Hari Ketujuh(Jum’at, 9 November 2012):

IPMI "GLOBALINATION" oleh Liliana Lim

IPMI “GLOBALINATION” oleh Liliana Lim

IPMI "GLOBALINATION" oleh Denny Wirawan

IPMI “GLOBALINATION” oleh Denny Wirawan

Bagi saya, hari ketujuh ini adalah salah satu hari yang paling melelahkan. Saya sudah berada di Plaza Senayan sejak pukul 14.00, satu jam sebelum peragaan busana pertama dari LPM Graduates “The Stylemakers” berlangsung. Kenapa melelahkan?, karena belum apa-apa saya sudah harus berlari-lari kesana kemari, hari itu kebetulan saya ada tugas kecil-kecilan lain selain meliput, dan tugas itu yang membuat saya berlari kesana-kemari menunggu tamu-tamu undangan yang undangannya saya pegang.

Hari itu ada lima peragaan busana yang sedianya akan dilangsungkan di Fashion Loft, tetapi saya hanya menghadiri dua diantaranya, peragaan busana pertama dari LPM Graduates, IPMI “GLOBALINATION”, dan peragaan busana terakhir “Dewi Fashion Knights”. Hari itu saya memang sengaja tidak menyaksikan peragaan busana lainnya karena di hari itu ada tiga orang teman saya yang datang ikut menyaksikan JFW 2013. Saya sudah lama tidak bertemu dengan mereka, karena itu saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu beberapa jam setelah peragaan busana bersama mereka, sebelum saya kembali lagi ke dalam Fashion Loft untuk melihat bagaimana peragaan busana karya para desainer IPMI dan peragaan busana pamungkas JFW akan berlangsung, Dewi Fashion Knight.

Hari Kedelapan(Sabtu, 10 November 2012):

Tadinya saya tidak ingin meliput “beneran” peragaan busana yang terselenggara hari kedelapan JFW 2013 ini. Maksud saya meliput “beneran” adalah mengambil posisi di fotografer pit, mengabadikan gambar dan sekalian memerhatikan secara seksama apa saja yang terjadi di atas panggung peragaan busana untuk kemudian saya dokumentasikan dalam bentuk tulisan.

Ya, tadinya niat saya seperti itu, tetapi ternyata saya gagal memenuhi keinginan saya untuk duduk manis saja pada peragaan busana dari ESMOD karena saya sedikit telat. Lalu kembali gagal setelah peragaan busana “Puspawarni” dari sang maestro kebaya, Anne Avantie terlalu menggoda untuk dilewatkan hanya dengan duduk manis saja. Karena itu maka saya putuskan untuk tidak hanya duduk manis di satu blok khusus yang diperuntukkan bagi para pemburu berita. Dan hari kedelapan saya berada di JFW 2013 berakhir setelah peragaan busana “Puspawarni” oleh Anne Avantie.

Hari Kesembilan(Minggu, 11 November 2012):

Datang dan menyaksikan Pia Alisjahbana Award sebenarnya tidak menjadi salah satu agenda wajib bagi saya. Jujur, saya tidak begitu tertarik untuk menghadiri acara ini, meski saya pribadi sangat mengagumi sosok beliau sebagai salah satu penggerak industri mode di Indonesia. Tapi saya berubah pikiran ketika tahu dua orang teman baik saya, Gandis dan Merdi, akan hadir pada acara itu karena undangan khusus dari Femina Grup sebagai alumni ajang pemilihan Gadis Sampul. Karena saya jadi merasa “punya teman” jadi saya akhirnya datang dan menyaksikan Pia Alisjahbana Award.

Setelahnya secara berturut-turut saya melihat deretan koleksi teranyar dari Ivan Gunawan yang diberi judul “Mysterious Regal” dan peragaan busana dari Benten. Pada kedua peragaan busana itu, saya masih ditemani oleh kedua teman saya. Ah, harusnya mereka sering-sering datang ke JFW 2013 kemarin, setidaknya saat ada mereka saya jadi lebih semangat. Maklum, biasanya saya hanya sendirian saja ditengah keramaian…hahahaaa.

Hari Kesepuluh(Senin 12 November 2012):

Jakarta Fashion Week 2013 resmi sudah tidak menjadi “week” lagi dengan penyelenggaraan yang genap sepuluh hari. Beberapa hari sebelumnya, Pia Alisjahbana selaku CEO Femina Grup sempat mengatakan, Jakarta Fashion Week tahun ini mungkin memang tidak lagi jadi Fashion Week, beliau lebih senang mengatakannya sebagai “Ten Days of Fashion”.

Di hari kesepuluh ini, ada empat peragaan busana yang dilangsungkan. Keempatnya yaitu peragaan busana dari Hengky Kawilarang, CLEO Fashion Award, Sebastian Gunawan untuk Yayasan Jantung Indonesia dan IKAT Ind oleh Didiet Maulana. Di hari terakhir penyelenggaraan JFW 2013 ini, saya tidak sempat menghadiri semua sesi peragaan busana, saya hanya datang pada CLEO Fashion Award dan Sebastian Gunawan untuk Yayasan Jantung Indonesia. Setelahnya, saya lebih memilih untuk ngobrol macam-macam dengan teman saya yang sudah menyelesaikan tugasnya sebagai model grup B untuk peragaan busana Sebastian Gunawan.

Sekian rangkuman JFW 2013 dari saya. Untuk lebih detilnya, semoga bisa saya tuliskan segera. Ya, saya ingin sekali menulis tentang JFW 2013 per-peragaan busana. Doakan semoga lekas sempat ya. 🙂

Bagian Pertama, IPMI Trend Show 2013; Kekuatan Esensial 4 Desainer IPMI

Seperti spektrum yang ada karena kolaborasi berbagai jenis warna, jika dipenggal menjadi bagian-bagian terpisah, warna-warna itu akan kembali mendiri, menguarkan pendaran bagi dirinya sendiri, memunculkan satu kekuatan khas yang sudah lama ada di dalam diri.

Finale Carmanita at IPMI’s Trend Show 2013 “Energie”

Saya mengibaratkan warna sebagai para desainer dan pendaran warna, sebagai ciri khas yang selalu ada di setiap karyanya. Sehingga bisa dikatakan bahwa setiap desainer memiliki warna atau kekuatan atau ciri khasnya tersendiri.

Beberapa lama saya menjadi bagian dari perkembangan dunia mode Indonesia, meski hingga kini saya rasa status saya hanya sebagai penikmat dan pengamat “amatiran”, dan bukan sebagai pelaku langsung, namun saya sudah cukup hapal dengan berbagai macam warna yang berpendar-pendar pada masing-masing karya desainer mode di Indonesia.

Si A yang baju-bajunya seperti ini, si B yang karya-karya nya seperti itu, atau si C yang kekuatan utama koleksinya begini. Saya sudah cukup hapal dengan itu semua, walau belum seperti pengamat-pengamat mode senior yang  hatam semua hal tentang mode diluar kepala mereka.

Saya sudah cukup terbiasa melihat karya-karya mereka dengan berbagai warna yang mereka punya. Warna yang menjadi ciri khas serta kekuatan utama mereka. Karena itu saya merasa tidak asing ketika ritual mode tahunan milik Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI), “Trend Show”, seakan coba mengulik warna dari para desainer yang bernaung dibawahnya.

Ikatan Perancang Mode Indonesia(IPMI), telah melewati hampir tiga dekade fesyen di Indonesia. Didirikan pada tahun 1985, IPMI telah dikenal luas sebagai salah satu organisasi profesi perancang busana paling bergengsi. Ritual tahunannya yang dinamakan “Trend Show” pun tak pelak menjadi salah satu pagelaran busana paling dinantikan. Para penikmat, pengamat, praktisi, dan mereka yang akrab dengan lingkungan fesyen di Indonesia dapat dipastikan menyimpan rasa penasaran tentang bagaimana teropong trend mode di satu tahun mendatang versi IPMI.

Mereka yang menyimpan rasa penasaran itu termasuk saya di dalamnya, saya juga merasa sangat penasaran akan apalagi yang akan di tampilkan para desainer IPMI pada Trend Shownya?.

Saya masih ingat jika tahun lalu saya terpaksa mengernyitkan dahi dengan penyelenggaraan Trend Show IPMI yang sedikit memusingkan dari segi tata panggung. Panggung lintasan catwalk berbentuk segitiga mengelilingi hall di Plaza Bapindo. Belum lagi lampu tata lampu yang cahayanya terlampau menyilaukan dan “nembak” ke arah fotografer pit.

Tetapi semua itu hanya menyangkut masalah teknis penyelenggaraan saja, karena untuk urusan bagaimana koleksi busana yang dihadirkan, sampai detik ini masih ada satu rangkaian koleksi yang benar-benar tidak bisa hilang dalam ingatan saya, koleksi tersebut adalah milik Barli Asmara, dimana ia menggunakan teknik macramé atau teknik tali simpul pada tiap potong koleksinya.

Bagi saya, apa yang suguhkan Barli pada koleksi terdahulunya itu amat sangat menarik, teknik macramé yang rumit dan keberaniannya hanya mengolah satu warna saja pada keseluruhan koleksi patut diacungi jempol.

Lantas, bagaimana dengan IPMI Trend Show di tahun ini?.

Ari Seputra “Neo Plaited”. Model: Dhining

Era Soekamto “Sang Panji”.

Valentino Napitupulu “Adrenaline Flower”. Model: Michella Samantha

Carmanita “Dream Life”. Model: Lita

“Energie”, satu kata yang dipilih IPMI untuk menjadi benang merah utama Trend Show nya kali ini. Melalui “Energie”, IPMI coba meleburkan kekuatan, atau yang saya interpretasikan juga sebagai “warna”, yang tersimpan dalam kekhasan karya 8 orang anggota terpilih.

Kedelapan orang anggota IPMI yang terdiri atas Ari Seputra, Era Soekamto, Valentino Napitupulu, Carmanita, Andrianto Halim, Tuty Cholid, Yongki Budisutisna, dan Barli Asmara masing-masing mengemban tugas untuk menginterpretasikan totalitas energi yang dipecah menjadi 3 bahasa berbeda. Tiga bahasa itu masing-masing, Adrenaline Rush, Silence Zen, dan Equilibrium.

Berbeda dari penyelenggaraan Trend Show tahun lalu dimana IPMI membaginya jadi 2 hari penyelenggaraan, pada Trend Show tahun ini, IPMI memadatkannya dalam satu hari penyelenggaraan dan hanya membaginya menjadi dua babak berbeda yang diberi jeda satu jam. Pada babak pertama, Trend Show IPMI 2013 menyuguhkan koleksi teranyar dari kuartet desainer Ari Seputra, Era Soekamto, Valentino Napitupulu dan Carmanita secara berturut-turut.

Inspirasi Perjalan di Tanah Lombok. Ari Seputra “Neo Plaited”. Model: Dominique Diyose

Motif tenun khas Lombok berpadu dengan warna-warna tanah. Ari Seputra “Neo Plaited”.

Membuka rangkaian pagelaran busana babak pertama, Ari Seputra memamerkan 10 set koleksi yang ia beri nama “Neo Plaited”. Koleksi yang kental akan nuansa etnik ini tercipta berdasarkan kisah perjalanan sang desainer menelusuri tanah Lombok yang kaya akan tradisi.

Warna-warna “membumi” semisal coklat tua, coklat muda, hingga putih gading kemudian ia kombinasikan dengan motif-motif kain tenun khas Lombok yang eksotis sehingga menghasilkan satu rangkaian busana yang seakan merefleksikan kekuatan dari kearifan lokal berwujud modern.

Siluet kebaya dalam bingkai modernitas. Era Soekamto “Sang Panji”. Model: Juwita Rahmawati

Motif burung Hong dan Lokcan digoreskan pada kain berwarna pastel nan lembut. Era Soekamto “Sang Panji”. Model: Laura Muljadi

Melihat keseluruhan koleksi Era Soekamto yang ia beri tajuk “Sang Panji” mau tidak mau ingatan saya kembali berputar pada koleksi Era terdahulu yang ia tampilkan pada Bazaar Wedding Exhibition, koleksi yang kala itu diberi nama “Jangan Menir”. Pada koleksi “Sang Panji”, Era yang masih setia bermain-main dalam ranah siluet kebaya modern, seakan mengulur benang merah yang sama dengan koleksi “Jangan Menir”. Kesamaan gagasan mengangkat budaya Jawa serta pemilihan siluet kebaya modern yang ia gunakan pada rangkaian koleksinya, membuat cita rasa yang serupa begitu terasa.

Namun, jika pada koleksi “Jangan Menir” Era lebih banyak memadukan warna-warna gelap yang memberikan kesan kuat pada busananya, kali ini koleksi Era lebih didominasi warna-warna lembut. Motif burung Hong dan Lokcan yang tergores samar pada kain batik berwarna pastel nan lembut kemudian menjadi daya tarik utama pada koleksi “Sang Panji” karya Era Soekamto.

Gaun-gaun cantik dengan warna yang sering diidentikan dengan feminitas. Valentino Napitupulu “Adrenaline Rush. Model: Christina Borries

Busana pria, atau lebih tepatnya, pengantin pria. Valentino Napitupulu “Adrenaline Flower”. Model: Betrand Antoline

Romantisme hubungan cinta dua insan manusia sepertinya menjadi salah satu pembahasan paling menarik bagi Valentino Napitupulu. Ia seolah tak pernah jemu mengolah sisi manis dari romantisme cinta ke dalam koleksi-koleksi busananya. Begitupula ketika ia melansir koleksi “Adrenaline Flower”, Valentino terlihat sangat menonjolkan aura feminine pada rangkaian koleksinya.

Warna-warna yang sering diidentikan dengan feminitas semisal merah muda terasa cukup mendominasi koleksi yang ia tampilkan, walaupun ia juga menghadirkan warna-warna lain seperti merah, orange, dan ungu. Aura feminine dalam koleksi Valentino Napitupulu juga tidak berhenti pada pemilihan warna, tetapi siluet serta detil-detil busana yang ia ciptakan juga sangat kental nuansa feminine, pun ketika ia menghadirkan busana laki-laki, aura feminine yang ada tetap tidak bisa hilang.

Warna-warna cerah dari kain tenun Makasar dan sari India. Carmanita “Dream Life”. Model: Mungky Chrisna

Teknik tumpuk kain-kain berstruktur ringan dengan potongan longgar. Carmanita “Dream Life”. Model: Dea Nabila

Memulai karir di tahun 1980 sejak ia menyelesaikan kuliahnya di bidang manajemen bisnis dan pemasaran di University of San Francisco, Amerika Serikat, nama Carmanita perlahan dikenal luas setelah ia berhasil memenangkan juara 3 Loma Perancang Mode majalah Femina. Sejak awal kemunculannya di jagad fesyen Indonesia, Carmanita dikenal dengan  kepiawaiannya mengolah motif-motif batik kontemporer dan kain-kain tradisional.

Dan pada IPMI Trend Show kali ini, Carmanita mengawinkan kain tenun Makassar dan sari India menjadi satu rangkian koleksi penuh warna. Menyematkan nama “Dream Life”, Carmanita masih setia dengan teknik tumpuk kain yang menjadi kegemarannya. Tidak menitikberatkan pada permainan silluet, Carmanita, membuat busana karyanya tetap memiliki kesan ringan dengan potongan yang longgar.

 

Bersambung…..

Hari Kedua JFW 2012 ; Warna-Warni Di Fashion Show IPMI “Color Me Life”

Dalam satu tahun ada dua kali pagelaran busana yang dipersembahkan bagi Robby Tumewu. Terharu!

Sebelumnya, Anne Avantie melalui fashion show Puteri Tionghoa yang diadakan bertepatan dengan malam pembukaan Jakarta Fashion and Food Festival 2011(JFFF 2011) telah mempersembahkan pagelaran busana tersebut bagi Robby Tumewu, desainer senior yang selama ini juga dikenal sebagai entertainer serba bisa. Kali ini, 10 rekan sejawatnya yang tergabung dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia(IPMI) melakukan hal serupa. Mereka mempersembahkan sebuah rangkaian pagelaran busana alias fashion show bagi Robby Tumewu yang pada tahun lalu sempat melalui kondisi kesehatan yang cukup kritis.

Kesepuluh orang desainer IPMI tersebut menamai fashion show itu “Color Me Life”. Mereka terinspirasi oleh “warna-warni” yang diciptakan oleh Robby Tumewu selama berkarya sebagai desainer. Mereka menganggap Robby telah memiliki andil yang begitu besar dalam perkembangan dunia fesyen Indonesia melalui karya-karyanya.

Kesepuluh desainer tersebut adalah Tri Handoko, Adesagi Kierana, Era Soekamto, Ghea Panggabean, Tuty Cholid, Kanaya Tabitha, Liliana Lim, Yongki Budisutisna, Carmanita, dan Barli Asmara. Pada fashion show “Color Me Life”, para desainer menyajikan 6 buah koleksi busana terbaru yang masing-masing dari desainer mewakili satu warna berbeda. Warna yang diangkat masing-masing desainer mewakili energy dan semangat sosok Robby Tumewu selama berkarya.

Sejak awal saya mendengar semua premis ini, saya langsung bersemangat untuk menyaksikan bagaimana fashion shownya. Terlebih saat saya mengetahui model androgyny Darell Ferhostan akan turut ambil bagian dalam show tersebut. Ia akan menjadi model first face untuk koleksi dari Tri Handoko.

 

Fashion Show pun dimulai dengan jadwal yang tidak ngaret banyak. Dibuka oleh rancangan dari Tri Handoko yang mengambil warna putih sebagai warna utama keseluruhan busana yang ia pamerkan.

Jujur saya jauhhhh lebih suka dengan mini koleksi Tri Handoko kali ini dibandingkan dengan koleksi yang ia pertunjukkan saat IPMI Trend Show 2012 beberapa waktu lalu. Rancangan Tri Handoko kali ini bagi saya lebih menarik walau seluruhnya berwarna putih dan masih mengusung ready to wear. Pada sequensnya, make up dan hair do para model juga sangat simple dan mengambil kesan “geek and nerd”, namun itu turut jadi bagian yang menambah menarik keseluruhan koleksi Tri Handoko.

Setelahnya, gaun-gaun malam berwarna merah dengan garis rancang klasik disajikan Liliana Lim. Melihat mini koleksi karya Liliana Lim, kesan seksi nan sensual pun terpancar, mungkin karena warna merah yang dipilihnya.

Telah sejak awal saya mengagumi karya Ghea Panggabean yang selalu kental nuansa etnik. Setelah pada pagelaran busana di tahun sebelumnya Ghea banyak bermain-main dengan budaya Jawa, kali ini Ghea hadir dengan mini koleksi yang mengambil inspirasi dari suku Dayak di pedalaman Kalimantan. Untuk mini koleksinya ini, Ghea Panggabean mewakili warna Oranye.

Tuty Cholid dengan warna kuning nya masih mengambil silluet baju-baju tradisional khas Sulawesi Selatan. Koleksi busana dengan gaya ini sebelumnya telah Tuty Cholid tampilkan pada fashion show nya di IPMI Trend Show 2012 yang juga belum lama ini berlalu.

Warna hijau adalah warna yang dipilih oleh Era Soekamto dalam mewakili kreasi terbarunya. Seperti biasa, kesan sexy selalu melekat pada koleksi Era. Untuk “Color Me Life” ini Era menampilkan 6 set busana yang terdiri atas gaun pendek berdetail bordir yang ia padukan dengan kain silk sebagai material dasar.

Playful, edgy, asimetris, rame, dan terkesan glamour adalah hal yang melekat erat pada hampir semua koleksi Adesagi Kierana. Dalam mini koleksi yang diperuntukkan bagi rangkaian fashion show “Color Me Life” ini Adesagi kembali menghadirkan hal serupa. 6 set busana yang ia pamerkan dalam warna Turqoise atau biru kehijauan memunculkan kesan penuh drama.

Gaun pendek dengan material ringan dipadu dengan bahan seperti denim menjadi andalan Yongki Budisutisna dalam mini koleksinya yang mewakili warna Biru. Melalui koleksinya tersebut, Yongki menghadirkan kesan elegan dan formal sekaligus santai dan casual.

Saya selalu mengingat Carmanita dengan busana bertumpuknya. Gayanya bohemian, dengan potongan busana dari bahan-bahan ringan yang kemudian ia tumpuk sehingga terkesan lebih memiliki volume. Ia juga sangat terlihat menyukai warna-warna “wanita” seperti merah muda dan ungu. Begitupun pada koleksinya kali itu, warna ungu jadi warna yang ia angkat dalam 6 set koleksi busana karyanya.

Sifon, silk, print, dan lame adalah material yang dipilih Kanaya Tabitha untukmini koleksinya. Ia mewujudkan warna emas dengan interpretasi sebuah kesempurnaan. Mungkin sebuah keindahan yang berbalut nuansa glamour. Tidak tanggung-tanggung, ia mewujudkan warna emasnya dengan taburan crystal swarovski pada 6 busana rancangannya.

****

Pada hari kedua itu sebenarnya saya lihat 2 show. Yang satu adalah Grazia Glitz and Glam awards. Tapi jujur saya nggak terlalu ingat detail gimana shownya, saat itu saya juga sama sekali tidak mengabadikan gambar karena sudah terlanjur duduk manis bersama Abang saya di kursi tamu undangan. Tapi, kalau Grazia Glitz and Glam Awards diadakan sebelum IPMI “Color Me Life”, ada juga fashion show yang diadakan setelah IPMI, yakni fashion show tunggal dari Batik Danar Hadi.
Saya melewati fashion show Danar Hadi tersebut. Setengah males, dan saya juga memilih untuk menemani seorang teman yang kakinya terkilir seusai fashion show IPMI “Color Me Life. Saya menemani dia mencari obat sampai dijemput oleh supirnya. Setelahnya ada lagi teman saya yang kakinya berkali-kali keram sesaat sebelum show, saya kembali menemani dia ke minimarket obat yang ada di Pasific Place. Sesudah itu semua, fashion show sudah dimulai, saya tidak bisa masuk kedalam. Nggak apa, bagi saya nggak masalah. Teman yang lagi susah lebih penting daripada deretan baju yang akan dipamerkan, ya kan?.

IPMI Trend Show 2012 ; Panggung dan Lighting Yang Bikin Mikir

Salah satu fashion show dengan bentuk panggung dan lighting paling “ajaib” yang pernah saya sambangi

 

Well, sebenarnya saya nggak mau terlalu banyak bercerita tentang fashion show satu ini Ada beberapa hal yang membuat saya merasa tidak nyaman untuk menceritakan ini ke kalian. Tapi apa daya ternyata saya tetap tidak bisa menahan diri untuk berkomentar ini itu yang terjadi disana.

Datang disaat fashion show akan segera dimulai dalam hitungan menit adalah hal yang sangat tidak nyaman. Hampir semua tempat strategis yang disinyalir akan menjadi titik yang sangat oke jika dijadikan “basecamp” pengambilan gambar alias untuk foto sudah dikuasai para fotografer dengan peralatan tempur super lengkap. Bukan senapan atau bedil tentunya, melainkan kamera foto professional.

Saya yang saat itu baru saja sampai di lantai 10 Plaza Bapindo, atau tepatnya di Assembly Hall nya, langsung sibuk clingak clinguk mencari tempat yang at least masih oke jika dijadikan “basecamp” saya menyaksikan sekaligus mengambil gambar dari fashion show hari itu. Dan akhirnya setelah beberapa lama sibuk clingak clinguk, saya mendapatkan satu tempat yang saya rasa lumayan strategis. Saya pun siap untuk menyaksikan fashion show hari itu . Fashion Show IPMI(Ikatan Perancang Mode Indonesia) Trend Show 2012 yang akan menampilkan koleksi dari 3 desainernya, yakni Tri Handoko, Valentino Napitupulu dan Adesagi Kierana.

Duduk manis beberapa saat di “basecamp” saya,  malah semakin membuat hati ini gundah gulana dan berpikir dan terus berpikir.

“Ini panggung bentuknya aneh. Segitiga, terus dibagian ujungnya lancip. Nah nanti itu model berhentinya madep mana ya?. Sesuai sama arah dia jalan, atau menyesuaikan dengan posisi fotografer ya?”.

Seperti itulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang terus lompat-lompat dikepala saya, pertanyaan yang akhirnya bikin galau karena kalau seandainya si model mengambil pose lurus menghadapkan tubuh pas searah titik sudut yang menyerupai jarum jam itu, niscaya sepertinya saya nggak akan dapet satupun gambar yang lumayan untuk fashion show itu.

Hal itu akhirnya bikin saya mikir dan mikir gimana blocking si model, dan memutuskan bertanya pada enggak-tau-siapa-yang-jelas-panitianya mengenai blocking modelnya gimana, dan jawaban si enggak-tau-siapa-yang-jelas-panitianya tidak membuat kegalauan saya berkurang karena,

“Yang jelas nanti pasti modelnya akan berhenti dan pose menghadap media”.

Begitulah kata si enggak-tau-siapa-yang-jelas-panitianya saat saya tanya blocking modelnya bagaimana. Denger jawaban itu saya pun menarik kesimpulan awal kurang lebih seperti ini,

“Mati Gue ini mah nggak bakal dapet sama sekali deh fotonya”.

Karena kalau 100% mengadap posisi fotografer, dan yang mana itu berarti si model akan memutar posisi badannya sekitar 45 derajat, maka posisi itu akan menyamping dari posisi saya. Saat itu satu-satunya harapan adalah “semoga sang kamera poket ini bisa ambil gambar saat si model masih dalam posisi jalan, jadi tubuhnya pas menghadap saya”.

Dan setelah menunggu selama bermenit-menit akhirnya fashion show dimulai dengan menampilkan busana seragam!.

“Seragam?. What?. Seragam?!. Laahhhhh”.

Saya sempet bengong beberapa saat ketika pada opening show disuguhi baju-baju seragam. Mulai dari seragam suster, dokter Rumah Sakit, pramugari dan pilot dalam beberapa variasi, sampai seragam montir. Saya pun bingung, bengong dan mikir,

“Laahhhh kok ini show baju-baju seragam yak?”.

Konyol, bahkan sangat konyol dan mungkin perlu sedikit ditoyor, karena dengan tanpa dosa nya saya nggak baca rilis yang saya terima terlebih dahulu. Di rilis tertulis dengan jelas kalau ternyata memang show dibuka dengan parade peragaan busana dari Maxistyle, salah satu merek baju seragam korporat terbesar di Indonesia yang bekerjasama dengan 10 orang desainer IPMI dalam mendesain busana seragamnya. Busana seragam yang ditampilkan pada opening fashion show ini,

“Ooowwhhhhh….”.

Show berjalan dan ternayata titik berhenti dan pose si model tidak sesulit yang dibayangkan karena blockingnya tidak terlalu konsisten hanya menghadap ke satu arah. Sering para model berhenti dan melakukan pose pada posisi badan yang tetap, yang mana itu adalah pas banget mengarah ke posisi “basecamp” saya. Tapi beberapa kali si model juga pose mengarah ke sudut fotografer, 45 derajat menyamping dari saya. Dan juga lumayan sering titik perhetian si model bergeser, entah berapa derajat atau setengah sampai satu langkah. Itu saya katakan sebagai  blocking labil, karena tidak konsisten berhenti di satu titik saja. Saya nggak ngerti deh kenapa begitu. Mungkin memang sengaja sebagai variasi agar tidak membosankan, atau mungkin ada kesalahan juga di si model, entahlah.

Lalu hal lain yang juga bikin saya mikir, mikir dan mikir lebih keras adalah lightingnya. Lighting utama dititikberatkan pada posisi jatuh tepat di badan si model dari arah mereka keluar di ujung panggung dengan cukup “kencang”. Kalau menggunakan istilah saya, “Lightingnya nembak banget”. Itu bikin banyak saat dimana si model jadi terlalu banyak tertimpa lampu, dan banyak juga yang bocor. Dan saya pun kembali dibuat pusing dengan hal ini. Terlebih lagi sering memainkan lighting kedip mati-nyala-mati-nyala dan sorotan terang perlahan saat lightingnya mati dan kemudian nyala lagi, bikin saya pusing karena silau setengah mati.

Jika pada fashion show hari pertama yang dibuat pusing dengan bentuk panggung dan lighting yang “ajaib”, pada fashion show hari kedua saya dibuat nggak habis pikir dengan kengaretan show. Disaat 20 menit sudah lewat dari jadwal dimulainya fashion show bagian pertama tapi boro-boro dimulai, ruangannya aja masih kosong sekitar ¾ bagian. Jadilah kebengongan saya bertambah, selain karena panggung dan lampu, di hari kedua ditambah dengan kengaretan amat sangat yang terjadi.

Jadi, singkat cerita terlepas dengan bagaimana rancangan bajunya, IPMI Trend Show 2012 ini meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. Saya nggak akan pernah lupa gimana itu bentuk panggungnya yang akhirnya saya juluki “Si Panggung Segitiga Bermuda” karena bentuk segitiganya, dan lighting yang sempat bikin saya beberapa teringat dengan lampu disko kedap kedip terang banget. Saya juga nggak akan pernah lupa gimana susaahhhh nya dapetin foto yang at least lumayan.

Nb : Iya saya tau ini sama sekali nggak ngebahas gimana bajunya. Kalau mau tau gimana bajunya, liat di posting selanjutnya ya 😛