Reti Ragil Riani ; Skinny Girl Kesayangan Para Desainer

Yang saya selalu ingat darinya adalah tubuh super skinny, wajah tirus yang lancip, dan baju-baju Tex Saverio yang sering ia peragakan. Ia juga pribadi yang rendah hati dan menyenangkan.

Nama Reti Ragil Riani mungkin masih belum cukup familiar ditelinga para pecinta mode. Bisa dikatakan jika belum banyak yang tahu tentang dara bertubuh super langsing dan berwajah lancip yang kini jadi kesayangan banyak desainer ternama Indonesia, termasuk si “gila” Tex Saverio.

Reti Pada Sekuens Tex Saverio Dewi Fashion Knights 2011-12

Reti, Dewi Fashion Knights 2010-11 Sekuens Tex Saverio. Foto: Website JFW

Namun menariknya, saya cukup sering menemukan data statistik blog saya ini dengan keyword Reti Ragil. Oleh karena itu saya menduga mungkin sudah ada cukup banyak orang yang pernah mendengar namanya, tetapi belum mengetahui lebih banyak tentang model peraga busana Tex Saverio yang dikenakan Lady Gaga ini.

Reti(kiri), Fashion Spread Tex Saverio. Foto: Anton Ismael untuk Majalah Dewi

Sejak pertama mengenal sosok Reti, saya selalu mengenangnya sebagai si model super skinny dengan pribadi yang menyenangkan. Dilahirkan dalam keluarga yang sangat peduli dengan pendidikan dan keagamaan, Reti menghabiskan masa sekolahnya selama 12 tahun di sebuah sekolah swasta yang dikenal mementingkan bidang keagamaan disamping bidang akademis, yakni Panglima Besar Soedirman yang berlokasi di wilayah Cijantung Jakarta Timur. Saat masa-masa sekolah itulah Reti menyadari kenyataan bahwa ia memiliki tinggi tubuh di atas rata-rata anak seusianya.

Reti, Fashion Show The Culture Incarnation oleh Oscar Lawalata, JFW 2011-12

Selepas SMA untuk mengisi waktu libur sebelum kuliah, Reti memutuskan untuk mengikuti sekolah modeling atas kemauannya sendiri dan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Dipilihlah Look Models Inc sebagai tempat ia menimba ilmu modeling, namun jalan hidup tidak ada yang bisa menduga, pada saat pertama mendaftar, Reti justru langsung ditawari kontrak selama lima tahun oleh Look Models Inc dibawah pimpinan Keke Harun. Setelah berkonsultasi ke sang Mama, esok harinya Reti memutuskan untuk menerima tawaran kontrak tersebut.

Reti di Majalah Fashion Pro. Foto oleh Azmi

Berawal dari sana, karir modelingnya lalu berkembang pesat. Deretan nama desainer papan atas Indonesia seperti Priyo Oktavianno, Biyan, Eddy Betty, Sebastian Gunawan, dan Tex Saverio, adalah sebagian kecil dari para desainer ternama yang kerap kali menggunakan jasanya  sebagai seorang model. Meski tergolong sebagai model pendatang baru, namun dengan tinggi 179 cm dan berat 50 kg, wajah lancip yang khas serta memiliki karakter tersendiri, tidak heran bila gadis yang punya hobi membaca komik Miko ini menjadi salah satu model kesayangan para desainer yang patut diperhitungkan.

Reti di "Shanghai Swing" Sebastian Gunawan. Foto: Windy Sucipto

Reti, "The Orient Revisited" BIYAN

Saat ini, selain disibukkan oleh aktivitasnya di bidang modeling, Reti juga masih tercatat sebagai mahasiswi di STIKS Tarakanita. Pengagum sosok TOP model Fahrani pun memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi.

Hal ini terbukti dengan waktu-waktu yang dihabiskannya untuk mengunjungi panti jompo, serta bakti sosial kecil-kecilan. Ia juga memiliki sebuah impian untuk bisa mengajak anak-anak yatim piatu mengunjungi dan bermain sepuasnya di DUFAN. Baginya, jika hal itu bisa terlaksana pasti akan menyenangkan sekali.

Mirip Desain Siapa Hayooo???

Mau tidak mau saya mengernyitkan kening ketika melihat desain-desain yang saya posting di bawah ini. God!, it’s look like de javu!. Ini seperti desain….

Danny Satriadi. Model: Mungki Chrisna

Pada tahun sebelumnya saya dibuat terkesan oleh koleksi busana dari para desainer yang mengisi satu slot fashion show khusus di JFW 2010-2011 yang bekerjasama dengan salah satu merek shampoo. Salah satu desainer yang saya ingat betul keindahan koleksinya adalah Danny Satriadi. Koleksinya keren dan berkesan, terlepas dari para model bulesuper duper ganggu yang tampil membawakan koleksi tersebut.

Lalu pada tahun ini saya pun bersemangat ketika tahu Danny akan kembali mempertontonkan kolesksi terbarunya di JFW 2011-2012. Kali ini Danny tidak lagi bekerjasama dengan merek shampoo melainkan merek salah satu mobil kelas internasional, Mazda.

Fashion Show itu diberi nama “Mazda Present Young Vibrant Designer”. Premis utamanya adalah memamerkan koleksi dari 3 orang desainer yang pada koleksinya terinspirasi oleh mobil Mazda keluaran terbaru. Tiga desainer tersebut adalah Kleting Titis Wigati, Danny Satriadi , dan Imelda Kartini.

Kleting. Model: Prinka Cassy, Kelly Tandiono dll

Kleting Titis Wigati yang lebih kenal luas dengan label Kle nya, menampilkan busana-busana ready to wear penuh warna dan berpotongan unik, seperti yang sudah jadi ciri khasnya. Pada saat menyaksikan koleksi busana dari Kleting saya masih biasa saja dan tidak merasa aneh atau bingung sama sekali, karena saya tahu memang seperti itulah koleksi busana yang jadi andalan Kle.

Danny Satriadi. Model: Paula Verhoeven

Lalu masuk ke koleksi Danny Satriadi. Begini, saya sebenarnya sangat tidak ingin membandingkan karya seseorang dengan yang lainnya, tapi mau bagaimana lagi, terlalu sulit bagi saya untuk menahan diri dan tidak berkomentar tentang koleksi Danny kali ini, terutama pada koleksi pamungkasnya yang dikenakan model Paula Verhoeven.

Danny Satriadi

Koleksi itu, bagi saya begitu mirip dengan koleksi seorang desainer pendatang baru yang ditampilkan pada tahun sebelumnya. Saya tidak ingin langsung menilai jika koleksi Danny itu meniru atau semacamnya, tapi memang saya rasa ada beberapa kemiripan.

Imelda Kartini. Model: Reti Ragil Riani

Sementara untuk koleksi dari Imelda Kartini, saya nggak bisa komentar banyak karena sebelum-sebelumnya saya belum pernah melihat koleksi Imelda, atau mungkin sudah tetapi lupa. Jadi silakan diperhatikan dan diberikan komentar sendiri tentang koleksi Imelda dari foto yang saya posting dibawah ini.

Imelda Kartini. Model: Kelly Tandiono

Imelda Kartini. Model: Kimberly

Over all, saya hanya gatal untuk memposting foto-foto ini setelah lama tertahan. Masalah kalian setuju atau tidak atau hanya ingin sekadar memberi komentar monggo silakan.

BIN House dan Salah Satu Moment Paling Menyenangkan Selama JFW 2011-2012

Hari itu untuk pertama kalinya selama JFW 2011-2012 saya merasa benar-benar tersenyum bahagia. Rasanya senang sekali ketika saya usai menyaksikan 4 sekuens fashion show dari BIN House yang begitu seru, lepas, dan sangat menyenangkan

BIN House. Jujur, sebelumnya Saya nggak banyak tau tentang BIN House. Saya pertama kali dengar nama itu sekitar satu tahun lalu pada Bazaar Fashion Concerto. Saya ingat betul, BIN House adalah salah satu yang berpartisipasi dalam acara itu. Saya tau, si empunya BIN House bernama Obin. Tapi pada saat Bazaar Fashion Concerto 2010, koleksi yang dikeluarkan bukan karya Obin, melainkan karya seorang desainer bernama Wita.

Selang waktu berlalu, saya tetap tidak banyak tau tentang BIN House, sampai pada akhirnya saya membaca tentang Obin Komara, sang pendiri BIN House di salah satu majalah mode ternama. Menarik. Itulah satu kata yang menjadi kesimpulan saya ketika saya membaca tentang beliau di majalah tersebut. Dalam wawancaranya dengan majalah itu, Obin mengatakan bahwa ia lebih senang disebut sebagai “tukang kain” daripada seorang desainer. Bagi saya, hal itu benar-benar menarik, terlebih setelah mengetahui bahwa reputasi Obin dan label yang ia dirikan, BIN House, sudah tidak diragukan lagi tidak hanya di Indonesia tetapi juga dunia internasional. Bahkan aktris sekaliber Julia Roberts adalah salah satu kolektor kain buatan Obin.

Tidak hanya berhenti sampai disitu, setelah membaca artikel di majalah tersebut tentang Obin, masih banyak hal menarik lainnya yang membuat saya penasaran dengan Obin dan BIN House. Jadi, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak datang dalam sebuah fashion show khusus dari BIN House di hari ke-4 Jakarta Fashion Week 2011-2012.

Fashion show dimulai jam 1 siang, jam dimana saya biasanya masih asik tidur-tiduran sambil nonton TV kabel di kostan(saat itu saya sedang numpang di kostan teman di daerah Senopati). Sebenarnya agak malas rasanya beranjak dari kostan yang benar-benar nyaman dan bikin betah itu. Tapi saat saya mengingat lagi kalau yang akan show adalah koleksi dari BIN House saya langsung bersemangat siap-siap pergi menuju Pasific Place dan menyaksikan fashion show itu.

Fashion show dari BIN House diberi judul “Apresiasi Pesona Bersama BIN House ‘A Catwalk Moment’. Sebelumnya saya harus mengatakan kalau saya nggak akan terlalu membahas tentang koleksi dari BIN House karena pada show ini saya memang sangat amat terkesan pada keseluruhan pengemasan fashion shownya yang sangat menyenangkan. Jadi, saya memang lebih tertarik untuk membahas keseluruhan fashion show :p.

BIN House oleh Obin Komara di JFW 2011-2012. Model: Dhining

Dibagi menjadi 4 sekuens, fashion show BIN House itu diarahkan secara langsung oleh Panca Makmun selaku koreografer. Saat pertama kali saya tau kalau koreografer fashion show BIN House adalah Panca Makmun, saya yakin kalau kemungkinan besar fashion show akan berjalan dengan sangat menyenangkan. Dan benar saja, 4 sekuens show BIN House benar-benar menjadi salah satu moment yang paling tidak bisa saya lupakan selama JFW 2011-2012. Alur masing-masing sekuens dari fashion show tersebut dibuat naik turun bergantian pada setiap sekuens. Grup model dibagi menjadi dua sub grup, dikelompokkan sesuai dengan karakter para model. Untuk kasus fashion show BIN House itu, saya senang menyebutnya dengan Grup1, Model Anggun&Dewasa dan Grup2, Model Ceria&Centil.
Kedua grup model itu masing-masing “dikepalai” oleh Dominique Diyose di Grup 1, dan Kimmy Jayanti di Grup 2.

BIN House oleh Obin Komara di JFW 2011-2012. Model: Dominique Diyose

BIN House oleh Obin Komara di JFW 2011-2012. Model: Whulandari

Sekuens pertama di buka dengan para model dari Grup 1 yang diawali dengan penampilan Dominique Diyose yang mengenakan satu set busana bermaterial kain batik. Irama musik mengalun perlahan seiring dengan penampilan kalau-kamu-lihat-kamu-akan-tahan-nafas-saking-kerennya dari Dominique. Penampilan Dominique yang sangat anggun, dewasa, dan terkesan sexy juga berlaku pada setiap model yang ada dalam Grup 1. Semua model dari Grup 1, adalah tipe model yang memiliki karakter yang anggun, dewasa, dan terkesan sexy.

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 2 di JFW 2011-2012. Model: Renata

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 2 di JFW 2011-2012. Model: Dea Nabila

Beralih dari sekuens satu ke sekuens dua, Kimmy Jayanti si model rock and roll tampil dengan gaya ceria. Dengan musik backsound yang dinamis ia menebar senyum dan tawa kepada setiap orang yang memenuhi fashion tent. Benar-benar menciptakan suasana perpindahan sekuens yang berbeda dari sekuens sebelumnya yang lebih syahdu.

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 3. Model: Dominique Diyose

Tapi, dari semua sequens saya nggak akan pernah bisa lupa dengan sekuens tiga. Sekuens yang memakai lagu “Juwita Malam” Ismail Marzuki versi Slank. Sejak dulu saya memang sangat suka dengan lagu itu. Setiap mendengar lagu itu, otak saya selalu memvisualisasikan dengan seorang wanita cantik yang mengenakan gaun warna merah. Dalam bayangan saya wanita itu terlihat cantik, pintar, seksi, dan membuat terpesona siapa saja yang melihatnya.

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 3 di JFW 2011-2012. Model: Whulandari

Lalu pada sekuens tiga itu, Dominique muncul, berjalan perlahan dari belakang lintasan catwalk mengenakan kebaya encim warna merah, kain batik, dan selendang putih. Damn!. Visualisasi saya jadi kenyataan!. Dan si wanita dalam lagu “Juwita Malam” dalam bayangan saya menjelma nyata!. Am Speechless.

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 4. Model: Kimmy Jayanti

 

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 4 di JFW 2011-2012. Model: Renata

Pada sekuens terakhir, Grup 2 Kimmy Jayanti tampil dengan lebih “tenang”. Mengenakan  busana two piece putih-putih dan sehelai kain merah  yang kemudian ia mainkan(putar-putar). Seluruh model pada Grup 2 Kimmy yang sebelumnya tampil dengan ceria dan centil pun sedikit berubah imej menjadi lebih “tenang”. Pada sequens ini, busana yang dibawakan para model didominasi oleh warna putih.

Finale Akhir BIN House di JFW 2011-2012

Seluruh sekuens pada fashion show BIN House berakhir. Seluruh model melakukan sesi finale. Saat finale,  para model yang kesemuanya telah berada di lintasan catwalk mengambil posisi duduk di tepi lintasan, dan sang empunya label BIN House, Obin Komara pun berjalan dengan menggoyangkan tubuh menuju depan lintasan catwalk dengan membawa sebuah kain. Saat lihat Obin bergoyang dengan begitu asyiknya, saya yang hanya berjarak beberapa meter di depan lintasan catwalk serasa ingin bergoyang juga. Rasanya pasti sangat menyenangkan. Semenyenangkan show nya. 😀

Hari Ketiga JFW 2012 ; Kembali Membawa Kamera!. Yeaayyy!

Betapa bahagianya saat Poppie kembali meminjamkan kameranya pada saya. Thanks Poppie!

Hari ketiga JFW 2012 adalah hari Senin. Hari dimana biasanya saya tengah merasa malas setengah mati karena kembali ke rutinitas sehabis masa-masa weekend. Tapi hari Senin yang jatuh bertepatan dengan hari ketiga JFW 2012 itu berbeda, saya sungguh bahagia. Saya libur!. Benar-benar suatu keajaiban dunia yang sangat mengesankan karena saya memperoleh hari libur selama satu minggu dan bertepatan dengan moment JFW!.

Sejak pagi saya sudah mendalami jadwal JFW untuk hari Senin 14 November 2011 itu dengan sangat teliti. Rasanya saya ingin datang sejak pagi, supaya bisa lihat semua fashion show yang ada, tapi apa daya, deadline tulisan saya untuk show hari kedua JFW saja belum selesai, bagaimana saya bisa meninggalkan itu semua kemudian kembali lagi meliput?. Bisa-bisa pekerjaan semakin menumpuk.
Akhirnya saya memutuskan untuk datang pada fashion show keempat di tent pada hari itu, fashion show tunggal dari Agnes Budisurya, seorang desainer gaek yang karya telah beberapa kali saya lihat di fashion show yang diselenggarakan APPMI(Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia).

Saya tiba di tempat pada saat fashion show akan segera dimulai, sedikit panik, tapi untungnya saya masih bisa mendapatkan kursi di deretan paling depan. Yup, saat show tersebut saya hanya berniat nonton bukan ikut-ikutan sebagai juru foto yang memiliki markas di Photographer Pit.

Fashion show Agnes Budisurya dibuka oleh Desi Mulasari yang memakai outfit torso hitam, seperti lengging(atau memang legging ya?), dan jubah kain yang sangat lebar sehingga menyerupai sayap kelelawar. Dengan gerakkan teatrikal dan sedikit tarian, Mbak DesMul melangkah perlahan di atas catwalk dengan jubah kain yang melambai-lambai. Semua penonton pun terdiam, semuanya terpaku oleh gerak gerik DesMul yang begitu memukau. Pada klimaks aksinya, DesMul berlari di atas catwalk ditengah-tengah langkahnya kembali ke belakang panggung dan seketika tepuk tangan pun membahana ke segala penjuru fashion tent. Prok Prok Prok!.

Saya sangat menyukai fashion show dari Agnes Budisurya itu, saya suka semuanya, termasuk baju-baju yang ditampilkan. Gaun-gaun cantik yang kental akan nuansa tumbuh-tumbuhan yang akhirnya membuat saya berpikir bahwa Agnes Budisurya adalah seorang desainer pecinta alam yang gemar berkebun serta menanam beragam spesies tumbuh-tumbuhan. Namun sayangnya karena saya hanya menjadi penonton dari barisan kursi wartawan dan bukannya ikut-ikutan foto di photographer pit, maka saya tidak mempunyai foto yang jelas pada saat show tersebut. Karena hal itu pula, banyak detail yang terlupa akan fashion show tersebut.

Setelah fashion show dari Agnes Budisurya saya melewati fashion show tunggal dari Yasra Kebaya karena satu dan lain hal. Saya baru kembali menuju ke dalam tent pada saat fashion show dari Sebastian Gunawan akan dilangsungkan, tepat setelah fashion show Yasra Kebaya berakhir.

Pagelaran busana dari Sebastian Gunawan dibuka dengan penampilan khusus dari pemain harpa ternama, Maya Hasan. Mengenakan gaun malam berpotongan klasik karya Sebastian Gunawan, Maya Hasan memainkan instrumen dengan harpanya. Setelahnya, para wanita dari kalangan sosialita yang katanya peduli terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah tampil di atas panggung dengan membawakan busana rancangan Sebastian ala model profesional. Diantara para wanita cantik tersebut terselip Putri Indonesia tahun 2009, Zivanna Letisha Siregar, yang juga terpilih sebagai duta remaja Yayayasan Jantung Indonesia.

Dalam rangkaian koleksi karyanya kali ini, Sebastian Gunawan berkolaborasi dengan sang istri Christina, menghadirkan deretan koleksi terbaru dari lini SEBASTIAN. Pada koleksi ini Sebastian tetap mempertahankan ciri khasnya yakni busana-busana berpotongan klasik, ia kemudian menamai koleksinya “Charming Blend”. Gaun malam serta gaun cocktail dihadirkan dalam silluet gaya fesyen tahun 20-60 an. Warna-warna yang cenderung lembut seperti coklat muda, nude, abu-abu serta hitam menjadi pilihan utama Sebastian meski dalam satu dua busana terdapat warna yang cukup cerah seperti merah, hijau toscha, dan biru kehijauan.

Hari itu fashion show dari Oscar Lawalata yang berkolaborasi dengan Justin Smith yang merupakan milliner alias perancang topi dari Inggris terpilih untuk menjadi fashion show penutup. Oscar yang selama ini dikenal melalui kreasinya yang mengaplikasikan kain-kain tradisional kedalam potongan busana bernapas ready to wear duluxe yang kental kembali menerapkan racikan yang sama untuk fashion show yang ia beri judul “The Culture Incarnation” itu.

Beragam kain tradisional seperti batik, ikat, dan tenun diaplikasikan dengan teknik yang berbeda, sehingga menghasilkan formasi busana modern yang kaya akan detail, namun tetap terlihat simple dan sangat wearable. Untuk koleksinya kali ini, Oscar memlih untuk menggabungkan warna-warna cerah dan warna tanah yang lebih membumi dalam setiap potong busana. Beragam pilihan gaun pendek sampai dengan busana two piece yang menggabungkan celana panjang atau rok dengan atasan tanpa lengan serta kemeja berpotongan longgar adalah busana yang ditampilkan Oscar dalam kolaborasinya bersama Justin Smith.

Sementara itu, Justin Smith yang juga pemenang British Council’s UK Young Fashion Enterpreneur Award 2010 dan telah menampilkan topi rancangannya di Paris, Milan, dan Roma, menghadirkan kreasi hiasan kepala dan topi yang menerapkan unsur anyaman bambu, kain ikat, dan kulit. Kemudian karya dari keduanya dipertemukan dan dikemas menjadi satu outfit yang memunculkan rangkaian cerita sarat makna yang terinspirasi dari dinamika manusia modern yang tak lepas dari hiruk pikuk teknologi, namun sebenarnya haus akan unsur-unsur alamiah dalam kehidupannya.

Namun dari semua hal tersebut, jika ditanya apa hal yang paling tidak terlupakan dari hari itu, maka saya akan menjawab 3 hal yang tidak pernah terlupakan dari fashion show JFW hari ketiga.
1. Aksi Desi Mulasari saat fashion show Agnes Budisurya

2. Pinjaman kamera dari My Poppie(sebagian dari kalian tahu siapa Poppie saya itu) yang bikin saya bisa foto-foto show Sebastian Gunawan dan Oscar Lawalata menggunakan Cannon 1100 D dan itu membuat saya senang setengah mati karena saya dapat beberapa hasil foto yang at least lebih kece dari hasil foto biasanya dengan kamera pocket. Dan yang terakhir,

3. Hari itu adalah hari pertama saya nggak pulang ke rumah melainkan menginap di kosan salah dua teman saya yang tidak lain adalah model di JFW 2012 yang berlokasi di daerah Senopati. Jadi mulai hari itu saya tidak perlu bolak-balik Cibubur-Pasific Place selama JFW 2012 berlangsung!. Senangnyaaaaa….

 

Hari Kedua JFW 2012 ; Warna-Warni Di Fashion Show IPMI “Color Me Life”

Dalam satu tahun ada dua kali pagelaran busana yang dipersembahkan bagi Robby Tumewu. Terharu!

Sebelumnya, Anne Avantie melalui fashion show Puteri Tionghoa yang diadakan bertepatan dengan malam pembukaan Jakarta Fashion and Food Festival 2011(JFFF 2011) telah mempersembahkan pagelaran busana tersebut bagi Robby Tumewu, desainer senior yang selama ini juga dikenal sebagai entertainer serba bisa. Kali ini, 10 rekan sejawatnya yang tergabung dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia(IPMI) melakukan hal serupa. Mereka mempersembahkan sebuah rangkaian pagelaran busana alias fashion show bagi Robby Tumewu yang pada tahun lalu sempat melalui kondisi kesehatan yang cukup kritis.

Kesepuluh orang desainer IPMI tersebut menamai fashion show itu “Color Me Life”. Mereka terinspirasi oleh “warna-warni” yang diciptakan oleh Robby Tumewu selama berkarya sebagai desainer. Mereka menganggap Robby telah memiliki andil yang begitu besar dalam perkembangan dunia fesyen Indonesia melalui karya-karyanya.

Kesepuluh desainer tersebut adalah Tri Handoko, Adesagi Kierana, Era Soekamto, Ghea Panggabean, Tuty Cholid, Kanaya Tabitha, Liliana Lim, Yongki Budisutisna, Carmanita, dan Barli Asmara. Pada fashion show “Color Me Life”, para desainer menyajikan 6 buah koleksi busana terbaru yang masing-masing dari desainer mewakili satu warna berbeda. Warna yang diangkat masing-masing desainer mewakili energy dan semangat sosok Robby Tumewu selama berkarya.

Sejak awal saya mendengar semua premis ini, saya langsung bersemangat untuk menyaksikan bagaimana fashion shownya. Terlebih saat saya mengetahui model androgyny Darell Ferhostan akan turut ambil bagian dalam show tersebut. Ia akan menjadi model first face untuk koleksi dari Tri Handoko.

 

Fashion Show pun dimulai dengan jadwal yang tidak ngaret banyak. Dibuka oleh rancangan dari Tri Handoko yang mengambil warna putih sebagai warna utama keseluruhan busana yang ia pamerkan.

Jujur saya jauhhhh lebih suka dengan mini koleksi Tri Handoko kali ini dibandingkan dengan koleksi yang ia pertunjukkan saat IPMI Trend Show 2012 beberapa waktu lalu. Rancangan Tri Handoko kali ini bagi saya lebih menarik walau seluruhnya berwarna putih dan masih mengusung ready to wear. Pada sequensnya, make up dan hair do para model juga sangat simple dan mengambil kesan “geek and nerd”, namun itu turut jadi bagian yang menambah menarik keseluruhan koleksi Tri Handoko.

Setelahnya, gaun-gaun malam berwarna merah dengan garis rancang klasik disajikan Liliana Lim. Melihat mini koleksi karya Liliana Lim, kesan seksi nan sensual pun terpancar, mungkin karena warna merah yang dipilihnya.

Telah sejak awal saya mengagumi karya Ghea Panggabean yang selalu kental nuansa etnik. Setelah pada pagelaran busana di tahun sebelumnya Ghea banyak bermain-main dengan budaya Jawa, kali ini Ghea hadir dengan mini koleksi yang mengambil inspirasi dari suku Dayak di pedalaman Kalimantan. Untuk mini koleksinya ini, Ghea Panggabean mewakili warna Oranye.

Tuty Cholid dengan warna kuning nya masih mengambil silluet baju-baju tradisional khas Sulawesi Selatan. Koleksi busana dengan gaya ini sebelumnya telah Tuty Cholid tampilkan pada fashion show nya di IPMI Trend Show 2012 yang juga belum lama ini berlalu.

Warna hijau adalah warna yang dipilih oleh Era Soekamto dalam mewakili kreasi terbarunya. Seperti biasa, kesan sexy selalu melekat pada koleksi Era. Untuk “Color Me Life” ini Era menampilkan 6 set busana yang terdiri atas gaun pendek berdetail bordir yang ia padukan dengan kain silk sebagai material dasar.

Playful, edgy, asimetris, rame, dan terkesan glamour adalah hal yang melekat erat pada hampir semua koleksi Adesagi Kierana. Dalam mini koleksi yang diperuntukkan bagi rangkaian fashion show “Color Me Life” ini Adesagi kembali menghadirkan hal serupa. 6 set busana yang ia pamerkan dalam warna Turqoise atau biru kehijauan memunculkan kesan penuh drama.

Gaun pendek dengan material ringan dipadu dengan bahan seperti denim menjadi andalan Yongki Budisutisna dalam mini koleksinya yang mewakili warna Biru. Melalui koleksinya tersebut, Yongki menghadirkan kesan elegan dan formal sekaligus santai dan casual.

Saya selalu mengingat Carmanita dengan busana bertumpuknya. Gayanya bohemian, dengan potongan busana dari bahan-bahan ringan yang kemudian ia tumpuk sehingga terkesan lebih memiliki volume. Ia juga sangat terlihat menyukai warna-warna “wanita” seperti merah muda dan ungu. Begitupun pada koleksinya kali itu, warna ungu jadi warna yang ia angkat dalam 6 set koleksi busana karyanya.

Sifon, silk, print, dan lame adalah material yang dipilih Kanaya Tabitha untukmini koleksinya. Ia mewujudkan warna emas dengan interpretasi sebuah kesempurnaan. Mungkin sebuah keindahan yang berbalut nuansa glamour. Tidak tanggung-tanggung, ia mewujudkan warna emasnya dengan taburan crystal swarovski pada 6 busana rancangannya.

****

Pada hari kedua itu sebenarnya saya lihat 2 show. Yang satu adalah Grazia Glitz and Glam awards. Tapi jujur saya nggak terlalu ingat detail gimana shownya, saat itu saya juga sama sekali tidak mengabadikan gambar karena sudah terlanjur duduk manis bersama Abang saya di kursi tamu undangan. Tapi, kalau Grazia Glitz and Glam Awards diadakan sebelum IPMI “Color Me Life”, ada juga fashion show yang diadakan setelah IPMI, yakni fashion show tunggal dari Batik Danar Hadi.
Saya melewati fashion show Danar Hadi tersebut. Setengah males, dan saya juga memilih untuk menemani seorang teman yang kakinya terkilir seusai fashion show IPMI “Color Me Life. Saya menemani dia mencari obat sampai dijemput oleh supirnya. Setelahnya ada lagi teman saya yang kakinya berkali-kali keram sesaat sebelum show, saya kembali menemani dia ke minimarket obat yang ada di Pasific Place. Sesudah itu semua, fashion show sudah dimulai, saya tidak bisa masuk kedalam. Nggak apa, bagi saya nggak masalah. Teman yang lagi susah lebih penting daripada deretan baju yang akan dipamerkan, ya kan?.

Hari Pertama JFW 2012 ; Tentang Malam Pembukaan Yang Kurang Berkesan

Flash back ke dua tahun lalu, satu moment yang nggak akan terlupakan seumur hidup

Finale Tube Gallery

Sebelum saya cerita, kalian harus tahu kalau penyebutan tahun pada Jakarta Fashion Week naik satu dari tahun penyelenggaraannya. Misalnya, Jakarta Fashion Week yang diselenggarakan pada tahun 2009, maka disebut Jakarta Fashion Week 2010, begitu pun seterusnya. Maka saat hal itu telah diketahui, saya akan lebih lega bercerita.

Saya nggak akan pernah lupa dengan malam pembukaan Jakarta fashion Week 2010 dua tahun lalu. Itu kali pertama saya menyaksikan secara langsung apa yang disebut dengan fashion show. Malam itu, saya pun menemukan cinta baru saya, dunia fesyen. Ya, saya mulai jatuh cinta dengan dunia yang kata orang blink-blink dan glamor. Kata orang, tapi saya tidak selalu merasa begitu. Fesyen memperkenalkan saya dengan banyak hal baru yang kemudian membuat saya betah ada disana. Banyak hal yang mungkin lain waktu saya akan ceritakan, tetapi tidak sekarang.
Kembali lagi membicarakan tentang hari pertama Jakarta Fashion Week 2012, mungkin kalian bingung, kenapa saya bilang “kurang mengesankan”. Karena ya memang bagi saya seperti itu. Fashion show yang menampilkan karya empat desainer dari ASEAN terbilang berjalan biasa saja. Nggak ada yang terlampau spesial yang bisa saya kenang lebih dalam.

Stage rapi, musik rapi, koleksi busana rapi, sudah. Rapi. Ya seperti fashion show lainnya. Bahkan terlalu rapi sampai-sampai tidak ada yang membedakan dengan fashion show lain. Mungkin memang konsepnya seperti itu. Mungkin pihak penyelenggara ingin sesuatu yang “clean”, rapi, dan lancar-lancar saja terlepas keterlambatan show yang lumayan bikin gregetan sampai-sampai saking gregetannya para fotografer yang sudah kedinginan agak gemas melihat Fauzi Bowo yang akan memberikan sambutan, jadilah Pak Gubernur itu memperoleh sorak, dan kemudian berefek dengan mempersingkat sambutannya. Kasian sebenarnya Pak Gubernur disoraki seperti itu, tapi kami, seluruh orang yang hadir di malam pembukaan itu jujur saja merasa senang karena akhirnya acara utama akan segera dimulai.

Ada beberapa hal yang mungkin menyebabkan malam pembukaan Jakarta Fashion Week 2012 terasa biasa saja bagi saya. Pertama, karena para desainer terpilih menampilkan busana “aman”, wearable sekali, dan nggak macem-macem. Kedua, mungkin karena saya sudah mulai terbiasa dengan beraneka macam fashion show, jadi ya terasa biasa saja. Ketiga, mungkin karena sudah kedinginan menunggu di dalam fashion tent, jadi mulai mati rasa. Keempat, mungkin karena saya kurang familiar dengan para desainer selain Biyan.

Setelah itu mari kita membicarakan gimana baju-baju para desainer ASEAN ini. Ada 4 desainer yang dipilih. Mereka adalah,

Finale Biyan

1. Biyan Wanaatmadja. Sejak pertama kali melihat baju-baju rancangan Biyan, saya memang langsung jatuh hati dengan karya desainer berpembawaan tenang ini. Saya suka semua rancangan dia, mulai dari yang dia rancang untuk label “Biyan” sampai “(X). S. M. L”. Tapi untuk pembukaan Jakarta Fashion Week 2012, saya biasa saja. Karena koleksinya itu adalah koleksi sama saat show tunggalnya beberapa waktu lalu yang berjudul “The Orient Revisited”.

Ashley Isham. Foto dari jakartafashionweek.co.id

2. Ashley Isham. Desainer asal Singapore ini punya gaya rancangan klasik, elegan, dan terkesan glamor juga sangat feminine. Ashley juga banyak “bermain” di teknik draperi. Melihat rancangannya saya jadi inget dengan gaya rancangan Sebastian Gunawan, keduanya mempunyai garis serta pola rancang yang serupa. Klasik, elegan, feminine, glamor dan cantik.

Bernard Chandran.Foto dari jakartafashionweek.co.id

3. Bernard Chandran. Pertama kali liat booklet Jakarta Fashion Week 2012, saya langsung mengingat sosok desainer asal Malaysia ini karena ganteng. Seenggaknya di foto booklet JFW2012 dia kelihatan ganteng. Gaun-gaun pendek yang dipadukan dengan bahan transparan yang dia buat, bikin pandangan saya terhadap Malaysia yang saya kira sangat ketat soal rancang merancang busana sedikit pudar.

Tube Gallery. Foto dari Jakartafashionweek.co.id

4. Tube Gallery. Saya suka dengan baju-baju dari Tube Gallery. Sangat menyenangkan rasanya melihat busana beraneka warna yang berseliweran di catwalk. Rancangan dari label asal Thailand ini nggak ribet, karena memang konsepnya ready to wear, jadi sangat wearable. Warna-warnanya seru, playful, edgy. Kadang saya melihat busana keluaran Tube Gallery seperti mainan anak-anak yang beraneka warna pada gaun pendeknya, tapi lalu jadi dewasa pada gaun panjang yang berbahan ringan.

Tube Gallery. Foto dari jakartafashionweek.co.id

Jika dibandingkan dengan malam pembukaan Jakarta Fashion Week tahun sebelumnya, saya jauh lebih suka kala itu. Saya masih ingat saat malam pembukaan itu, semua yang ditampilkan adalah baju-baju kebaya dari 16 desainer papan atas Indonesia serta 10 koleksi kebaya yang ada di Museum Kebaya Afif Syakur. Bagi saya malam itu lebih mengesankan dan lebih “sesuatu” karena sangat otentik.