Dibalik Pelepasan Baju Zirah Sang Ksatria (?)

Rasanya sudah lama sekali saya absen menarikan jemari di atas keyboard, merangkai kata, dan akhirnya menghasilkan tulisan untuk blog ini. Melihat dari posting terakhir yang saya buat, sudah setahun saya absen. Keinginan untuk kembali mengisi laman baru blog saya ini sebenarnya sudah lama membuncah, tapi selalu saja ada alasan untuk menunda dan terus menundanya. Tapi, malam ini saya begitu sulit memejamkan mata. Pikiran terus sibuk dan ribut meminta untuk dituangkan dalam tulisan. Bukan tanpa sebab, ada hal yang membuat saya gatal untuk menulis lagi. Sebuah akun di instagram bernama @nyinyirfashion

Gambar BlogKemarin sore (12/11) mendung sedang memayungi langit saat sebuah panggilan masuk ke handphone saya dari seorang teman. Dia memberitahu saya tentang sebuah kabar pengunduran diri dari seorang desainer yang selama ini digelari “Ksatria” oleh majalah mode Dewi dan hampir selalu terlibat di peragaan busana pamungkas Jakarta Fashion Week, Dewi Fashion Knight. Dia memberitahu saya seraya ingin pula mengkonfirmasi dan bertanya. Tapi apa lacur, jangankan menjawab pertanyaan, mengkonfirmasi saja saya tidak bisa karena jangankan mengetahui detil, tahu bahwa si desainer mengundurkan diri saja baru darinya.

Memang bukan tanpa alasan teman saya ini langsung menghubungi saya. Saya memang salah satu orang yang mengikuti karya si desainer sejak dulu, dan sejujurnya sangat mengaguminya. Kabar ini juga membuat saya kaget terutama bingung. Karena begitu mendadak dengan pernyataan yang ternyata amat singkat, padat, jelas dari desainer itu via website majalah Dewi dan karena peragaan busana Dewi Fashion Knight 2014 sudah hampir sepekan berlalu. Bagaimana atau seperti apa yang dimaksud dengan pengunduran diri? Sejujurnya saya kurang mengerti.

Sepanjang sisa hari dikepala saya muncul pertanyaan-pertanyaan terkait berita terhangat itu. Pikiran saya sibuk mengaduk-aduk ingatan yang akhirnya sampai pada beberapa posting yang sempat saya lihat di akun sosial media instagram bernama @nyinyirfashion. Di akun itu ada beberapa foto perbandingan koleksi desainer yang mengundurkan diri dari Dewi Fashion Knight 2014 dan koleksi dari desainer lain yang dinilai serupa. Dengan cepat saya menelusuri postingan-postingan itu lagi. Saya terhenyak. Foto-foto desainer itu memang paling banyak mendapatkan komentar pedas entah level berapa dan dituding sana-sini. Saya lantas menghembuskan nafas, sedikit resah, entah kenapa. Awalnya saya mencoba mengalihkan pikiran karena ada beberapa hal lain yang harus saya kerjakan saat itu, tapi sebuah kegelisahan semakin menjalar hebat, minta untuk dituliskan.

Tudingan akan desainer-desainer mode Indonesia yang menyontek, menjiplak, memplagiat atau apapun itu namanya bukan hal baru di dunia fesyen. Jauh sebelum peristiwa ini dan mulai melesatnya popularitas akun @nyinyirfashion terutama dikalangan penggelut, pecinta, dan pemerhati fesyen Indonesia, kasus ini sudah cukup banyak dibicarakan. Legenda pengamat mode Indonesia (Alm) Muara Bagdja di tahun 2007 silam bahkan sudah pernah menyinggung hal ini dalam tulisannya di majalah A+ yang bertajuk “Ada Apa di Belakang Panggung?”. Meski isi tulisan tersebut tidak mengupas indikasi peniruan secara tuntas, tetapi beliau memberikan porsi cukup banyak terhadapnya.

“Karena ide bisa dari mana saja, juga sah saja dari karya perancang lain. Paling banyak berasal dari perancang ternama dunia yang sedang menjadi tren diubah sana-sini, lalu dijadikan koleksi baru. Bilangnya adaptasi, interpretasi, inspirasi. Padahal itu kata halus untuk menyebut tiruan. Malah kata bisik-bisik, ada perancang senior- sekali lagi senior- yang senangnya membeli baju buatan perancang dunia, lalu baju itu dibuka jahitannya untuk melihat polanya hingga mudah ditiru.”

“Dengan gaya ‘ide dari mana saja’ itu, banyak peragaan meninggalkan kesan seperti koleksi bernapas “wanna be”, mirip dengan koleksi yang kita lihat di laporan peragaan di majalah atau Fashion TV. Jelas mirip karena perancang pun mencari ilham dari sumber yang sama dengan pecinta mode.”

-Muara Bagdja, 2007-

Gambar Blog 1Melalui penuturan (Alm) Muara Bagdja tujuh tahun silam itu, bisa disimpulkan sendiri bahwa hal ini bukan masalah asing yang tiba-tiba berhembus kencang di dunia fesyen Indonesia. Praduga-praduga meniru sudah ada sejak dulu. Akan tetapi, beberapa waktu belakangan dengan eksistensi akun @nyinyirfashion hal ini semakin jadi buah bibir yang tak terhindarkan. Jika dimasa lalu hanya akan ada segelintir orang yang benar-benar melek dan mengikuti perkembangan mode yang dapat menilai indikasi-indikasi peniruan atau mengetahui terjadinya peniruan pada rancangan seorang desainer, sekarang semua orang bisa melakukan penilaian. Caranya toh mudah saja, hanya perlu jadi pengikut akun @nyinyirfashion dan secara otomatis akan disuguhi hidangan foto siap saji yang memperlihatkan kemiripan-kemiripan yang bisa memicu timbulnya komentar super pedas.

Saya pribadi termasuk orang yang mendapatkan sajian foto perbandingan tersebut karena menjadi salah satu pengikutnya. Awalnya hanya untuk iseng dan sekadar ingin tahu, tapi semakin hari dinamika yang terjadi di akun ini ternyata bisa sampai ditahap semenarik sekarang. Dimana akun ini saya duga sebagai salah satu penyebab keputusan yang diambil desainer yang juga salah satu Ksatria Mode Indonesia untuk melepaskan baju zirahnya entah untuk berapa lama. Desainer yang sangat saya kagumi namun sekarang mungkin sedang menerima begitu banyak kritik mengiris hati karena perbandingan yang dilakukan si akun itu terhadap beberapa karyanya ternyata mendatangkan komentar pedas gila-gilaan.

Apa yang dilakukan akun instagram ini memang sempat saya perkirakan dapat menimbulkan efek samping terhadap para desainer yang karyanya sempat mampir jadi sajian perbandingan kemiripan. Tetapi, jujur saja saya tidak mengira efek sampingnya bisa sampai sehebat dan secepat ini. Mungkin ini yang dinamakan kekuatan sosial media? Mungkin ini juga yang dinamakan kekuatan anonim? Dan mungkin, inilah bukti nyata kekuatan permainan pikiran? Tiga pertanyaan ini yang kemudian muncul dikepala saya.

Jika faktor kekuatan sosial media sudah sempat saya singgung diawal, bagaimana dengan dua kekuatan lain yang jadi pertanyaan saya? Dan kenapa saya bisa mempertanyakan dua hal itu? Kekuatan anonim dan kekuatan permainan pikiran. Jawabannya bisa sesederhana ini, karena akun @nyinyirfashion hingga saat ini tidak diketahui identitas sebenarnya dan karena akun tersebut tidak pernah memberi caption atau pernyataan yang menilai rancangan yang ditampilkan meniru. Ia hanya menyandingkan dua buah foto koleksi dari desainer berbeda. Ia hanya menuliskan “Trends exist because fashion can’t be copyrighted. Coco Chanel once said, “Copying is a ransom of success”. I post a pic, you make up your mind” di bio akunnya.

Berpikir lebih dalam sejenak dan menunda penghakiman, metode anonim yang digunakan oleh akun ini bisa menimbulkan banyak pertanyaan. Tentang siapa sebenarnya dibalik akun ini? Tentang apakah si pemilik akun memiliki kredibelitas untuk melakukan perbandingan? Tentang apakah ia memiliki kepentingan tersendiri atau tidak terkait apa yang dilakukannya? Semacam hidden agenda? Untuk pertanyaan terakhir, jawabannya memang sangat relatif, bisa saja memang ada, tapi bisa juga memang tidak ada apa-apa. Pertanyaan itu memang muncul dari saya karena keterkejutan saya tentang efek yang ditimbulkan memang. Sementara itu harus diakui akun ini cukup cerdas memainkan pikiran para pengikutnya, tanpa ia menuliskan apa-apa dan hanya menyandingkan foto, rentetan komentar dan pemikiran-pemikiran tentang indikasi peniruan muncul. Ia sengaja tidak mengedukasi apa-apa. Hal ini bisa dijadikan senjatanya baginya jika yang muncul malah sebaliknya, malah komentar pedas terhadap si akun, karena ia bisa dengan mudah mengembalikan ke tulisan di bionya “I post a pic, you make up your mind”.

Tulisan yang saya buat ini sebenarnya pun penuh dengan asumsi dan praduga. Terutama tentang kaitan pelepasan baju zirah sang Ksatria Mode dan akun instagram @nyinyirfashion. Saya memang yang mengasumsikan itu karena hingga kini belum ada bukti konkret apa-apa tentang korelasi keduanya. Saya pribadi tidak bermaksud menjatuhkan, memojokan atau membela pihak manapun. Bukan juga untuk membuat akun instagram @nyinyirfashion semakin populer, karena saya yakin tanpa tulisan ini akun tersebut akan semakin populer juga karena dikalangan fesyen memang sudah jadi perbincangan. Saya hanya ingin mengajak untuk merenungkan kembali sebelum bisa menilai atau menyalahkan segala sesuatu terutama dalam kasus ini. Coba melihatnya dengan mata yang lebih terbuka. Tidak ada yang 100% salah –kalau memang bisa disebut salah, meski saya tidak yakin penggunaan kata ini tepat- tapi tidak ada pula yang 100% benar karena semua pihak memiliki kekuatan “pembelaan” dan semua pihak mempunyai titik lemah untuk jadi sasaran “penyerangan”. Dan para komentator, mungkin perlu mempertimbangkan kembali kata-katanya yang terlalu pedas apakah sudah diimbangi dengan pengetahuan yang cukup mumpuni karena jangan sampai hanya jadi bagian dari peribahasa “air beriak tanda tak dalam”, bukan?

“Tale of The Goddess” ; Dongeng Sang Dewi Dari Lima Ksatria Mode Indonesia

Lima ksatria mode diberikan satu benang merah. Kelimanya diminta untuk menerjemahkan sosok “dewi” dalam koleksi busana pamungkasnya. Lima ksatria menyusun strategi, coba melukisan “dewi” dalam interpretasi tersendiri. Lima cerita tentang sosok “dewi” disuguhkan. Kelima ksatria mode seolah mendongeng dengan caranya masing-masing. Penasaran?

Pidato Penutupan Jakarta Fashion Week 2014 oleh Svida Alisjahbana

Pidato Penutupan Jakarta Fashion Week 2014 oleh Svida Alisjahbana

Dewi Fashion Knights bukan lagi sekadar peragaan busana penutup rangkaian Jakarta Fashion Week setiap tahunnya. Bukan lagi hanya sebatas ajang pameran karya para “ksatria mode” Indonesia. Bukan juga sebuah pesta mode yang selesai tuntas dalam satu malam perayaan. Lebih dari itu, bagi saya, Dewi Fashion Knights telah menjelma sebagai legenda dalam setiap penyelenggaraan Jakarta Fashion Week.

Desainer mode Indonesia terpilih. Karya busana mutakhir yang mengundang decak kagum. Barisan model peraga busana yang dipilih secara teliti. Konsep matang yang dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Tim koreografer jempolan yang ditugaskan khusus untuk mengeksekusi jalannya acara. Bila dirangkumkan, semua hal tadi tak lain adalah formula esensial dalam mencipta Dewi Fashion Knights sebagai legenda peragaan busana di Jakarta Fashion Week.

Namun terlepas dari semua itu ada beberapa hal penting lainnya yang menjadikan Dewi Fashion Knights layaknya legenda di Jakarta Fashion Week. Bagi saya, gelar legenda patut disematkan pada Dewi Fashion Knights karena peragaan mode ini adalah salah satu barometer terpenting dunia mode Indonesia yang mampu merepresentasikan karya visioner para desainer mode Indonesia terpilih. Dalam tahun-tahun pelaksanaannya, pecinta mode acap dibuat terperangah oleh karya busana mengagumkan yang ditampilkan. Tapi kadang, Dewi Fashion Knights juga meninggalkan kontroversi tersendiri mengenai ksatria mode yang dipinang atau karya busana yang ditampilkan. Lalu, jadilah peragaan busana pamungkas ini sebagai buah bibir yang terlalu menarik bila hanya dibicarakan semalaman, begitu pula pada perhelatannya di tahun ini.

Dewi Fashion Knights "Galore"

Dewi Fashion Knights “Galore”

Membicarakan Dewi fashion Knights tentu tidak bisa lepas dari nama-nama desainer mode yang dipinang sebagai “ksatria” di dalamnya. Ya, ksatria, sesuai dengan nama gelaran ini, para desainer mode yang dipilih untuk menampilkan karyanya dalam Dewi Fashion Knights lantas diberi gelar “ksatria mode”. Setelah di tahun sebelumnya, Dewi Fashion Knights menghadirkan Sapto Djojokartiko, Ghea Panggabean, Oscar Lawalata, Priyo Oktaviano dan Deden Siswanto, pada tahun 2013 ini, Dewi Fashion Knights hanya mempertahankan Priyo Oktaviano dan Oscar Lawalata dalam jajaran ksatria mode yang turut berpartisipasi, sementara Toton Januar, Populo Batik adalah nama baru yang dipinang Dewi Fashion Nights melengkapi kembalinya Tex Saverio dalam singgasana ksatria mode Indonesia.

Mengusung tema “Tale of The Goddess” lima ksatria mode diminta untuk menginterpretasikan definisi “dewi” sebagai sosok wanita modern dari kacamata kreatifitas masing-masing. Berangkat darisana kelimanya pun merangkai cerita yang bersumber pada interpretasi mereka tentang sang “dewi”, lalu mentransformasikannya ke dalam  koleksi busana yang dipersembahkan khusus untuk Dewi Fashion Knights. Dan inilah para ksatria serta kisah mereka tentang sang “dewi” :

Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Finale Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Finale Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Tampil sebagai pembuka Dewi Fashion Knights, Oscar Lawalata mengisahkan “dewi” yang ada dalam kepalanya dalam rangka imajinasi indah namun misterius layaknya keadaan galaksi di angkasa luas. Nama galaksi tetangga Bimasakti, Andromeda, pun ikut disematkan pada tajuk untuk koleksi busananya, “My Name is Andromeda”. Sisi kekuatan dan kelemahan yang ada dalam sosok wanita ia ibaratkan layaknya peleburan galaksi yang misterius dan memiliki dua citra utama sebagai tempat yang asing berlatar hitam yang menyimpan kekuatan besar nan magis, sekaligus hamparan bintang dan planet yang membentuk pola keindahan tersendiri.

Konstruksi kisah “dewi” seolah ia bangun sebagai sosok wanita yang memiliki kecantikan misterius dengan kepribadian kuat yang terwujud dalam busana berpalet warna hitam. Menggunakan material utama kain sutra berwarna hitam, Oscar Lawalata menghadirkan busana bergaris rancang geometris dengan siluet flare. Pada beberapa busana Oscar Lawalata juga terasa meminimalisir pemotongan dan pengikatan bahan sehingga busana-busana yang ditampilkan layaknya jubah ringan yang dikenakan dengan cara sedemikian rupa oleh para model. Atasan dan celana bersiluet flare, rok midi A-line, celana kulot yang menyerupai rok panjang dan beberapa atasan berdetil cut out serta draperi disajikan Oscar untuk koleksi berpalet warna hitam miliknya.

Busana bersiluet flare dengan detil draperi pada "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata. Model: Renata

Busana bersiluet flare dengan detil draperi pada “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata. Model: Renata

Atasan bergaris rancang tegas dipadu celana kulot dari sutra hitam pada "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata. Model: Dominique Diyose

Atasan bergaris rancang tegas dipadu celana kulot dari sutra hitam pada “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata. Model: Dominique Diyose

Busana berpotongan lurus dengan palet warna cerah dalam "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata

Busana berpotongan lurus dengan palet warna cerah dalam “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata

Usai menampilkan palet warna hitam, kini giliran palet warna cerah seperti putih, merah, pink, oranye dan ungu yang dipilih Oscar Lawalata. Pada sekuensnya yang kedua, sang desainer seakan ingin menampilkan warna keindahan galaksi melalui ragam busana yang ia buat dalam siluet yang longgar. Gaun-gaun pendek dengan garis rancang sederhana bersiluet flare serta A-line pun ia jadikan sajian utama.

Menutup akhir sesi peragaan busana, Oscar lantas memberi sebuah kejutan kecil. Desainer mode berpenampilan androgini ini menyusup ke dalam barisan model peraga busananya dan berlenggok bersama mereka disepanjang lintasan catwalk Jakarta Fashion Week. Sebuah kejutan kecil yang langsung memicu riuh rendah tepuk tangan dari dalam Fashion Tent Jakarta Fashion Week 2014.

Populo Batik

Koleksi busana pria bergaya kasual dari Populo Batik dengan motif batik kontemporer 'Slobok'

Koleksi busana pria bergaya kasual dari Populo Batik dengan motif batik kontemporer ‘Slobok’

Keberadaan Populo Batik dalam jajaran ksatria mode Dewi Fashion Knights mau tak mau sempat membuat saya mengerutkan kening. Pasalnya, baru kali ini rasanya Dewi Fashion Knights menunjuk lini busana yang sangat berorientasi ready-to-wear dan produksi cukup massal ke dalam jajaran para ksatria. Memang, lini busana ready-to-wear bukan hal yang baru pada Dewi Fashion Knights, di tahun sebelumnya pun ada SPOUS, lini busana siap pakai kepunyaan Priyo Oktaviano. Namun, tetap saja keberadaan Populo Batik pada Dewi Fashion Knights terasa cukup ganjil bagi saya. Mungkin karena saya selama ini lebih akrab dengan Dewi Fashion Knights yang selalu menghadirkan nama-nama desainer mode dengan lini utamanya atau lini kedua yang tetap saja menguarkan aroma eksklusivitas tinggi, teknik pembuatan rumit dan konsep yang tertata jeli khas karya busana desainer mode pada umumya.

Tetapi nyatanya lini busana milik Bai Soemarlono dan Joseph Lim melenggang mulus di atas lintasan catwalk Dewi Fashion Knights dengan koleksi busana batik bergaya kasual dan modern. Mengedepankan koleksi busana bergaya kekinian, Populo Batik lebih banyak bermain dengan motif batik kontemporer berbentuk garis dan geometris. Adapun sisi klasik dari kain Batik yang dipertahankan ialah teknik pembuatan dan pewarnaan motif pada kain batik yang menggunakan alat-alat untuk membuat batik tulis serta batik cap.

IMG_7669

Koleksi busana wanita siap pakai oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Firrina

Gaun batik kontemporer yang terlihat santai nan kasual oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kusuma Wardhany

Gaun batik kontemporer yang terlihat santai nan kasual oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kusuma Wardhany

Luaran berupa jubah panjang dalam koleksi Men's Wear Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Dion Wiyoko

Luaran berupa jubah panjang dalam koleksi Men’s Wear Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Dion Wiyoko

Pada pembuktian eksistensinya dalam Dewi Fashion Knights, lini busana ready-to-wear yang sudah ada sejak tahun 1994 ini seolah menerjemahkan sosok “dewi” yang lekat dengan imej magis dan mengagumkan sebagai sosok wanita modern masa kini yang bisa jadi tersusup diantara orang-orang yang biasa kita jumpai sehari-hari. Interpretasi kata “goddess” yang ada dalam tajuk Dewi Fashion Knights kali ini juga dipersembahkan duo Bai dan Joseph pada perajin batik yang mereka rasakan sebagai salah satu perwujudan “goddess” bagi keduanya. Memadukan hasil kreasi motif batik tulis dan batik cap kontemporer hasil modifikasi motif klasik, Populo lantas mengaplikasikan keduanya pada lebih dari 20 pasang busana women’s wear dan men’s wear. Blus, celana model Capri, celana panjang lurus, rok, blazer, kemeja, hoodies, rompi, gaun, hingga luaran seperti jubah menjadi bagian dari koleksi Populo Batik pada gelaran Dewi Fashion Knights.

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Terinspirasi oleh keindahan bawah laut yang begitu mempesona sekaligus menyimpan sisi misterius yang tak bisa terelakan, Toton Januar mendongengkan kisah sang “dewi” dalam tajuk “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”. Ketika menyaksikan dan melafalkan lamat-lamat judul yang dipilih Toton, alam imaji saya membentuk penafsiran tersendiri tentang alur cerita yang mungkin tersimpan dalam rangkaian koleksi milik desainer muda yang baru memulai labelnya di tahun 2012 silam ini.

Saya membayangkan bahwa “dewi” yang diceritakan Toton Januar seperti dongeng-dongeng tentang sosok wanita tangguh penguasa lautan luas yang akhirnya diketahui keberadaannya oleh seorang Raja atau Sultan dari sebuah negeri. “dewi” penguasa lautan dan Sultan lalu menjadi cerita, entah cerita cinta, petualangan, atau sekadar cerita tentang kekaguman pada sosok “dewi” yang begitu melenakan.

Dalam hal koleksi yang ditampilkan, Toton menghadirkan 10 set busana bergaris rancang unik yang sangat khas. Potongan asimetris banyak ia suguhkan bersama padupadan detil ruffles, bahan transparan, bordir, payet berkilauan dalam pasang-pasang busana berstruktur tegas yang memiliki kesan bahwa Toton menampilkan “dewi” dalam ceritanya sebagai sosok yang kuat meski terselip pula kesan feminin dan romantis.

Padupadan busana berpotongan tegas dan material transparan pada koleksi Toton Januar untuk Dewi Fashion Knights. Model: Michelle Agnes

Padupadan busana berpotongan tegas dan material transparan pada koleksi Toton Januar untuk Dewi Fashion Knights. Model: Michelle Agnes

Koleksi Toton Januar dalam “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss” untuk Dewi Fashion Knights. Model: Putri Sulistyo

Koleksi Toton Januar dalam “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss” untuk Dewi Fashion Knights. Model: Putri Sulistyo

Interpretasi "dewi" oleh Toton Januaryang mengambil inspirasi dari keindahan bawah laut. Model: Reti Ragil

Interpretasi “dewi” oleh Toton Januaryang mengambil inspirasi dari keindahan bawah laut. Model: Reti Ragil

Jalinan cerita tentang “dewi” lautan yang didongengkan Toton pun kembali terlihat pada pemilihan warna dalam busananya. Warna hijau kebiruan, warna putih gading, dan beberapa sentuhan warna cerah seperti oranye merupakan interpretasi sang desainer terhadap warna laut dan ekosistem di dalamnya. Namun, tentang pemilihan warna yang ditampilkan Toton, saya pribadi merasakan bahwa warna-warna yang ia pilih cenderung pucat sehingga menghasilkan kesan latar belakang lautan yang tenang namun misterius dibandingkan dengan lautan yang kaya akan keindahan ekosistem.

Sisi lainnya yang juga menarik untuk ditilik pada rangkaian koleksi Toton Januar kali ini adalah pemilih model yang membawakan koleksi busana. Deretan model berwajah khas Indonesia yang dipilih Toton sebagai garda depan dalam presentasi karyanya seakan menciptakan kesan bahwa dongeng “dewi” lautan dan keindahan bawah laut yang sedari awal ia usung merupakan representasi gambaran keindahan lautan Indonesia.

Priyo Oktaviano “Galore”

Sang ksatria mode, Priyo Oktaviano bersama koleksinya "Galore" pada Dewi Fashion Knight

Sang ksatria mode, Priyo Oktaviano bersama koleksinya “Galore” pada Dewi Fashion Knights

Tantangan interpretasi sosok “dewi” yang diberikan Dewi Fashion Knights melambungkan tinggi imajinasi Priyo Oktaviano pada kemegahan Istana kebanggan rakyat Perancis Château de Versailles” dan pesona kemewahan kain Tapis Lampung yang tidak lain adalah perlambang kejayaan Kerajaan Lampung di masa lalu. Bersamaan dengan latar belakang kemegahan, kemewahan, dan kejayaan itu, Priyo Oktaviano lantas menemukan sosok wanita kuat, gagah, memiliki keberanian untuk keluar dari wilayah privat, tetapi tetap menyimpan sisi feminin serta kecantikan yang sulit terbantahkan. Aroma “Femme Fatale” pada koleksi Priyo kali ini pun terasa menguar kuat. Sosok “dewi” seolah diterjemahkan Priyo ke dalam sosok wanita yang tahu benar bagaimana ia mampu mempergunakan kekuatan, daya tarik sekaligus kecantikannya untuk membuat siapa saja tidak hanya mengagumi tetapi bertekuk lutut pada sosoknya.

Telah menjadi bagian dari Dewi Fashion Knights sejak tahun 2008, pada keterlibatannya kali ini sang ksatria mode mempertemukan dua kebudayaan dari dua belahan dunia berbeda. Megahnya arsitektur interior Istana Versailles di Prancis menjadi rangka inspirasinya dalam mempersembahkan 12 set busana wanita dalam tema “Galore”, kemegahan. Meski rangka inspirasi ia susun dari kemegahan arsitektur interior Istana Versailles, adalah hal yang keliru bila mengira bahwa inspirasi Istana yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Louise XVIII yang akan jadi primadona. Dalam rangkaian koleksi milik desainer berkacamata ini, justru kain Tapis Lampung yang ia gunakan sebagai aspek pengisi rangka inspirasilah yang mencuat menempati posisi puncak limpahan perhatian ketika koleksi dipresentasikan.

Melalui 12 set busana wanita yang bersiluet gagah, bergaris potong tegas, kuat dan terkesan androgini layaknya seragam perang sang Jenderal Perancis, Napoleon Bonaparte. Hadir dalam warna-warna yang terkesan mewah dan gagah seperti emas, hitam, dan merah, Priyo Oktaviano menggunakan material inti 80% kain Tapis Lampung yang kemudian ia olah dalam kemasan kemegahan ala Eropa.

Gaun beraksen ruffles yang terinspirasi oleh Marie Antoinette pada koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano. Model: Kelly Tandiono

Gaun beraksen ruffles yang terinspirasi oleh Marie Antoinette pada koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano. Model: Kelly Tandiono

Busana wanita bernuansa androgini yang terinspirasi oleh seragam perang Napoleon Bonaparte dalam koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano. Model: Chloe Clau

Busana wanita bernuansa androgini yang terinspirasi oleh seragam perang Napoleon Bonaparte dalam koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano. Model: Chloe Clau

Gaun pamungkas koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano untuk Dewi Fashion Knight. Model: Kimmy Jayanti

Gaun pamungkas koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kimmy Jayanti

Keindahan kain Tapis Lampung yang dikerjakan secara manual menggunakan gedokan dan teknik sulam(cucuk) ditransformasikan ke dalam bentuk busana hasil penafsiran kemewahan dan kemegahan Istana Versailles. Langit-langit megah istana, dinding-dinding penuh dekoratif mewah nan artistik hingga ukiran kayu dan gypsum klasik yang seolah mempigurakan keindahan abadi Istana Versailles diterjemahkan lewat siluet busana bervolume  tegas dan teknik patchwork  yang digunakan dalam pengaplikasian kain Tapis Lampung pada tiap panel busana.

Sentuhan warna emas pekat, motif geometris di helai kain Tapis Lampung, dan aksen ruffles  yang mempercantik gaun kreasi Priyo Oktaviano, masing-masing merujuk pada banyaknya ornamen emas di Istana Versailles, pola dinding bagian dalam Istana Versailles, serta cerminan gaya berbusana Ratu Marie Antoinette, sang permaisuri Raja Louise XIV yang kontroversional. Detil koleksi busana pun bertambah kaya dengan banyak permainan bordir berbentuk daun ivy(daun kemakmuran bagi rakyat Perancis) dan manik-manik yang dibentuk menyerupai matahari.

Tex Saverio Prive “Exoskeleton”

Sosok "dewi" dari masa depan yang dituangkan Tex pada busana yang mengaplikasikan teknik print 3D bertajuk "Exoskeleton".

Sosok “dewi” dari masa depan yang dituangkan Tex pada busana yang mengaplikasikan teknik print 3D bertajuk “Exoskeleton”.

Tex Saverio memiliki tafsiran tersendiri tentang sosok “dewi”. Bagi desainer muda yang namanya meroket setelah gaun rancangannya dikenakan Lady Gaga ini, sosok “dewi” yang berkembang dalam imajinasinya adalah sesosok wanita dengan keanggunan yang tak biasa. Dalam imajinasinya, “dewi” adalah seorang wanita, namun bukan manusia, dan ia datang dari masa depan. Imajinasi akan sosok “dewi” yang bukan manusia dalam bayangan Tex Saverio ini kemudian ia tuangkan dalam 5 set busana wanita dengan dominasi warna hitam yang mau tak mau memunculkan kesan magis nan misterius dari sosok “dewi” yang coba ia hadirkan.

Lebih jauh, bayangan mengenai sosok “dewi” yang berasal dari masa depan lantas ia coba terjemahkan melalui pengaplikasian teknologi rumit printing 3D. Suatu teknik terbilang langka di dunia mode namun acap kali dipergunakan oleh desainer couture asal Belanda Irish van Herpen dalam karyanya. Meski bukan hal yang terlampau baru di dunia mode, penggunaan print 3D oleh Tex Saverio adalah yang pertama kali dilakukan oleh desainer mode di Indonesia. Untuk menerapkannya dalam busana pun terbilang rumit, selain harus menggunakan software khusus untuk menggambar pola yang diinginkan, Tex harus melakukan pemindaian langsung pada tubuh model saat akan membuat cetakan yang nantinya digunakan untuk pencetakan material besi khusus yang digunakan. Bahan baku besi yang digunakan pun tak main-main, untuk urusan satu ini, Tex Saverio menggunakan bahan besi yang biasa dipergunakan untuk kebutuhan seragam perang.

Koleksi busana dengan dominasi warna hitam dan metalik yang dihadirkan Tex Saverio dalam "Exoskeleton". Model: Christina Borries

Koleksi busana dengan dominasi warna hitam dan metalik yang dihadirkan Tex Saverio dalam “Exoskeleton”. Model: Christina Borries

Jubah hitam berbahan velvet semakin menguatkan kesan magis nan misterius dari interpretasi sosok "dewi" Tex Saverio. Model: Simona

Jubah hitam berbahan velvet semakin menguatkan kesan magis nan misterius dari interpretasi sosok “dewi” Tex Saverio. Model: Simona

Busana penutup koleksi Tex Saverio "Exoskeleton", print 3D ia tampilkan secara maksimal pada bagian atas busana dan head piece. Model: Paula Verhoeven

Busana penutup koleksi Tex Saverio “Exoskeleton”, print 3D ia tampilkan secara maksimal pada bagian atas busana dan head piece. Model: Paula Verhoeven

Digadang sebagai momen pertama penggunaan print 3D di Indonesia, rangkaian koleksi busana Tex Saverio terdiri atas 4 gaun panjang dan 1 busana bersiluet swim suit berwarna metalik. Dalam presentasinya di atas lintasan catwalk Dewi Fashion Knights, busana koleksinya itu dilengkapi dengan jubah velvet berwarna hitam yang semakin menguatkan kesan “gelap” dan misterius. Pemberian urutan presentasi bungsu yang diberikan kepada Tex pun mampu ia gunakan dengan cukup apik untuk menyerap perhatian maksimal dari para tetamu dan awak media di Dewi Fashion Knights dengan menyajikan kelima set busana di bawah spot light yang dramatis. Adapun judul “Exoskeleton” atau dapat dimaknai sebagai kerangka keras yang berada diluar tubuh dipilih Tex untuk judul koleksinya kali ini. Bagi Tex, “Exoskeleton” merupakan perumpamaan sebagai pelindung  seperti sosok “dewi” yang coba ia hadirkan dalam tiap pasang busananya.

Ines Arieza ; Model Berwajah Manis Dengan Struktur Tajam Asal Kota Kembang

Ia memang tidak memiliki tinggi yang terlampau menjulang seperti para model catwalk lainnya, namun kecantikkannya yang khas menjadi suatu daya tarik besar. Wajahnya sangat manis, namun ia memiliki garis rahang hingga dagu yang tajam. Dua perpaduan yang membuatnya terlihat begitu manis di satu waktu, dan tegas di waktu lain.

Fashion Show Just Cavalli di JFW 2011-2012. Foto: Psicillia Feminagroup.

Kota Kembang Bandung sejak dulu dikenal sebagai salah satu kota besar di Indonesia yang banyak mencetak generasi baru di dunia modeling Indonesia. Setiap tahunnya, belasan, hingga puluhan perempuan-perempuan bertubuh tinggi menjulang dari kota Bandung saling berlomba untuk mendapatkan tempat di peta modeling Indonesia. Beragam cara pun dilakukan, mulai dari mengikuti sekolah-sekolah modeling yang ada hingga menyertakan diri di berbagai ajang pencarian bakat atau kontes modeling lainnya.

Tersebutlah nama Ines Arieza, seorang gadis manis asal kota Bandung yang namanya kini melesat masuk ke dalam jajaran model catwalk ternama tanah air. Dalam dunia mode dewasa ini, sosok Ines telah mencuri perhatian tersendiri. Tubuhnya mungkin tidak setinggi model-model catwalk lainnya. Ia hanya memiliki tinggi 173cm dan berat 49kg, tetapi ada sesuatu yang lain pada dirinya yang berhasil mengantarkan Ines sebagai salah satu model kesayangan para desainer Indonesia.

Darah Padang-Sunda yang mengalir dalam dirinya membuat Ines mempunyai wajah cantik nan manis khas wanita Indonesia, tetapi garis rahang hingga dagu yang tegas serta tulang pipi yang tinggi membuat wajahnya terkesan tajam. Sebuah paduan raut wajah yang sangat menarik.

Ines Arieza. Dok: Foto Composite JIM Models.

Fashion Spread Majalah Cita Cinta oleh Denie Ramon. Foto: Serbagadsam.blogspot.com

Ines untuk Majalah Kartini Edisi Khusus Rambut Nov 2011. Foto: Serbagadsam.blogspot.com

 

Berawal dari ajang pemilihan Gadis Sampul di tahun 2002, gadis kelahiran Bandung, 2 Januari 1988 dan memiliki nama lengkap Ines Arieza Rahmaniar ini mulai mengenal dunia modeling. Menjalani masa karantina Gadis Sampul selama satu minggu di Ibukota, Ines belajar banyak tentang berbagai hal berkaitan dengan dunia modeling.

Kembali ke kota kelahiran seusai pemilihan Gadis Sampul, Ines mulai mendapatkan tawaran di beberapa pagelaran busana. Salah satunya adalah pagelaran busana miliki Malik Moestaram, seorang desainer kenamaan asal kota kembang yang dikenal bertangan dingin mendidik banyak model pendatang baru. Dari sanalah karir dara yang pernah menjuarai perlombaan lari estafet tingkat provinsi ini makin berkembang pesat.

Sekuens Obin di Bazaar Fashion Celebration “Langgam Tiga Hati” 2011.

Fashion Show Priyo Oktaviano di Plaza Indonesia Fashion Week 2012.

Fashion Show Stradivarius di Plaza Indonesia Fashion Week 2011.

Pemotretan fashion spread untuk majalah mode terkemuka serta booklet koleksi desainer-desainer kondang dilakoni. Kedua kakinya pun telah melangkah di banyak pagelaran busana desainer ternama semisal Obin, Ghea Panggabean, Oscar Lawalata, Sebastian Gunawan hingga Barli Asmara. Beberapa pekan mode seperti Jakarta Fashion Week, dan Jakarta Fashion and Food Festival juga rajin memasukan nama model yang bernaung dalam JIM Models dalam daftar peraga.

Bisa mengenakan busana-busana yang indah karya desainer terkenal, bertemu orang baru dan mempunyai banyak teman adalah sebagian kecil hal-hal menyenangkan yang Ines peroleh sepanjang perjalanan karirnya. Ines yang belum lama ini menyelesaikan pendidikan Fakultas Ekonomi di Universitas Katholik Parahiyangan membayangkan dirinya akan menjadi Bussiness Woman satu hari nanti. Sementara simple, loyal dan introvert adalah tiga kata yang ia pilih untuk merangkumkan pribadinya.