IPMI Trend Show 2012 ; Panggung dan Lighting Yang Bikin Mikir

Salah satu fashion show dengan bentuk panggung dan lighting paling “ajaib” yang pernah saya sambangi

 

Well, sebenarnya saya nggak mau terlalu banyak bercerita tentang fashion show satu ini Ada beberapa hal yang membuat saya merasa tidak nyaman untuk menceritakan ini ke kalian. Tapi apa daya ternyata saya tetap tidak bisa menahan diri untuk berkomentar ini itu yang terjadi disana.

Datang disaat fashion show akan segera dimulai dalam hitungan menit adalah hal yang sangat tidak nyaman. Hampir semua tempat strategis yang disinyalir akan menjadi titik yang sangat oke jika dijadikan “basecamp” pengambilan gambar alias untuk foto sudah dikuasai para fotografer dengan peralatan tempur super lengkap. Bukan senapan atau bedil tentunya, melainkan kamera foto professional.

Saya yang saat itu baru saja sampai di lantai 10 Plaza Bapindo, atau tepatnya di Assembly Hall nya, langsung sibuk clingak clinguk mencari tempat yang at least masih oke jika dijadikan “basecamp” saya menyaksikan sekaligus mengambil gambar dari fashion show hari itu. Dan akhirnya setelah beberapa lama sibuk clingak clinguk, saya mendapatkan satu tempat yang saya rasa lumayan strategis. Saya pun siap untuk menyaksikan fashion show hari itu . Fashion Show IPMI(Ikatan Perancang Mode Indonesia) Trend Show 2012 yang akan menampilkan koleksi dari 3 desainernya, yakni Tri Handoko, Valentino Napitupulu dan Adesagi Kierana.

Duduk manis beberapa saat di “basecamp” saya,  malah semakin membuat hati ini gundah gulana dan berpikir dan terus berpikir.

“Ini panggung bentuknya aneh. Segitiga, terus dibagian ujungnya lancip. Nah nanti itu model berhentinya madep mana ya?. Sesuai sama arah dia jalan, atau menyesuaikan dengan posisi fotografer ya?”.

Seperti itulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang terus lompat-lompat dikepala saya, pertanyaan yang akhirnya bikin galau karena kalau seandainya si model mengambil pose lurus menghadapkan tubuh pas searah titik sudut yang menyerupai jarum jam itu, niscaya sepertinya saya nggak akan dapet satupun gambar yang lumayan untuk fashion show itu.

Hal itu akhirnya bikin saya mikir dan mikir gimana blocking si model, dan memutuskan bertanya pada enggak-tau-siapa-yang-jelas-panitianya mengenai blocking modelnya gimana, dan jawaban si enggak-tau-siapa-yang-jelas-panitianya tidak membuat kegalauan saya berkurang karena,

“Yang jelas nanti pasti modelnya akan berhenti dan pose menghadap media”.

Begitulah kata si enggak-tau-siapa-yang-jelas-panitianya saat saya tanya blocking modelnya bagaimana. Denger jawaban itu saya pun menarik kesimpulan awal kurang lebih seperti ini,

“Mati Gue ini mah nggak bakal dapet sama sekali deh fotonya”.

Karena kalau 100% mengadap posisi fotografer, dan yang mana itu berarti si model akan memutar posisi badannya sekitar 45 derajat, maka posisi itu akan menyamping dari posisi saya. Saat itu satu-satunya harapan adalah “semoga sang kamera poket ini bisa ambil gambar saat si model masih dalam posisi jalan, jadi tubuhnya pas menghadap saya”.

Dan setelah menunggu selama bermenit-menit akhirnya fashion show dimulai dengan menampilkan busana seragam!.

“Seragam?. What?. Seragam?!. Laahhhhh”.

Saya sempet bengong beberapa saat ketika pada opening show disuguhi baju-baju seragam. Mulai dari seragam suster, dokter Rumah Sakit, pramugari dan pilot dalam beberapa variasi, sampai seragam montir. Saya pun bingung, bengong dan mikir,

“Laahhhh kok ini show baju-baju seragam yak?”.

Konyol, bahkan sangat konyol dan mungkin perlu sedikit ditoyor, karena dengan tanpa dosa nya saya nggak baca rilis yang saya terima terlebih dahulu. Di rilis tertulis dengan jelas kalau ternyata memang show dibuka dengan parade peragaan busana dari Maxistyle, salah satu merek baju seragam korporat terbesar di Indonesia yang bekerjasama dengan 10 orang desainer IPMI dalam mendesain busana seragamnya. Busana seragam yang ditampilkan pada opening fashion show ini,

“Ooowwhhhhh….”.

Show berjalan dan ternayata titik berhenti dan pose si model tidak sesulit yang dibayangkan karena blockingnya tidak terlalu konsisten hanya menghadap ke satu arah. Sering para model berhenti dan melakukan pose pada posisi badan yang tetap, yang mana itu adalah pas banget mengarah ke posisi “basecamp” saya. Tapi beberapa kali si model juga pose mengarah ke sudut fotografer, 45 derajat menyamping dari saya. Dan juga lumayan sering titik perhetian si model bergeser, entah berapa derajat atau setengah sampai satu langkah. Itu saya katakan sebagai  blocking labil, karena tidak konsisten berhenti di satu titik saja. Saya nggak ngerti deh kenapa begitu. Mungkin memang sengaja sebagai variasi agar tidak membosankan, atau mungkin ada kesalahan juga di si model, entahlah.

Lalu hal lain yang juga bikin saya mikir, mikir dan mikir lebih keras adalah lightingnya. Lighting utama dititikberatkan pada posisi jatuh tepat di badan si model dari arah mereka keluar di ujung panggung dengan cukup “kencang”. Kalau menggunakan istilah saya, “Lightingnya nembak banget”. Itu bikin banyak saat dimana si model jadi terlalu banyak tertimpa lampu, dan banyak juga yang bocor. Dan saya pun kembali dibuat pusing dengan hal ini. Terlebih lagi sering memainkan lighting kedip mati-nyala-mati-nyala dan sorotan terang perlahan saat lightingnya mati dan kemudian nyala lagi, bikin saya pusing karena silau setengah mati.

Jika pada fashion show hari pertama yang dibuat pusing dengan bentuk panggung dan lighting yang “ajaib”, pada fashion show hari kedua saya dibuat nggak habis pikir dengan kengaretan show. Disaat 20 menit sudah lewat dari jadwal dimulainya fashion show bagian pertama tapi boro-boro dimulai, ruangannya aja masih kosong sekitar ¾ bagian. Jadilah kebengongan saya bertambah, selain karena panggung dan lampu, di hari kedua ditambah dengan kengaretan amat sangat yang terjadi.

Jadi, singkat cerita terlepas dengan bagaimana rancangan bajunya, IPMI Trend Show 2012 ini meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. Saya nggak akan pernah lupa gimana itu bentuk panggungnya yang akhirnya saya juluki “Si Panggung Segitiga Bermuda” karena bentuk segitiganya, dan lighting yang sempat bikin saya beberapa teringat dengan lampu disko kedap kedip terang banget. Saya juga nggak akan pernah lupa gimana susaahhhh nya dapetin foto yang at least lumayan.

Nb : Iya saya tau ini sama sekali nggak ngebahas gimana bajunya. Kalau mau tau gimana bajunya, liat di posting selanjutnya ya 😛

EdBe Love Is In The Air ; Batik&Ready To Wear Keren Dalam Presentasi Yang Missing Something

Missing Something?. Something what?. Ehmmm…Oke saya ralat, bukan something tapi more. Missing more than something.

EdBe Love Is In The Air with Renata and Richard as Model. Foto by Andreas Dwi

Selasa malam(04/10) saya diundang untuk datang ke Fashion Show koleksi terbaru Eddy Betty untuk second line nya EdBe di Ballroom 2 Hotel Mulia. Second line dari Eddy Betty ini mulai diperkenalkan sejak sekitar 2 tahun lalu dengan mengusung baju-baju Ready To Wear sebagai main course utama.

Sebelumnya saya pernah melihat koleksi EdBe by Eddy Betty beberapa kali, baik di fashion spread majalah, atau event fashion lainnya, dan saya suka dengan konsep ready to wear yang diadopsi Eddy Betty untuk second line nya ini. Itu yang bikin saya excited untuk datang ke Fashion Show koleksi terbarunya kali ini.

Meski jujur harus saya katakan bahwa rancangan-rancangan ready to wear yang ada pada lini EdBe bukanlah sesuatu yang benar-benar baru 100% dalam dunia ready to wear di Indonesia, tetapi koleksi-koleksinya tetap saja menarik dengan detail yang jika diperhatikan lebih seksama akan terasa “tidak sesederhana yang terlihat”. Dari segi model baju sampai detail cutting selalu saja ada hal yang unik dan seru. Tarikan garis rancangannya seperti tidak terkonstruksi rapi sesuai pakem, seperti gaya desainer Jepang yang unik dan asimetris.

Dengan mengambil tema Love Is In The Air, pada presentasi karya teranyarnya yang terwujud dalam sebuah peragaan busana a.k.a Fashion Show, EdBe by Eddy Betty menampilkan 90 outfit busana ready to wear. Menariknya, koleksi yang ditampilkan bukan hanya koleksi yang menggunakan material “standart” seperti katun, rayon, dan tenun hitam putih berdetail border berlubang-lubang(eyelet), tetapi yang jadi primadona justru koleksi ready to wear berbahan batik tulis.

Dan bukan batik tulis biasa yang diaplikasikan pada rancangan EdBe, tapi batik tulis dengan motif yang dipesan secara khusus pada pengerajin. Motif yang tentunya sesuai dengan keinginan si desainer, yakni motif corak mainan anak-anak, boneka matryoska, boneka Jepang, sampai motif telor paskah disajikan pada selembar kain batik yang kemudian diolah menjadi busana siap pakai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada presentasi koleksi kali ini, sekali lagi EdBe menampilkan gaya khasnya dalam memadupadankan busana. Ia menyusun setiap outfit yang dikenakan model dengan seolah semaunya dan sembarang, ia melawan apa yang lazim dianggap sebagai sesuatu yang harmonis dalam mix and match busana. Hal yang saya rasa sangat cocok dengan filosofi yang konon dianutnya, Mix Don’t Match, padukan tanpa serasikan.

Padupadan yang seolah main-main dan sembarang ini akhirnya membuat gaun bervolume, blus asimentris, rok multi posisi, celana terusan(jumsuit), kemeja lengan raglan dan di bawah siku sampai celana sarung(sarouel) yang menjadi produk andalan dalam koleksi terbarunya terlihat semakin menarik dan seru.

Foto by Andreas Dwi

Foto by Andreas Dwi

Tetapi sayangnya, kadar menarik, keren dan seru dari koleksi terbaru EdBe harus terkontaminasi dengan banyak hal yang missing dalam keseluruhan Fashion Show nya. Dalam Fashion Show ini saya cukup banyak menulis catatan hal-hal yang “ganggu”. Seperti ada beberapa hal yang miss. Entah misunderstanding, miscommunication, atau missing the time to prepare, tapi dari ke “miss” an yang saya rasakan itulah yang memunculkan catatan ini.

Darell Ferhostan between another model. Foto by Windy Sucipto

Pertama, urutan keluar model yang bagi saya terasa berantakan dan sedikit asal. Model bagus yang performa saat membawakan busana di atas catwalk sudah tidak perlu diragukan justru ditaruh ditengah, sehingga keberadaan mereka jadi biasa saja, tidak ada yang spesial. Lalu saat The Finale yang menjadi moment puncak dalam Fashion Show, susunan model yang berbeda lagi kemudian mengganjal bagi saya. Jujur saya sangat menyayangkan kenapa Darell Ferhostan si model androgini yang sejak awal kemunculannya di fashion show mengundang bisik-bisik dan sangat mencuri perhatian karena ke androginiannya justru diposisikan ditengah dan tertutup model-model “biasa”. Sementara saya pikir ia akan sangat menarik bila dijadikan first face atau last face yang keluar bersama sang desainer. Itu pasti akan jadi sesuatu yang keren karena hampir belum ada model androgini di Indonesia seperti Darell, dan Eddy Betty adalah desainer papan atas pertama yang menggunakan jasanya dalam sebuah Fashion Show. Semoga saja di kerjasama berikutnya hal tersebut dapat dipikirkan kembali karena bukannya tidak mungkin mereka akan dikenang sebagai simbiosis mutualisme ala Jean Paul Gaultier dan supermodel androgini Andrej Pejic.

Kedua, urutan baju yang dikenakan si model. Saya pun cukup terganggu dengan hal ini karena yang saya lihat dan rasakan adalah urutan baju yang dikenakan si model pada saat Fashion Show terasa tidak diurutkan secara rapi. Maksud saya bukan keseluruhan outfit yang dipakai ya, karena kan memang EdBe terkonsep Mix don’t Match seperti itu, tapi maksud saya adalah urutan keluar bajunya. Saya cukup sibuk bertanya-tanya, kenapa tidak mengeluarkan secara urut baju-baju yang memiliki benang merah yang sama misalnya dari segi bahan, cutting atau warna sih?, malah makin random gini. Saya cukup bingung dengan hal itu, entah memang seperti itulah yang ingin ditampilkan atau bagaimana. Saya pikir mungkin akan lebih nyaman untuk disaksikan bila urutan baju yang dikeluarkan meski terkonsep Mix don’t Match tapi tetap diurutkan sesuai dengan satu benang merah yang sama agar tidak terkesan koleksi random.

Ketiga, musik pengiring fashion show. Saya memang nggak terlalu ngerti detail tentang musik, tapi yang jelas bagi saya atmosfer musik dengan fashion show nya nggak dapet. Musiknya kurang bercampur dengan asik bersama keseluruhan fashion show dan temanya. Sepertinya akan lebih asik jika next time musiknya didengarkan ulang beberapa kali dan kembali dipikirkan bisa ngeblend atau enggak dengan keseluruhan acaranya jadi crowd dan atmosfer yang tercipta akan lebih terasa.

Keempat, MC. Ada beberapa kesalahan pengucapan MC dibagian akhir yang cukup penting. Kesalahan yang semestinya tidak perlu terjadi. Kesalahan yang sampai menyebabkan wajah Eddy Betty sempat terlihat tertegun bingung dan bengong. Mungkin karena human error, faktor X, kesalahan teknis atau mungkin juga karena kurangnya persiapan.

Kesimpulannya adalah, sayang. Bahkan sayang sekali saat koleksi yang keren-keren itu terkontaminasi dengan hal-hal yang cukup mengganggu selama presentasi kepada orang banyak sedang berlangsung.

Namun terlepas dari itu semua, saya pribadi dan saya yakin banyak diantara para pecinta fashion lokal yang terus menunggu karya EdBe selanjutnya 🙂

Part 2 Untold Stories Batik Summit ; Tiga..Dua..Satu..Models!

Saat para model mulai berseliweran di atas catwalk, yang dibelakang panggung ngapain?

Para model yang sudah lengkap mengenakan rancangan Cossy Lattu. Foto oleh Andreas Dwi

Kamu yang mungkin lebih terbiasa menyaksikan sebuah fashion show dari depan panggung sembari duduk manis di kursi-kursi yang telah disediakan si empunya acara, atau kamu yang mungkin terbiasa menonton sebuah fashion show dari layar kaca di rumah, atau kamu yang mungkin terbiasa memandangi gaya para model yang tengah berjalan di atas catwalk di halaman-halaman majalah, mungkin melewati sisi lain yang tidak kalah pentingnya dalam subuah fashion show. Sisi lain dari bagian lain dalam sebuah fashion show. Sisi lain dari bagian belakang panggung.

Apa yang sedang terjadi dibelakang panggung saat para model satu persatu berjalan dengan anggun atau gagahnya di atas catwalk?. Dan, apa yang dilakukan para model itu sebelum melangkah dengan penuh gaya di lintasan catwalk?.

Mari kita putar lagi waktu seperti di cerita sebelumnya. Waktu disaat Gue…

Masih dengan mengalungkan tali kamera di leher, Gue pun memutuskan keluar dari ruangan model Grup A&D setelah sang queuer mengumumkan satu kalimat penting,
“Ayo model siap-siap!”.
Sebenernya, Gue punya pilihan untuk stay di dalem ruangan, tapi gimana ya?. Gue masih nggak enak aja ngeliatin model-model ribet ganti baju. Takut bikin tambah ribet juga kan dengan keberadaan Gue disitu, jadilah Gue keluar sebentar dan nunggu para model selesai ganti baju, atau seenggaknya sampai mereka sudah pakai baju inti.

“Mbak bantuin aku, ini susah make nya” … “Hephhh…mbok kamunya diem dulu,jangan gerak-gerak”

Setelah Gue yakin semua model sudah selesai ganti baju, seenggaknya baju inti, Gue pun kembali masuk ke dalam ruangan model Grup A&D. Dan ternyata disana masih sibukkk ini itu. Para model dibantu beberapa fitter sibuk mengenakan berbagai aksesoris pelengkap, dan juga bagian-bagian tambahan dari busana yang nantinya akan mereka bawakan di atas catwalk.

“Mas itu topi saya”…”Bukan Mas Itu topi saya”…”Eh salah, itu topi saya”…”Jangan pada rebutan deh, mending saya bawa pulang aja topinya!”

Tapi hal itu nggak memakan waktu terlalu lama, karena sebentar saja mereka sudah segera siap dengan busana lengkap. Dan memang proses ganti baju itu nggak boleh makan waktu lama, mereka harus memangkas waktu seminim mungkin untuk tampil kembali dengan outfit lain.

“Ini shephatu shayah bhukan sih?, kok shempit ya?”

Itu juga yang akhirnya memunculkan anggapan kalau model itu ganti baju dimana aja nggak peduli ada banyak orang disana. Ya padahal sih, bukan dimana aja juga, nggak mungkinlah para model itu asal ganti baju ditempat sembarangan. Mereka pasti ganti baju di ruang backstage yang sudah sejak awal disediakan untuk ganti baju para model.

“Aku udah cantik kan?, udah dong?, udah ya pastinya”

Dan kalau pun ada banyak orang disana, tentunya bukan orang-orang sembarangan yang main asal masuk, karena orang-orang yang masuk ke ruang itu pastilah orang-orang yang memang berkepentingan. Lagipula, nggak bisa sembarangan “orang asing” masuk backstage tanpa id pengenal. Gue sendiri pun sempet “kena” saat berniat melihat ke ruangan Grup model lain, belum apa-apa salah seorang crew langsung negur Gue,
“Lagi pada ganti baju Mbak!”. Dan Gue pun langsung menyingkir dari bagian itu tanpa babibu. Id Gue yang All Acsses nggak ngaruh ternyata.

Semua model cowok Grup A&D, “Kita udah ganteng semua nihhh…:D”. Foto oleh Andreas Dwi

Tebak, siapa yang pose nya paling hitz?. Desainernya dong! 😀

Meski sudah pakai baju lengkap beserta aksesorisnya dan dapat dipastikan mereka sudah siap tampil, para model masih harus sedikit bersabar menunggu giliran sequens kemunculan. Sequens ini tergantung urutan baju desainer mana yang akan ditampilkan duluan. Disaat-saat menunggu ini, mereka amat sangat tidak disarankan untuk lengah dan bengong-bengong bingung.

Hendy Bramantyo, “Hmmm ini udah sampe mana ya?. Giliran Gue masih lama nggak ya?”

Para model diharuskan tetap berkonsentrasi dengan jalannya fashion show dan juga selalu mendengarkan setiap arahan sang queuer, Karena kalau sampai mereka tiba-tiba “blank”, jalannya fashion show dapat dipastikan langsung kacau. Nggak lucu kan misalnya ada model desainer sequens ke 4 yang tiba-tiba muncul di desainer sequens 2. Tapi memang untuk urusan satu ini diperlukan kerjasama yang klop dari queuer dan model, nggak bisa hanya membebankan ke salah satu pihak aja.

“Model!. Ayo model!”,

Adalah instruuksi pamungkas dari queuer yang langsung membuat para model bergegas keluar dari ruang grup mereka dan berbaris dengan rapinya sesuai urutan tepat di sisi tangga belakang panggung utama. Disana mereka masih harus menunggu sejenak sampai instruksi selanjutnya dari sang queuer yang kali ini menandakan giliran si model untuk tampil di atas catwalk tiba.

“Nih aku bilangin, kamu jangan tegang yaaa”…”Iya Mbak, aku nggak tegang kok, cuma deg-deg an”

Ditengah suasana tegang menunggu giliran tampil di catwalk, serta konsentrasi penuh menunggu instruksi queuer, para model teteuuppp langsung pasang pose kece saat lensa kamera Gue arahkan ke mereka.

“Meski tegang, yang penting harus tetap POSE!”. Foto oleh Andreas Dwi

Instruksi demi instruksi dari queuer terdengar, para model pun secara teratur melenggang di diatas catwalk sesuai giliran desainer masing-masing. Namun keribetan masih terus terjadi hingga di sequens terakhir. Para model harus segera berganti baju secepat kilat dan tampil kembali membawakan outfit selanjutnya. Ruang Grup model pun kembali ricuh, sibuk ambil ini itu, sibuk pasang ini itu, sibuk dan sibuk sambil terus pasang kuping mendengar arahan queuer.

“Ehhh udah giliran kita belum sih?”

Pada sequens terakhir, barulah mereka bisa sedikit lega, karena rangkaian fashion show akan segera selesai setelah parade puncak, The Finale!. The Finale adalah salah satu prosesi keramat yang paling ditunggu-tunggu oleh segenap crew dan seluruh model yang terlibat dalam sebuah fashion show. The Finale yang menandakan fashion show segera usai tentu sangat melegakan mereka yang sudah seharian menjalankan tugas. Yap!, The Finale adalah akhir dari sebuah fashion show. The Finale juga akhir dari pekerjaan para model untuk hari itu. Tapi The Finale adalah sebuah awal efek yang ditimbulkan saat sebuah fashion show usai.

-Tob Be Continue-

Part 1 Untold Stories Batik Summit ; Curhat Belakang Panggung

Nunggu?, siapa takut?. Hmmmm…tapi jangan lama-lama bisa?.

 

Prolog:
Gala dinner dan fashion show sukses. Tamu undangan meninggalkan tempat acara dengan wajah senang dan perut kenyang. Mungkin beberapa diantaranya juga ada yang langsung berpikir serius untuk membeli satu, dua, atau beberapa rancangan yang mereka suka. Mungkin mereka jatuh cinta dengan motif indah, silluet cantik, atau kesempurnaan tampilan saat si rancangan itu dikenakan para model nan rupawan. Sementara itu, dua setengah jam berlalu membawa harapan besar bagi si penyelenggara. Mulai dari pengakuan dunia internasional terhadap batik Indonesia, sampai harapan semakin banyak investor asing atau siapa aja deh yang punya dana agar bisa ikut terlibat aktif dalam pelestarian budaya bangsa satu ini. Pelestarian budaya yang tentunya nggak makan dana sedikit, sehingga partisipasi dari mereka yang punya duit sangat diharapkan. Rupa serta pikiran tamu undangan yang datang sudah digambarkan, harapan dari si penyelenggara sudah direkakan, acarapun sudah usai diselenggarakan. Terus apa dong?, selesaikah ceritanya?. Tentu aja enggak, karena…

Mari kita putar waktu ke 11 jam sebelum acara Gala dinner dan fashion show dimulai. Mari kita fokuskan ke….Erhmmm ke Gue yang baru sampe tempat acara setelah berjuang melawan diare yang kambuh di malam sebelumnya.

Sampai tepat di depan pintu masuk JCC alias Jakarta Convention Center sekitar jam 08.30 bikin Gue merasa amat sangat bersalah karena seharusnya Gue sampai satu jam sebelumnya kalau memang disesuaikan dengan rencana awal. Namun apa daya saat itu memang salah Gue yang terlalu lelet dan  perut memang sedang susah diajak kompromi sejak malam sebelumnya. Gue kira, Gue udah jadi orang paling berdosa karena telat dari waktu semula, tapi ternyata Gue salah, karena para model yang akan terlibat di fashion show malamnya pun baru saja mendarat satu persatu. Itu cukup bikin Gue lega sedikit, karena seenggaknya Gue nggak kelewatan prosesi GR a.k.a Gladi Resik.

Ocha From JIM, “Ini kipas lumayan juga secara disini dingin-dingin gerah”

Yakub GR, “Ini shayah jhalannya udah betul belum yah?”

Setelah para crew selesai mempersiapkan ini itu, dan setelah para model telah mendarat semua ke TKP utama, yakni Cendrawasih Hall JCC, GR pun dimulai. Di belakang panggung, para model udah baris berbaris dengan cantiknya menunggu giliran keluar dan berlenggok diatas catwalk sembari mendengar arahan dari sang koreografer, Panca Makmun.

Finale GR at Batik Summit…”Ayo jangan sampe salah ya” :p

Setelah GR dimulai, tibalah saat dimana para model sesi couple menunaikan tugas GR nya. Dan di saat itu ada kejadian yang Gue inget banget. Setelah satu dua model couple a.k.a pasangan jalan di catwalk, tibalah saat pasangan yang ceweknya adalah salah satu model nomor satu di Indonesia. Tak tik tuk tik tak tik tuk mereka jalan berdua, sampai di 3/4 lintasan catwalk, terdengarlah suara,
“Yah kurang romantis, yang lebih romantis dong”.

Dominique&Holly Feriston “Kita romantis juga ya”…”Eyimmm…”

Si model cowok pun terlihat agak bingung mendengar ucapan itu. Dengan wajah “Gimana nih?”, dia pun liat-liatan sama si model cewek yang jadi pasangannya. Rupanya, si model cewek ini sadar banget kalau si model cowok yang jadi pasangannya kebingungan. Dan langsunglah dia bilang,
“Lahhh kan situ lakinya!. Gimana sih?”.
Hahahahaaa…LOL :p.

Cute Baby Girl yang guling-gulingan di Backstage :D. “Pap Papp Pappapapaaap…”

Di waktu lain saat prosesi GR masih berlangsung, ada hal yang justru menarik perhatian Gue dibelakang panggung, yakni seorang bayi perempuan berwajah bulat yang disaat para model tengah sibuk menanti giliran, si baby girl ini malah asik guling-gulingan dengan wajah menggemaskan. Usut punya usut, ternyata si baby girl ini adalah anak dari salah satu model cowok bule ganteng yang akhirnya setelah GR selesai di ruang make up sedikit curhat dengan logat yang khas kalau,
“Erghttt rephot bhawa dia. Rhewelll shekhali, mintha perhatian therhus. Khalau engghak, dhia nangis…OeeeOoeeee. Dhan dia ithu berat, shephuluh khilo!. Ughhttt berat, hmmm….thapi sudhah turun sih beratnya waktu dia shakit, jhadi 9 khilo”.

Si model cowok bule yang gantengnya bikin meleleh itu pun cerita dengan semangatnya, dan Gue mendengar dengan setengah bingung, serta bertanya-tanya dalam hati, “Ini kenapa jadi sesi curhat ya?”.

“Show nya lhamaaa yaaa”…”Udah deh ih, sabar aja”

Nah, jangan sedih, sesi curhat belakang panggung nggak cuma milik si model bule yang ganteng itu. Masih dari ruang make up, ketika Gue sedang cari-cari objek foto dan clingak-clinguk kanan kiri, seorang model bule, kali ini cewek, pun berjalan cepat dengan muka kusut sambil menggerutu yang kurang lebih intinya gini,
“Ini gimana sih?, nggak bener ini, Gila!…Hrrrr…”.

Adegan ini sempet jadi slow motion di kepala Gue. Gue inget banget tuh gimana muka jutek dan nggak ngenakin si model. Tapi ya, Gue bingung juga sama itu model bule, perasaan Gue model yang lain anteng-anteng aja, kenapa doi kesel sendiri?. Dan Gue pun berpikir mungkin dia bete kali ya kelamaan nunggu antri buat make up, atau mungkin dia lagi PMS, jadi sensi deh.

Katya Talanova, “Hmmmm…saya make up sendiri aja deh, kece juga kan?”

Whulandari dan Dinda “Saling bantu ya…yiukkk”…”Yiukkk mari bantu dibantu” .Foto oleh Andreas Dwi

Ngobrol+main BB=Cara efektif membunuh waktu dikala nunggu, “Wah banyak BBM nih”

Lama nunggu, akhirnya sampe merem-merem sendiri :p

Karena banyaknya model dan terbatasnya tenaga make up artist, sekitar 1:3, para model pun diharuskan sabar menanti giliran make up dan hair do. Saat giliran menanti itulah, akhirnya beberapa model memutuskan untuk memberikan polesan dasar sendiri di wajahnya, yang nantinya akan semakin dipercantik oleh sang make up artist.

Saat menanti giliran itu juga, beberapa model lain mengkikis waktunya dengan berbagai cara, ada yang asik mainin iPad, ada yang ngerumpi bergerombol, ada juga yang cuma duduk manis sambil liat kanan kiri. Sementara Gue ikutan duduk manis sambil tetep clingukan tengok kanan kiri sembari berjaga-jaga kalau ada kejadian menarik. Disaat itulah tiba-tiba salah seorang model newcomer yang karirnya sedang kinclong di tahun ini berkata pada Gue,

“Aku mah nggak bisa tuh duduk manis kayak gitu”,
“Hmmmm…Kenapa?, bagus lagi, anteng. Kan R juga kayak gitu”, bales Gue sambil ngelirik ke arah yang dimaksud dengan sedang “duduk manis kayak gitu” itu.
“Tapi itu keliatan jaga imej banget, tuh liat cara duduknya, tangannya juga. Ya nggak apa-apa sih, tapi kalau aku mah nggak bisa. Pasti ngobrol-ngobrol…hehehe”,sambung teman ngobrol Gue sambil cengar cengir.

Gue pun semakin ngelirik si model yang sedang “duduk manis kayak gitu”, kebetulan si model yang sedang “duduk manis kayak gitu” itu adalah si model bule ganteng yang punya baby girl. Gue pun nyeletuk untuk terakhir kalinya ke temen ngobrol Gue,

“Ah, nggak apa-apa lah. Yang penting ganteng”.
“Yeeehhhhh dasarrrr Nina”, dan temen ngobrol Gue si newcomer itu pun melengos males denger celetukan terakhir Gue.

Setelah beberapa lama, akhirnya Gue pun meninggalkan ruang make up untuk ambil foto para pengisi acara yang terdiri dari anak-anak sekolah di luar. Gue seneng banget ambil foto anak-anak sekolah ini, mereka kelihatan semangat banget, meski Gue tau pasti capek juga udah dari pagi sampai malem ada di tempat itu.

Grup anak-anak sekolah bersama beberapa crew seusai tampil

Evaluasi dengan Tara Makmun setelah tampil

Nah, ngomongin anak-anak sekolah, ada juga nih kejadian lucu yang Gue denger dari temen Gue, tapi Gue lupa siapa yang cerita ya?. Jadi gini, dari grup anak-anak sekolah itu, dibagi 3 kategori, anak SD, SMP dan SMA. Disaat mereka sedang nunggu waktu tampil, duduk-duduk manis lah mereka di ruangan yang sudah disediakan khusus.

Gaya gokil Kimmy Jayanti from Look Inc, “Ngookkkk”

The Gorgeous Dominique Diyose, “Haiii Hallooo”.

Prinka Cassy, “Lihat!. Poni ku lucuuuu”. 😀

Suatu ketika di grup anak-anak SD, tirai penutup ruangan terbuka, dan kebetulan ada beberapa yang sedang melihat ke luar tirai itu. Pas banget dia ngeliat ke luar, lewatlah satu persatu para model TOP. Dominique lewat…mereka bengong, Kimmy lewat…mereka makin bengong, Prinka Cassy lewat…mereka masih bengong ngeliatin, model-model cowok bule lewat…mereka semakin bengong dan tambah nggak kedip, sampai muncullah sebuah suara entah dari mana,
“Woiii biasa aja kali ngeliatnya!”.

Huahahahahahahahahaaaaa….

Haduuhhhh Gue jadi ngebayangin kalau seandainya Gue ada di posisi mereka, kayaknya Gue juga bakal terbengong-bengong ngeliatin para model dengan tampilan nyaris perfecto itu pada seliweran. Dan itu wajar banget, secara kan jarang-jarang bisa ngeliat model-model kece seliweran…heheheee.

Akhirnya dengan masih nenteng-nenteng kamera Gue pun balik lagi ke backstage sambil terus celingak-clinguk sana-sini sembari jaga-jaga siapa tau ada yang menarik untuk di foto. Gue sempet intip ke ruangannya Mas Tara Makmun, disana Gue liat beliau lagi sibuk membicarakan sesuatu sama salah satu crew dengan seriusnya.

Sibuk atur ini itu

Meski sibuk, tapi langsung pose begitu di foto 😀

Nggak jauh beda dari ruang Mas Tara, di ruangan crew beberapa orang juga terlihat sibuk. Ada queuer model yang sibuk bacain jadwal, dan nampak pusing, ada crew yang bantuin ngeliatin jadwalnya juga ikut pusing, dan ada salah satu model yang lagi (sepertinya) betulin make up disana sini dengan sibuknya, intinya, di ruang crew ini tampak sibuk juga. Tapi saat Gue masuk sebentar untuk ambil foto, satu…dua…tiga…dan yakkk mereka semua langsung bergaya di depan kamera :D.

Crew penjaga di depan ruang model grup A&D

Pindah dari ruang crew, Gue masuk ke ruang model di Grup A&D. Disana para model sedang nunggu fashion show dimulai sambil ngobrol-ngobrol. Karena beberapa model sudah Gue kenal baik, ikutlah Gue nimbrung disitu, dengerin mereka ngobrol-ngobrol, sambil ikutan juga tentunya.

Ngobrol rame-rame ngilangin bosen

Menurut jadwal, seharusnya fashion show sudah dimulai, tapi kenyataan setelah berapa lama Gue ikutan nimbrung dan ngobrol-ngobrol, belum juga ada tanda-tanda fashion show akan dimulai, sampai-sampai ada salah seorang crew yang bilang,
“Itu tamunya udah pada kedinginan deh kayaknya, dinnernya belum dimulai”.

Gue dan para model yang sedang khusyuk menunggu pun bengong. Alamakkk dinner nya belum dimulai?. Lahhh apa kabar fashion show nya?. Soalnya fashion show nya itu dijadwalkan setelah dinner selesai. Memang sih “jam karet” memang tergolong biasa terjadi disaat seperti ini, tapi hal itu tetep aja bikin Gue dan salah satu model yang ada di ruangan itu yang kebetulan lumayan akrab sama Gue pun liat-liatan.

Tertawa-tawa ringan ditengah obrolan Grup A&D

“Kak, kayaknya kalau kamu pulang dulu ke BSD terus balik lagi kesini show nya belom mulai juga deh. Secara dinnernya aja belom mulai-mulai”, kata Gue dengan ekspresi jail.
“Nggaklah, kan macet, jadi pasti nggak keburu”, timpal salah satu model cewek berwajah Indoesia banget yang lagi ngantuk-ngantuknya nunggu. Tanpa banyak bersuara, si model yang liat-liatan sama Gue itu cuma ketawa kecil seperti biasa,
“Heheheee…”.

Para model cowok yang nyuri-nyuri tidur saat menunggu fashion show

Melinda yang udah ngantuk berat

Setelah para model cewek udah pada ngantuk kelas berat, sampai-sampai salah satu model udah bener-bener susah nyambung pas diajakin ngomong, terdengarlah suara yang seolah seperti dewa penyelamat yang menitahkan,
“Ayo model siap-siap!”.

Para model yang sudah siap-siap fashion show. Foto oleh Amby at art8amby

Yeaayyyy. Semua model pun langsung sigap bangun, termasuk si model cewek yang udah ngantuk kelas berat, dia mendadak jadi seger lagi. Mereka pun bersiap ganti baju pertanda fashion show akan segera dimulai dan mereka akan segera menunaikan tugas jalan di catwalk malam ini. Ditengah kesibukan itu, akhirnya Gue melangkah keluar ruangan, dan nunggu sampai mereka selesai ganti baju.

-To Be Continue-

Darell Ferhostan ; The Androgyny Model Who Made Me Falling In Love

Maybe I don’t care with Andrej Pejic, but I really really care with Darell Ferhostan, he’s really awesome!

Apa yang terlintas saat kamu mendengar kata Androgini?. Bagi saya Androgini itu adalah mereka yang tidak mengenal keterikatan batas gender dalam berpenampilan. Androgini ibarat bunglon, mereka yang ada dalam garis androgini selalu bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Sekali waktu bisa berpenampilan selayaknya pria, namun di waktu lain bisa juga berperan sebagai wanita. Bisa juga, mereka yang disebut Androgini malahan sulit untuk dideskripsikan ataupun dikelompokkan dalam satu gender. Terlalu cantik jika dikategorikan pria, tapi juga terlalu memilki struktur tubuh maskulin bila dikategorikan wanita. Kurang lebih seperti itu, dan juga sebaliknya.

Adalah Darell Ferhostan, seorang model cowok pendatang baru yang telah mencuri perhatian saya sejak pertemuan pertama. Darell sangat berbeda dari semua model cowok yang pernah saya tau. Rambutnya tergerai panjang melewati punggung, badannya tinggi semampai, ramping tanpa otot bertonjolan di lengan atau dada seperti yang sudah menjadi stereotipe model pria, kulitnya putih bersih dan raut wajahnya begitu lembut.
Kesimpulannya, Darell terlalu cantik sebagai cowok.


Dan itulah Darell, dia memang bukan seperti model cowok kebanyakkan. Jauh dari kesan macho dan maskulin. Jangan heran, karena Darell adalah model Androgini. Jenis model yang mengaburkan batasan gender pria dan wanita. Sekali waktu dia kelihatan ganteng dengan outfit cowok, tapi di waktu lain dia benar-benar cantik dengan outfit cewek.

Cowok kelahiran Jakarta, 16 November 1991 ini memulai karir modelingnya baru sejak Februari 2011, berawal dari beberapa photoshoot untuk produk fashion indie yang saat ini sedang menjamur. Setelahnya, baru pada pertengahan Mei 2011 ia menerima job pertamanya sebagai model catwalk. Tidak tanggung-tanggung, Darell langsung didapuk sebagai model pembuka atau first face dalam fashion show yang menampilkan karya designer Yossafat. Setelah itu Darell kembali tampil berturut-turut dalam fashion show koleksi EdBe by Eddy Betty, ESMOD Graduation, dan LaSalle Graduation.

Dengan tinggi 185 cm dan berat 63 kg ditambah segala keunikkan yang ia miliki, termasuk faktor Androgini didalamnya. Rasanya tidak berlebihan bila Darell menjadi salah satu dari sekian nama model newcommer paling menjanjikan.
Yeahhh at least, we can say Will See and Welcome Darell Ferhostan to our fashion industry!.

Teks: Armadina
Foto:
-Luki (lukimages.blogspot.com)
-Ejja Pahlevi
-Christina Phan
-Arselan Ganin for EdBe
More Photos about Darell: darellferhostan.tumblr.com

Prinka Cassy ; West Look Indonesian Model, The Newcomer!

For sure All, ajaklah dia berbicara bahasa Indonesia, dia bukan Bule.

Tidak banyak model pendatang baru alias newcomer yang memiliki karir cemerlang di tahun-tahun awal kemunculannya dalam jagad fesyen Indonesia. Dari belasan nama model newcomer yang ada, rasanya mereka yang memiliki karir mencorong jumlahnya bisa dihitung dengan jari disatu tangan. Tidak mengherankan memang hal seperti itu terjadi, terlebih jika kita melihat peta persaingan model catwalk yang sangat ketat, ditambah dengan ekspansi model-model import yang semakin menggila belakangan ini.
Lalu terdengarlah nama Prinka Cassy, seorang model berwajah Londo yang namanya sempat menjadi buah bibir atas segala pencapaiannya yang terbilang tidak biasa di dua tahun karirnya. Dua tahun karir yang segera melesatkan Prinka ke dalam jejeran model papan atas Indonesia.

Prinka Cassy Pertiwi adalah seorang model berkewarganegaraan Indonesia yang memiliki darah campuran Manado-Sunda-Belanda. Kewarganergaraan Prinka saya rasa memang harus di bold seperti itu karena tidak hanya ada satu dua kasus orang-orang yang mengira bahwa model yang memiliki warna rambut dark brown ini adalah model import alias bule yang kini semakin marak berseliweran di panggung mode Indonesia. Padahal Prinka yang kerap menjadi model langganan desainer Ghea Panggabean ini sangatlah Indonesia dibalik wajah bule yang ia miliki, mulai dari cara dan gaya bicara, sampai attitude di atas catwalk.

Prinka memulai kariernya dengan mengikuti ajang pemilihan model “Gading Model Search” pada tahun 2009 dan memperoleh juara ketiga dalam ajang pemilihan tersebut. Sebagai model Indo, Prinka memiliki raut wajah yang unik serta berbeda dari para model berdarah campuran kebanyakkan. Hal tersebut menjadi salah satu kelebihan Prinka diantara para model lainnya, disamping tubuh proporsional dengan tinggi 179cm dan berat 53kg yang ia miliki. Dengan semua kelebihan yang ia miliki, tak heran bila sulung dari tiga bersaudara ini masuk dalam jejeran model pendatang baru alias newcomer yang patut diperhitungkan. Sosoknya kini sangat mudah dijumpai diberbagai pagelaran fashion para designer ternama seperti Biyan, Sebastian Gunawan, Priyo Oktaviano, dan Ghea Panggabean.

Desainer Ghea Panggabean yang terkenal akan rancangan-rancangan berbau etniknya bahkan sempat memboyong Prinka pada pagelaran fashionnya “The Splendor of Indonesia” di Milan, Italia pada Oktober 2010 lalu. Selain itu, gadis bermata sayu kelahiran Jakarta, 26 November 1991 ini juga terpilih sebagai Face Icon Jakarta Fashion and food Festival 2011. Dan yang terpenting adalah semua itu dicapainya dalam waktu kurang dari dua tahun karirnya dalam dunia modeling Indonesia!. Sebuah pencapaian yang terbilang sangat mengesankan untuk ukuran seorang model newcomer di Indonesia.

Disela-sela kesibukkannya sebagai model catwalk, serta aktivitas lainnya, Prinka masih menyempatkan diri untuk menekuni salah satu hobi favoritnya yakni membaca buku-buku yang berhubungan dengan sejarah dan biografi orang-orang terkenal.

Teks: Armadina
Foto :
-Windy Sucipto
-AMICA Indonesia
-Doc Pribadi
-Facebook Prinka Cassy