“Tale of The Goddess” ; Dongeng Sang Dewi Dari Lima Ksatria Mode Indonesia

Lima ksatria mode diberikan satu benang merah. Kelimanya diminta untuk menerjemahkan sosok “dewi” dalam koleksi busana pamungkasnya. Lima ksatria menyusun strategi, coba melukisan “dewi” dalam interpretasi tersendiri. Lima cerita tentang sosok “dewi” disuguhkan. Kelima ksatria mode seolah mendongeng dengan caranya masing-masing. Penasaran?

Pidato Penutupan Jakarta Fashion Week 2014 oleh Svida Alisjahbana

Pidato Penutupan Jakarta Fashion Week 2014 oleh Svida Alisjahbana

Dewi Fashion Knights bukan lagi sekadar peragaan busana penutup rangkaian Jakarta Fashion Week setiap tahunnya. Bukan lagi hanya sebatas ajang pameran karya para “ksatria mode” Indonesia. Bukan juga sebuah pesta mode yang selesai tuntas dalam satu malam perayaan. Lebih dari itu, bagi saya, Dewi Fashion Knights telah menjelma sebagai legenda dalam setiap penyelenggaraan Jakarta Fashion Week.

Desainer mode Indonesia terpilih. Karya busana mutakhir yang mengundang decak kagum. Barisan model peraga busana yang dipilih secara teliti. Konsep matang yang dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Tim koreografer jempolan yang ditugaskan khusus untuk mengeksekusi jalannya acara. Bila dirangkumkan, semua hal tadi tak lain adalah formula esensial dalam mencipta Dewi Fashion Knights sebagai legenda peragaan busana di Jakarta Fashion Week.

Namun terlepas dari semua itu ada beberapa hal penting lainnya yang menjadikan Dewi Fashion Knights layaknya legenda di Jakarta Fashion Week. Bagi saya, gelar legenda patut disematkan pada Dewi Fashion Knights karena peragaan mode ini adalah salah satu barometer terpenting dunia mode Indonesia yang mampu merepresentasikan karya visioner para desainer mode Indonesia terpilih. Dalam tahun-tahun pelaksanaannya, pecinta mode acap dibuat terperangah oleh karya busana mengagumkan yang ditampilkan. Tapi kadang, Dewi Fashion Knights juga meninggalkan kontroversi tersendiri mengenai ksatria mode yang dipinang atau karya busana yang ditampilkan. Lalu, jadilah peragaan busana pamungkas ini sebagai buah bibir yang terlalu menarik bila hanya dibicarakan semalaman, begitu pula pada perhelatannya di tahun ini.

Dewi Fashion Knights "Galore"

Dewi Fashion Knights “Galore”

Membicarakan Dewi fashion Knights tentu tidak bisa lepas dari nama-nama desainer mode yang dipinang sebagai “ksatria” di dalamnya. Ya, ksatria, sesuai dengan nama gelaran ini, para desainer mode yang dipilih untuk menampilkan karyanya dalam Dewi Fashion Knights lantas diberi gelar “ksatria mode”. Setelah di tahun sebelumnya, Dewi Fashion Knights menghadirkan Sapto Djojokartiko, Ghea Panggabean, Oscar Lawalata, Priyo Oktaviano dan Deden Siswanto, pada tahun 2013 ini, Dewi Fashion Knights hanya mempertahankan Priyo Oktaviano dan Oscar Lawalata dalam jajaran ksatria mode yang turut berpartisipasi, sementara Toton Januar, Populo Batik adalah nama baru yang dipinang Dewi Fashion Nights melengkapi kembalinya Tex Saverio dalam singgasana ksatria mode Indonesia.

Mengusung tema “Tale of The Goddess” lima ksatria mode diminta untuk menginterpretasikan definisi “dewi” sebagai sosok wanita modern dari kacamata kreatifitas masing-masing. Berangkat darisana kelimanya pun merangkai cerita yang bersumber pada interpretasi mereka tentang sang “dewi”, lalu mentransformasikannya ke dalam  koleksi busana yang dipersembahkan khusus untuk Dewi Fashion Knights. Dan inilah para ksatria serta kisah mereka tentang sang “dewi” :

Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Finale Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Finale Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Tampil sebagai pembuka Dewi Fashion Knights, Oscar Lawalata mengisahkan “dewi” yang ada dalam kepalanya dalam rangka imajinasi indah namun misterius layaknya keadaan galaksi di angkasa luas. Nama galaksi tetangga Bimasakti, Andromeda, pun ikut disematkan pada tajuk untuk koleksi busananya, “My Name is Andromeda”. Sisi kekuatan dan kelemahan yang ada dalam sosok wanita ia ibaratkan layaknya peleburan galaksi yang misterius dan memiliki dua citra utama sebagai tempat yang asing berlatar hitam yang menyimpan kekuatan besar nan magis, sekaligus hamparan bintang dan planet yang membentuk pola keindahan tersendiri.

Konstruksi kisah “dewi” seolah ia bangun sebagai sosok wanita yang memiliki kecantikan misterius dengan kepribadian kuat yang terwujud dalam busana berpalet warna hitam. Menggunakan material utama kain sutra berwarna hitam, Oscar Lawalata menghadirkan busana bergaris rancang geometris dengan siluet flare. Pada beberapa busana Oscar Lawalata juga terasa meminimalisir pemotongan dan pengikatan bahan sehingga busana-busana yang ditampilkan layaknya jubah ringan yang dikenakan dengan cara sedemikian rupa oleh para model. Atasan dan celana bersiluet flare, rok midi A-line, celana kulot yang menyerupai rok panjang dan beberapa atasan berdetil cut out serta draperi disajikan Oscar untuk koleksi berpalet warna hitam miliknya.

Busana bersiluet flare dengan detil draperi pada "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata. Model: Renata

Busana bersiluet flare dengan detil draperi pada “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata. Model: Renata

Atasan bergaris rancang tegas dipadu celana kulot dari sutra hitam pada "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata. Model: Dominique Diyose

Atasan bergaris rancang tegas dipadu celana kulot dari sutra hitam pada “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata. Model: Dominique Diyose

Busana berpotongan lurus dengan palet warna cerah dalam "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata

Busana berpotongan lurus dengan palet warna cerah dalam “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata

Usai menampilkan palet warna hitam, kini giliran palet warna cerah seperti putih, merah, pink, oranye dan ungu yang dipilih Oscar Lawalata. Pada sekuensnya yang kedua, sang desainer seakan ingin menampilkan warna keindahan galaksi melalui ragam busana yang ia buat dalam siluet yang longgar. Gaun-gaun pendek dengan garis rancang sederhana bersiluet flare serta A-line pun ia jadikan sajian utama.

Menutup akhir sesi peragaan busana, Oscar lantas memberi sebuah kejutan kecil. Desainer mode berpenampilan androgini ini menyusup ke dalam barisan model peraga busananya dan berlenggok bersama mereka disepanjang lintasan catwalk Jakarta Fashion Week. Sebuah kejutan kecil yang langsung memicu riuh rendah tepuk tangan dari dalam Fashion Tent Jakarta Fashion Week 2014.

Populo Batik

Koleksi busana pria bergaya kasual dari Populo Batik dengan motif batik kontemporer 'Slobok'

Koleksi busana pria bergaya kasual dari Populo Batik dengan motif batik kontemporer ‘Slobok’

Keberadaan Populo Batik dalam jajaran ksatria mode Dewi Fashion Knights mau tak mau sempat membuat saya mengerutkan kening. Pasalnya, baru kali ini rasanya Dewi Fashion Knights menunjuk lini busana yang sangat berorientasi ready-to-wear dan produksi cukup massal ke dalam jajaran para ksatria. Memang, lini busana ready-to-wear bukan hal yang baru pada Dewi Fashion Knights, di tahun sebelumnya pun ada SPOUS, lini busana siap pakai kepunyaan Priyo Oktaviano. Namun, tetap saja keberadaan Populo Batik pada Dewi Fashion Knights terasa cukup ganjil bagi saya. Mungkin karena saya selama ini lebih akrab dengan Dewi Fashion Knights yang selalu menghadirkan nama-nama desainer mode dengan lini utamanya atau lini kedua yang tetap saja menguarkan aroma eksklusivitas tinggi, teknik pembuatan rumit dan konsep yang tertata jeli khas karya busana desainer mode pada umumya.

Tetapi nyatanya lini busana milik Bai Soemarlono dan Joseph Lim melenggang mulus di atas lintasan catwalk Dewi Fashion Knights dengan koleksi busana batik bergaya kasual dan modern. Mengedepankan koleksi busana bergaya kekinian, Populo Batik lebih banyak bermain dengan motif batik kontemporer berbentuk garis dan geometris. Adapun sisi klasik dari kain Batik yang dipertahankan ialah teknik pembuatan dan pewarnaan motif pada kain batik yang menggunakan alat-alat untuk membuat batik tulis serta batik cap.

IMG_7669

Koleksi busana wanita siap pakai oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Firrina

Gaun batik kontemporer yang terlihat santai nan kasual oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kusuma Wardhany

Gaun batik kontemporer yang terlihat santai nan kasual oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kusuma Wardhany

Luaran berupa jubah panjang dalam koleksi Men's Wear Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Dion Wiyoko

Luaran berupa jubah panjang dalam koleksi Men’s Wear Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Dion Wiyoko

Pada pembuktian eksistensinya dalam Dewi Fashion Knights, lini busana ready-to-wear yang sudah ada sejak tahun 1994 ini seolah menerjemahkan sosok “dewi” yang lekat dengan imej magis dan mengagumkan sebagai sosok wanita modern masa kini yang bisa jadi tersusup diantara orang-orang yang biasa kita jumpai sehari-hari. Interpretasi kata “goddess” yang ada dalam tajuk Dewi Fashion Knights kali ini juga dipersembahkan duo Bai dan Joseph pada perajin batik yang mereka rasakan sebagai salah satu perwujudan “goddess” bagi keduanya. Memadukan hasil kreasi motif batik tulis dan batik cap kontemporer hasil modifikasi motif klasik, Populo lantas mengaplikasikan keduanya pada lebih dari 20 pasang busana women’s wear dan men’s wear. Blus, celana model Capri, celana panjang lurus, rok, blazer, kemeja, hoodies, rompi, gaun, hingga luaran seperti jubah menjadi bagian dari koleksi Populo Batik pada gelaran Dewi Fashion Knights.

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Terinspirasi oleh keindahan bawah laut yang begitu mempesona sekaligus menyimpan sisi misterius yang tak bisa terelakan, Toton Januar mendongengkan kisah sang “dewi” dalam tajuk “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”. Ketika menyaksikan dan melafalkan lamat-lamat judul yang dipilih Toton, alam imaji saya membentuk penafsiran tersendiri tentang alur cerita yang mungkin tersimpan dalam rangkaian koleksi milik desainer muda yang baru memulai labelnya di tahun 2012 silam ini.

Saya membayangkan bahwa “dewi” yang diceritakan Toton Januar seperti dongeng-dongeng tentang sosok wanita tangguh penguasa lautan luas yang akhirnya diketahui keberadaannya oleh seorang Raja atau Sultan dari sebuah negeri. “dewi” penguasa lautan dan Sultan lalu menjadi cerita, entah cerita cinta, petualangan, atau sekadar cerita tentang kekaguman pada sosok “dewi” yang begitu melenakan.

Dalam hal koleksi yang ditampilkan, Toton menghadirkan 10 set busana bergaris rancang unik yang sangat khas. Potongan asimetris banyak ia suguhkan bersama padupadan detil ruffles, bahan transparan, bordir, payet berkilauan dalam pasang-pasang busana berstruktur tegas yang memiliki kesan bahwa Toton menampilkan “dewi” dalam ceritanya sebagai sosok yang kuat meski terselip pula kesan feminin dan romantis.

Padupadan busana berpotongan tegas dan material transparan pada koleksi Toton Januar untuk Dewi Fashion Knights. Model: Michelle Agnes

Padupadan busana berpotongan tegas dan material transparan pada koleksi Toton Januar untuk Dewi Fashion Knights. Model: Michelle Agnes

Koleksi Toton Januar dalam “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss” untuk Dewi Fashion Knights. Model: Putri Sulistyo

Koleksi Toton Januar dalam “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss” untuk Dewi Fashion Knights. Model: Putri Sulistyo

Interpretasi "dewi" oleh Toton Januaryang mengambil inspirasi dari keindahan bawah laut. Model: Reti Ragil

Interpretasi “dewi” oleh Toton Januaryang mengambil inspirasi dari keindahan bawah laut. Model: Reti Ragil

Jalinan cerita tentang “dewi” lautan yang didongengkan Toton pun kembali terlihat pada pemilihan warna dalam busananya. Warna hijau kebiruan, warna putih gading, dan beberapa sentuhan warna cerah seperti oranye merupakan interpretasi sang desainer terhadap warna laut dan ekosistem di dalamnya. Namun, tentang pemilihan warna yang ditampilkan Toton, saya pribadi merasakan bahwa warna-warna yang ia pilih cenderung pucat sehingga menghasilkan kesan latar belakang lautan yang tenang namun misterius dibandingkan dengan lautan yang kaya akan keindahan ekosistem.

Sisi lainnya yang juga menarik untuk ditilik pada rangkaian koleksi Toton Januar kali ini adalah pemilih model yang membawakan koleksi busana. Deretan model berwajah khas Indonesia yang dipilih Toton sebagai garda depan dalam presentasi karyanya seakan menciptakan kesan bahwa dongeng “dewi” lautan dan keindahan bawah laut yang sedari awal ia usung merupakan representasi gambaran keindahan lautan Indonesia.

Priyo Oktaviano “Galore”

Sang ksatria mode, Priyo Oktaviano bersama koleksinya "Galore" pada Dewi Fashion Knight

Sang ksatria mode, Priyo Oktaviano bersama koleksinya “Galore” pada Dewi Fashion Knights

Tantangan interpretasi sosok “dewi” yang diberikan Dewi Fashion Knights melambungkan tinggi imajinasi Priyo Oktaviano pada kemegahan Istana kebanggan rakyat Perancis Château de Versailles” dan pesona kemewahan kain Tapis Lampung yang tidak lain adalah perlambang kejayaan Kerajaan Lampung di masa lalu. Bersamaan dengan latar belakang kemegahan, kemewahan, dan kejayaan itu, Priyo Oktaviano lantas menemukan sosok wanita kuat, gagah, memiliki keberanian untuk keluar dari wilayah privat, tetapi tetap menyimpan sisi feminin serta kecantikan yang sulit terbantahkan. Aroma “Femme Fatale” pada koleksi Priyo kali ini pun terasa menguar kuat. Sosok “dewi” seolah diterjemahkan Priyo ke dalam sosok wanita yang tahu benar bagaimana ia mampu mempergunakan kekuatan, daya tarik sekaligus kecantikannya untuk membuat siapa saja tidak hanya mengagumi tetapi bertekuk lutut pada sosoknya.

Telah menjadi bagian dari Dewi Fashion Knights sejak tahun 2008, pada keterlibatannya kali ini sang ksatria mode mempertemukan dua kebudayaan dari dua belahan dunia berbeda. Megahnya arsitektur interior Istana Versailles di Prancis menjadi rangka inspirasinya dalam mempersembahkan 12 set busana wanita dalam tema “Galore”, kemegahan. Meski rangka inspirasi ia susun dari kemegahan arsitektur interior Istana Versailles, adalah hal yang keliru bila mengira bahwa inspirasi Istana yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Louise XVIII yang akan jadi primadona. Dalam rangkaian koleksi milik desainer berkacamata ini, justru kain Tapis Lampung yang ia gunakan sebagai aspek pengisi rangka inspirasilah yang mencuat menempati posisi puncak limpahan perhatian ketika koleksi dipresentasikan.

Melalui 12 set busana wanita yang bersiluet gagah, bergaris potong tegas, kuat dan terkesan androgini layaknya seragam perang sang Jenderal Perancis, Napoleon Bonaparte. Hadir dalam warna-warna yang terkesan mewah dan gagah seperti emas, hitam, dan merah, Priyo Oktaviano menggunakan material inti 80% kain Tapis Lampung yang kemudian ia olah dalam kemasan kemegahan ala Eropa.

Gaun beraksen ruffles yang terinspirasi oleh Marie Antoinette pada koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano. Model: Kelly Tandiono

Gaun beraksen ruffles yang terinspirasi oleh Marie Antoinette pada koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano. Model: Kelly Tandiono

Busana wanita bernuansa androgini yang terinspirasi oleh seragam perang Napoleon Bonaparte dalam koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano. Model: Chloe Clau

Busana wanita bernuansa androgini yang terinspirasi oleh seragam perang Napoleon Bonaparte dalam koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano. Model: Chloe Clau

Gaun pamungkas koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano untuk Dewi Fashion Knight. Model: Kimmy Jayanti

Gaun pamungkas koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kimmy Jayanti

Keindahan kain Tapis Lampung yang dikerjakan secara manual menggunakan gedokan dan teknik sulam(cucuk) ditransformasikan ke dalam bentuk busana hasil penafsiran kemewahan dan kemegahan Istana Versailles. Langit-langit megah istana, dinding-dinding penuh dekoratif mewah nan artistik hingga ukiran kayu dan gypsum klasik yang seolah mempigurakan keindahan abadi Istana Versailles diterjemahkan lewat siluet busana bervolume  tegas dan teknik patchwork  yang digunakan dalam pengaplikasian kain Tapis Lampung pada tiap panel busana.

Sentuhan warna emas pekat, motif geometris di helai kain Tapis Lampung, dan aksen ruffles  yang mempercantik gaun kreasi Priyo Oktaviano, masing-masing merujuk pada banyaknya ornamen emas di Istana Versailles, pola dinding bagian dalam Istana Versailles, serta cerminan gaya berbusana Ratu Marie Antoinette, sang permaisuri Raja Louise XIV yang kontroversional. Detil koleksi busana pun bertambah kaya dengan banyak permainan bordir berbentuk daun ivy(daun kemakmuran bagi rakyat Perancis) dan manik-manik yang dibentuk menyerupai matahari.

Tex Saverio Prive “Exoskeleton”

Sosok "dewi" dari masa depan yang dituangkan Tex pada busana yang mengaplikasikan teknik print 3D bertajuk "Exoskeleton".

Sosok “dewi” dari masa depan yang dituangkan Tex pada busana yang mengaplikasikan teknik print 3D bertajuk “Exoskeleton”.

Tex Saverio memiliki tafsiran tersendiri tentang sosok “dewi”. Bagi desainer muda yang namanya meroket setelah gaun rancangannya dikenakan Lady Gaga ini, sosok “dewi” yang berkembang dalam imajinasinya adalah sesosok wanita dengan keanggunan yang tak biasa. Dalam imajinasinya, “dewi” adalah seorang wanita, namun bukan manusia, dan ia datang dari masa depan. Imajinasi akan sosok “dewi” yang bukan manusia dalam bayangan Tex Saverio ini kemudian ia tuangkan dalam 5 set busana wanita dengan dominasi warna hitam yang mau tak mau memunculkan kesan magis nan misterius dari sosok “dewi” yang coba ia hadirkan.

Lebih jauh, bayangan mengenai sosok “dewi” yang berasal dari masa depan lantas ia coba terjemahkan melalui pengaplikasian teknologi rumit printing 3D. Suatu teknik terbilang langka di dunia mode namun acap kali dipergunakan oleh desainer couture asal Belanda Irish van Herpen dalam karyanya. Meski bukan hal yang terlampau baru di dunia mode, penggunaan print 3D oleh Tex Saverio adalah yang pertama kali dilakukan oleh desainer mode di Indonesia. Untuk menerapkannya dalam busana pun terbilang rumit, selain harus menggunakan software khusus untuk menggambar pola yang diinginkan, Tex harus melakukan pemindaian langsung pada tubuh model saat akan membuat cetakan yang nantinya digunakan untuk pencetakan material besi khusus yang digunakan. Bahan baku besi yang digunakan pun tak main-main, untuk urusan satu ini, Tex Saverio menggunakan bahan besi yang biasa dipergunakan untuk kebutuhan seragam perang.

Koleksi busana dengan dominasi warna hitam dan metalik yang dihadirkan Tex Saverio dalam "Exoskeleton". Model: Christina Borries

Koleksi busana dengan dominasi warna hitam dan metalik yang dihadirkan Tex Saverio dalam “Exoskeleton”. Model: Christina Borries

Jubah hitam berbahan velvet semakin menguatkan kesan magis nan misterius dari interpretasi sosok "dewi" Tex Saverio. Model: Simona

Jubah hitam berbahan velvet semakin menguatkan kesan magis nan misterius dari interpretasi sosok “dewi” Tex Saverio. Model: Simona

Busana penutup koleksi Tex Saverio "Exoskeleton", print 3D ia tampilkan secara maksimal pada bagian atas busana dan head piece. Model: Paula Verhoeven

Busana penutup koleksi Tex Saverio “Exoskeleton”, print 3D ia tampilkan secara maksimal pada bagian atas busana dan head piece. Model: Paula Verhoeven

Digadang sebagai momen pertama penggunaan print 3D di Indonesia, rangkaian koleksi busana Tex Saverio terdiri atas 4 gaun panjang dan 1 busana bersiluet swim suit berwarna metalik. Dalam presentasinya di atas lintasan catwalk Dewi Fashion Knights, busana koleksinya itu dilengkapi dengan jubah velvet berwarna hitam yang semakin menguatkan kesan “gelap” dan misterius. Pemberian urutan presentasi bungsu yang diberikan kepada Tex pun mampu ia gunakan dengan cukup apik untuk menyerap perhatian maksimal dari para tetamu dan awak media di Dewi Fashion Knights dengan menyajikan kelima set busana di bawah spot light yang dramatis. Adapun judul “Exoskeleton” atau dapat dimaknai sebagai kerangka keras yang berada diluar tubuh dipilih Tex untuk judul koleksinya kali ini. Bagi Tex, “Exoskeleton” merupakan perumpamaan sebagai pelindung  seperti sosok “dewi” yang coba ia hadirkan dalam tiap pasang busananya.

Rangkuman Kabar Dari Jakarta Fashion Week 2013

Di tahun penyelenggaraannya yang kelima, saya kembali mendapat kesempatan untuk bisa menghadiri pekan mode paling dinanti penyelenggaraannya ini. Ada banyak kejadian tidak terduga, ada banyak cerita. Namun saya belum akan menceritakan semuanya secara detil, maka saya akan merangkumkannya terlebih dulu.

Malam Pembukaan JFW 2013 di Fashion Tent

Malam Pembukaan JFW 2013 di Fashion Tent

Jakarta Fashion Week 2013(JFW 2013) pada awalnya direncanakan untuk terselenggara selama tujuh hari penuh, sejak tanggal 3 sampai 9 November 2012 dengan mengambil tempat di Plaza Senayan. Namun pada kenyataannya, JFW 2013 tidak bisa terselenggara selama tujuh hari, dan mengalami penambahan waktu menjadi sepuluh hari penyelenggaraan.

Mungkin sudah banyak yang mengetahui apa sebab JFW tahun ini mengalami perpanjangan waktu, tapi saya juga yakin sebagian lainnya masih belum tau kenapa JFW bisa sampai sepuluh hari. Dan sebenarnya saya juga yakin, mereka yang mengetahui sebab kenapa JFW mengalami perpanjangan waktu, terbagi lagi menjadi 3 kelompok.

Kelompok pertama, adalah kelompok yang memang mengetahui secara detil. Kelompok kedua, adalah kelompok yang mengetahui tetapi tidak secara langsung. Dan kelompok ketiga, adalah kelompok yang mengetahui secara simpang siur.

Saya akan menceritakan sedikit, kenapa JFW 2013 mengalami pertambahan waktu. Hal ini disebabkan oleh insiden yang sering saya katakan “insiden tenda”. Singkatnya, karena cuaca buruk yang terjadi kala penyelenggaraan JFW 2013, tenda utama tempat berlangsungnya fashion show di JFW 2013 mengalami masalah yang cukup serius sehingga seluruh kegiatan yang dijadwalkan akan berlangsung disana mengalami relokasi tempat. Tetapi, saya tidak akan menceritakan detil kejadiannya sekarang, saya akan menuliskannya nanti.

Dan inilah rangkuman JFW 2013 yang sempat saya ikuti.

Hari Pertama (Sabtu, 3 November 2012):

After Finale Sebastian Gunawan at Opening JFW 2013. Model with The Designer: Michelle Samantha

After Finale Sebastian Gunawan at Opening JFW 2013. Model with The Designer: Michelle Samantha

Opening JFW 2013 by Sebastian Gunawan. Model: Laura Muljadi

Opening JFW 2013 by Sebastian Gunawan. Model: Laura Muljadi

20.00-21.00 WIB, Fashion Show Opening JFW 2013 “Indonesia Today, World Tomorrow” oleh Sebastian Gunawan dan Lie Sang Bong.
Pada hari pertama JFW 2013, acara berjalan lancar tanpa ada masalah berarti. Peragaan busana dari Sebastian Gunawan dan Lie Sang Bong, seorang desainer asal Korea Selatan yang memiliki basis di Paris, dimulai tepat waktu sekitar pukul 20.00 WIB. Pada hari pertama penyelenggaraan JFW 2013, lokasi utama adalah di sebuah tenda atau yang biasa disebut Fashion Tent yang dibangun di lapangan di sisi gedung Plaza Senayan, atau di depan Union.

Hari Kedua (Minggu, 4 November 2012):

Pada hari kedua JFW 2013, saya baru datang sekitar pukul 15.00. Pada hari itu sejak awal saya memang hanya ingin menyaksikan peragaan busana dari Ivan Gunawan, dan Anne Avantie. Tapi ketika saya sudah sampai venue acara, saya sedikit terkejut karena semua fotografer yang biasa mengambil posisi di dalam tenda sudah perpindah ke atrium. Mereka, dengan kamera berlensa besarnya sudah bergerombol di bagian depan lintasan catwalk yang dibangun di atrium Plaza Senayan.

Tenda bocor, begitu kata para fotografer. Maka hari itu semua jadwal acara JFW 2013 menjadi tidak pasti. Tidak ada satu pun pihak yang bisa memastikan apakah rangkaian busana yang sedianya akan dilangsungkan di dalam tenda akan dipindahkan ke atrium atau tidak. Lalu ketidakpastian itu berujung pada pemindahan tiga jadwal show yakni, “Dress Me Up Competition” oleh dr.m, Grazia Glitz and Glam, dan “Purana; Retro Batik” oleh Lia Chandra Foundation yang tadinya akan dilangsungkan di tenda menjadi di atrium Plaza Senayan. Sementara tiga jadwal pergaan busana lainnya yaitu, ESMOD “E-Craft”, Ivan Gunawan “Mysterious Regal”, dan Anne Avantie “Puspawarni”, ditambah Pia Alisjahbana Award mengalami penundaan sampai jadwal yang belum dapat ditentukan pada hari itu.

Hari Ketiga(Senin, 5 November 2012):

Pada hari ketiga JFW 2012 menurut jadwal hanya ada satu sesi peragaan busana yang akan berlangsung di atrium, yaitu peragaan busana dari Ted Baker, dan sisanya, ada delapan peragaan busana yang akan dilangsungkan di Fashion Tent. Meski sehari sebelumnya, tenda sempat bermasalah dan berujung pada penundaan beberapa jadwal peragaan busana, panitia JFW 2013 meyakinkan semua awak media dan tamu JFW jika jadwal peragaan busana pada hari itu akan berlangsung secara normal di Fashion Tent. Mereka mengatakan jika area Fashion Tent sudah aman untuk digunakan kembali karena kebocoran yang terjadi telah diperbaiki.

Hari itu saya datang seusai jam sekolah. Kira-kira pukul 18.00 saya baru sampai di Plaza Senayan, hari itu, peragaan busana yang sangat saya nantikan adalah “Globalization” oleh IPMI(Ikatan Perancang Mode Indonesia). Namun ketika saya tiba, saya melihat seorang teman yang termasuk model grup B ada di luar Green Room(ruangan khusus yang hanya boleh dimasuki orang-orang tertentu seperti model, panitia, crew dan sejenisnya) sambil asik mengisap rokok putihnya.

Dia bilang ke saya kalau hari itu semua peragaan busana mengalami keterlambatan, atau lebih tepatnya mundur satu jam dari yang sudah di jadwalkan. Itu sebabnya, dia masih santai-santai saja dan masih sempat ngobrol singkat bersama saya. Dari obrolan saya dengan dia, saya sempat kaget karena grup teman saya itu baru akan muncul lagi di peragaan busana Aguste Soesastro dan Oscar Lawalata yang seharusnya berlangsung pada pukul 17.00.

Kenapa saya kaget, karena ketika saya ngobrol dengan dia, yang sedang memperagakan busana di dalam tenda adalah grup A, mereka membawakan busana dari LaSalle College International Jakarta. Peragaan busana dari LaSalle itu seharusnya sudah usai sejak satu setengah jam lalu, tapi saat itu, dimulai saja belum. Kata teman saya, “Modelnya baru stand by Nin, show-nya belum”.

Finale "KROMO" oleh Aguste Soesastro

Finale “KROMO” oleh Aguste Soesastro

Finale "Mongoloid" oleh Oscar Lawalata

Finale “Mongoloid” oleh Oscar Lawalata

Peragaan busana dari Aguste Soesastro dan Oscar Lawalata yang disponsori oleh Samsung Galaxy Notes 10.1 dimulai sekitar pukul 19.00 WIB, hampir dua jam lewat dari jadwal seharusnya. Terlambat besar memang, tapi semua itu seolah termaafkan begitu rangkaian koleksi dari Aguste Soesastro dan Oscar Lawalata dipertontonkan. Kedua desainer muda yang selalu jadi buah bibir berkat karya-karya nya ini, sungguh memenuhi ekspetasi tentang apa lagi yang akan mereka tampilkan.

Awalnya saya kira, penyelenggaraan JFW 2013 hari ketiga ini akan berjalan seperti biasa, meski dengan keterlambatan yang cukup parah, namun setidaknya semua jadwal pergaan busana bisa berlangsung lancar di tenda. Tetapi saya salah, segera setelah peragaan busana usai, tim protokol JFW 2013 dan bagian pengamanan langsung meminta semua orang, termasuk para wartawan dan fotografer untuk meninggalkan area Fashion Tent. Hal ini tidak biasanya dilakukan, karena wartawan dan fotografer selama penyelenggaraan JFW seperti memiliki hak khusus untuk bisa tetap tinggal di dalam tenda untuk meliput peragaan busana selanjutnya atau tidak.

Dimintanya para fotografer dan wartawan untuk meninggalkan area tenda pada hari itu ternyata menjadi pertanda bahwa JFW 2013 kembali mengalami penundaan jadwal. Ya, terhitung sejak pukul 20.00 WIB tanggal 5 November 2012, JFW 2013 mengalami perubahan jadwal, dan Fashion Tent resmi ditutup. Sisa peragaan busana pada hari itu tidak ada yang dilangsungkan, selain Fashion Parade dari Matahari Dept Store yang mengalami pemindahan tempat di atrium.

Hari Keempat(Selasa, 6 November 2012):

Hari keempat penyelenggaraan JFW 2013 saya memutuskan untuk tidak hadir, dan saya punya dua alasan untuk itu. Pertama, kondisi tubuh saya yang mulai drop karena terlalu capek dan sempat kehujanan. Kedua, karena pada hari keempat JFW 2013, enam jadwal peragaan busana yang rencananya akan diadakan di Fashion Tent ditunda hingga batas waktu yang belum ditentukan. Sementara L’Oreal Professionnel “Retro Nouveau” yang menampilkan kolaborasi tata rambut dari L’Oreal dan busana dari Hian Tjen, Soko Wiyanto, dan Yogi Pratama tetap dilaksanakan pada pukul 13.00 di atrium.

Hari Kelima(Rabu, 7 November 2012):

Satu-satunya peragaan busana pindahan dari Fashion Tend yang diselenggarakan adalah peragaan busana dari Erasmus Huis, pusat kebudayaan Belanda, yang bekerja sama dengan tiga desainer muda berbakat, Lulu Lutfi Labibi, Sischaet Detta dan Iwan Amir. Peragaan busana ini tetap diselenggarakan di waktu yang sama, yakni pada pukul 13.00, hanya tempatnya saja yang pindah di atrium.

Sebenarnya saya ingin sekali menyaksikan peragaan busana ini, disamping tema menarik yang diangkat yakni “Revival of Batik Belanda”, saya juga penasaran dengan 24 set busana yang akan ditampilkan oleh Lulu Lutfi Labibi, seorang desainer pendatang baru yang bisa saya katakan sebagai “One of The Most Promising Newcomer Designer”. Tapi sayangnya saya tidak bisa datang pada peragaan busananya karena saya sekolah dan pas sekali ada jadwal les tambahan.

Hari Keenam(Kamis, 8 November 2012):

Finale ISIS

Finale ISIS

Finale Lenny Agustin "Paper Garden"

Finale Lenny Agustin “Paper Garden”

Toton The Label Bersama Dua Model-nya. Reti Ragil(kiri), dan Paula Verhoeven(kanan)

Toton The Label Bersama Dua Model-nya. Reti Ragil(kiri), dan Paula Verhoeven(kanan)

Di hari keenam JFW 2013 ada sebuah kabar baik yang resmi diterima. Kabar baik tersebut adalah kepastian tentang penyelenggaraan JFW 2013 dengan perubahan tempat dan pengumuman jadwal baru deretan peragaan busana yang sempat ditunda. Setelah Fashion Tent ditiadakan, panitia JFW 2013, memindahkan tempat peragaan busana di sebuah area baru yang dinamakan Fashion Loft. Fashion Loft bertempat di lantai 4 Plaza Senayan, satu lantai dengan XXI, dan menempati area eks. Bowling Plaza Senayan. Di area ini juga pernah dijadikan tempat terselenggaranya Brightspot Market.

Dengan diresmikannya “kamar baru” peragaan busana utama JFW 2013 ini, maka panitia juga resmi pengumumkan bahwa jadwal JFW 2013 untuk tanggal 8, dan 9 November tidak ada perubahan, hanya tempatnya saja yang berubah dari Fashion Tent ke Fashion Loft. Lalu bagaimana dengan deretan peragaan busana yang ditunda?. JFW 2013 membuat kebijakan bahwa pada tahun ini, JFW tidak diselenggarakan selama 7 hari tetapi mengalami pertambahan hari menjadi 10 hari pelaksanaan. Dengan ditambahnya hari penyelenggaraan JFW 2013, maka deretan peragaan busana yang sempat tertunda dibagi-bagi jadwalnya kedalam tiga hari penambahan tersebut.

Di hari keenam JFW 2013 saya datang baru pada peragaan busana dari ISIS, sebuah brand busana ready-to-wear yang dikepalai oleh Andrea Risjad dan Amot Syamsuri. Setelahnya pada hari itu berturut-turut saya menyaksikan peragaan busana dari Lenny Agustin yang dipersembahkan The Body Shop, Mazda Young Vibrant Designer yang menampilkan tiga nama desainer muda yaitu Friederich Herman, Toton The Label, dan Cynthia Tan, dan yang terakhir adalah peragaan busana dari Ardistia New York.

Hari Ketujuh(Jum’at, 9 November 2012):

IPMI "GLOBALINATION" oleh Liliana Lim

IPMI “GLOBALINATION” oleh Liliana Lim

IPMI "GLOBALINATION" oleh Denny Wirawan

IPMI “GLOBALINATION” oleh Denny Wirawan

Bagi saya, hari ketujuh ini adalah salah satu hari yang paling melelahkan. Saya sudah berada di Plaza Senayan sejak pukul 14.00, satu jam sebelum peragaan busana pertama dari LPM Graduates “The Stylemakers” berlangsung. Kenapa melelahkan?, karena belum apa-apa saya sudah harus berlari-lari kesana kemari, hari itu kebetulan saya ada tugas kecil-kecilan lain selain meliput, dan tugas itu yang membuat saya berlari kesana-kemari menunggu tamu-tamu undangan yang undangannya saya pegang.

Hari itu ada lima peragaan busana yang sedianya akan dilangsungkan di Fashion Loft, tetapi saya hanya menghadiri dua diantaranya, peragaan busana pertama dari LPM Graduates, IPMI “GLOBALINATION”, dan peragaan busana terakhir “Dewi Fashion Knights”. Hari itu saya memang sengaja tidak menyaksikan peragaan busana lainnya karena di hari itu ada tiga orang teman saya yang datang ikut menyaksikan JFW 2013. Saya sudah lama tidak bertemu dengan mereka, karena itu saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu beberapa jam setelah peragaan busana bersama mereka, sebelum saya kembali lagi ke dalam Fashion Loft untuk melihat bagaimana peragaan busana karya para desainer IPMI dan peragaan busana pamungkas JFW akan berlangsung, Dewi Fashion Knight.

Hari Kedelapan(Sabtu, 10 November 2012):

Tadinya saya tidak ingin meliput “beneran” peragaan busana yang terselenggara hari kedelapan JFW 2013 ini. Maksud saya meliput “beneran” adalah mengambil posisi di fotografer pit, mengabadikan gambar dan sekalian memerhatikan secara seksama apa saja yang terjadi di atas panggung peragaan busana untuk kemudian saya dokumentasikan dalam bentuk tulisan.

Ya, tadinya niat saya seperti itu, tetapi ternyata saya gagal memenuhi keinginan saya untuk duduk manis saja pada peragaan busana dari ESMOD karena saya sedikit telat. Lalu kembali gagal setelah peragaan busana “Puspawarni” dari sang maestro kebaya, Anne Avantie terlalu menggoda untuk dilewatkan hanya dengan duduk manis saja. Karena itu maka saya putuskan untuk tidak hanya duduk manis di satu blok khusus yang diperuntukkan bagi para pemburu berita. Dan hari kedelapan saya berada di JFW 2013 berakhir setelah peragaan busana “Puspawarni” oleh Anne Avantie.

Hari Kesembilan(Minggu, 11 November 2012):

Datang dan menyaksikan Pia Alisjahbana Award sebenarnya tidak menjadi salah satu agenda wajib bagi saya. Jujur, saya tidak begitu tertarik untuk menghadiri acara ini, meski saya pribadi sangat mengagumi sosok beliau sebagai salah satu penggerak industri mode di Indonesia. Tapi saya berubah pikiran ketika tahu dua orang teman baik saya, Gandis dan Merdi, akan hadir pada acara itu karena undangan khusus dari Femina Grup sebagai alumni ajang pemilihan Gadis Sampul. Karena saya jadi merasa “punya teman” jadi saya akhirnya datang dan menyaksikan Pia Alisjahbana Award.

Setelahnya secara berturut-turut saya melihat deretan koleksi teranyar dari Ivan Gunawan yang diberi judul “Mysterious Regal” dan peragaan busana dari Benten. Pada kedua peragaan busana itu, saya masih ditemani oleh kedua teman saya. Ah, harusnya mereka sering-sering datang ke JFW 2013 kemarin, setidaknya saat ada mereka saya jadi lebih semangat. Maklum, biasanya saya hanya sendirian saja ditengah keramaian…hahahaaa.

Hari Kesepuluh(Senin 12 November 2012):

Jakarta Fashion Week 2013 resmi sudah tidak menjadi “week” lagi dengan penyelenggaraan yang genap sepuluh hari. Beberapa hari sebelumnya, Pia Alisjahbana selaku CEO Femina Grup sempat mengatakan, Jakarta Fashion Week tahun ini mungkin memang tidak lagi jadi Fashion Week, beliau lebih senang mengatakannya sebagai “Ten Days of Fashion”.

Di hari kesepuluh ini, ada empat peragaan busana yang dilangsungkan. Keempatnya yaitu peragaan busana dari Hengky Kawilarang, CLEO Fashion Award, Sebastian Gunawan untuk Yayasan Jantung Indonesia dan IKAT Ind oleh Didiet Maulana. Di hari terakhir penyelenggaraan JFW 2013 ini, saya tidak sempat menghadiri semua sesi peragaan busana, saya hanya datang pada CLEO Fashion Award dan Sebastian Gunawan untuk Yayasan Jantung Indonesia. Setelahnya, saya lebih memilih untuk ngobrol macam-macam dengan teman saya yang sudah menyelesaikan tugasnya sebagai model grup B untuk peragaan busana Sebastian Gunawan.

Sekian rangkuman JFW 2013 dari saya. Untuk lebih detilnya, semoga bisa saya tuliskan segera. Ya, saya ingin sekali menulis tentang JFW 2013 per-peragaan busana. Doakan semoga lekas sempat ya. 🙂

Hari Ketiga JFW 2012 ; Kembali Membawa Kamera!. Yeaayyy!

Betapa bahagianya saat Poppie kembali meminjamkan kameranya pada saya. Thanks Poppie!

Hari ketiga JFW 2012 adalah hari Senin. Hari dimana biasanya saya tengah merasa malas setengah mati karena kembali ke rutinitas sehabis masa-masa weekend. Tapi hari Senin yang jatuh bertepatan dengan hari ketiga JFW 2012 itu berbeda, saya sungguh bahagia. Saya libur!. Benar-benar suatu keajaiban dunia yang sangat mengesankan karena saya memperoleh hari libur selama satu minggu dan bertepatan dengan moment JFW!.

Sejak pagi saya sudah mendalami jadwal JFW untuk hari Senin 14 November 2011 itu dengan sangat teliti. Rasanya saya ingin datang sejak pagi, supaya bisa lihat semua fashion show yang ada, tapi apa daya, deadline tulisan saya untuk show hari kedua JFW saja belum selesai, bagaimana saya bisa meninggalkan itu semua kemudian kembali lagi meliput?. Bisa-bisa pekerjaan semakin menumpuk.
Akhirnya saya memutuskan untuk datang pada fashion show keempat di tent pada hari itu, fashion show tunggal dari Agnes Budisurya, seorang desainer gaek yang karya telah beberapa kali saya lihat di fashion show yang diselenggarakan APPMI(Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia).

Saya tiba di tempat pada saat fashion show akan segera dimulai, sedikit panik, tapi untungnya saya masih bisa mendapatkan kursi di deretan paling depan. Yup, saat show tersebut saya hanya berniat nonton bukan ikut-ikutan sebagai juru foto yang memiliki markas di Photographer Pit.

Fashion show Agnes Budisurya dibuka oleh Desi Mulasari yang memakai outfit torso hitam, seperti lengging(atau memang legging ya?), dan jubah kain yang sangat lebar sehingga menyerupai sayap kelelawar. Dengan gerakkan teatrikal dan sedikit tarian, Mbak DesMul melangkah perlahan di atas catwalk dengan jubah kain yang melambai-lambai. Semua penonton pun terdiam, semuanya terpaku oleh gerak gerik DesMul yang begitu memukau. Pada klimaks aksinya, DesMul berlari di atas catwalk ditengah-tengah langkahnya kembali ke belakang panggung dan seketika tepuk tangan pun membahana ke segala penjuru fashion tent. Prok Prok Prok!.

Saya sangat menyukai fashion show dari Agnes Budisurya itu, saya suka semuanya, termasuk baju-baju yang ditampilkan. Gaun-gaun cantik yang kental akan nuansa tumbuh-tumbuhan yang akhirnya membuat saya berpikir bahwa Agnes Budisurya adalah seorang desainer pecinta alam yang gemar berkebun serta menanam beragam spesies tumbuh-tumbuhan. Namun sayangnya karena saya hanya menjadi penonton dari barisan kursi wartawan dan bukannya ikut-ikutan foto di photographer pit, maka saya tidak mempunyai foto yang jelas pada saat show tersebut. Karena hal itu pula, banyak detail yang terlupa akan fashion show tersebut.

Setelah fashion show dari Agnes Budisurya saya melewati fashion show tunggal dari Yasra Kebaya karena satu dan lain hal. Saya baru kembali menuju ke dalam tent pada saat fashion show dari Sebastian Gunawan akan dilangsungkan, tepat setelah fashion show Yasra Kebaya berakhir.

Pagelaran busana dari Sebastian Gunawan dibuka dengan penampilan khusus dari pemain harpa ternama, Maya Hasan. Mengenakan gaun malam berpotongan klasik karya Sebastian Gunawan, Maya Hasan memainkan instrumen dengan harpanya. Setelahnya, para wanita dari kalangan sosialita yang katanya peduli terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah tampil di atas panggung dengan membawakan busana rancangan Sebastian ala model profesional. Diantara para wanita cantik tersebut terselip Putri Indonesia tahun 2009, Zivanna Letisha Siregar, yang juga terpilih sebagai duta remaja Yayayasan Jantung Indonesia.

Dalam rangkaian koleksi karyanya kali ini, Sebastian Gunawan berkolaborasi dengan sang istri Christina, menghadirkan deretan koleksi terbaru dari lini SEBASTIAN. Pada koleksi ini Sebastian tetap mempertahankan ciri khasnya yakni busana-busana berpotongan klasik, ia kemudian menamai koleksinya “Charming Blend”. Gaun malam serta gaun cocktail dihadirkan dalam silluet gaya fesyen tahun 20-60 an. Warna-warna yang cenderung lembut seperti coklat muda, nude, abu-abu serta hitam menjadi pilihan utama Sebastian meski dalam satu dua busana terdapat warna yang cukup cerah seperti merah, hijau toscha, dan biru kehijauan.

Hari itu fashion show dari Oscar Lawalata yang berkolaborasi dengan Justin Smith yang merupakan milliner alias perancang topi dari Inggris terpilih untuk menjadi fashion show penutup. Oscar yang selama ini dikenal melalui kreasinya yang mengaplikasikan kain-kain tradisional kedalam potongan busana bernapas ready to wear duluxe yang kental kembali menerapkan racikan yang sama untuk fashion show yang ia beri judul “The Culture Incarnation” itu.

Beragam kain tradisional seperti batik, ikat, dan tenun diaplikasikan dengan teknik yang berbeda, sehingga menghasilkan formasi busana modern yang kaya akan detail, namun tetap terlihat simple dan sangat wearable. Untuk koleksinya kali ini, Oscar memlih untuk menggabungkan warna-warna cerah dan warna tanah yang lebih membumi dalam setiap potong busana. Beragam pilihan gaun pendek sampai dengan busana two piece yang menggabungkan celana panjang atau rok dengan atasan tanpa lengan serta kemeja berpotongan longgar adalah busana yang ditampilkan Oscar dalam kolaborasinya bersama Justin Smith.

Sementara itu, Justin Smith yang juga pemenang British Council’s UK Young Fashion Enterpreneur Award 2010 dan telah menampilkan topi rancangannya di Paris, Milan, dan Roma, menghadirkan kreasi hiasan kepala dan topi yang menerapkan unsur anyaman bambu, kain ikat, dan kulit. Kemudian karya dari keduanya dipertemukan dan dikemas menjadi satu outfit yang memunculkan rangkaian cerita sarat makna yang terinspirasi dari dinamika manusia modern yang tak lepas dari hiruk pikuk teknologi, namun sebenarnya haus akan unsur-unsur alamiah dalam kehidupannya.

Namun dari semua hal tersebut, jika ditanya apa hal yang paling tidak terlupakan dari hari itu, maka saya akan menjawab 3 hal yang tidak pernah terlupakan dari fashion show JFW hari ketiga.
1. Aksi Desi Mulasari saat fashion show Agnes Budisurya

2. Pinjaman kamera dari My Poppie(sebagian dari kalian tahu siapa Poppie saya itu) yang bikin saya bisa foto-foto show Sebastian Gunawan dan Oscar Lawalata menggunakan Cannon 1100 D dan itu membuat saya senang setengah mati karena saya dapat beberapa hasil foto yang at least lebih kece dari hasil foto biasanya dengan kamera pocket. Dan yang terakhir,

3. Hari itu adalah hari pertama saya nggak pulang ke rumah melainkan menginap di kosan salah dua teman saya yang tidak lain adalah model di JFW 2012 yang berlokasi di daerah Senopati. Jadi mulai hari itu saya tidak perlu bolak-balik Cibubur-Pasific Place selama JFW 2012 berlangsung!. Senangnyaaaaa….