ABG di Balik Runway Ada di Toko Buku!

Tanggal 21 Desember 2012 lalu, buku pertama gue rilis. Yup, setelah menunggu sekian lama, akhirnya “bayi” pertama gue yang unyu ini hadir di toko-toko buku.

Cover Buku ABG di Balik Runway

Cover Buku ABG di Balik Runway

Ketika buku ini resmi terbit dan ada di toko buku, perasaan gue campur aduk. Ramai sekali. Seperti ada karnaval disana, ada badut-badut lucu, ada kembang api, ada gulali. Penuh warna, penuh suara. Ramai. Mungkin yang bisa mengalahkan ramainya perasaan gue adalah ramai suara kembang api saat gue datang seharian penuh pada perayaan pesta ulang tahun Central Park karena percayalah puncak acara ini benar-benar ramai sekali, apalagi saat itu posisi gue ada tepat dibawah ledakan puluhan -atau mungkin ratusan- kembang api yang mewarnai langit diatas Tribeca Area Central Park.

Lalu jika yang jadi pertanyaan, cerita seperti apakah yang gue hadirkan di buku gue?. Gue nggak mau terlalu banyak bercerita, biar jadi kejutan ketika kalian membacanya. Hmmm…tapi gue akan memberi bocoran sedikit. Di buku gue kalian bisa menemukan kisah lain dari para model catwalk yang gue rasa baru pernah diungkapkan sekali, di buku gue. Salah satunya adalah kisah tentang masa lalu yang tidak menyenangkan. Jangan tanya kisah detilnya seperti apa, karena kalau yang itu biar gue ceritakan dalam buku saja, dan kalian bisa membacanya secara lengkap disana.

ABG di Balik Runway

ABG di Balik Runway

 

Ini dia sinopsis di belakang buku gue:

Umur gue baru lima belas tahun waktu hidup gue berubah 180 derajat, waktu gue mulai punya identitas ganda.

Ini gue di sekolah: objek keisengan anak-anak kelas sebelas. Gue bukan anak yang diem aja digituin, tapi mereka malah sering menjadikan respon gue sebagai bahan bercandaan lain, yang bikin gue eneg setengah mati. Gue di-bully, ya?

Ini gue yang satunya: sedang duduk manis di fashion show, di jejeran para pemburu berita. Sebagai wartawan gue jadi punya banyak teman baru yang bisa menghabiskan banyak waktu ngobrol sama gue, hang out sama gue, bercanda ketawa-tawa sama gue, kasih nasihat sampai mengajari banyak hal baru yang nggak gue tahu sebelumnya.

Sebentar, tadi gue sempat ngomong gue wartawan, ya?. Gue, wartawan?. Wartawan fashion?. Ini kayak mimpi, mimpi yang sejujurnya nggak pernah gue impikan akan terjadi.

 

“Ia menunjukan kejujurannya dari kacamata seorang ABG yang berada di antara kerumunan para fashionista dan dunia kami sebenarnya. Ringan dan renyah untuk dibaca”Dominique Diyose, Model

 

“Sebuah cerita yang membawa kita seakan-akan ikut merasakan petualangan si ABG in a wonderland. Polos, lugas, menarik dan berbeda…Wajib baca!!” –Renata Kusmanto, Model-

 

FYI: Buku gue sudah tersedia di toko-toko buku terdekat, termasuk Gramedia. Yup, kalian bisa ke toko buku Gramedia terdekat dan menemukan buku gue disana. Tetapi kalau kalian terbiasa membeli barang secara online atau sulit menemukannya di toko buku, kalian bisa coba membelinya di toko-toko buku online, bukabuku.com, kutubuku.com, inibuku.com, bukukita.com, starbuku.com, mizan.com dan lain sebagainya. Terimakasih 😀

ABG di Balik Runway: Dua Sisi Yang Belum Sempat Dibagi

My First Baby Book, ABG di Balik Runway 😀

Ada banyak hal yang belum pernah gue ceritakan ke kalian. Ada banyak kisah yang gue simpan sendirian. Banyak. Banyak sekali yang sesungguhnya nggak pengen-pengen banget untuk gue ceritakan karena beragam alasan. Mulai dari alasan yang personal, sampai alasan kalau gue nggak terlalu yakin semua itu penting untuk dibagi.

Tapi ternyata, apa yang nggak terlalu penting untuk gue, bisa jadi penting untuk orang lain, atau bisa pula sebaliknya, yang penting untuk orang lain belum tentu penting untuk gue. Banyak cerita gue yang sering gue anggap nggak penting-penting banget, tapi sekali lagi, gue yang anggap itu, bukan seorang teman gue bernama Ginatri S Noer atau yang biasa gue panggil Umma Gina.

Bisa dibilang, dialah orang pertama yang mengatakan kalau cerita gue menarik untuk diceritakan. Cerita gue, meskipun kadar penting nggak pentingnya masih diragukan, tapi bisa menjadi cerita yang menarik untuk diketahui orang banyak. Yeah, singkat kata, dia yang menyarankan gue untuk mengandung dan melahirkan anak pertama gue ini, ABG di Balik Runway.

Berbulan-bulan gue selalu menyesakkan premis si ABG di Balik Runway di dalam kepala gue. Berbulan-bulan gue berkutat dengan banyak hal tentang diri gue. Kenapa?. Karena ABG di Balik Runway adalah gue. ABG di Balik Runway adalah cerita tentang gue, si ABG pecicilan yang suka ngegangguin “kakak-kakak” tinggi menjulang di belakang panggung peragaan busana. Tapi bukan itu saja yang gue ceritakan, karena ABG di Balik Runway satu ini ternyata nggak selalu punya kehidupan semenyenangkan melihat peragaan busana di pekan-pekan mode nomor wahid di Jakarta. ABG satu ini nyatanya menyimpan satu sisi lain di kehidupannya yang nggak banyak orang tau, bullying.

Ya, ABG di Balik Runway ini sebenarnya nggak lebih dari anak korban bullying disekolahnya yang sering dijadikan bahan bercandaan kanan-kiri disekolah, yang sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan atas alasan dia sendiri nggak tau apa. ABG di Balik Runway itu, Gue. Gue di bully disekolah, itu bukan rahasia umum lagi, gue memang pernah mengalaminya. Gue bahkan sempat ada di masa gue berpikir kalau gue bisa gila terlalu lama di sekolah kalau saja gue nggak punya aktivitas lain selain belajar dan sekolah.

Yeah, gue bisa gila kalau gue hanya ABG biasa yang kerjanya cuma sekolah, bukan ABG di Balik Runway yang kerjanya juga mondar-mandir dari satu pagelaran busana ke pagelaran busana lain, nulis puluhan artikel tentang semua itu, menjalin hubungan baik dengan banyak orang yang gue temui di “dunia” lain gue, dan berteman dengan mereka.

Gue seperti punya dua sisi di hidup gue. Gue hidup di Bumi, gue ada dipertengahan Surga dan Nereka. Gue punya dua sisi di hidup ini, dua-duanya sangat berbeda. Yang satu selalu nyeret gue ke titik terendah, titik dimana gue ngerasa jadi orang nggak berguna, orang yang nggak pernah dilihat utuh, gue hanya setengah, bagi mereka. Dan yang satu lagi adalah sisi dimana gue bisa tertawa lepas, sisi dimana semua kebahagian yang gue dapat sesederhana mendapatkan perhatian dari seorang teman yang memberikan nasi kotak. Tapi lucunya, kedua sisi kehidupan yang sangat berbeda itu seakan berada di tempat yang tidak semestinya.

In The Make Up Box, My ABG di Balik Runway already “di Balik Runway” 😀

Dark side gue ada dilingkungan yang selama ini selalu di cap aman, sekolah. Sementara bright side gue ada dilingkungan yang sering dapat cap negatif penuh glamour dan hura-hura, fesyen. Hahahaaa…lucu ya?.

Kadang gue pikir hidup gue nggak menarik, kadang gue pikir hidup gue terlalu aneh, tapi setelah gue pikir-pikir lagi, nggak juga ya. Karena apa?. Karena yang nggak menarik buat gue, belum tentu nggak menarik untuk orang lain. Karena yang gue pikir aneh, kadang malah jadi hal yang bikin orang betah sebetah-betahnya mendengarkan atau membaca cerita gue. Ah aneh, hidup gue aneh, dan hidup ini lebih aneh lagi.

Hahahaaa…tapi siapa peduli?. Mau hidup ini aneh atau apa kek, hidup tetap aja hidup,  penuh air mata, penuh tawa, penuh cerita.

Dan ABG di Balik Runway adalah cerita dari gue, tentang dua sisi di hidup gue yang belum sempat gue bagi, dan tentang banyak hal yang masih tersembunyi.