Imperata Nomadechic ; Kali Ini Bukan Batik, Tapi Kain Tenun-lah Yang Dipilih Eddy Betty

Awalnya saya kira, Eddy Betty melalui lini keduanya, edbe(baca: e.di.bi), akan terus mengolah kain batik sebagai material andalan pada setiap potong busana siap pakai yang ia lansir. Namun ternyata hal ini terpatahkan ketika pagelaran teranyarnya, ia berpindah hati dari kain batik ke kain tenun.

“Imperata Nomadechic” edbe oleh Eddy Betty. Foto. Windy Sucipto

Oktober 2011 silam, saya berada di deret kursi terdepan yang disediakan untuk rekan media ketika lini kedua desainer Eddy Betty menyelenggarakan sebuah pagelaran busana koleksi teranyar. Koleksi berbahan batik tulis dengan konsep “padukan tanpa serasikan”, ia wujudkan ke lebih dari tujuh lusin set busana yang dipertontonkan pada malam itu.

Busana siap pakai dengan penggunaan kain batik sebagai material dasar mungkin akan terasa biasa saja, karena Eddy Betty melalui lini edbe bukanlah yang pertama merilis koleksi semacam itu. Namun, rangkaian koleksi berjudul “Love Is In The Air” yang ia lansir hampir setahun lalu, menjadi istimewa tatkala sang desainer mengaplikasikan motif-motif batik tulis yang ia pesan secara khusus dan tidak terikat pakem motif batik yang sudah ada.

Motif mainan anak-anak, telor paskah hingga boneka matryoska yang khas Rusia ia lukiskan pada puluhan pasang koleksinya. Warna-warna cerah yang ceria nan playful ia jadikan pengikat tiap pasang mata yang menyaksikan rangkaian koleksinya.

Meski dalam penyelenggaraannya, pagelaran busana edbe “Love Is In The Air” masih terdapat banyak kekurangan atau bagian yang miss, namun bagi saya, tiap potong koleksi yang dahulu ia suguhkan cukup meninggalkan kesan, karena batik ia reinkarnasikan menjadi sesuatu yang lebih seru, anak muda, “bandel”, tanpa meninggalkan pesona kain batik tulis yang khas.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Maria Titah. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe sekuens pertama. Model: Mareike Brenda. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Reti Ragil Riani. Foto: Windy Sucipto

Awal bulan Juni 2012, saya mendengar kabar bahwa edbe akan kembali merilis rangkaian koleksi terbarunya. Sebuah pagelaran busana pun ia siapkan dengan mengambil tempat di Grand Ballroom Hotel Ritz Carlton Pasific Place. Saat mengetahui hal tersebut, yang pertama kali mampir di otak saya adalah, batik.

Ya, batik. Edbe dan batik, saya rasa dua hal itu sulit terpisahkan. Tapi ternyata saya salah, kali ini tak lagi batik yang ia gadang, pilihan desainer yang pernah mengenyam pendidikan mode di Fleuri de la Porte dan Chambre Syndicale de la Couture Parisienne ini jatuh pada kain tenun bali dan tenun ende.

Bersama pasangan bisnisnya, Ley Sandjaja, Eddy Betty berkeinginan untuk mengangkat keindahan wastra nusantara yang begitu kaya melalui koleksi busana siap pakai yang edgy dan kaya akan muatan lokal dalam bingkai modernitas. Ia juga sempat mengatakan pada sesi pers conference bahwa koleksi dari lini edbe tidak akan terhenti pada batik saja, ataupun kain tenun, namun akan terus berlanjut ke material dasar lain seiring perjalanan hidup dan keragaman kain-kain nusantara lainnya.

“Imperata Nomadechic” atau yang bisa diterjemahkan sebagai“From Sunrise to Sunsite” adalah judul sekaligus tema besar yang ia usung pada rangkaian koleksinya kali ini. Bekerjasama dengan majalah Harpers Bazaar Indonesia dan MRA Group, pagelaran busana “Imperata Nomadechic” pun dikultuskan sebagai pagelaran busana pertama dari desainer Indonesia yang ditayangkan melalui live streaming di 6 situs premium kepunyaan MRA Group.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Prinka Cassy. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadehic” edbe, sekuens kedua. Model: Bunga Jelita. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Jenny Chang. Foto: Windy Sucipto

Jika membicarakan keseluruhan koleksi yang ditampilkan, pada “Imperata Nomadechic” ketiga sekuens memiliki garis besar koleksi yang serupa. Gaun pendek berpotongan lurus, gaun pendek bervolume dengan siluet menyerupai boneka matryoska, gaun asimetris, blus, kemeja, celana pendek sebatas paha, celana pendek ¾, celana jodhpur, celana panjang, hingga baju terusan(jumpsuit) seakan menjadi item wajib yang mesti ada pada setiap sekuens.

Tetapi yang menjadikannya lebih menarik dan jauh dari kata membosankan adalah konsep pembagian ke-114 set koleksi menjadi tiga sekuens utama, dimana masing-masing sekuens mewakili satu fase waktu utama sejak terbit hingga terbenamnya matahari yang terinterpretasikan melalui benang merah semburat warna yang hadir dalam setiap sekuens.

“Imperata Nomadehic” edbe, sekuens pertama. Model: Kelly Tandiono. Foto: Windy Sucipto

Dalam sekuens pertama, koleksi tenun dihadirkan dalam sentuhan warna-warna pagi yang cerah seperti biru, kuning, merah, hijau dan orange. Warna-warna inilah yang kemudian seolah melukiskan keindahan alam di kala matahari baru saja terbit di ufuk timur.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens kedua. Model: Hege Wollan. Foto: Windy Sucipto

Linen menjadi paduan yang apik bagi tenun Bali yang memiliki warna lebih lembut pada sekuens kedua. Di sekuens ini warna-warna yang lebih lembut seperti putih gading, hijau pupus, coklat muda dan abu-abu seakan menghadirkan semburat ketenangan jiwa ketika matahari berada di puncaknya. Seakan menepis terik yang sudah pasti terasa menyengat pada siang di negara tropis seperti Indonesia.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Hege Wollan. Foto: Windy Sucipto

Kesan mewah dalam warna-warna lebih gelap yang mendominasi koleksi adalah hal yang langsung tertangkap begitu memasuki sekuens ketiga. Kain tenun ende yang diolah menjadi 8 set busana pria dan 30 set busana wanita terlihat begitu memukau dalam warna-warna gelap yang mewakili keindahan kilau warna alam disaat senja ketika matahari merangkak naik menuju peraduan.

Mungkin sebagian dari mereka yang sering iseng menyatroni tulisan-tulisan di blog saya ini tidak akan lupa dengan sebuah tulisan saya mengenai pagelaran busana “Love Is In The Air” yang saya posting di tahun kemarin. Ada banyak hal yang mengganggu pikiran saya pada saat menyaksikan pagelaran busana tersebut. Hal yang kemudian saya tuangkan dalam sebuah tulisan berisi beberapa point kekecewaan saya terhadap pagelaran busana milik edbe itu. Mulai dari susunan koleksi, susunan keluarnya model, musik pengiring, hingga kesalahan MC saya jadikan bahan dalam tulisan saya. Lalu bagaimana dengan pagelaran busana edbe kali ini?.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Renata. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechi” edbe, sekuens kedua. Model: Filantropi. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Foto: Windy Sucipto

Pertama, susunan koleksi. Jika pada tahun lalu, konsep “Mix don’t Match” yang diusung edbe sedikit mengganggu saya karena malah memunculkan kesan ‘random’ pada susunan koleksi yang dimunculkan karena beberapa hal termasuk padupadan, urutan keluarnya busana dan juga konsep tabrak warna, pada “Imperata Nomadechic” hal itu tak lagi eksis.

Tema “From Sunshine To Sunsire” yang diangkat edbe pada tahun ini terinterpretasikan dengan sangat apik melalui sistem pembagian sekuens menjadi tiga fase waktu utama. Tone warna yang dihadirkan, garis potong yang ‘bebas’ dan ‘semaunya’ ala harajuku, serta konsep “Mix don’t Match” yang masih terus dimunculkan, terasa lebih nyaman serta jauh dari kesan “random”.

Saya pribadi sangat menyukai suasana yang terbangun ketika memasuki perpindahan sekuens kedua yang mewakili waktu siang menuju sekuens tiga yang mewakili keindahan dikala senja menjelang malam datang. Mulai dari multimedia visual, alunan musik, hingga ‘rasa’ pada koleksi yang ditampilkan terasa sangat pas untuk menggambarkan momen spesial yang tercipta ketika senja tiba.

Kedua, susunan keluar model dan model itu sendiri. Rapi, dan hampir sangat pas. Saya hanya merasa sedikit terganggu dengan 1-2 model yang karakternya terasa nanggung. Dikatakan androgini, tidak, tapi kalau tidak androgini kenapa bahasa tubuh dan pembawaan mengarah ke androgini. Saya jadi menangkap kesan “tanggung” pada si model yang saya sendiri tidak tahu siapa namanya.

Lantas selebihnya?. Saya rasa tidak ada lagi hal yang menganggu pikiran saya pada pagelaran busana milik edbe kali ini. Semuanya hampir sangat pas dan sempurna.

“Imperata Nomadechic” edbe.

“Imperata Nomadehic” edbe.

Secara keseluruhan saya merasa sangat nyaman dan jauh lebih menyukai pagelaran busana “Imperata Nomadechic” dibandingkan yang terdahulu karena bagi saya, konsep yang ada terasa lebih tereksekusi dengan baik dalam penyelenggaraan yang lebih tertata rapi.

Serta jangan lupakan dekorasi panggung lintasan catwalk yang pada bagian pangkalnya diberi rerumputan tinggi dan pada alas lintasan catwalk dilapisi oleh kayu. Terlihat sederhana dan tidak serumit beberapa pagelaran busana yang pernah terselenggara, namun hal itu sudah lebih dari cukup memperkuat konsep “From Sunrise To Sunsite” yang ingin dihadirkan.

Part 2 Bazaar Fashion Celebration 2011. Langgam Tiga Hati ; Perayaan Fesyen Berbalut Tradisi

“Obin Komara, Ghea Panggabean dan Eddy Betty Persembahkan Yang Terbaik Untuk Negeri. Totally Awesome Collection With Wonderful Show!”

Keroncong, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Keroncong memiliki tiga artian. Pertama, Keroncong dapat diartikan sebagai alat musik berupa gitar kecil berdawai empat atau lima. Kedua, Keroncong adalah irama atau langgam musik yang ciri khasnya terletak pada permainan alat musik Keroncong, yaitu kendang, selo, dan gitar melodi yang dimainkan secara beruntun. Ketiga, Keroncong merupakan jenis orkes yang terdiri atas biola, seruling, gitar, ukulele, banyo, selo, dan bass.

Tapi bagi saya pribadi terlepas dari bermacam penafsiran itu, Keroncong memiliki satu pemaknaan penting. Keroncong = Musik. Keroncong adalah satu jenis musik yang kemudian dipertegas sebagai musik asli kepunyaan Indonesia.

Yup Keroncong adalah musik asli kepunyaan Indonesia. Keroncong adalah musik asli serta salah satu pencapaian tertinggi dari para musisi Indonesia di masa lampau dalam bermusik. Keroncong tidak lain merupakan musik asli kepunyaan Indonesia hasil kreatifitas anak negeri bukan musik bawaan dari Portugis seperti yang selama ini banyak diketahui. Hal ini bukan tanpa dasar yang jelas, Keroncong diketahui sebagai musik asli Indonesia setelah Jay Subijakto selaku show director dan Erwin Gutawa sebagai music director Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” mengadakan sebuah riset panjang mengenai musik Keroncong di beberapa daerah di Indonesia yang disinyalir sebagai tempat-tempat awal munculnya musik Keroncong.

EdBe by Eddy Betty

Setelah pada tahun sebelumnya, Majalah Harper’s Bazaar Indonesia sukses menyelenggarakan sebuah pagelaran busana akbar dipadukan dengan live music layaknya sebuah mega konser dalam Bazaar Fashion Concerto, kali ini Majalah Harper’s Bazaar Indonesia melaksanakan sebuah pagelaran busana dari tiga orang desainer kenamaan Indonesia dalam balutan budaya serta tradisi yang kental tanpa melupakan ke khasan signature event Bazaar, fashion show dengan live music.

Keroncong sebagai salah satu musik asli Indonesia kemudian dipilih sebagai embrio utama dalam penyelenggaraan Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”. “Langgam Tiga Hati” yang menjadi tema besar dalam terselenggaranya acara ini memiliki arti tersendiri. Langgam memiliki arti irama, sementara tiga hati merupakan metamorfora dari tiga orang desainer yang ikut berpartisipasi dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Jika dirangkumkan secara keseluruhan, “Langgam Tiga Hati” mungkin dapat ditafsirkan sebagai penyatuan irama karya dari tiga desainer Indonesia dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Ketiga orang desainer yakni Obin Komara, Ghea Panggabean, dan Eddy Betty sempat mengatakan bahwa koleksi-koleksi yang mereka tampilkan pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah interpretasi masing-masing dari mereka saat mendengar kata keroncong.

Menjadi sangat menarik karena meski keroncong menjadi gagasan utama atas terselenggaranya acara ini, dan masing-masing desainer sepakat bahwa saat mendengar kata Keroncong yang terpikir adalah tentang budaya, serta tradisi, namun ketiganya menghadirkan koleksi busana yang amat berbeda satu sama lain. Busana ready to wear berbahan batik, sampai gaun malam model cheongsam menjadi interpretasi tersendiri.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Terbagi atas 5 sekuens parade busana, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 terlebih dahulu dibuka dengan parade busana Sariayu “Etnika Nusa Tenggara” oleh Deden Siswanto yang seolah menjadi sajian pembuka sebelum sampai kepada sajian utama “Langgam Tiga Hati”. Pada rangkaian koleksinya untuk Sariayu ini, Deden mengolah kain-kain tradisional khas Nusa Tenggara dalam busana yang kaya akan  detail dan beragam tekstur bahan.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Parade busana Sariayu ini sekaligus pertanda diluncurkannya 26 trend warna 2012 “Etnika Nusa Tenggara” dari Sariayu.

EdBe oleh Eddy Betty

EdBe oleh Eddy Betty with Darell Ferhostan as Model

Setelahnya, serangkaian koleksi busana ready to wear dari EdBe(baca: edibi) yang merupakan lini kedua milik Eddy Betty hadir sebagai pembuka pagelaran busana utama “Langgam Tiga Hati”. Awalnya saat pertama kali tahu bahwa Eddy Betty akan menampilkan koleksi dari lini EdBe, saya mengira koleksi yang akan ditampilkan ini adalah koleksi yang sama seperti yang pernah ia tampilkan pada pagelaran busana tunggal EdBe “Love Is The Air”, mengingat jarak waktu yang sangat singkat dari pagelaran busana tersebut, tapi ternyata tidak. Koleksi yang ditampilkan Eddy Betty ini sebagian besar adalah koleksi baru meski ada beberapa koleksi lama, namun dengan padupadan berfilosofi “Mix Don’t Match” yang dianut EdBe hal ini tidak terlalu terlihat.

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Reti Ragil Riani

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Filantropi

Untuk koleksinya ini EdBe menghadirkan Batik Kudus sebagai material dasar pada tiap potong busana. Palet warna-warna menyolok serta cutting asimetris ala harajuku yang jadi ciri khas EdBe kemudian ditampilkan dengan tabrak warna dan motif. Make up para model yang dibuat sedikit gothic dan “berantakkan” serta aksesoris pelengkap seperti gelang yang melilit pada tangan para model membuat rangkaian koleksi EdBe yang ia beri judul “Loves Batik Kudus” terlihat semakin menarik serta terkesan sangat anak muda dan funky.

Ghea Panggabean

Ghea Couture oleh Ghea Panggabean. Model: Drina Ciputra

Ghea Panggabean membagi sekuens parade busananya menjadi tiga sub sekuens. Ia membuat parade busananya layaknya drama tiga babak tentang perjalanan hidup Oei Hui Lan. Oei Hui Lan sendiri adalah seorang Putri Raja Gula dari Semarang yang memiliki kisah hidup tragis.

Sebagai putri orang terkaya di Indonesia juga di Asia Tenggara saat itu, Oei Hui Lan justru memilih cara bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Kisah tragis dari Oei Hui Lan inilah yang kemudian menginspirasi Ghea dalam rangkaian koleksi terbarunya. Kisah hidup Oei Hui Lan yang terjadi sekitar tahun 1920an adalah interpretasi Ghea terhadap musik Keroncong yang juga mulai dikenal luas pada masa-masa itu.

Salah satu koleksi di sekuens 1 Ghea Panggabean

Drama tiga babak hidup Oei Hui Lan dijabarkan dalam tiga sekuens parade busana yang pada masing-masing sekuens terasa amat berbeda meski memiliki satu benang merah yang sama yakni nuansa oriental yang sangat kental.

Sekuens 1 Ghea Panggabean. Model: Ayu Faradilla

Pada babak atau sekuens pertama, set busana cocktail dengan motif sulam dan bunga-bunga serta sentuhan gaya bohemian  berpadu dengan nuansa oriental menjadi gambaran dari romantika masa-masa awal hidup Oei Hui Lan selama di Indonesia.

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model : Kelly Tandiono

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model: Juanita Haryadi

Motif-motif keramik porselen khas Negeri Tirai Bambu yang sejak lama telah dikenal sebagai salah satu trade mark budaya Tiongkok yang sangat akrab dengan kehidupan Oei Hui Lan dihadirkan sebagai inspirasi utama pada sekuens kedua.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Dramatisasi Antie Damayanti

Babak terakhir dalam drama tiga babak kisah hidup Oei Hui Lan adalah sekuens yang bagi saya pribadi tidak akan pernah terlupakan. Diiringi lagu “Surya Tenggelam” milik mendiang Chrisye, aura magis pada sekuens ini benar-benar terasa.Terlebih lagi saat Antie Damayanti, salah seorang model pada sekuens Ghea muncul di atas panggung dengan sebuah koreografi yang begitu dramatis yang seolah menggambarkan kisah hidup penuh drama yang dijalani Oei Hui Lan.

Tidak berhenti sampai disitu, Dominique Diyose yang kemudian tampil dipanggung mengenakan sebuah payung yang tertutup kelambu hitam seperti menyerupai perumpamaan penampakkan hantu Oei Hui Lan yang kabarnya sering terlihat di hotel keluarga Oei Hui Lan.

Dominique Diyose, "Hantu" Oei Hui Lan

Bagi saya, sekuens ini lebih menyerupai kisah kematian Oei Hui Lan yang tragis dibandingkan dengan interpretasi  gaya hidup jetset super mewah yang dijalani Oei Hui Lan semasa hidupnya. Pada sekuens ini saya lebih membayangkan cerita kematian Oei Hui Lan yang tragis serta cerita seram tentang hantu Oei Hui Lan yang konon sering menampakkan diri di hotel keluarga di Semarang.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Dominique Diyose

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Prinka Cassy

Secara keseluruhan sekuens yang menghadirkan koleksi gaun malam dari lini teranyar Ghea Panggabean yang ia beri nama Ghea Couture ini adalah sekuens yang paling menyita perhatian saya. Gaun-gaun malam dengan dominasi warna hitam ditambah motif-motif bordir bernuansa oriental yang disajikan dalam warna emas menambah kekuatan drama dalam sekuens ini.

BIN HOUSE Oleh Obin Komara

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Kimmy Jayanti

Jika pada tahun sebelumnya koleksi dari BIN HOUSE untuk Bazaar Fashion Concerto diwakili oleh Wita, pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini BIN House diwakili langsung oleh sang pendiri, Obin Komara.

Lebih senang disebut sebagai “tukang kain”, Obin Komara mempersembahkan 15 koleksi busana. Pada koleksinya kali ini BIN HOUSE bermain-main dengan cutting jas pada kebaya. Beragam kain-kain cantik yang selalu jadi andalan BIN House diwujudkan dalam kebaya-kebaya  bersilluet modern dengan teknik tripping dan stitching yang memperkuat tekstur serta karakter kain.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Ines Arieza

Meski menjadi desainer yang paling sedikit mengeluarkan koleksi pada moment ini, keseluruhan koleksi dari Obin Komara untuk BIN HOUSE menjadi sangat menarik dengan arahan koreografi centil bagi setiap model pada sekuens BIN HOUSE.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Evie Mulya

Permainan kain dari beberapa model seperti Kimmy Jayanti, Evie Mulya, dan Ines Arieza juga menambah point plus dalam sekuens BIN HOUSE.

Eddy Betty

Eddy Betty. Model: Nien Indriyati

Eddy Betty tidak hanya menampilkan lini EdBe yang selama ini ia khususkan untuk busana-busana batik ready to wear, pada Sariayu Bazaar fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini ia juga mempertontonkan koleksi teranyar dari lini utamanya, Eddy Betty. Ia kemudian memilih bintang Hollywood legendaries, Elizabeth Taylor sebagai inspirasi utama karyanya. Melalui koleksinya ia seolah  membayangkan lambing glamoritas Hollywood yang ikonis ini ditempatkan dalam sebuah scene pertunjukkan Keroncong di Broadway, ditengah musim dingin sambil mengenakan kebaya cantik nan mewah.

Eddy Betty. Model: Dea Nabila

Suhu rendah pada musim dingin tidak lagi menjadi halangan ketika Eddy Betty menambahkan aksen penghangat berupa bulu-bulu, coat, dan mantel yang terbuat dari kulit hewan berbulu tebal namun terlihat sangat lembut.

Tidak hanya menampilkan kebaya yang berpadu dengan aksen penghangat, pada sekuensnya, Eddy Betty turut menampilkan beberapa koleksi kebaya yang ia desain khusus untuk pernikahan. Salah satu kebaya untuk pernikahan yang ia tampilkan adalah kebaya yang ia desain untuk pernikahan model cantik Laura Basuki beberapa waktu lalu. Kebaya pernikahan tersebut dibawakan langsung oleh sang mempelai, Laura Basuki.

Eddy Betty. Model: Laura Basuki

Bagi saya, secara keseluruhan, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah satu kesatuan karya masterpiece dari semua yang terlibat didalamnya. Terlepas dari beberapa kekurangan yang masih terdapat dalam penyelenggaraannya, Sariayu Bazaar Fashion Celebration meninggalkan kesan mendalam yang tidak akan terlupakan,dan membuat saya semakin menantikan acara tahunan ini di tahun mendatang.

Prinka Cassy ; West Look Indonesian Model, The Newcomer!

For sure All, ajaklah dia berbicara bahasa Indonesia, dia bukan Bule.

Tidak banyak model pendatang baru alias newcomer yang memiliki karir cemerlang di tahun-tahun awal kemunculannya dalam jagad fesyen Indonesia. Dari belasan nama model newcomer yang ada, rasanya mereka yang memiliki karir mencorong jumlahnya bisa dihitung dengan jari disatu tangan. Tidak mengherankan memang hal seperti itu terjadi, terlebih jika kita melihat peta persaingan model catwalk yang sangat ketat, ditambah dengan ekspansi model-model import yang semakin menggila belakangan ini.
Lalu terdengarlah nama Prinka Cassy, seorang model berwajah Londo yang namanya sempat menjadi buah bibir atas segala pencapaiannya yang terbilang tidak biasa di dua tahun karirnya. Dua tahun karir yang segera melesatkan Prinka ke dalam jejeran model papan atas Indonesia.

Prinka Cassy Pertiwi adalah seorang model berkewarganegaraan Indonesia yang memiliki darah campuran Manado-Sunda-Belanda. Kewarganergaraan Prinka saya rasa memang harus di bold seperti itu karena tidak hanya ada satu dua kasus orang-orang yang mengira bahwa model yang memiliki warna rambut dark brown ini adalah model import alias bule yang kini semakin marak berseliweran di panggung mode Indonesia. Padahal Prinka yang kerap menjadi model langganan desainer Ghea Panggabean ini sangatlah Indonesia dibalik wajah bule yang ia miliki, mulai dari cara dan gaya bicara, sampai attitude di atas catwalk.

Prinka memulai kariernya dengan mengikuti ajang pemilihan model “Gading Model Search” pada tahun 2009 dan memperoleh juara ketiga dalam ajang pemilihan tersebut. Sebagai model Indo, Prinka memiliki raut wajah yang unik serta berbeda dari para model berdarah campuran kebanyakkan. Hal tersebut menjadi salah satu kelebihan Prinka diantara para model lainnya, disamping tubuh proporsional dengan tinggi 179cm dan berat 53kg yang ia miliki. Dengan semua kelebihan yang ia miliki, tak heran bila sulung dari tiga bersaudara ini masuk dalam jejeran model pendatang baru alias newcomer yang patut diperhitungkan. Sosoknya kini sangat mudah dijumpai diberbagai pagelaran fashion para designer ternama seperti Biyan, Sebastian Gunawan, Priyo Oktaviano, dan Ghea Panggabean.

Desainer Ghea Panggabean yang terkenal akan rancangan-rancangan berbau etniknya bahkan sempat memboyong Prinka pada pagelaran fashionnya “The Splendor of Indonesia” di Milan, Italia pada Oktober 2010 lalu. Selain itu, gadis bermata sayu kelahiran Jakarta, 26 November 1991 ini juga terpilih sebagai Face Icon Jakarta Fashion and food Festival 2011. Dan yang terpenting adalah semua itu dicapainya dalam waktu kurang dari dua tahun karirnya dalam dunia modeling Indonesia!. Sebuah pencapaian yang terbilang sangat mengesankan untuk ukuran seorang model newcomer di Indonesia.

Disela-sela kesibukkannya sebagai model catwalk, serta aktivitas lainnya, Prinka masih menyempatkan diri untuk menekuni salah satu hobi favoritnya yakni membaca buku-buku yang berhubungan dengan sejarah dan biografi orang-orang terkenal.

Teks: Armadina
Foto :
-Windy Sucipto
-AMICA Indonesia
-Doc Pribadi
-Facebook Prinka Cassy

(Bukan) Catatan Kecil JFFF Bagian 2

Sialll…ternyata saya nggak bisa nepatin apa yang saya bicarakan ke diri saya sendiri kalau saya ingin menyelesaikan bagian kedua ini hanya selang 1 hari dari yang bagian pertama. Niat awal buyar byarrr…dan barulah sekarang ini saya melanjutkan catatan selama JFFF. Gila, ternyata memang susah nepatin janji ke diri sendiri dibandingkan ke orang lain. Mungkin karena kalau ke diri sendiri kita (termasuk saya) sering lebih menggampangkan ya?.

Pada catatan saya yang pertama, saya lebih mengambil sudut pandang cerita dari beberapa fashion show yang saya datang disana, pada catatan kedua ini, walau tetap mondar-mandir show, tapi saya lebih ingin membahas tentang printilan (ini bahasa yang lebih enaknya apa ya?) yang bisa dibilang mengganggu pikiran saya selama JFFF berlangsung. Mengganggu disini adalah mengganggu karena saya jadi kepikiran terus selama JFFF kemarin  dan sampai sekarang.

Setelah hari ke 5 JFFF saya sempat absen selama 4 hari disana. Tepatnya saya absen datang di tanggal 19, 20, 21, 22. Bukan tanpa alasan saya absen datang kesana. Kalau mau dirunut ada beberapa alasan yang bikin saya 1. Males, 2. Nggak niat, dan akhirnya berakhir di 3. Nggak jadi dateng. Saya nggak akan bahas alasan-alasan itu disini, hmmm…males aja diinget-inget lagi apalagi salah satunya gara-gara si Bapak Designer Terhomat…blah!. Ouppsss keceplosan…-____-.

Empat hari absen dari JFFF saya kembali melakoni perjalan Cibubur-Kelapa Gading di tanggal 23, 24, dan Closing Night di tanggal 25. Dan inilah cerita selama tanggal-tanggal tersebut. Cerita tentang printilan (ini bahasa enaknya apa sih?, printilan apa ya?) JFFF 2011 yang mengganggu pikiran saya.

Si Nona Face Icon

JFFF sejak awal pelaksanaannya memang nggak bisa terlepas dari yang namanya Face Icon yang tidak lain adalah semacam ambassador selama JFFF berlangsung. Face Icon yang dipilih JFFF selalu always, tidak pernah never, pasti diambil dari kalangan model catwalk. Mereka yang terpilih sebagai Face Icon adalah para model papan atas Indonesia yang memiliki karakter serta keunikan tersendiri yang dianggap sesuai dengan tema yang diusung pada tahun tersebut. Di delapan kali penyelenggaraannya, urutan face Icon JFFF adalah Arzeti Bilbina(2004), Alannys(2005), Karenina(2006), Dominique Diyose(2007), Fahrani(2008), Paula Verhoeven(2009),  Laura Muljadi(2010), dan ditahun 2011 ini Prinka Cassy lah yang dipilih sebagai Face Icon.

Dan saya, pertama kali tahu Prinka sebagai Face Icon JFFF 2011 komentar saya adalah, “Why Prinka?”. Kenapa Prinka yang jadi Face Icon JFFF 2011?. Kenapa?, kenapa?, kenapa?. Pertanyaan-pertanyaan tentang kenapa Prinka?, itu datang begitu aja dalam kepala saya. Lumayan mengganggu dan bikin saya terus-terusan mikir “Why Prinka?”, selama hari-hari awal JFFF 2011.

Mungkin kamu akan balas pertanyaan saya dengan, “Emang kenapa kalau Prinka?”, mungkin itu dengan nada sinis(hmmm…bukan sinis juga sih tapi lebih ke, gimana ya?, ya seperti orang ngomong, “Emang kenapa sih?) atau semacamnya. Well, nggak masalah juga sih kalau kamu seperti itu, itu wajar kok, sewajar timbulnya pertanyaan-pertanyaan yang tercipta ketika seseorang dipilih menjadi duta/ambassador/brand atau sejenisnya, pasti kita juga akan langsung bertanya-tanya, kenapa dia?, kenapa nggak si A?, atau, kenapa nggak si B?. Apalagi kalau kita berpikirnya secara subjektif kepada orangnya, bukan objektif dari kapasitas atau kemampuan atau pertimbangan lainnya.

Lalu kenapa saya bingung saat tau Prinka jadi Face Icon adalah karena, 1. Prinka masih tergolong newcomer di modeling, 2. Mukanya terlalu bule sampe banyak yang kira dia bule beneran padahal Prinka itu bukan bule totok, dia indo, 3. Belum banyak yang tau tentang Prinka, dan dia juga belum terlalu menonjol diantara model-model catwalk lainnya meski memang karirnya sedang “naik” dan punya progress yang bagus.
Saya pun berpikir kenapa nggak si *sensor* ya yang jadi Face Icon?, secara dia lagi hitzzz berat?, wajahnya juga eksotis. Atau kenapa nggak si *sensor* ya?, dia kan new model of the year versi majalah ini itu, mukanya juga nggak bule walau keliatan juga ada darah lain dalam tubuhnya. Kenapa Prinka ya?.

Jujur aja, saya sama sekali bukan bermaksud mencari kekurangan Prinka, buat apa juga?, saya nggak pernah ada masalah sama dia. Malah saya kenal dia, walau nggak terlalu akrab tapi yang selama ini saya rasa dia anaknya baik, dan respect banget sama orang walau keliatan pemalu. Tapi ya tetap aja terpilihnya Prinka sebagai Face Icon pada awalnya bikin saya bingung.

Pelan-pelan saya coba menguraikan, “Why Prinka?” dalam kepala saya. Dan setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin inilah alasan kenapa Prinka dipilih sebagai Face Icon. Inilah hipotesis yang saya ciptakan tentang terpilihnya Prinka :

1. Prinka saat ini adalah salah satu newcomer dunia modeling yang karirnya semakin kinclong berkat wajah Indo, tinggi badan oke(179 cm menurut buku panduan JFFF), dan yang paling penting adalah Prinka tidak lain dan tidak bukan merupakan pemenang 3 Gading Model Search 2009. Dan setelah selidik punya selidik, dipilihnya Prinka juga karena ingin menaikkan citra GMS karena Prinka adalah alumni GMS yang karirnya saat ini paling bagus di umurnya yang baru 19 tahun.

2. Wajah bule Prinka mungkin memang sengaja ditonjolkan untuk lebih mengangkat tema “Inculturation” dari JFFF 2011. Karena Inculturation sendiri berarti percampuran, dan wajah bule Prinka pun dimunculkan untuk menarik kesan sesuatu yang Indonesia (lebih kepada busana) sangat bisa diterima oleh dunia barat (ya kalau masih menganggap Prinka bule, kan berarti dia dari Barat dong ya). Berarti masih bagus mereka pilih Prinka daripada mereka pilih bule beneran, hadehhhh nggak banget deh, lebih oke Prinka kemana-mana daripada bule beneran sekeren apapun tuh bule tetep aja dia bule, dan Prinka meski wajah bule dia itu Indonesia (seenggaknya berwarganegara Indonesia).

3. Kenapa nggak si *sensor* yang lagi hitzzz dan naik daun itu?, mungkin karena…Dia sengaja disimpen untuk tahun depan, dan tahun ini, Time to The Only One Prinka Cassy Pertiwi…:P

Ngomongin Prinka, bukan maksud untuk ngegosip juga atau sok tau, tapi saat saya bertemu dia di malam pembukaan JFFF selesai Show Anne Avantie saya kok ngerasa gimana gitu ke Prinka. Gimana ya?, sedih aja. Entah kenapa saya ngerasa Prinka nggak pede jadi Face Icon (mungkin di awal-awal doang ya), kasian juga, mungkin dia nggak pede karena wajahnya yang bule banget itu jadi Face Icon. Mungkin dia udah denger komentar-komentar yang agak nggak enakin tentang dipilihnya dia dan muka bulenya itu.

Saya sebenernya pengen ngobrolin itu ke dia, tapi akhirnya nggak sempet karena ribet juga waktu itu. Saya mau bilang ke Prinka, “Kalau kamu yang dipilih jadi Face Icon, itu kan bukan berarti tanpa sebab. Nggak mungkin pihak JFFF asal pilih, mereka pilih kamu karena kamu memang layak ditempatkan sebagai Face Icon karena mereka anggap kamu mampu mewakili apa yang ingin mereka sampaikan. Komentar-komentar kurang enak dan pertanyaan-pertanyaan tentang “kenapa kamu?” itu wajar. Cuek ajalah, yang penting kamu Do The Best dan buktiin kalau memang JFFF nggak salah pilih kamu sebagai Face Icon. Kamu yang terbaik, untuk JFFF tahun ini Prinka”. 🙂

Siaran Ulangan

Salah satu alasan saya bela-belain dateng lagi di JFFF 2011 pada tanggal 23 salah satunya adalah Sebastian Gunawan. Saya penasaran pengen lihat seperti apa koleksi terbaru dari second line Seba, Votum. Jadilah saya balik lagi ke JFFF di hari itu meski capek banget  baru pulang sore seperti biasa. Tapi bagi saya itu nggak masalah demi lihat fashion show koleksi designer yang langsung bikin saya jatuh cinta dengan rancangannya sejak pertama kali lihat di Opening Night Jakarta Fashion Week 2009, fashion show pertama yang saya datang langsung.

Dan ternyataaa saudara-saudara…penonton kuciwaaa karena fashion show kali ini bukan koleksi terbaru Seba melainkan koleksi-koleksi yang sebelumnya pernah ia tampilkan juga di Plaza Indonesia Fashion Week sekitar bulan Maret kemarin. Jadilah fashion show hari itu sebagai fashion show ulangan.


Nggak hanya berhenti sampai di show Seba, show esok harinya, “Juxtapose” oleh Didi Budiardjo pun adalah siaran ulangan dari koleksi-koleksi nya yang pernah ia pamerkan di Opening Night Fashion Nation Senayan City dan Bazaar Wedding Exhibition. Meski begitu, secara jujur saya katakan bahwa saya nggak terlalu kecewa datang ke 2 fashion show itu karena saya sukaaa rancangan kedua-duanya, meski sudah pernah liat, saya nggak masalah harus liat itu lagi. Pengemasan yang beda, susunan model yang beda, musik yang beda, suasana yang beda, bikin semua itu jadi menarik lagi.

Sepatu Go Killllll di Hari Terakhir!

“Besok sepatunya gila banget. Mau mati gue”,
Saya nggak bisa menghilangkan komentar salah satu model itu dari otak saya. Komentar yang bikin saya benar-benar penasaran seperti apa bentuk si sepatu gila yang bikin model satu ini mau mati. Apa sampe segitunya ya?. Saya langsung membayangkan dan mengira-ngira seperti apa sih bentuk si sepatu yang katanya bikin gila itu. Hmmmm…memang bukan sekali ini saja sih ada kasus sepatu yang bikin stress para model. Sebelum-sebelumnya juga ada sepatu-sepatu yang dibuat secara nggak masuk akal. Ya habis, sepatunya superrrr tinggi, mengerikan dan berat pula (dibuat dari kayu soalnya, hmmm kayak wedges versi ekstrem).

Berbekal rasa penasaran akan bentuk si sepatu yang katanya bikin gila dan rasa sayang melewati fashion show hari terakhir di JFFF 2011, berangkatlah saya menuju Harris Hotel Kelapa Gading untuk menyaksikan si sepatu dan tentunya fashion show “Inculturation, Patola Kamba Menandang” oleh Adrian Gan.

Dan ternyata…Ya Tuhaannnn…I Feel what the model feel…The Shoes make me crazy at the first sight. Itu sepatu, saya nggak ngerti kenapa bisa ada sepatu kayak gitu bentuknya. Bingung saya, siapa coba yang mau pakai sepatu kayak begitu dalam kondisi biasa?, bukan sebagai properti show. Saya yang hanya melihatnya saja sampai stress sendiri dan dalam hati berdoa komat kamit semoga nggak ada model yang jatoh-jatoh (nggak kebayang deh sakitnya kayak apa kalau jatoh, apalagi malunya), gimana yang make langsung coba?.

For sureee….Itu sepatu bener-bener bikin saya ikutan stress sampai saya punya keyakinan yang sangat kalau seandainya sepatu itu dipakai untuk nimpuk orang, orang tersebut sekurang-kurangnya akan mengalami gegar otak menengah keatas.

 Baiklah inilah akhir dari Catatan bagian 2…
Saya belum tau juga sih akan ada bagian 3 atau nggak…
Tapi saya rasa untuk sementara ini cukup sampai disini…
Baiklah teman-teman…Sekian dan Terimakasih….:)