“Tale of The Goddess” ; Dongeng Sang Dewi Dari Lima Ksatria Mode Indonesia

Lima ksatria mode diberikan satu benang merah. Kelimanya diminta untuk menerjemahkan sosok “dewi” dalam koleksi busana pamungkasnya. Lima ksatria menyusun strategi, coba melukisan “dewi” dalam interpretasi tersendiri. Lima cerita tentang sosok “dewi” disuguhkan. Kelima ksatria mode seolah mendongeng dengan caranya masing-masing. Penasaran?

Pidato Penutupan Jakarta Fashion Week 2014 oleh Svida Alisjahbana

Pidato Penutupan Jakarta Fashion Week 2014 oleh Svida Alisjahbana

Dewi Fashion Knights bukan lagi sekadar peragaan busana penutup rangkaian Jakarta Fashion Week setiap tahunnya. Bukan lagi hanya sebatas ajang pameran karya para “ksatria mode” Indonesia. Bukan juga sebuah pesta mode yang selesai tuntas dalam satu malam perayaan. Lebih dari itu, bagi saya, Dewi Fashion Knights telah menjelma sebagai legenda dalam setiap penyelenggaraan Jakarta Fashion Week.

Desainer mode Indonesia terpilih. Karya busana mutakhir yang mengundang decak kagum. Barisan model peraga busana yang dipilih secara teliti. Konsep matang yang dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Tim koreografer jempolan yang ditugaskan khusus untuk mengeksekusi jalannya acara. Bila dirangkumkan, semua hal tadi tak lain adalah formula esensial dalam mencipta Dewi Fashion Knights sebagai legenda peragaan busana di Jakarta Fashion Week.

Namun terlepas dari semua itu ada beberapa hal penting lainnya yang menjadikan Dewi Fashion Knights layaknya legenda di Jakarta Fashion Week. Bagi saya, gelar legenda patut disematkan pada Dewi Fashion Knights karena peragaan mode ini adalah salah satu barometer terpenting dunia mode Indonesia yang mampu merepresentasikan karya visioner para desainer mode Indonesia terpilih. Dalam tahun-tahun pelaksanaannya, pecinta mode acap dibuat terperangah oleh karya busana mengagumkan yang ditampilkan. Tapi kadang, Dewi Fashion Knights juga meninggalkan kontroversi tersendiri mengenai ksatria mode yang dipinang atau karya busana yang ditampilkan. Lalu, jadilah peragaan busana pamungkas ini sebagai buah bibir yang terlalu menarik bila hanya dibicarakan semalaman, begitu pula pada perhelatannya di tahun ini.

Dewi Fashion Knights "Galore"

Dewi Fashion Knights “Galore”

Membicarakan Dewi fashion Knights tentu tidak bisa lepas dari nama-nama desainer mode yang dipinang sebagai “ksatria” di dalamnya. Ya, ksatria, sesuai dengan nama gelaran ini, para desainer mode yang dipilih untuk menampilkan karyanya dalam Dewi Fashion Knights lantas diberi gelar “ksatria mode”. Setelah di tahun sebelumnya, Dewi Fashion Knights menghadirkan Sapto Djojokartiko, Ghea Panggabean, Oscar Lawalata, Priyo Oktaviano dan Deden Siswanto, pada tahun 2013 ini, Dewi Fashion Knights hanya mempertahankan Priyo Oktaviano dan Oscar Lawalata dalam jajaran ksatria mode yang turut berpartisipasi, sementara Toton Januar, Populo Batik adalah nama baru yang dipinang Dewi Fashion Nights melengkapi kembalinya Tex Saverio dalam singgasana ksatria mode Indonesia.

Mengusung tema “Tale of The Goddess” lima ksatria mode diminta untuk menginterpretasikan definisi “dewi” sebagai sosok wanita modern dari kacamata kreatifitas masing-masing. Berangkat darisana kelimanya pun merangkai cerita yang bersumber pada interpretasi mereka tentang sang “dewi”, lalu mentransformasikannya ke dalam  koleksi busana yang dipersembahkan khusus untuk Dewi Fashion Knights. Dan inilah para ksatria serta kisah mereka tentang sang “dewi” :

Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Finale Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Finale Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Tampil sebagai pembuka Dewi Fashion Knights, Oscar Lawalata mengisahkan “dewi” yang ada dalam kepalanya dalam rangka imajinasi indah namun misterius layaknya keadaan galaksi di angkasa luas. Nama galaksi tetangga Bimasakti, Andromeda, pun ikut disematkan pada tajuk untuk koleksi busananya, “My Name is Andromeda”. Sisi kekuatan dan kelemahan yang ada dalam sosok wanita ia ibaratkan layaknya peleburan galaksi yang misterius dan memiliki dua citra utama sebagai tempat yang asing berlatar hitam yang menyimpan kekuatan besar nan magis, sekaligus hamparan bintang dan planet yang membentuk pola keindahan tersendiri.

Konstruksi kisah “dewi” seolah ia bangun sebagai sosok wanita yang memiliki kecantikan misterius dengan kepribadian kuat yang terwujud dalam busana berpalet warna hitam. Menggunakan material utama kain sutra berwarna hitam, Oscar Lawalata menghadirkan busana bergaris rancang geometris dengan siluet flare. Pada beberapa busana Oscar Lawalata juga terasa meminimalisir pemotongan dan pengikatan bahan sehingga busana-busana yang ditampilkan layaknya jubah ringan yang dikenakan dengan cara sedemikian rupa oleh para model. Atasan dan celana bersiluet flare, rok midi A-line, celana kulot yang menyerupai rok panjang dan beberapa atasan berdetil cut out serta draperi disajikan Oscar untuk koleksi berpalet warna hitam miliknya.

Busana bersiluet flare dengan detil draperi pada "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata. Model: Renata

Busana bersiluet flare dengan detil draperi pada “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata. Model: Renata

Atasan bergaris rancang tegas dipadu celana kulot dari sutra hitam pada "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata. Model: Dominique Diyose

Atasan bergaris rancang tegas dipadu celana kulot dari sutra hitam pada “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata. Model: Dominique Diyose

Busana berpotongan lurus dengan palet warna cerah dalam "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata

Busana berpotongan lurus dengan palet warna cerah dalam “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata

Usai menampilkan palet warna hitam, kini giliran palet warna cerah seperti putih, merah, pink, oranye dan ungu yang dipilih Oscar Lawalata. Pada sekuensnya yang kedua, sang desainer seakan ingin menampilkan warna keindahan galaksi melalui ragam busana yang ia buat dalam siluet yang longgar. Gaun-gaun pendek dengan garis rancang sederhana bersiluet flare serta A-line pun ia jadikan sajian utama.

Menutup akhir sesi peragaan busana, Oscar lantas memberi sebuah kejutan kecil. Desainer mode berpenampilan androgini ini menyusup ke dalam barisan model peraga busananya dan berlenggok bersama mereka disepanjang lintasan catwalk Jakarta Fashion Week. Sebuah kejutan kecil yang langsung memicu riuh rendah tepuk tangan dari dalam Fashion Tent Jakarta Fashion Week 2014.

Populo Batik

Koleksi busana pria bergaya kasual dari Populo Batik dengan motif batik kontemporer 'Slobok'

Koleksi busana pria bergaya kasual dari Populo Batik dengan motif batik kontemporer ‘Slobok’

Keberadaan Populo Batik dalam jajaran ksatria mode Dewi Fashion Knights mau tak mau sempat membuat saya mengerutkan kening. Pasalnya, baru kali ini rasanya Dewi Fashion Knights menunjuk lini busana yang sangat berorientasi ready-to-wear dan produksi cukup massal ke dalam jajaran para ksatria. Memang, lini busana ready-to-wear bukan hal yang baru pada Dewi Fashion Knights, di tahun sebelumnya pun ada SPOUS, lini busana siap pakai kepunyaan Priyo Oktaviano. Namun, tetap saja keberadaan Populo Batik pada Dewi Fashion Knights terasa cukup ganjil bagi saya. Mungkin karena saya selama ini lebih akrab dengan Dewi Fashion Knights yang selalu menghadirkan nama-nama desainer mode dengan lini utamanya atau lini kedua yang tetap saja menguarkan aroma eksklusivitas tinggi, teknik pembuatan rumit dan konsep yang tertata jeli khas karya busana desainer mode pada umumya.

Tetapi nyatanya lini busana milik Bai Soemarlono dan Joseph Lim melenggang mulus di atas lintasan catwalk Dewi Fashion Knights dengan koleksi busana batik bergaya kasual dan modern. Mengedepankan koleksi busana bergaya kekinian, Populo Batik lebih banyak bermain dengan motif batik kontemporer berbentuk garis dan geometris. Adapun sisi klasik dari kain Batik yang dipertahankan ialah teknik pembuatan dan pewarnaan motif pada kain batik yang menggunakan alat-alat untuk membuat batik tulis serta batik cap.

IMG_7669

Koleksi busana wanita siap pakai oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Firrina

Gaun batik kontemporer yang terlihat santai nan kasual oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kusuma Wardhany

Gaun batik kontemporer yang terlihat santai nan kasual oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kusuma Wardhany

Luaran berupa jubah panjang dalam koleksi Men's Wear Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Dion Wiyoko

Luaran berupa jubah panjang dalam koleksi Men’s Wear Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Dion Wiyoko

Pada pembuktian eksistensinya dalam Dewi Fashion Knights, lini busana ready-to-wear yang sudah ada sejak tahun 1994 ini seolah menerjemahkan sosok “dewi” yang lekat dengan imej magis dan mengagumkan sebagai sosok wanita modern masa kini yang bisa jadi tersusup diantara orang-orang yang biasa kita jumpai sehari-hari. Interpretasi kata “goddess” yang ada dalam tajuk Dewi Fashion Knights kali ini juga dipersembahkan duo Bai dan Joseph pada perajin batik yang mereka rasakan sebagai salah satu perwujudan “goddess” bagi keduanya. Memadukan hasil kreasi motif batik tulis dan batik cap kontemporer hasil modifikasi motif klasik, Populo lantas mengaplikasikan keduanya pada lebih dari 20 pasang busana women’s wear dan men’s wear. Blus, celana model Capri, celana panjang lurus, rok, blazer, kemeja, hoodies, rompi, gaun, hingga luaran seperti jubah menjadi bagian dari koleksi Populo Batik pada gelaran Dewi Fashion Knights.

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Terinspirasi oleh keindahan bawah laut yang begitu mempesona sekaligus menyimpan sisi misterius yang tak bisa terelakan, Toton Januar mendongengkan kisah sang “dewi” dalam tajuk “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”. Ketika menyaksikan dan melafalkan lamat-lamat judul yang dipilih Toton, alam imaji saya membentuk penafsiran tersendiri tentang alur cerita yang mungkin tersimpan dalam rangkaian koleksi milik desainer muda yang baru memulai labelnya di tahun 2012 silam ini.

Saya membayangkan bahwa “dewi” yang diceritakan Toton Januar seperti dongeng-dongeng tentang sosok wanita tangguh penguasa lautan luas yang akhirnya diketahui keberadaannya oleh seorang Raja atau Sultan dari sebuah negeri. “dewi” penguasa lautan dan Sultan lalu menjadi cerita, entah cerita cinta, petualangan, atau sekadar cerita tentang kekaguman pada sosok “dewi” yang begitu melenakan.

Dalam hal koleksi yang ditampilkan, Toton menghadirkan 10 set busana bergaris rancang unik yang sangat khas. Potongan asimetris banyak ia suguhkan bersama padupadan detil ruffles, bahan transparan, bordir, payet berkilauan dalam pasang-pasang busana berstruktur tegas yang memiliki kesan bahwa Toton menampilkan “dewi” dalam ceritanya sebagai sosok yang kuat meski terselip pula kesan feminin dan romantis.

Padupadan busana berpotongan tegas dan material transparan pada koleksi Toton Januar untuk Dewi Fashion Knights. Model: Michelle Agnes

Padupadan busana berpotongan tegas dan material transparan pada koleksi Toton Januar untuk Dewi Fashion Knights. Model: Michelle Agnes

Koleksi Toton Januar dalam “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss” untuk Dewi Fashion Knights. Model: Putri Sulistyo

Koleksi Toton Januar dalam “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss” untuk Dewi Fashion Knights. Model: Putri Sulistyo

Interpretasi "dewi" oleh Toton Januaryang mengambil inspirasi dari keindahan bawah laut. Model: Reti Ragil

Interpretasi “dewi” oleh Toton Januaryang mengambil inspirasi dari keindahan bawah laut. Model: Reti Ragil

Jalinan cerita tentang “dewi” lautan yang didongengkan Toton pun kembali terlihat pada pemilihan warna dalam busananya. Warna hijau kebiruan, warna putih gading, dan beberapa sentuhan warna cerah seperti oranye merupakan interpretasi sang desainer terhadap warna laut dan ekosistem di dalamnya. Namun, tentang pemilihan warna yang ditampilkan Toton, saya pribadi merasakan bahwa warna-warna yang ia pilih cenderung pucat sehingga menghasilkan kesan latar belakang lautan yang tenang namun misterius dibandingkan dengan lautan yang kaya akan keindahan ekosistem.

Sisi lainnya yang juga menarik untuk ditilik pada rangkaian koleksi Toton Januar kali ini adalah pemilih model yang membawakan koleksi busana. Deretan model berwajah khas Indonesia yang dipilih Toton sebagai garda depan dalam presentasi karyanya seakan menciptakan kesan bahwa dongeng “dewi” lautan dan keindahan bawah laut yang sedari awal ia usung merupakan representasi gambaran keindahan lautan Indonesia.

Priyo Oktaviano “Galore”

Sang ksatria mode, Priyo Oktaviano bersama koleksinya "Galore" pada Dewi Fashion Knight

Sang ksatria mode, Priyo Oktaviano bersama koleksinya “Galore” pada Dewi Fashion Knights

Tantangan interpretasi sosok “dewi” yang diberikan Dewi Fashion Knights melambungkan tinggi imajinasi Priyo Oktaviano pada kemegahan Istana kebanggan rakyat Perancis Château de Versailles” dan pesona kemewahan kain Tapis Lampung yang tidak lain adalah perlambang kejayaan Kerajaan Lampung di masa lalu. Bersamaan dengan latar belakang kemegahan, kemewahan, dan kejayaan itu, Priyo Oktaviano lantas menemukan sosok wanita kuat, gagah, memiliki keberanian untuk keluar dari wilayah privat, tetapi tetap menyimpan sisi feminin serta kecantikan yang sulit terbantahkan. Aroma “Femme Fatale” pada koleksi Priyo kali ini pun terasa menguar kuat. Sosok “dewi” seolah diterjemahkan Priyo ke dalam sosok wanita yang tahu benar bagaimana ia mampu mempergunakan kekuatan, daya tarik sekaligus kecantikannya untuk membuat siapa saja tidak hanya mengagumi tetapi bertekuk lutut pada sosoknya.

Telah menjadi bagian dari Dewi Fashion Knights sejak tahun 2008, pada keterlibatannya kali ini sang ksatria mode mempertemukan dua kebudayaan dari dua belahan dunia berbeda. Megahnya arsitektur interior Istana Versailles di Prancis menjadi rangka inspirasinya dalam mempersembahkan 12 set busana wanita dalam tema “Galore”, kemegahan. Meski rangka inspirasi ia susun dari kemegahan arsitektur interior Istana Versailles, adalah hal yang keliru bila mengira bahwa inspirasi Istana yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Louise XVIII yang akan jadi primadona. Dalam rangkaian koleksi milik desainer berkacamata ini, justru kain Tapis Lampung yang ia gunakan sebagai aspek pengisi rangka inspirasilah yang mencuat menempati posisi puncak limpahan perhatian ketika koleksi dipresentasikan.

Melalui 12 set busana wanita yang bersiluet gagah, bergaris potong tegas, kuat dan terkesan androgini layaknya seragam perang sang Jenderal Perancis, Napoleon Bonaparte. Hadir dalam warna-warna yang terkesan mewah dan gagah seperti emas, hitam, dan merah, Priyo Oktaviano menggunakan material inti 80% kain Tapis Lampung yang kemudian ia olah dalam kemasan kemegahan ala Eropa.

Gaun beraksen ruffles yang terinspirasi oleh Marie Antoinette pada koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano. Model: Kelly Tandiono

Gaun beraksen ruffles yang terinspirasi oleh Marie Antoinette pada koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano. Model: Kelly Tandiono

Busana wanita bernuansa androgini yang terinspirasi oleh seragam perang Napoleon Bonaparte dalam koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano. Model: Chloe Clau

Busana wanita bernuansa androgini yang terinspirasi oleh seragam perang Napoleon Bonaparte dalam koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano. Model: Chloe Clau

Gaun pamungkas koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano untuk Dewi Fashion Knight. Model: Kimmy Jayanti

Gaun pamungkas koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kimmy Jayanti

Keindahan kain Tapis Lampung yang dikerjakan secara manual menggunakan gedokan dan teknik sulam(cucuk) ditransformasikan ke dalam bentuk busana hasil penafsiran kemewahan dan kemegahan Istana Versailles. Langit-langit megah istana, dinding-dinding penuh dekoratif mewah nan artistik hingga ukiran kayu dan gypsum klasik yang seolah mempigurakan keindahan abadi Istana Versailles diterjemahkan lewat siluet busana bervolume  tegas dan teknik patchwork  yang digunakan dalam pengaplikasian kain Tapis Lampung pada tiap panel busana.

Sentuhan warna emas pekat, motif geometris di helai kain Tapis Lampung, dan aksen ruffles  yang mempercantik gaun kreasi Priyo Oktaviano, masing-masing merujuk pada banyaknya ornamen emas di Istana Versailles, pola dinding bagian dalam Istana Versailles, serta cerminan gaya berbusana Ratu Marie Antoinette, sang permaisuri Raja Louise XIV yang kontroversional. Detil koleksi busana pun bertambah kaya dengan banyak permainan bordir berbentuk daun ivy(daun kemakmuran bagi rakyat Perancis) dan manik-manik yang dibentuk menyerupai matahari.

Tex Saverio Prive “Exoskeleton”

Sosok "dewi" dari masa depan yang dituangkan Tex pada busana yang mengaplikasikan teknik print 3D bertajuk "Exoskeleton".

Sosok “dewi” dari masa depan yang dituangkan Tex pada busana yang mengaplikasikan teknik print 3D bertajuk “Exoskeleton”.

Tex Saverio memiliki tafsiran tersendiri tentang sosok “dewi”. Bagi desainer muda yang namanya meroket setelah gaun rancangannya dikenakan Lady Gaga ini, sosok “dewi” yang berkembang dalam imajinasinya adalah sesosok wanita dengan keanggunan yang tak biasa. Dalam imajinasinya, “dewi” adalah seorang wanita, namun bukan manusia, dan ia datang dari masa depan. Imajinasi akan sosok “dewi” yang bukan manusia dalam bayangan Tex Saverio ini kemudian ia tuangkan dalam 5 set busana wanita dengan dominasi warna hitam yang mau tak mau memunculkan kesan magis nan misterius dari sosok “dewi” yang coba ia hadirkan.

Lebih jauh, bayangan mengenai sosok “dewi” yang berasal dari masa depan lantas ia coba terjemahkan melalui pengaplikasian teknologi rumit printing 3D. Suatu teknik terbilang langka di dunia mode namun acap kali dipergunakan oleh desainer couture asal Belanda Irish van Herpen dalam karyanya. Meski bukan hal yang terlampau baru di dunia mode, penggunaan print 3D oleh Tex Saverio adalah yang pertama kali dilakukan oleh desainer mode di Indonesia. Untuk menerapkannya dalam busana pun terbilang rumit, selain harus menggunakan software khusus untuk menggambar pola yang diinginkan, Tex harus melakukan pemindaian langsung pada tubuh model saat akan membuat cetakan yang nantinya digunakan untuk pencetakan material besi khusus yang digunakan. Bahan baku besi yang digunakan pun tak main-main, untuk urusan satu ini, Tex Saverio menggunakan bahan besi yang biasa dipergunakan untuk kebutuhan seragam perang.

Koleksi busana dengan dominasi warna hitam dan metalik yang dihadirkan Tex Saverio dalam "Exoskeleton". Model: Christina Borries

Koleksi busana dengan dominasi warna hitam dan metalik yang dihadirkan Tex Saverio dalam “Exoskeleton”. Model: Christina Borries

Jubah hitam berbahan velvet semakin menguatkan kesan magis nan misterius dari interpretasi sosok "dewi" Tex Saverio. Model: Simona

Jubah hitam berbahan velvet semakin menguatkan kesan magis nan misterius dari interpretasi sosok “dewi” Tex Saverio. Model: Simona

Busana penutup koleksi Tex Saverio "Exoskeleton", print 3D ia tampilkan secara maksimal pada bagian atas busana dan head piece. Model: Paula Verhoeven

Busana penutup koleksi Tex Saverio “Exoskeleton”, print 3D ia tampilkan secara maksimal pada bagian atas busana dan head piece. Model: Paula Verhoeven

Digadang sebagai momen pertama penggunaan print 3D di Indonesia, rangkaian koleksi busana Tex Saverio terdiri atas 4 gaun panjang dan 1 busana bersiluet swim suit berwarna metalik. Dalam presentasinya di atas lintasan catwalk Dewi Fashion Knights, busana koleksinya itu dilengkapi dengan jubah velvet berwarna hitam yang semakin menguatkan kesan “gelap” dan misterius. Pemberian urutan presentasi bungsu yang diberikan kepada Tex pun mampu ia gunakan dengan cukup apik untuk menyerap perhatian maksimal dari para tetamu dan awak media di Dewi Fashion Knights dengan menyajikan kelima set busana di bawah spot light yang dramatis. Adapun judul “Exoskeleton” atau dapat dimaknai sebagai kerangka keras yang berada diluar tubuh dipilih Tex untuk judul koleksinya kali ini. Bagi Tex, “Exoskeleton” merupakan perumpamaan sebagai pelindung  seperti sosok “dewi” yang coba ia hadirkan dalam tiap pasang busananya.

Biyan “POSTCARD”, Perayaan 30 Tahun Kreativitas, dan Ekspetasi Tinggi

Selama dua tahun berturut-turut menyaksikan koleksi busana dalam peragaan tahunan Biyan adalah suatu kenikmatan tak terganti. Kenikmatan yang membuat candu, kenikmatan yang bila terlewatkan akan membuahkan suatu penyesalan. Namun rupanya saya juga perlu berhati-hati dengan ekspetasi yang terlalu tinggi, ya, meskipun di tahun ini merupakan perayaan 30 tahun Sang Desainer Legendaris berkarya.

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard"

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”

Dua tahun telah berlalu sejak pertama kali saya bisa menikmati peragaan busana tahunan milik Biyan Wanaatmadja atau yang lebih dikenal dengan Biyan. Dua tahun mungkin bukan waktu yang lama, tetapi saya rasa bukan juga waktu yang terlalu singkat. Ukuran waktu mungkin memang relatif, berbeda bagi setiap orang, tergantung cara pandang dan presfektif masing-masing. Dua tahun bisa saja dianggap baru kemarin sore. Dua tahun bisa saja dikatakan masa lalu dengan seabrek hal yang telah berlalu. Terlepas dari semua itu, yang saya tahu dalam dua tahun kemarin, saya sudah melalui dua kali peragaan busana tahunan Biyan, “The Orient Revisited” di tahun 2011, dan “Foliage” pada tahun 2012.

Dua peragaan busana tahunan Biyan atau yang biasa disebut “Biyan Annual Show” sudah saya lalui. Meski waktu telah berlalu dan kedua bola mata saya sudah menyaksikan ratusan busana dalam peragaan busana lain, saya hampir tidak pernah lupa detil yang ada pada kedua peragaan busana tahunan Biyan yang pernah saya nikmati. Saya tidak pernah melupakan atmosfernya, tata panggungnya, jajaran model yang memperagakan busananya, dan tentunya koleksi busana itu sendiri. Saya masih ingat semua. Mungkin bukan karena ingatan saya sekuat badak, tapi karena peragaan busana tahunan milik Biyan terlalu mengagumkan untuk dilupakan.

Ada yang mengatakan bahwa kesuksesan seorang desainer –dalam hal ini tentu saja desainer mode- tidak hanya diukur dari seberapa banyak klien prestisius yang ia miliki, seberapa tinggi pencapaian yang telah diraih, dan seberapa menggema namanya di penjuru dunia, tetapi juga dipandang dari sumbangsih berkesinambungan serta kontribusi positif untuk terus bertumbuh yang ia berikan bagi perkembangan dunia mode tanah airnya. Tidak perlu diragukan, seorang Biyan Wanaatmadja telah meraih semua hal tadi dalam satu paket lengkap.

Tepat di tahun 2013 ini, desainer sempat mengenyam pendidikan mode di Muller & Sohn Privatmodeschule, Duesseldorf, Jerman, dan The London College of Fashion ini menorehkan tinta emas 30 tahun berkarya di dunia mode Indonesia. Sebagai seorang desainer mode, Biyan telah memiliki hampir semua aspek yang diimpikan para desainer mode. Ia memiliki banyak klien prestisius, koleksi busananya selalu ditunggu dan dielu-elukan, karyanya sudah merambah ke berbagai penjuru dunia, namanya seakan menjadi jaminan dalam setiap karyanya, dan tidak bisa dibantah jika Biyan telah menjadi inspirasi banyak desainer mode muda Indonesia. Singkatnya, ia begitu disegani dan dicintai.

Ada banyak hal yang telah terjadi selama 30 tahun Biyan berkarya. Ada banyak kenangan yang patut untuk diabadikan selama tiga dekade perjalanan kreativitasnya.

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard". Model: Fahrani

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”. Model: Fahrani

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard". Model: Kimberly Ryder

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”. Model: Kimberly Ryder

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard". Model: Renata

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”. Model: Renata

Biyan telah singgah di berbagai tempat, dalam berbagai waktu, dalam bermacam suasana, dalam beraneka kesempatan. Bagi Biyan, setiap tempat memiliki kenangannya sendiri dan kartu pos yang sering ia temui seakan mencerminkan perjalanan kreativitasnya. Karena itu, ia memilih tema “POSTCARD” dalam peragaan busana tahunannya kali ini. Dalam lembaran press release yang saya terima, Biyan mengatakan bahwa “POSTCARD” yang menjadi tema utama koleksinya seperti menjadi memorabilia sejarah, budaya, warisan, generasi, dan energi rangkuman pelancongan kreativitasnya selama tiga dekade, baik di dalam dan di luar negeri.

Detik-detik menjelang peragaan busana memang selalu mengaduk-aduk perasaan saya. Rasa semangat dan penasaran tentang bagaimana koleksi yang akan beliau tampilkan serta dekorasi mempesona macam apa lagi yang akan disuguhkan. Lalu, ada terselip perasaan gugup yang entah mengapa selalu muncul begitu saja pada diri saja setiap kali bersemangat. Parahnya lagi, bila saya terlalu bersemangat dan penasaran, rasa gugup itu akan meningkat berkali-kali lipat dan kerap membuat saya mual. Mungkin terdengar berlebihan, tetapi itulah yang saya rasakan pada detik-detik menjelang peragaan busana tahunan Biyan pada Rabu malam(02/06) lalu.

Seperti di tahun-tahun sebelumnya, saya melangkahkan kaki ke dalam Grand Ballroom Hotel Mulia –tempat berlangsungnya peragaan busana- sekitar satu jam sebelum jadwal peragaan busana dihelat. Seperti di tahun-tahun sebelumnya pula, perasaan campur aduk saya semakin menjadi-jadi tatkala saya semakin jauh melangkahkan kaki.

Di dalam kepala saya sudah berputar-putar berbagai potongan ingatan dan juga bayangan pengelihatan yang akan datang. Maksud saya, potongan ingatan dari dua peragaan busana terdahulu Biyan yang terlalu mengagumkan untuk dilupakan, dan bayangan saya akan peragaan busana kali ini yang saya duga tidak akan cukup bila hanya diwakilkan dengan kata mempesona atau mengagumkan saja. 30 tahun berkarya. 30 tahun perayaan kreativitas sang legenda. Dan jaminan nama seorang Biyan Wanaatmadja. Sangat lumrah rasanya bila saya memiliki ekspetasi yang amat tinggi.

Memasuki Grand Ballroom Hotel Mulia dan berdiri tepat di depan panggung peragaan busana untuk beberapa waktu membuat saya menyadari beberapa hal. Ruangan megah itu terasa amat “bersih”. Tidak ada dekorasi berupa pepohonan rindang dengan bau menenangkan yang khas seperti di tahun sebelumnya. “Bersih”, seperti peragaan busana tahunan Biyan dua tahun lalu, “The Orient Revisited”.

Namun kehadiran empat “penjaga” di pangkal panggung peragaan busana Biyan membuat saya cukup terperangah. Ya, ada empat Burung Garuda sangat besar yang menggantung kokoh disana. Keempat Burung Garuda yang jadi bagian dari dekorasi panggung peragaan busana. Dan keempat “penjaga” itu  pun semakin menarik saat saya menyadari bahwa lantai panggung peragaan busana yang terbuat dari kayu atau yang biasa disebut parket.

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard"

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard"

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”

“The Radiance Postcard” adalah judul lengkap peragaan busana tahunan Biyan kali ini. Judul tersebut diambil dari kata “Radiance” yang terdapat pada salah satu produk kecantikan yang menjadi sponsor utama peragaan busana Biyan, dan “POSTCARD” embrio sentral inspirasi koleksi Biyan. Menampilkan sekitar 100 set koleksi, peragaan busananya kali ini seumpama buah tangan istimewa Biyan selama melakukan 30 tahun perjalanan ke berbagai tempat yang pernah ia singgahi selama menggeluti karirnya di dunia mode.

Menyaksikan peragaan busana “The Radiance Postcard” saya seperti melihat mozaik-mozaik perjalanan Biyan selama ini.

Diawali dengan sekuens yang menampilkan koleksi busana didominasi warna putih, saya seolah diajak kembali menengok masa-masa polos kertas putih kehidupan yang belum terbubuhi warna. Di sekuens pembuka ini, saya sempat terpesona dengan koleksi-koleksi yang dihadirkan. Sisi tanpa dosa alias innocent tergambar jelas dari busana-busana berwarna putih yang menerawang pada atasan. Selain kesan innocent yang sangat kental, pada sekuens pembuka ini aura romantic dan sophisticated pun terasa membungkus keseluruhan busana.

Setelah sekuens pembuka usai, koleksi busana yang ditampilkan berlanjut pada rangkaian busana yang inspirasinya banyak diambil dari pakaian adat pria dan wanita Indonesia tempo dulu. Biyan menterjemahkan koleksinya kedalam suatu komposisi persilangan antara siluet maskulin dengan spirit yang feminin. Jaket-jaket yang terlihat maskulin ia padukan dengan roses lace skirt overlayered diatas celana, gaun berbahan tulle yang berpotongan feminin pun ia padankan dengan short pants yang terkesan boyish. Esensi busana Jawa dengan unsur seragam era kolonial diselaraskan dalam konsep androgini yang gagah namun cantik. Tidak lupa ia turut mengambil inspirasi dari siluet jarik dan kebaya pada koleksinya kali ini. Motif cetak yang terinspirasi dari motif kain batik, sarung, serta kerajinan tikar yang dicetak sangat besar pada kain busana kemudian menjadi nilai tambah yang luar biasa pada koleksi Biyan kali ini.

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard"

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard"

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard".

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”.

Dalam hal pemilihan bahan sendiri, Biyan lebih banyak bermain pada bahan-bahan bertekstur ringan seperti organza, tulle, dan light silk. Bagi Biyan, pemilihan bahan-bahan bertekstur ringan seperti ini diperuntukkan pada para wanita yang tidak takut untuk menampilkan keindahan kulit tubuhnya. Penggunaan bahan kain juga ia padupadankan dengan cara yang tidak biasa, misalnya kain transparan bermotif cetak dipadu dengan sulaman yang indah berkilauan dan ditabrak dengan lace, serta kain sutra bermotif cetak diaplikasikan dalam bentuk bordiran diatas kain tulle yang transparan pula.

Sementara untuk warna, Biyan nampak lebih senang menggunakan warna-warna pupus yang tidak mencolok namun memunculkan keanggunan dan eleganitas tersendiri. Palet warna khas Biyan, dusty pastels lembut seperti putih pupus, abu-abu, peach, merah muda, coklat susu tampil kontas dengan warna sogan, biru tua, hitam, serta banyak aksen perak dan keemasan pada koleksi cetak kali ini.

Sekitar 100 set busana dibawakan oleh puluhan model dalam rentan waktu kurang dari satu jam, dan sayangnya dahi saya terus mengerut usai sekuens pembuka usai. Keindahan rangkaian busana Biyan dalam “The Radiance Postcard” memang sangat terasa. Saya begitu terpesona di sekuens pembuka, namun sayangnya setelah itu saya harus bisa berpikir keras untuk mendapatkan perasaan yang sama. Saya harus benar-benar memperhatikan dengan seksama motif-motif batik yang begitu besar dan luar biasa indah yang tercetak di atas busana.

Saya harus bisa benar-benar menangkap motif garuda sangat besar, ikan koi sangat menarik, dan juga motif-motif bunga raksasa yang tercetak pada busana sebelum benar-benar mengaguminya. Mungkin terasa aneh kenapa saya harus sebegitu memperhatikannya padahal motif-motif itu tercetak besar, tapi saat itu saya merasa ada jarak yang begitu jauh dengan koleksi. Pengaturan para model yang beberapa kali terlalu dekat jaraknya satu dengan lainnya membuat saya beberapa kali hilang fokus, begitu pula deretan kursi-kursi penonton yang diatur berjajar di depan photographer pit –tempat saya lebih senang berada bersama kamera saku saya- sering kali menyulitkan untuk melihat dan hampir tidak bisa mengabadikan gambar karena terhalang kepala. Selain itu, ketika memperhatikan koleksi-koleksi tersebut pikiran dan hati saya sudah terlanjur terkontaminasi rasa De Javu yang begitu domininan. Ya, lagi-lagi saya De Javu. Sama seperti yang saya rasakan di tahun lalu.

Musik pengiring peragaan busana pun sempat membuat saya bertanya-tanya. Awalnya saya merasa bunggah saat Biyan menggunakan lagu “Dago Inang Sarge” di tengah peragaan busana. Lagu asal daerah Tapanuli ini terdengar pas dengan atmosfer peragaan busana, namun beberapa saat kemudian lagu-lagu lain silih berganti, lagu-lagu yang entah mengapa seolah menjadikan suasana terasa asing dan tidak lagi sama bagi saya.

Menyaksikan peragaan busana “The Radiance Postcard” saya seperti menengok kembali koleksi-koleksi sang maestro terdahulu. Garis rancang, potongan busana, perasaan yang dihasilkan, warna-warna yang digunakan, sedikit banyak motif-motif yang digunakan, hampir semua itu seakan pernah juga saya saksikan pada peragaan busana di tempo lalu. Namun jangan sekali-kali berpikir bahwa koleksi yang disajikan adalah benar-benar pengulangan. Tentu saja tidak. Hanya saja memang ada banyak cita rasa sama yang kembali ditonjolkan.

Lalu saya mencoba memutar presfektif saya ke sisi lain, sama seperti tahun kemarin, bahkan yang saya tulis setelah ini hanya hasil memindahkan tulisan saja:

Mungkin karena ciri khas siap pakai yang sudah terpatri erat pada garis rancang Biyan, atau mungkin memang Biyan masih ingin melanjutkan benang merah rangkaian koleksinya yang terdahulu. Atau, karena konsep mendasar yang ia usung tetaplah sama, mudah dipakai serta mudah dipadupadankan, nyaman namun tetap mengedepankan sisi gaya dan anggun sekaligus berkarakter kuat. Hal yang kemudian ia rekatkan menjadi satu kesatuan koleksi busana yang memiliki daya tarik tinggi meski terkesan sederhana dan santai.

Kemudian saya tambahkan:

Atau mungkin memang ekspetasi saya saja yang terlalu tinggi dan berlebihan. Tak begitu paham bahwa inilah Biyan dengan segala benang merah koleksi yang selalu ia tampilkan. Ya, ekspetasi saya terlalu tinggi untuk Biyan, rangkaian koleksinya dan presentasi peragaan busana tahunan kali ini. 

Namun terlepas dari itu semua, saya tetap sangat mengaguminya sang legenda, Biyan Wanaatmadja.

Imperata Nomadechic ; Kali Ini Bukan Batik, Tapi Kain Tenun-lah Yang Dipilih Eddy Betty

Awalnya saya kira, Eddy Betty melalui lini keduanya, edbe(baca: e.di.bi), akan terus mengolah kain batik sebagai material andalan pada setiap potong busana siap pakai yang ia lansir. Namun ternyata hal ini terpatahkan ketika pagelaran teranyarnya, ia berpindah hati dari kain batik ke kain tenun.

“Imperata Nomadechic” edbe oleh Eddy Betty. Foto. Windy Sucipto

Oktober 2011 silam, saya berada di deret kursi terdepan yang disediakan untuk rekan media ketika lini kedua desainer Eddy Betty menyelenggarakan sebuah pagelaran busana koleksi teranyar. Koleksi berbahan batik tulis dengan konsep “padukan tanpa serasikan”, ia wujudkan ke lebih dari tujuh lusin set busana yang dipertontonkan pada malam itu.

Busana siap pakai dengan penggunaan kain batik sebagai material dasar mungkin akan terasa biasa saja, karena Eddy Betty melalui lini edbe bukanlah yang pertama merilis koleksi semacam itu. Namun, rangkaian koleksi berjudul “Love Is In The Air” yang ia lansir hampir setahun lalu, menjadi istimewa tatkala sang desainer mengaplikasikan motif-motif batik tulis yang ia pesan secara khusus dan tidak terikat pakem motif batik yang sudah ada.

Motif mainan anak-anak, telor paskah hingga boneka matryoska yang khas Rusia ia lukiskan pada puluhan pasang koleksinya. Warna-warna cerah yang ceria nan playful ia jadikan pengikat tiap pasang mata yang menyaksikan rangkaian koleksinya.

Meski dalam penyelenggaraannya, pagelaran busana edbe “Love Is In The Air” masih terdapat banyak kekurangan atau bagian yang miss, namun bagi saya, tiap potong koleksi yang dahulu ia suguhkan cukup meninggalkan kesan, karena batik ia reinkarnasikan menjadi sesuatu yang lebih seru, anak muda, “bandel”, tanpa meninggalkan pesona kain batik tulis yang khas.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Maria Titah. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe sekuens pertama. Model: Mareike Brenda. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Reti Ragil Riani. Foto: Windy Sucipto

Awal bulan Juni 2012, saya mendengar kabar bahwa edbe akan kembali merilis rangkaian koleksi terbarunya. Sebuah pagelaran busana pun ia siapkan dengan mengambil tempat di Grand Ballroom Hotel Ritz Carlton Pasific Place. Saat mengetahui hal tersebut, yang pertama kali mampir di otak saya adalah, batik.

Ya, batik. Edbe dan batik, saya rasa dua hal itu sulit terpisahkan. Tapi ternyata saya salah, kali ini tak lagi batik yang ia gadang, pilihan desainer yang pernah mengenyam pendidikan mode di Fleuri de la Porte dan Chambre Syndicale de la Couture Parisienne ini jatuh pada kain tenun bali dan tenun ende.

Bersama pasangan bisnisnya, Ley Sandjaja, Eddy Betty berkeinginan untuk mengangkat keindahan wastra nusantara yang begitu kaya melalui koleksi busana siap pakai yang edgy dan kaya akan muatan lokal dalam bingkai modernitas. Ia juga sempat mengatakan pada sesi pers conference bahwa koleksi dari lini edbe tidak akan terhenti pada batik saja, ataupun kain tenun, namun akan terus berlanjut ke material dasar lain seiring perjalanan hidup dan keragaman kain-kain nusantara lainnya.

“Imperata Nomadechic” atau yang bisa diterjemahkan sebagai“From Sunrise to Sunsite” adalah judul sekaligus tema besar yang ia usung pada rangkaian koleksinya kali ini. Bekerjasama dengan majalah Harpers Bazaar Indonesia dan MRA Group, pagelaran busana “Imperata Nomadechic” pun dikultuskan sebagai pagelaran busana pertama dari desainer Indonesia yang ditayangkan melalui live streaming di 6 situs premium kepunyaan MRA Group.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Prinka Cassy. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadehic” edbe, sekuens kedua. Model: Bunga Jelita. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Jenny Chang. Foto: Windy Sucipto

Jika membicarakan keseluruhan koleksi yang ditampilkan, pada “Imperata Nomadechic” ketiga sekuens memiliki garis besar koleksi yang serupa. Gaun pendek berpotongan lurus, gaun pendek bervolume dengan siluet menyerupai boneka matryoska, gaun asimetris, blus, kemeja, celana pendek sebatas paha, celana pendek ¾, celana jodhpur, celana panjang, hingga baju terusan(jumpsuit) seakan menjadi item wajib yang mesti ada pada setiap sekuens.

Tetapi yang menjadikannya lebih menarik dan jauh dari kata membosankan adalah konsep pembagian ke-114 set koleksi menjadi tiga sekuens utama, dimana masing-masing sekuens mewakili satu fase waktu utama sejak terbit hingga terbenamnya matahari yang terinterpretasikan melalui benang merah semburat warna yang hadir dalam setiap sekuens.

“Imperata Nomadehic” edbe, sekuens pertama. Model: Kelly Tandiono. Foto: Windy Sucipto

Dalam sekuens pertama, koleksi tenun dihadirkan dalam sentuhan warna-warna pagi yang cerah seperti biru, kuning, merah, hijau dan orange. Warna-warna inilah yang kemudian seolah melukiskan keindahan alam di kala matahari baru saja terbit di ufuk timur.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens kedua. Model: Hege Wollan. Foto: Windy Sucipto

Linen menjadi paduan yang apik bagi tenun Bali yang memiliki warna lebih lembut pada sekuens kedua. Di sekuens ini warna-warna yang lebih lembut seperti putih gading, hijau pupus, coklat muda dan abu-abu seakan menghadirkan semburat ketenangan jiwa ketika matahari berada di puncaknya. Seakan menepis terik yang sudah pasti terasa menyengat pada siang di negara tropis seperti Indonesia.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Hege Wollan. Foto: Windy Sucipto

Kesan mewah dalam warna-warna lebih gelap yang mendominasi koleksi adalah hal yang langsung tertangkap begitu memasuki sekuens ketiga. Kain tenun ende yang diolah menjadi 8 set busana pria dan 30 set busana wanita terlihat begitu memukau dalam warna-warna gelap yang mewakili keindahan kilau warna alam disaat senja ketika matahari merangkak naik menuju peraduan.

Mungkin sebagian dari mereka yang sering iseng menyatroni tulisan-tulisan di blog saya ini tidak akan lupa dengan sebuah tulisan saya mengenai pagelaran busana “Love Is In The Air” yang saya posting di tahun kemarin. Ada banyak hal yang mengganggu pikiran saya pada saat menyaksikan pagelaran busana tersebut. Hal yang kemudian saya tuangkan dalam sebuah tulisan berisi beberapa point kekecewaan saya terhadap pagelaran busana milik edbe itu. Mulai dari susunan koleksi, susunan keluarnya model, musik pengiring, hingga kesalahan MC saya jadikan bahan dalam tulisan saya. Lalu bagaimana dengan pagelaran busana edbe kali ini?.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Renata. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechi” edbe, sekuens kedua. Model: Filantropi. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Foto: Windy Sucipto

Pertama, susunan koleksi. Jika pada tahun lalu, konsep “Mix don’t Match” yang diusung edbe sedikit mengganggu saya karena malah memunculkan kesan ‘random’ pada susunan koleksi yang dimunculkan karena beberapa hal termasuk padupadan, urutan keluarnya busana dan juga konsep tabrak warna, pada “Imperata Nomadechic” hal itu tak lagi eksis.

Tema “From Sunshine To Sunsire” yang diangkat edbe pada tahun ini terinterpretasikan dengan sangat apik melalui sistem pembagian sekuens menjadi tiga fase waktu utama. Tone warna yang dihadirkan, garis potong yang ‘bebas’ dan ‘semaunya’ ala harajuku, serta konsep “Mix don’t Match” yang masih terus dimunculkan, terasa lebih nyaman serta jauh dari kesan “random”.

Saya pribadi sangat menyukai suasana yang terbangun ketika memasuki perpindahan sekuens kedua yang mewakili waktu siang menuju sekuens tiga yang mewakili keindahan dikala senja menjelang malam datang. Mulai dari multimedia visual, alunan musik, hingga ‘rasa’ pada koleksi yang ditampilkan terasa sangat pas untuk menggambarkan momen spesial yang tercipta ketika senja tiba.

Kedua, susunan keluar model dan model itu sendiri. Rapi, dan hampir sangat pas. Saya hanya merasa sedikit terganggu dengan 1-2 model yang karakternya terasa nanggung. Dikatakan androgini, tidak, tapi kalau tidak androgini kenapa bahasa tubuh dan pembawaan mengarah ke androgini. Saya jadi menangkap kesan “tanggung” pada si model yang saya sendiri tidak tahu siapa namanya.

Lantas selebihnya?. Saya rasa tidak ada lagi hal yang menganggu pikiran saya pada pagelaran busana milik edbe kali ini. Semuanya hampir sangat pas dan sempurna.

“Imperata Nomadechic” edbe.

“Imperata Nomadehic” edbe.

Secara keseluruhan saya merasa sangat nyaman dan jauh lebih menyukai pagelaran busana “Imperata Nomadechic” dibandingkan yang terdahulu karena bagi saya, konsep yang ada terasa lebih tereksekusi dengan baik dalam penyelenggaraan yang lebih tertata rapi.

Serta jangan lupakan dekorasi panggung lintasan catwalk yang pada bagian pangkalnya diberi rerumputan tinggi dan pada alas lintasan catwalk dilapisi oleh kayu. Terlihat sederhana dan tidak serumit beberapa pagelaran busana yang pernah terselenggara, namun hal itu sudah lebih dari cukup memperkuat konsep “From Sunrise To Sunsite” yang ingin dihadirkan.

FOLIAGE ; Bayangan Keindahan Alam Ala Biyan

Biyan adalah salah satu legenda hidup dunia mode Indonesia. Setiap kali ia melansir koleksi busana teranyar, adalah wajib hukumnya bagi pecinta mode khususnya pengagum karya beliau, termasuk saya, untuk mengetahui apalagi yang ia persembahkan untuk dunia mode. Dan Biyan Annual Show 2012/2013 adalah satu hari yang telah saya tunggu sejak satu tahun lalu.

 

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Pertengahan tahun 2011 lalu adalah kali pertama saya menyaksikan secara langsung pagelaran busana karya Biyan Wanaatmadja atau yang lebih dikenal dengan nama Biyan. “The Orient Revisited” begitulah judul yang ia pilih untuk pagelaran busananya tahun lalu, judul yang hingga saat ini tidak pernah hilang dalam ingatan saya.

Saya masih ingat benar ketika setahun lalu saya berada di Grand Ballroom Hotel Mulia yang diterangi sinaran lampu temaram sebelum berubah terang dan seorang penari kontemporer mempertontonkan liukan tubuhnya sebagai pembuka pagelaran tunggal “The Orient Revisited”. Begitu pun dengan rak kayu super besar yang didalamnya berjejer guci-guci raksasa yang jadi dekorasi pada pangkal panggung lintasan catwalk.

Saya tidak akan lupa, tidak pernah lupa betapa menghanyutkannya suasana pada malam itu. Syahdu, megah, namun masih menyisakan kesan modern meski sekaligus seakan membawa saya bertamasya ke suatu tempat nun jauh disana. Tempat dimana saya menyaksikan geliat aktivitas masyarakat etnis Tionghoa dalam perpaduan tempoe doeloe dan modern.

Setahun berlalu dan kesan akan pagelaran tunggal Biyan atau yang biasa disebut Biyan Annual Show tidak bisa hilang. Setahun berlalu, dan dalam setahun itu pula saya menanti untuk bisa mengulang kesan mendalam ketika menyaksikan pagelaran tunggal milik Biyan.

Dekorasi panggung Biyan Annual Show “FOLIAGE”

 

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Saya melangkahkan kaki masuk ke area Grand Ballroom sekitar satu jam sebelum jadwal show seharusnya dimulai, dan saya merasa seperti tersesat di dalam hutan hujan tropis kala malam. Pepohonan yang tingginya lebih dari dua meter, dedaunan yang menguarkan bau khas, bunga-bunga kecil yang menyembul malu-malu dari sela sulur pohon, serta suasana sekitar yang masih gelap dan hanya sedikit terkena pencahayaan yang entah berasal dari mana. Seumur-umur, saya belum pernah merasakan sensasi memasuki ruangan tempat akan berlangsungnya sebuah pagelaran busana seperti saya ada disini. Di Ballroom tempat pagelaran busana Biyan akan berlangsung.

Suasana hutan tropis lengkap dengan pepohonan rimbun bercabang, daun-daun hijau hijau beraroma menenangkan seperti bau tanah sehabis hujan, dan kesyahduan cahaya temaram. Saya rasa saya tidak akan menyadari bahwa sesungguhnya saya berada di dalam sebuah Ballroom tempat akan berlangsungnya pagelaran busana jika saja sebuah lintasan catwalk berwarna putih bersih, kursi-kursi yang berjajar rapi dan bangku berundak di sisi kiri dan kanan ruang tidak menyapa saya beberapa saat kemudian, ketika saya sudah melewati bagian Ballroom yang di tata sedemikian rupa hingga tak ubahnya seperti hutan tropis.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Hege Wollan

“Represent life and its growth..Cerita kehidupan dengan pertumbuhan dan perkembangannya”,

itulah yang diucapkan sang maestro mengenai pagelaran busananya kali ini. Biyan seolah membayangkan berada diantara sekumpulan daun-daun hijau yang rimbun atau bentangan ladang yang luas dipenuhi bunga-bunga liar bermekaran, dan hembusan angin yang beralun ringan menyempurnakan bayangannya tentang sebuah “pelarian” yang indah dan menyejukkan.

Biyan lalu memilih “FOLIAGE” sebagai satu nama yang dirasa mampu mewakili semua yang ada dalam angannya. “FOLIAGE”, ia terjemahkan sebagai sekumpulan daun, interpretasi tentang hidup yang terus betumbuh.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Drina Ciputra

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Michelle Samantha

Jika di tahun sebelumnya dalam pagelaran “The Orient Revisited” Biyan meluncurkan 100 koleksi, pada “FOLIAGE” ia mengurangi jumlah menjadi 90 set busana. Pada rangkaian koleksinya kali ini pula, Biyan terlihat masih sangat nyaman bermain-main dengan eksplorasi keindahan alam yang ada di sekelilingnya dalam membuat motif, warna dan rasa pada koleksi busananya.

Ornamen payet yang dirangkaikan secara detil menjadi rangkaian bunga-bunga kecil serta dedaunan yang memenuhi beberapa bagian busana, disamping motif print bunga, dedaunan, rerumputan, pakis, kupu-kupu, hingga motif polkadot yang menyerupai stomata daun mewarnai kesembilanpuluh set busana yang disuguhkan pada malam itu.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Sharlotta

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Ilmira

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Renata

Siluet busana seperti atasan yang ramping dan potongan bawah yang bervolume, ataupun sebaliknya seperti blus berstuktur kaku dengan bawahan yang ramping, jaket berstuktur kaku yang dipadankan dengan rok lebar bervolume ringan, kesemuanya itu menampilkan sisi feminin perempuan sesungguhnya, bersamaan dengan sisi maskulin, bahkan menyajikannya dengan aspek innocence secara berbarengan.

Sementara, dalam sisi pemilihan warna, Biyan menyelaraskan penggunaan warna dalam koleksinya dengan konsep keindahan alam yang dipilihnya, keindahan alam yang terkesan begitu lembut dan menyejukkan. Warna hijau dari rerumputan, biru langit, putih gading, abu-abu, hitam, merah dan orange pucat, serta emas adalah warna-warna yang dipilih Biyan dalam rangkaian koleksinya.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Katya Talanova

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

90 set busana dibawakan dalam waktu kurang dari satu jam, dan selama itu saya merasa jika koleksi Biyan kali ini masih merupakan pengulangan koleksi terdahulu. Meski saya sangat menyukai keseluruhan koleksi, namun kesan De Javu tetap tak bisa dihilangkan. Motif-motif yang dihadirkan, juga siluet yang ada pada tiap set busana, terasa masih memiliki kesamaan yang begitu kental dengan koleksi “The Orient Revisited”.

Mungkin karena ciri khas siap pakai yang sudah terpatri erat pada garis rancang Biyan, atau mungkin memang Biyan masih ingin melanjutkan benang merah rangkaian koleksinya yang terdahulu. Atau, karena konsep mendasar yang ia usung tetaplah sama, mudah dipakai serta mudah dipadupadankan, nyaman namun tetap mengedepankan sisi gaya dan anggun sekaligus berkarakter kuat. Hal yang kemudian ia rekatkan menjadi satu kesatuan koleksi busana yang memiliki daya tarik tinggi meski terkesan sederhana dan santai.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Advina Ratnaningsih

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Drina Ciputra

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Reti Ragil Riani

Selain itu, tata artistik dekorasi panggung lintasan catwalk yang dibuat sedemikian rupa dipenuhi pepohonan rindang, tumbuhan merambat, dedaunan hijau yang member kesan rimbun, teduh, terpencil sekaligus megah sepintas mengingatkan pada nostalgia film Great Expectations yang merupakan adaptasi novel karya penulis Inggris, Charles Dickens, menjadi daya tarik tersendiri. Saya rasa, dekorasi ruang Ballroom dan panggung lintasan catwalk yang terkonsep sedemikian rupa serta nyaris sempurna menjadi suatu nilai tambah yang sangat besar pada pagelaran busana Biyan di tahun ini.

Seusai Finale Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Dan jika pada tahun lalu saya menuliskan jika para model yang dipilih Biyan dalam memperagakan busana cukup “mengganggu” banyak diantaranya tak ubah zombie di atas catwalk sementara beberapa yang lainnya tak mampu menutupi raut wajah seperti menahan sakit, pada pagelaran busana nya kali ini hal tersebut jauh berkurang. Saya memang masih merasakan beberapa model berjalan seperti tak mempunyai “ruh”, tetapi tidak banyak, dan bisa dihitung jari. Raut wajah seperti menahan sakit pun tidak terasa sama sekali.

Secara keseluruhan, bagi saya, pagelaran busana Biyan kali ini nyaris sempurna terlepas dari kesan De Javu yang begitu melekat.

Untuk Renata “Nyanya”, Malaikat?, Peri?, Alien?, atau Kelinci?

Untuk Nyanya Tersayang,
Yang Entah Sedang Berada Dimana,
Mungkin Di Suatu Tempat Di Belahan Dunia, atau,
Mungkin Sedang Berdiam Di Antara Gumpalan Awan…

Nyanya sayang, dua tahun aku kenal kamu dan pertanyaanku tetap satu,

“Manusiakah kamu Nyanya?”.

Oke…oke…aku tau saat aku tanyakan ini, pasti kamu langsung tertawa kecil,

“Hehehe…”.

Tawa khas kamu yang selalu aku bilang nanggung. Sering aku bertanya-tanya dalam hati dan langsung ke kamu juga,

“Apa Nyanya nggak bisa ketawa lebih lepas lagi?. Dari dulu ketawanya ‘hehehe’ aja”.

Lalu kamu bilang,

“Mau gimana lagi?. Memang sudah begitu darisananya”.

Nyanya, aku tau, mungkin pertanyaanku tentang, manusiakah kamu?, terdengar konyol dan lucu, karena masa iya Nyanya bukan manusia?.  Lalu kalau kamu bukan manusia, lantas apa?. Hmmm…iya, kalau kamu bukan manusia, lantas apa?.

Kamu pernah iseng bilang kalau kamu blasteran kelinci, saat disinggung kalau kelinci itu hewan, kamu kekeuh mempertahankan, katamu kelinci itu lucu jadi nggak apa-apa blasteran kelinci. Sedangkan aku, aku selalu bilang kamu itu innocent angel, wajahmu itu Nya, kayak malaikat yang nggak punya dosa. Kamu seperti bukan manusia karena manusia tempatnya dosa sementara kamu, kamu lebih mirip malaikat, angel, anggak punya dosa, innocent.

Kemudian pada lain waktu saat aku mendesakmu dengan pertanyaan,

“Nyanya sebenernya kamu itu siapa sih?. Kamu itu angel nyasar ke Bumi ya?. Hmmm…atau at least kamu pasti blasteran angel ya?”, dan kamu tertawa sambil berkata,

“Aku ini Alien Nin!”.

Jadi, Alienkah kamu?. Coba kasih tau aku, planet mana yang punya Alien secantik kamu Nya?…hahahaha. Atau benarkah dongengku tentang planet Fairythobunny?. Benarkah kamu salah satu Alien penghuni planet itu?…hahahaha.

Nyanya, kamu pasti sudah hafal banget kalau aku suka bercanda. Banyak hal konyol dan ada-ada aja yang lakuin, termasuk pertanyaan dan cerita iseng yang di atas itu. Kamu pasti sudah hatam dengan kekonyolan, cerita ngalor ngidul, dan nama-nama panggilan yang aku sering kasih ke kamu. Aku juga suka banget godain dan bercandain kamu, persis seperti anak kecil. Tapi aku memang masih kecil kan Nya?, apalagi kalau dibandingkan kamu, aku ini kayak adik kecilmu, adik kecil yang suka banget isengin Kakaknya…hahaha.

Nyanya, dua tahun lebih aku kenal kamu. Dari awal sampai sekarang kamu nggak pernah berubah dimata aku. Tetap sebagai Kakak yang baik, innocent angel, salah satu tempat curhat paling aman, dan penasehat yang selalu aku inget kata-katanya. Nyanya, bagi aku kamu itu penting sekali. Meski kamu sering keliatan cuek, adem ayem, dan biasa-biasa aja. Tapi aku tau kamu tetap perhatian dengan aku dan semua yang aku ceritakan.

Nyanya, ini surat cinta ketujuh yang aku tulis. Surat ketujuh ini aku tulis khusus untuk kamu. Aku sengaja simpan angka ini untuk kamu, karena kamu bilang kalau tujuh adalah angka favorit kamu. Jadi surat ketujuh ini spesial untuk kamu.

Nyanya, terimakasih ya untuk semuanya. Terimakasih untuk setiap waktu yang kamu kasih ke aku. Terimakasih untuk semua nasehat kamu. Terimakasih untuk semua-semuanya Nya, yang rasanya nggak perlu aku sebutin disini. Maaf juga ya Nya, aku sering ngerepotin kamu, juga sering bawel ke kamu.

Nyanya…aku sayang kamu….:’)

 

Peluk Erat-Erat Nggak Mau Lepas

 

-Nina-

BIN House dan Salah Satu Moment Paling Menyenangkan Selama JFW 2011-2012

Hari itu untuk pertama kalinya selama JFW 2011-2012 saya merasa benar-benar tersenyum bahagia. Rasanya senang sekali ketika saya usai menyaksikan 4 sekuens fashion show dari BIN House yang begitu seru, lepas, dan sangat menyenangkan

BIN House. Jujur, sebelumnya Saya nggak banyak tau tentang BIN House. Saya pertama kali dengar nama itu sekitar satu tahun lalu pada Bazaar Fashion Concerto. Saya ingat betul, BIN House adalah salah satu yang berpartisipasi dalam acara itu. Saya tau, si empunya BIN House bernama Obin. Tapi pada saat Bazaar Fashion Concerto 2010, koleksi yang dikeluarkan bukan karya Obin, melainkan karya seorang desainer bernama Wita.

Selang waktu berlalu, saya tetap tidak banyak tau tentang BIN House, sampai pada akhirnya saya membaca tentang Obin Komara, sang pendiri BIN House di salah satu majalah mode ternama. Menarik. Itulah satu kata yang menjadi kesimpulan saya ketika saya membaca tentang beliau di majalah tersebut. Dalam wawancaranya dengan majalah itu, Obin mengatakan bahwa ia lebih senang disebut sebagai “tukang kain” daripada seorang desainer. Bagi saya, hal itu benar-benar menarik, terlebih setelah mengetahui bahwa reputasi Obin dan label yang ia dirikan, BIN House, sudah tidak diragukan lagi tidak hanya di Indonesia tetapi juga dunia internasional. Bahkan aktris sekaliber Julia Roberts adalah salah satu kolektor kain buatan Obin.

Tidak hanya berhenti sampai disitu, setelah membaca artikel di majalah tersebut tentang Obin, masih banyak hal menarik lainnya yang membuat saya penasaran dengan Obin dan BIN House. Jadi, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak datang dalam sebuah fashion show khusus dari BIN House di hari ke-4 Jakarta Fashion Week 2011-2012.

Fashion show dimulai jam 1 siang, jam dimana saya biasanya masih asik tidur-tiduran sambil nonton TV kabel di kostan(saat itu saya sedang numpang di kostan teman di daerah Senopati). Sebenarnya agak malas rasanya beranjak dari kostan yang benar-benar nyaman dan bikin betah itu. Tapi saat saya mengingat lagi kalau yang akan show adalah koleksi dari BIN House saya langsung bersemangat siap-siap pergi menuju Pasific Place dan menyaksikan fashion show itu.

Fashion show dari BIN House diberi judul “Apresiasi Pesona Bersama BIN House ‘A Catwalk Moment’. Sebelumnya saya harus mengatakan kalau saya nggak akan terlalu membahas tentang koleksi dari BIN House karena pada show ini saya memang sangat amat terkesan pada keseluruhan pengemasan fashion shownya yang sangat menyenangkan. Jadi, saya memang lebih tertarik untuk membahas keseluruhan fashion show :p.

BIN House oleh Obin Komara di JFW 2011-2012. Model: Dhining

Dibagi menjadi 4 sekuens, fashion show BIN House itu diarahkan secara langsung oleh Panca Makmun selaku koreografer. Saat pertama kali saya tau kalau koreografer fashion show BIN House adalah Panca Makmun, saya yakin kalau kemungkinan besar fashion show akan berjalan dengan sangat menyenangkan. Dan benar saja, 4 sekuens show BIN House benar-benar menjadi salah satu moment yang paling tidak bisa saya lupakan selama JFW 2011-2012. Alur masing-masing sekuens dari fashion show tersebut dibuat naik turun bergantian pada setiap sekuens. Grup model dibagi menjadi dua sub grup, dikelompokkan sesuai dengan karakter para model. Untuk kasus fashion show BIN House itu, saya senang menyebutnya dengan Grup1, Model Anggun&Dewasa dan Grup2, Model Ceria&Centil.
Kedua grup model itu masing-masing “dikepalai” oleh Dominique Diyose di Grup 1, dan Kimmy Jayanti di Grup 2.

BIN House oleh Obin Komara di JFW 2011-2012. Model: Dominique Diyose

BIN House oleh Obin Komara di JFW 2011-2012. Model: Whulandari

Sekuens pertama di buka dengan para model dari Grup 1 yang diawali dengan penampilan Dominique Diyose yang mengenakan satu set busana bermaterial kain batik. Irama musik mengalun perlahan seiring dengan penampilan kalau-kamu-lihat-kamu-akan-tahan-nafas-saking-kerennya dari Dominique. Penampilan Dominique yang sangat anggun, dewasa, dan terkesan sexy juga berlaku pada setiap model yang ada dalam Grup 1. Semua model dari Grup 1, adalah tipe model yang memiliki karakter yang anggun, dewasa, dan terkesan sexy.

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 2 di JFW 2011-2012. Model: Renata

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 2 di JFW 2011-2012. Model: Dea Nabila

Beralih dari sekuens satu ke sekuens dua, Kimmy Jayanti si model rock and roll tampil dengan gaya ceria. Dengan musik backsound yang dinamis ia menebar senyum dan tawa kepada setiap orang yang memenuhi fashion tent. Benar-benar menciptakan suasana perpindahan sekuens yang berbeda dari sekuens sebelumnya yang lebih syahdu.

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 3. Model: Dominique Diyose

Tapi, dari semua sequens saya nggak akan pernah bisa lupa dengan sekuens tiga. Sekuens yang memakai lagu “Juwita Malam” Ismail Marzuki versi Slank. Sejak dulu saya memang sangat suka dengan lagu itu. Setiap mendengar lagu itu, otak saya selalu memvisualisasikan dengan seorang wanita cantik yang mengenakan gaun warna merah. Dalam bayangan saya wanita itu terlihat cantik, pintar, seksi, dan membuat terpesona siapa saja yang melihatnya.

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 3 di JFW 2011-2012. Model: Whulandari

Lalu pada sekuens tiga itu, Dominique muncul, berjalan perlahan dari belakang lintasan catwalk mengenakan kebaya encim warna merah, kain batik, dan selendang putih. Damn!. Visualisasi saya jadi kenyataan!. Dan si wanita dalam lagu “Juwita Malam” dalam bayangan saya menjelma nyata!. Am Speechless.

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 4. Model: Kimmy Jayanti

 

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 4 di JFW 2011-2012. Model: Renata

Pada sekuens terakhir, Grup 2 Kimmy Jayanti tampil dengan lebih “tenang”. Mengenakan  busana two piece putih-putih dan sehelai kain merah  yang kemudian ia mainkan(putar-putar). Seluruh model pada Grup 2 Kimmy yang sebelumnya tampil dengan ceria dan centil pun sedikit berubah imej menjadi lebih “tenang”. Pada sequens ini, busana yang dibawakan para model didominasi oleh warna putih.

Finale Akhir BIN House di JFW 2011-2012

Seluruh sekuens pada fashion show BIN House berakhir. Seluruh model melakukan sesi finale. Saat finale,  para model yang kesemuanya telah berada di lintasan catwalk mengambil posisi duduk di tepi lintasan, dan sang empunya label BIN House, Obin Komara pun berjalan dengan menggoyangkan tubuh menuju depan lintasan catwalk dengan membawa sebuah kain. Saat lihat Obin bergoyang dengan begitu asyiknya, saya yang hanya berjarak beberapa meter di depan lintasan catwalk serasa ingin bergoyang juga. Rasanya pasti sangat menyenangkan. Semenyenangkan show nya. 😀