Goodbye 2012, and Hellooo Our Skinny Girl, What’s Going On?

Reti seusai satu rangkaian peragaan busana di Jakarta Fashion Week 2012/2013

Reti seusai satu rangkaian peragaan busana di Jakarta Fashion Week 2012/2013

Hampir satu tahun berlalu dari saat pertama kali saya menuliskan tentang Reti Ragil Riani dalam blog ini. Dulu, saya begitu tertarik pada Reti karena pribadinya yang sangat menyenangkan. Ia ramah, sederhana, dan apa adanya. She never trying too hard to be something on the stage or in real life, she just be her self. Reti yang ramai, dan kocak saat membicarakan banyak hal. Namun justru disanalah daya tarik terbesarnya.

Kemudian waktu berlalu dengan cepat, ada begitu banyak hal yang terjadi, ada begitu banyak hal yang berubah. Begitu pula dalam panggung mode Indonesia. Hampir setiap waktu kala sebuah peragaan busana diselenggarakan, saya melihat wajah-wajah baru yang terasa asing. Ada yang masih memancarkan kekhasan wanita Indonesia, dan banyak juga wajah yang benar-benar asing dari belahan Bumi lain.

Sebelum pulang masih sempat pose konyol bersama Chloe. Lol

Sebelum pulang masih sempat pose konyol bersama Chloe. Lol

Tetapi diantara banyak wajah baru yang bermunculan di atas panggung peragaan busana, saya tetap dengan mudah menjumpai sosok Reti. Disepanjang tahun 2012, ia tetap jadi skinny girl kesayangan para desainer. Malahan, menurut saya pribadi, Reti adalah salah satu model muda yang karirnya paling bersinar di sepanjang tahun 2012. Deretan nama desainer papan atas Indonesia dari mulai Biyan, Priyo Oktaviano hingga Oscar Lawalata, masih setia memberi kepercayaan pada Reti untuk memperagakan koleksi teranyarnya. Majalah-majalah mode ternama sekelas Dewi, dan Bazaar kerap kali menjadikan Reti sebagai model pada laman Fashion Spread.

Dengan pribadinya yang tidak ngoyo, dan sering cenderung kurang percaya diri, Reti seolah membuktikan diri dalam caranya sendiri. Tanpa banyak bercerita, dua gelar disabetnya pada tahun 2012 ini. Yang pertama adalah Pemenang 1 Gading Model Search 2012, dan yang kedua adalah Fun Fearless Female 2012. Dan juga mungkin tidak banyak yang tahu jika Reti pada awalnya adalah salah satu calon terkuat Indonesia dalam ajang Asia’s Next Top Model sebelum pada akhirnya pilihan jatuh pada model berwajah oriental Filantropi Witoko.

Saya terakhir kali bertemu Reti pada sebuah acara peragaan busana “spesial” yang diselenggarakan oleh Plaza Senayan. Semua model yang terlibat hari itu tidak hanya harus memperagakan busana secara normal dengan berjalan di atas catwalk, tetapi juga diharuskan menjadi manekin hidup yang di posisikan di sepanjang lorong-lorong utama Plaza Senayan. Jadilah peragaan busana itu sangat “spesial”, bagi si model dan sudah pasti bagi pengunjung yang datang.

Let's take a funny picture after the show. :D

Let’s take a funny picture after the show. 😀

Hari itu, setelah show, saya dan Reti berbincang santai di salah satu sudut foodcourt Plaza Senayan. Saya cukup banyak bertanya, dan dia lebih banyak lagi bercerita dengan gaya berbicaranya yang santai dan apa adanya. Salah satu hal yang saya tanyakan padanya adalah tentang gelar Fun Fearless Female 2012 yang baru saja ia dapatkan.

Lalu, dengan wajah lucu ia bercerita banyak pada saya tentang acara itu. Ia bercerita tentang penyesalannya karena kedua orangtuanya tidak hadir pada malam final Fun Fearless Female. Ia bercerita tentang segudang inspirasi yang ia terima selama menjalani masa karantina. Ia bercerita tentang jawaban-jawaban-nya yang mengundang gelak tawa para juri pada saat penjurian.

Sebelum saya dan dia berpisah, ia bercerita tentang impiannya di dunia modeling, menjadi lebih baik dari waktu ke waktu dan menjadi seorang model yang tak perlu terkenal, tetapi orang tahu bahwa ia adalah seorang model professional yang kemampuannya tak perlu diragukan. Dan saya mengamininya.

Good Luck Our Skinny Girl!

Imperata Nomadechic ; Kali Ini Bukan Batik, Tapi Kain Tenun-lah Yang Dipilih Eddy Betty

Awalnya saya kira, Eddy Betty melalui lini keduanya, edbe(baca: e.di.bi), akan terus mengolah kain batik sebagai material andalan pada setiap potong busana siap pakai yang ia lansir. Namun ternyata hal ini terpatahkan ketika pagelaran teranyarnya, ia berpindah hati dari kain batik ke kain tenun.

“Imperata Nomadechic” edbe oleh Eddy Betty. Foto. Windy Sucipto

Oktober 2011 silam, saya berada di deret kursi terdepan yang disediakan untuk rekan media ketika lini kedua desainer Eddy Betty menyelenggarakan sebuah pagelaran busana koleksi teranyar. Koleksi berbahan batik tulis dengan konsep “padukan tanpa serasikan”, ia wujudkan ke lebih dari tujuh lusin set busana yang dipertontonkan pada malam itu.

Busana siap pakai dengan penggunaan kain batik sebagai material dasar mungkin akan terasa biasa saja, karena Eddy Betty melalui lini edbe bukanlah yang pertama merilis koleksi semacam itu. Namun, rangkaian koleksi berjudul “Love Is In The Air” yang ia lansir hampir setahun lalu, menjadi istimewa tatkala sang desainer mengaplikasikan motif-motif batik tulis yang ia pesan secara khusus dan tidak terikat pakem motif batik yang sudah ada.

Motif mainan anak-anak, telor paskah hingga boneka matryoska yang khas Rusia ia lukiskan pada puluhan pasang koleksinya. Warna-warna cerah yang ceria nan playful ia jadikan pengikat tiap pasang mata yang menyaksikan rangkaian koleksinya.

Meski dalam penyelenggaraannya, pagelaran busana edbe “Love Is In The Air” masih terdapat banyak kekurangan atau bagian yang miss, namun bagi saya, tiap potong koleksi yang dahulu ia suguhkan cukup meninggalkan kesan, karena batik ia reinkarnasikan menjadi sesuatu yang lebih seru, anak muda, “bandel”, tanpa meninggalkan pesona kain batik tulis yang khas.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Maria Titah. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe sekuens pertama. Model: Mareike Brenda. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Reti Ragil Riani. Foto: Windy Sucipto

Awal bulan Juni 2012, saya mendengar kabar bahwa edbe akan kembali merilis rangkaian koleksi terbarunya. Sebuah pagelaran busana pun ia siapkan dengan mengambil tempat di Grand Ballroom Hotel Ritz Carlton Pasific Place. Saat mengetahui hal tersebut, yang pertama kali mampir di otak saya adalah, batik.

Ya, batik. Edbe dan batik, saya rasa dua hal itu sulit terpisahkan. Tapi ternyata saya salah, kali ini tak lagi batik yang ia gadang, pilihan desainer yang pernah mengenyam pendidikan mode di Fleuri de la Porte dan Chambre Syndicale de la Couture Parisienne ini jatuh pada kain tenun bali dan tenun ende.

Bersama pasangan bisnisnya, Ley Sandjaja, Eddy Betty berkeinginan untuk mengangkat keindahan wastra nusantara yang begitu kaya melalui koleksi busana siap pakai yang edgy dan kaya akan muatan lokal dalam bingkai modernitas. Ia juga sempat mengatakan pada sesi pers conference bahwa koleksi dari lini edbe tidak akan terhenti pada batik saja, ataupun kain tenun, namun akan terus berlanjut ke material dasar lain seiring perjalanan hidup dan keragaman kain-kain nusantara lainnya.

“Imperata Nomadechic” atau yang bisa diterjemahkan sebagai“From Sunrise to Sunsite” adalah judul sekaligus tema besar yang ia usung pada rangkaian koleksinya kali ini. Bekerjasama dengan majalah Harpers Bazaar Indonesia dan MRA Group, pagelaran busana “Imperata Nomadechic” pun dikultuskan sebagai pagelaran busana pertama dari desainer Indonesia yang ditayangkan melalui live streaming di 6 situs premium kepunyaan MRA Group.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Prinka Cassy. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadehic” edbe, sekuens kedua. Model: Bunga Jelita. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Jenny Chang. Foto: Windy Sucipto

Jika membicarakan keseluruhan koleksi yang ditampilkan, pada “Imperata Nomadechic” ketiga sekuens memiliki garis besar koleksi yang serupa. Gaun pendek berpotongan lurus, gaun pendek bervolume dengan siluet menyerupai boneka matryoska, gaun asimetris, blus, kemeja, celana pendek sebatas paha, celana pendek ¾, celana jodhpur, celana panjang, hingga baju terusan(jumpsuit) seakan menjadi item wajib yang mesti ada pada setiap sekuens.

Tetapi yang menjadikannya lebih menarik dan jauh dari kata membosankan adalah konsep pembagian ke-114 set koleksi menjadi tiga sekuens utama, dimana masing-masing sekuens mewakili satu fase waktu utama sejak terbit hingga terbenamnya matahari yang terinterpretasikan melalui benang merah semburat warna yang hadir dalam setiap sekuens.

“Imperata Nomadehic” edbe, sekuens pertama. Model: Kelly Tandiono. Foto: Windy Sucipto

Dalam sekuens pertama, koleksi tenun dihadirkan dalam sentuhan warna-warna pagi yang cerah seperti biru, kuning, merah, hijau dan orange. Warna-warna inilah yang kemudian seolah melukiskan keindahan alam di kala matahari baru saja terbit di ufuk timur.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens kedua. Model: Hege Wollan. Foto: Windy Sucipto

Linen menjadi paduan yang apik bagi tenun Bali yang memiliki warna lebih lembut pada sekuens kedua. Di sekuens ini warna-warna yang lebih lembut seperti putih gading, hijau pupus, coklat muda dan abu-abu seakan menghadirkan semburat ketenangan jiwa ketika matahari berada di puncaknya. Seakan menepis terik yang sudah pasti terasa menyengat pada siang di negara tropis seperti Indonesia.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Hege Wollan. Foto: Windy Sucipto

Kesan mewah dalam warna-warna lebih gelap yang mendominasi koleksi adalah hal yang langsung tertangkap begitu memasuki sekuens ketiga. Kain tenun ende yang diolah menjadi 8 set busana pria dan 30 set busana wanita terlihat begitu memukau dalam warna-warna gelap yang mewakili keindahan kilau warna alam disaat senja ketika matahari merangkak naik menuju peraduan.

Mungkin sebagian dari mereka yang sering iseng menyatroni tulisan-tulisan di blog saya ini tidak akan lupa dengan sebuah tulisan saya mengenai pagelaran busana “Love Is In The Air” yang saya posting di tahun kemarin. Ada banyak hal yang mengganggu pikiran saya pada saat menyaksikan pagelaran busana tersebut. Hal yang kemudian saya tuangkan dalam sebuah tulisan berisi beberapa point kekecewaan saya terhadap pagelaran busana milik edbe itu. Mulai dari susunan koleksi, susunan keluarnya model, musik pengiring, hingga kesalahan MC saya jadikan bahan dalam tulisan saya. Lalu bagaimana dengan pagelaran busana edbe kali ini?.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Renata. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechi” edbe, sekuens kedua. Model: Filantropi. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Foto: Windy Sucipto

Pertama, susunan koleksi. Jika pada tahun lalu, konsep “Mix don’t Match” yang diusung edbe sedikit mengganggu saya karena malah memunculkan kesan ‘random’ pada susunan koleksi yang dimunculkan karena beberapa hal termasuk padupadan, urutan keluarnya busana dan juga konsep tabrak warna, pada “Imperata Nomadechic” hal itu tak lagi eksis.

Tema “From Sunshine To Sunsire” yang diangkat edbe pada tahun ini terinterpretasikan dengan sangat apik melalui sistem pembagian sekuens menjadi tiga fase waktu utama. Tone warna yang dihadirkan, garis potong yang ‘bebas’ dan ‘semaunya’ ala harajuku, serta konsep “Mix don’t Match” yang masih terus dimunculkan, terasa lebih nyaman serta jauh dari kesan “random”.

Saya pribadi sangat menyukai suasana yang terbangun ketika memasuki perpindahan sekuens kedua yang mewakili waktu siang menuju sekuens tiga yang mewakili keindahan dikala senja menjelang malam datang. Mulai dari multimedia visual, alunan musik, hingga ‘rasa’ pada koleksi yang ditampilkan terasa sangat pas untuk menggambarkan momen spesial yang tercipta ketika senja tiba.

Kedua, susunan keluar model dan model itu sendiri. Rapi, dan hampir sangat pas. Saya hanya merasa sedikit terganggu dengan 1-2 model yang karakternya terasa nanggung. Dikatakan androgini, tidak, tapi kalau tidak androgini kenapa bahasa tubuh dan pembawaan mengarah ke androgini. Saya jadi menangkap kesan “tanggung” pada si model yang saya sendiri tidak tahu siapa namanya.

Lantas selebihnya?. Saya rasa tidak ada lagi hal yang menganggu pikiran saya pada pagelaran busana milik edbe kali ini. Semuanya hampir sangat pas dan sempurna.

“Imperata Nomadechic” edbe.

“Imperata Nomadehic” edbe.

Secara keseluruhan saya merasa sangat nyaman dan jauh lebih menyukai pagelaran busana “Imperata Nomadechic” dibandingkan yang terdahulu karena bagi saya, konsep yang ada terasa lebih tereksekusi dengan baik dalam penyelenggaraan yang lebih tertata rapi.

Serta jangan lupakan dekorasi panggung lintasan catwalk yang pada bagian pangkalnya diberi rerumputan tinggi dan pada alas lintasan catwalk dilapisi oleh kayu. Terlihat sederhana dan tidak serumit beberapa pagelaran busana yang pernah terselenggara, namun hal itu sudah lebih dari cukup memperkuat konsep “From Sunrise To Sunsite” yang ingin dihadirkan.

FOLIAGE ; Bayangan Keindahan Alam Ala Biyan

Biyan adalah salah satu legenda hidup dunia mode Indonesia. Setiap kali ia melansir koleksi busana teranyar, adalah wajib hukumnya bagi pecinta mode khususnya pengagum karya beliau, termasuk saya, untuk mengetahui apalagi yang ia persembahkan untuk dunia mode. Dan Biyan Annual Show 2012/2013 adalah satu hari yang telah saya tunggu sejak satu tahun lalu.

 

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Pertengahan tahun 2011 lalu adalah kali pertama saya menyaksikan secara langsung pagelaran busana karya Biyan Wanaatmadja atau yang lebih dikenal dengan nama Biyan. “The Orient Revisited” begitulah judul yang ia pilih untuk pagelaran busananya tahun lalu, judul yang hingga saat ini tidak pernah hilang dalam ingatan saya.

Saya masih ingat benar ketika setahun lalu saya berada di Grand Ballroom Hotel Mulia yang diterangi sinaran lampu temaram sebelum berubah terang dan seorang penari kontemporer mempertontonkan liukan tubuhnya sebagai pembuka pagelaran tunggal “The Orient Revisited”. Begitu pun dengan rak kayu super besar yang didalamnya berjejer guci-guci raksasa yang jadi dekorasi pada pangkal panggung lintasan catwalk.

Saya tidak akan lupa, tidak pernah lupa betapa menghanyutkannya suasana pada malam itu. Syahdu, megah, namun masih menyisakan kesan modern meski sekaligus seakan membawa saya bertamasya ke suatu tempat nun jauh disana. Tempat dimana saya menyaksikan geliat aktivitas masyarakat etnis Tionghoa dalam perpaduan tempoe doeloe dan modern.

Setahun berlalu dan kesan akan pagelaran tunggal Biyan atau yang biasa disebut Biyan Annual Show tidak bisa hilang. Setahun berlalu, dan dalam setahun itu pula saya menanti untuk bisa mengulang kesan mendalam ketika menyaksikan pagelaran tunggal milik Biyan.

Dekorasi panggung Biyan Annual Show “FOLIAGE”

 

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Saya melangkahkan kaki masuk ke area Grand Ballroom sekitar satu jam sebelum jadwal show seharusnya dimulai, dan saya merasa seperti tersesat di dalam hutan hujan tropis kala malam. Pepohonan yang tingginya lebih dari dua meter, dedaunan yang menguarkan bau khas, bunga-bunga kecil yang menyembul malu-malu dari sela sulur pohon, serta suasana sekitar yang masih gelap dan hanya sedikit terkena pencahayaan yang entah berasal dari mana. Seumur-umur, saya belum pernah merasakan sensasi memasuki ruangan tempat akan berlangsungnya sebuah pagelaran busana seperti saya ada disini. Di Ballroom tempat pagelaran busana Biyan akan berlangsung.

Suasana hutan tropis lengkap dengan pepohonan rimbun bercabang, daun-daun hijau hijau beraroma menenangkan seperti bau tanah sehabis hujan, dan kesyahduan cahaya temaram. Saya rasa saya tidak akan menyadari bahwa sesungguhnya saya berada di dalam sebuah Ballroom tempat akan berlangsungnya pagelaran busana jika saja sebuah lintasan catwalk berwarna putih bersih, kursi-kursi yang berjajar rapi dan bangku berundak di sisi kiri dan kanan ruang tidak menyapa saya beberapa saat kemudian, ketika saya sudah melewati bagian Ballroom yang di tata sedemikian rupa hingga tak ubahnya seperti hutan tropis.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Hege Wollan

“Represent life and its growth..Cerita kehidupan dengan pertumbuhan dan perkembangannya”,

itulah yang diucapkan sang maestro mengenai pagelaran busananya kali ini. Biyan seolah membayangkan berada diantara sekumpulan daun-daun hijau yang rimbun atau bentangan ladang yang luas dipenuhi bunga-bunga liar bermekaran, dan hembusan angin yang beralun ringan menyempurnakan bayangannya tentang sebuah “pelarian” yang indah dan menyejukkan.

Biyan lalu memilih “FOLIAGE” sebagai satu nama yang dirasa mampu mewakili semua yang ada dalam angannya. “FOLIAGE”, ia terjemahkan sebagai sekumpulan daun, interpretasi tentang hidup yang terus betumbuh.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Drina Ciputra

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Michelle Samantha

Jika di tahun sebelumnya dalam pagelaran “The Orient Revisited” Biyan meluncurkan 100 koleksi, pada “FOLIAGE” ia mengurangi jumlah menjadi 90 set busana. Pada rangkaian koleksinya kali ini pula, Biyan terlihat masih sangat nyaman bermain-main dengan eksplorasi keindahan alam yang ada di sekelilingnya dalam membuat motif, warna dan rasa pada koleksi busananya.

Ornamen payet yang dirangkaikan secara detil menjadi rangkaian bunga-bunga kecil serta dedaunan yang memenuhi beberapa bagian busana, disamping motif print bunga, dedaunan, rerumputan, pakis, kupu-kupu, hingga motif polkadot yang menyerupai stomata daun mewarnai kesembilanpuluh set busana yang disuguhkan pada malam itu.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Sharlotta

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Ilmira

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Renata

Siluet busana seperti atasan yang ramping dan potongan bawah yang bervolume, ataupun sebaliknya seperti blus berstuktur kaku dengan bawahan yang ramping, jaket berstuktur kaku yang dipadankan dengan rok lebar bervolume ringan, kesemuanya itu menampilkan sisi feminin perempuan sesungguhnya, bersamaan dengan sisi maskulin, bahkan menyajikannya dengan aspek innocence secara berbarengan.

Sementara, dalam sisi pemilihan warna, Biyan menyelaraskan penggunaan warna dalam koleksinya dengan konsep keindahan alam yang dipilihnya, keindahan alam yang terkesan begitu lembut dan menyejukkan. Warna hijau dari rerumputan, biru langit, putih gading, abu-abu, hitam, merah dan orange pucat, serta emas adalah warna-warna yang dipilih Biyan dalam rangkaian koleksinya.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Katya Talanova

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

90 set busana dibawakan dalam waktu kurang dari satu jam, dan selama itu saya merasa jika koleksi Biyan kali ini masih merupakan pengulangan koleksi terdahulu. Meski saya sangat menyukai keseluruhan koleksi, namun kesan De Javu tetap tak bisa dihilangkan. Motif-motif yang dihadirkan, juga siluet yang ada pada tiap set busana, terasa masih memiliki kesamaan yang begitu kental dengan koleksi “The Orient Revisited”.

Mungkin karena ciri khas siap pakai yang sudah terpatri erat pada garis rancang Biyan, atau mungkin memang Biyan masih ingin melanjutkan benang merah rangkaian koleksinya yang terdahulu. Atau, karena konsep mendasar yang ia usung tetaplah sama, mudah dipakai serta mudah dipadupadankan, nyaman namun tetap mengedepankan sisi gaya dan anggun sekaligus berkarakter kuat. Hal yang kemudian ia rekatkan menjadi satu kesatuan koleksi busana yang memiliki daya tarik tinggi meski terkesan sederhana dan santai.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Advina Ratnaningsih

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Drina Ciputra

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Reti Ragil Riani

Selain itu, tata artistik dekorasi panggung lintasan catwalk yang dibuat sedemikian rupa dipenuhi pepohonan rindang, tumbuhan merambat, dedaunan hijau yang member kesan rimbun, teduh, terpencil sekaligus megah sepintas mengingatkan pada nostalgia film Great Expectations yang merupakan adaptasi novel karya penulis Inggris, Charles Dickens, menjadi daya tarik tersendiri. Saya rasa, dekorasi ruang Ballroom dan panggung lintasan catwalk yang terkonsep sedemikian rupa serta nyaris sempurna menjadi suatu nilai tambah yang sangat besar pada pagelaran busana Biyan di tahun ini.

Seusai Finale Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Dan jika pada tahun lalu saya menuliskan jika para model yang dipilih Biyan dalam memperagakan busana cukup “mengganggu” banyak diantaranya tak ubah zombie di atas catwalk sementara beberapa yang lainnya tak mampu menutupi raut wajah seperti menahan sakit, pada pagelaran busana nya kali ini hal tersebut jauh berkurang. Saya memang masih merasakan beberapa model berjalan seperti tak mempunyai “ruh”, tetapi tidak banyak, dan bisa dihitung jari. Raut wajah seperti menahan sakit pun tidak terasa sama sekali.

Secara keseluruhan, bagi saya, pagelaran busana Biyan kali ini nyaris sempurna terlepas dari kesan De Javu yang begitu melekat.

Palais Royal ; Daya Tarik Konsep Penggabungan Budaya Cina dan Jawa Oleh Priyo Oktaviano

Ia menginterpretasikan film “Shanghai Tang” dan kehidupan tanah Jawa dalam lingkungan Kraton melalui koleksi terbarunya. Suasana kota Shanghai pada tahun 1920an pun ditampilkan berdampingan dengan atmosfer Kraton Jawa di era kolonial. Desainer berkacamata ini memang selalu membuat saya jatuh hati.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Laura Muljadi

Fashion show yang terselenggara pada hari penutupan Jakarta Fashion and Food Festival memang selalu membuat saya penasaran terlebih ketika mengingat pada tahun lalu, Adrian Gan sukses membuat saya serasa naik roaller coaster melalui rangkaian koleksinya yang bertajuk “Patola Kamba Manandang”. Kain-kain tenun yang ia datangkan langsung dari Nusa Tenggara dan juga kain dari berbagai belahan dunia lain seperti India, dan Perancis berhasil ia ubah dengan sangat apik menjadi koleksi busana couture yang indah. Jangan pula lupakan alas kaki yang diberikan pada seluruh model yang membawakan koleksinya, alas kaki itu hingga kini masih membuat jantung saya berdebar cepat bila mengingatnya.

Sejak hari pertama saya menerima jadwal lengkap penyelenggaraan JFFF 2012 saya sudah tahu jika fashion show hari terakhir yang diberi judul “Palais Royal” adalah satu dari sekian banyak fashion show yang tidak boleh terlewatkan di tahun naga air ini. Bukan hanya karena judulnya saja yang terasa legit jika dilafalkan pelan-pelan, tapi nama desainer dibalik judul itu sudah lebih dari cukup menjadi jaminan bahwa pagelaran busana di hari terakhir itu akan berlangsung memukau. Desainer dibelakang judul “Palais Royal” tak lain adalah Priyo Oktaviano, desainer sudah saya kagumi sejak tiga tahun belakangan.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano

Dimulai sejak pukul 20.00 WIB, “Palais Royal” dibuka dengan sekelompok penari berpakaian adat Bali membawa sesajen dan bakaran serupa menyan yang menguarkan aroma khas kesekeliling ruang. Setelahnya, formula yang sama seperti “Patola Kamba Manandang” milik Adrian Gan dimunculkan ke atas panggung. Seorang penari kontemporer pria meliukkan tubuhnya dengan luwes namun penuh tenaga, hanya saja bedanya ia tak lagi sendiri seperti pada “Patola Kamba Manandang” milik Adrian Gan, di panggung “Palais Royal” milik Priyo Oktaviano, ia bak seorang kepala suku yang dikawal hulu balangnya karena dibelakangnya turut berbaris dengan rapi penari-penari lain ketika ia akan mengakhiri penampilannya di atas lintasan catwalk.

Menghadirkan 35 set busana yang terdiri dari 27 set busana wanita dan 8 set busana pria, “Palais Royal” dibagi atas tiga sekuens utama yang kesemuanya memiliki konsep serta premis cerita yang berbeda.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Ferry Salim

 

Pada sekuens pertama, suasana kota Shanghai tahun 1920an dihadirkan oleh Priyo Oktaviano dengan menampilkan pemuda dan pemudi Cina yang tengah bercengkrama di sebuah taman sebagai prolog pembukaan sekuens. Aktor berwajah oriental Ferry Salim kemudian dipilihnya sebagai first face yang mengenakan topi fedora serta baju jubah tertutup yang sering kita lihat di film kungfu jaman dulu. Pada sekuens ini silluet busana bergaya cheongsam yang selalu identik dengan kerahnya yang tinggi, diaplikasikan Priyo menjadi gaun pendek berbelahan tinggi pada bagian bawah serta memiliki lekuk yang pas memeluk tubuh.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: J Ryan

 

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Sarah Azka

Selain itu terdapat pula gaun pendek berbelahan tinggi yang pada bagian atasnya menyerupai kemben dengan detil bertumpuk. Namun jika pada divisi busana wanita, warna mencolok khas busana bernuansa oriental seperti marun dan emas yang dihadirkan, empat set busana pria pada sekuens ini hadir dalam warna monokrom hitam-putih. Hal menarik lain yang sangat terasa pada sekuens ini adalah terdapatnya tattoo naga yang sengaja dilukiskan pada bagian tubuh model yang memperagakan busana, seperti pada bagian tangan, punggung, atau kaki.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Mareike Brenda

Nuansa khas Kraton Jawa di masa kolonial menjadi hal yang begitu terasa ketika memasuki sekuens kedua. Busana berwarna hitam terlihat mendominasi pada sekuens ini disamping padupadan warna lain seperti, emas, putih, marun, dan juga kain lurik yang dijadikan pelengkap busana. Stelan busana mirip beskap, celana longgar, gaun panjang yang pas badan berwarna metalik dan emas, blazer dengan motif kain songket hingga busana bersilluet kebaya kutubaru berbahan beludru dihadirkan untuk sesi busana wanita dalam sekuens kedua. Sedangkan untuk busana pria, Priyo menampilkan variasi pada bawahan seperti celana komprang dan harem serta atasan berupa jas, kemeja, dan beskap khas Jawa klasik.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Witha

 

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano.

Jika pada sekuens pertama saya serasa tengah menyaksikan replika kehidupan tempoe doeloe di daratan Cina sana, pada sekuens kedua ini saya seperti dibawa menyusuri lingkungan Kraton Jawa di era kolonial. Era dimana budaya Jawa yang masih memegang teguh warisan leluhur harus berbenturan dengan budaya barat yang mulai menyusup pada sendi kehidupan.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Advina Ratnaningsih

Sementara itu, sekuens ketiga yang merupakan sekuens penutup, Priyo Oktaviano coba untuk meleburkan dua kebudayaan yang jadi inspirasinya, yakni Cina dan Jawa. Gaun panjang one shoulder, gaun panjang bersilluet cheongsam dengan belahan bawah yang tinggi ia hadirkan dalam material dasar kain songket khas Bali yang kaya akan warna-warna emas.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Drina Ciputra

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Dominiwue Diyose

Pada keseluruhan busana yang ia tampilkan, Priyo Oktaviano menggunakan 70 persen kain tenun Bali buatan tangan atau handmade, sementara sisanya ia mengaplikasikan berbagai material lain seperti chiffon, linen, katun dan beludru pada tiap potong koleksi busananya.

Dalam durasi kurang dari empatpuluhlima menit, saya rasa “Palais Royal” dari Priyo Oktaviano sukses menjadi penutup yang meninggalkan kesan mendalam. Perpaduan suasana Shanghai sembilan dekade lampau dan tanah Jawi di masa kolonial telah ia suguhkan dengan begitu cantik.

Reti Ragil Riani ; Skinny Girl Kesayangan Para Desainer

Yang saya selalu ingat darinya adalah tubuh super skinny, wajah tirus yang lancip, dan baju-baju Tex Saverio yang sering ia peragakan. Ia juga pribadi yang rendah hati dan menyenangkan.

Nama Reti Ragil Riani mungkin masih belum cukup familiar ditelinga para pecinta mode. Bisa dikatakan jika belum banyak yang tahu tentang dara bertubuh super langsing dan berwajah lancip yang kini jadi kesayangan banyak desainer ternama Indonesia, termasuk si “gila” Tex Saverio.

Reti Pada Sekuens Tex Saverio Dewi Fashion Knights 2011-12

Reti, Dewi Fashion Knights 2010-11 Sekuens Tex Saverio. Foto: Website JFW

Namun menariknya, saya cukup sering menemukan data statistik blog saya ini dengan keyword Reti Ragil. Oleh karena itu saya menduga mungkin sudah ada cukup banyak orang yang pernah mendengar namanya, tetapi belum mengetahui lebih banyak tentang model peraga busana Tex Saverio yang dikenakan Lady Gaga ini.

Reti(kiri), Fashion Spread Tex Saverio. Foto: Anton Ismael untuk Majalah Dewi

Sejak pertama mengenal sosok Reti, saya selalu mengenangnya sebagai si model super skinny dengan pribadi yang menyenangkan. Dilahirkan dalam keluarga yang sangat peduli dengan pendidikan dan keagamaan, Reti menghabiskan masa sekolahnya selama 12 tahun di sebuah sekolah swasta yang dikenal mementingkan bidang keagamaan disamping bidang akademis, yakni Panglima Besar Soedirman yang berlokasi di wilayah Cijantung Jakarta Timur. Saat masa-masa sekolah itulah Reti menyadari kenyataan bahwa ia memiliki tinggi tubuh di atas rata-rata anak seusianya.

Reti, Fashion Show The Culture Incarnation oleh Oscar Lawalata, JFW 2011-12

Selepas SMA untuk mengisi waktu libur sebelum kuliah, Reti memutuskan untuk mengikuti sekolah modeling atas kemauannya sendiri dan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Dipilihlah Look Models Inc sebagai tempat ia menimba ilmu modeling, namun jalan hidup tidak ada yang bisa menduga, pada saat pertama mendaftar, Reti justru langsung ditawari kontrak selama lima tahun oleh Look Models Inc dibawah pimpinan Keke Harun. Setelah berkonsultasi ke sang Mama, esok harinya Reti memutuskan untuk menerima tawaran kontrak tersebut.

Reti di Majalah Fashion Pro. Foto oleh Azmi

Berawal dari sana, karir modelingnya lalu berkembang pesat. Deretan nama desainer papan atas Indonesia seperti Priyo Oktavianno, Biyan, Eddy Betty, Sebastian Gunawan, dan Tex Saverio, adalah sebagian kecil dari para desainer ternama yang kerap kali menggunakan jasanya  sebagai seorang model. Meski tergolong sebagai model pendatang baru, namun dengan tinggi 179 cm dan berat 50 kg, wajah lancip yang khas serta memiliki karakter tersendiri, tidak heran bila gadis yang punya hobi membaca komik Miko ini menjadi salah satu model kesayangan para desainer yang patut diperhitungkan.

Reti di "Shanghai Swing" Sebastian Gunawan. Foto: Windy Sucipto

Reti, "The Orient Revisited" BIYAN

Saat ini, selain disibukkan oleh aktivitasnya di bidang modeling, Reti juga masih tercatat sebagai mahasiswi di STIKS Tarakanita. Pengagum sosok TOP model Fahrani pun memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi.

Hal ini terbukti dengan waktu-waktu yang dihabiskannya untuk mengunjungi panti jompo, serta bakti sosial kecil-kecilan. Ia juga memiliki sebuah impian untuk bisa mengajak anak-anak yatim piatu mengunjungi dan bermain sepuasnya di DUFAN. Baginya, jika hal itu bisa terlaksana pasti akan menyenangkan sekali.

Mirip Desain Siapa Hayooo???

Mau tidak mau saya mengernyitkan kening ketika melihat desain-desain yang saya posting di bawah ini. God!, it’s look like de javu!. Ini seperti desain….

Danny Satriadi. Model: Mungki Chrisna

Pada tahun sebelumnya saya dibuat terkesan oleh koleksi busana dari para desainer yang mengisi satu slot fashion show khusus di JFW 2010-2011 yang bekerjasama dengan salah satu merek shampoo. Salah satu desainer yang saya ingat betul keindahan koleksinya adalah Danny Satriadi. Koleksinya keren dan berkesan, terlepas dari para model bulesuper duper ganggu yang tampil membawakan koleksi tersebut.

Lalu pada tahun ini saya pun bersemangat ketika tahu Danny akan kembali mempertontonkan kolesksi terbarunya di JFW 2011-2012. Kali ini Danny tidak lagi bekerjasama dengan merek shampoo melainkan merek salah satu mobil kelas internasional, Mazda.

Fashion Show itu diberi nama “Mazda Present Young Vibrant Designer”. Premis utamanya adalah memamerkan koleksi dari 3 orang desainer yang pada koleksinya terinspirasi oleh mobil Mazda keluaran terbaru. Tiga desainer tersebut adalah Kleting Titis Wigati, Danny Satriadi , dan Imelda Kartini.

Kleting. Model: Prinka Cassy, Kelly Tandiono dll

Kleting Titis Wigati yang lebih kenal luas dengan label Kle nya, menampilkan busana-busana ready to wear penuh warna dan berpotongan unik, seperti yang sudah jadi ciri khasnya. Pada saat menyaksikan koleksi busana dari Kleting saya masih biasa saja dan tidak merasa aneh atau bingung sama sekali, karena saya tahu memang seperti itulah koleksi busana yang jadi andalan Kle.

Danny Satriadi. Model: Paula Verhoeven

Lalu masuk ke koleksi Danny Satriadi. Begini, saya sebenarnya sangat tidak ingin membandingkan karya seseorang dengan yang lainnya, tapi mau bagaimana lagi, terlalu sulit bagi saya untuk menahan diri dan tidak berkomentar tentang koleksi Danny kali ini, terutama pada koleksi pamungkasnya yang dikenakan model Paula Verhoeven.

Danny Satriadi

Koleksi itu, bagi saya begitu mirip dengan koleksi seorang desainer pendatang baru yang ditampilkan pada tahun sebelumnya. Saya tidak ingin langsung menilai jika koleksi Danny itu meniru atau semacamnya, tapi memang saya rasa ada beberapa kemiripan.

Imelda Kartini. Model: Reti Ragil Riani

Sementara untuk koleksi dari Imelda Kartini, saya nggak bisa komentar banyak karena sebelum-sebelumnya saya belum pernah melihat koleksi Imelda, atau mungkin sudah tetapi lupa. Jadi silakan diperhatikan dan diberikan komentar sendiri tentang koleksi Imelda dari foto yang saya posting dibawah ini.

Imelda Kartini. Model: Kelly Tandiono

Imelda Kartini. Model: Kimberly

Over all, saya hanya gatal untuk memposting foto-foto ini setelah lama tertahan. Masalah kalian setuju atau tidak atau hanya ingin sekadar memberi komentar monggo silakan.

Part 2 Bazaar Fashion Celebration 2011. Langgam Tiga Hati ; Perayaan Fesyen Berbalut Tradisi

“Obin Komara, Ghea Panggabean dan Eddy Betty Persembahkan Yang Terbaik Untuk Negeri. Totally Awesome Collection With Wonderful Show!”

Keroncong, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Keroncong memiliki tiga artian. Pertama, Keroncong dapat diartikan sebagai alat musik berupa gitar kecil berdawai empat atau lima. Kedua, Keroncong adalah irama atau langgam musik yang ciri khasnya terletak pada permainan alat musik Keroncong, yaitu kendang, selo, dan gitar melodi yang dimainkan secara beruntun. Ketiga, Keroncong merupakan jenis orkes yang terdiri atas biola, seruling, gitar, ukulele, banyo, selo, dan bass.

Tapi bagi saya pribadi terlepas dari bermacam penafsiran itu, Keroncong memiliki satu pemaknaan penting. Keroncong = Musik. Keroncong adalah satu jenis musik yang kemudian dipertegas sebagai musik asli kepunyaan Indonesia.

Yup Keroncong adalah musik asli kepunyaan Indonesia. Keroncong adalah musik asli serta salah satu pencapaian tertinggi dari para musisi Indonesia di masa lampau dalam bermusik. Keroncong tidak lain merupakan musik asli kepunyaan Indonesia hasil kreatifitas anak negeri bukan musik bawaan dari Portugis seperti yang selama ini banyak diketahui. Hal ini bukan tanpa dasar yang jelas, Keroncong diketahui sebagai musik asli Indonesia setelah Jay Subijakto selaku show director dan Erwin Gutawa sebagai music director Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” mengadakan sebuah riset panjang mengenai musik Keroncong di beberapa daerah di Indonesia yang disinyalir sebagai tempat-tempat awal munculnya musik Keroncong.

EdBe by Eddy Betty

Setelah pada tahun sebelumnya, Majalah Harper’s Bazaar Indonesia sukses menyelenggarakan sebuah pagelaran busana akbar dipadukan dengan live music layaknya sebuah mega konser dalam Bazaar Fashion Concerto, kali ini Majalah Harper’s Bazaar Indonesia melaksanakan sebuah pagelaran busana dari tiga orang desainer kenamaan Indonesia dalam balutan budaya serta tradisi yang kental tanpa melupakan ke khasan signature event Bazaar, fashion show dengan live music.

Keroncong sebagai salah satu musik asli Indonesia kemudian dipilih sebagai embrio utama dalam penyelenggaraan Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”. “Langgam Tiga Hati” yang menjadi tema besar dalam terselenggaranya acara ini memiliki arti tersendiri. Langgam memiliki arti irama, sementara tiga hati merupakan metamorfora dari tiga orang desainer yang ikut berpartisipasi dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Jika dirangkumkan secara keseluruhan, “Langgam Tiga Hati” mungkin dapat ditafsirkan sebagai penyatuan irama karya dari tiga desainer Indonesia dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Ketiga orang desainer yakni Obin Komara, Ghea Panggabean, dan Eddy Betty sempat mengatakan bahwa koleksi-koleksi yang mereka tampilkan pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah interpretasi masing-masing dari mereka saat mendengar kata keroncong.

Menjadi sangat menarik karena meski keroncong menjadi gagasan utama atas terselenggaranya acara ini, dan masing-masing desainer sepakat bahwa saat mendengar kata Keroncong yang terpikir adalah tentang budaya, serta tradisi, namun ketiganya menghadirkan koleksi busana yang amat berbeda satu sama lain. Busana ready to wear berbahan batik, sampai gaun malam model cheongsam menjadi interpretasi tersendiri.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Terbagi atas 5 sekuens parade busana, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 terlebih dahulu dibuka dengan parade busana Sariayu “Etnika Nusa Tenggara” oleh Deden Siswanto yang seolah menjadi sajian pembuka sebelum sampai kepada sajian utama “Langgam Tiga Hati”. Pada rangkaian koleksinya untuk Sariayu ini, Deden mengolah kain-kain tradisional khas Nusa Tenggara dalam busana yang kaya akan  detail dan beragam tekstur bahan.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Parade busana Sariayu ini sekaligus pertanda diluncurkannya 26 trend warna 2012 “Etnika Nusa Tenggara” dari Sariayu.

EdBe oleh Eddy Betty

EdBe oleh Eddy Betty with Darell Ferhostan as Model

Setelahnya, serangkaian koleksi busana ready to wear dari EdBe(baca: edibi) yang merupakan lini kedua milik Eddy Betty hadir sebagai pembuka pagelaran busana utama “Langgam Tiga Hati”. Awalnya saat pertama kali tahu bahwa Eddy Betty akan menampilkan koleksi dari lini EdBe, saya mengira koleksi yang akan ditampilkan ini adalah koleksi yang sama seperti yang pernah ia tampilkan pada pagelaran busana tunggal EdBe “Love Is The Air”, mengingat jarak waktu yang sangat singkat dari pagelaran busana tersebut, tapi ternyata tidak. Koleksi yang ditampilkan Eddy Betty ini sebagian besar adalah koleksi baru meski ada beberapa koleksi lama, namun dengan padupadan berfilosofi “Mix Don’t Match” yang dianut EdBe hal ini tidak terlalu terlihat.

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Reti Ragil Riani

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Filantropi

Untuk koleksinya ini EdBe menghadirkan Batik Kudus sebagai material dasar pada tiap potong busana. Palet warna-warna menyolok serta cutting asimetris ala harajuku yang jadi ciri khas EdBe kemudian ditampilkan dengan tabrak warna dan motif. Make up para model yang dibuat sedikit gothic dan “berantakkan” serta aksesoris pelengkap seperti gelang yang melilit pada tangan para model membuat rangkaian koleksi EdBe yang ia beri judul “Loves Batik Kudus” terlihat semakin menarik serta terkesan sangat anak muda dan funky.

Ghea Panggabean

Ghea Couture oleh Ghea Panggabean. Model: Drina Ciputra

Ghea Panggabean membagi sekuens parade busananya menjadi tiga sub sekuens. Ia membuat parade busananya layaknya drama tiga babak tentang perjalanan hidup Oei Hui Lan. Oei Hui Lan sendiri adalah seorang Putri Raja Gula dari Semarang yang memiliki kisah hidup tragis.

Sebagai putri orang terkaya di Indonesia juga di Asia Tenggara saat itu, Oei Hui Lan justru memilih cara bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Kisah tragis dari Oei Hui Lan inilah yang kemudian menginspirasi Ghea dalam rangkaian koleksi terbarunya. Kisah hidup Oei Hui Lan yang terjadi sekitar tahun 1920an adalah interpretasi Ghea terhadap musik Keroncong yang juga mulai dikenal luas pada masa-masa itu.

Salah satu koleksi di sekuens 1 Ghea Panggabean

Drama tiga babak hidup Oei Hui Lan dijabarkan dalam tiga sekuens parade busana yang pada masing-masing sekuens terasa amat berbeda meski memiliki satu benang merah yang sama yakni nuansa oriental yang sangat kental.

Sekuens 1 Ghea Panggabean. Model: Ayu Faradilla

Pada babak atau sekuens pertama, set busana cocktail dengan motif sulam dan bunga-bunga serta sentuhan gaya bohemian  berpadu dengan nuansa oriental menjadi gambaran dari romantika masa-masa awal hidup Oei Hui Lan selama di Indonesia.

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model : Kelly Tandiono

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model: Juanita Haryadi

Motif-motif keramik porselen khas Negeri Tirai Bambu yang sejak lama telah dikenal sebagai salah satu trade mark budaya Tiongkok yang sangat akrab dengan kehidupan Oei Hui Lan dihadirkan sebagai inspirasi utama pada sekuens kedua.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Dramatisasi Antie Damayanti

Babak terakhir dalam drama tiga babak kisah hidup Oei Hui Lan adalah sekuens yang bagi saya pribadi tidak akan pernah terlupakan. Diiringi lagu “Surya Tenggelam” milik mendiang Chrisye, aura magis pada sekuens ini benar-benar terasa.Terlebih lagi saat Antie Damayanti, salah seorang model pada sekuens Ghea muncul di atas panggung dengan sebuah koreografi yang begitu dramatis yang seolah menggambarkan kisah hidup penuh drama yang dijalani Oei Hui Lan.

Tidak berhenti sampai disitu, Dominique Diyose yang kemudian tampil dipanggung mengenakan sebuah payung yang tertutup kelambu hitam seperti menyerupai perumpamaan penampakkan hantu Oei Hui Lan yang kabarnya sering terlihat di hotel keluarga Oei Hui Lan.

Dominique Diyose, "Hantu" Oei Hui Lan

Bagi saya, sekuens ini lebih menyerupai kisah kematian Oei Hui Lan yang tragis dibandingkan dengan interpretasi  gaya hidup jetset super mewah yang dijalani Oei Hui Lan semasa hidupnya. Pada sekuens ini saya lebih membayangkan cerita kematian Oei Hui Lan yang tragis serta cerita seram tentang hantu Oei Hui Lan yang konon sering menampakkan diri di hotel keluarga di Semarang.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Dominique Diyose

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Prinka Cassy

Secara keseluruhan sekuens yang menghadirkan koleksi gaun malam dari lini teranyar Ghea Panggabean yang ia beri nama Ghea Couture ini adalah sekuens yang paling menyita perhatian saya. Gaun-gaun malam dengan dominasi warna hitam ditambah motif-motif bordir bernuansa oriental yang disajikan dalam warna emas menambah kekuatan drama dalam sekuens ini.

BIN HOUSE Oleh Obin Komara

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Kimmy Jayanti

Jika pada tahun sebelumnya koleksi dari BIN HOUSE untuk Bazaar Fashion Concerto diwakili oleh Wita, pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini BIN House diwakili langsung oleh sang pendiri, Obin Komara.

Lebih senang disebut sebagai “tukang kain”, Obin Komara mempersembahkan 15 koleksi busana. Pada koleksinya kali ini BIN HOUSE bermain-main dengan cutting jas pada kebaya. Beragam kain-kain cantik yang selalu jadi andalan BIN House diwujudkan dalam kebaya-kebaya  bersilluet modern dengan teknik tripping dan stitching yang memperkuat tekstur serta karakter kain.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Ines Arieza

Meski menjadi desainer yang paling sedikit mengeluarkan koleksi pada moment ini, keseluruhan koleksi dari Obin Komara untuk BIN HOUSE menjadi sangat menarik dengan arahan koreografi centil bagi setiap model pada sekuens BIN HOUSE.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Evie Mulya

Permainan kain dari beberapa model seperti Kimmy Jayanti, Evie Mulya, dan Ines Arieza juga menambah point plus dalam sekuens BIN HOUSE.

Eddy Betty

Eddy Betty. Model: Nien Indriyati

Eddy Betty tidak hanya menampilkan lini EdBe yang selama ini ia khususkan untuk busana-busana batik ready to wear, pada Sariayu Bazaar fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini ia juga mempertontonkan koleksi teranyar dari lini utamanya, Eddy Betty. Ia kemudian memilih bintang Hollywood legendaries, Elizabeth Taylor sebagai inspirasi utama karyanya. Melalui koleksinya ia seolah  membayangkan lambing glamoritas Hollywood yang ikonis ini ditempatkan dalam sebuah scene pertunjukkan Keroncong di Broadway, ditengah musim dingin sambil mengenakan kebaya cantik nan mewah.

Eddy Betty. Model: Dea Nabila

Suhu rendah pada musim dingin tidak lagi menjadi halangan ketika Eddy Betty menambahkan aksen penghangat berupa bulu-bulu, coat, dan mantel yang terbuat dari kulit hewan berbulu tebal namun terlihat sangat lembut.

Tidak hanya menampilkan kebaya yang berpadu dengan aksen penghangat, pada sekuensnya, Eddy Betty turut menampilkan beberapa koleksi kebaya yang ia desain khusus untuk pernikahan. Salah satu kebaya untuk pernikahan yang ia tampilkan adalah kebaya yang ia desain untuk pernikahan model cantik Laura Basuki beberapa waktu lalu. Kebaya pernikahan tersebut dibawakan langsung oleh sang mempelai, Laura Basuki.

Eddy Betty. Model: Laura Basuki

Bagi saya, secara keseluruhan, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah satu kesatuan karya masterpiece dari semua yang terlibat didalamnya. Terlepas dari beberapa kekurangan yang masih terdapat dalam penyelenggaraannya, Sariayu Bazaar Fashion Celebration meninggalkan kesan mendalam yang tidak akan terlupakan,dan membuat saya semakin menantikan acara tahunan ini di tahun mendatang.