Interpretasi Keberagaman Warna di Jalur Sutra oleh Sebastian Gunawan

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Model: Drina Ciputra

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Model: Drina Ciputra

Jalur Sutra atau yang dalam bahasa Prancis dapat diartikan sebagai “La Route De La Soie”, menjadi tajuk sekaligus inspirasi utama Seba pada peragaan busananya Jum’at sore(25/01). Menghubungkan lalu lintas perdagangan darat antara Asia dan Eropa, Seba seolah melakukan napak tilas Jalur Sutra dan melakukan eksplorasi di empat titik perhentian Jalur Sutra. Empat titik yang lantas diwujudkan pada empat sekuens peragaan busana La Route De La Soie” yang menampilkan total 75 busana teranyar Seba untuk koleksi Imlek 2013 .

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Perjalanan panjang jalur sutra dimulai di Negeri Tirai Bambu. Model: Renata Kusmanto

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Perjalanan panjang jalur sutra dimulai di Negeri Tirai Bambu. Model: Renata Kusmanto

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Sensualitas dan Glamoritas perempuan Shanghai tahun 20an. Model: Paula Verhoeven.

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Sensualitas dan Glamoritas perempuan Shanghai tahun 20an. Model: Paula Verhoeven.

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Model: Marcella Tanaya.

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Model: Marcella Tanaya.

Negeri Tirai Bambu menjadi titik tolak penelusuran Seba di Jalur Sutra. Pada titik awal ini, Seba menyerap inspirasi dari sosok perempuan di kota Shanghai era 1920-an yang menyimpan daya tarik sensualitas yang begitu besar. Aura sensual yang melekat pada sosok perempuan Shanghai lalu ia terjemahkan lewat gaun-gaun cheongsam yang terlihat mewah nan elegan dalam siluet feminin. Dominasi warna merah marun, hitam, coklat dan emas dibubuhkan Seba pada rangkaian koleksinya di sekuens pertama. Permainan detil renda klasik, taburan payet dan bebatuan pun semakin menyumbangkan kesan mewah yang abadi pada keseluruhan koleksi di sekuens pertama.

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Tiara Westlake

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Tiara Westlake

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Mischa Jeter

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Mischa Jeter

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Michelle Samantha

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Michelle Samantha

Perjalanan berlanjur semakin ke arah Timur benua Asia. Negeri Matahari Terbit yang selalu dipenuhi bunga Sakura pada musim semi jadi titik perhentian kedua dalam penelusuran Seba di Jalur Sutra. Helaian kain obi sutra Nishijin-Ori yang ditenun di kota Kyoto dan memiliki warna cerah serta tekstur lembut, diolah dalam rancangan bergaris geometris. Menyelipkan unsur Harajuku yang sangat modern melalui bahan berwarna neon, pada sekuens kedua ini Seba banyak menampilkan gaun-gaun pendek yang kaya akan permainan volume dan detil. Gaun pendek yang dibuat menggembung pada bagian pinggul kebawah, detil bunga-bunga kecil, bagian atas busana yang diberi frog clousure atau kancing China, serta beberapa padupadan dengan bolero bertekstur kaku yang semakin memperkaya tampilan busana.

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Gaun biru metalik mewah nan memukau. Model: Drina Ciputra

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Gaun biru metalik mewah nan memukau. Model: Drina Ciputra

IMG_7538

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Kemewahan negeri Barat berpadu budaya khas negeri Timur.

Bahan beludru mewah yang biasa diaplikasikan dalam warna-warna gelap ditransformasikan Seba dalam warna cerah dan motif eksotis yang khas. Kemunculan aneka kain tenun Uzbekistan yang berwarna-warni lalu jadi pertanda perjalanan di Jalur Sutra tiba di dataran Asia Tengah. Kain tenun khas Uzbekistan yang memiliki warna-warna cerah dengan corak dan cara pembuatan serupa tenun ikat khas Nusa Tenggara ini dikombinasikan Seba pada gaun model cheongsam berpotongan feminin yang memiliki siluet agak longgar di tubuh. Detil permainan bidang bahan tampak terlihat, gradasi warna serta motif yang tampak rumit namun indah memperkuat kesan grafis dari bahan tersebut.

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Detil kemewahan tinta emas ala Paris.

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Detil kemewahan tinta emas ala Paris.

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Perjalanan menelusuri jalur sutra. Model: Ilmira

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Perjalanan menelusuri jalur sutra. Model: Ilmira

Napak tilas Seba tiba di titik keempat, titik terakhir dalam perjalanannya menelusuri Jalur Sutra, Eropa. Nuansa feminin nan elegan khas Roma, serta kesan mewah dan high-fashion khas Paris melebur pada sekuens akhir peragaan busana “La Route De La Soie”. Siluet cheongsam yang khas berpadu dengan detil kemewahan dari motif-motif berwarna emas dan metalik terasa sangat memukau. Penggunaan bahan lace, sequin, serta banyak bordiran benang metalik kemudian semakin mempertegas keseluruhan koleksi pada sekuens penutup “La Route De La Soie”.*

* Tulisan ini juga dimuat di beritafesyen.com
** Seluruh foto: Arselan Ganin

#JFW2012/2013 #1stStory Rangkai Feminitas Dalam Dua Cita Rasa Berbebeda

Bagi saya, malam pembukaan Jakarta Fashion Week selalu jadi daya tarik tersendiri. Peragaan busana pertama yang terselenggara ibarat first impression yang menentukan bagaimana terkaan ajang mode tahunan ini akan berlangsung. Dan pada malam pembukaannya, Jakarta Fashion Week sukses menyeret saya dalam pusaran daya tarik feminitas dalam dua cita rasa berbeda.

Finale Malam Pembukaan JFW 2012/2013 sekuens Sebastian Gunawan "Bella Pietra"

Finale Malam Pembukaan JFW 2012/2013 sekuens Sebastian Gunawan “Bella Pietra”

Malam pembukaan Jakarta Fashion Week(JFW) adalah momen yang tidak pernah saya lewatkan sejak tahun 2009 silam. Saya mulai jatuh cinta pada fesyen pada momen itu, dan tiap kali saya hadir kembali pada momen yang sama dalam waktu berbeda, rasanya seperti bernostalgia dengan sahabat lama. Bersemangat?, sudah pasti. Menyenangkan?, tentu saja. Penasaran?, rasanya hal itu sudah terpancar jelas dalam diri saya meski saya tidak mengatakannya.

Tepat setelah saya menerima ID khusus yang diberikan untuk pewarta berita di JFW 2012/2013, kertas agenda, dan buku yang berisi segala macam informasi mengenai JFW 2012/2013 kedua mata saya langsung menyisir halaman yang memuat tentang peragaan busana di hari pertama terselenggaranya JFW 2012/2013. Dua halaman penuh dalam buku informasi berisikan tentang dua nama. Sebastian Gunawan, dan Lie Sang Bong.

Diawali dengan sambutan dari Bapak Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih akrab disapa Bapak Ahok, JFW 2012/2013 resmi dihelat pada Sabtu malam(3/11) pukul 20.00 WIB.
“Indonesia Today, The World Tomorrow” pun diumumkan sebagai tema besar pada penyelenggaraan JFW kali ini. Tema tersebut sekaligus dijadikan metamorfora mantra penyemangat bagi mimpi besar untuk mengantarkan para desainer kebanggaan Indonesia ke kancah mode dunia.

Dua desainer dari dua negara berbeda di dapuk pada peragaan busana perdana. Lie Sang Bong yang berasal dari Korea Selatan, dan Sebastian Gunawan sebagai desainer dari negeri tercinta.

The White Long Dress with Butterfly Pattern by Lie Sang Bong. Model: Claudia Marcia

The White Long Dress with Butterfly Pattern by Lie Sang Bong. Model: Claudia Marcia

Male Outfit with Butterfly Pattern by Lie Sang Bong.

Male Outfit with Butterfly Pattern by Lie Sang Bong.

I love this outfit, especially her butterfly pattern shirt. So pretty :)

I love this outfit, especially her butterfly pattern shirt. So pretty 🙂

Lie Sang Bong mengawali karirnya di tahun 1993 dan ia kini menjadi salah satu desainer Asia yang telah mendunia. Peraih gelar “Best Designer of The Year” di Seoul pada tahun 1999 ini juga telah telah dikenal luas sebagai salah satu desainer andal di kota kiblat mode dunia, Paris. Garis desainnya yang selalu kaya detil serta sarat tekstur membuat karyanya dengan cepat di terima di kota mode tersebut. Hal ini kemudian melatarbelakanginya untuk memindahkan basis dalam berkarya dari Seoul ke Paris dan lebih mengeksplorasi bermacam karya busananya di kota mode tersebut.
Menjadi desainer pembuka pertama pada JFW 2012/2013, Lie Sang Bong menjadikan kupu-kupu sebagai ruh pada rangkaian koleksinya. Aneka warna, bentuk, hingga modifikasi motif hasil interpretasinya terhadap serangga cantik itu mewarnai deretan busana yang ia suguhkan. Mulai dari kemeja, rok, gaun cocktail, gaun malam, hingga busana pria ia tampilkan dengan bubuhan motif kupu-kupu yang indah disana-sini. Ketika melihat karya-karyanya itu, saya seakan diajak memasuki sebuah ruangan besar berisi ribuan kupu-kupu beraneka warna yang asik berterbangan di dalamnya. Sangat menyenangkan dan mengagumkan.

Black Long Dress with Butterfly Pattern by Lie Sang Bong. Model: Kimberly Ryder

Black Long Dress with Butterfly Pattern by Lie Sang Bong. Model: Kimberly Ryder

The pattern of this dress is look like suriken ya? . Model: Listy

The pattern of this dress is look like suriken ya? . Model: Listy

I love that Umbrella, I want!

I love that Umbrella, I want!. Model: Dea Nabila

Dalam pemilihan warna, Lie Sang Bong menerapkan semacam peraturan yang cukup unik. Ia menciptakan motif kupu-kupu dengan warna-warna cerah yang mencolok hanya di atas busana berwarna dasar putih dan hitam. Sementara ketika menghadirkan warna cerah sebagai warna utama busana, desainer langganan penyanyi nyentrik Lady Gaga ini tidak membubuhkannya dengan motif kupu-kupu yang sejak awal telah mencuri perhatian. Tidak hanya motif kupu-kupu yang meramaikan koleksi busana, motif yang menyerupai senjata lempar yang biasa digunakan para ninja, suriken, juga turut ia jadikan andalan pada beberapa busana dengan warna-warna kontras.

Lalu, sebuah kejutan lain diberikan Lie Sang Bong menjelang akhir peragaan busana miliknya, ia memakaikan para model dengan jas hujan serta payung-payung transparan yang penuh motif kupu-kupu beraneka warna. Hal ini sontak menjadi pemandangan yang tidak biasa sekaligus sangat menarik. Jas hujan dan payung yang merupakan benda yang sangat biasa kita jumpai terutama di kala musim penghujan tiba, mendadak seperti bertransformasi menjadi The “It” New Fashion Items di atas panggung peragaan busana.

Bella Pietra Collection by Sebastian Gunawan. Model: Sarah Azka

Bella Pietra Collection by Sebastian Gunawan. Model: Sarah Azka

Rekonstruksi feminitas dalam garis rancang tegas, me love it!. Model: Adivina Ratnaningsih.

Rekonstruksi feminitas dalam garis rancang tegas, me love it!. Model: Adivina Ratnaningsih.

The Black Dress by Sebastian Gunawan. Model: Christina Borries

The Black Dress by Sebastian Gunawan. Model: Christina Borries

Selesai dengan Lie Sang Bong, kini waktunya untuk menyimak karya Sebastian Gunawan. Desainer yang pernah bekerja paruh waktu di Egon von Fusternberg, Milan, ini rasanya layak dinobatkan sebagai salah satu desainer Indonesia paling produktif. Setelah beberapa waktu lalu ia melansir 101 koleksi yang terangkum dalam “Club Dahlia”, kali ini ia menjadikan “Bella Pietra” sebagai persembahan spesial di malam pembukan JFW 2012/2013.
Pada “Bella Pietra”, Sebastian yang dikenal begitu setia dengan garis rancang penuh aura feminine dalam tiap karyanya, kali ini menampilkan bentuk feminitas-nya dalam konstruksi yang lebih tegas. Desainer penerima penghargaan “International Apparel Federation World Young Designer Award” ini terlihat asik bermain-main dengan tekstur dan volume yang dibuat beragam, seperti misalnya bagian atas yang lekat memeluk tubuh namun bagian pinggul ke bawah menggembung kaku, celana yang longgar, gaun panjang yang feminine dan cantik serta coat yang kaku.

Bella Pietra by Sebastian Gunawan. Model: Kimmy Jayanti

Bella Pietra by Sebastian Gunawan. Model: Kimmy Jayanti

Bella Pietra Collection by Sebastian Gunawan. Model: Ilmira

Bella Pietra Collection by Sebastian Gunawan. Model: Ilmira

The Last Collection of Bella Pietra by Sebastian Gunawan. Model: Laura Muljadi

The Last Collection of Bella Pietra by Sebastian Gunawan. Model: Laura Muljadi

Pemilihan motif pecah seperti mozaik-mozaik keramik pada tiap potong busana serta pemilihan warna yang ada pada zona waran netral semisal hitam, putih gading, coklat muda hingga abu-abu yang seperti bebatuan menambah kesan bahwa Sebastian memang sedang asik bermain-main pada konstruksi busana yang terlihat tegas, kuat, independen, namun masih dalam koridor feminitas yang selalu jadi ciri khasnya.
Secara keseluruhan, jika malam pembukaan JFW 2012/2013 seumpama first impression yang dapat menjadi perkiraan bagaimana karakteristik seseorang atau sesuatu. Maka, first impression saya pada JFW 2012/2013 -dalam hal ini adalah karakteristik busana yang ditampilkan- adalah wujud dualisme feminitas. JFW 2012/2013 seperti mata uang yang menghadirkan dua sisi berbeda. Satu sisi seperti spektrum warna-warna cerah yang hangat hingga pastel yang lembut, sementara sisi lainnya berwarna lebih gelap serta dengan kesan yang lebih kuat. Seperti seorang perempuan yang selalu menyimpan dua sisi berbeda dalam dirinya.

Michelle Agnes Samantha; Pesona Wajah Khas Wanita Timur Indonesia

Michelle For Beauty Photoshoot. Foto: Giovanni Rustanto "Giovanni Photoworks"

Michelle For Beauty Photoshoot. Foto: Giovanni Rustanto “Giovanni Photoworks”

Gelaran Jakarta Fashion Week 2012-2013 (JFW 2012-2013) memang telah berlalu. Namun banyak hal dan kenangan yang rasanya akan sulit untuk dilupakan. Salah satu kenangan yang bagi saya akan sulit untuk untuk dilupakan adalah sosok model pembuka, atau yang lebih dikenal dengan sebutan First Face pada peragaan busana di malam pembukaan JFW 2012-2013. Dia adalah Michelle Agnes Samantha.

Dalam balutan busana koleksi Sebastian Gunawan, model bernama lengkap Michelle Agnes Samantha Tahalea atau yang lebih akrab disapa Michelle ini terlihat sangat menawan. Atasan berupa gaun pendek model kemben berdetil  rangkaian mozaik unik yang membentuk motif garis serta sulur bunga yang dipadupadankan dengan legging lace berwarna hitam, terasa sangat pas ketika diperagakan olehnya di atas lintasan catwalk. Headpiece unik dari Sebastian Gunawan yang menjadi bagian dari satu kesatuan busana pun semakin mempertegas kesan kuat dan berkarakter. Tidak hanya bagi busana itu sendiri, tetapi juga bagi si model, Michelle.

Michelle Sebagai First Face Sebastian Gunawan di Malam Pembukaan JFW 2012-2013

Michelle Sebagai First Face Sebastian Gunawan di Malam Pembukaan JFW 2012-2013

Bagi saya, sosok Michelle yang dihadirkan sebagai model pembuka pada peragaan busana milik Sebastian Gunawan terasa spesial. Michelle dengan kulitnya yang coklat, serta raut wajah yang khas wanita Indonesia bagian Timur seolah menjadi kejutan tersendiri, mengingat Sebastian Gunawan terbilang jarang menggunakan tipe model seperti Michelle untuk menjadi First Face dalam peragaan busana miliknya.

Dilahirkan pada tanggal 6 Oktober 1989, Michelle tidak pernah membayangkan dirinya akan berlenggak-lenggok di panggung peragaan busana. Namun sebuah ajakan datang pada tahun 2008 silam. Seorang teman dari sang Kakak yang bekerja di salah satu modeling agency bernama Platinvm melihat potensi Michelle. Tanpa ragu ia mengajak Michelle untuk bergabung di Platinvm. Gayung pun bersambut, Michelle menerima ajakan itu, dan dari sanalah ia memulai karir modelingnya.

Michelle untuk Oscar Lawalata di JFW 2011-2013

Michelle untuk Oscar Lawalata di JFW 2011-2013

Michelle untuk Biyan Annual Show 2012 "Foliage"

Michelle untuk Biyan Annual Show 2012 “Foliage”

Dengan tinggi 177cm dan berat 51kg, serta keunikan karakter yang terpancar dari sosoknya, nama Michelle perlahan tapi pasti mulai akrab di dunia mode tanah air. Wajah Michelle dapat dengan mudah dijumpai di berbagai peragaan busana milik desainer ternama Indonesia seperti Biyan, Sebastian Gunawan, Oscar Lawalata, Ghea Panggabean, hingga Aguste Soesastro. Dewi, Amica, Bazaar dan beberapa majalah mode lainnya pun tak jarang menghadirkan Michelle dalam rubrik Fashion Spread.

Raut wajahnya yang sangat khas wanita dari Timur Indonesia tidak lain adalah warisan darah Ambon dari sang Ayah. Namun yang menarik, pada kenyataannya Michelle masih memiliki 3 darah campuran lain yang mengalir dalam dirinya selain Ambon, yakni Manado, Jerman, dan Austria.

Michelle untuk Dewi edisi Novmber 2012, Fashion Spread.

Michelle untuk Dewi edisi Novmber 2012, Fashion Spread.

Michelle untuk Marie Claire Indonesia

Michelle untuk Marie Claire Indonesia

Michelle untuk Delirium(deliriummind.com). Foto: Raja Siregar

Michelle untuk Delirium(deliriummind.com). Foto: Raja Siregar

Menghabiskan masa kecilnya di Ibukota, Michelle memiliki banyak kenangan lucu di masa kecilnya yang masih mengundang gelak tawa hingga kini. Salah satunya adalah mengenai kegemarannya berenang. Ketika kecil, Michelle tidak hanya menunaikan kegemarannya itu di kolam renang sungguhan, tetapi juga di kolam ikan rumah, bahkan empang yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Kini, setelah dewasa pun ia tetap menjalankan kegemarannya tersebut, berenang, tapi bedanya saat ini tidak ada lagi kolam ikan atau empang yang dijadikan korban.

Ditengah aktivitasnya dalam dunia modeling, gadis manis lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti inimengatakan bahwa tidur, bantal, dan selimut adalah hal yang selalu dirindukannya, disamping memiliki quality time bersama orang-orang terkasih.

Rangkuman Kabar Dari Jakarta Fashion Week 2013

Di tahun penyelenggaraannya yang kelima, saya kembali mendapat kesempatan untuk bisa menghadiri pekan mode paling dinanti penyelenggaraannya ini. Ada banyak kejadian tidak terduga, ada banyak cerita. Namun saya belum akan menceritakan semuanya secara detil, maka saya akan merangkumkannya terlebih dulu.

Malam Pembukaan JFW 2013 di Fashion Tent

Malam Pembukaan JFW 2013 di Fashion Tent

Jakarta Fashion Week 2013(JFW 2013) pada awalnya direncanakan untuk terselenggara selama tujuh hari penuh, sejak tanggal 3 sampai 9 November 2012 dengan mengambil tempat di Plaza Senayan. Namun pada kenyataannya, JFW 2013 tidak bisa terselenggara selama tujuh hari, dan mengalami penambahan waktu menjadi sepuluh hari penyelenggaraan.

Mungkin sudah banyak yang mengetahui apa sebab JFW tahun ini mengalami perpanjangan waktu, tapi saya juga yakin sebagian lainnya masih belum tau kenapa JFW bisa sampai sepuluh hari. Dan sebenarnya saya juga yakin, mereka yang mengetahui sebab kenapa JFW mengalami perpanjangan waktu, terbagi lagi menjadi 3 kelompok.

Kelompok pertama, adalah kelompok yang memang mengetahui secara detil. Kelompok kedua, adalah kelompok yang mengetahui tetapi tidak secara langsung. Dan kelompok ketiga, adalah kelompok yang mengetahui secara simpang siur.

Saya akan menceritakan sedikit, kenapa JFW 2013 mengalami pertambahan waktu. Hal ini disebabkan oleh insiden yang sering saya katakan “insiden tenda”. Singkatnya, karena cuaca buruk yang terjadi kala penyelenggaraan JFW 2013, tenda utama tempat berlangsungnya fashion show di JFW 2013 mengalami masalah yang cukup serius sehingga seluruh kegiatan yang dijadwalkan akan berlangsung disana mengalami relokasi tempat. Tetapi, saya tidak akan menceritakan detil kejadiannya sekarang, saya akan menuliskannya nanti.

Dan inilah rangkuman JFW 2013 yang sempat saya ikuti.

Hari Pertama (Sabtu, 3 November 2012):

After Finale Sebastian Gunawan at Opening JFW 2013. Model with The Designer: Michelle Samantha

After Finale Sebastian Gunawan at Opening JFW 2013. Model with The Designer: Michelle Samantha

Opening JFW 2013 by Sebastian Gunawan. Model: Laura Muljadi

Opening JFW 2013 by Sebastian Gunawan. Model: Laura Muljadi

20.00-21.00 WIB, Fashion Show Opening JFW 2013 “Indonesia Today, World Tomorrow” oleh Sebastian Gunawan dan Lie Sang Bong.
Pada hari pertama JFW 2013, acara berjalan lancar tanpa ada masalah berarti. Peragaan busana dari Sebastian Gunawan dan Lie Sang Bong, seorang desainer asal Korea Selatan yang memiliki basis di Paris, dimulai tepat waktu sekitar pukul 20.00 WIB. Pada hari pertama penyelenggaraan JFW 2013, lokasi utama adalah di sebuah tenda atau yang biasa disebut Fashion Tent yang dibangun di lapangan di sisi gedung Plaza Senayan, atau di depan Union.

Hari Kedua (Minggu, 4 November 2012):

Pada hari kedua JFW 2013, saya baru datang sekitar pukul 15.00. Pada hari itu sejak awal saya memang hanya ingin menyaksikan peragaan busana dari Ivan Gunawan, dan Anne Avantie. Tapi ketika saya sudah sampai venue acara, saya sedikit terkejut karena semua fotografer yang biasa mengambil posisi di dalam tenda sudah perpindah ke atrium. Mereka, dengan kamera berlensa besarnya sudah bergerombol di bagian depan lintasan catwalk yang dibangun di atrium Plaza Senayan.

Tenda bocor, begitu kata para fotografer. Maka hari itu semua jadwal acara JFW 2013 menjadi tidak pasti. Tidak ada satu pun pihak yang bisa memastikan apakah rangkaian busana yang sedianya akan dilangsungkan di dalam tenda akan dipindahkan ke atrium atau tidak. Lalu ketidakpastian itu berujung pada pemindahan tiga jadwal show yakni, “Dress Me Up Competition” oleh dr.m, Grazia Glitz and Glam, dan “Purana; Retro Batik” oleh Lia Chandra Foundation yang tadinya akan dilangsungkan di tenda menjadi di atrium Plaza Senayan. Sementara tiga jadwal pergaan busana lainnya yaitu, ESMOD “E-Craft”, Ivan Gunawan “Mysterious Regal”, dan Anne Avantie “Puspawarni”, ditambah Pia Alisjahbana Award mengalami penundaan sampai jadwal yang belum dapat ditentukan pada hari itu.

Hari Ketiga(Senin, 5 November 2012):

Pada hari ketiga JFW 2012 menurut jadwal hanya ada satu sesi peragaan busana yang akan berlangsung di atrium, yaitu peragaan busana dari Ted Baker, dan sisanya, ada delapan peragaan busana yang akan dilangsungkan di Fashion Tent. Meski sehari sebelumnya, tenda sempat bermasalah dan berujung pada penundaan beberapa jadwal peragaan busana, panitia JFW 2013 meyakinkan semua awak media dan tamu JFW jika jadwal peragaan busana pada hari itu akan berlangsung secara normal di Fashion Tent. Mereka mengatakan jika area Fashion Tent sudah aman untuk digunakan kembali karena kebocoran yang terjadi telah diperbaiki.

Hari itu saya datang seusai jam sekolah. Kira-kira pukul 18.00 saya baru sampai di Plaza Senayan, hari itu, peragaan busana yang sangat saya nantikan adalah “Globalization” oleh IPMI(Ikatan Perancang Mode Indonesia). Namun ketika saya tiba, saya melihat seorang teman yang termasuk model grup B ada di luar Green Room(ruangan khusus yang hanya boleh dimasuki orang-orang tertentu seperti model, panitia, crew dan sejenisnya) sambil asik mengisap rokok putihnya.

Dia bilang ke saya kalau hari itu semua peragaan busana mengalami keterlambatan, atau lebih tepatnya mundur satu jam dari yang sudah di jadwalkan. Itu sebabnya, dia masih santai-santai saja dan masih sempat ngobrol singkat bersama saya. Dari obrolan saya dengan dia, saya sempat kaget karena grup teman saya itu baru akan muncul lagi di peragaan busana Aguste Soesastro dan Oscar Lawalata yang seharusnya berlangsung pada pukul 17.00.

Kenapa saya kaget, karena ketika saya ngobrol dengan dia, yang sedang memperagakan busana di dalam tenda adalah grup A, mereka membawakan busana dari LaSalle College International Jakarta. Peragaan busana dari LaSalle itu seharusnya sudah usai sejak satu setengah jam lalu, tapi saat itu, dimulai saja belum. Kata teman saya, “Modelnya baru stand by Nin, show-nya belum”.

Finale "KROMO" oleh Aguste Soesastro

Finale “KROMO” oleh Aguste Soesastro

Finale "Mongoloid" oleh Oscar Lawalata

Finale “Mongoloid” oleh Oscar Lawalata

Peragaan busana dari Aguste Soesastro dan Oscar Lawalata yang disponsori oleh Samsung Galaxy Notes 10.1 dimulai sekitar pukul 19.00 WIB, hampir dua jam lewat dari jadwal seharusnya. Terlambat besar memang, tapi semua itu seolah termaafkan begitu rangkaian koleksi dari Aguste Soesastro dan Oscar Lawalata dipertontonkan. Kedua desainer muda yang selalu jadi buah bibir berkat karya-karya nya ini, sungguh memenuhi ekspetasi tentang apa lagi yang akan mereka tampilkan.

Awalnya saya kira, penyelenggaraan JFW 2013 hari ketiga ini akan berjalan seperti biasa, meski dengan keterlambatan yang cukup parah, namun setidaknya semua jadwal pergaan busana bisa berlangsung lancar di tenda. Tetapi saya salah, segera setelah peragaan busana usai, tim protokol JFW 2013 dan bagian pengamanan langsung meminta semua orang, termasuk para wartawan dan fotografer untuk meninggalkan area Fashion Tent. Hal ini tidak biasanya dilakukan, karena wartawan dan fotografer selama penyelenggaraan JFW seperti memiliki hak khusus untuk bisa tetap tinggal di dalam tenda untuk meliput peragaan busana selanjutnya atau tidak.

Dimintanya para fotografer dan wartawan untuk meninggalkan area tenda pada hari itu ternyata menjadi pertanda bahwa JFW 2013 kembali mengalami penundaan jadwal. Ya, terhitung sejak pukul 20.00 WIB tanggal 5 November 2012, JFW 2013 mengalami perubahan jadwal, dan Fashion Tent resmi ditutup. Sisa peragaan busana pada hari itu tidak ada yang dilangsungkan, selain Fashion Parade dari Matahari Dept Store yang mengalami pemindahan tempat di atrium.

Hari Keempat(Selasa, 6 November 2012):

Hari keempat penyelenggaraan JFW 2013 saya memutuskan untuk tidak hadir, dan saya punya dua alasan untuk itu. Pertama, kondisi tubuh saya yang mulai drop karena terlalu capek dan sempat kehujanan. Kedua, karena pada hari keempat JFW 2013, enam jadwal peragaan busana yang rencananya akan diadakan di Fashion Tent ditunda hingga batas waktu yang belum ditentukan. Sementara L’Oreal Professionnel “Retro Nouveau” yang menampilkan kolaborasi tata rambut dari L’Oreal dan busana dari Hian Tjen, Soko Wiyanto, dan Yogi Pratama tetap dilaksanakan pada pukul 13.00 di atrium.

Hari Kelima(Rabu, 7 November 2012):

Satu-satunya peragaan busana pindahan dari Fashion Tend yang diselenggarakan adalah peragaan busana dari Erasmus Huis, pusat kebudayaan Belanda, yang bekerja sama dengan tiga desainer muda berbakat, Lulu Lutfi Labibi, Sischaet Detta dan Iwan Amir. Peragaan busana ini tetap diselenggarakan di waktu yang sama, yakni pada pukul 13.00, hanya tempatnya saja yang pindah di atrium.

Sebenarnya saya ingin sekali menyaksikan peragaan busana ini, disamping tema menarik yang diangkat yakni “Revival of Batik Belanda”, saya juga penasaran dengan 24 set busana yang akan ditampilkan oleh Lulu Lutfi Labibi, seorang desainer pendatang baru yang bisa saya katakan sebagai “One of The Most Promising Newcomer Designer”. Tapi sayangnya saya tidak bisa datang pada peragaan busananya karena saya sekolah dan pas sekali ada jadwal les tambahan.

Hari Keenam(Kamis, 8 November 2012):

Finale ISIS

Finale ISIS

Finale Lenny Agustin "Paper Garden"

Finale Lenny Agustin “Paper Garden”

Toton The Label Bersama Dua Model-nya. Reti Ragil(kiri), dan Paula Verhoeven(kanan)

Toton The Label Bersama Dua Model-nya. Reti Ragil(kiri), dan Paula Verhoeven(kanan)

Di hari keenam JFW 2013 ada sebuah kabar baik yang resmi diterima. Kabar baik tersebut adalah kepastian tentang penyelenggaraan JFW 2013 dengan perubahan tempat dan pengumuman jadwal baru deretan peragaan busana yang sempat ditunda. Setelah Fashion Tent ditiadakan, panitia JFW 2013, memindahkan tempat peragaan busana di sebuah area baru yang dinamakan Fashion Loft. Fashion Loft bertempat di lantai 4 Plaza Senayan, satu lantai dengan XXI, dan menempati area eks. Bowling Plaza Senayan. Di area ini juga pernah dijadikan tempat terselenggaranya Brightspot Market.

Dengan diresmikannya “kamar baru” peragaan busana utama JFW 2013 ini, maka panitia juga resmi pengumumkan bahwa jadwal JFW 2013 untuk tanggal 8, dan 9 November tidak ada perubahan, hanya tempatnya saja yang berubah dari Fashion Tent ke Fashion Loft. Lalu bagaimana dengan deretan peragaan busana yang ditunda?. JFW 2013 membuat kebijakan bahwa pada tahun ini, JFW tidak diselenggarakan selama 7 hari tetapi mengalami pertambahan hari menjadi 10 hari pelaksanaan. Dengan ditambahnya hari penyelenggaraan JFW 2013, maka deretan peragaan busana yang sempat tertunda dibagi-bagi jadwalnya kedalam tiga hari penambahan tersebut.

Di hari keenam JFW 2013 saya datang baru pada peragaan busana dari ISIS, sebuah brand busana ready-to-wear yang dikepalai oleh Andrea Risjad dan Amot Syamsuri. Setelahnya pada hari itu berturut-turut saya menyaksikan peragaan busana dari Lenny Agustin yang dipersembahkan The Body Shop, Mazda Young Vibrant Designer yang menampilkan tiga nama desainer muda yaitu Friederich Herman, Toton The Label, dan Cynthia Tan, dan yang terakhir adalah peragaan busana dari Ardistia New York.

Hari Ketujuh(Jum’at, 9 November 2012):

IPMI "GLOBALINATION" oleh Liliana Lim

IPMI “GLOBALINATION” oleh Liliana Lim

IPMI "GLOBALINATION" oleh Denny Wirawan

IPMI “GLOBALINATION” oleh Denny Wirawan

Bagi saya, hari ketujuh ini adalah salah satu hari yang paling melelahkan. Saya sudah berada di Plaza Senayan sejak pukul 14.00, satu jam sebelum peragaan busana pertama dari LPM Graduates “The Stylemakers” berlangsung. Kenapa melelahkan?, karena belum apa-apa saya sudah harus berlari-lari kesana kemari, hari itu kebetulan saya ada tugas kecil-kecilan lain selain meliput, dan tugas itu yang membuat saya berlari kesana-kemari menunggu tamu-tamu undangan yang undangannya saya pegang.

Hari itu ada lima peragaan busana yang sedianya akan dilangsungkan di Fashion Loft, tetapi saya hanya menghadiri dua diantaranya, peragaan busana pertama dari LPM Graduates, IPMI “GLOBALINATION”, dan peragaan busana terakhir “Dewi Fashion Knights”. Hari itu saya memang sengaja tidak menyaksikan peragaan busana lainnya karena di hari itu ada tiga orang teman saya yang datang ikut menyaksikan JFW 2013. Saya sudah lama tidak bertemu dengan mereka, karena itu saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu beberapa jam setelah peragaan busana bersama mereka, sebelum saya kembali lagi ke dalam Fashion Loft untuk melihat bagaimana peragaan busana karya para desainer IPMI dan peragaan busana pamungkas JFW akan berlangsung, Dewi Fashion Knight.

Hari Kedelapan(Sabtu, 10 November 2012):

Tadinya saya tidak ingin meliput “beneran” peragaan busana yang terselenggara hari kedelapan JFW 2013 ini. Maksud saya meliput “beneran” adalah mengambil posisi di fotografer pit, mengabadikan gambar dan sekalian memerhatikan secara seksama apa saja yang terjadi di atas panggung peragaan busana untuk kemudian saya dokumentasikan dalam bentuk tulisan.

Ya, tadinya niat saya seperti itu, tetapi ternyata saya gagal memenuhi keinginan saya untuk duduk manis saja pada peragaan busana dari ESMOD karena saya sedikit telat. Lalu kembali gagal setelah peragaan busana “Puspawarni” dari sang maestro kebaya, Anne Avantie terlalu menggoda untuk dilewatkan hanya dengan duduk manis saja. Karena itu maka saya putuskan untuk tidak hanya duduk manis di satu blok khusus yang diperuntukkan bagi para pemburu berita. Dan hari kedelapan saya berada di JFW 2013 berakhir setelah peragaan busana “Puspawarni” oleh Anne Avantie.

Hari Kesembilan(Minggu, 11 November 2012):

Datang dan menyaksikan Pia Alisjahbana Award sebenarnya tidak menjadi salah satu agenda wajib bagi saya. Jujur, saya tidak begitu tertarik untuk menghadiri acara ini, meski saya pribadi sangat mengagumi sosok beliau sebagai salah satu penggerak industri mode di Indonesia. Tapi saya berubah pikiran ketika tahu dua orang teman baik saya, Gandis dan Merdi, akan hadir pada acara itu karena undangan khusus dari Femina Grup sebagai alumni ajang pemilihan Gadis Sampul. Karena saya jadi merasa “punya teman” jadi saya akhirnya datang dan menyaksikan Pia Alisjahbana Award.

Setelahnya secara berturut-turut saya melihat deretan koleksi teranyar dari Ivan Gunawan yang diberi judul “Mysterious Regal” dan peragaan busana dari Benten. Pada kedua peragaan busana itu, saya masih ditemani oleh kedua teman saya. Ah, harusnya mereka sering-sering datang ke JFW 2013 kemarin, setidaknya saat ada mereka saya jadi lebih semangat. Maklum, biasanya saya hanya sendirian saja ditengah keramaian…hahahaaa.

Hari Kesepuluh(Senin 12 November 2012):

Jakarta Fashion Week 2013 resmi sudah tidak menjadi “week” lagi dengan penyelenggaraan yang genap sepuluh hari. Beberapa hari sebelumnya, Pia Alisjahbana selaku CEO Femina Grup sempat mengatakan, Jakarta Fashion Week tahun ini mungkin memang tidak lagi jadi Fashion Week, beliau lebih senang mengatakannya sebagai “Ten Days of Fashion”.

Di hari kesepuluh ini, ada empat peragaan busana yang dilangsungkan. Keempatnya yaitu peragaan busana dari Hengky Kawilarang, CLEO Fashion Award, Sebastian Gunawan untuk Yayasan Jantung Indonesia dan IKAT Ind oleh Didiet Maulana. Di hari terakhir penyelenggaraan JFW 2013 ini, saya tidak sempat menghadiri semua sesi peragaan busana, saya hanya datang pada CLEO Fashion Award dan Sebastian Gunawan untuk Yayasan Jantung Indonesia. Setelahnya, saya lebih memilih untuk ngobrol macam-macam dengan teman saya yang sudah menyelesaikan tugasnya sebagai model grup B untuk peragaan busana Sebastian Gunawan.

Sekian rangkuman JFW 2013 dari saya. Untuk lebih detilnya, semoga bisa saya tuliskan segera. Ya, saya ingin sekali menulis tentang JFW 2013 per-peragaan busana. Doakan semoga lekas sempat ya. 🙂

Sebastian Gunawan “Club Dahlia”; Refleksi Glamoritas Masa Lalu

Sebastian Gunawan berkisah tentang sebuah gaya hidup yang ia boyong dari masa lalu. Gaya hidup yang dahulu jadi bagian dari kaum jetset di Benua sebrang. Ia lalu meniupkan ruh, menyulam kembali cerita, merangkaikannya satu persatu, menambahkan detil disana-sini, dan mewujudkannya jadi sebuah kenyataan di masa sekarang melalui 101 koleksi bernama “Club Dahlia”.

Sebastian Gunawan “Club Dahlia”. Seluruh Foto Pada Artikel Ini: Windy Sucipto

Grand Ballroom Hotel Mulia Jakarta pada malam itu terlihat lebih mewah dari biasa. Lampu-lampu kristal yang tergantung di langit-langit ruangan serasa makin megah. Mungkin karena deretan kursi-kursi yang ditata secara berundak-undak yang kesemuanya bercat emas. Mungkin karena lintasan catwalk yang terbentang di tengah ruangan dibuah kental nuansa minimalis dengan dilapisi kayu. Mungkin juga karena ruangan besar itu ditata sedemikian rupa, memadukan unsur kewehan jaman Victoria dengan unsur minimalis masa kini yang berorientasi pada alam.

Waktu berjalan, saya yang sudah tidak sabar untuk menyaksikan seperti apa jalannya acara, namun seperti biasa, menunggu 20 menit, 30 menit, atau sedikit lebih adalah hal yang dimaklumi pada setiap acara fesyen. Bukan hanya karena pribadi masyarakat Indonesia yang senang menggunakan “jam karet”, namun pendahuluan acara berupa makan malam, perhitungan tentang siapa-siapa saja yang belum datang, serta beberapa masalah tehknis lainnya pun turut menyumbangkan andil dalam setiap ketidaksesuaian jadwal yang telah diberikan pihak penyelenggara sebelumnya.

Saya memang sudah terbiasa dengan hal itu, dengan ke “jam karetan” peragaan-peragaan busana, bukan hanya satu dua peragaan busana dimana saya harus merelakan waktu saya lebih lama untuk menunggu hingga dimulainya acara. Tetapi tetap saja, setiap saya harus menunggu lebih lama, dalam hati tak bisa berhenti bertanya-tanya, “Kapan fashion show nya dimulai?”. Saya selalu tidak sabar dan penasaran bagaimana peragaan busana akan berlangsung.

Sebastian Gunawan, saya cukup akrab dengan karya-karyanya. Sebastian Gunawan adalah salah satu desainer Indonesia favorit saya. Dulu, karyanya, dan karya Priyo Oktavianno lah yang berhasil menghipnotis saya sehingga saya bisa jatuh cinta dengan dunia fesyen.

Sedikit membuka kenangan lama, peragaan busana pertama yang saya datangi adalah peragaan busana kolaborasi dari empat desainer pada malam pembukaan Jakarta Fashion Week 2009-2010, Sebastian Gunawan, Priyo Oktavianno, dan dua desainer asal India yang saya lupa namanya. Karena itulah, nama Sebastian Gunawan selalu ada di list teratas agenda saya untuk menghadiri sebuah peragaan busana.

Malam itu, tepatnya Selasa 16 Oktober 2012, lebih dari 1000 undangan hadir memenuhi undangan si empunya acara. Mereka, para tamu undangan, datang secara berkala. Kursi-kursi bercat emas yang tadinya kosong, tepat pukul 20.30 WIB benar-benar telah penuh terisi. Setelahnya, hampir semua sumber cahaya di dalam ruangan padam, dan hanya menyisakan satu lampu sorot ke bagian tengah lintasan catwalk. Sesi kata sambutan dimulai, lalu selesai sekitar 10 menit kemudian.

Tidak ada lagi lampu sorot ke bagian tengah lintasan catwalk, tidak ada lagi Sebastian Gunawan yang bertutur tentang acara pada malam itu dengan senyum khasnya yang mengembang di wajah, yang ada hanya video pembuka bernuansa gelap berdurasi 1-2 menit.

Katya Talanova, model pembuka peragaan busana Sebastian Gunawan “Club Dahlia”.

Model: Tiara Westlake

Setelahnya, kemunculan Katya Talanova, model berdarah Rusia kesayangan Seba(panggilan akrab Sebastian Gunawan), jadi pertanda resmi dipertontonkannya 101 koleksi busana teranyar Seba dalam peragaan busana “Club Dahlia”.

Seba memberi nama peragaan busana tahunannya “Club Dahlia, dan kali ini ia tak hanya melansir karya paling mutakhir, ia juga tengah bercerita. Cerita tentang kehidupan kaum perempuan yang telah lama menjadi teman akrab baginya dalam menghasilkan karya. Namun bukan kehidupan kaum perempuan jaman sekarang yang begitu terbuka yang ia tuturkan, karena untuk “Club Dahlia” nya, Seba membuka sebuah album tua yang tercipta lebih dari tujuhpuluh tahun lalu.

Album tua itu menyimpan ratusan foto hitam-putih para perempuan yang berdandan penuh gaya di sebuah tempat. Album tua itu, meski hanya berisi puluhan foto hitam putih masih dapat mengabadikan setiap moment yang pernah ada dengan begitu jelas. Album tua itu, menguarkan bau yang khas, bau yang telah melekat kuat puluhan tahun lamanya. Album tua itu, menyimpan banyak cerita. Album tua itu hanya dimiliki Seba.  Album tua itu begitu nyata, ada dalam imajinasinya.

Album tua yang baru saja dituturkan memang hanya ada dalam kekayaan imajinasi Seba, namun pagelaran busana “Club Dahlia” sungguh nyata dan kaya cerita.

Tak kurang dari 95 koleksi rancangan busana eksklusif lini utama “Sebastian Gunawan” dan 6 gaun pengantin untuk “Sebastian Sposa” ia pamerkan pada peragaan busananya. Total 101 koleksi busananya itu kemudian ia bagi kedalam empat babak berbeda.  Keempatnya merangkum sebuah cerita tentang para perempuan dari “Club Dahlia”, sebuah tempat perkumpulan eksklusif bagi kaum jetset di kawasan Florida, Amerika Serikat, pada era 1940an.

Model: Laura Muljadi

Model: Kimmy Jayanti

Model: Marcella Tanaya

“This Innocence is Brilliance”, adalah sekuens pembuka pada “Club Dahlia”. Sekuens ini menceritakan tentang sisi “manis” dan naïf seorang perempuan yang sering kali terlihat ketika ia mencoba untuk diterima dengan menunjukkan “wajah” terbaiknya, yang entah sungguhan atau hanya “topeng” semata.

Mengambil garis waktu pada saat sore hari, “This Innocence is Brilliance” di dominasi oleh warna-warna cerah, segar, dan lembut, seperti kuning, emas, krem, putih gading, biru muda, dan toska.
Pada sekuens pembuka ini, kita disuguhkan kepiawaian desainer lulusan Instituto Artistico Abbigliamento Marangoni, Milan, Italia, ini dalam mencipta busana-busana effortlessly chic. Atasan peplum, gaun panjang, rok bervolume dengan lipit-lipit, gaun A-simetris, hingga gaun bertali yang dihadirkan oleh Seba semakin menunjukkan karakter indah tubuh perempuan dengan siluet yang mempesona.

Model: Advina Ratnaningsih

Model: Michella Samantha

Model: Drina Ciputra

Detil koleksi dengan aksen-aksen kecil yang proses pengerjaannya membutuhkan ketelitian tinggi ia padu padankan secara unik dengan celana sebatas betis, blus bervolume di pinggang, rok mekar yang ringan namun flirty. Motif print aneka bunga, termasuk didalamnya bunga Dahlia, ia kawinkan dengan apik pada tiap potong busananya untuk sekuens kedua yang ia beri judul “The Beauty of Interaction”. Pada sekuens ini, Seba merefleksikan tentang interaksi yang terjadi antara para perempuan yang bisa dipenuhi tawa dan hal positif, atau malah gunjingan serta penuh intrik.

Model: Dominique Diyose

Model: Christina Borries

Seba memberi judul “Rendition of Collision” untuk sekuens ketiganya. Kali ini ia bermain-main dengan tekstur busana serta kesan elegan sekaligus konstruktif yang ia bangun melalui aplikasi padupadan bahan brocade, lace, dan damask yang dikenal memiliki tekstur kuat. Gaun-gaun malam dengan warna-warna gelap ia padupadakankan dengan model peplum, ada juga yang ia ramu dengan coat berwarna hitam dengan aksen merah yang terlihat semakin mempertegas penampilan. Namun, tak hanya koleksi gaun malam, koleksi everyday-wear pun ia tampilkan dengan meninggalkan kesan feminin dan impresif pada satu waktu.

Model: Tiara Westlake

Sementara itu, mimpi setiap perempuan untuk memperoleh cerita “a happily ever after” nya seperti yang sering kita jumpai pada dongeng-dongeng masa kecil menjadi premis utama dalam sekuens penutup pagelaran busana. “Have Your Dream Come True” adalah subjudul yang ia berikan ketika menyajikan koleksi gaun pengantin super elegan dengan siluet dome shape, serta ballgown.

Dominasi warna putih dan putih gading berpadu emas mempresentasikan suasana sakral kala mengucap janji sehidup semati untuk menutup keseluruhan pagelaran busana “Club Dahlia”.

Model: Christina Borries

Model: Christina Borries

Secara keseluruhan, peragaan busana tahunan dari Sebastian Gunawan “Club Dahlia” tereksekusi dengan sangat apik. Tata panggungnya yang meski dibuat dengan mengadopsi konsep minimalis namun tetap terasa mewah dengan sentuhan aksen kayu. Dekorasi bagian pangkal panggung yang diberi tiang-tiang kayu yang seolah melindungi bunga-bunga dahlia berukuran besar juga menambah keunikkan tersendiri.

Menurut hemat saya, sebenarnya tata panggung yang banyak mengaplikasikan elemen kayu bisa menggagalkan keinginan untuk mengangkat potret kalangan jetset di era 1940an yang ingin ditampilkan Seba, karena kesan minimalis dan sederhana akan menguar kuat.

Namun kepiawaian tim Seba dalam memadupadankan elemen lain semisal deretan kursi-kursi bercat emas yang terkesan amat mewah, juga lampu-lampu kristal yang memang sudah ada di dalam area Ballroom, serta tata lampu yang dibuat menyinari dengan warna kuning keemasan yang sangat dominan, menciptakan perpaduan yang unik, dimana unsur mewah dan minimalis teracik pas dan menyenangkan.

Salah satu dress favorit saya sepanjang “Club Dahlia” nya Seba. Silluetnya bagus banget, detil di bahu-nya keren, dan print di bagian dalam-nya juara!.

Dalam segi busana, saya pribadi jatuh cinta dengan motif print bunga-bunga besar yang dibubuhi Seba pada busana-busananya. Begitu cantik dan seduktif. Durasi peragaan busana yang cenderung cepat meski menampilkan tak kurang dari 101 koleksi pun membuat peragaan busana tak terasa membosankan dan melelahkan.

Namun ketiadaan penanda pergantian sekuens karena membiarkan peragaan busana mengalir dengan cepat dan hanya mengandalkan kelompok warna busana yang kadang setipe, di satu sisi kadang membuat bingung ketika harus menentukan batas sekuens satu dan lainnya, namun di sisi lain kadang juga membuat kita lebih menikmati jalannya peragaan busana yang mengalir.

Kehadiran koleksi busana pengantin sebagai penutup, malah memberikan kesan pemotongan peragaan busana dan menggantinya ke peragaan busana lain yang bukan “Club Dahlia”. Ada satu perasaan dimana saya merasa bahwa busana-busana pengantin itu seperti tidak ada kaitannya dengan “Club Dahlia” dan berdiri secara mandiri sebagai peragaan busana pengantin koleksi Sebastian Sposa.

 

*Dokumentasi Foto oleh Windy Sucipto
Senior Photographer of FIMELA.com, Digital Imaging Artist Contact : +6282122777952. Email : windysucipto@gmail.com